Laman

Selasa, 25 Juli 2023

Sejarah Sepak Bola Indonesia (5): Sepak Bola di Bandung dan Sekitarnya; Sebelum Persib Terbentuk Ada Sepak Bola Lebih Tua


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Sepak Bola Indonesia di blog ini Klik Disini

Sepak bola di Bandung tentu saja itu bukan Persib. Sepak bola adalah bola sepak. Sepak bola di Bandung sejak dari awal ada sepak bola Eropa/Belanda, sepak bola Cina dan sepak bola pribumi. Hal serupa itu juga yang terjadi di berbagai kota di Indonesia sejak era Pemerintah Hindia Belanda. Keberadaan sepak bola di Bandoeng bermula ketika klub sepak bola Batavia bertandang ke Bandoeng. Dalam konteks ini narasi sejarah perserikatan Persib yang nama tersebut telah bertransformasi menjadi sebuah klub yang kini dikenal klub sepak bola professional.  

 

Persib (Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung) adalah klub sepak bola Indonesia yang berbasis di Kota Bandung. Klub berdiri 14 Maret 1933. Di Kota Bandung sendiri telah berdiri klub Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) sekitar 1923. Tercatat Ketua Umum BIVB Mr. Syamsudin. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega di depan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan di luar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara, Jakarta. Pada tanggal 19 April 1930, BIVB bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB (Persebaya), MIVB (PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), dan PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. BIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh Mr. Syamsuddin. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB). Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub-klub yang bergabung ke dalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi. (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah sepak bola di Bandung dan sekitarnya? Seperti disebut di atas, di Bandung diketahui ada sepak bola setelah kesebelasan sepak bola dari Batavia melakukan pertandingannya. Bagaimana dengan Persib? Sebelum terbentuk, sudah ada dinamika sepak bola di Bandoeng. Lalu bagaimana sejarah sepak bola di Bandung dan sekitarnya? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Sepak Bola di Bandung dan Sekitarnya; Sebelum Persib Terbentuk, Ada Sejarah Lama di Bandoeng

Sudah banyak klub sepak bola di berbagai tempat dibentuk. Di Soerabaja antara lain klub ECA dan Voorwaats terinformasikan sejak 1900 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 04-09-1900). Di Kota Medan adalah klub dari Medan Sportclub terinformasikan sejak 1900 (lihat Sumatra Post 29-03-1900)). Demikian juga di Batavia sudah terbentuk sejumlah klub.


Pada artikel sebelumnya disebut pertandingan pertama sepak bola di Indonesia (baca: Hindia Belanda) terinformasikan tahun 1893 antara kesebelasan dari Penang (Inggris) dengan kesebelasan di Medan. Oleh karena jumlah klub masih sedikit maka pertandingan yang dilakukan bersifat anjangsana) dan anjangsana in jaraknya makin jauh tidak hanya di dalam kota tetapi juga antara kota (terdekat). Pada tahun 1899 kesebelasan dari Soerabaja bertandang untuk melawan kesebelasan di Semarang. Pada tahun 1900 kesebelasan orang-orang Inggris di Langkat berkunjung ke Medan untuk melawan kesebelasan orang-orang Belanda (lihat De Sumatra post, 03-01-1900). Susunan pemain Langkat dan Medan. 

Pada akhir tahun 1901 di Batavia klub (SSS Sportclub) berinisiatif menyelenggarakan suatu kompetisi sepak bola dengan mengundang beberapa klub (lihat Sumatra Post (edisi 19-12-1901). Koran ini memberikan pujian (karena mungkin yang pertama) dan berharap di Deli juga dapat dilakukan. Kami yakin itu bisa terlaksana karena sudah cukup klub yang ada di Medan dan sekitar dan oleh karena itu para dewan klub olahraga di Sumatra’s Ooskust perlu kiranya mempertimbangkan. 


Penyelenggaraan kompetisi di Batavia tersebut tampaknya berupa penyelenggaraan turnamen. Bagaimana dengan di Soerabaja? Pada tahun 1912 di Soerabaja akan diadakan adalah pertandingan sepak bola antara satu klub dengan klub lainnya (lihat Soerabaijasch handelsblad, 15-12-1902). Disebutkan ada pertandingan antara Voorwaarta II versus THOR II dan antara ECA lawan THOR (I). Berita ini mengindikan bahwa di Soerabaja telah ada kompetisi yang bersifat liga? Tampak bahwa klub THOR memiliki dua tim. Apakah ini indikasi kompetisi di Soerabaja terdiri dua divisi?

Di Batavia, sebagai pembuka pada tahun 1904 diadakan pertandingan sepak bola anjangsana (antar dua klub, yang satu tuan rumah yang lainnya sebagai tamu). Dua klub tersebut disebut klub baru yakni Bataviasch Voetbalclub dan (Vereeniging) Vios (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 06-02-1904). Tidak lama kemudian pada bulan Maret 1904 dilaporkan surat kabar di Bandung, De Preanger-bode, 31-03-1904) bahwa hari Minggu tanggal 2, pukul lima sore akan ada pertandingan sepakbola yang akan dilakukan anak-anak Bandoengsche melawan Bataviasch Voetbalclub (BVC) di aloon-aloon (Bandung) atau Pietersplein (Pieters Park). Pertandingan ini dimeriahkan oleh musik Bandoengsche Muziekcorps (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 02-04-1904).

 

Pertandingan yang akan diadakan di Bandoeng ini merupakan pertandingan sepak bola yang pertama terinformasikan di Bandoeng. Lawatan BVC ke Bandoeng ini seakan mengingatkan lawatan Soerabaja ke Semarang (1899) dan lawatan Langkat ke Medan (1900); dan lawatan BVC Batavia ke Meester Cornelis melawan VIOS. Catatan: Batavia adalah satu afdeeling yang berbeda dengan afdeeling Meester Cornelis. Lawatan-lawatan di atas dapat dilakukan karena sudah adanya jalur transportasi kereta api. Jalur kereta api dari Batavia ke Bandoeng dalam hal ini masih melalui Buitenzorg, Soekaboemi, Tjiandjoer dan Tjimahi. 

Lawatan tim Batavia ke Bandoeng disebutkan lebih lanjut bahwa dalam liburan Paskah, tim Bataviasch Voetbalclub (BVC) yang terdiri dari Cramer (kiper) Hondius dan Theanissen (belakang), Prins, Lintzins dan Vohte (tengah), de Vries Reilingh, Jat, Versteegh (c), Verhoog dan Schallenberg (depan) telah tiba di Bandoeng untuk suatu pertandingan dengan Bandoengsch Voetbalclub. Pertandingan merupakan pertandingan sepak bola di West Java. Para pemain dari Batavia ini baru kemarin sukses mengalahkan tim lainnya di Batavia, tim Oliveo.


Hasil pertandingan tersebut dilaporkan oleh Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 05-04-1904: ‘BVC Batavia jauh lebih kuat dari BVC Bandung. Meski demikian, baru tercipta gol setelah lama ditunggu, dan lima menit kemudian pluit wasit untuk istirahat. Pada babak kedua tercipta tiga gol yang berakhir dengan skor 4-0 untuk Batavia. Rasio yang benar tidak ditunjukkan oleh angka ini, keadaan yang sebenarnya seharusnya 7-0. Para pemain Bandung kelihatannya belum terlatih dan hanya Gobee dan Benschop yang membuat pengecualian. Tim Bandung tampaknya kecewa dengan hasil yang dicapai. Tidak terlalu lama, kini, tim Bandung akan melawat ke Batavia. Sebagaimana yang dilaporkan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 21-05-1904, sesuai yang terdapat dalam iklan, di Koningsplein besok sore akan digelar pertandingan sepak bola antara  BVC (Batavia) dan Bandoengsch voetbalclub (BVC Bandoeng). Pertandingan akan dimulai pukul 4.30 sore. Hasil pertandingan dilaporkan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 24-05-1904: ‘Pertandingan tidak seimbang antara Bataviasch Voetbalclub dan tim dari Bandung. Pertandingan yang dilangsungkan di Koningsplein pada pukul 4.45 berakhir dengan 12-0.

Lawatan klub BVC Batavia ke Bandoeng, tampaknya telah mengindikasikasikan di Bandoeng sudah mulai marak sepak bola. Namun sejak kapan pertandingan sepak bola di Bandoeng berawal tidak terinformasikan. Di Medan paling tidak sudah terinformasikan pada tahun 1893; di Batavia dan di Soerabaja pada tahun 1896; dan di Semarang pada tahun 1899; serta di Padang pada tahun 1903 (lihat Sumatra bode, 22-06-1903). Di Bandoeng sendiri sejak tahun 1900 telah ada agen alat/peralatan olah raga (lihat De Preanger-bode, 23-08-1900). Disebutkan Nederlansch Indische Sport-Maatschappij di Weltevreden telah menempatkan agennya di Bandoeng yang menjual alat dan perlengkapan tenis, kriket dan sepak bola.


Seperti disebut di atas, tampaknya di Soerabaja sudah ada kompetisi (sejak) tahun 1902. Pada tahun 1903 di Surabaya diketahui adanya Algemeenen Nederlandsch Indischen voetbalbond (lihat Soerabaijasch handelsblad, 19-10-1903). Tampaknya di Soerabaja sudah ada perserikatan sepak bola (voetbalbond). Dalam hal ini berbagai klub sepak bola dari asosiasi (vereeniging) seperti ECA dan Thor serta Voorwaarts telah disatukan dalam satu bond (perserikatan). Ketua Alg. Ned, Ind. Voetbalbond adalah Mr. de Bruijn. Lalu dalam perkembangannya di Batavia kompetisi diduga dimulai pada tahun 1904. Dalam hal ini setelah kunjungan BVC Batavia di Bandoeng melawan BVC Bandoeng. Jumlah klub yang berpartisipasi dalam kompetisi di Batavia sebanyak enam klub. Klassemen sementara (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 18-07-1904). Catatan: Klub Docter Djawa dapat dikatakan klub orang pribumi, klub yang dibentuk di sekolah kedokteran pribumi di Batavia (Docter Djawa School). Kapten tim klub Docter Djawa adalah Radjamin Nasoetion.

Pasca kompetisi di Batavia, klub-klub Batavia bertandang ke Bandung. De Preanger-bode, 30-12-1904 melaporkan sore ini di Bandung akan dilangsung pertandingan antara BVC Batavia dan UNI Tjimahi dan besok sore pukul empat sore di Tjimahi antara UNI dengan klub dari Bataviaa lainnya, Oliveo. Di Bandung juga akan digelar pertandingan antara VIOS Batavia versus Sidolig Bandoeng. Ini mengindikasikan di Bandoeng sudah banyak jumlah klub yang didirikan.


Di Bandung, frekuensi pertandingan makin tinggi. Dalam perkembangannya mulai diusulkan pembentukan perserikatan (lihat De Preanger-bode, 14-11-1904). Pada awal tahun 1905 sejumlah pertandingan sepak bola digelar di Bandung. Kemarin antara BVC Bandung vs UNI dari Tjimahi dengan skor lima nol untuk kemenangan BVC. Hari ini Minggu akan ada pertandingan antara UNI dengan Sidolig dari Bandung di Tjimahi. Sidolig datang dengan pemain lengkap, pertandingan akan menarik (lihat De Preanger-bode, 16-01-1905).

Tampaknya sepakbola Bandung dan Cimahi makin ramai. Pada bulan April 1905 dari Bandoeng mengundang klub dari Batavia untuk bertanding (lihat De Preanger-bode, 14-04-1905). Namun sejauh ini belum diketahui keputusannya dari Batavia. Ini menunjukkan bahwa klub Bandung mulai pede, sebab selama ini yang berinisiatif melakukan pertandingan di Bandung adalah klub-klub di Batavia. Di Bandung sendiri sudah mulai banyak klub, selain Sidolig UNI, juga sudah didirikan SS Voetbal Club di Bandung dan Sios di Tjimahi. Satu klub lainnya di Cimahi bernama Insulinde. Di Bandung pertandingan di pusatkan di Pieters Park, sedangkan di Tjimahi di lapangan militer.


Akhirnya BVC Batavia memenuhi undangan dari Bandung (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 22-04-1905). Disebutkan BVC Batavia akan berangkat dengan kereta tanggal Minggu 23 April 1905. Dalam pertandingan itu BVC melawan tim gabugan Bandung (Bandoeng All Stars). BVC Batavia kemudian besoknya akan melawan militaire Voetbalvereeniging UNl di Tjimahi. Lalu kemudian hasil-hasil pertandingan sebagaimana dilaporkan De Preanger-bode, 25-04-1905, BVC Batavia imbang 2-2 di Bandung dan kalah 3-4 di Tjimahi. Catatan: apakah pembentukan tim all stars Bandoeng ini telah merepresentasikan perserikatan (bond) sudah terealisasi?

Klub-klub sepak bola Batavia telah berhasil meramaikan sepak bola di Bandung. Sepakbola Bandung cepat adapatif, cepat pula berkembang. Sepak bola Bandung sudah mulai sejajar dengan sepakbola di Batavia. Di Bandung bermunculan klub-klub, selain BVC, UNI dan Sidolig, juga belakangan muncul dari sekolahan yakni klub baru: OSVIA. Klub sekolah pangreh pradja ini telah melakukan pertandingan dengan klub Sidolig yang dimainkan di lapangan Tegallega (lapangan milik OSVIA) dan juga telah melakukan pertandingan dengan UNI (yang kini telah pindah markas ke Bandoeng). Di Tjimahi muncul nama klub VIOS. Di Bandung juga muncul klub sepakbola Advendo, sarikat siswa dari sekolah KWS Bandoeng.


Advendo adalah klub siswa anak-anak Eropa/Belanda di Bansdoeng. Sebelumnya sudah ada klub sekolah OSVIA, suatu klub anak-anak pribumi di sekolah pamong pribumi di Bandoeng. Seperti disebut di atas, di Batavia juga sudah ada klub sekolah Docter Djawa, klub pribumi di sekolah kedokteran probumi (Docter Djawa School) di Batavia.

Kompetisi sepak bola pertama di Bandung akhirnya terselenggara. Disebutkan jumlah klub yang berpartisipasi dalam kompetisi sepak bola tersebut sebanyak tiga klub: Sidolig, UNI dan SS (De Preanger-bode, 16-10-1905). Juara dari kompetisi sepak bola perdana di Bandung ini adalah Sidolig. Secara teknis dalam hal ini, sepak bola di Bandoeng (dan sekitar) telah dapat disejajarkan dengan sepak bola di tempat lainnya seperti di Batavia, Soerabaja, Medan dan Semarang. Dalam hal ini di Bandoeng sudah mulai dirintis kompetisi.


Di Soerabaja pada tahun 1903 telah dibentuk perserikatan sepak bola (voetbalbond). Sementara di Batavia pembentukan perserikatan baru terlaksana pada tahun 1906 (lihat Soerabaijasch handelsblad, 24-07-1906). Disebutkan Bataviasche Voetbalbond telah didirikan dengan BHG Mohr sebagai presiden. Lantas, jika di Soerabaja sudah terbentuk bond, bagaimana dengan di Semarang, Bandoeng dan Medan? Catatan: sejak 1903 sudah diberlakukan desentralisasi diu Hindia berdasarkan Desentralisastiewet 1903. Kota-kota pertama di Hindia yang diberlakukan desentralisasi pada tahun 1905 adalah Batavia, Meester Cornelis dan Buitenzorg. Ini dengan sendirinya di ketiga kota tersebut, sebagai gemeente telah terbentuk gemeenteraad yang mengatur berbagai aspek di dalam kota, tentu saja dalam hal ini aspek sepak bola. Pada tahun 1906 sejumlah kota lainnya Hindia diberlakukan desentralisasi dengan membentuk gemeente di Semarang, Soerabaja dan Malang. Lantas apa relevansi pemberlakuan desentralisasi khususnya di kota-kota dalam hubungannya dengan sepak bola?

Tunggu deskripsi lengkapnya

Sebelum Persib Terbentuk, Ada Sejarah Lama di Bandoeng: Kejuaraan Sepak Bola Antar Kota (di Jawa)

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar