Laman

Jumat, 01 Desember 2023

Sejarah Bahasa (148): Bahasa Suluk Bahasa Tausug di Filipina; Kepulauan Sulu Antara Wilayah Indonesia dan Wilayah Filipina


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Suku Suluk (bahasa Suluk: Tausūg, "orang Suluk") adalah salah satu suku Bangsamoro yang berasal dari kepulauan Sulu, Filipina Selatan. Perkataan Suluk berarti "berasal dari Sulu". Suku Suluk mendiami wilayah Sabah, Malaysia. Suku ini merupakan pendiri Kesultanan Sulu pada masanya. Suku Tausug atau Suluk adalah mayoritas di kepulauan Sulu dan bahasanya Bahasa Sug adalah bahasa perantara atau lingua franca.


Bahasa Suluk atau Bahasa Tausug ialah suatu bahasa yang dituturkan di wilayah Sulu di Filipina, Malaysia dan Indonesia oleh orang Tausug. Mengikut sejarah, bahasa asal Tausug atau Suluk sebenarnya adalah dari bahasa asal Orang Tagimaha (Taguima dari Basilan). Bahasa Tausug adalah bahasa perantara atau lingua franca sebelum era kesultanannya lagi hingga kini. Kaum Tausug atau Suluk berasal dari rumpun Melayu-Austronesia (Polinesia) sebagai mana masyarakat Nusantara di sekitarnya. Bahasa Sug yang mereka tutur adalah mirip bahasa Melayu lama bercampur bahasa Arab dan bahasa etnik lain di sekitar Mindanao. Suku kaum Suluk atau Tausug juga punya beberapa dialek atau slanga mengikut kawasan atau daerah di antaranya ialah slanga Tausug Tapul, Tausug Basilan, Lugus, Gimbahanun dan lain-lain. Bilangan: Tausug-Cebuano-Melayu-Kadazan-Dusun: 1 – Isa-usa-satu-iso; 2 – Duwa-duha-dua-duo; 3 - Tū-tulo-tiga-tolu; 4 – Upat-upat-empat-apat; 5 – Lima-lima-lima-limo; 6 – Unum-unom-enam-onom; 7 – Pitu-pito-tujuh-turu; 8 – Walu-walo-delapan-walu; 9 – Siyam-siyam-sembilan-siam; 10 – Hangpu-napu'o-sepuluh-hopod (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah bahasa Suluk bahasa Tausug di Filipina? Seperti disebut di atas bahasa Suluk dituturkan oleh orang Suluk. Kepulauan Sulu diantara wilayah Indonesia dan wilayah Filipina. Lalu bagaimana sejarah bahasa Suluk bahasa Tausug di Filipina? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Bahasa Suluk Bahasa Tausug di Filipina; Kepulauan Sulu Antara Wilayah Indonesia dan Wilayah Filipina

Apakah bahasa Suluk lebih cenderung bahasa asli di Filipina atau bahasa Melayu? Wilayah bahasa Suluk di kepulauan Sulu merupakan gugusan pulau yang menghubungkan pulau Mindanao di Filipina dan pulau Kalimantan di Sabah. Dalam konteks bahasa di wilayah kepulauan Sulu secara geografis terhubung dengan bahasa-bahasa asliu di Sabah, di Mindanao dan pantai utara Sulawesi. Oleh karena kepulauan Sulu terdiri dari pulau-pulau kecil, penduduknya sangat tergantung dengan navigasi pelayaran dan interaksi yang intens dengan para pendatang (pedagangan dari berbagai tempat).  


Seperti berbagai bahasa di wilayah Filipina, kosa kata elementer dalam bahasa Suluk juga kurang lebih sama dan mirip kosa kata bahasa Batak, antara lain: niya – nya; ama' – ayah; apu' - atuk/datuk/nenek; ina' – ibu; ama-un - pakcik/bapa saudara; ina-un - makcik/ibu saudara; lira - lidah; iban – kawan; lanjang – tinggi; pila – berapa; uli – pulang; malayu – jauh; tau – orang; biya – bagaimana; nauli – telah sembuh; matai – mati; usug – lelaki; awalan mag (Suluk) = awalan mar (Batak).

Bahasa Batak berbeda dengan bahasa Sanskerta; idem dito aksara Batak berbeda dengan aksara Pallawa. Kosa kata elementer bahasa Batak berbeda dengan kosa kata elementer bahasa Sanskerta. Prasasti-prasasti di Sumatra yang berasal dari abad ke-7 mengindikasikan perpaduan kosa kata bahasa Batak dan kosa kata Sanskerta.


Dengan memperhatikan dan memperbandingkannnya, baik bahasa Batak dan bahasa Sanskerta tidak memiliki kedekatan dengan bahasa-bahasa lain di arah barat (pantai selatan India) maupun di arah utara (pantai timur Asia). Kedua bahasa ini seakan asli bahasa di nusantara. Dalam perkembangan awal bahasa Batak terkonsentrasi di Sumatra (contoh: api) dan bahasa Sanskerta di Jawa (contoh: agni). Dalam perkembangan lebih lanjut dua bahasa tersebut bercampur (yang diduga menjadi cikal bakal bahasa Melayu kuno). Bahasa Sanskerta dan bahasa Melayu terus mengalami evolusi yang lebih cepat, sementara bahasa Batak proses evolusinya lebih lambat. Mengapa?

Bahasa Batak menyebar ke wilayah lain di luar Jawa ke Kalimantan bagian utara, pulau-pulai di utaranya seperti Filipina, pulau-pulau ke timur seperti Sulawesi dan Maluku. Seiring dengan perkembangan bahasa Sanskerta dan bahasa Melayu, pengaruh bahasa Batak di Kalimantan, Filipina, Sulawesi dan Maluku, pengaruh bahasa Melayu khususnya semakin kuat. Kosa kata elementer di Kalimantan Utara, Filipina. Sulawesi dan Maluku masih tersisa hingga ke hari ini. Hal itulah diduga mengapa kosa kata elementer di wilayah Kalimantan Utara, Sulawesi/Maluku dan Filipina mirip dengan bahasa Batak.


Bahasa Batak diduga sebagai salah satu dari bahasa-bahasa asli (Austronesia) di Nusantara. Diantara bahasa-bahasa asli ini Bahasa Batak yang mengalami perkembangannya yang pesat. Mengapa? Dalam perkembangannya terbentuk lingua franca baru (bahasa Sanskerta) dan dalam perkembangan lebih lanjut terbentuk lingua franca (bahasa Melayu). Bahasa Batak di Sumatra tetap eksis, sementara bahasa Sanskerta di Jawa mengalami perkembangan menjadi bahasa Jawa dan bahasa Kawi. Kini, bahasa Jawa telah menggantikan bahasa Kawi di Jawa. Sedsangkan bahasa Melayu yang terus mengalami perkembangan menjadi bahasa yang luas digunakan di nusantara sebagai lingua franca (pada masa ini lingua franca bahasa Melayu itu digantikan bahasa Indonesia).

Lantas bagaimana dengan bahasa Suluk sendiri? Seperti disebut di atas, terdapat sejumlah kosa kata elementer dalam bahasa Suluk (sebagaimana dalam bahasa-bahasa di Filipina dan Sulawesi serta Kalimantan Utara) yang mirip kosa elementer dalam bahasa Batak, tampaknya pengaruh bahasa Melayu yang menggantikan perkembangan bahasa Suluk (yang mana sebelumnya lebih dipengaruhi oleh bahasa Batak).


Bahasa Batak sebagai bahasa yang sudah tua, juga ditunjukkan oleh aksaranya sendiri. Aksara Batak setua dengan aksara Funisia. Kosa kata elementer bahasa Batak sangat unik (tidak berpadanan dengan bahasa-bahasa lain di India maupun di Tiongkok). Kosa kata elementer bahasa Batak berbeda dengan bahasa Sankerta maupun bahasa Melayu tetapi relasinya masih dapat dipahami. Kosa kata ibu (ina), ayah (ama) dan padi (eme) sebagai contoh kosa kata elementer bahasa Batak yang berbeda dengan bahasa lainnya termasuk bahasa Sanskerta maupun bahasa Melayu. Opung/ompung dalam bahasa Batak tidak ditemukan dalam bahasa Sanskerta tetapi menjadi Mpu dalam bahasa Kawi. Sebagaimana kata tanya dalam bahasa-bahasa, sejak zaman kuno hanya terdiri dari enam kata tanya (5 W + 1 H) ada padanannya semua dalam bahasa Batak, tetapi tidak dalam bahasa Sanskerta. Enam kata tanya dalam bahasa Melayu/Indonesia dapat ditrace dalam bahasa Batak: aha menjadi apa; si-aha menjadi siapa. Kata tanya tempat dan waktu tidak ada dalam bahasa Sanskerta. Dimana dalam bahasa Batak adalah didia; kapan adalah andigan. Bagaimana dengan mengapa dan bagaimana? Dalam bahasa Batak mengapa adalah mahua (mengapa dalam bahasa Melayu; meng-apa dari meng-aha). Awalan ma (Batak) menjadi me (Melayu). Bagaimana adalah biya (biya-si dan biaya-ma) yang dalam bahasa Melayu menjadi bagaimana. Kosa kata bahasa Melayu dapat ditrace ke dalam bahasa Batak, tetapi jika tidak dapat ditrace, kosa kata tersebut dalam bahasa Melayu diduga kuat berasal dari bahasa asing (seperti bahasa Arab, Portugis dsb). Sebaliknya bahasa asing terserap ke dalam bahasa Batak melalui bahasa Melayu (lingua franca).

Bahasa Suluk sepintas terkesan menyerupai bahasa Melayu. Akan tetapi sejumlah kosa kata elementer dalam bahasa Suluk adalah sisa-sisa bahasa asli dari orang Suluk di kepulauan Sulu. Adanya sisa-sisa bahasa asli dalam, bahasa Suluk mengindikasikan pengaruh bahasa Melayu dalam bahasa Suluk muncul belakangan.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kepulauan Sulu Antara Wilayah Indonesia dan Wilayah Filipina: Pelaut Sulu Kerajaan Sulu

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar