*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini
Nationaal Indische Partij (NIP) membubarkan diri tahun 1923. Lalu bagaimana dengan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat? Yang jelas, pada tahun 1923 revolusioner muda Parada Harahap mendirikan surat kabar Bintang Hindia. Sejak Partai Komunis Indonesia (PKI) berdiri tahun 1920, pengaruhnya di Indische Vereeniging di Belanda semakin kuat. Soetan Casajangan sebagai anggota kehormatan bahkan dipecat. Mengapa? Yang jelas Soetan Casajangan adalah pendiri Indische Vereeniging/Perhimpoenan Indonesia tahun 1908. Lalu apakah Mohamad Hatta yang menjadi ketua tahun 1926 akan memulihkan nama Soetan Casajangan. Yang jelas Tan Malaka keluar dari PKI tahun 1927. Mengapa? Yang jelas Parada Harahap dan Ir Soekarno semakin dekat satu sama lain. Sejarah Pers di Indonesia
Pada September 1922, saat pergantian ketua antara Dr. Soetomo dan Herman Kartowisastro organisasi ini berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Para anggota PI juga memutuskan untuk menerbitkan kembali majalah Hindia Poetra dengan Mohammad Hatta sebagai pengasuhnya. Saat Iwa Koesoemasoemantri menjadi ketua pada 1923, PI mulai menyebarkan ide non-kooperasi yang mempunyai arti berjuang demi kemerdekaan tanpa bekerjasama dengan Belanda. Tahun 1924, saat M. Nazir Datuk Pamoentjak menjadi ketua, nama majalah Hindia Poetra berubah menjadi Indonesia Merdeka. Tahun 1925 saat Soekiman Wirjosandjojo nama organisasi ini resmi berubah menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Pada 1926, Mohammad Hatta diangkat menjadi ketua Perhimpunan Indonesia. PI lebih banyak memperhatikan perkembangan pergerakan nasional di Indonesia dengan memberikan banyak komentar di media massa di Indonesia. Semaun dari PKI datang kepada Hatta sebagai pimpinan PI untuk menawarkan pimpinan pergerakan nasional secara umum kepada PI. Stalin membatalkan keinginan Semaun dan sebelumnya Hatta memang belum bisa percaya pada PKI. Hatta menjadi Voorzitter (Ketua) PI hingga 1930 (Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah Tjipto Mangoenkoesoemo, Parada Harahap dan Soekarno? Seperti disebut di atas, pengaruh komunis di Indische Vereeniging di Belanda semakin menguat dan bahkan sang pendiri Soetan Casajangan yang menjadi guru di sekolah guru di Meester Cornelis (kini Jatinegara) dipecat sebagai anggota kehormatan. Dinamika politik sendiri di Indonesia menempuh jalannya sendiri. Lalu bagaimana sejarah Tjipto Mangoenkoesoemo, Parada Harahap dan Soekarno? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Mahasiswa di Indonesia
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah.
Parada Harahap dan Soekarno; Pengaruh Komunis di Indische Vereeniging, Soetan
Casajangan Dipecat
Parada Harahap hanya lulusan sekolah dasar di kampongnya di Padang Sidempoean. Seperti pemuda belia yang umumnya segera merantau, pada usia 15 tahun Parada Harahap merantau ke Sumatra Timur dan bekerja sebagai penulis di sebuah perkebunan Eropa di Asahan. Parada Harahap memiliki pikiran taktis yang jernih. Karena itulah Parada Harahap mengambil inisitif membongkar kasus Poenalie Sanctie (kasus pekerja asal Jawa) di perkebunan. Setelah dipecat, Parada Harahap merantau ke Medan dan kemudian mendirikan organisasi para pekerja perkebunan pada akhir tahun 1918. Investigasi (ketidakadilan) dan benteng persatuan (organisasi) adalah cara kerja Parada Harahap. Sendiri tidak akan mampu melawan kekuasaan yang kuat.
Parada Harahap memulai karir jurnalistik sebagai redaktur di surat kabar Benih Mardika di Medan tahun 1919. Lalu Parada Harahap mendirikan organisasi para jurnalis di Medan. Surat kabarnya dibreidel. Parada Harahap kembali ke kampong halaman di Padang Sidempoean mendirikan surat kabar baru dengan nama Sinar Merdeka dengan motto: ‘Organ Ontoek Kemadjoean Bangsa dan Tanah Air'. Penggunaan frase 'bangsa dan tanah air' melengkapi nama surat kabarnya Sinar Merdeka sebagai surat kabar berhaluan nasional. Di Padang Sidempoean, Parada Harahap juga diminta untuk menjadi redaktur surat kabar mingguan Poestaha yang didirikan tahun 1915 oleh Soeta Casajangan. Lagi-lagi, setelah belasan kali terkena delik pers, surat kabar Sinar Merdeka akhirnya dibreidel tahun 1921. Parada Harahap hijrah ke Batavia, bekerja sebagai redaktur surat kabar Neratja. Di jajaran redaksi juga pernah tercatat nama-nama seperti Agoes Salim dan Tjokroaminito. Pada tahun 1923 Parada Harahap mendirikan surat kabar baru dengan nama Bintang Hindia. Dalam hal ini, Parada Harahap adalah seorang yang radikal tetapi tidak frontal, jika tersandung (poenalie sanctie dan breidel) atau buntu (tidak berkembang) Parada Harahap segera mencari jalan keluar (membangun jalur baru yang dinamis).
Perjuangan anak bangsa terjadi di berbagai tempat. Liputan terhadap sepak terjang Tjipto Mangoenkoesoemo kurang cepat dan kurang mendalam di pers pribumi. Kantor berita berbahasa Belanda, Aneta, hanya mampu dibayar mahal berlangganan oleh surat kabar berbahasa Belanda, surat kabar yang cenderung mengolah kembali menjadi berita yang menggelembungkan pihak sana (orang Belanda) dan mengerdilkan pihak sini (orang pribumi). Sudah waktunya pers pribumi di Batavia memiliki kantor berita sendiri. WR Soepratman keluar dari surat kabar di Bandoeng, Kaoem Kita (lihat (lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1925, no 7, 12-02-1925). Pada bulan April 1925, Parada Harahap mendirikan kantor berita pribumi, Alpena. WR Soepratman direkrut Parada Harahap sebagai pemimpin redaksi kantor berita baru tersebut. Dalam dunia pergerakan pribumi persatuan/organisasi adalah fondasi, dan jaringan pers, kantor berita adalah fondasinya. Sementara itu, pada bulan Februari terinformasikan surat kabar Neratja namanya telah berubah menjadi Hindia Baroe (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 28-02-1925). Perubahan manajemen dan penggantian nama diduga bermula dari penarikan subsidi pemerintah di dalam surat kabar tersebut (yang kini menjadi independen).
Setiap pribumi yang mulai menyadarinya, yang terlebih dahulu dilakukan adalah membangun persatuan di dalam suatu organisasi. Demikianlah, Dja Endar Moeda, pensiunan guru yang menjadi pemimpi redaksi surat kabar Pertja Barat di Padang, pada tahun 1900 mendirikan organisasi kebangsaan (yang pertama) yang diberi nama Medan Perdamaian. Lalu pada tahun 1901 Dja Endar Moeda mendirikan majalah bulanan Insulinde sebagai organnya. Pada tahun 1905 di Medan didirikan Sarikat Tapanoeli yang bertujuan untuk mengimbangi jaringan perdagangan orang Cina. Di Bandoeng, para saudagar haji pribumi pada tahun 1906 mendirikan organisasi Himpoenan Soedara (yang juga mengajak pedagang Arab) untuk mengimbangi perdagangan Cina. Pada tahun 1908 ada dua organisasi mahasiswa yang didirikan: di Batavia sejumlah mahasiswa sekolah kedokteran (STOVIA) Batavia yang dipimpin R Soetomo mendirikan organisasi Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei; di Belanda Soetan Casajangan mendirikan organisasi mhasiswa Indische Vereeniging tanggl 25 Oktober. Sementara itu organisasi Boedi Oetomo telah dikooptasi oleh para senior/orangtua pada Kongres Boedi Oetomo pertama di Jogjakarta, sedangkan Indische Vereeniging yang anggotanya semakin banyak terus berkembang. Dalam perkembangan inilah kemudian, sejak 1923 Indische Vereeniging yang telah diubah namanya menjadi Indonesich Vereeniging mulai terkontamisasi dengan pengaruh komunis. Pada tahun 1924 Indische Vereeniging dapat dikatakan sudah didominasi oleh pemimpinnya dari sayap komunis. Bahkan pengurus baru (1924/1925) memecat beberapa anggotanya termasuk Soetan Casajangan yang hanya sebagai anggota kehormatan (sejak 1914; sebagai pendiri Indische Vereeniging tahun 1908). Soetan Casajangan sendiri saat ini (1825) justru berada di Batavia sebagai guru di sekolah guru di Meester Cornelis (kini Jatinegara).
Organisasi Sarikat Islam yang dulu sangat kuat dan luas, lambat laun semakin keropos, Tjokroaminoto di dalam tubuh Sarikat Islam tidak mampu melawan infiltrasi kelompok komunis. Persaingan antara SI Putih dan SI Merah semakin panas. SI juga tidak dapat sepenuhnya merangkul organisasi pemuda Jong Islamietenbond sehingga SI semakin tidak berdaya menghadapi situasi dan kondisi yang ada.
Parada Harahap dkk telah mendirikan organisasi Hindia (De Indische Associatie Vereeniging) di Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 13-01-1925). Disebutkan program organisasi ini sesuai AD/ART meliputi kegiatan politik yang sehat, pengembangan pendidikan, pelatihan kejuruan sesuai dengan prinsip-prinsip dasar, untuk mempromosikan tingkat kesehatan, kesejahteraan, hubungan keuangan Negara dengan daerah dan lainnya. Kepengurusan: voorzitter, PJA Maltimo dan Komisaris antara lain Parada Harahap, Raden Goenawan, Oey Kim Koel, JK Panggabean dan A Cbatib’. Catatan: Organisasi ini mengusung paham nasionalis memperjuangkan kesetaraan hak dan keadilan, multi etnik tanpa membedakan agama. Karakter organisasi ini berbeda dengan dengan Nationaal Indische Partij sebelumnya (Dr Tjipto dan Soewardi Soerjaningrat) dan kini Insulinde (yang keanggotaannya orang-orang Indo Eropa dan pribumi). Organisasi ini juga berbeda dengan SI (Islam) dan PKI (komunis) dan juga berbeda dengan Indische Vereeniging/Perhimpoenan Indonesia di Belanda (hanya pribumi).
Seperti disebut sebelumnya, Nationaal Indische Partij (NIP) telah dibubarkan pada tahun 1923 di Semarang. Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ernest Douwes Dekker masing-masing akan solo karir berjuang sebagai non-cooperative. Eks anggota NIP mengaktifkan kembali organisasi lama Insulinde yang berkarakter nasional (asimilasi dengan Indo Eropa) sebagai wadah lanjutan (bersifat cooperative yang mengutamakan Hindia berparlemen). Tanggungjawab non-cooperative itu tinggal di tangan para anggota organisasi PKI. Jadi dalam hal ini karakters dan visi misi antara NIP, SI dan PKI berbeda satu sama lain. NIP yang sebelumnya non-cooperative yang kembali ke khittah sebagai Insulinde memiliki visi nasional yang cooperative. SI yang tidak cooperative memiliki karakter yang mirip dengan PKI, yang membedakaannya adalah PKI berada di bawah kuasa Moscow (bolshevistisch) sedangkan SI dalam konteks pan-Islam dunia. Di luar itu, dapat dikelompokkan sebagai golongan nasionalis murni yang membumi yang awalnya mengusung kemitraan seperti di Belanda Indische Vereeniging di periode awal (tetapi kini di era Perhimpoenan Indonesia telah berubah menjadi non-cooperative). Kini, kelompok nasionalis murni terutama alumnsi Indische Vereeniging di Hindia seperti yang tergabung dalam Indonesia Studieclub di Soerabaja yang didirikan Dr Soetomo, Mr Singgih dkk. Di Batavia, juga mulai mengkristal golongan nasionalis murni yang dipimpin oleh Parada Harahap dkk. Catatan: Statuta NIP dan SI tidak pernah diterima oleh pemerintah. Pada masa lalu juga statute Indische Partij juga ditolak pemerintah (yang kemudian karena kasus agitasi dan para pemimpinnya diasingkan seperti Tjipto, Indische Partij dibubarkan) dan eks anggotanya bergabung dengan Insulinde. Pada tahun 1919, Insulinden diubah menjadi NIP. Namun statute NIP juga ditolak pemerintah (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 13-04-1923). Disebutkan pertanyaan tertulis, anggota Volksraad PF Dahler telah mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Pemerintah, antara lain “Apakah Pemerintah siap untuk menyatakan mengapa mereka masih belum dapat memutuskan untuk menyetujui statuta Nationaal Indische Partij (NIP)?. Jawaban pemerintah: Pemerintah telah menolak persetujuan atas statuta yang telah diubah. Nationaal Indische Partij (NIP) — meskipun menyebut dirinya demikian — tidak memiliki badan hukum dengan nama tersebut, karena, menurut statuta, partai tersebut bernama "Insulinde". Dengan nama terakhir tersebut, asosiasi tersebut memang memiliki badan hukum. Permohonan dewan pengurus untuk diizinkan mengubah nama menjadi Nationaal Indische Partij (NIP), sebagaimana asosiasi tersebut umumnya dikenal, kini telah ditolak. Seperti disebut sebelumnya, lalu pada bulan Mei 1923 Nationaal Indische Partij dibubarkan pengurus pusat (dan Insulinde diaktifkan kembali).
Bersih-bersih di tubuh satu-satunya surat kabar harian berbahasa Melayu, Hindia Baroe (eks Neratja) di Batavia akhirnya mengubah wajah surat kabar menjadi lebih revolusioner dengan diangkatnya redaktur muda M Tabrani dari Bandoeng. Pengangkatan M Tabrani ini masih terbilang misterius, karena M Tabrani sendiri tidak memiliki pengalaman di dunia jurnalistik. M Tabrani sendiri baru lulus tahun 1925 ini dari sekolah OSVIA di Bandoeng.
De Indische courant, 20-07-1925: ‘Jurnalisme. St Palindih telah mengundurkan diri sebagai editor "Hindia Baroe" dan digantikan oleh M Tabrani Soerjo Witjitro. Tabrani pernah bersekolah di Osvia di Bandoeng, tetapi jurnalisme lebih menarik baginya daripada posisi pejabat pemerintah. Beliau lahir di Madura dan merupakan tokoh terkemuka dalam gerakan "Jong Java".
Surat kabar Neratja yang sejak awal (didirikan tahun 1917) lebih didominasi oleh orang-orang religious. Namun ketika namanya berubah menjadi Hindia Baroe, dominasi orang-orang religious (SI) mulai digantikan oleh orang-orang nasionalis (revolusioner). Seperti disebut di atas, Agoes Salim dipecat dari Hindia Baroe pada bulan Juni 1925. Kini, di bulan Juli 1925 terinformasikan pemimpin redaksinya yang baru seorang nasionalis yang masih berusia muda, Mohamad Tabrani. Sebaliknya di Bandoeng, surat kabar Kaoem Kita mulai tanggal 15 Oktober 1924 menjadi surat kabar harian di bawah pemimpin redaksi Abdoel Moeis. Seperti disebut di atas, WR Soepratman keluar dari surat kabar Kaoem Kita pada bulan April 1925 (dan kemudian pindah ke Batavia bersama nasionalis Parada Harahap memimpin kantor berita Alpena). Parada Harahap sendiri pernah sebagai redaktur di Neratja sebelum mendirikan surat kabar sendiri Bintang Hindia pada tahun 1923.
Nama Tabrani kali pertama diberitakan di Soerabaja pada tahun 1921 (lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1921, No 13). Disebutkan dalam pertemuan Perhimpunan Jong Java yang diadakan di Soerabaja pada tanggal 20 Maret turut hadir Soekarno dan Tabrani. Soekarno bersekolah di HBS 5 tahun Soerabaja dan Tabrani bersekolah di MULO Soerabaja. Keduanya berbicara di forum: Untuk meningkatkan jumlah anggota dan sumber daya asosiasi, Sainal mengusulkan agar semua siswa sekolah menengah atau kejuruan diterima sebagai anggota, terlepas dari apakah mereka berbicara bahasa Belanda atau tidak. Usulan itu didukung oleh Tabrani dan Soekartono. Sementara itu Soekarno menunjukkan pentingnya bahasa Melayu dan menyarankan agar murid dari sekolah guru (Normaalschool) juga harus diterima; organ perhimpunan kemudian dapat muncul dalam bahasa Melayu dan Belanda (semenatara saat ini diterbitkan dalam bahasa Belanda). Soepardi mencatat bahwa artikel-artikel Belanda kemudian dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Berbagai usulan (akan dipresentasikan nanti pada kongres berikutnya) disetujui. Soekartono kemudian mengusulkan agar diperbolehkan berpidato di Kongres juga dalam bahasa Melayu, tetapi usulan ini menjadi penyebab perdebatan sengit, dimana Soekarno diancam akan dikeluarkan oleh ketua; masalah itu sudah diselesaikan di kongres sebelumnya dan perdebatan ditutup didalamnya’. Pada tahun 1921 Soekarno diterima di fakultas teknik THS Bandoeng dan Tabrani diterima di sekolah pamong OSVIA Bandoeng. Semasih di Jonga Java, Soekarno dan Tabrani sudah menunjuk karakter reformis dan cenderung lebih terbuka (bersifat nasionalis). Pada tahun 1924 Tabrani menulis di majalah Jong Java edisi No 61 tanggal 15 September 1924 (lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1924, no 42).
Kini, di Batavia, sudah ada tiga jurnalis yang berhaluan nasionalis moderat (berbeda haluan dengan NIP, SI, dan PKI). Ketiganya moderat ini tidak dapat dikatakan sebagai nasionalis cooperative atau nasionalis non-cooperative. Ketiganya berada di tengah sebagai nasionalis moderat. Parada Harahap adalah jurnalis senior; WR Soepratman dan Mohamad Tabrani jurnalis junior. Lalu sehubungan dengan semakin intensnya pemerintah menekan pers pribumi, Parada Harahap menginisiasi pembentukan organisasi jurnalis di Batavia. Parada Harahap sendiri pernah mendirikan organisasi jurnalis di Medan pada tahun 1919 (dan masih eksis hingga kini).
WR Soepratman terinformasikan pada tahun 1923 di Makassar (lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1924, no 2, 08-01-1924). Disebutkan berdasarkan surat kabar berbahasa Melayu Pemberita Makasser 12 Desember 1923 W. Rudolf Soepratman sedang mendirikan kelompok pembaca. Lalu kemudian WR Soepratman terinformasikan sudah di Bandoeng sebagai staf redaksi surat kabar Kaoem Kita (lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1925, no 7, 12-02-1925). Disebutkan berdasarkan surat kabar Kaoem Kita edisi 2-7 Februari 1925 pada bagian Tajuk Rencana antara lain terdapat pengumuman bahwa WR Soepratman, sehubungan dengan perluasan majalah ini, telah ditambahkan mulai tanggal ini (2 Februari 25) yang sebelumnya staf redaksi Kaoem-Kita menjadi wakil pemimpin redaksi. Dalam edisi itu disebutkan WR Soepratman, wakil pemimpin redaksi Kaoem Kita menuslis sebuah artikel dimana ia menunjukkan bahwa, meskipun di negara ini, baik oleh Pribumi maupun oleh ras lain, beberapa surat kabar diterbitkan, ia belum membaca satu surat kabar asli pun yang benar-benar dapat disebut surat kabar, karena mereka ada sebagai organ dari satu pihak atau lainnya dan akibatnya tidak mengungkapkan pendapat mereka secara langsung. kemajuan rakyat, oleh karena itu Kaoem Kita mulai saat ini tidak hanya akan mengedepankan suara salah satu pihak saja, tetapi segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan dan kemajuan kaum pribumi. Dalam edisi lainnya sebuah artikel oleh WRS yang ditujukan untuk Indonesische Vereeniging (Perhimpoenan Indonesia) di Belanda, yang menurutnya didirikan pada tahun 1908 oleh Soetan Casajangan dan yang bertujuan untuk memberikan bantuan kepada rasnya sendiri dan untuk memajukan kemajuan mereka. De locomotief, 18-04-1925: ‘Agensi pers berbahasa Melayu. Seorang koresponden memberitahu kami dari Batavia bahwa sebuah kantor berita Alpena telah didirikan disana, yang akan menerima semua kantor pers kecil di Hindia’. Sementara itu, WR Soepratman masih berada di di Bandoeng (lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1925, no 19, 07-05-1925). Disebutkan artikel WR Soepratman dimuat di Kaoem Kita edisi 14 hingga 23 April '25. Alpena sendiri didirikan Parada Harahap dari NV Bintang Hindia yang juga menjadi pemimpin redaksi surat kabar Bintang Hindia pada bulan April 1925 (lihat lagi De locomotief, 18-04-1925).
Dalam pendirian sarikat jurnalis tersebut telah ditunjuk Mohamad Tabrani sebagai ketua, sekretarisnya adalah pemimpin redaksi Alpena WR Soepratman. Sarikat jurnalis ini hanya untuk orang non Eropa/Belanda. Sebagaimana diketahui di Batavia bahkan seluruh Hindia Belanda tidak ada organisasi jurnalis Eropa/Belanda.
Deli courant, 02-09-1925: ‘Organisasi Jurnalis Indonesia dan Cina. Para jurnalis Indonesia dan Cina telah mencapai kompromi dan telah membangun sebuah organisasi. Ini patut dipuji, karena melalui ini pers Hindia juga dapat membahas topik umum dan menetapkan arah tindakan, menurut Al Dag bl. Tabrani, telah segera diangkat sebagai ketua, sekretarisnya adalah pemimpin redaksi Alpena, Soepratman, bendahara Bee Bauw Tjoen dari Sin Po, sementara sebagai anggota, baik jurnalis Cina maupun Hindia. Mereka akan berusaha memenangkan simpati publik, untuk sementara cukup dengan organisasi di Batavia, kemudian berkembang dan mengejar cita-cita berikut: Pelestarian bidang jurnalisme, pengembangan jurnalisme terbaik, menetapkan peraturan dan penghapusan berbagai habatan yang menghalangi perkembangan bidang tersebut, penyelenggaraan kuliah dan seminar, penyelenggaraan pameran, pembentukan sekretariat, pembentukan dana untuk anggota yang mengalami kesulitan. Cina, Arab dan Pribumi dapat menjadi anggota organisasi. Dalam rapat pendirian, banyak kata-kata keras diucapkan, yang darinya tampak beberapa tindakan gegabah’.
Para jurnalis senior di Batavia telah mendorong para jurnalis muda sebagai pengurus organisasi. Para senior cukup berada di belakang sebagai komisaris (pengawas). Lalu dengan adanya benteng pertahanan di Batavia (organisasi pers pribumi dan Cina), Parada Harahap langsung mulai bertarung dengan pers Belanda. Sebagaimana diketahui selama ini, Karel Wijbrand (pemimpin redaksi Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie) selalu ‘nyinyir’ (cenderung menghina dan merendahkan) dengan orang pribumi dan pers pribumi. Sudah lebih dari satu dekade, Karel Wijbrand (seperti disebut sebelumnya) selalu mencemooh perjuangan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat.
De Indische courant, 17-09-1925: ‘Indisch fascisme. Het blanke front. Parada Harahap, editor Bintang Hindia, menulis dalam Java Bode tanggal 10 lalu dengan judul Kranten en Klanten setelah posisi surat kabar Lokomotif diambil oleh Soerabija HBL dengan operasi pasar di Semarang. Parada Harahap mengatakan: ‘Sebagai pribumi, kemajuan negara-negara ini sangat dekat dengan hati saya, dan berusaha agar masyarakat tetap harmonis dari semua lapisan di Hindia, harus mencatat bawah saya pikir saya memiliki pemahaman, setidakanya mewakili wartawan dari pers Melayu. Mohon ijin saya harus memberi pendapat yang sama dikhususkan pada Soer. Hbld hari ini yang kesannya sikap yang diambil membahayakan kerjasama yang harmonis masyarakat di Hindia. Ini telah lama mengancam kepercayaan umum penduduk pribumi niat baik dari Belanda akan hilang di sini di Hindia, oleh tindakan beberapa pers Eropa/Belanda dan masyarakat ETI (Eropa), terutama oleh cepat meluncurkan mereka dari tuduhan senegara mereka sendiri, yang mendukung keselamatan Hindia dan rakyatnya dengan cara mereka, jika mereka bersalah mengkhianati rakyat dan negara mereka sendiri. Kesenjangan antara Timur dan Barat dan tidak sedikit Doori (tindakan yang dimaksudkan Anda dari Soer. Hbld) untuk membentuk sebuah front kosong, yang begitu banyak memiliki untuk menandakan tantangan resmi yang ditujukan kepada umat berwarna di Hindia. Bagaimana Pribumi dan disini yang mana Lokomotif, Cina berpikir, sempurna akrab bagi saya. Lokomotif adalah salah satu organ, menekankan sopan santun yang baik bagi kita. Dalam hal ini bagi kami adalah bukti bahwa tidak semua Belanda memusuhi kami, baik antar penduduk pribumi termasuk Cina, bahwa semua orang Eropa di Hindia kepercayaan rakyat tidak pantas berada sendirian dengan menunjuk ke item yang yang terdapat di Soer. Hbld. dan simpatisan nya. Memang benar bahwa Soer. Hbld. tidak hitam-putih terhadap pribumi, tetapi efek yang diperoleh oleh sesama seperti Ant Lievegoed menunjuk sebagai anti-Belanda atau orang berbahaya bagi Belanda di Hindia tidak berbeda dengan semakin yakin terletak di antara pribumi bahwa setiap ‘pembimbing’ asal Belanda, yang berusaha untuk kemajuan dan pengembangan tanah dan orang, dan yang tidak memperkuat depan ‘putih’, dan antagonisme abaian putih dan coklat, dengan bangsanya sebagai pengkhianat. Ini sekarang jelas tilisan anda lebih berbahaya daripada tulisan wartawan pribumi. Pers ETI bergema di dunia pribumi tapi resonansinya jauh dari menguntungkan untuk hubungan timbal balik di Hindia. Menurut pendapat saya tugas pers putih sekarang jauh lebih besar dari sebelumnya, sekarang jadi harus memperhitungkan jutaan orang di Hindia, yang oleh pers sendiri dan melalui komunikasi yang lebih baik dan karena itu lebih menjamin kontak di antara kami sendiri, akan diinformasikan diberitahu tentang apa yang terjadi di pers ETI tercermin apa yang mereka percaya sebagai yang kulit putih di wilayah ini. Anda telah mendorong ke arah fasisme. Hal ini unsur-unsur, seperti Komunis, akan datang untuk mengeksploitasi pernyataan tidak membantu seperti dan taktik dasar merusak mereka kemudian turun, dan digunakan sebagai alat propaganda. Soer. Hbld. Telah berusaha membangun kebohongan, bahwa ada lebih kecurigaan terangsang antara pribumi melawan Belanda di Hindia? Bukankah sekarang delapan orang datang waktu untuk menahan suara seseorang dari journalistik diucapkan sikap simpatik terhadap penduduk pribumi menunjukkan sikap yang menurut banyak pihak, melihat orang Barat telah mulai menaruh minat kompromi. Tapi kemajuan daerah ini telah membuat kemajuan besar juga, sudah ada terlalu banyak intelektual pribumi yang merupakan penilaian independen untuk mengetahui untuk membuat peristiwa politik saat ini dari yang klik taruhan reaksioner akan berani secara terbuka untuk keluar orang untuk prinsip-prinsip etika hanya sebagai musuh pemerintah Belanda. Oleh karena itu, adalah komunisme jika diperlukan untuk membenarkan kampanye…Ada yang mau mengikut Aku, yang akan menyelesaikan pekerjaan saya ini?’. Catatan: surat kabar yang sering nyinyir Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie dan Bataviaasch nieuwsblad di Batavia, Soerabaijasch handelsblad di Soerabaja dan di Bandoeng. Sebaliknya yang netral atau cenderung mendukung perjuangan pers pribum (yang umumnya digawangi oleh para jurnalis Indo) antara lain Java Bode di Batavia, De Indische courant di Soerbaja dan De locomotief di Semarang serta De nieuwe vorstenlanden di Soerakarta dan Mataram di Jogjakarta. Karel Wijbrand memulai karir jurnalis di Sumatra Post di Medan tahun 1901 (sebelum mendirikan surat kabar baru di Batavia tahun 1903 yang terus dipimpinya hingga sekarang-- Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie). Perang pers (Belanda vs pribumi/Indo) hanya terjadi di Jawa.
Seperti disebut di atas WR Supratman pada bulan April masih berada di surat kabar Kaoem Kita di Bandoeng (sebagai redaktur) dan baru-baru ini telah terinformasikan di Batavia sebagai pemimpin redaksi kantor berita Alpena yang didirikan NV Bintang Hindia (Parada Harahap). Sementara Mohamad Tabrani baru diangkat sebagai redaktur surat kabar Hindia Baroe pada bulan Juli (menggantikan St Palindih yang mengundurkan diri). Meskipun baru (di bidang keredaksian surat kabar), Mohamad Tabrani sudah menunjukkan keberaniannya.
Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 23-09-1925: ‘Delik Pers "Keng Po". Serikat Jurnalis Bergerak. Seperti sebelumnya saat penangkapan pemimpin redaksi "Warna Warta", Serikat Jurnalis Pribumi dan Cina, yang didirikan di Batavia, telah menindaklanjuti penangkapan wakil pemimpin redaksi "Keng Po". Pada Kamis malam, sebuah pertemuan mengenai masalah ini diadakan di gedung kantor berita "Alpea" di Weltevreden, dipimpin oleh redaktur "Hndia Baroe", Tabrani. Kami menyimpulkan hal berikut dari laporan yang dimuat di "Sin Po": Seorang delegasi dari "Keng Po", yang diberi kesempatan berbicara pertama, menjelaskan bahwa Lauw Giok Lan yang ditangkap adalah orang yang memiliki nama baik dan reputasi yang baik baik di bidang jurnalistik maupun dalam kehidupan pribadinya, telah berkecimpung di dunia jurnalistik selama beberapa dekade (antara lain, beliau adalah salah satu pendiri "Sin Po", Ed.), berasal dari Hindia Belanda, dan keluarganya tidak pernah meninggalkan Hindia, sehingga penahanan preventif tidak dapat dibenarkan untuk orang seperti itu. Bahkan jika ia dibebaskan dari tahanan, ia tidak akan berusaha untuk menghindarinya. Diusulkan untuk mengirim surat penahanan kepada Jaksa Agung untuk memohon pembebasan Lauw Giok Lan. Parada Harahap, pemimpin redaksi "Bintang Hindia", meminta serikat pekerja untuk menunggu sedikit lebih lama, karena penyelidikan polisi belum selesai dan Lauw masih ditahan, meskipun belum ditempatkan secara preventif di Glodok. Segera setelah penyelidikan pendahuluan ini selesai dan Lauw ditahan sementara menunggu sidang kasusnya di hadapan hakim, barulah saatnya serikat pekerja bertindak seperti yang diusulkan. Ia mengusulkan kepada dewan untuk segera menyusun manifesto, yang akan disampaikan kepada pers. Setelah rapat membahas masalah ini untuk beberapa waktu, akhirnya diputuskan: 1. untuk menerbitkan manifesto, yang akan dikirim ke pers (isi manifesto ini, yang kami temukan di "Hindia Baroe" kemarin, terutama berisi keluhan pers Pribumi dan Melayu-Tionghoa terhadap tindakan pejabat pemerintah terhadap jurnalis mereka, juga terkait dengan penangkapan Lauw Giok Lan, Red.), 2. untuk mengirim delegasi ke Jaksa Agung untuk memohon pembebasan orang yang ditangkap). Kami juga membaca di "Sin Po" hari Jumat bahwa Lauw Giok Lan harus menandatangani pernyataan jika ingin dibebaskan. Isi pernyataan ini akan sama dengan yang disampaikan kepada Oei Kie Hok, editor "Sin Yit Po*" di Surabaya (untuk menahan diri dari tulisan-tulisan yang menyebarkan kebencian di masa mendatang). Namun, seperti halnya Oei Kie Hok, Lauw Gok Lan menolak menandatangani pernyataan tersebut, dengan demikian ingin menunjukkan bahwa ia lebih memilih kehilangan kebebasan bergerak daripada kebebasan berekspresinya dibungkam. Oleh karena itu, ia ditempatkan secara permanen dalam tahanan preventif di pasungan di Glodok ("Java Bode")’. De nieuwe vorstenlanden, 23-09-1925: ‘Rasa Nasionalisme Indonesia. Tabrani DI menulis hal berikut tentang ini: Karena berbagai suku bangsa Indonesia belum memiliki rasa persatuan di tanah kelahiran mereka, masih memungkinkan bagi pihak 'sana' untuk menabur perselisihan. Hal ini dilakukan secara halus. Kelompok etnis yang berbeda dipuji satu sama lain. Dan inilah alasan mengapa gerakan rakyat masih sangat lemah, karena memungkinkan pihak 'sana' untuk menabur benih perselisihan. Namun, berkat pendidikan, mata mereka telah terbuka, karena melalui pendidikan mereka mampu membaca apa tindakan dan politik pihak 'sana' dan bahwa untuk mencapai satu tujuan, satu arah dan satu kemauan juga diperlukan. Lebih jauh lagi, dengan bantuan pendidikan, seseorang dapat mengetahui pemikiran tokoh-tokoh terkenal yang membela suku dan negara mereka. Sejarah mengajarkan bahwa tidak ada bangsa yang ditakdirkan untuk selamanya tunduk kepada bangsa lain. Di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan lain-lain, berbagai asosiasi seperti BO, SI, Pasoendan, SR (Sarekat Rakjat/komunis), Sarekat Ambon, dan lain-lain, berupaya membangkitkan kesadaran rakyat, dan masing-masing secara individu bekerja untuk persatuan berbagai kelompok etnis, yang memiliki satu tujuan: kebebasan tanah dan rakyat. Perasaan nasionalisme Indonesia tidak bertentangan dengan perasaan sebagai orang Jawa, Sunda, atau Sumatera, tetapi justru memperkuat gerakan suatu ras yang belum merdeka. Jika seseorang secara umum dipenuhi oleh perasaan ini, maka tidak dapat diharapkan bahwa ia tidak akan segera merdeka, karena melalui perasaan ini pihak sana tidak akan mampu menabur perpecahan. Rakyat Jawa harus bersatu dalam menghadapi, jika pihak sana, misalnya, menghina atau mengejek orang Sumatera, dan sebaliknya, maka pihak sana akan menyadari bahwa tidak ada yang peduli lagi. Perasaan nasionalisme Indonesia mengandung dua makna: 1) bahwa semua masyarakat adat memiliki satu musuh, yaitu 1) kubu sana; 2) bahwa hal itu harus menjadi arah setiap partai yang memiliki program politik. Saat ini, hanya makna pertama yang terlihat; namun, gerakan kemerdekaan akan jauh lebih kuat dan cepat jika kedua makna tersebut disatukan, sehingga membentuk front persatuan melawan kubu sana. Oleh karena itu, perlu bagi bangsa Indonesia untuk memiliki kesadaran bahwa mereka belum sepenuhnya merdeka. Hindia Baroe’.
De locomotief, 13-10-1925: ‘Asosiasi Jurnalis Pribumi. Baru-baru ini, beberapa jurnalis dari surat kabar Melayu dan Cina-Melayu, serta kantor berita Volkslectuur bertemu di gedung kantor berita Alpena, Pasar Baroe, Weltevreden, di bawah kepemimpinan editor Hindia Baroe, Tabrani. Tujuan pertemuan tersebut adalah untuk secara definitif membentuk asosiasi jurnalis pribumi dan Cina di Hindia. Semua warga Asia yang bekerja tetap sebagai editor, redaktur, reporter, atau kontributor untuk surat kabar dan majalah Melayu dan Cina dapat bergabung dengan asosiasi tersebut. Setelah beberapa perdebatan, diputuskan untuk memberi nama asosiasi tersebut "Journalistenbónd Asia". Berikut ini adalah anggota dewan yang terpilih untuk pertama kalinya: Tabrani (Hindia Baroe), ketua; Kwee Kek Beng (Sin Po), wakil ketua; WR Soeratman (Alpena), sekretaris; Boen Joe On (Perniagaan), bendahara pertama; RS Palindih (Berita), bendahara ke-2, dan sebagai komisioner Parada Harabap (Bintang Hindia), Lie Ying Chen (Göin), Kuoe Bou Sioe (Keng Po), Bee Giuw Tjoen (Sin Po) dan Achmad Wongsosewojo (Volkslectuur). Setelah itu, dengan mempertimbangkan kemungkinan perubahan, rancangan anggaran dasar disetujui dan jumlah kontribusi serta biaya pendaftaran ditentukan. Pertemuan tersebut mengadopsi usulan untuk memberi wewenang kepada Parada Harahap, yang akan melakukan perjalanan terpisah ke Sumatra dan Singapura pada hari Minggu mendatang, untuk melakukan propaganda atas nama serikat di tempat-tempat di mana para jurnalis berada. Lebih lanjut, dilaporkan bahwa para jurnalis di Medan telah membentuk sebuah asosiasi dan sekarang sedang mencari kerja sama, dan jika perlu, afiliasi, dengan asosiasi yang diusulkan di sini. Cabang-cabang akan didirikan di tempat lain di Jawa dan di tempat lain’. Berdasarkan surat kabar Hindia Baroe edisi 2-7 Oktober 1925 (lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1925, no 41, 09-04-1925) bahwa Journalistenbond Asia diresmikan pada 6 Oktober.
Seperti disebut di atas, pada Kongres Jong Java, bulan Mei 1921 di Soerabaja, Soekarno dan Tabrani termasuk di dalam kongres yang sudah memperlihatkan diri sebagai nasionalis. Saat itu, Soekarno masih sekolah di HBS di Soerabaja dan Tabrani baru lulus MULO di Soerabaja. Pada tahun 1921 itu juga Tabrani diterima di sekolah pemerintahan dalam negeri (Osvia) di Bandoeng dan Soekarno diterima tahun 1922 di sekolah tinggi teknik (THS) di Bandoeng. Siswa yang diterima di HBS adalah lulusan sekolah dasar Eropa (ELS) dengan lama studi lima tahun; naik dari kelas 3 ke kelas 4 dianggap setara MULO (3 tahun). Di sekolah OSVIA Bandoeng lama studi 7 tahun, yang mana siswa yang diterima lulusan ELS. Oleh karena Mohamad Tabrani, lulusan MULO maka di Osvia Bandoeng ditempatkan di kelas empat (tahun 1921). Hal itulah mengapa Mohamad Tabrani baru lulus di Osvia (setara akademi 1 tahun) Bandoeng pada tahun 1925 ini (dan langsung jadi redaktur surat kabar). Soekarno di THS Bandoeng juga lancar dalam studi. Pada tahun 1923 terinformasikan Soekarno sebagai ketua Jong Java Bandoeng (lihat De Indische courant, 19-12-1923). Disebutkan Jong Java Bandoeng mengadakan pertemuan umum tahunan. Dalam pertemuan ini diangkat pengurus baru, dimana dipilih berikut: ketua, Soekarno. Dalam pertemuan ini juga turut dihadiro oleh perwakilan Jong Sumatranen Bond dimana Masnjoer (mahasiswa Stovia) berbicara tentang ‘Tatanan Para Pelayan Hindia’. Pada tahun 1924 Soekarno lulus ujian kelas dua di THS (lihat De Indische courant, 05-05-1924). Lama studi di THS Bandoeng 4 tahun. Pada tahun 1925 ini Soekarno lulus ujian tingkat 3 atau ujian kandidat (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 06-05-1925). Ini berarti Soekarno tinggal satu tahun lagi menjadi insinyur (sementara di bawahnya yang lulus tingkat dua adalah M. Putuhena). Keduanya juga terinformasikan sebagai anggota Jong Java afdeeling Bandoeng. Sementara itu pada tahun 1921 diadakan Kongres Sumatra di Padang. Mohamad Hatta yang baru lulus HBS di PHS Batavia turut hadir. Delegasi dari Tapanoeli dipimpin oleh Parada Harahap (pemimpin redaksi surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempoean). Selepas kongres, pada bulan Agustus Mohamad Hatta berangkat ke Belanda melanjutkan studi. Parada Harahap, selepas kongres berangkat ke Batavia untuk belajar/les bahasa Belanda sambil bekerja sebagai redaktur di surat kabar Neratja.
Het Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad, 08-04-1924: ‘Indonesische Vereeniging en Javaansche Intellectuuele Bond (Asosiasi Indonesia dan Liga Intelektual Jawa). Asosiasi Indonesia mengadopsi mosi berikut dalam rapatnya: Asosiasi Indonesia, setelah mengetahui pembentukan Liga Intelektual Jawa di Surabaya (oleh Dr Soetomo dkk); setelah membaca prinsip-prinsip yang dianggap perlu diadopsi oleh Liga Intelektual Jawa sebagai prinsip panduannya; setelah mendengar debat; dengan mempertimbangkan bahwa: 10. propaganda Liga Intelektual Jawa mengarah pada chauvinisme Jawa, yang merugikan gagasan persatuan Indonesia; 20. "karakter intelektual" Liga tersebut merugikan gerakan rakyat Indonesia; 30. dengan demikian kebijakan pecah belah dan kuasai didorong; 40. melanjutkan gerakan tersebut, yang bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dijunjung tinggi oleh Asosiasi Indonesia; menyatakan ketidaksetujuannya yang tajam terhadap pembentukan Liga Intelektual Jawa dan menginstruksikan dewan untuk menyampaikan mosi ini kepada dewan J.I.B. dan untuk memberikan "publisitas" di Indonesia. Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant, 18-04-1924: ‘Dalam salah satu edisi terakhir "Hindia Poetra", organ asosiasi Indonesia di Belanda, prinsip non-kooperasi dengan pemerintah direkomendasikan sebagai satu-satunya prinsip yang benar bagi orang Indonesia, yang sesuai dengan kesadaran diri dan harga diri bangsa kolonial. Gagasan ini sepenuhnya ditolak oleh "Jong Sumatra", organ Young Sumatranenbond, dengan merujuk pada kegagalan di India Britania, di mana kondisi untuk non-kooperasi konon jauh lebih menguntungkan daripada di Hindia Belanda. Surat kabar itu menulis, antara lain: 'Terlepas dari kenyataan bahwa kebijakan non-kooperasi tidak diinginkan, menurut pendapat kami, hal itu juga secara praktis tidak layak.' Bahkan sejak awal berdirinya, dengan seorang pria Buperben sebagai kepala, dengan banyak lulusan terdidik sebagai pemimpin, dan dengan budaya yang kaya sebagai stimulus dan fondasinya, gerakan itu pasti akan gagal, karena Gandhi siap untuk itu, sementara yang lain tidak. Apakah "Hindia Poetra" menganggap para intelektual kita di satu sisi dan rakyat kita di sisi lain saat ini cocok untuk memulai dan mempertahankan gerakan semacam itu? Kami percaya tidak. Gerakan non-kooperasi, yang dikhotbahkan dan diimplementasikan sekarang, dalam keadaan yang ada, akan segera merosot menjadi... revolusi berdarah yang nyata, yang konsekuensinya tidak dapat diperkirakan. Het volk: dagblad voor de arbeiderspartij, 21-08-1924: ‘Gerakan serikat pekerja. Propaganda komunis di kalangan pelaut. Kantor pelabuhan dan sebuah asosiasi Jawa. Pada kongres RVI (Roode Vak-Internationale) yang terbaru, diumumkan bahwa RVI telah mendirikan kantor pelabuhan di sejumlah tempat, termasuk Rotterdam. Menanggapi hal ini, kami menanyakan tentang propaganda ini, dan kami mengetahui hal-hal berikut: Kantor pelabuhan di Rotterdam dipimpin oleh Lanjjkemper, yang sekarang menjadi ketua Federasi Pekerja Transportasi di Amsterdam. Tujuan utama kantor pelabuhan adalah propaganda dan organisasi internasional. Program kerjanya adalah sebagai berikut: Pembentukan kelompok revolusioner di dalam serikat pekerja sosial demokrat dan kerja sama dengan organisasi yang berafiliasi dengan RVI. Pembentukan komite aksi di kota-kota pelabuhan di seluruh dunia untuk mencegah pengiriman senjata dan persiapan pemogokan umum pelaut jika terjadi perang. Organisasi dan propaganda melawan fasisme dan perjuangan melawannya melalui boikot terhadap pelaut, kapal, dan serikat pekerja fasis, serta pembentukan detasemen pekerja bersenjata untuk membela diri. Dukungan bagi pelaut yang menganggur, memperjuangkan jam kerja delapan jam sehari untuk pelaut dan enam jam sehari untuk juru bakar di kapal berbahan bakar batubara; dan akhirnya, memerangi para pekerja pengganti (scab). Sebagian melalui kerja kantor pelabuhan Rotterdam, sebuah asosiasi pelaut Jawa "Sarikat Pegawei Laoet Hindia" telah didirikan, yang kantor pusatnya terletak di Amsterdam. Menurut pernyataan mereka sendiri, asosiasi ini memiliki 1.200 anggota, yang semuanya bekerja di kapal-kapal Rotterdamsche Lloyd dan perusahaan "Nederland". Dewan eksekutif terdiri dari Semaoen, ketua, Soemantri, sekretaris, dan Kordenoord, bendahara. Selain itu, ketua kelompok kapal juga merupakan anggota dewan eksekutif ketika mereka berlabuh di Rotterdam atau Amsterdam. Asosiasi ini, yang secara alami berafiliasi dengan RVI, akan menerbitkan sebuah jurnal, "Sinar Laoet Hindia", yang kantor redaksinya terletak di Amsterdam di rumah Bergsma’. Catatan: RVI (Roode Vak-Internationale) adalah Red International of Labour Unions di Belanda. Bergsma adalah penerus Henk Sneevliet di Jawa yang juga kemudian diusir dari Hindia.
Semua orang Indonesia dimanapun berada ingin merdeka, namun tidak semuanya dengan pendekatan dan cara yang sama. Ada yang cooperative dan ada pula yang non-cooperative. Yang non-coperative bahkan sudah ada yang dilarang dan dibubarkan (Indische Partij dan Nationaal Indische Partij). Lantas bagaimana sesungguhnya yang terjadi di kalangan mahasiswa Indonesia di Belanda khususnya di internal Indonesisch Vereeniging?
Saat ini Indonesisch Vereeniging yang berada di bawah pengaruh kuat komunis yang melancarkan sikap non-cooperative adalah satu hal; apa yang sebab Soenatan Casajangan dipecat sebagai anggota kehoramatan Indonesisch Vereeniging adalah hal lain lagi. Namun keduanya bersinggungan (yang menyebabkan korsleting). Soetan Casajuangan, pada intinya, di dalam artikelnya yang dimuat dalam surat kabar De Indische courant, 20-07-1925 ingin membela kawan lamanya RM Notosoeroto (ketua Indische Vereeniging yan kelima-1912/1913) di Belanda yang telah dipecat Indonesisch Vereeniging. Itu satu hal. Hal lainnya yang ditulis Soetan Casajangan adalah kalimat-kalimat yang mungkin menyinggung perasaan para pengurus: “orang-orang yang bersemangat itu mulai semakin terlibat dalam politik dan mereka menjadi komunis. Beberapa bahkan meninggalkan studi mereka untuk mengabdikan diri sepenuhnya pada politik. Mereka hanya membiarkan orang tua mereka membayar, tetapi tidak mencapai apa pun! Banyak anggota menjadi semakin menentang Belanda ketika otonomi Hindia sedniri tengah dibahas. Dan mereka bahkan sampai mengusir rekan pendiri asosiasi saya, RM Notosoeroto dari asosiasi”. Boleh jadi layaknya guru, pesan Soetan Casajangan kepada adik-adiknya yang kuliah di Belanda kurang diterima, yang lalu nama baiknya sebagai anggota kehormatan di Indische Vereeniging dicoret.
De locomotief, 04-05-1925: ‘Asosiasi Indonesia. Asosiasi Indonesia di Leiden telah membentuk sebuah komite yang bertujuan untuk memberikan bantuan dan informasi kepada mahasiswa dari Hindia mengenai kesulitan praktis yang akan mereka hadapi saat pertama kali berada di negara asing. Untuk tujuan ini, mereka dapat menghubungi Bapak Moh. Hatta, seorang mahasiswa di Universitas Ilmu Terapan Haudels di Rotterdam’.
Tampaknya di dalam tubuh Indonesisch Vereeniging di Belanda telah terjadi keretakan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Hal ini dapat diinterpretasi dari adanya upaya Mohamad Hatta dkk di internal Indonesisch Vereeniging yang telah membentuk komite bantuan informasi bagi pelajar/mahasiswa Indonesia yang ingin studi ke Belanda. Komite semacam ini sedikit aneh di era saat ini. Berbeda dengan di masa lalu di era Soetan Casajangan (1904-1913) yang memang masihy membutuhkan panduan bagi pelajar/mahasiswa Indonesia yang ingin studi ke Belanda. Apakah dalam hal ini di Indonesia telah muncul kekhawatiran bagi pelajar/mahasiswa Indonesia yang ingin studi ke Belanda dengan apa yang tengah terjadi di internal Indonesisch Vereeniging. Semua orang sudah mengetahui di Indonesia bagaimana Indonesisch Vereeniging telah menuduh Studi Klub di Soerabaja sebagai agen pemecah belanh bangsa. Bahkan isu yang terjadi baru-baru ini sejumlah orang Indonesia yang menjadi anggota Indonesisch Vereeniging telah dipecat termasuk Soetan Casajangan (yang hanya sebagai anggota kehormatan).
Pengusiran Anggota Perhimpunan Indonesia: ‘Dalam edisi November Indonesia Merdeka, organ Perhimpunan Indonesia di Den Haag, tertulis: Resolusi I. Rapat Umum Anggota Perhimpunan Indonesia, setelah membaca permintaan tertulis dari enam belas anggota untuk pengusiran anggota Pryohoetomo karena penerimaannya sebagai dosen Bahasa Jawa di Fakultas Keguruan untuk Studi Indologi di Utrecht, setelah mendengar penjelasan dan pembelaan anggota tersebut pada rapat tersebut, dengan mempertimbangkan Pasal 12 statuta, berpendapat: bahwa tindakan anggota Pryohoetomo bukan hanya merupakan pelanggaran terhadap prinsip solidaritas Perhimpunan, tetapi di atas segalanya merupakan pembelotan kepada musuh dan penindas rakyat Indonesia; — bahwa, sebagaimana dibuktikan oleh pembelaannya, tindakannya semata-mata didasarkan pada kehormatan pribadi dan keuntungan materiilnya sendiri, yang mengakibatkan ia tidak peduli dengan kepentingan rakyat Indonesia, memutuskan dengan suara bulat untuk mencopot anggota Pryhoetomo tersebut dari daftar keanggotaan Perhimpoenan Indonesia. Resolusi II. Rapat Umum Anggota Perhimpoenan Indonesia, yang diadakan pada tanggal 4 Oktober 1925 di Den Haag, setelah memperhatikan artikel-artikel yang diajukan oleh Bapak Soetan Casajangan, yang sejak tahun 1913 menjadi anggota Asosiasi, dalam Indische Loods tanggal 31/7 dan 6/8 dan dalam Indisch Courant tanggal 16/7 1925; berpendapat bahwa semangat artikel-artikel tersebut dalam poin I bertentangan secara terang-terangan dengan prinsip-prinsip Asosiasi; yakin akan niatnya yang telah direncanakan untuk menyinggung sentimen nasional Hindia, menganggapnya tidak layak menjadi anggota kehormatan dan memutuskan dengan suara bulat untuk mengeluarkannya sebagai anggota kehormatan’. (lihat Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 25, 1925, no. 53, 31-12-1925).
Di Indonesia, Soetan Casajangan tampaknya biasa-biasa saja. Selain tetap sebagai pengajar di sekolah guru di Meester Cornelis (kini Jatinegara), kegiatan Soetan Casajangan juga tidak terpengaruh dengan isu tersebut. Sementara itu, klub studi juga bertambah dengan didirikannya klub studi Indonesia di Batavia. Sudah barang tentu, Soetan Casajangan juga diajak bergabung dalam forum-forumnya.
De Indische courant, 04-11-1925: ‘Klub Studi Batavia. Editor kami di Batavia melaporkan pada 31 Oktober: Kemarin malam, sebuah pertemuan diadakan di rumah Soeriadirdja di Meester Cornelis, dengan tujuan untuk mempersiapkan pendirian Klub Studi disini, mengikuti contoh Soerabaja. Pertemuan ini dihadiri oleh banyak intelektual pribumi Meester Cornelis, dari berbagai kebangsaan, sementara beberapa orang Eropa juga hadir. Semua yang hadir memberikan suara mendukung usulan tersebut. Selanjutnya, pengurus sementara dipilih dan diputuskan untuk mengadakan pertemuan umum dalam beberapa hari untuk membahas pendirian definitif Klub Studi Batavia dan untuk menentukan program kerja, yang akan dibandingkan dengan program kerja klub studi di Soerabaja. Pengurus sementara terdiri dari: Poeradisastra, Ketua, Soetan Pamoentjak, Sekretaris, Achmad Wongsosewojo, Bendahara, Dr Kayadoe dan Tupamahu, Anggota’. De nieuwe vorstenlanden, 27-11-1925: ‘Di kota Padang lima siswa MULO ditangkap yang merupakan aktivis Jong Sumatranen Bond karena menyebarkan pamflet di suatu bioskop yang di dalamnya berisi tulisan dari Sanoesi Pane (di Batavia): ‘Lempar pikiran yang lemah ke laut dan persiapkan diri Anda untuk tugas Anda: memimpin Sumatra menuju kemerdekaan dalam arti kata yang sepenuhnya’.
Indonesisch Vereeniging di
Belanda memojokkan Soetan Casajangan di Indonesia, tentu saja tidak hanya Jong
Sumatranen Bond yang bereaksi (ketua Bahder Djohan dan Sekretaris Diapari
Siregar). Semua orang di Indonesia dan Belanda mengetahui bahwa Soetan
Casajangan adalah pendiri Indische Vereeniging tahun 1908 (yang kini namanya
diubah menjadi Indonesisch Vereeniging). Hal inilah diduga mengapa muncul
gagasan di Batavia sebagian para pelajar/mahasiswa Batak yang tergabung dalam
Jong Sumatranen Bond ingin memisahkan diri dengan membentuk organisasi sendiri
(Jong Batak). Ketua Jong Sumatranen Bond tampaknya dapat memakluminya yang
turut hadir dalam pembentukan itu.
De locomotief, 11-12-1925: ‘Jong Batak Bond. Pada hari Minggu, tanggal 6 bulan ini, lebih dari 70 siswa dari berbagai sekolah menengah di Batavia, semuanya berasal dari Batak, bertemu di gedung Lux Orientis di Weltevreden. Di antara yang hadir adalah Bapak Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia, anggota Volksraad (Dewan Rakyat). Bapak Moelia berpartisipasi dalam diskusi tersebut. Setelah perdebatan panjang, diputuskan untuk membentuk Jong Batak Bond. Bahder Djohan, ketua Dewan Eksekutif Jong Sumatranen Bond, mengucapkan selamat kepada kaum muda Batak atas persatuan baru ini, yang didirikan untuk memajukan kepentingan mereka dan akan bekerja sama dengan persatuan-persatuan sejawatnya. Beliau menyampaikan pidato atas Jong Sumatranen Bond. Sebuah dewan kemudian dipilih. Lebih lanjut, keinginan untuk segera menerbitkan majalah terpisah, yang diberi nama Jong Batak, juga dikemukakan. Jika memungkinkan, penerbitan akan dimulai pada tanggal 1 Januari. Nona VL Tobing, Sanoesi Pane, dan dua pemuda lainnya ditunjuk sebagai pemimpin redaksi. Cabang-cabang akan segera didirikan di tempat-tempat di mana terdapat pemuda Batak, seperti Medan, Sibolga, dan lain-lain’. Catatan: Organisasi pemuda yang sudah ada antara lain Jong Java (didirikan 1915) dan Jong Sumatranen Bond (1917).
Dalam jajaran pengurus Jong Batak terdapat antara lain Sanoesi Pane (seorang sastrawan muda) yang kuliah di sekolah guru di Weltevreden. Dalam pendirian organisasi ini juga turut dihadiri Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia (anggota Volksraad). Soetan Goenoeng Moelia berangkat studi ke Belanda tahun 1911 dan kembali ke tanah air tahun 1918. Lantas bagaimana reaksi Parada Harahap di Batavia seorang nasionalis moderat yang revolusioner? Parada Harahap ingin membangun bangsanya sendiri di dalam negeri. Semua bangsa harus berkembang sejalan.
De Indische courant, 23-12-1925: ‘Sungguh luar biasa bagaimana kuat hari ini jumlah media di Jawa meningkat. Banyak yang tutup tetapi lebih banyak yang muncul. Semakin berwarna (nasionalis, keagamaan) dan juga khusus perempuan. Wartawannya juga bertambah pesat, bahkan wartawan Sumatra sudah mencapai 700 anggota. Sangat disayangkan oleh Parada Harahap dari Bintang Hindia dan kantor berita Alpena, yang merupakan wartawan terbaik dari Europeescbe pers, bahwa majalah aksara Jawa kurang diperhatikan oleh komunitasnya. Perjalanan jurnalistiknya ke Sumatera dan Selat Malaka baru-baru ini manjadi saksi ini’. Catatan: Parada Harahap saat mendirikan surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempoean tahun 1919 juga diminta menjadi redaktur majalah Poestaha yang didirikan Soetan Casajangan tahun 1915.
Tidak lama setelah Jong Batak Bond didirikan terinformasikan pembentukan Panitia Kongres Pemoeda. Tampaknya terkesan tiba-tiba, tidak pernah ada indikasikan sebelumnya. Bagaimana bisa? Yang jelas, Parada Harahap di Batavia sudah sangat kenal dekat dengan banyak tokoh-tokoh pemuda. Di bidang jurnalistik ada WR Soepratman dan Mohamad Tabrani. Diantara mahasiswa juga ada nama Aminoedin Pohan (ketua Jong Batak); Bahder Djohan dan Diapari Siregar (ketua dan sekretaris Jong Sumatranen Bond). Parada Harahap sendiri juga adalah sekretaris Sumatranen Bond (organisasi senior). Aminoedin Pohan, Bahder Djohan dan Diapari Siregar sama-sama kuliah di tingkat enam STOVIA. Di sekolah tinggi hukum (Rechthoogeschool) juga terdapat Soemarto (ketua Jong Java).
De Indische courant, 30-12-1925: ‘Kongres pemuda Indonesia. Kami telah mendengar dari sumber yang dapat dipercaya bahwa kongres pemuda Indonesia pertama akan diadakan di Weltevreden selama hari-hari Paskah mendatang. Tujuan dari kongres tersebut adalah untuk membangkitkan semangat kerja sama di berbagai asosiasi pemuda di negeri ini, sehingga meletakkan dasar bagi persatuan Indonesia, di mana Hindia kemudian harus dilihat dalam konteks dunia yang lebih luas. Kerja sama seperti itu sulit ditemukan dalam perkumpulan-perkumpulan nasional besar kaum lanjut usia, yang karena kepedulian terhadap keberadaan sosial mereka, hanya memiliki sedikit kontak dengan gagasan-gagasan baru, cita-cita baru yang kini menggemparkan dunia, dan yang sedang mempersiapkan dunia. dari hubungan baru. Perhatian khusus akan diberikan pada konvensi ini untuk memajukan warga negara Indonesia dengan mengantisipasi segala sesuatu yang memecah belah. Selanjutnya, beberapa topik yang sangat topikal dan penting bagi Indonesia akan dibahas. Penyelenggaraan kongres ini berada dengan panitia: Tabrani (ketua); Bahder Djohan (wakil ketua), Soemarto (sekretaris), J Toule Solehuwy (bendahara); Komisaris P. Pinontoan. Selain Tabrani, semua adalah siswa STOVIA dan Rechthoogeschool’..
Dalam kepanitiaan inti Kongres Pemuda ini terdiri dari Bahder Djohan dan P Pinontoan dari sekolah kedokteran Batavia (STOVIA) serta Soemarto dan J Toule Solehuwy dari sekolah hukum Batavia (Rechthoogeschool). Yang menjadi rektor di Rechthoogeschool saat ini adalah Prof Dr Hoesein Djajadiningrat, ketua Indische Vereeniging yang ketiga (1911/1912).
De
Indische courant, 20-07-1925: ‘Kerja Sama antara Indonesia dan Belanda. Pada
tahun 1908, bekerja sama dengan rekan-rekan sebangsa saya RM Soemitro, Dr
Hoesein Djajadiningrat, dan RM Notosoeroto, saya mendirikan "Indische
Vereeniging" di rumah saya di Leiden, dengan tujuan: membantu kemajuan
Hindia secara materi dan spiritual, dengan mencari kerja sama dengan Belanda di
Belanda dan di Hindia, untuk bersama-sama membawa negara kita menuju kemajuan.
Selama masa kepresidenan saya, Dr Hoesein Djajadiningrat, dan juga yang
lainnya, hingga tahun keberangkatan kami dari Belanda, yaitu pada tahun 1913,
kami secara konsisten berupaya untuk bekerja ke arah itu, dimana kami juga
memperoleh kerja sama yang diinginkan dalam segala hal dari saudara-saudari
kulit putih, seperti keluarga Van Deventer, keluarga Abendanon, keluarga
Profesor Van Ophuysen, dll. Para wanita dan pria tersebut menghormati pertemuan
kami dengan kehadiran mereka, mengundang kami untuk minum teh atau kopi, dan
mengunjungi kami untuk memberi kami nasihat mengenai studi kami. Betapa banyak
yang telah mereka lakukan untuk kami! Namun setelah keberangkatan kami ke
Hindia pada tahun 1913, pengelolaan asosiasi jatuh ke tangan orang-orang muda
yang kurang tenang, atau lebih tepatnya orang-orang yang bersemangat dari
Hindia, yang dipengaruhi oleh SI atau asosiasi anti-Belanda lainnya. Akibatnya,
para anggota secara bertahap menjadi pemberontak terhadap pemerintahan Hindia Belanda,
yang diperparah oleh pengaruh beberapa orang Belanda yang jahat. Bahkan
sampai-sampai orang-orang yang bersemangat itu berani mengungkapkan pendapat
mereka secara terbuka pada tahun 1918: “GG van Limburg Stirium suka gula dalam
tehnya”. Ini terkait dengan perluasan lahan perkebunan tebu di Jawa. Dan yang
lain mengatakan selama pemilihan anggota Tweede Kamer apa yang sebenarnya tidak
mereka maksudkan: “Pilih merah!” Rupanya, karena itu membuat mereka acuh tak
acuh; lagipula, Hindia selalu diperintah oleh Tanah Air, terlepas dari partai
mana yang berkuasa atau terpilih. Pada tahun 1920, ketika saya cuti ke Belanda,
saya meminta (sebagai pendiri) dewan untuk mengadakan pertemuan untuk memberi
saya kesempatan untuk menyampaikan beberapa hal kepada para anggota. Pada
pertemuan dan selama beberapa diskusi dengan para anggota, saya memperingatkan
mereka tentang perubahan arah asosiasi. Dan saya berkata kepada mereka:
“Pikirkan saja studi Anda, jangan terlalu terlibat dalam politik, carilah kerja
sama hanya dengan Belanda”. Awalnya semuanya berjalan baik; namun setelah
kepergian saya pada tahun 1921, orang-orang yang bersemangat itu mulai semakin
terlibat dalam politik dan mereka menjadi komunis. Beberapa bahkan meninggalkan
studi mereka untuk mengabdikan diri sepenuhnya pada politik. Mereka hanya
membiarkan orang tua mereka membayar, tetapi tidak mencapai apa pun! Banyak
anggota menjadi semakin menentang Belanda ketika otonomi Hindia dibahas. Dan
mereka bahkan sampai mengusir rekan pendiri asosiasi saya, RM Notosoeroto, dari
asosiasi. Izinkan saya mengucapkan selamat kepada Anda, sahabat Soeroto, karena
Anda tidak melupakan apa yang saya katakan kepada Anda saat itu: “Untuk
pembentukan Belanda Raya, carilah kerja sama dengan orang-orang kulit putih;
bahasa Belanda diperlukan untuk pembangunan kita, itu adalah bahasa umum yang
ditetapkan untuk Hindia, dan Belanda memegang kepemimpinan Hindia untuk saat
ini”. Tidak ada yang dapat diubah tentang hal ini untuk saat ini. Karena
Belanda telah memerintah negara kita selama tiga abad dan berupaya untuk
menyempurnakan administrasinya, kita akan menganggap Belanda sebagai warisan;
Sebagaimana tertulis di fasad Benteng Victoria di Ambon: “Ita relinquenda ut
accepta”, yang artinya: Hormatilah apa yang telah kamu miliki. Oleh karena itu,
kita tidak melepaskan apa yang telah diterima leluhur kita, yaitu: Belanda
sebagai pemimpin pembangunan kita, dan bahasa mereka sebagai bahasa yang umum di
Indonesia di masa depan. Mari! Mari kita bekerja sama dengan mereka untuk
memajukan negara kita. Mereka telah ditunjuk oleh alam (Tuhan) sebagai pemimpin
kita. Dengan cara ini, sejak saat itu hingga kematian kita, kita menerima kemerdekaan
sejati, yaitu kemerdekaan pribadi yang dibutuhkan setiap orang. Casajangan’.
De locomotief, 02-01-1925: ‘Jong-Java. (Dari koresponden kami). II. Pada Senin pagi, anggota Jong-Java berkumpul dalam rapat tertutup, di mana, antara lain, usulan Bandoeug diadopsi untuk membagi Jong-Java menjadi anggota biasa, yang terdiri dari junior dan senior, masing-masing terdiri dari siswa sekolah Mulo dan sekolah setara serta siswa lembaga pendidikan menengah dan tinggi; dan anggota luar biasa, yang terdiri dari mereka yang tidak termasuk dalam kelompok pertama dan para donatur. Pada malam harinya, pertunjukan yang sangat sukses berlangsung di aula teater perkumpulan, di mana pameran kerajinan tangan yang dihasilkan oleh kelompok-kelompok perempuan menarik perhatian yang cukup besar. Pada Selasa pagi, berbagai mosi disahkan dalam sesi tertutup, yang pertama ditujukan untuk menentang pendirian pabrik gin di Pengalegan, bersamaan dengan mosi dengan tujuan yang sama dari asosiasi pemuda untuk memerangi alkohol dan opium, sedangkan dalam mosi kedua, yang bersifat lebih internal, diungkapkan keinginan untuk menunjuk, di masa mendatang, hanya orang-orang yang berasal dari daerah setempat sebagai penasihat atau pemimpin. Berbagai kompetisi olahraga yang diadakan selama pagi hari kongres, dan khususnya pertandingan anggar, menarik minat yang besar. Pada Selasa malam, para anggota berkumpul kembali dalam rapat umum, di mana usulan penting kedua dari Dewan Eksekutif dibahas, yaitu: "putra dan putri Jawa harus lebih mendalami ajaran Islam." Dewan Eksekutif memberikan penjelasan sebagai berikut. Jong Java mengambil sikap netral terhadap berbagai agama. Dewan Eksekutif tidak ingin memaksakan kewajiban apa pun kepada para anggota untuk secara ketat mengikuti Islam, tetapi di sisi lain, Dewan Eksekutif juga merasa perlu bahwa orang-orang yang ingin bertindak sebagai pemimpin rakyat harus, pertama dan terutama, menyadari nilai batin dari agama nasional, dalam hal ini Islam. Perlu dicatat sebelumnya bahwa Bapak Sam, sehubungan dengan kegagalan usulan dewan pertama, telah mengundurkan diri dari jabatan presiden dan telah digantikan oleh Bapak Soemarto, seorang mahasiswa di Fakultas Hukum. Sebelum melanjutkan ke pembahasan usulan tersebut, laporan tahunan dibacakan oleh sekretaris dan laporan keuangan oleh bendahara. Dalam waktu yang tersedia, juga dibahas usulan mengenai dana nasional, yang bertujuan untuk memberikan peran yang lebih aktif dengan mendukung lembaga pendidikan swasta, rumah sakit, dan lain-lain, dengan dana yang tersedia, berbeda dengan tujuan awalnya yaitu menerjemahkan buku dan sejenisnya. Pada pertemuan tertutup tersebut juga diputuskan untuk menggunakan sebagian dana sebagai dana studi. Seksi Batavia mengusulkan pengalihan pengelolaan dana kepada asosiasi nasional yang lebih besar, yang akan lebih mampu melakukannya daripada Jong Java, karena mereka memiliki personel yang lebih berpengalaman dan perspektif yang lebih luas. Seksi Bandung memperingatkan agar tidak mengambil terlalu banyak tanggung jawab dan menyarankan untuk membatasi diri pada tujuan dana studi, seperti yang telah disepakati. Jong Java menyetujui hal ini. Diputuskan untuk membatasi diri pada hibah studi, dan bahwa H B. akan mengambil langkah-langkah untuk bergabung dengan hibah studi yang sudah ada. Selanjutnya, diajukan usulan untuk, terkait dengan keuangan, tidak lagi menerbitkan almanak tahunan, tetapi buku peringatan yang terbit setiap lima tahun, usulan ini disetujui secara aklamasi. Diskusi kemudian berlanjut ke agenda utama malam ini. Dalam pengantar mengenai hal ini, Bapak Sam menyatakan bahwa ia akan mengundurkan diri dari Jong-Java karena, akibat penolakan terhadap usulan yang dibahas pada pertemuan pertama, ia tidak lagi merasa nyaman di dalam perkumpulan tersebut dan ingin secara praktis mengabdikan dirinya untuk kepentingan yang disebut rakyat. Ia selanjutnya menegaskan pentingnya mempelajari agama nasional untuk mencapai persatuan nasional, meskipun para anggota secara alami tetap bebas untuk, sehubungan dengan masalah agama. Di tengah protes yang sangat keras dari berbagai seksi, ketua kemudian memberikan kesempatan kepada Hadji August Salim, sebelum para delegasi dari berbagai seksi diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat mereka. Dalam pidatonya, Bapak Salim menyoroti buruknya cara pengajaran Islam diberikan, karena didasarkan pada sistem pendidikan yang didirikan berdasarkan budaya asing. Pembicara menyangkal bahwa manusia dapat menguasai perbedaan antara kebaikan dan kejahatan dengan sendirinya, tanpa dukungan agama. Ia menunjuk pada, menurut pandangannya, pengaruh yang semakin melemah dari Ia mengkritik Kekristenan di Eropa dan melancarkan serangan terhadap pendidikan netral di Jawa, yang, meskipun tetap netral mengenai isu-isu keagamaan langsung, namun tetap dipengaruhi oleh moralitas dan etika yang berasal dari dan berdasarkan pandangan Kristen Eropa. Ia mengutip contoh pandangan subjektif yang muncul dari hal ini dalam buku teks geografi dan sejarah setiap kali fakta-fakta terkait dengan Kekristenan dibahas, sedemikian kuatnya sehingga menghambat penyajian objektif materi faktual Islam. Pembicara memprotes upaya untuk menjauhkan orang Jawa dari Islam, yang menurutnya juga merupakan konsekuensi dari nasihat yang diberikan pada saat itu oleh Profesor Snouck Hurgronje, yang menyimpulkan bahwa dalam jangka panjang suatu bangsa Islam tidak akan pernah mengakui otoritas suatu bangsa dengan agama asing. Beralih ke masalah kewarganegaraan, Bapak Salim menyatakan bahwa setiap orang memiliki kewajiban pertama-tama kepada tanah yang menopangnya. Delegasi dari Bandung memprotes penanganan masalah ini oleh dewan utama. Ceramah oleh Bapak Salim seharusnya diumumkan dalam bentuk ini. Meskipun ia sendiri seorang Muslim yang taat, ia tetap percaya bahwa Young Java harus tetap netral dalam hal agama. Menanggapi pertanyaan yang diajukan kepadanya mengenai sikap Young Java terhadap poligami, Bapak Salim kemudian menjawab bahwa sikap mereka seharusnya menentang. Bandung, yang kembali mendapat kesempatan berbicara, menyatakan bahwa ia memahami dari pidato Hadji August Salim bahwa Young Java harus mengadvokasi pan-Islamisme. Pembicara tidak setuju dengan hal ini. Berbagai agama harus dihormati, dan masalah agama tidak boleh menjadi kekuatan pemecah belah dalam gerakan untuk mencapai cita-cita: Jawa yang hebat dan bahagia! Ketua kemudian menarik usulan tersebut dan meminta rapat untuk menganggap kata-kata yang terkandung dalam usulan tersebut hanya sebagai rekomendasi. Ia kemudian meninggalkan asosiasi dan menyerahkan palu ketua kepada presiden baru, Soemarto, yang kemudian menutup rapat dengan beberapa kata-kata berharga kepada ketua yang akan meninggalkan jabatannya.
Dalam hubungannya dengan perubahan sikap Indische Vereeniging dari cooperative (nasionalis moderat) menjadi nasionalis radikal/non-cooperative (Indonessisch Vereeniging), selain Jong Sumatranen Bond yang menentang sikap non-cooperative Indonesisch Vereeniging, juga tampak surat kabar Hindia Baroe yang dipimpin Mohamad Tabrani. Yang dalam hal ini dapat juga disimpulkan Panitia Kongres Pemuda di Batavia juga menolak sikap non-cooperative Indonesisch Vereeniging di Belanda.
De locomotief, 05-01-1926: ‘Unsur pengakuan dalam gerakan pribumi. Di surat kabar Hindia Baroe mulai Sabtu yang lalu, kami menemukan kata perpisahan dari haji Agoes Salim, yang dengan demikian mengundurkan diri dari kepemimpinan majalah. Apa yang dia katakan bermuara pada fakta bahwa alasan mengundurkan diri karena dia ingin melihat perjuangan kemerdekaan Indonesia dipandu di jalan Islam yang menurutnya tidak bisa dilakukan di surat kabar seperti Hindia Baroe, tidak berdasarkan agama, Anda mendukung agama Islam, memajukan umat melalui agama dan pengetahuan agama tidak mungkin dalam kondisi seperti itu. Kepemimpinan sekarang telah berlalu untuk sementara waktu di tangan Tabrani, yang dalam kata pengantar mengatakan seperti ini: ‘Arah majalah ini sekarang adalah Indonesia, yang cita-citanya akan lebih dikedepankan dari sekarang. Jika arah ini diikuti, kepemimpinan baru berharap bahwa majalah tersebut akan menjadi pendukung besar bagi perkembangan senyum Indonesia Raya. Apa pentingnya program ini? Dia mengatakan bahwa jelas bahwa ide Indonesia Raya sedang berkembang diantara para pemimpin pribumi. Kita mengingat kembali apa yang telah terjadi dalam waktu singkat’.
Semua orang menginginkan Indonesia Raya. Indische Vereeniging sejak awal pendiriannya tahun 1908 menginginkan Indonesia Raya kini telah diubah arahnya menjadi Indonesia Moscow. Studi klub Indonesia di Soerabaja yang dituding Indonesia Moscow sebagai agen pemecah belah bangsa, malah di Indonesia semakin banyak klub studi yang didirikan seperti di Batavia dan kini muncul klub studi baru di Bandoeng.
Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 19-01-1926: ‘Nasionalis Bandoeng, Bandoeng, 19 Januari. Nasionalis Bandoeng telah mendirikan klub studi dengan tujuan mempelajari berbagai masalah saat ini dan mencegah pengambilan keputusan serta pengesahan mosi yang tidak beralasan’. De locomotief, 21-01-1926: ‘Algemeene studieclub (Klub Studi Umum). Beberapa waktu lalu kami telah melaporkan bahwa sebuah klub studi akan didirikan di bawah kepemimpinan beberapa tokoh nasionalis pribumi, demikian laporan koresponden kami di Bandung. Pada Minggu pagi, rencana ini terwujud. Sebuah pertemuan umum diadakan di perkumpulan "Mardi Bekso Iromo", yang dihadiri sekitar 60 orang yang berminat. Di antara mereka juga terdapat Tjipto dan Darmawan. Gerakan ini berawal dari Katmira Karnadidjaja, guru di HIS "Pasoendan", dan Sajoedin dan Soerjapranoto, guru di sekolah Ardjoena di sana. Alasan pendirian "Klub Studi Umum" ini adalah kenyataan bahwa, secara umum, terlalu sedikit perhatian yang diberikan pada banyak masalah saat ini. Keputusan telah dibuat dan mosi telah diadopsi, yang sekarang secara tepat menjadi bukti studi yang mendalam. Untuk mengatasi masalah ini, seseorang harus mengorganisir para intelektual, dan untuk tujuan itu mereka telah berkumpul pagi ini. Semua orang dapat bergabung dengan klub ini; Tidak ada perbedaan ras atau status sosial, dan batas usia ditetapkan pada 18 tahun, karena dianggap bahwa kaum muda pada usia tersebut sudah memiliki penilaian yang tepat terhadap generasi yang lebih tua. Pertemuan yang berlangsung selama 3,5 jam itu sepenuhnya diisi dengan diskusi tentang tujuan dan sasaran Klub Studi. Selama pertemuan, beberapa orang bergabung sebagai anggota’.
Pada awal Januari 1926 terinformasikan pengurus Indonesisch Vereeniging
telah terbentuk di Belanda. Yang menjadi ketua Indonesisch Vereeniging yang
kini disebut Perhimpoenan Indonesia adalah Mohamad Hatta dkk. Lalu apakah Mohamad
Hatta berkiblat ke Moscow? Yang jelas sikap pengurus baru akan tetap
non-cooperative, tetapi tidak lagi ke arah Moscow. Mengapa? Lantas dengan
demikian apakah nama Soetan Casajangan akan dipulihkan?
Nieuwe Rotterdamsche Courant, 25-02-1926: ‘Asosiasi Indonesia. Edisi Februari Indonesia Merdeka melaporkan bahwa pengurus di Den Haag dari asosiasi mahasiswa Hindia "Ferhimpoenan Indonesia" (dikenal sebagai Asosiasi Indonesia) baru dibentuk pada pertemuan tahunan yang diadakan pada bulan Januari; pengurus tersebut terdiri dari Mohammad Hatta, Ketua, A Madjid, Sekretaris, Aboetari, Bendahara, Darsono, Komisaris, dan Soenario, Wakil Komisaris.
Sikap non-cooperatif Indonesisch Vereeniging/Perhimpoenan Indonesia yang tetap
non-cooperative juga ditentang mantan anggota Volksraad. Persiapan Kongres
Pemoeda terus dimatangkan. Pimpinan berbagai asosiasi pemuda juga telah melakukan pertemuan terakhir, antara lain
Jong-Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon. Jong
Minahasa, Jong Batak Bond, Sekar Roekoen (Ikatan Moeda Soenda).
De Indische courant, 04-03-1926: ‘M Tabrani Soerjo Witjitro, editor “Hindia Baroe” benar ketika ia menulis di akhir artikel terkait: “Dan itoe berbahajalah haloan non-cooperasi itoe bagi kemadjoean bangsa kita menoedjoe kemerdekaan. Dan bahaja itoe bertambah besar, djika haloan noncoöperasi diboeatnja politieke-progra nama”. Sangat benar: sikap ini menimbulkan bahaya bagi kemajuan rakyat Hindia! Lebih jauh lagi, mereka yang kurang memiliki keinginan dan kemampuan untuk lebih peduli pada negara dan rakyat daripada orang biasa dapat dengan mudah bersembunyi di balik sikap ini. Dengan sendirinya, sikap abstain adalah benar: siapa pun yang tidak memiliki kekuatan dan pengetahuan untuk memerintah tidak berhak membantu "mengambil alih" kendali negara. Tetapi janganlah kita bersembunyi di balik sikap tidak bekerja sama! S. J. Aay’. De locomotief, 25-03-1926: ‘Kongres pemuda Indonesia. Selain yang telah disebutkan, mengenai rencana untuk mengadakan Kongres pemuda Indonesia di Batavia, dimana Tabrani DI, pemimpin redaksi Hindia Baroe, sebagai ketua panitia persiapan, kami sekarang dapat mengatakan informasi berikut: Minggu lalu diadakan pertemuan oleh pimpinan berbagai asosiasi pemuda, antara lain Jong-Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon. Jong-Mmahassa, Jong Batak Bond, Sekar Roekoen (Ikatan Moeda Soenda). untuk pembahasan lebih lanjut mengenai rencana ini. Disini telah ditentukan bahwa Kongres Pemuda pertama akan diadakan di Batavia dari tanggal 30 April, 1 Mei dan 2 Mei. Sebuah rancangan agenda telah disiapkan dalam persiapan, tetapi belum disetujui secara resmi. Sementara masih menunggu jawaban dari asosiasi pemuda lain dan juga dari Perhimpoenan Indonesia di Belanda. Pertama-tama akan dibahas Pemikiran Besar Indonesia, kedudukan perempuan dalam masyarakat Indonesia modern, dll. Sebagai pembicara sudah terdaftar mahasiswa dari Stovia, AMS Jogja dan Bandoeng dan mahasiswa dari perguruan tinggi di Batavia dan Bandoeng’. Persiapan kongres pemuda sudah benar-benar matang dan siap dilaksanakan (lihat De Indische courant, 29-04-1926).
Kongres
pemuda pada tanggal 30 (hari Jumat) dibuka yang diadakan di gedung Loge
Freemason atau Lux Orientes (tidak jauh dari kantor surat kabar Bintang Hindia
dan kantor berita Alpena) yang turut dihadiri berbagai organisasi pemuda (lihat De
locomotief, 01-05-1926). Dalam pembukaan ini pernyataan kepatuhan dari asosiasi
yang diwakili dan lainnya dibacakan; Jong Java, Jong Sumateranen Bond, Asosiasi Pemuda Teosofis, Ambonsche Studeerenden, Jong
Minabassa, Jong Islamietenbocd, Jong Batak, Sarikat Minahasa, Boedi Oetomo
Afdeeling Batavia, Pelajar Indonesia (Sekar Roekoen), Darmo, Ali Tirtosoewirjo,
Prawira dan Ny. Koesoema Sumantri; sementara itu divisi Batavia Mohammadjjah
dan Jong-Java serta Pasoendaa tidak terwakili (tetapi
terwakili oleh kehadiran Boedi Oetomo Afdeeling Batavia dan Sekar Roekoen).
Topik-topik yang dipresentasikan dalam kongres ini antara lain persatuan Indonesia, masa depan perempuan, bahasa dan sastra serta agama dalam gerakan. Beberapa kesimpulan persatuan Indonesia, usualan bahasa Melayu (lingua franca) sebagai bahasa persatuan Indonesia, kemajuan perempuan tanpa meninggalkan budaya Indonesia dan masalah agama harus berada di luar pembicaraam kongres (lihat De locomotief, 06-05-1926).
Bagaimana hasil-hasil kongres pemuda pada akhir bulan April 1926 tidak terinformasikan secara luas di surat kabar. Mengapa? Yang jelas Soekarno dkk di THS Bandoeng telah lulus ujian akhir dan mendapat gelar insinyur (Ir).
Bataviaasch
nieuwsblad, 05-05-1926: ‘Ujian THS. Anwari, van Heem, Begemann, van der Kb,
Engel ken, Godhiaming, Jansen, Jordans, Lië Tjiong Hian, Ondang, Reitsma, Segond,
von Bandief, Sïppel, Soekarno, Soetedjo, Verlinden, Vrijburg, Hedrich von
Wieijerhold dan Wolff telah lulus ujian teknik THS di Bandoeng. Tiga kandidat
ditolak; salah satunya, ujiannya ditunda, lapor Aneta dari Bandoeng.
Pasca kongres pemuda, Tabrani kemudian dipanggil oleh Penasihat Urusan Pribumi.
Sementara itu Ir Soekarno dan Ir M Anwari di
Bandoeng telah bersama-sama mendirikan firma teknik dan arsitektur untuk
menetap di Bandung untuk sementara.
De Indische courant, 28-05-1926: ‘Tabrani, ketua kongres pemuda, dipanggil ke Penasihat Urusan Pribumi sebagai tanggapan atas pernyataan yang agak bising selama kongres itu. Tampaknya ini adalah cara baru untuk menangani pelanggaran bicara. Akan lebih baik jika pelanggaran berbicara selalu ditangani oleh seorang ahli di bidang urusan Pribumi. Ini sering mencegah banyak kesalahpahaman. Sementara itu, prosedur dewan pertanahan (Landraad) yang panjang dan seringkali tidak membuahkan hasil dapat diselamatkan. Namun tidak bagaimana hasilnya tidak diketahui. Sementara itu Tabrani masih memiliki permasalahan sendiri di internal surat kabar Hindia Baroe’. Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië, 19-06-1926: ‘Insinyur pribumi Bandung. Universitas Teknik Bandung telah menghasilkan insinyur asli pertamanya tahun ini, berjumlah tiga orang. Ir M. Soetedjo saat ini bekerja sebagai buruh harian di pekerjaan daerah Pekaiongan, dengan tujuan dipekerjakan sebagai insinyur tetap setelah terbukti cocok. Ir R. Soekarno dan Ir M. Anwari telah bersama-sama mendirikan firma teknik dan arsitektur untuk menetap di Bandung untuk sementara waktu. Rencananya akan pindah ke Yogyakarta nanti. Mereka adalah dua seniman muda yang menjanjikan, menurut "AID".
Pada tahun 1926 di bawah bendera NV Bintang Hindia, Parada Harahap
menerbitkan satu surat kabar lagi yang diberi nama “Bintang Timoer”. Ini
bersamaan dengan terbit bukunya berjudul Dari Pantai ke Pantai yang merupakan
sari perjalanannya ke Sumatra dan Semenanjung. Buku ini diterbitkan percetakan NV
Bintang Hindia.
Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 12-07-1926: ‘Harian Melayu Baru. Surat kabar Cina-Melayu mengumumkan penerbitan harian Melayu baru yang akan segera terbit, yang akan dipimpin oleh Parada Harahap, editor mingguan bergambar Melayu "Bintang Hindia". Dalam mingguan ini, Parada Harahap telah berulang kali mengimbau rekan-rekannya untuk tidak tertinggal dari kelompok masyarakat lain dalam hal jurnalisme. Beliau dengan tepat menunjukkan fakta yang aneh dan tidak menyenangkan bahwa di Hindia Belanda, atau Indonesia, tidak ada satu pun harian Indonesia yang sepenuhnya dapat bersaing dengan terbitan Cina dan Eropa, bahkan di Batavia, ibu kota nusantara. Kami mendoakan kesuksesan bagi para pengembang rencana ini dan berharap mereka akan melanjutkannya. Masyarakat Hindia tentu membutuhkan surat kabar harian yang baik dan dikelola dengan baik di bawah manajemen dan kepemilikan Hindia’. De locomotief, 15-07-1926: ‘Surat kabar harian Malayu. Mulai bulan September, sebuah surat kabar harian Melayu akan diterbitkan di Batavia, berjudul "Bintang Timoer", di bawah editor Parada Harahap, pemimpin redaksi majalah mingguan bergambar "Bintang Hindia". De locomotief, 16-10-1926: ‘Parada Harahap, buku berjudul "Dari Pantai ke pantai: Perdjalanan ke Sumatra”. Penerbit: Mij. Bintang Hindia, Weltevreden. Buku perjalanan jurnalistiknya ke Sumatra dan Semenanjung dan dilengkapi foto-foto yang bagus. Ia menulis banyak informasi menarik, dan ia menulisnya dengan gaya yang fasih dan menarik’. De Indische courant, 15-07-1926: ‘Jurnalisme. Mulai 1 September, sebuah surat kabar harian berbahasa Melayu akan diterbitkan di Batavia dengan judul Bintang Timoer, di bawah kepemimpinan redaksi Parada Harahap, pemimpin redaksi mingguan bergambar Bintang Hindia’.
Di Belanda, lambat laun pengaruh komunis di tubuh Perhimpoenan Indonesia semakin tidak terinformasikan. Alih-alih pengurus Perhimpoenan Indonesia sebelumnya yang menuduh studi klub sebagai agen pemecah bangsa akan ciut dan berhenti, justru sebaliknya yang terjadi, jumlah klub studi terus bertambah. Kini klub studi baru dibentuk di Solo. Dalam pembentukan di Solo ini juga turut dihadiri perwakilan klub studi Soerabaja, Mr Singgih dan juga Ir Soekarno dari Bandoeng mewakili klub studi Bandoeng.
De locomotief, 19-07-1926: ‘"Persatuan Indonesia". Seorang staf menginformasikan kepada kami hari ini, 19 Juli: Klub Studi Kaoem Indonesia di Solo mengadakan pertemuan umum kemarin di rumah Bapak Soesanto di Solo. Dalam pidato pembukaan, Soesanto menyatakan bahwa tujuan klub studi ini adalah untuk mencari cara mewujudkan persatuan Indonesia. Delegasi Klub Studi Indonesia di Surabaya, Mr Singgih, juga hadir dalam pertemuan tersebut. Beliau menyatakan bahwa upaya mewujudkan persatuan Indonesia telah mencapai sebagian keberhasilan, mengingat sikap partai-partai di Surabaya terhadap Klub Studi tersebut. Ir Soekarno, delegasi Klub Studi Umum di Bandung, menyatakan tujuan klub ini, yang dapat digambarkan sebagai studi tentang subjek teoritis mengenai Hindia dan subjek di arena internasional. Baru setelah itu klub studi ini ingin membentuk partai politik untuk mempraktikkan teori yang telah dibahas. Dari pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa standar di Solo kemungkinan akan bekerja sama dengan standar di Surabaya dan, lebih jauh lagi, akan berpartisipasi dalam organ Klub Studi Indonesia di Surabaya, “Soeloeh Indonesia”. Turut hadir dalam pertemuan tersebut adalah Dr Radjiman dan Marco, serta perwakilan dari berbagai asosiasi politik di Solo’.
Pengaruh Komunis di Indische Vereeniging di Belanda, Soetan Casajangan Dipecat Sebagai Anggota Kehormatan; Parada Harahap, Ir Soekarno dan Mr Sartono di Indonesia
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar