Laman

Selasa, 18 Juli 2023

Sejarah Tata Kota Indonesia (36): Tata Kota di Mataram, Lombok dan Bima; Sejak Era VOC hingga Pemerintah Hindia Belanda


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini

Narasi sejarah Lombok khususnya kota Mataram sangat minim karena data yang tersedia sangat minim hingga rintisan ke narasi yang lebih lengkap di mulai dalam blog ini pada Juni 2020. Salah satu aspek sejarah Lombok yang dinarasikan adalah kota Mataram. Dalam konteks inilah narasi tata kota Maram menjadi bagian dari narasi tata kota di Indonesia. Kota Mataram sendiri adalah kota baru, kota-kota lama sejak era VOC umumnya di pantai seperti Lombok di pantai timur Lombok dan Bima di pulau Sumbawa.


Nama Jalan hingga Tata Kota Jadi Saksi Sejarah Mataram Tempo Dulu. Ahmada Efendi. 12 Januari 2022. Klikmataram. Pohon-pohon kenari berjejer di kanan kiri Jalan Langko dan Jalan Pejanggik di Kota Mataram peninggalan pemerintahan kolonial Belanda. Ruas Jalan Pejanggik dan Jalan Langko sudah terbentang sebelum Kolonial Belanda bercokol di Lombok. Tulisan dalam The Journal of Indian Archipelago and Eastern Asia volume V, June 1851. Ahli botani dari Swiss Heinrich Zollinger menjelaskan tentang Mataram sebagai ibukota kerajaan. Berjarak 3 mil dari pantai Pelabuhan Ampenan. Satu mil berupa jalan berkelok dan dua mil sisanya adalah jalan lurus menuju Mataram. Zollinger menyebut jalan lurus itu sangat indah. Lebarnya sekitar 20 M dan di kanan kirinya tumbuh Pohon Ara yang berjajar menaungi sepanjang jalan itu. Menurut Zollinger, belum pernah dia temukan avenue atau jalan-jalan seindah itu di manapun. Tampaknya pemimpin Kerajaan Mataram Karangasem memang mempunyai keahlian tata kota yang mampu memberi jawaban untuk sebuah generasi zaman yang panjang. Hingga hari ini Jalan Langko dan Pejanggik tidak pernah tergantikan, melainkan hanya direnovasi dan dihiasi seiring waktu. Belanda sebagai pemenang mulai menata kota itu kembali. (https://mataram.pikiran-rakyat.com/)

Lantas bagaimana sejarah tata kota di Mataram, Lombok dan Bima? Seperti disebut di atas, kota Mataram memiliki sejarah sendiri. Namun sebelum nama Mataram dikenal, sejak era VOC sidah dikenal nama kota Lombok dan kota Bima. Pada era Pemerintah Hindia Belanda kota Mataram di pantai barat telah menggantikan kota Lombok di pantai timur. Lalu bagaimana sejarah tata kota di Mataram, Lombok dan Bima? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Tata Kota di Mataram, Lombok dan Bima; Sejak Era VOC hingga Pemerintah Hindia Belanda

Untuk memahami terbentuknya kota Mataram, haruslah dimulai dari pantai timur (pulau) Lombok. Mengapa? Nama Lombok juga dilaporkan Cornelis de Houtman, pemimpin ekspedisi pertama Belanda ke Hindia (1595-1597), suatu kota di suatu teluk di pantai timur Lombok yang disebut Lombok. Dari sinilah asal usul nama pulau Lombok diberikan. Ekspedisi Cornelis de Houtman singgah di teluk dan mengunjungi kampong/kota Lombok di pantai bagian dalam.


Dalam ekspedisi pertama Portugis dari Malaka ke Maluku (1511-1513) nama Lombok diidentifikasi pada Peta 21. Nama-nama yang disebut antara lain Agaci (Gresik?), ssurubaia (Surabaya?), Ilha de Jaoa (pulau Jawa?), Ilha de madura (pulau Madsura?), Bllarain (pulau Bali?), Homde sse perdeo a ssabaia (pulau Sapoedi?), Lamboquo (pulau Lombok), ssimbaua (pulau Sumbawa?), Aramaram (?). Dalam Peta 1597, posisi GPS Lombok berada di pantai di suatu teluk dengan latar di kejauhan yang diduga puncak tertinggi gunung Rinjani. Laporan ekspedisi ini terdapat dalam jurnal tahun 1598 berjudul: ‘Journael vande reyse der Hollandtsche schepen ghedaen in Oost Indien, haer coersen, strecking hen ende vreemde avontueren die haer bejegent zijn, seer vlijtich van tijt tot tijt aengeteeckent, ...’.

Jika posisi Lombok tidak berubah hingga kehadiran Cornelis de Houtman (1597) dengan membandungkan laporan pelaut Portugis (1511-1513), kota/kampong Lombok dapat dikatakan adalah kota tua di pantai timur pulau Lombok. Dalam laporan de Houtman disebutkan di Lombok ada koloni (kerajaan) Japara (sejak 1593) untuk produksi kayu. Apakah ini mengindikasikan sudah terjalin hubungan antara Japara di Jawa dengan Lombok di pantai timur?


Dalam laporan Cornelis de Houtman tim ekspedisi mengunjungi kampong Lombok dan bertemu dengan kepala kampong dimana terdapat 100 pria penjaga (prajurit). Apakah nama kampong Lambok ini mengindikasikan suatu pelabuhan utama yang dijaga oleh pasukan, sementara pelabuhan berada di bawah suatu otoritas kerajaan (katakanlah misalnya kerajaan Selaparang). Besar dugaan kerajaan eksis yang memiliki hubungan dengan kerajaan Japara di Jawa. Dalam perkembangannnya, pedagang-pedagang VOC membuka pos perdagangan di Bima (catatan: nama Bima sudah disebut dalam teks Negarakertgama 1365). Perdagangan (pulau) Lombok berorientasi ke Bima di pulau Sumbawa. Perselisihan Pemerintah VOC dengan kerajaan Gowa memicu perang dan kerajaan Gowa ditaklukkan pada tahun 1669. Sejak itu perjanjian dengan kerajaan Bima diperbarui dan kemudian diperluas dengan perjanjian dengan radja-radja Tambora, Dompo, Soembawa dan lainnya. Semuanya di pulau Sumbawa.

Pada tahun 1675 Pemerintah VOC memperluas perjanjian ke kerajaan Selaparang di Lombok. Pejabat VOC yang dikirim adalah Holateyn. Pada tangga 19 Maret 1675 suatu perjanjian disepakati dengan para pangeran (bupati) Lombok. Kerajaan Selaparang adalah kerajaan terpenting di pulau Lombok.


Orang-orang kerajaan Selaparang Lombok terhubung dengan kerajaan-kerajaan lainnya seperti kerajaan Djepara, kerajaan Gowa dan kerajaan Banten. Setelah berakhirnya kerajaan Djepara dan kerajaan Gowa, kerajaan Selaparang masih terhubung dengan kerajaan Banten. Ini dapat dilihat dari kunjungan pembesar (kerajaan) Selaparang ke (kerajaan) Banten (lihat Daghregister 31 Desember 1710).

Kerajaan Selaparang sudah lama eksis, wilayahnya tidak hanya (pulau) Lombok juga termasuk pulau Penida (lihat Peta 1660). Invasi Kerajaan Karangasem pada tahun 1740 menyebabkan pulau Penida lepas dan pulau Lombok terbelah (muncul koloni Bali di Lombok bagian barat).


Di pulau Bali sudah terdapat beberapa kerajaan, sedangkan di Lombok hanya terdapat satu kerajaan yakni di pantai timur Lombok (lihat Peta 1720). Pemerintah VOC sudah barang tentu menganggap kerajaan-kerajaan di dua pulau ini penting sebagai simpul perdagangan. Namun yang lebih penting dalam hal ini adalah posisi dimana pos perdagangan VOC. Pada Peta 1720 tanda navigasi jangkar (anker) diletakkan di teluk Lombok, pantai Ampenan (Mataram) dan teluk Lembar (kerajaan Selaparang) dan teluk Bali (kerajaan Kloengkoeng) sebagai pelabuhan perdagangan (VOC). Tanda navigasi lainnya adalah pengukuran kedalaman laut di sepanjang pantai barat (pulau) Lombok dan pantai utara Blambangan (pulau Jawa). Tanda navigasi ini mengindikasikan jalur pelayaran sepanjang pantai yang boleh dikatakan sebagai jalur yang intens dilalui oleh kapal-kapal VOC. Lantas mengapa yang dipilih pantai (barat) Lombok antara teluk Ampenan dan teluk Lembar? Lebih aman. Posisi jalur VOC ini di satu sisi menguntungkan (kerajaan) Selaparang di (pulau) Lombok dan di sisi lain VOC menghindari konflik dengan Bali (yang sudah menguasai selat Bali dengan penaklukan kerajaan Blambangan).

Situasi dan kondisi menjadi kacau pada tahun 1740. Kerajaan Karangasem melakukan aneksasi di Lombok (pantai barat). Apa yang menjadi pangkal perkara? Besar dugaan kemesraan antara Pemerintah VOC dan kerajaan Selaparang membuat Bali cemburu? Tentu  saja tidak. Kerajaan Karangasem (dan cabang pemerintahannya di kerajaan Boeleleng) diduga kuat berupaya untuk mengusir keberadaan pedagang-pedagang VOC di kawasan. Dengan menguasai Lombok bagian barat, kerajaan Karangasem menguasai selat. Selat Bali dan selat Lombok adalah perairan yang terhubung dengan (kerajaan-kerajaan) di Bali yang mana selama ini pantai barat Lombok menjadi jalur pelayaran VOC. Bali tampaknya ingin menguasai kawasan sekitar Bali.


Pemerintah VOC tentu saja tidak terlalu peduli aneksasi Bali terhadap Lombok, sejauh tetap masih bisa bernegosiasi dengan Bali dan atau Lombok. Kerajaan Selaparang di pantai timur Lombok sudah barang tentu gigit jari. Posisi bargaining (kerajaan Selaparang) sangat lemah, sementara kerajaan-kerajaan Bali sangat kuat karena hubungan timbal balik antara VOC di Batavia dengan para pemimpin Bali masih terjaga. Banyaknya orang Bali yang menjadi kekuatan militer VOC (di berbagai tempat) dengan sendirinya menyandera Pemerintah VOC. Hubungan yang intens antara para pemimpin Bali dengan Batavia dalam satu abad terakhir masih terjaga. Ini dapat dibaca pada komunikasi antar dua belah pihak pada catatan Kastel Batavia (Daghregister). Kenyataan ini boleh jadi disadari penuh oleh kerajaan Selaparang (Lombok). Pada era inilah peran Selaparang melemah sementara eksistensi Soembawa di perairan selat Alas tidak menentu.

Penguasaan (kerajaan-kerajaan) Bali di kawasan sudah barang tentu membuat Bali sebagai raja di kawasan dan menganggap pengaruhnya setara dengan Pemerintah VOC. Besar dugaan sejak pengaruh Bali yang semakin menguat di kawasan menyebabkan munculnya praktek tawan karang di perairan Bali.  Namun dalam perkembanganya praktek tersebut mulai menyimpang, bukan hanya tawan karang tetapi juga disalahgunakan oknum tertentu, yang belum tentu orang Bali, sebagai perampokan di laut.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Sejak Era VOC hingga Pemerintah Hindia Belanda: Dari Lombok di Pantai Timur ke Mataram di Pantai Barat

Bagaimana dengan nama Mataram di pulau Lombok?  Jelas bahwa nama Mataram ada di Jawa (tidak ada di Bali). Kerajaan Karangasem yang berkoloni di Lombok membangun kekuatan di atas kota (kampong) Mataram, sementara kota (kampong) Ampenan menjadi pelabuhannya. Kota Mataram diduga dibentuk oleh kerajaan Mataram yang telah mengalahkan (kerajaan) Djapara. Sebagai wujud kemenangan (keunggulan) kerajaan Karangasem di Lombok memberi nama kerajaan (pangeran) Karangasem dengan nama Bali Selaparang.

 

Kerajaan Karangasem membangun di atas kota (kampong) Mataram, sementara kota (kampong) Ampenan menjadi pelabuhannya. Kota Mataram diduga dibentuk oleh kerajaan Mataram yang telah mengalahkan (kerajaan) Djapara. Lalu dengan haditinya Bali di Lombok, sebagai wujud kemenangan (keunggulan) kerajaan Karangasem di Lombok diberi nama kerajaan (pangeran) Karangasem dengan nama Bali Selaparang. Nama Mataram yang sudah wujud sejak masa lampau tidak terinformasikan dengan kehadiran Bali yang serba tertutup.

Pulau Lombok yang subur dan populasi yang banyak menjadi sentra produksi menyebabkan kerajaan Bali Selaparang (Karangasem) menjadi cepat tumbuh dan berkembang. Pelabuhan Ampenan sangat sibuk karena arus komoditi dari pedalaman seperti beras, kapas, tembakau, kuda, kulit kerbau dan sebagainya. Sementara arus impor seperti garam dan opium masuk ke padalaman. Kota Mataram menjadi kota besar, tetapi sangat tertutup bagi orang asing. Orang asing termasuk Eropa-Belanda hanya sampai di (pelabuhan) internasional Ampenan.


Kerajaan Bali Selaparang (Karangasem) telah memainkan peran yang penting dalam perdagangan internasional tidak hanya dengan VOC (Belanda) tetapi juga dengan Inggris yang berbasis di Singapoera dan Sydney. Bali Selaparang (Lombok) telah mengungguli Bali Karangasem (induknya di pulau Bali).

Setelah berakhirnya VOC, kerajaan Belanda membentuk Pemerintah Hindia Belanda. Salah satu residentie yang dibentuk adalah Residentie Bezoekie en Banjoewangie. Residen di Bondowoso dibantu dua Asisten Residen di Probolinggo dan di Banjoewangie (lihat Almanak 1833). Pemerintah Hindia Belanda mengakui kedudukan sejumlah sultan-sultan seperti di Soerakarta, Banjarmasin, Djambi, Bima dan raja-raja di Goa dan Bone. Di Bali en Lombok disebut Keizer van Bali en Lombok Dewa Agoeng Poetra yang berkedudukan di Kloengkoeng dan pangeran (Bali) van Selaparang (Lombok) Goesti Ngoerah Ketoeh Karang Assam.


Pada tahun 1839 terjadi perang saudara di Lombok antara pangeran Bali Selaparang (Lombok) dengan raja Karangasem. Raja Karang Asem berada di Tjakranegara, sedangkan di kota Mataram (pangeran) Bali Selaparang. Dalam perang saudara ini dimenangkan oleh pangeran Bali Selaparang, Atas kekalahan ini Radja Karang Asem di Tjakranegara membunuh semua punggawa dan pengikutnya termasuk istri-istri dan anak-anaknya yang kemudian diikuti oleh Radja Karang Asem sendiri masuk ke dalam bara api. Setelah itu pangeran Bali Selaparang menjadi penguasa tunggal di Lombok. Kerajaan Karang Asem di Bali dan Kerajaan Bali Selaparang putus sudah. Pangeran yang menjadi Raja menempati puri di Tjakranegara dan pangeran mahkota baru di Mataram.

Dalam perkembangannya nama residentie diubah namanya menjadi Residentie Besoeki dengan menempatkan seorang asisten residen di Banjoewangi (lihat Almanak 1841). Hingga tahun 1845 (lihat Almanak 1845) belum ada Pemerintahan Hindia Belanda di Bali namun kedudukan raja Bali diakui.

 

Pada tahun 1846 mulai terbuka adanya perselisihan antara Pemerintah Hindia Belanda dengan pangeran (Bali) van Boeleleng Goesti Ngoerah Made Karang Asem. Disebutkan penghinaan berulang-ulang di perairan Bali pada bendera [Belanda, tricolor], dan yang paling baru penolakan Radja van Boeleleng atas perjanjian yang ada antara dia dan Pemerintah Belanda. Menteri negara atas nama Gubernur Jenderal telah menginstruksikan suatu ekspedisi ke Bali (Boeleleng) dengan membawa ultimatum pemerintah dengan tuduhan yang ditentukan jika tidak direspon tepat waktu atau memberikan respons yang tidak memuaskan, segera dilanjutkan ke permusuhan. Ultimatum itu terutama ditujukan kepada pangeran Boeleleng Goesti Ngoerah Made Karang Asem. Ultimatum ini telah disampaikan Asisten Residen Banjoewangi dan kemudian disusul oleh Resident Besoeki. Beberapa poin ultimatum ini adalah bahwa  perjanjian yang dilanggar dan ditandatangani sendiri oleh pangeran Boeleleng pada tanggal 26 November 1841 dan 8 Mei 1843;  bahwa penduduk Djembrana pada bulan Januari 1844,wilayah Boeleleng, bersalah karena menjarah kapal yang berlayar di bawah bendera Belanda di atas kapal milik warga negara Hindia Beanda dan bahwa kompensasi yang dijanjikan belum diberikan; bahwa dia tidak menerima dan memperlakukan utusan-utusan Pemerintah dengan penghargaan yang pantas sebagai wakil dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, tetapi sebaliknya diperlakukan sebagai musuh; bahwa surat Gubernur Jenderal tidak dijawab dan bahwa ia tidak menampilkan bendera Belanda sesuai waktu dan sebagaimana mestinya. Surat perjanjian baru telah disiapkan yang ditunggu hingga 3X24 jam yang antara lain berisi penghapusan perampokan pantai dan berkomitmen untuk pencegahan pembajakan dan perbudakan dan melindungi [lalu lintas] perdagangan; bahwa jika kondisi ini tidak diadopsi dalam 3 kali 24 jam, serangan terhadap wilayah kekuasaannyanya akan segera terjadi dan konsekuensinya akan menimpanya, Radja van Boeleleng, karena ia telah melukai dirinya sendiri; tetapi Menteri Negara, Gubernur Jenderal, percaya bahwa pada waktunya, dan sebelum semuanya terlambat, dia akan mengambil satu-satunya jalan yang dapat mengarah pada menghindari konsekuensi dan nasib rekonsiliasi seperti itu.

Ekspedisi terpaksa dijalankan (lihat Javasche courant, 07-07-1846). Ekspedisi ini dipimpin oleh Letnan Kolonel G. Bakker yang menjadi kommandant ekspedisi Bali yang dimulai pada tanggal 26 Juni 1846. Pendaratan dilakukan di Boeleleng. Pasukan tambahan disediakan oleh Sultan Madura dan Sultan Sumanap serta Bupati Pamakassan, pada waktu yang diberikan untuk Beliling. Juga tidak diketahui bahwa seorang pedagang dengan fregat bersenjata, bersama dengan esquader kami, muncul disana yang dipimpin Raja Selaparang untuk berpartisipasi di bawah bendera Lombok.


Pada tahun 1846 perselisihan pangeran (raja) Boeleleng yang dibantu oleh Radja Karangasem semakin kritis. Radja Boeleleng tidak hanya menguasai Boeleleng tetapi juga Djembrana. Jadi secara teknis pantai utara Bali adalah semua kerabat Kerajaan Karang Asem (kerajaan Bali Selaparang telah mandiri di Lombok). Akhirnya Pemerintah Hindia Belanda mengultimatum karena palanggaran perjanjian yang dlakukan oleh pangeran Boeleleng. Ekspedisi militer di kirim ke Boeleleng. Kraton Boelleng di Singaradja hancur dan raja sendiri melarikan diri ke pedalaman. Dalam penyerangan Radja Boeleleng dan pasukannya juga didukung oleh kerajaan Bali Selaparang (Lombok) dengan satu kapal canggih yang dibeli di Sydney yang didalamnya terdapat pasukan Lombok (Bali Selaparang)..

Pasca Perang Bali (Perang Boeleleng) ini Pemerintah Hindia Belanda mengirim seorang ahli botani melakukan ekspedisi ilmiah ke Boeleleng. Ahli Botani itu adalah Heinrich Zollinger. Setelah selesai ekspedisi di Boeleleng dan tempat lain di Bali, Heinrich Zollinger diminta melanjutkan ke pulau Lombok. Sebagai sekutu Pemerintah Hindia Belanda, tampaknya ‘terpaksa’ memberi izin bagi Heinrich Zollinger untuk melakukan ekspedisi ilmiah ke pedalaman Lombok. Inilah orang Eropa pertama yang memasuki pedalaman Lombok sejak sekian dekade dan laporan Heinrich Zollinger juga dapat dianggap sebagai laporan terlengkap tentang situasi dan kondisi (pedalaman) Lombok.


Laporan ekspedisi ilmiah Heinrich Zollinger ini dibuat dalam dua tulisan yang satu tentang pulau Bali dan yang satu lagi tentang pulau Lombok. Laporan ekspedisi Heinrich Zollinger di Lombok dipublikasikan pada jurnal Tijdschrift voor Neerland's Indie bagian kedua yang terbit pada bulan September 1847. Dalam laporan ini sangat detail tentang pulau Lombok termasuk gambaran tentang situasi dan kondisi di kota Mataram dan Tjakrangara dan kota-kota lainnya dimana orang Bali berada seperti Pengasahan, Pagoetan, Karangasem dan sebagainya. Juga dalam laporan ini tentang populasi Sasak yang terkait dengan kehidupan mereka, lingkungan, perdagangan dan gambaran lanskap Lombok sendiri. Begitu luas dan detilnya pengamatan dan uraian Heinrich Zollinger dan bahkan Heinrich Zollinger sendiri sampai ke pelosok-pelosok di Sembalun dan danua Segara di gunung Rindjani.

Setelah berakhirnya Perang Boeleleng tahun 1849, mulai dipersiapkan cabang pemerintahan di Boeleleng pada tahun 1856. Dalam permulaan pemerintahan ini dipimpin oleh Asisten Residen Banjoewangi dengan nama pemerintahan Bali en Lombok. Dua afdeeling dibentuk yakni Afdeeling Boeleleng dan Afdeeling Djembrana. Di Boeleleng ditempatkan seorang asisten residen dan di Djembrana seorang controleur.


Untuk pemimpin lokal diangkat sebagai bupati Boeleleng adalah Radja Goesti Ngoerah Ktoet Djelantik sejak 1861 (lihat Almanak 1863). Juga diangkat kapitein China, kepala Boegis di Boeleleng, Abdoellah, kepala di Tamboekoer (Badoellah) dan kepala di Sangsit (Daeng Mali). Untuk membantu asisten residen di Boeleleng ditambahkan seorang Controleur. Di Djembrana diangkat bupati Goesti Ngoerah Made Pasekan (sejak 1856), kapala Jawa di Banjoe Biroe, di Tegal Bodeng dan di Pengambengan,

Dalam perkembangannya status Banjoewangi ditingkatkan dari Asisten Residen menjadi Resident, Residen Banjoewangi tetap membawahi Bali en Lombok (lihat Almanak 1867). Di Boeleleng tetap seorang asisten residen dengan pemimpin lokal bupati Radja Goesti Ngoerah Ktoet Djelantik dan pemimpin lokal di Djembrana bupati Goesti Ngoerah Made Pasekan. Fungsi Controleur di Djembrana dihapuskan.


Pembagian wilayah Pemerintah Hindia Belanda sejauh ini Bali dan Lombok disatukan. Sementara di sisi timur Lombok sudah dibentuk afdeeling Bima. Dalam hal ini afdeeling Bima termasuk wilayah Afdeeling Zuiden Districten dari Province Celebes. Di Afdeeling Bima ditempatkan seorang Controleur. Dalam Almanak 1871 Radja Goesti Ngoerah Ktoet Djelantik masih bupati Boeleleng, sedangkan bupati Djembrana lowong tetapi masih ada Patih. Pemimpin lokal yang baru adalah kepala Muslim Bali di Pengastoelan dan kepala Muslim Mandar dan Bali di Loloan. 

Seperti sebelumnya meski beberapa lanskap tidak ada pemerintahan Hindia Belanda, tetapi radja dan sultan diakui (lihat Almanak 1871). Di pulau Sumbawa yang diakui adalah pangeran Bima, sultan Soembawa, pangeran Dompoe dan pangeran Sanggar. Di Bali raja-raja yang (tetap) diakui adalah Dewa Agoeng Poetra sebagai soesoehoenan van Bali en Lombok (pengeran van Kloengkoeng), Dewa Manggis pangeran Gianjar, Ratoe Gede Ngoerah Kasiman, Ratoe Alit Ngoerah Denpasar dan Ratoe Gede Ngoerah Made Pametjotan yang semuanya adalah pengeran-pangeran Badoeng; Goesti Ngoerah Made Agoeng pangeran Mangwi, Goeti Ngoerah Agoeng pangeran Tabanan dan Dewa Gede Tangkeban pangeran Bangli. Sementara radja di Boeleleng dan di Djembrana merangkat bupati.


Di Selaparang (Lombok) raja yang diakui adalah Anak Agoeng Agoeng Ngoerah Ketoet Karang Asem seb0agai pangeran van het eiland Selaparang dan Anak Agoeng Agoeng Gede Karang Asem sebagai pangeran kerajaan Karangasem di Lombok. Mereka berdua ini diakui sejak 1830. Meski Zollinger (1846) telah menggambarkan situasi dan kondisi sepintas tentang kota Mataram yang berada jauh di belakang pantai (Ampenan), namun kerajaan Bali Selaparang yang terbilang tertutup tidak pernah terinformasukan perkembangan kota Mataram. Kota Mataram yang dapat dikatakan kota tua, tetapi dalam sejarahnya kurang terinformasikan. Kehadiran orang Eropa sangat dibatasi memasuki pulau Lombok oleh penguasa Bali Selaparang di Lombok. Nama Mataram hanya sayup-sayup terdengar. Nama Mataram di Lombok diidentifikasi dalam Peta 1880.

Dalam perkembanganya merebak kebencian penduduk asli Lombok (Sasak) terhadap Radja Bali Selaparang. Penduduk Lombok dalam ancaman. Utusan Lombok menemui Pemerintah Hindia Belanda. Solusi yang ditawarkan Pemerintah Hindia Belanda tampaknya tidak diinginkan Radja Bali Selaparang. Mengapa? Keptusan terakhir diambil Batavia dengan mengirim ekspedisi militer ke Lombok.


Pada awal bulan Juni 1894 persiapan ekspedisi militer ke Lombok sudah matang. Awal Juli pasukan sudah memasuki pulau Lombok di Ampenan. Dalam daftar tersebut, ekspedisi militer ke Lombok dipimpin oleh Generaal Majoor JA Vetter sedangkan wakil adalah Generaal Majoor PPH van Ham. Pasukan terdiri dari Batalion-6 Luit. Kol van Bijlevelt, Batalion-7 dipimpin oleh seorang majoor., Batalion-9 dipimpin oleh Luit. Kol van Pabat. Juga meliputi pasukan kaveleri, geni dan artileri, topografi, kesehatan, administrasi militer dan officieren. Juga dalam daftar ini termasuk pasukan yang menuju Bali. Ada sembilan dokter dalam tim kesehatan plus seorang apoteker dan seorang dokter hewan. Salah satu dokter tersebut adalah CJ Neeb. Sebelum berangkat korp ekspedisi Lombok ini diadakan jamuan makan malam oleh Gubernur Jenderal di Societeit Concordia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 22-06-1894). Dalam berita ini juga disebutkan bahwa kemarin sebanyak 54 pekerja paksa tiba dari Bandjermasin dan hari ini 120 dari Makassar, semuanya akan menuju Lombok. Para kerja paksa adalah tahanan dalam berstatus pekerja paksa. Sementara pertempuran terjadi, Dr. CJ Neeb yang juga seorang fotografer mengabadikan spot dan kejadian tertentu dan koleksinya dikirimkan ke surat kabar di Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 17-09-1894). Disebutkan bahwa penerbit surat kabar Bataviaasch nieuwsblad akan dipamerkan agar para pembaca atau warga dapat kesempatan untuk melihat ekspedisi dalam bentuk foto. 

Dalam perang ini Pemerintah Hindia Belanda dibantu oleh Goesti Djelantik dari kerajaan Karangasem (Bali). Ini seakan balas demdam kerajaan Bali Karangasem terhadap kerajaan Bali Selaparang (Lombok). Pada Perang Bali tahun 1846 untuk menghukum radja Boeleleng yang dibantu kerajaan Karangasem Bali, kerajaan Bali Selaparang Lombok ikut membantu militer Belanda dengan sebuah kapal lengkap dengan pasukannya. 


Pada tahun 1898 diberitakan buku yang ditulis Dr CJ Neeb dan Luitenant WE Asbeek Brusse telah terbit dengan judul Naar Lombok (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 12-09-1898). Buku ini seakan buku kedua setelah buku Zollinger (1846) yang secara luas menggambarkan situasi dan kondisi di (pulau) Lombok. Kota Mataram mulai terbuka.

Pasca perang, bagaimana gambaran kota-kota di pedalaman (pulau) Lombok secara eksplist mulai terpetakan. Pada peta area pemukiman yang besar terdapat di Tjakranegara, dimana area pemukiman yang lain yang terbilang besar berada di baratnya di Mataram. Kota/kampong Ampenan di pantai barat hanya digambarkan suatu area pemukiman yang kecil.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar