Laman

Rabu, 07 Juni 2023

Sejarah Banyuwangi (28): Migrasi Menuju Banyuwangi; Perpindahan Populasi di Jawa dan Perpindahan ke Banyuwangi di P. Jawa


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Sejarah migrasi sebenarnya sezaman dengan pembentukan populasi penduduk di suatu wilayah. Hal seperti itulah yang juga terjadi di wilayah Banyuwangi. Dalam hubungan ini, di wilayah Banyuwangi, jika disebut populasi penduduk asli di wilayah Banyuwangi adalah orang Osing, sejatinya adalah perpaduan populasi di masa lampau. Pembentukan populasi sangat dipengaruhi oleh perpindahan.


Kampung Mandar: Migrasi dan Adaptasi Komunitas Mandar dan Bugis-Makassar di Banyuwangi 1930-1980. Skripsi. Wahyu Indah Hasanah. Universitas Airlangga (2019). Skripsi fokus pada proses migrasi yang dilakukan orang-orang Mandar dan Bugis-Makassar ke Banyuwangi serta strategi adaptasi apa yang digunakan sehingga mereka dapat diterima. Penelitian ini menggunakan metode sejarah. Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran di perpustakaan dan kantor badan arsip sumber lisan dan sumber foto. Sumber lisan didapatkan melalui wawancara dengan narasumber dari Keluarga Adat Mandar dan seorang pemerhati sejarah lokal di Banyuwangi. Terjadinya migrasi komunitas Mandar dan Bugis-Makassar ke Banyuwangi disebabkan faktor keamanan dan ekonomi Sulawesi Selatan, memasuki wilayah Banyuwangi awal abad 18 melalui jalur perdagangan. Orang Mandar dan Bugis-Makassar tersebar di beberapa desa, antara lain Sukojati Blimbingsari, Kepuh Pakisaji, Watubunjul Giri, Kenjo Glagah. Strategi adaptasi dalam bertahan adalah strategi perang, perdagangan dan perkawinan. Proses interaksi menghasilkan akulturasi budaya. Salah satu budaya yang terjadi akulturasi adalah tradisi Petik Laut. Tradisi Petik Laut dilaksanakan sesuai adat Mandar, namun di dalamnya juga terdapat Tari Gandrung dari Banyuwangi. Sedangkan tradisi yang masih terjaga keasliannya, adalah Saulak upacara adat meminta izin kepada nenek moyang sebelum melakukan sebuah hajatan (https://repository.unair.ac.id/)

Lantas bagaimana sejarah migrasi di Banyuwangi? Seperti disebut di atas, wilayah Banyuwangi menjadi salah satu tujuan migrasi. Bahkan sejak zaman lampau. Migrasi dalam hal ini perpindahan populasi di Jawa dan perpindahan ke Banyuwangi di pulau Jawa. Lalu bagaimana sejarah migrasi di Banyuwangi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Migrasi di Banyuwangi; Perpindahan Populasi di Jawa dan Perpindahan ke Banyuwangi di Pulau Jawa

Bagaimana proses terjadinya migrasi di wilayah Banjoewangi di masa lampau sulit diketahui. Tidak ada data yang bisa menjelaskan. Data yang berasal dari era Portugis hanya mengindikasikan adanya misionaris yang membuka stasion di Banjoewangi. Tentu saja tidak ada kaitannya dengan orang pendatang (migrasi), tetapi justru tentang orang asli sendiri yang menjadi populasi penduduk di Banjoewangi (orang Osing yang beragama Hindoe) yang menjadi subjek misionaris.


Jika narasi sejarah mengindikasikan kepercayaan Hindoe bermula di Jawa sebelah barat, lalu meluas ke bagian timur (Kediri dan Malang), maka populasi penduduk Hindoe di Banjoewangi merupakan perluasan lebih lanjut. Islamisasi di Jawa yang dimulai dari pantai utara Jawa, menekan kehidupan Hindoe di selatan Jawa bagian tengah. Migrasi Hindoe terjadi melalui darat dan laut pantai selatan ke wilayah Banjoewangi (dan Bali). Hal itu dapat diperhatikan dari bentuk candi di sekitar gunung Lawu dengan bentuk candi di Bali. Pulau Bali seakan menjadi ujung pergeseran wilayah Hindoe di Jawa. Lalu mengapa tidak ada candi di wilayah Banjoewangi? Apakah dalam hal ini pusat Hindoe di Bali termasuk mencakup wilayah Banjoewangi?

Dinamika yang terjadi di (wilayah) Banjoewangi dengan nama Balambangan mulai terungkap pada permulaan kehadiran Eropa/Belanda. Saat itu penduduk (kerajaan Hindoe) Balambangan tengah terancam dari Mataram (Islam) dari pedalaman. Para utusan Balambangan yang meminta bantuan yang kebetulan bertemu dengan ekspedisi Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman di perairan Japara (antara Rembang dan Tuban). Namun bagaimana hasilnya tidak diktehaui.


Satu hal yang dilaporkan adalah bahwa ekspedisi Belanda yang singgah di pelabuhan Arosbaja (di Madura bagian utara) pada bulan Juni 1596 mendapat perlawanan. Perang tidak terhindarkan yang mana ekspedisi Belanda terusir. Dalam hal ini tentu saja ada hiubungan timbal balik antara Madura dan Mataram (di hulu sungai Bengawan Solo).  Ini seakan menjelaskan bahwa di wilayah Banjoewangi belum ada orang Madura maupun orang Jawa. Yang ada diduga hanya orang asli Balambangan (orang Osing) beragama Hindoe. Sudah barang tentu ada orang Bali (yang beragama Hindoe).

Ekspedisi Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman tidak bisa melanjutkan navigasi pelayaran ke Maluku, karena salah satu kapal mereka rusak di perairan laut Bali (sekitar Madura). Boleh jadi kerusakan itu terjadi saat perang di Arosbaja. Ekspedisi harus kembali ke Belanda dengan memutar haluan di pantai timur Lombok (selat Sape). Ekspedisi ini menemukan di teluk Lombok sudah ada komunitas Japara (Islam) dan kemudian berhasil mencapai pantai timur Bali (kini di Padang Bai). Radja Bali menerima mereka dengan baik.


Ekspedisi Belanda ini cukup lama di pantai timur Bali, sekitar dua bulan. Yang menjadi pertanyaan dalam hal ini, mengapa mereka diterima dengan baik dan berdiam begitu lama? Tentu saja tidak hanya sekadar memperbaiki kapal untuk meneruskan pelayaran ke Eropa. Boleh jadi Cornelis de Houtman telah merespon permintaan utusan Balambangan.  

Dengan mengecualikan hubungan dekat antara Balambangan dan Bali, sejak kapan migrasi masuk ke wilayah Banjoewangi (baca: wilayah Balambangan). Era ini diduga menjadi awal era migrasi ke Banyuwangi. Dalam hal ini tidak hanya karena alasan geopolitik kawasan, juga data yang ada (tersedia) hanya ditemukan sejak kehaditan Belanda (VOC).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Perpindahan Populasi di Jawa dan Perpindahan ke Banyuwangi di Pulau Jawa: Jawa, Madura, Bali, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatra

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar