*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini
Saat persatuan bangsa Indonesia menguat, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo diasingkan ke Banda. Persatuan itu dimulai sejak para pemuda melakukan Kongres Pemuda pertama tahun 1926 di Batavia namun tidak lama kemudian meletus pemberontakan komunis. Dr Tjipto Mangoenkoesoemo kemudian diasingkan pada tahun 1927 sebelum diadakannya Kongres PPPKI (senior) pada bulan September dan Kongres Pemuda pemuda kedua pada bulan Oktober 1928 di Batavia. Sejarah Mahasiswa di Indonesia
Pemerintah Hindia Belanda menganggap Cipto sebagai orang yang sangat berbahaya. Dewan Hindia (Raad van Nederlandsch Indie) pada 15 Oktober 1920 memberi masukan kepada Gubernur Jenderal untuk mengusir Cipto ke daerah yang tidak berbahasa Jawa. tetapi masih di pulau Jawa, yaitu ke Bandung dan dilarang keluar kota Bandung. Di Bandung, Cipto dapat bertemu dengan kaum nasionalis yang lebih muda, seperti Sukarno yang pada tahun 1923 membentuk Algemeene Studieclub. Pada akhir tahun 1926 dan tahun 1927 di beberapa tempat di Indonesia terjadi pemberontakan komunis. Dalam hal ini Cipto juga ditangkap dan didakwa turut serta dalam perlawanan terhadap pemerintah. Hal itu disebabkan suatu peristiwa, bulan Juli 1927 Cipto kedatangan tamu seorang militer pribumi. Kepada Cipto tamu tersebut mengatakan untuk sabotase meledakkan persediaan mesiu, tetapi dia bermaksud mengunjungi keluarganya di Jatinegara terlebih dahulu. Untuk itu dia memerlukan uang untuk biaya perjalanan. Cipto menasihati agar orang itu tidak melakukan tindakan sabotase, dengan alasan kemanusiaan Cipto kemudian memberikan uangnya sebesar 10 gulden kepada tamunya. Setelah pemberontakan komunis gagal dan dibongkarnya kasus peledakan gudang mesiu di Bandung, Cipto dipanggil menghadap pengadilan dianggap telah memberikan andil dalam membantu anggota komunis dengan memberi uang 10 gulden. Sebagai hukumannya Cipto kemudian dibuang ke Banda, tanggal 19 Desember 1927 (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah persatuan bangsa Indonesia menguat, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo diasingkan ke Banda? Seperti disebut di atas, diasingkan sebelum Kongres PPPKI (senior) dan Kongres Pemuda 1928 di Batavia. Lalu bagaimana sejarah saat persatuan bangsa Indonesia menguat, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo diasingkan ke Banda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Metode Riset Bisnis
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah.
Persatuan
Bangsa Menguat, Diasingkan ke Banda; Kongres PPPKI dan Kongres Pemuda 1928 di
Batavia
Persatuan pribumi dibangun susah payah sejak awal di Belanda, saat dimana jumlah mahasiswa baru 15 pribumi dari berbagai suku bangsa (Batak, Jawa, Minangkabau, Ambon, Manado dan Soenda) mendirikan persatuan dalam wadah organisasi Indische Vereeniging tahu 1908. Namun, kini pasca Perang Eropa (1914-1918), persatuan orang Indonesia di Belanda mulai retak. Apa pasal?
Di Indonesia, gerakan multi etnik yang revolusioner itu kemudian dibingkai dalam warna yang berbeda. Pertama, terbentuk Indische Partij tahun 1912 yang berwarna tri-color (merah putih biru). Selanjutnya menyusul terbentuk Sarikat Islam yang berwarna hijau yang dipimpinj Tjokroaminoto dkk. Lalu kemudian tahun 1914 yang awalnya tri-color sebagai Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) oleh Henk Sneevliet, Bergsma dkk yang menganut paham Marxis. Sneevliet ditahan dan diasingkan tahun 1918. Dalam perkembangannya ISDV bertransformasi menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berwarna merah tahun 1920 oleh Semaoen, Darsono, Alimin serta menyusul Bergsma dan Tan Malaka tahun 1921. Indische Partij yang sempat dilarang tahun 1913 (EFE Douwes Dekker, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat ditahan dan mengasingkan diri ke Belanda), kembali muncul tahun 1919 sebagai Nationaal Indische Partij (NIP). Tahun 1921 Semaoen ditahan dan mengasingkan diri ke Shanghai (dimana Sneevliet berada, lahu Vladivostok menuju Moscow dan kembali ke Indonesia tahun 1922; demikian juga Bergsma dan Tan Malaka menyusul tahun 1922 (yang mana nama Semaoen sudah dikenal di Moscow). Tan Malaka dari Belanda ke Moscow (tahun 1922 terbentuk Uni Soviet; tahun 1917 Kaisar Rusia turun tahta seiring dengan kemenangan Kaum Bolshevik). NIP tidak lama kemudian pada tahun 1923 membubarkan diri. Awalnya, SI dan PKI menjadi dekat satu sama lain, bahkan terkesan di dalam tubuh SI kemudian mencul SI-Putih (warna hijau) dan SI-Merah (warna merah), tetapi hubungan keduanya retak dan berakhir tahun 1923 (SI Merah di tubuh SI dibersihkan). Semaoen ditahan dan mengasingkan diri ke Belanda. Persaingan ketat antar SI dan PKI dimulai bahkan hingga di Belanda di tubuh organisasi mahasiswa Indische Vereeniging (yang sedikit diubah namanya menjadi Indonesische Vereeniging). Semaoen yang ditangkap di Indonesia berangkat ke Belanda tiba bulan September 1923 dan mulai mempengaruhi mahasiswa. Saat ini yang menjadi ketua Indische Vereeniging adalah Iwa Koesoema Soemantri.
Raden Soetomo sebagai ketua dengan sekretaris Mohamad Sjaaf mengakhiri kepengurusan Indische Vereeniging akhir tahun 1921. Setelah menyelesaikan studinya, Raden Soetomo belum segera kembali ke tanah air. Pengurus baru Indische Vereeniging (1921/1922) adalah Herman Kartawisastra sebagai ketua Indische Vereeniging dan sekretaris: PL Augustin dan bendahara Mohamad Hatta. Lantas siapa yang menjadi ketua Indische Vereeniging untuk periode 1922/1923?
Het Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad, 09-02-1923: ‘Mahasiswa Indonesia di Belanda. Kepada Yth. Editor, Dalam Surat Kabar Sore Anda tanggal 5 Januari yang lalu, terdapat kutipan dari artikel karya aden S Nimpoeno (di Rotterdam), di mana penulis mendesak agar mahasiswa Jawa yang belajar disini di negara ini sebisa mungkin diberikan akomodasi oleh komunitas Kristen ortodoks. Sehubungan dengan hal ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal berikut kepada Anda. Bahwa Nimpoeno, seorang Kristen yang taat, berupaya untuk menarik mahasiswa Jawa ke gerakannya bukanlah hal yang perlu dicela, bahkan patut diapresiasi. Cara yang ia gunakan untuk melakukannya. Namun, menurut saya lebih tepat jika mahasiswa Jawa yang dimaksud memaksa mereka untuk meninggalkan karyanya, antara lain karena nada sugestif yang ia gunakan. Karena Nimpoeno menulis bahwa orang Jawa di Belanda datang "di bawah prinsip yang teguh". Ia menyatakan bahwa orang Jawa di sini mudah "bergabung dengan konvensi" dan seterusnya. Pernyataan Nimpoeno tidak dapat didasarkan pada pengamatannya sendiri. Karena dari orang Jawa dan orang Indonesia lainnya yang mengirim mereka ke Belanda, Nimpoeno hanya mengenal sebagian kecil, paling banyak 6 orang, dan dengan mereka ia bahkan tidak menjalin kontak secara teratur. Ia belum pernah menghadiri pertemuan Asosiasi Indonesia (asosiasi orang Indonesia yang belajar di Belanda), meskipun ia telah diundang lebih dari sekali. Ketua asosiasi sebelumnya pernah berani menyarankan agar ia menjadi anggota asosiasi, tetapi N belum bergabung dengan orang Indonesia. Pada kongres yang diselenggarakan oleh NC SV di Hardenbroll, Lunteren dan Nurnpeet, peserta kongres dari Jawa dan Indonesia lainnya tidak pernah mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan N. Menurut pendapat saya, sulit bagi N untuk menerima bahwa, meskipun N bahkan tidak mengenal kita secara sepintas, ia berhak untuk menghakimi kita. Ia bahkan tidak akan mampu menentukan apakah para mahasiswa Jawa memiliki prinsip atau tidak. Jika N memang mengenal mahasiswa Jawa dan Indo-Eropa lainnya dengan baik, ia tidak akan takut bergabung dengan komunisme. Bagaimanapun, ia pasti tahu bahwa masa depan rekan senegara kita sangat dekat di hati kita dan marilah kita—seperti N sendiri—mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk tugas kita di masa depan’. De Indische courant, 16-04-1923: ‘Asosiasi Indonesia. Kami telah menerima informasi dari Belanda: Menanggapi manifesto konsentrasi radikal, Asosiasi Indonesia di negara ini dengan suara bulat mengadopsi mosi berikut pada pertemuan yang diadakan beberapa hari yang lalu, yang telah dikirimkan kepada dewan konsentrasi radikal: Asosiasi Indonesia, setelah membaca manifesto konsentrasi radikal, dengan mempertimbangkan keadaan politik di Indonesia, setelah mendengar debat dalam pertemuan tersebut, dan berpendapat bahwa kepentingan nasional Indonesia menuntut, bahwa semua kekuatan nasional Indonesia harus bekerja sama dalam perjuangan bersama mereka untuk tatanan baru di Indonesia, memutuskan untuk menyatakan dukungannya terhadap aspirasi konsentrasi radikal’. Het volk : dagblad voor de arbeiderspartij, 17-10-1923: ‘Telegraaf memuat artikel yang dikirimkan oleh Indonesische Vereeniging yang didirikan di negara ini untuk menentang UU Angkatan Laut, yang menurut pengirimnya, tekanan finansialnya menyebabkan gejolak dan kebencian yang ekstrem di Hindia Belanda. Asosiasi tersebut sebagian besar terdiri dari warga negara Indonesia yang tinggal di Belanda’. De tribune: soc. dem. Weekblad, 29-10-1923: ‘Koreksi. Indonesische Vereeniging meminta kami untuk menyertakan koreksi berikut: Dalam surat kabar Anda tanggal 25 Oktober lalu, dalam laporan pidato Bapak Wijnkoop di DPR, muncul sebuah bagian yang menimbulkan kekhawatiran akan protes terhadap bagian yang muncul dalam surat kabar Anda tanggal 16 Oktober lalu. Bagian yang dimaksud berbicara tentang keberatan berdasarkan hati nurani pada tahun pertama keberangkatan ke Indonesia. - Penduduk pribumi tidak keberatan. Pasal 45 didominasi oleh kepahitan mayoritas; sekarang bukan rakyat Indonesia yang tidak keberatan, atau rakyat Jepang. Justru mayoritas yang menang atas pertimbangan, yang sampai akhir tidak dapat diprediksi’.
De Indische courant, 16-04-1923: ‘Asosiasi Indonesia. Kami telah menerima informasi dari Belanda: Menanggapi manifesto konsentrasi radikal, Asosiasi Indonesia di negara ini dengan suara bulat mengadopsi mosi berikut pada pertemuan yang diadakan beberapa hari yang lalu, yang telah dikirimkan kepada dewan konsentrasi radikal: Asosiasi Indonesia, setelah membaca manifesto konsentrasi radikal, dengan mempertimbangkan keadaan politik di Indonesia, setelah mendengar debat dalam pertemuan tersebut, dan berpendapat bahwa kepentingan nasional Indonesia menuntut, bahwa semua kekuatan nasional Indonesia harus bekerja sama dalam perjuangan bersama mereka untuk tatanan baru di Indonesia, memutuskan untuk menyatakan dukungannya terhadap aspirasi konsentrasi radikal’.
Soetomo kembali ke tanah air bulan April 1923 (lihat De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 27-04-1923). Disebutkan dalam manifest kapal ss Prinses Jualiana tercatat nama Raden Soetomo bersama istri berangkat tanggal 28 April dengan tujuan akhir Batavia. Juga tercatat nama Raden Soeratmo. Pada tahun 1923 Dr Soetomo, Mr Singgih dkk di Soerabaja mendirikan studi klub Indonesia. Pada tahun 1923 ini Herman Kartawisastra lulus sarjana di Indologische studie bidang ekonomi politik (Staathuishoudkundig) bulan Oktober (lihat De avondpost, 15-10-1923). Herman Kartowisastro bersiap-siap kembali ke tanah air sehubungan dengan penempatannya sebagai pejabat di Indonesia.
Indische Vereeniging didirikan oleh Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan pada tahun 1908 di Leiden. Tahun terakhir dari fase pertama ini dipimpin oleh RM Notodininggrat (1916/1917). Sehubungan dengan Kongres Hindia tahun 1917 telah mengadopsi nama Indonesia, maka fase kedua dimulai. Majalah Hindia Poetra organ Indische Vereeniging yang sebelumnya dipimpin Soewardi Soerjaningrat menjadi organ bersama seluruh mahasiswa asal Hindia (Belanda, Cina dan pribumi) yang diberi nama Het Indonesisch Verbond van Studeerenden. Dalam fase ini organisasi pribumi tetap dengan Indische Vereeniging, mahasiswa Cina tetap dengan Chung Hwa Hui. Mahasiswa Belanda sendiri tergabung di berbagai organisasi mahasiswa seperti organisasi mahasiswa Indologi dimana terdapat HJ van Mook. Redaktur Hindia Poetra pada tahun 1922 adalah Darmawan Mangoenkoesoemo (pribumi), Kho Khih Hoen (Cina) dan Nona Mr EM Klaassen (Belanda). Seperti disebut di atas, pada tahun 1922 ini pengurus Indische Vereeniging adalah Herman Kartawisastra sebagai ketua dan sekretaris: PL Augustin dan bendahara Mohamad Hatta. Fase ketiga Indische Vereeniging dimulai pada tahun 1923. Seperti disebut di atas, pengurus baru Indische Vereeniging ini memutuskan untuk menyatakan dukungannya terhadap aspirasi konsentrasi radikal.
Dengan fase baru Indische Vereeniging di Belanda, lantas apakah para anggotanya akan tetap solid atau sebaliknya akan terjadi perpecahan? Lalu, siapa saja yang menjadi pengurus Indische Vereeniging 1922/1923 ini? Tidak pernah terinformasikan. Mengapa? Tampaknya kepengurusan Indische Vereeniging bersifat kolegial. Mengapa begitu?
Het volk: dagblad voor de arbeiderspartij, 21-08-1924: ‘Gerakan serikat pekerja. Propaganda komunis di kalangan pelaut. Kantor pelabuhan dan sebuah asosiasi Jawa. Pada kongres RVI (Roode Vak-Internationale) yang terbaru, diumumkan bahwa RVI telah mendirikan kantor pelabuhan di sejumlah tempat, termasuk Rotterdam. Menanggapi hal ini, kami menanyakan tentang propaganda ini, dan kami mengetahui hal-hal berikut: Kantor pelabuhan di Rotterdam dipimpin oleh Lanjjkemper, yang sekarang menjadi ketua Federasi Pekerja Transportasi di Amsterdam. Tujuan utama kantor pelabuhan adalah propaganda dan organisasi internasional. Program kerjanya adalah sebagai berikut: Pembentukan kelompok revolusioner di dalam serikat pekerja sosial demokrat dan kerja sama dengan organisasi yang berafiliasi dengan RVI. Pembentukan komite aksi di kota-kota pelabuhan di seluruh dunia untuk mencegah pengiriman senjata dan persiapan pemogokan umum pelaut jika terjadi perang. Organisasi dan propaganda melawan fasisme dan perjuangan melawannya melalui boikot terhadap pelaut, kapal, dan serikat pekerja fasis, serta pembentukan detasemen pekerja bersenjata untuk membela diri. Dukungan bagi pelaut yang menganggur, memperjuangkan jam kerja delapan jam sehari untuk pelaut dan enam jam sehari untuk juru bakar di kapal berbahan bakar batubara; dan akhirnya, memerangi para pekerja pengganti (scab). Sebagian melalui kerja kantor pelabuhan Rotterdam, sebuah asosiasi pelaut Jawa "Sarikat Pegawei Laoet Hindia" telah didirikan, yang kantor pusatnya terletak di Amsterdam. Menurut pernyataan mereka sendiri, asosiasi ini memiliki 1.200 anggota, yang semuanya bekerja di kapal-kapal Rotterdamsche Lloyd dan perusahaan "Nederland". Dewan eksekutif terdiri dari Semaoen, ketua, Soemantri, sekretaris, dan Kordenoord, bendahara. Selain itu, ketua kelompok kapal juga merupakan anggota dewan eksekutif ketika mereka berlabuh di Rotterdam atau Amsterdam. Asosiasi ini, yang secara alami berafiliasi dengan RVI, akan menerbitkan sebuah jurnal, "Sinar Laoet Hindia", yang kantor redaksinya terletak di Amsterdam di rumah Bergsma’. Catatan: RVI (Roode Vak-Internationale) adalah Red International of Labour Unions di Belanda. Bergsma adalah penerus Henk Sneevliet di Jawa yang juga kemudian diusir dari Hindia.
Pada masa ini Semaoen sudah terinformasikan berada di Belanda. Semaoen bersama Soemantri telah mendirikan asosiasi pelaut Jawa di Amsterdam "Sarikat Pegawei Laoet Hindia" telah didirikan, yang kantor pusatnya terletak di Amsterdam. Dalam kepengurusan Semaoen sebagai ketua, Soemantri sebagai sekretaris, dan Kordenoord sebagai bendahara. Soemantri (dalam hal ini Iwa Koesoema Soemantri) adalah mahasiswa bidang hokum di Leiden. Pada saat ini terinformasikan dua hal yang bersamaan: Indonesische Vereeniging menentang pendirian studi klub Indonesia di Soerabaja; dan diterbitkannya majalah baru sebagai organ dari Indonesische Vereeniging yang diberi nama “Indonesia Merdeka”.
De Indische courant, 09-05-1924: ‘De Javaansche Intellectueelen (Para Intelektual Jawa). Sebuah surat dikirim ke kantor Aneta di Den Haag: Indonesische Vereeniging mengadopsi mosi berikut: Indonesische Vereeniging, yang bertemu pada tanggal 5 April, setelah mencatat pembentukan "Persatuan Intelektual Jawa" di Soerabaja; setelah membaca prinsip-prinsip yang dianggap perlu diadopsi oleh JIB sebagai prinsip panduannya, setelah mendengar debat, dengan mempertimbangkan bahwa: 1. propaganda JIB akan mengarah pada chauvinisme Jawa, yang bertindak sebagai penghalang bagi gagasan Persatuan Indonesia; 2. karakter eksklusif dari Persatuan tersebut merugikan Gerakan Rakyat Indonesia; 3. dengan demikian kebijakan "pecah belah dan kuasai" dikedepankan; 4. gerakan tersebut selanjutnya bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dijunjung tinggi oleh Javaansche Intellectueelen.; menyatakan ketidaksetujuannya yang kuat terhadap pembentukan Persatuan Intelektual Jawa; menginstruksikan Dewan untuk menyampaikan mosi ini kepada Dewan JIB di Indonesia dan mempublikasikannya dan melanjutkan agenda rapat’. Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 16-08-1924: ‘INDONESIA MERDEKA. Kami menerima terbitan nomor 4 dari volume berkala ini. Ini adalah organ Indonesische Vereeniging di Leiden dan dibaca oleh para anggotanya serta beberapa orang di luar asosiasi tersebut dengan penuh minat’.
Klub Studi Indonesia yang didirikan di Soerabaja adalah klub studi bagi para intelektual Indonesia di Soerabaja yang diinisiasi oleh Dr Soetomo dan Mr Singgih. Sebagaimana diketahui Soetomo adalah ketua Indonesische Vereeniging periode 1920/1921 (yang pulang ke tanah air pada bulan April 1923).
Surat kabar yang terbit di Batavia Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 21-12-1924 meringkas isi pandangan Indonesische Vereeniging di bawah judul Indonesia merdeka dari Belanda dengan memberi komentar di bawahnya: 1. Pemisahan Indonesia dari Belanda secara penuh, segera, dan tanpa syarat; 2. Kebebasan pers, berkumpul, dan berorganisasi sepenuhnya, serta kebebasan politik bergerak dan mogok kerja yang tidak terhalang bagi pekerja, petani, dan tentara Indonesia; 3. Pencabutan semua undang-undang dan tindakan luar biasa terhadap gerakan revolusioner dan nasional populer (hak-hak yang berlebihan). Pencabutan sanksi pidana secara segera; 4. Penghentian semua penuntutan dan larangan yang direncanakan terhadap PKI (Partai Komunis Indonesia) dan Sarekat Rajat. Pembebasan segera semua tahanan politik dan interniran dari gerakan Merah dan nasional populer. Penghapusan eksternalisasi. Jika sekarang diketahui bahwa "partai" terdiri dari sedikit lebih dari seribu orang yang tidak berpendidikan dan berteriak-teriak, yang telah tumbuh dewasa. Jika ada unsur-unsur pengangguran "profesional" yang belum dewasa dan sejenisnya, yang dipimpin oleh individu-individu seperti Bergsma, van Burink, dan Sneevliet, setidaknya sejauh menyangkut Hindia Belanda, maka kita hanya bisa mengangkat bahu menanggapi omong kosong bodoh ini. "Hindia bebas dari Belanda!" Ya...!—' Dan berapa lama ia akan tetap "bebas"? Frasa terakhir: "Penghapusan eksternalisasi," sementara itu, jelas menunjukkan dari mana ini berasal. Yang lebih lucu lagi adalah yang berikut: "Untuk memerangi Militerisme." (Para Tuan sama sekali tidak tahu tentang "Militarisme" seperti halnya mereka tidak familiar dengan arti kata "Kapitalisme". Seseorang yang memiliki uang di sakunya disebut kapitalis; negara dengan tentara disebut militeristik. Itulah cara tercepat untuk menyelesaikannya!) Langsung ke intinya! Saya membaca di bagian itu, satu demi satu: 1. Pembongkaran militerisme Belanda. Pembubaran segera angkatan darat dan angkatan laut yang ada serta polisi militer. Pelarangan Garda Dalam Negeri sukarelawan dan penjaga sipil, serta organisasi militer fasis lainnya. 2. Perlawanan paling keras terhadap rancangan undang-undang angkatan laut yang baru. 3. Perlawanan sengit terhadap upaya untuk menciptakan angkatan darat polisi. Bagus sekali! Maka, prajurit yang baik, dan bukan pelaut, tanpa alasan apa pun. Tetapi bagaimana hal itu sesuai dengan Pasal 5 hingga 8: 5. Pencabutan semua tindakan yang menghalangi kebebasan politik dan organisasi prajurit dan pelaut. 6. Dukungan untuk semua tindakan prajurit dan pelaut untuk meningkatkan posisi mereka; dukungan untuk perjuangan melawan korps perwira, melawan polisi militer, dll. 7. Pembentukan dewan prajurit dan pelaut untuk melakukan perjuangan tersebut. Hubungan khusus prajurit dan pelaut dengan organisasi proletariat yang sadar kelas. 8. Persatuan organisasi dan politik cadangan proletar dan anggota Garda Dalam Negeri. Kebebasan prajurit dan pelaut; tindakan mereka? Pembentukan dewan oleh warga negara ini? Dan tidak ada lagi tentara dan pelaut! Hanya pekerja dengan batu paving dan revolver, menurut Pasal 4:4. Persenjataan kelas pekerja di bawah kepemimpinan organisasi yang berdiri di atas dasar perjuangan kelas. Haruskah mereka "berperang" melawan perwira mereka, dan membentuk dewan? Mengorganisir diri dan bersatu? Melawan siapa?? Program ini berakar kuat pada prinsip-prinsip komunis, itu sudah dipahami! Tapi itu tidak terlalu logis!’
Algemeen Handelsblad, 28-12-1924: ‘Baru-baru ini kami memperoleh sebuah buku kecil yang sangat menarik, meskipun sebagian besar isinya tidak terlalu menyenangkan untuk dibaca. Kami merujuk pada "Buku Peringatan Asosiasi Indonesia", yang bertanggal 1908 dan 1923, namun baru terbit tahun ini. Kami tidak menemukan penerbit atau bahkan percetakan yang disebutkan, tetapi buku kecil ini tampaknya ditulis hanya untuk anggota asosiasi. Karya kecil ini, yang muncul di bawah tanggung jawab "Komite Editorial" (yang tidak disebutkan) dan yang hampir semua esainya tidak bertanda tangan’. Catatan: Besar dugaan pandangan Indonesische Vereeniging yang dikutip surat kabar di atas diduga berasal dari buku yang disusun oleh suatu komite dalam penerbilan buku "Buku Peringatan Asosiasi Indonesia 1908-1923”.
Sepak terjang kepengurusan Indonesisch Vereeniging tampaknya sudah diketahui publik. Salah satu yang menjadi ‘korban” dari kepengurusan Indische Vereeniging dan "Buku Peringatan Asosiasi Indonesia 1908-1923” ‘no name’ saat ini adalah RM Noto Soeroto. Sebagaimana diketahui Noto Soeroto pernah menjadi ketua Indische Vereeniging pada periode 1912/1913. Noto Soeroto setelah lulus sarjana hukum (Mr) menetap di Belanda dan tetap menjadi anggota Indische Vereeniging/Indonesisch Vereeniging.
Algemeen Handelsblad, 30-12-1924: ‘Indonesisch Vereeniging”. Contoh
lain dari sikap tercela Indonesisch Vereeniging: Anggota dewan terkenal Mas
Noto Sooroto, menurut kabar yang kami dengar, baru-baru ini dikeluarkan sebagai
anggota asosiasi tersebut karena terlalu pro-Belanda. Bapak NS sekarang akan
mencoba mendirikan asosiasi yang moderat. Mungkin upayanya akan lebih berhasil
daripada upaya beberapa mahasiswa Eropa di Leiden yang tertarik pada Hindia
Belanda, yang mencoba melakukan hal yang sama di sana sekitar seminggu yang
lalu’.
Pada periode 1924/1925 ini kepengurusan Indonesisch Vereeniging dipimpin oleh Soekiman sebagai ketua dan Soerono sebagai sekretaris. Soekiman adalah lulusan sekolah kedokteran di Batavia (Stovia) pada tahun 1922 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 20-12-1922). Disebutkan Soekiman lahir di Solo. Yang lulus bersama adalah Abdoel Moenir Nasoetion. Di bawah mereka yang lulus semi-dokter adalah Mohamad Amir dan Basoeki.
Dr
Soekiman kemudian terinformasikan berangkat ke Belanda (lihat Deli courant, 26-07-1923).
Di dalam manifest kapal ss Johan de Witt berangkat tanggal 21 Juli dari
Tandjoeng Priok dengan tujuan akhir Belanda yang mana tercatat nama Soekiman
Wirjosandjojo. Dalam daftar juga tercatat nama RM Ichsan. Pada tahun 1924
Soekiman lulus ujian dokter pertama (le gedeelte van het artsexamen) di
Amsterdam (lihat De Amstelbode, 29-10-1924).
Pencoretan nama Noto Sooroto dari daftar keanggotaan Indonesisch Vereeniging (oleh pengurus lama) mengundang minat dokter JB Sitanala untuk membela rekannya dengan menulis yang dimuat pada Algemeen Handelsblad, 03-01-1925. Lalu kemudian pengurus baru (Soekiman/Soerono) menyikapi tulisan yang diterbitkan JB Sitanala di surat kabar.
JB Sitanala, pertama mengomentari “Buku Peringatan Asosiasi Indonesia, edisi 1923/4” yang tidak disebut para penulisnya (dalam komite penulisan). JB Sitanala menegaskan bahwa pendapat dalam buku itu adalah pendapat komite [tanpa nama]. JB Sitanala selanjutnya menegaskan bahwa pendapat tersebut di dalam buku bukanlah pendapat massa, karena massa (para anggota) belum menyatakan pendapat apa pun. JB Sitanala menambahkan bahwa Noto Soeroto menentang keras anonimitas di dalam buku, yang awalnya juga merupakan bagian dari Komite Redaksi, sehingga mengakibatkan Noto Soeroto dipaksa keluar dari komite redaksi. JB Sitanala mengakhiri tulisannya: “Sekarang, saatnya bagi warga Indonesia yang berbeda pendapat untuk juga menyatakan pendapat mereka di depan umum, karena mereka tidak diberi kesempatan untuk melakukannya di dalam Asosiasi’.
Pengurus baru (Soekiman/Soerono) melayangkan surat kepada JB Sitanala atas tulisannya di surat kabar yang dibuat di Amsterdam, tanggal 5 Januari 1925. Lalu JB Sitanala menjawab surat kabar itu di surat kabar, berikut melampirkan isi surat pengurus Indonesisch Vereeniging yang dilayangkan kepadanya.
Algemeen Handelsblad, 09-01-1925: ‘Surat Terbuka kepada "Asosiasi Indonesia". Tulisan saya yang berjudul "Een booze geest” (Suatu Roh Jahat) di "Handelsblad" tanggal 3 Januari 1925, tidak memberi alasan kepada dewan atau anggota asosiasi Anda untuk membalas saya. Namun, saya menerima surat berikut dari dewan Anda, yang saya reproduksi di sini secara lengkap: Amsterdam, 5 Januari 1925. Yang Terhormat, Tuan, Menanggapi tulisan Anda di "Algemeen Handelsblad" tanggal 3 Januari 1925 (Edisi Sore), yang kami anggap tidak hanya tidak disiplin tetapi di atas segalanya adalah fitnah (yang harus mereka kualifikasi tulisan Anda karena tidak diberi kesempatan untuk melakukannya di dalam Asosiasi itu sendiri), kami merasa perlu untuk mengajukan usulan pengusiran Anda pada rapat umum berikutnya, yang akan diadakan pada hari Minggu, 11 Januari 1925, di tempat yang akan ditentukan kemudian. Kami mengharapkan Anda menunjukkan keberanian untuk hadir dalam pertemuan tersebut bersama rekan-rekan Anda yang sepaham, agar perdebatan mengenai pandangan Anda dan pandangan kami dapat dilakukan. Hormat kami, Soekiman, Ketua. Soerono, Sekretaris. Dengan senang hati saya mengizinkan dewan " Indonesisch Vereeniging" untuk berpendapat bahwa saya tidak cukup "berani" untuk membela diri pada rapat umum mendatang dan, terlebih lagi, tidak cukup pengecut untuk mengungkap rencana jahat dan kesombongan kalian. Lebih jauh lagi, saya tidak ingin dan tidak punya waktu untuk menghabiskan sepanjang sore marah-marah saat menghadiri rapat seperti rapat umum terakhir, dimana anggota tertua dan salah satu pendiri asosiasi Anda diusir dengan cara yang bertentangan dengan semua rasa kesopanan dan ketertiban. Bapak Raden Mas Noto Soeroto benar-benar "dibantai" oleh Anda semua, tetapi itu demi kehormatan saya. Saya meminta Anda untuk segera mengusir saya sebagai anggota asosiasi Anda. Cukup. JB Sitanala, Indisch arts’.
Tulisan pertama JB Sitanala tampaknya telah membuat pengurus Indonesisch Vereeniging langsung mengusirnya (sebagaimana isi surat yang dilayangkan kepada JB Sitanala). Alih-alih untuk menerima undangan hadir dalam pertemuan yang akan diadakan tanggal 11 Januari 1925, JB Sitanala langsung menjawab “Saya meminta Anda untuk segera mengusir saya sebagai anggota asosiasi Anda. Cukup”. Ini dengan sendirinya, sudah ada dua anggota Indonesisch Vereeniging yang tidak sejalan dengan cara pandang pengurus Indonesisch Vereeniging. Siapa lagi nama-nama berikutnya?
JB Sitanala pada dasarnya adalah senior Soekiman di sekolah kedokteran Batavia (Stovia). JB Sitanala satu kelas dengan Soewardi Soerjaningrat (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-11-1904). Disebutkan lulus ujian transisi di sekolah kedokteran Batavia dari kelas satu ke kelas dua tingkat persiapan, antara lain JB Sitanala, Soewardi Soerjaningrat, Raden Angka dan Abdoel Rasjid Siregar. Di atas mereka satu tahun antara lain Raden Soetomo, R Andoe, RM Goembrek, R Slamet dan R Soeleiman serta R Satiman. Sebagaimana diketahui Raden Soetomo dkk adalah pendiri Boedi Oetomo 1908. JB Sitanala lulus dokter tahun 1912 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 30-04-1912). Yang lulus bersama antara lain R Angka dan Soeradji. Dr JB Sitanala akan berangkat ke Amerika dan Eropa (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20-07-1920). Boleh jadi setelah dari Amerika kembali ke Belanda untuk studi. Pada tahun 1922 di Belanda didirikan Bond Indisch Arts yang mana sebagai ketua adalah JB Sitanala dan Soetomo sebagai sekretaris (lihat De expres, 08-08-1922). Seperti disebut di atas Dr Soekiman berangkat ke Belanda tahun 1923. JB Sitanala lulus ujian dokter pertama (artsexamen eerste gedeelte) di Leiden (lihat Algemeen Handelsblad, 11-01-1924). Dalam Kongres Pendidikan ketiga di tanggal 23 dan 24 April 1924 juga turut dihadiri JB Sitanala (lihat De avondpost, 16-04-1924). Selain JB Sitanala juga dihadiri R Hadi (hokum), R Poerbatjaraka (sastra). Catatan: Soewardi Soerjaningrat adalah salah satu dari tiga anggota Indische Partij yang ditahan dan mengasingkan diri ke Belanda tahuan 1913.
Dalam perkembangannya terinformasikan, selain yang dua telah dipecat oleh pengurus Indonesisch Vereeniging, juga menyusul sejumlah anggota, termasuk beberapa meester in de rechten (Mr), mengundurkan diri dari keanggotaan asosiasi. Satu yang jelas bahwa selama ini tidak pernah anggota Iindische Vereeniging mengundurkan diri apalagi dipecat.
Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 07-04-1925: ‘Indonesisch Vereeniging. Kantor Aneta di Den Haag telah mengetahui bahwa Bapak JB Sitanala, seorang dokter asal Hindia yang memperoleh gelar kedokterannya di negara ini, baru-baru ini dikeluarkan sebagai anggota Indonesisch Vereeniging karena membela posisi Bapak Noto Soeroto, yang juga dikeluarkan. Sejumlah anggota, termasuk beberapa meester in de rechten (Mr), kemudian mengundurkan diri dari keanggotaan asosiasi tersebut’.
Soekiman lulus ujian dokter Juli 1925 (lihat De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 10-07-1925). Seperti disebut sebelumnya, pada bulan Oktober 1925 dokter Prijohoetomo di Belanda dan guru Soetan Casajangan di Batavia dipecat. Soetan Casajangan, pendiri Indische Vereeniging tahun 1908 menulis di surat kabar Indissch Courant yang terbit di Soerabaja pada bulan Juli isinya ingin membela Noto Soeroto (sebagai teman seperjuangannya dulu di Belanda) dan juga Soetan Casajangan menyindir para mahasiswa sekarang yang jauh lebih muda di Belanda sangat bersemangat dan gampang marah.
Bataviaasch nieuwsblad, 20-08-1925: ‘Yayasan Oedaya. "Yayasan Oedaya" di Den Haag dalam sebuah surat mengenai minat Belanda di Hindia Belanda. Yayasan ini didirikan oleh, dan dengan dana terpisah dari, Bapak RM Noto Soeroto dan JL Ch van Beetem, keduanya di Den Haag. Tujuan yayasan ini adalah untuk memberikan dukungan moral dan finansial kepada warga Indonesia—kami menggunakan kata yang kurang elegan dari surat pendirian—yang lahir di Hindia, yang berada di Belanda dan untuk sementara mengalami kesulitan. Dewan pengurus dipimpin oleh tujuh wali amanat, yang setidaknya satu haruslah warga negara Indonesia, sedangkan yang lainnya adalah warga negara Belanda. Untuk pertama kalinya, dewan pengurus terdiri dari: Ketua Wali Amanat: RM Noto Soeroto, Den Haag. Wakil Ketua Wali Amanat: JB Sitanala, dokter, Amsterdam. Sekretaris-Bendahara Wali Amanat: JL Ch van Beetem, pensiunan perwira Angkatan Darat Belanda, Den Haag. Siapa pun yang mendengar tentang kesulitan yang terkadang dialami oleh masyarakat Hindia di negara ini tanpa kesalahan mereka sendiri, memahami bahwa yayasan "Oedaya" akan mampu melakukan pekerjaan yang baik. Bahwa hal ini diharapkan darinya terbukti dari fakta bahwa Jenderal Swart, mantan Wakil Presiden Dewan Hindia, sebelumnya Gubernur Aceh, telah bergabung sebagai donatur. Bendera menutupi muatan. Di sini, muatannya sangat baik’.
Pada akhir tahun 1925 ini kepengurusan Indonesisch Vereeniging yang dipimpin Soekiman berakhir. Sebagai pengurus baru adalah Mohamad Hatta (ekonomi) sebagai ketua. A Madjid sebagai sekretaris dan Aboetari (ekonomi) sebagai sekretaris. Lantas apakah nama baik anggota Indonesisch Vereeniging yang telah dipecat akan dipulihkan kembali? Tampaknya iya. Mohamad Hatta adalah seorang nasionalis yang demokratis (tidak terikat dengan SI dan PKI). Soekiman adalah kader SI.
De avondpost, 04-03-1926: ‘Yth Pemimpin Redaksi, kebenaran akhirnya terungkap! Wawancara yang dilakukan Editor Anda dengan Dewan "Perhimpoenan Indonesia" (Asosiasi Indonesia di Leiden) berbicara banyak. Untuk pertanyaan yang relevan: "Jadi, kekerasan bersenjata jika perlu?", jawaban hati-hati adalah: "Jika perlu." Dan untuk pertanyaan: "Apa pendapat Anda tentang masa depan?", jawabannya: "Kami takut akan revolusi". Membaca majalah "Indonesia Merdika" akan meyakinkan semua orang tentang kebenaran kata-kata saya. Merupakan berkah bahwa publik Belanda akhirnya sepenuhnya diberi informasi tentang "Perhimpoenan Indonesia" dan sifat sebenarnya dari organisasi kecil itu. Melalui ini, orang Indonesia dan Belanda akan belajar memahami betapa pentingnya sosok seperti rekan senegara saya, RM Noto Soeroto teguh melawan ide-ide berbahaya dari mereka yang, dalam kebencian buta dan chauvinisme tak terkendali, mengancam negara dan rakyat saya dengan kekacauan penderitaan yang tak terbayangkan. Terima kasih atas ruang yang diberikan.; Seorang Indonesia’. Keng Po 29 Juni 1926: Dr Soekiman yang baru saja dari Belanda turut hadir dalam pertemuan Sarikat Islam di Buitenzorg. Dr Soekiman membawakan makalah berjudul “De intellectueelen in de Islambeweging” (Para Intelektual dalam Gerakan Islam). Dr Soekiman sedang dalam perjalanan ke Jogja untuk mengambil alih praktik Mohammadijah dari Dr Somowidigo, yang terakhir menyatakan dalam pertemuan dengan Hadji Salim (pemimpin SI) bahwa gerakan Indonesia di Belanda sangat menghargai gerakan Islam di sini sebagai sarana untuk mencapai persatuan ras dan mencegah kecemburuan timbal balik, yang menyebabkan perselisihan dan melemahkan kekuatan (lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1926, no. 31, 31-07-1926).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kongres PPPKI dan Kongres Pemuda 1928 di Batavia; Satu Tanah Air, Satu Bangsa dan Satu Bahasa
Perselisihan diantara anggota mahasiswa di Belanda telah mereda. Semua anak bangsa ingin bersatu, apapun suku bangsanya dan agamanya. Metode perjuangan untuk memajukan bangsa dan untuk mencapai kemerdekaan masih dapat diperdebatkan. Bahwa semua adalah bangsa Indonesia sudah menjadi hakikatnya. Mr Iwa Koesoema Soemantri dan Dr Soekiman sedang dalam perjalanan ke tanah air. Pengurus baru di Perhimpoenan Indonesia di Belanda yang dipimpin oleh Mohamad Hatta memilih metodenya sendiri dalam berjuang. Tidak ada lagi yang mencela satu sama lain, masing-masing berjuang dengan caranya masing-masing untuk mencapai kemerdekaan bangsa.
Iwa Koesoema Soemantri adalah mahasiswa bidang hokum di Belanda. Nama Iwa Koesoema Soemantri terinformasikan pertama pada tahun 1921 (lihat De Preanger-bode, 24-05-1921). Disebutkan lulus ujian di sekolah hokum (Rechtschool) di Batavia diantaranya Iwa Koesoema Soemantri. Di bawah mereka naik dari kelas dua ke kelas tiga antara lain Sartono dan M Wirjono dan Soedibio, dan di tingkat terendah naik dari kelas satu ke kelas dua antara lain Soenario, Soepomo. Pada tahun 1922 RM Sartono lulus ujian akhir (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-05-1922). Yang juga lulus R Soedibio Dwidjosewojo, Abdoel Moethalib Moro, R Emor Djajadinata, R Sharip dan Mohamad Nazief. RM Sartono ditempatkan di Salatiga (lihat De Preanger-bode, 09-06-1922). RM Sartono tidak menempati di Salatiga, tetapi berangkat ke Belanda (lihat De Preanger-bode, 28-08-1922). Disebutkan kapal ss “Kawi” berangkat dari Priok dengan tujuan akhir Roetterdam pada tanggal 30 Agustus. Di dalam manifes kapal antara lain RM Sartono, Ali Nordin, R Djenal Asikin Widjaja Koesoema bersama istri dengan satu anak, Raden Hadi bersama istri dan bayi, Liem Kie In, Mohamad Joesoef Adimodjojo, Raden Notosoebagio bersama istri dan bayi, Raden Soebroto, Raden Soedirman, Soesajito Tirtoprodjo, Soetan Mohamad Zain bersama istri dan empat anak, Raden (Iwa) Koesoemo Soemantri dan Tjhin Tjoeng Djie. Sementara itu, setelah lulus ujian akhir di Opleidingsschool voor Inlandsche Rechtskundigen di Batavia, tahun 1917 Iskaq Tjokrohadisoerjo ditempatkan di kantor pengadilan pribumi (Landraad) di Madioen. Lalu kemudian, Iskaq Tjokrohadisoerjo, anggota Dewan Distrik Semarang, putra Bapak Tirtoprodjo dari Brebek (Ngandjoek), akan berangkat ke Belanda dengan biaya sendiri pada bulan Juni mendatang untuk melanjutkan studi hukumnya di Leiden (lihat De expres, 05-05-1922). Juga disebutkan saat ini, ada 12 orang Hindia sedang belajar hukum di Belanda, 4 di antaranya telah memperoleh gelar, yaitu Gondokoesoemo, Oerip Kartodirdjo, Moekiman dan Soeleman. Di Belanda RM Sartono lulus ujian kandidat hukum di Leiden (lihat De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 31-01-1925). Pada tahun 1925 ini RP Iskak Tjokrohadisoerjo lulus ujian sarjana hukum dengan gelar Mr di Leiden (lihat De locomotief, 20-07-1925). RP Iskak Tjokrohadisoerjo segera kembali ke tanah air (lihat De Indische courant, 16-09-1925). Disebutkan dilaporkan dari Pekalongan kepada Loc.: Di atas kapal penumpang ss “Johan de Witt” dari perusahaan Belanda dan kapal “Trier dari Nord-Deutscher Lloyd” dari perusahaan Jerman, yang masing-masing berangkat dari Genoa pada tanggal 9 dan 8 September, terdapat pengacara asal Jawa, yaitu RP Notosoebagio, R Hadi, M Soesanto Tirtoprodjo, dan RP Iskak, yang kini sedang dipulangkan setelah menyelesaikan studi mereka di Belanda dan luar negeri. Tiga pengacara pertama termasuk di antara mereka yang dikirim oleh pemerintah dan oleh karena itu akan kembali bertugas di pemerintahan. Ketiga ekspatriat tersebut lulus dengan pujian di Belanda. RP Iskak kuliah dengan biaya sendiri dan kemungkinan besar tidak akan menjadi pegawai negeri, melainkan akan berpraktik hukum sendiri. Tiga lulusan hukum di Jawa lainnya saat ini sedang belajar di luar negeri dan akan segera kembali. Ketiganya adalah R Soebroto, seorang ekspatriat yang sedang mengerjakan disertasi, Sartono, dan Boediarto. Dua yang terakhir ini kuliah sepenuhnya dengan biaya sendiri dan, sekembalinya mereka, akan memperkaya Hindia Belanda dengan dua pengacara’. Dalam hal ini Iskaq Tjokrohadisoerjo yang sudah lulus sarjana hukum di Belanda tahun 1925 segera pulang ke tanah air, sementara Sartono masih sedang menyelesaikan studinya di Belanda. Pada awal tahun 1926 RM Sartono lulus ujian sarjana hukum dengan gelar Mr (lihat Haagsche courant, 23-01-1926). RM Sartono segera kembali ke tanah air (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 11-02-1926). Disebutkan kapal Norddeutschen Lloyd, ex Hamburg tanggal 9 Januari dan tiba di Singapore tanggal 19 Februari dan akan merapat di Priok tanggal 21 Februari (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 11-02-1926). Dalam manifes kapal hampir semua orang Jerman tetapi terdapat nama Raden Mas Sartono dan Raden Wirjono Koesoemo. Di tanah air, Iskaq Tjokrohadisoerjo terinformasikan diangkat sebagai pengacara (advocaat en procureur) di pengadilan tinggi Hindia Belanda yang ditempatkan di Bandoeng (lihat Haagsche courant, 15-03-1926)..
Dalam kepengurusan yang baru di Perhimpoenan Indonesia (sejak awal Januari
1926) yang dipimpin oleh Mohamad Hatta dkk, organ perhimpunan “Indonesia
Merdeka” tetapi diterbitkan seperti biasanya. Majalah ini terbit pertama pada
bulan Maret 1924 yang diterbitkan oleh Indonesische Vereeniging di Leiden. Dalam
hal ini perjuangan melalui “Indonesia Merdeka” dilakukan secara lembut, tetapi
para pengurus Perhimpoenan Indonesia yang dipimpin oleh Mohamad Hatta dkk mulai
melakukan perjuangan dengan metode gerakan bawah tanah.
Sementara itu di Batavia, di pusat Pemerintah Hindia Belanda, seperti disebut sebelumnya, para jurnalis dan mahasiswa di Batavia melakukan gerakannya sendiri. Parada Harahap, pemimpin redaksi surat kabar Bintang Hindia dan memimpin kantor berita pribumi Alpena dimana pemimpin redaksinya adalah WR Soepratman berperan aktif mendekatkan hubungan organisasi pemuda satu sama lain yang akhirnya terselenggara Kongres Pemuda pada bulan April 1926 di Weltevreden. Tiga panitia utama Kongres Pemuda ini adalah Mohamad Tabrani (pemimpin redaksi surat kabar Hindia Baroe) sebagai ketua, Bahder Djohan (ketua Jong Sumatranen Bond) sebagai wakil ketua, Soemarto (ketua Jong Java) sebagai sekretaris, J Toule Solehuwy (bendahara) dan P Pinontoan (komisaris). Bahder Djohan dan P Pinontoan dari sekolah kedokteran Batavia (STOVIA); Soemarto dan J Toule Solehuwy dari sekolah hukum Batavia (Rechthoogeschool). Sementara itu, Mohamad Tabrani (pemimpin redaksi surat kabar Hindia Baroe) juga adalah ketua organisasi para jurnalis Batavia dengan sekretaris WR Soepratman (Alpena) dan Parada Harahap (Bintang Hindia) sebagai komisaris. Parada Harahap di Batavia juga dikenal sebagai sekretaris dari organisasi kebangsaan Sumatranen Bond. Catatan: Pada tahun 1921 surat kabar Sinar Merdeka yang dipimpin Parada Harahap di Padang Sidempoean dibreidel pemerintah, yang membuat Parada Harahap hijrah ke Batavia dan bekerja sebagai editor di surat kabar Neratja (didirikan tahun 1917). Dengan menyadari surat kabar Neratja disubsidi pemerintah, Parada Harahap keluar dan kemudian pada tahun 1923 mendirikan surat kabar Bintang Hindia. Lalu kemudian pada tahun 1925 Parada Harahap mendirikan kantor berita pribumi Alpena dengan pemimpin redaksi WR Soepratman. Pada tahun 1925 ini, subsidi pemerintah di Neratja dicabut sehingga manajemen mendirikan surat kabar baru Hindia Baroe yang kemudian pemimpin redaksninya dari St Palindih digantikan oleh Mohamad Tabrani.
Dalam hal inilah dapat dipahami bagaimana dinamika yang terjadi di Belanda (para mahasiswa Indonesia) dan dinamika yang terjadi di Batavia (para jurnalis muda dan mahasiswa). Bagaimana dengan di Buitenzorg dan di Bandoeng. Sebagaimana diketahui, di Buitenzorg juga banyak mahasiswa pribumi yang kuliah di sekolah kedokteran hewan (Veaartsenschool) dan sekolah pertanian (Middelbare Landbouwschool). Sementara di Bandoeng juga terdapat sekolah tinggi teknik Technisch Hooge School atau THS (bidang teknik) dan sekolah MOSVIA (bidang pemerintahan). Pada tahun 1926 ini untuk kali pertama mahasiswa pribumi di THS Bandoeng (bulan Mei 1926): R Soekarno. M Anwari dan R Soetedjo.
Pada tahun 1926 di bawah bendera NV Bintang Hindia, Parada Harahap menerbitkan satu surat kabar lagi yang diberi nama “Bintang Timoer”. Ini bersamaan dengan terbit bukunya berjudul “Dari Pantai ke Pantai” yang merupakan sari perjalanannya ke Sumatra dan Semenanjung. Buku ini diterbitkan percetakan NV Bintang Hindia (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 12-07-1926). De Indische courant, 15-07-1926: ‘Surat kabar harian Bintang Timoer dipimpin Parada Harahap mulai terbit pada tangga 1 September’. Surat kabar Bintang Timoer akan menjadi surat kabar harian pertama di Hindia (terbit tiap hari dalam sepekan, kecuali hari Minggoe).
Parada Harahap adalah pemuda revolusioner Indonesia, tidak berasal dari kalangan mahasiswa, tetapi dari dunia jurnalistik. Pada tahun 1919 Parada Harahap mendirikan organisasi para pekerja perkebunan (krani) dan juga mendirikan organisasi para jurnalis di Medan. Surat kabarnya Sinar Merdeka di Padang Sidempoean yang dibreidel tahun 1921 menyebabkan dirinya hijrah ke Batavia dan mendirikan surat kabar Bintang Hindia pada tahun 1923. Kini, di tahun 1926 di Batavia, Parada Harahap akan menerbitkan surat kabar harian (yang pertama di Indonesia). Lantas bagaimana dengan Ir Soekarno di Bandoeng? Sudah mulai merintis persatuan Indonesia di Bandoeng.
Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 03-09-1926: ‘Persatuan Hindia. Di Bandoeng sebuah komite Persatoean Indonesia (Indonesische Vereeniging) didirikan, yang terdiri dari anggota dewan dari dua belas asosiasi pribumi dan individu swasta. Sebuah dewan (badan pengurus) kemudian dipilih yang terdiri dari Sartono, ketua; Soepardjo, wakil ketua; Sjahboedin Latif, sekretaris; Ir Soekarno juga sekretaris dan Oesman, bendahara. Pengurus harian terdiri dari Sartono dan Soekarno’. Catatan: Sartono belum lama ini lulus sarjana hukum di Belanda.
Organisasi kebangsaan Persatoean Indonesia yang didirikan di Bandoeg pada tahun 1926 dipimpin oleh Mr Sartono. Dalam hal ini, pada saat terjadi pecat-memecat di Indonesische Vereeniging yang menimbulkan keretakan diantara orang-orang Indonesia di Belanda, Sartono adalah mahasiswa hukum di Leiden. Yang menjadi korbannya saat itu adalah RM Noto Soeroto dan JB Sitanala. Atas kejadian itu banyak yang mengundurkan dari Indonesische Vereeniging termasuk yang sudah bergelar master hukum. Lantas siapa Sjahboedin Latif yang menjadi sekretaris Mr Sartono? Tampaknya seorang nasionalis moderat Indonesia (bukan nasionalis kiri/PKI dan bukan nasionalis kanan/SI).
De expres, 10-03-1922: ‘PFB (Personeel Fabrieks Bond). Dihidupkan kembali. Konferensi Pantai Utara Mengadakan Konferensi. Soerjopranoto Dipertahankan Sebagai Presiden. Akankah Soewardi Mendapatkan Jabatan Sekretariat? Pecalongan, 10 Maret. Konferensi yang baru-baru ini diadakan di sini oleh dewan cabang PFB Pantai Utara, telah memutuskan untuk menghidupkan kembali PFB. Seperti diketahui, serikat tersebut dibubarkan karena tindakan beberapa cabang komunis. Terutama setelah Bapak Soerjopranoto diskors oleh cabang-cabang tersebut karena "ketidakcocokan". Konferensi Cabang Pantai Utara ingin agar Soerjopranoto dipertahankan sebagai ketua serikat. Soewardi Soerjaningrat diunggulkan sebagai sekretaris pertama. Anggota dewan eksekutif lainnya adalah Bapak Shahboedin Latif sebagai sekretaris kedua, Sastroatmodjo, Hadisoebroto, Martoprawiro, Kadhoel, Darmoprawiro, dan Kaboel sebagai komisaris. Bapak HA Salim akan menjadi penasihat serikatnya’.
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar