Laman

Minggu, 29 Oktober 2023

Sejarah Bahasa (107): Bahasa Punan dan Putussibau di Pedalaman Pulau Kalimantan; Dialek Bahasa Kelompok Populasi Punan


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Bahasa Punan terdiri beragam dialek. Bahasa Punan Merah dipertuturkan di wilayah Ujoh Bilang timur (Mahakam), Kalimantan Timur; bahasa Punan Aput di wilayah barat dan utara gunung Menyapa, Kalimantan Timur; bahasa Punan Paking dituturkan di desa Paking, Mentarang, kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Bahasa Punan Paking persentase perbedaan berkisar 81%--100% dibandingkan bahasa-bahasa di sekitarnya, seperti bahasa Kenyah, bahasa Punan Merah, bahasa Lundayeh dan bahasa Punan Long Lamcin.

 

Dayak Punan adalah salah satu rumpun suku Dayak di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Di 6 kabupaten di Kalimantan Timur suku Punan yang tersebar di 77 pemukiman. Suku-suku Dayak termasuk rumpun Punan diantaranya: Suku Dayak Hovongan di Kapuas Hulu, Kalbar; Suku Dayak Uheng Kereho/Oloh Ot Nyawong/Suku Dayak Seputan di Kapuas Hulu, Kalbar; Suku Dayak Punan Murung di Murung Raya, Kalteng; Suku Dayak Aoheng (Suku Penihing) di Kalimantan Timur; Suku Dayak Basap di Kalimantan Timur; Suku Dayak Punan Merah/Suku Dayak Punan Serata/Suku Dayak Punan Langasa/Suku Dayak Punan Nya'an; Suku Dayak Punan Aput-Busang; Suku Dayak Merap; Suku Dayak Punan Tubu; Suku Dayak Ukit/Suku Bukitan/Suku Beketan; Suku Dayak Bukat; Suku Dayak Punan Habongkot; Suku Dayak Panyawung; Suku Dayak Punan Lisum; Suku Dayak Punan Kelay-Segah di Sungai Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur; Punan Murung; Suku Dayak Punan di Kalimantan Tengah terdapat di perhuluan sungai Barito di kabupaten Murung Raya (Punan Murung). Kebanyakan suku-suku Dayak di Kalimantan Tengah termasuk rumpun Ot Danum kecuali suku Dayak Punan Murung. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah bahasa Punan dan Putussibau di pedalaman pulau Kalimantan? Seperti disebut di atas catatan sejarah bahasa Punan awalnya dimulai dari Putussibau. Dialek-dialek bahasa kelompok populasi Punan. Lalu bagaimana sejarah bahasa Punan dan Putussibau di pedalaman pulau Kalimantan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Bahasa Punan dan Putussibau di Pedalaman Pulau Kalimantan; Dialek Bahasa Kelompok Populasi Punan 

Tunggu deskripsi lengkapnya

Dialek Bahasa Kelompok Populasi Punan: Dialek-Dialek Bahasa Melayu dan Dialek-Dialek Bahasa Dayak

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar