Laman

Minggu, 22 Oktober 2023

Sejarah Bahasa (93):Bahasa Komering;Hulu Sungai Komering di Danau Ranau di Batas Lampung, Muara di Sungai Musi Palembang


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Suku Kumoring atau Komering adalah salah satu suku bangsa pribumi Sumatera Selatan yang mendiami sepanjang aliran sungai Komering. Suku Komering banyak dijumpai di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Komering Ilir, dan Ogan Komering Ulu Selatan. Suku Komering merupakan salah satu suku terbesar di Sumatera Selatan, dimana suku ini merupakan salah satu rumpun suku Lampung yang sangat berbeda dengan suku-suku di Sumatera Selatan pada umumnya yang kebanyakan rumpun suku Melayu. Suku Komering berasal dari Kepaksian Sekala Brak kuno yang telah lama bermigrasi ke dataran Sumatera Selatan pada sekitar sebelum abad ke-7 dan telah menjadi beberapa kebuayan atau marga.


Bahasa Komering adalah sebuah bahasa yang dituturkan oleh Suku Komering. Beberapa linguis menyatakan bahwa bahasa Komering merupakan dialek dari bahasa Lampung. Sebagian besar linguis menggolongkan bahasa Komering dan bahasa Lampung ke dalam rumpun yang sama, yaitu kelompok keluarga dari Rumpun Bahasa Lampung atau Lampungik. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah bahasa Komering? Seperti disebut di atas bahasa Komering dituturkan oleh orang Komering. Sungai Komering, berhulu di danau Ranau batas Lampung, bermuara di sungai Musi, Palembang. Sepanjang apakah sungai Komering masa ini dan seberapa panjang masa lampau di zaman kuno. Sungai Komering sejajar garis pantai di timur. Mengapa? Lalu bagaimana sejarah bahasa Komering? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Bahasa Komering; Sungai Komering, Berhulu di Danau Ranau Batas Lampung, Muara di Sungai Musi Palembang

Bahasa Komering, orang Komering, sungai Komering dan kabupaten Komering (Ulu dan Ilir). Sebelum mengenal sejarah bahasa Komering, ada baiknya memahami terlebih dahulu wilayah Komering di daerah aliran sungai Komering. Untuk menjadi penanda navigasi sungai Komering adalah sungai yang berhulu di danau Ranau di pegunungan dan bermuara di sungai Musi di Palembang.


Tiga sungai besar di wilayah Sumatra bagian selatan adalah sungai Musi, sungai Ogan dan sungai Komering. Ketiga sungai ini bertemu di wilayah kota Palembang. Sungai-sungai ini di daerah hilir mengikuti garis (pembentukan) pantai. Tiga sungai di daerah hulu memiliki arah yang sama (mengikuti posisi tegak lurus pegunungan Bukit Barisan). Lantas mengapa berbelok di daerah hilir? Tiga sungai di daerah hilir samma-sama mengikuti garis pantai. Bagaimana dengan sungai Mesuji dan sungai Tulang Bawang? Satu yang membedakan diantara tiga sungai tersebut, sungai Komering berhulu di suatu danau pegunungan (danau Ranau). Dalam konteks inilah kita membicarakan sejarah bahasa Komering.

Secara geografis kelompok-kelompok populasi di wilayah (residentie) Palembang berada di antara daerah aliran sungai Musi di utara dan daerah aliran sungai Ogan di selatan. Sementara daerah aliran sungai Komering yang berhulu di danau Ranau dan bermuara di Palembang (sungai Musi) seakan memisahkan kelompok-kelompok populasi di wilayah Palembang dengan kelompok-kelompok populasi di wilayah (residentie) Lampoeng.


Ada sejumlah sungai yang dapat dikatakan berada di sisi dataran rendah kea rah pantai dari sungai Komering. Dua sungai terbesar adalah sungai Mesuji di utara dan sungai Tulang Bawang di selatan. Diantara dua sungai ini membertuk wilayah basah/berawa dimana terbentuk kelompok populasi Tulang Bawang atau Menggala. Sudah barang tentu secara geografis cukup dekat berinteraksi antara kelompok populasi Tulang Bawang dengan kelompok populasi Komering. Mengapa?

Seperti disebut di atas sungai Komering begitu panjang, lantas apakah kelompok populasi Komering terdapat di daerah aliran sungai Komering dari danau Ranau hingga kota Palembang? Sebagaimana dikutip di atas, Suku Kumoring atau Komering mendiami sepanjang aliran sungai Komering. Suku Komering banyak dijumpai di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Suku Komering merupakan salah satu suku rumpun suku Lampung yang sangat berbeda dengan suku-suku di Sumatera Selatan pada umumnya yang kebanyakan rumpun suku Melayu. Suku Komering berasal dari Kepaksian Sekala Brak kuno yang telah lama bermigrasi ke dataran Sumatera Selatan pada sekitar sebelum abad ke-7 dan telah menjadi beberapa ke’buay’an atau marga.


Sungai Komering sudah diketahui sejak lama keberadaannya. Suatu sungai yang berhulu di danau Ranau, dan sungai yang bermuara di kota Palembang di sungai Musi dikenal sebagai sungai Komering. Namun pemahaman sungai Komering antara kelompok populasi di hulu dan di hilir berbeda. Sungai Komering di bagian tengah tidak dikenal kedua kelompok populasi. Mengapa? Besar dugaan sungai Komering di masa lampau ke arah hilir dari waktu ke waktu semakin memanjang hingga ke kota Palembang. Dua dusun yang berada di daerah aliran sungai Komering adalah dusun Pedamaran, dusun terjauh dari Palembang dan dusun Boemiagoeng, dusun terjauh dari Martapura dan juga dari Tulang Bawang. Baru pada pertengahan abad ke-18 seorang pangeran dari Komering mampu melintatasi wilayah yang tidak dikenal tersebut dengan menyusuri sungai Komering dari Boemiagoeng ke Padamaran. Wilayah diantara dua dusun ini terdapat kawasan berawa yang sangat luas dan sulit dinavigasi. Lantas mengapa daerah Boemiagoeng dan Padamaran berawa?

Tunggu deskripsi lengkapnya

Sungai Komering, Berhulu di Danau Ranau Batas Lampung, Muara di Sungai Musi Palembang: Palembanhg vs Lampung

Sejak kapan nama Komering dikenal? Sudah barang tentu nama Komering sudah dikenal sejak lama sebagai nama sungai yang dijadikan sebagai nama wilayah. Pasca kesultanan Palembang dilikuidasi 1826, diangkat sejumlah pemimpin local antara lain di district Komering Ilir (lihat Almanak 1833). Pemerintah local yang diangkat tersebut berada di wilayah Komering bagian hilir (dekat kota Palembang).


Nama Komering Oeloe sebagai suatu district sudah disebut tahun 1843 (lihat Tijdschrift voor Neerland's Indie. 1843). Pada tahun 1849 di wilayah hulu (daerah aliran sungai Komering) terjadi pemberontakan di district Komering Oeloe (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 21-01-1850). Nama Komerin Oeloe sebagai suatu district juga ditulis dengan Koemering Hoeloe (lihat Javasche courant, 27-04-1850). Disebutkan diterima kabar di Palembang bahwa Pangeran Djiinat, pemimpin pemberontakan marga Adjie, district Koemering Hoeloe (residentie Palembang), telah menyerah. Pejabat pribumi yang menjadi panitia, Kranga Soela Nandita Adriet, yang antara lain diterima pesannya oleh Resident Palembang, telah tiba di Moeara Doea pada tanggal 31 Maret bersama Pangeran Djimat. Dari Martapoera dapat ditempuh ke Moera Doea melalui sungai sekitar satu hari (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 02-11-1849).

Pasca pemberontakan di wilayah hulu Komering, pada tahun1852 Residentie Palembang dibagi ke dalam empat afdeeling. Afdeeling pertama terdiri dari (a) Kota Pelembang; (b) Hiran en Banjoeasing, (c) Komering Ilir. (d) Ogan Ilir, (e) Moesi Ilir, (f) Lematang Ilir; Afdeeling kedua (Afdeeling Tebing Tinggi) terdiri dari Tebing Tinggi, Ampat Lawang. Lematang Oeloe, Moesi Oeloe dan Kikim ditambah dua landschap Redjang dan Pasoemah; Afdeeling ketiga (Afdeeling Ogan Oeloe, Koemering Oeloe en Enim) terdiri dari Ogan Oeloe, Komering Oeloe dan Enim ditambah tiga landschap Semendo, Kisam dan Makakan; Afdeeling keempat adalah wilayah aliran sungai Rawas.


Kota utama di wilayah district Komering Oeloe adalah Moeara Doea, suatu kampong besar yang dilalui sungai Martapura yang berhulu di danau Ranau. Wilayah ini dijadikan pemerintah sebagai pusat pemerintahan local. Mengapa? Sebab saat itu militer Pemerintah Hindia Belanda untuk mencapai district Komering Oeloe diakses dari pantai barat Sumatra (Kroei). Pemukiman besar lainnya adalah Batoeradja. Pasca pemberontakan tersebut detasement militer ditempatkan di Moera Doea dan di Batoeradja. Pasukan militer di Batoeradja ini dihubungkan dengan garis pergerakan militer di Lahat dan Tebingtinggi.

Hingga tahun 1852 jalan darat yang dibangun dari Palembang (Lorok) ke Lahat dan terus ke Tebingtinggi. Seperti kita lihat nanti, rute jalan baru dirintis yang menghubungkan Tebingtinggi di utara melelaui Lahat terus ke Batoeradja. Sesuai reorganisasi pemerintahan di residentie Palembang district-district hulu disatukan menjadi satu afdeeling (afdeeling ketiga). Afdeeling ketiga ini disebut Afdeeling Ogan Oeloe, Koemering Oeloe en Enim yang terdiri dari Ogan Oeloe, Komering Oeloe dan Enim ditambah tiga landschap Semendo, Kisam dan Makakan. Ibu kota afdeeling ditetapkan di Batoeradja.


Sejak adanya pemberontakan nama district Komering Oeloe mulai dikenal. Selama ini yang dikenal hanya district Komering Ilir. Ini berarti seluruh daerah aliran sungai Komering mulai dari Palembang (sungai Musi) hingga hulunya di danau Ranau sudah dijadikan dua wilayah district (Ilir dan Oeloe). Oleh karena nama afdeeling di hulu diberi nama Afdeeling Ogan Oeloe, Koemering Oeloe en Enim maka dua daerah aliran sungai di hulu ini disatukan (hulu sungai Ogan dan hulu sungai Komering). Ibu kota afdeeling ditetapkan di Batoeradja (daerah aliran sungai Ogan). Nama Moeara Doea (daerah aliran sungai Komering) hanya dijadikan (tetap) sebagai ibu kota district (onderafdeeling) Komering Oeloe (untuk onderafdeeling Ogan Oeloe en Kikim ibu kota di Batoeradja). Di dua kota tersebut ditempatkan masing-masing pejabat setingkat Controleur. Bagaimana dengan kota Martapoera di daerah aliran sungai Komering? Kita lihat nanti (pada masa ini ibu kota kabupaten Ogan Kmering Ulu Timur).

Bagaimana dengan bahasa Komering? Tentu saja sudah ada yang menginformasikan. Yang jelas orang Komering di daerah hulu (pedalaman) bertetangga dengan orangh Ogan dan orang Kisam. Wilayah pedalaman ini semasa Inggris (di Bengkoeloe) orang Eropa yang berkunjung ke pedalaman baru sampau di Pasemah (dari Manna). Lalu pada tahun 1846 Zollinger melakukan kunjungan ke wilayah Lampong (di Terbanggi). Zollinger sudah menyebut kelompok populasi Komering.


Tijdschrift voor Neerland's Indie, 1846: ‘…Karakter orang Komering khususnya Komering Oeloe lebih mandiri; bahasa mereka khas, aksara mereka sangat mirip huruf dan bunyinya dengan aksara masyarakat Batak, kepercayaan mereka umumnya paganisme; para penyembah patung, mereka sangat percaya pada perpindahan jiwa setelah kematian. Orang-orang ini pada dasarnya pemberani. Jarang sekali salah satu anak atau bahkan keluarga mereka diserang oleh orang jahat, mereka tahu bagaimana mempertahankan nyawa dan harta bendanya dengan gagah berani. Orang Komering pada dasarnya lebih rajin; dari wilayah inilah sebagian besar lada dipasarkan. Mereka menjunjung tinggi adat istiadat lama mereka, djoedjoer dijunjung tinggi…’.

Seperti disebut di atas, bahasa Komering disebut khas, artinya bahasa mereka dapat dibedakan dengan kelompok populasi lainnya (Ogan dan Aboeng). Satu hal yang juga penting bahwa orang Komering memiliki aksara sendiri, suatu aksara yang sangat mirip huruf dan bunyinya dengan aksara Batak. Disebutkan lebih lanjut wilayah orang Komering disebut district Komering Ranauw penduduknya sedikit sekitar 3.000 jiwa, yang membentang di sekitar kampong besar (Moeara Doewa) sebanyak sebelas kampung hingga ke danau Ranauw yang indah.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar