Laman

Minggu, 25 Januari 2026

Sejarah Jepang (7): Bahasa Indonesia Kini di Jepang dan Bahasa Jepang di Indonesia;Dulu Bahasa Portugis, Belanda, Inggris di Jepang


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini 

Sejarah bahasa Indonesia di Jepang berakar dari masa pendudukan Jepang (1942–1945), di mana bahasa Indonesia berkembang pesat karena pelarangan bahasa Belanda. Jepang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar resmi, mendorong kodifikasi istilah baru, dan secara tidak langsung memperkuat posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Meskipun bertujuan untuk kepentingan propaganda, kebijakan Jepang secara signifikan mempercepat penggunaan bahasa Indonesia secara luas di seluruh Nusantara. 


Masyarakat Jepang tercatat sudah mulai mengenal bahasa Melayu (cikal bakal bahasa Indonesia) sejak tahun 1700-an melalui daftar kosakata sederhana yang dibawa oleh pedagang atau pelaut. Masa Pendudukan Jepang di Indonesia (1942–1945) adalah periode ini menjadi titik balik krusial. Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda dan mewajibkan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam pemerintahan dan pendidikan di Indonesia. Kebijakan ini secara tidak langsung memperkuat posisi bahasa Indonesia di mata dunia dan meningkatkan minat studi bahasa tersebut di kalangan akademisi serta pejabat militer Jepang. Pendidikan formal bahasa Indonesia di Jepang mulai berkembang pada awal 1900-an. Fokus utamanya saat itu adalah untuk kepentingan hubungan diplomatik dan ekonomi. Hingga tahun 2026, bahasa Indonesia telah diajarkan di berbagai perguruan tinggi ternama di Jepang sebagai mata kuliah pilihan maupun jurusan khusus. Mahasiswa Jepang tidak hanya mempelajari bahasa, tetapi juga aspek budaya, seni, dan sejarah Indonesia. Minat masyarakat Jepang terus meningkat melalui program BIPA yang didukung oleh pemerintah Indonesia. Bahasa Indonesia kini menjadi salah satu bahasa asing yang cukup diminati oleh warga Jepang karena hubungan kerja sama ekonomi yang erat (AI Wikipedia).. 

Lantas bagaimana sejarah Bahasa Indonesia di Jepang dan bahasa Jepang di Indonesia? Seperti disebut di atas, bahasa Jepang masa kini semakin diminati orang Indonesia, demikian juga Bahasa Indonesia juga semakin diminati orang Jepang. Di masa lampau bahasa Eropa (Portugis, Belanda dan Inggris) juga berkembang di Jepang dan di Indonesia. Lalu bagaimana sejarah Bahasa Indonesia di Jepang dan bahasa Jepang di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Bahasa Indonesia di Jepang dan Bahasa Jepang di Indonesia; Bahasa Eropa (Portugis, Belanda dan Inggris) di Jepang

Sejak kapan hubungan bahasa Jepang dengan bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia? Yang jelas kedua bahasa ini pernah saling digunakan antara Indonesia dan Jepang. Dalam sejarah perdagangan di Jepang, berdasarkan sumber kronik kekaisaran Jepang pedagang-pedagang manca negara dicatat termasuk dari Banten (lihat Algemeen Handelsblad, 18-02-1829). Disebutkan pada tahun 1611 sebuah surat dikirim ke tempat ini dari Banten, meminta kayu Calumbak. 


Selain negara-negara yang telah disebutkan dalam kronik, kapal-kapal jung Cina, juga tiba di Jepang untuk pertama kalinya pada tahun 1609. Sejak masa awal hubungan telah terjalin antara Kekaisaran itu dan Cina. Duta besar pertama dari Corea tiba pada tahun 1617; dan penduduk Kepulauan Riou-Kiou pada tahun 1610. Formosa, seseorang bernama Riga tiba di Yedo pada tahun 1627. Negara-negara ini datang ke Jepang dalam hubungannya dengan emas, perak dan tembaga. 

Dalam studi Erin (1936) terdapat kelompok-kelompok populasi asli yang berbeda bahasa di Formosa.  Erin Asai mencatat bahasa-bahasa yang telah punah di pulau Formosa adalah 1. Ketagalan, 2. Taoka, 3. Papora (sebelah utara pantai barat tengah). 4. Babuza (pantai barat. yang disebut Favorlang dan 5. Siraya (pantai barat tengah). Bahasa-bahasa tersebut menurut Erin secara fonologis, morfologis dan leksikal cukup dengan bahasa-bahasa nusantara yang berimigrasi ke Formosa yang terletak di ujung utara. Bahasa-bahasa asli ini berbeda dengan bahasa-bahasa di daratan Tiongkok (seperti Canton, Hakka dan Amoy). 


Bagaimana dengan rumpun Austronesia di Jepang? Rumpun bahasa di kepulauan Ryukyu dibedakan dengan rumpun bahasa Japonik di pulau-pulau besar di utara. Sebelum terbentuk rumpun bahasa ini, bahasa penduduk asli di Jepang adalah bahasa Ainu. Lantas bagaimana dengan rumpun bahasa Ryukyu? Wilayah kepulauan Ryukyu belum lama diakusisi Jepang. Kepulauan Ryukyu ditaklukkan dan rajanya digulingkan, Ini bersamaan dengan invasi Jepang ke barat (Manshuria) dan ke selatan hingga ke pulau Formosa (lihat Deli courant, 07-10-1908). Di dua wilayah Manshuria dan Formosa populasi orang Cina sangat besar. Wilayah kepulauan Ryukyu hanyalah pulau-pulau kecil yang dihuni oleh kelompok populasi asli. 

Jejak bahasa Austronesia di Indonesia ditemukan dalam bahasa Jawa dan bahasa Batak. Sementara di Filipina ditemukan dalam bahasa Tagalog. Namun hubungan awal antara bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia dengan bahasa-bahasa di Jerpang tidak ditemukan di dalam berbagai dokomen berikut: 


WW Hunter berjudul “Oomparative dictionary of the [non-Aryan] languages of India, and High Asia” London, 1868 (Contains a list of 186 words in about 120 languages or dialeets amongst which are Mantshu, Mongolian, Chinese, Japanese, Javanese, the Nepalese group of languages, the hill languages of Assam, Annamite, &c.). Fr. Von Wenckstern berjudul “A bibliography of the Japanese empire” tahun 1895 diterbitkan Drukker/Uitgever Brill. Abraham Benjamin Cohen Stuart (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen) berjudul “Eerste vervolg catalogus der bibliotheek en catalogus der Maleische, Javaansche en Kawi handschriften van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen” tahun 1872 diterbitkan Bruining & Wijt. Catatan: dokumen tersebut ditulis dalam Kropak, daun pohon, spesies palem (Borassus flabelliformis), yang dipotong menjadi potongan-potongan dengan lebar sekitar 3 hingga 4 cm dan panjang yang sangat tidak beraturan, bervariasi dari 8 hingga 9 hingga 70 cm atau lebih, ditulis dengan cara menggores menggunakan alat tajam. Jacobus Anne van der Chijs berjudul “Nederlandsch-Indisch plakaatboek, 1602-1811” (15 jilid) yang diterbitkan Landsdrukkerij, 1886-1892. 

.
Namun bagaimanapun mencari jejak hubungan bahasa orang Indonesia dan bahasa orang Jepang masih perlu dilakukan. Mengapa? Perdagangan resmi secara formal terjalin pada tahun 1609 melalui perintah dari William Adams. Pada tahun ini pula, Belanda (melalui VOC) mendirikan pos perdagangan (trading post) pertama mereka di Hirado. 


VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 di Belanda. Ini seiring dengan suksesnya ekspedisi Belanda pertama ke Hindia Timur yang dipimpin Corneslis de Houtman (1595-1597) dan semakin intensnya ekspedisi-ekspedisi Belanda berikutnya. Sejak 1603, VOC memiliki sebuah pondok atau pabrik terbuat dari batu di Bantam. Pada tahun 1605 ekspedisi Belanda/VOC dibawah pimpinan Admiral van Hagen menaklukkan Portugis di Amboina dan mernjadikannya sebagai pos perdagangan Belanda di Hindia Timur. Gubernur pertama Belanda di Amboina adalah Frederik de Houtman. Pada tanggal 27 November 1609, sebuah resolusi Staten-Generaal telah menetapkan Pieter Both sebagai pemimpin tertinggi bagi seluruh perdagangan Perusahaan Hindia Timur Belanda di Asia sekaligus mendirikan pemerintahannya yang disebut Pemerintah Agung. Pimpinan tertingginya diberi gelar Gubernur Jenderal (lihat INSTRUCTIE VOOR PIETER BOTH, GOUVERNEUR-GENERAAL EN DIE VAN DEN RAAD VAN INDIËN, OVER ALLE FORTEN , PLAATSEN, KANTOREN , PERSONEN EN NEGOTIE VAN DE VEREENIGDE OOST – INDISCHE COMPAGNIE; GEARRESTEERD IN DE VERGADERING VAN GECOMMITTEERDEN VAN DE O. I. C. DEN 14den NOVEMBER 1609; GEAPPROBEERD DOOR DE STATEN- GENERAAL DER VEREENIGDE NEDERLANDEN, DEN 26sten NOVEMBER 1609). Nama Jepang terinformasikan dalam ORDONNANCIE EN INSTRUCTIE VOOR DEN GOUVERNEUR – GENERAAL IN DE RADEN VAN INDIA; GEARRESTEERD TER VERGADERING VAN XVIIEN, BINNEN MIDDELBURG, DEN 22sten AUGUSTUS 1617, EN GEAPPROBEERD BIJ ZIJNE PRINSELIJKE EXCELLENTIE EN H. H. HOOGMOGENDEN DE STATEN - GENERAAL, DEN 3den NOVEMBER 1617. Dalam ordonansi ini pada Pasal 16 disebutkan sebagai berikut: “Semua komisaris atau pedagang lainnya, yang bertugas di kantor Bantam, Jacatra, Patna, Jepang, Souratte, Masulipatnam, Tegenepatnam, Moluccas, Amboina, dan Banda, dan tempat-tempat lain di Hindia, setelah berakhirnya masa kontrak mereka, akan menerima tidak lebih dari seratus, paling banyak seratus dua puluh gulden…”. Pada Pasal 22: “ Namun demikian, tanpa Gubernur atau Direktur masing-masing dapat menunjuk dua pedagang atau bahkan satu pedagang dengan seorang sub-pedagang, selain di kantor Direktur Jenderal di Jepang, Pattani, dan kantor-kantor terpencil lainnya, tetapi akan, sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan kantor-kantor tersebut, menyediakan seorang pedagang atau sub-pedagang, dan sebanyak mungkin asisten yang dianggap perlu dan bermanfaat, dan kantor-kantor yang dapat dikelola dengan cukup baik oleh seorang sub-pedagang atau asisten yang baik, karena ada beberapa yang tidak menangani perdagangan terpisah, tetapi hanya pasokan dan pembayaran tentara, tanpa dibebani dengan biaya pedagang atau sub-pedagang dengan sia-sia”. 

Pada tahun 1619 semasa Gubernur Jenderal Jan Pieters Zooncoen, pos perdagangan VOC di Amboina direlokasi ke Batavia. Orang Jepang sendiri sudah terinformasikan ada di Batavia pada tahun 1623. Ini dapat dibaca dalam plakat tanggal 6 Mei 1623 yang menyatakan: “penyewaan hak untuk menjual sirih dan pinang "di hulu sungai di kedua sisi dan" di sekitarnya di semua pertanian dan lahan yang tidak dihibahkan yang "berkembang". Sewa tersebut diberikan kepada beberapa orang Jepang, penduduk Batavia, selama satu tahun, dari 1 Mei 1623 hingga 1 Mei 1624”. Pengumpulan sirih dan pinang dari lokasi yang disebutkan di atas, serta penjualannya, dilarang, dan pelanggar larangan ini akan dihukum "sebagaimana mestinya". Di lahan sendiri, seseorang diizinkan untuk menanam dan "memanen" sirih dan pinang sebanyak yang dianggap "menguntungkan dan bijaksana". 


Plakat tanggal 30 Juni 1626 menyatakan: “Penyewaan hak untuk menjual sirih dan pinang di Batavia. Sewa, yang dimulai pada 1 Juni 1626, diberikan untuk jangka waktu satu tahun kepada dua orang Jepang, yang diberikan monopoli atas sirih dan pinang, yang terletak di hulu dan kembali sepanjang sungai dan di sekitar semua lahan dan kebun yang tumbuh di sana tanpa izin. Pelanggar monopoli ini akan dihukum sesuai dengan kepatuhannya. Sirih dan buah sirih yang ditanam di lahan pribadi hanya dapat dijual kepada penyewa dengan harga 5/8 real per ukuran tertentu "sebagaimana dijual oleh penyewa" (lihat Jacobus Anne van der Chijs berjudul “Nederlandsch-Indisch plakaatboek, 1602-1811 Jilid 1 (1602-1642). Catatan: orang Belanda dan orang Jepang saat itu masih menggunakan sirih/pinang. 

Orang Belanda di Jepang juga menerima salinan Instruksi yang dibuat pada tanggal 17 Maret 1632 dimana Gubernur Jenderal Hendrik Brouwer, atas nama VOC di Batavia dan anggota Raden van Indie (lihat PUNTEN EN ARTIKELEN, IN FORMA VAN INSTRUCTIE, GEARRESTEERD DEN 17den MAART 1632 TER VERGADERING VAN DE XVIIEN, TER KAMER VAN ZEELAND, BINNEN MIDDELBURG, WAARNAAR HENDRIK BROUWER, GOUVERNEUR – GENERAAL VAN WEGE DE NEDERLANDSCHE VEREENIGDE O. I. COMPAGNIE , OP BATAVIA KOMENDE, MITSGADERS DE ANDERE AANWEZENDE RADEN VAN INDIE, ALDAAR OP BATAVIA ALS OP ANDERE PLAATSEN MEER RESIDERENDE, ZICH ZULLEN HEBBEN TE REGULEREN). Dalam istruksi tersebut Jepang dianggap penting (Pasal-16) dan dalam hubungannya dengan Portugis (Pasal-62). 


Pasal 60: “Setiap pejabat Perusahaan harus menyadari betapa pentingnya perdagangan Jepang bagi Perusahaan, dan oleh karena itu harus menggunakan segala cara untuk mempertahankan apa yang telah mereka peroleh dengan begitu banyak usaha dan kerja keras, yang mana beberapa individu yang sembrono, yang kurang atau tidak memperhatikan, telah menyebabkan Perusahaan menderita kerugian dan penurunan yang begitu besar dalam perdagangannya di sana. Sekarang sudah saatnya untuk melanjutkan semua upaya yang mungkin dan membawanya ke titik-titik sebelumnya, sehingga, setelah memulihkan perdagangan dari Tiongkok, akhirnya dapat mencapai efek dari harapan yang telah lama dipupuk Perusahaan, dan tidak perlu lagi mengirimkan uangnya dari sini. Kita masih berharap bahwa, jika tidak sepenuhnya, yang sekarang kita putus asa, ini akan sebagian besar dicapai melalui perdagangan yang disebutkan di atas, dan bahwa kantor-kantor suatu hari nanti akan ditempatkan dalam persyaratan yang diinginkan, yang dapat dicapai oleh orang yang rajin, setia, dan waspada. Pasal 62: “Karena Perusahaan (Portugis) berperan dalam perdagangan antara Tiongkok, Taiwan, Jepang, dan Jepang, maka harus dipertahankan kekuatan pertahanan yang baik berupa kapal dan yacht untuk mencegah perdagangan di sana. Oleh karena itu, kami percaya bahwa antara kedua negara tersebut, musuh, yang paling jelas terlihat pada kapal-kapal yang datang dari Makau, harus dihadapi dan semua upaya maksimal harus dilakukan untuk membuat perdagangan ini tidak menguntungkan bagi Portugis, yang harus Yang Mulia perhatikan secara khusus”. 

Hendrik Brouwer menggantikan Gubernur Jenderal Jacques Specx (1629-1632) secara resmi pada tanggal 18 April 1632. Jacques Specx sendiri pernah sebagai kepala pedagangan di Jepang dan menikah dengan seorang wanita Jepang. Mereka memiliki satu anak perempuan. Dalam konteks inilah diduga mengapa hubungan antara Belanda di Batavia dengan Jepang sudah sangat erat. Hal ini dapat diperhatikan dalam plakat 10 Desember 1639 semasa Gubernur Jenderal Antonio van Diemen yang menyatakan: “proklamasi hari syukur atas "pengusiran Portugis dari Jepang" dan atas manfaat yang diperoleh dari mereka di Goa” (lihat Jacobus Anne van der Chijs berjudul “Nederlandsch-Indisch plakaatboek, 1602-1811 Jilid 1 (1602-1642). Hingga tahun 1639 ini orang Jepang di Batavia masih menjadi pemilik hak monopoli pinang. 


Mengapa pengusiran orang Portugis di Jepang dirayakan di Batavia apalagi ditetapkan dalam plakat 10 Desember 1639? Yang jelas, Poerugis adalah musuh bebuyutan Belanda di Hindi Timur. Satu yang pertama adalah pelaut VOC pada tahun 1605 menaklukkan Portugis di Amboina (yang menjadi cikal bakal kekuatan VOC di Hindia Timur). Lalu pelaut VOC mengusir Portugis di Solor dan Koepang di pulau Timor tahun 1612. Pada tahun 1639 ini kekuatan Portugis berada di Malaka dan Kamboja. 

Pada tahun 1641 VOC semasa mengusir Portugis di Malaka dan di Kamboja. Pada tahun 1641 inilah di Jepang muncul kebijakan isolasi Jepang yang dimulai berlaku pada tahun 1641. Seluruh aktivitas perdagangan di Jepang dipindahkan dari Hirado ke pulau buatan Dejima di Nagasaki pada tahun 1641. Belanda diberikan hak istimewa di Jepang (seperti kita lihat nanti isolasi dan hak istimewa ini baru berakhir pada tahun 1853 saat dimulainya Restorasi Meiji). Dalam hal ini, selama kebijakan isolasi Jepang (Sakoku), Belanda menjadi satu-satunya bangsa Barat yang diizinkan berdagang dengan Jepang. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Bahasa Eropa (Portugis, Belanda dan Inggris) di Jepang: Bahasa Portugis, Belanda dan Inggris dalam Bahasa Indonesia

Bahasa apakah yang digunakan orang Belanda di Jepang, dan bahasa apa yang digunakan orang Jepang di Batavia? Secara tradisi (sejak masa lampau) adalah bahasa Jepang dan kemungkinan besar bahasa Cina atau bahasa Korea (karena secara geografis berdekatan). Namun jika orang Belanda di Jepang adalah orang asing dan orang Jepang di Indonesia (Batavia) adalah orang asing, lalu pertanyaannya adalah bahasa apa yang digunakan? 


Pada tahun 1604 di Paris, penerbit Dondery Dupre menerbitkan karya seorang Portugis P Rodriguez dengan judul “Elemens de la Grammaire Japanaise par P Rodriguez; traduits du Portugais  sur de Mauscrit de la Bibliotieque du Roi, et soihneusement collationnes avee la Grammaire public par le memem Auteur a Nagasagi en 1604” (lihat Leydse courant, 15-12-1828). Dalam hal ini, orang Portugis sudah memperlajari bahasa Jepang. Lalu apakah bahasa Portugis digunakan di Jepang? Fakta bahwa orang Portugis sudah berada di Jepang sejak 1542. Catatan: Orang Eropa pertama menyusun kamus bahasa Melayu adalah seorang Italia dari Venesia, Antonio Pigafetta (1491–1534). Pigafetta turut dalam pelayaran Spanyol dari Eropa melalui Amerika Selatan dan lautan Pasifik hingga mencapai Filipina dan Maluku pada tahun 1519, Kamus tersebut telah diterjemahkan dan diterbitkan di Paris (1811). Apakah ini mengindikasikan sejak kehadiran pertama orang asing di Maluku dan di Jepang digunakan bahasa Melayu dan bahasa Jepang? Lantas bagaimana pada masa berikutnya? Yang jelas, seperti disebut di atas, orang Portugis terus mempelajari bahasa Jepang. 

Secara teoritis, orang asing cenderung mempelajari bahasa setempat (tempat dimana mereka berada). Mengapa? Orang setempat tidak memiliki keperluan memahami bahasa orang asing di tempatnya sendiri. Sebaliknya, orang asing memerlukan bahasa setempat karena kebutuhan untuk berinteraksi dengan penduduk setempat, dalam usahanya untuk diterima dan dapat berdagang dengan lancar. Hal itulah mengapa Pigafetta pada tahun 1519 di Maluku merasa perlu menyusun kamus kecil bahasa yang digunakan di Maluku (yang mana diduga Pigafetta menyalin kamus kecil bahasa yang digunakan diu Malaka dimana Portugis berada). Seperti itu juga yang pernah dilakukan para pelaut-pelaut pertama Belanda menyusun kamus kecil bahasa Melayu di Madagaskan sebelum melanjutkan pelayaran ke Hindia Timur (Sumatra dan Jawa). Bagaimana dengan kehadiran orang Portugis di Jepang? Sejauh ini belum ditemukan informasi (dokumen) tertulis. 


Sebagaimana sejak dulu banyak kosa kata bahasa Portugis yang masuk dalam bahasa Melayu yang pada masa ini dapat dilacak dalam kamus Bahasa Indonesia. Di Jepang, pada masa ini juga ditemukan sejumlah kosa kata berasal dari bahasa Portugis dalam bahasa Jepang. Berikut adalah beberapa contoh kata serapan tersebut: Pan ari kata pão yang berarti roti; Tenpura dari kata tempero (bumbu) atau têmpora; Tabako dari kata tabaco yang berarti tembakau atau rokok; Botan dari botão yang berarti kancing); Koppu (kata copo yang berarti gelas atau cangkir); Buranko (balanço yang berarti ayunan); Karuta (carta yang mengacu pada permainan kartu); Konpeito (confeito yang berarti sejenis permen atau kembang gula); Kasutera (castela, sejenis kue spons lembut); Kappa (capa yang berarti jas hujan atau jubbah); Shabon (sabão yang berarti sabun); Bīdoro (vidro yang berarti kaca); Igirisu (inglês yang merujuk pada negara Inggris); Bagaimana dengan kata Arigatō (terima kasih)? Mirip kata Obrigado dalam bahasa Portugis, tetapi  juga ada akar asli bahasa Jepang kuno dari kata arigatashi. 

Orang Portugis sudah cukup lama di Indonesia (Hindia Timur) yang dimulai di Malaka dan di Maluku tahun 1511. Seperti disebut di atas, orang Portugis di Jepang bermula tahun 1542. Eksistensi orang Portugis di Hindia Timur dan di Jepang berakhir pada tahun 1641, yakni saat mana orang Belanda mengusir Portugis di Malaka dan di Kamboja, serta orang Jepang mengusir orang Portugis (namun masih ada sedikit orang Portugis di pulau Timor bagian timur dan Macao, pantai timur Tiongkok). Itu berarti orang Portugis sudah lebih dari satu abad, suatu waktu yang terbilang sangat lama. Lalu apakah ada kosa kata bahasa Indonesia (Melayu atau bahasa daerah alainya) dan bahasa Jepang yang masuk ke dalam bahasa Portugis? 


Seperti disebut di atas banyak kosa kata bahasa Portugis masuk ke dalam bahasa Jepang. Bahkan dalam Bahasa Indonesia lebih banyak lagi. Ada yang telah menghitungnya sekitar 414 kata yakni sebagian besar adalah benda-benda yang dibawa orang Eropa saat mereka berada di Indonesia (Nusantara(, seperti: Meja (dari mesa); Jendela (janela); Bangku (banco); Lemari (almário); Garpu (garfo); Mentega (manteiga); Keju (queijo); Bolu (bolo); Sepatu (dari sapato); Kemeja (dari camisa); Saku (dari saco); Boneka (dari boneca); Pita (dari fita); Minggu (dari domingo); Bendera (bandeira); Gereja (igreja); Natal (dari Natal); Sekolah (dari escolar); Gratis (dari gratis); Pesta (dari festa); Bola (dari bola); Dadu (dari dado); Algojo (dari algoz); Armada (dari armada). 


Orang Portugis diusir dari Jepang pada tahun 1641. Hanya orang Belanda yang diizinkan berada di Jepang. Secara teknis, orang asing yang memberi pengaruh (langsung atau tidak langsung) di Jepang hanya orang Jepang. Sejak 1641 di Indonesia (Hindia Timur) hanya orang Belanda yang memiliki kuasa kuat di berbagai wilayah yang berpusat di Batavia. Sebagaimana bahasa Portugis, lalu apakah kosa kata bahasa Belanda juga diserap di Jepang dan di Indonesia? 


Selama orang Belanda di Jepang (pulau Dejima) bahasa Belanda menjadi bahasa asing satu-satunya yang bagi orang Jepang dianggap sebagai bahasa ilmu dengan sebutan Rangaku (Ilmu Belanda), yang membawa banyak istilah medis dan teknis ke dalam bahasa Jepang, antara lain sebagai berikut: Bīru (dari bier yang berarti bir); Kōhī (dari koffie yang berarti kopi); Arukōru (dari alcohol); Garasu (dari glas/kaca pada material kaca, sementara gelas minum menggunakan istilah koppu); Koppu (dari kop yang berarti cangkir atau gelas); Mesu (dari mes (pisau), namun dalam bahasa Jepang spesifik merujuk pada pisau bedah medis); Orugōru (dari orgel (organ) tetapi berubah makna menjadi kotak music; Randoseru (dari ransel, sangat populer sebagai sebutan tas punggung khas siswa sekolah dasar); Gomu (dari gom yang berarti karet); Penki (dari pek (ter) awalnya merujuk pada lapisan pelindung kapal kayu, sekarang berarti cat); Pinsetto (dari pincet yang berarti pinset atau penjepit kecil); Pompu (dari pomp yang berarti pompa). 

Singkatnya, masa isolasi Jepang sejak 1641 berakhir pada tahun 1868 (Restorasi Meiji). Sejak ini semua perjanjian dengan orang asing di Jepang dilakukan dalam bahasa Inggris. Seiring dengan pendirian Universitas Tokyo, bahasa pengantar bahasa asing yang digunakan adalah bahasa Inggris. Sementara itu di Indonesia, (Pemerintah Hindia) Belanda masih berkuasa penuh di semua bidang, pemerintahan, pendidikan, perdagangan dan sebagainya. Hingga tahun 1868 sudah banyak kamus bahasa Melayu dalam bahasa Belanda yang disusun dan juga kamus bahasa daerah seperti bahasa Jawa, bahasa Batak dan bahasa Bugis. 


Pada masa ini Bahasa Indonesia memiliki sekitar 3.500 hingga 10.000 kata serapan. Suatu jumlah yang sangat banyak, termasuk asal bahasa Portugis, bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Berikut adalah daftar kosakata bahasa Belanda dalam Bahasa Indonesia: Handuk (berasal dari kata handdoek); Kulkas (koelkast); Kancing (kansel); Wastafel (wastafel); Engsel (hengsel); Baskom (Waskom); Sepatu (schoen); Cokelat (chocolade); Buncis (boontjes); Wortel (wortel); Permen (pepermunt); Semur (smoor); Nanas ((ananas); Apotek (apotheek); Kantor (kantoor); Pabrik (fabriek); Kamar (kamer); Bioskop (bioscoop); Klinik (kliniek); Knalpot (knalpot); Kopling (koppeling); Parkir (parker); Koper (koffer); Oto (auto); Polisi (politie); Insinyur (ingenieur); Gratis (gratis); Arloji (horloge); Rokok (roken): Dinas (dienst); Koran (courant, kranten); nama-nam bulan seperti Januari, Februari, Maret, dsb) juga diserap langsung dari bahasa Belanda. 

Banyaknya kosa kata bahasa asing dalam bahasa Melayu dan bahasa daerah di satu sisi dan banyaknya bahasa-bahasa daerah yang masuk dalam bahasa Melayu yang dituturkan di wilayah Indonesia (baca: Hindia Belanda), menjadikannya campuran berbagai bahasa tersebut sebagai alat komunikasi yang umum. Sejumlah penulis/peneliti Belanda menganggap bahasa sehari-hari yang dikenal sebagai bahasa Melayu Pasar, bukan suatu bahasa, hanya semata-mata dianggap sebagai alat komunikasi. Dalam konteksnya inilah kemudian muncul nama Bahasa Indonesia. 


Ada hubungan yang panjang antara orang Belanda dengan orang Jepang di Jepang dan antara orang Belanda dengan orang Indonesia di Indonesia. Seperti disebut di atas, sejak tahun 1868 (Restorasi Meiji) orang Jepang semakin terbuka dengan orang asing dari berbagai bangsa. Bagaimana dengan orang Indonesia sendiri di Jepang? Yang jelas, orang Jepang tidak hanya terbukan dengan orang asing di Jepang, tetapi juga orang Jepang mulai mengarungi lautan ke berbagai tujuan, termasuk ke wilayah Indonesia. 

Seperti halnya produk-produk asal Indonesia sudah sejak era Portugis mengalir ke Eropa, produk-produk Jepang juga sudah mengalir ke Eropa. Dalam konteks inilah kemudian sejumlah produk asal Jepang memasuki pasar Indonesia seperti Japan soija (kecap Jepang) (lihat Javasche courant, 12-01-1850) dan kamper Jepang (Japan Kamfer, kamper buatan; yang berbeda dengan kamper alami dari Tanah Batak). Pada tahun 1860 rombongan kedubes Jepang di Amerika singgah di Batavia dalam pelayaran ke Jepang. 


Bataviaasch handelsblad, 03-10-1860: ‘Pagi-pagi sekali pada hari Minggu, 30 September, fregat uap Niagara tiba di sini, membawa Kedutaan Besar Jepang dari Amerika. Kami mengambil detail berikut dari surat salah satu teman kami: Kemarin pagi saya pergi ke fregat uap Niagara. Saat itu pukul 18.15 ketika saya naik ke kapal, dan saya harus pergi sedikit lebih lambat karena mereka masih membersihkannya. Ini adalah kapal yang luar biasa, yang terbesar di dunia setelah Great Western, berukuran 5.000 ton, dan model kapal layar yang luar biasa. Kapal ini memiliki, antara lain, dua belas meriam 120 pon di dalamnya, masing-masing dengan kereta meriam seberat 2.500 pon; kapal ini memiliki jangkauan 8.000 mil. Panjang kapal ini luar biasa: kapal ini dalam (dengan 1 dek; 70 kaki), dan secara proporsional lebar. Meskipun sama sekali tidak dikenal, kami disambut dengan sangat ramah dan diajak berkeliling ke mana-mana; Ruang tamu yang indah (2 ruang tamu yang tertata rapi), gudang senjata yang mewah, dan kamar ganda, yang dibangun sesuai dengan konstruksi yang benar-benar baru, tentu layak untuk dilihat. Hati kami sebagai orang Belanda merasa senang melihat kebersihan dan keteraturan yang hampir berlebihan, dipadukan dengan kesederhanaan dan disiplin yang ketat. Tidak ada sedikit pun kekacauan ketika 500 awak kapal berdesakan, dan itu—serta pemandangan kapal raksasa seperti itu—akan memberi kami kenangan indah tentang perjalanan kami untuk waktu yang lama. Niagara IV mampu menempuh jarak 11 mil dengan uap dan layar, dan 12 mil per jam hanya dengan uap. Jarak dari Amerika ke sini adalah 91 dengan angin haluan konstan selama 91 hari. Keberangkatan dijadwalkan pada hari Minggu atau Senin minggu depan. Dikatakan bahwa kapal telah sampai di Batavia atas permintaan Jepang. Kedutaan terdiri dari presiden dan 77 penerjemah dan pengikut, sebagian besar berbicara bahasa Inggris dengan sangat baik, dan beberapa orang Belanda. Kemarin (Senin), enam orang Jepang turun di Hotel des Indes, sangat gembira ketika mendengar ada sampanye (bendahara Niagara baru-baru ini membeli 150 lusin sampanye asli lagi untuk mereka), makan siang dengan lahap, dan kembali ke kapal sekitar pukul 13.00. Besok (Rabu), para Pangeran (duta besar) dan rombongan mereka akan turun untuk diterima dengan upacara khidmat oleh Yang Mulia Gubernur Jenderal, dan kemudian makan siang di Cressonnier's, dengan iringan musik staf’ 

Meski Jepang telah membuka diri kepada semua orang asing, hubungan antara Belanda dan Jepang tetap baik-baik saja (lihat Bataviaasch handelsblad, 10-12-1870). Disebutkan Gubernur Jenderal telah diberi wewenang (Juni lalu) untuk, setelah Menteri Residen Belanda yang baru di Jepang memiliki kesempatan untuk membiasakan diri dengan kondisi di sana, untuk bekerja sama dengan Angkatan Laut Kerajaan Belanda dan meminta uji coba perekrutan pasukan Jepang, awalnya dengan biaya dua kompi. 


De locomotief, 12-10-1871: ‘Mikado menyatakan kepuasannya atas apa yang telah dilakukan dan berterima kasih kepada petugas yang mengoperasikan telegraf di ujung lainnya". Selama penerimaan berbagai pejabat tinggi oleh Yang Mulia Kaisar, diskusi yang hidup berlangsung tentang keinginan untuk memperkenalkan telegraf di mana-mana di Jepang. Pendapat hampir semua orang yang hadir sangat mendukung telegraf, dan ketika salah satu dari mereka menyatakan kekhawatirannya tentang kerusakan atau pemutusan kabel telegraf yang terus-menerus oleh orang-orang yang berniat jahat karena telegraf adalah penemuan Barat, tanggapannya adalah bahwa orang-orang seperti itu, agar tetap setara, juga harus memenggal kepala tentara Jepang yang telah mengenakan seragam orang asing. Salah satu dari mereka yang hadir menambahkan dengan sinis bahwa ia berharap pemerintah Jepang akan tetap cukup kaya untuk memperbaiki beberapa kabel telegraf yang terputus, jika diperlukan. "Telegraf ini tetap berada di Istana Kekaisaran, tempat Yang Mulia sesekali menyibukkan diri dengan berlatih pekerjaan telegraf" Yang beberapa tahun yang lalu akan menjadi keuntungan besar bagi Jepang’. De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 24-06-1872: ‘Armada Jepang akan berangkat ke Shanghai’. 

Setelah kahadiran rombongan kedubes Jepang di Amerika singgah di Batavia pada tahun 1860, pada tahun 1873 terinformasikan seorang Jepang berada di Batavia (lihat Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant, 24-12-1873). Disebutkan seorang pria Jepang yang belajar kedokteran di Utrecht selama lima tahun saat ini tinggal di Batavia. Setelah kembali ke kerajaannya, ia diangkat sebagai petugas medis. Ia (Ito Genpaku?) datang ke Hindia untuk menghadiri ekspedisi Atchin, yang untuk itu ia telah diberikan izin. 


Seperti disebut di artikel sebelumnya, pada tahun 1862 sejumlah mahasiswa Jepang dikirim ke Belanda untuk melanjutkan studi di berbagai bidang yang berbeda. Jika dokter ini studi di Utrecth selama lima tahun, paling tidak dokter Jepang lulusan Belanda akan kembali ke Jepang setidaknya pada tahun 1867. Dokter tersebut bekerja di Jepang, dan kini tengah berada di Batavia di Hotel der Nederlanden (pada tahun 1873 ini Pemerintah Hindia Belanda melakukan ekspedisi militer ke Atjeh). 

Setelah kehadiran dokter Jepang di Hindia tidak pernah terinformasikan lagi orang Jepang. Jarak Jepang dengan Batavia (Hindia) terbilang jauh. Namun tentang Jepang sendiri di Hindia dari waktu ke waktu semakin terinformasikan. Hubungan antara orang Belanda dengan orang Jepang tampaknya masih tetap baik-baik saja. 


De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 07-10-1876: ‘Sebuah sekolah pertanian dari Jepang akan dibuka di Tokyo’. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 02-07-1880: ‘Industri surat kabar harian di Jepang. Di Jepang, hampir setiap rumah memiliki surat kabar harian; bahkan para pelayan pun memiliki surat kabar mereka sendiri dengan biaya sendiri. Jarang sekali kita tidak menemukan orang Jepang yang asyik membaca surat kabar mereka di kereta api atau alat transportasi umum lainnya. Surat kabar Jepang yang paling banyak beredar adalah Tomiuri, yang memiliki sirkulasi 5 juta eksemplar pada tahun 1878 dan 6 juta pada tahun 1879; kemudian disusul Chova, dengan 5 juta eksemplar pada tahun 1878 dan hanya 2 juta pada tahun 1879; Niehi Nichi, dengan 3 juta eksemplar di masing-masing dua tahun tersebut, dan seterusnya. Total sirkulasi dari dua belas surat kabar harian utama pada tahun 1879 adalah 15 juta eksemplar. Jika kita menambahkan sirkulasi surat kabar harian lainnya—kami memperkirakan jumlahnya sekitar 12 juta—maka totalnya mencapai 33 juta eksemplar untuk tahun 1879. Pada tahun itu, 2,36 juta surat kabar baru ditambahkan, dan 80 di antaranya dengan cepat gulung tikar. Surat kabar dikirim melalui pos. Biasanya, pengiriman dilakukan melalui sistem berlangganan. Penjualan per edisi, dan terutama penjualan di jalanan, belum umum di Jepang’. Utrechtsch provinciaal en stedelijk dagblad, 15-04-1880: ‘Beberapa waktu lalu diumumkan bahwa kuliah tentang oftalmologi, yang disampaikan di Jepang oleh mantan warga negara kita, Dokter Fock, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang di sana dan diterbitkan atas biaya kebaikan hati Jepang. Sekarang kita mengetahui bahwa karya berbahasa Jepang karya Dr. Fock ini dikirim sebagai hadiah ke Perpustakaan Rumah Sakit Mata di sini. Buku ini, yang diproduksi dengan rapi dalam gaya Jepang, terdiri dari banyak bagian dan dilengkapi dengan banyak ilustrasi yang sangat tepat untuk tujuan ilustrasi. Karya ini diawali dengan kata pengantar oleh mantan warga negara kita, Dokter Ito, yang saat ini merupakan dokter pribadi Kaisar Jepang. Dalam kata pengantarnya, Dokter Ito dengan sangat baik hati menyertakan terjemahan tulisan tangan dalam salinan ini, di mana kita membaca, antara lain, bahwa di negara di mana begitu banyak penyakit mata disebabkan, kadang-kadang oleh pasir dan angin, dan kadang-kadang oleh salju dan matahari, karya Dr. Fock ini dapat disebut sebagai berkah besar bagi seluruh Jepang’. Bataviaasch handelsblad, 26-02-1881: ‘Kami memiliki hak istimewa untuk menawarkan kepada pembaca kami hari ini artikel pertama dari serangkaian artikel tentang Jepang, yang ditulis untuk majalah kami di sana oleh seorang warga Jepang tulen yang berhasil kami amankan sebagai kontributor tetap’. 

Orang Jepang di Belanda sudah beberapa kali terinformasikan. Pada tahun 1885 seorang pria Jerpang terbunuh di Jepang (lihat Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant, 17-03-1885). Disebutkan kami telah mendapat informasi dari Rotterdam bahwa tadi malam di sebuah hotel di Hoogstraat, terjadi upaya pembunuhan terhadap seorang pria—diduga orang Jepang—oleh seorang wanita yang menginap bersamanya. Ia terluka di pelipis. Ia dibawa ke rumah sakit, di mana ia segera meninggal dunia. Wanita tersebut, yang melukai pergelangan tangannya sendiri dengan belati setelah serangan itu, telah ditangkap oleh polisi. Nama Jepang di Indonesia sudah pula cukup dikenal (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 05-06-1885). Disebutkan menurut (surat kabar) Mataram, seorang pria Jawa bunuh diri di Djokja dengan mengiris perutnya menggunakan pisau saku kecil. Dia pantas menjadi orang Jepang! 


Orang-orang Jepang mulai terinformasikan di Indonesia (lihat Bataviaasch handelsblad, 24-08-1885). Disebutkan dalam bidang akrobatik, pertunjukan "rombongan Jepang" milik Tuan Sidgway melampaui apa pun yang telah kami lihat sejauh ini di Hindia. Ketangkasan putranya yang berusia sepuluh tahun saat berjalan di atas tali sangat mengagumkan, dan orang bisa melihat kebanggaan sang ayah yang tersenyum pada putranya yang cerdas ini, yang menjanjikan untuk menjadi seorang seniman yang hebat. Tak kalah menakjubkan adalah demonstrasi ketepatan, keterampilan mata, dan perkembangan otot kaki yang luar biasa yang ditunjukkan oleh orang Jepang yang tampil dengan pakaian nasional mereka. Bocah berusia 4 atau 5 tahun yang melakukan trik di atas dan di dalam bak mandi berdiameter satu meter, yang digerakkan oleh orang Jepang lainnya dengan kakinya, membangkitkan kekaguman dan rasa iba. Trik di dua trapeze terpisah adalah hal baru dan layak untuk dikunjungi. Tenda terbukti terlalu kecil untuk para pengunjung yang penasaran dua hari yang lalu dan tadi malam, sehingga banyak yang pulang. Mereka harus kembali karena mereka bahkan tidak bisa mendapatkan tempat parkir. Kami sangat berharap bahwa kesuksesan awal ini akan bertahan lama bagi para pengusaha yang baru-baru ini menghadapi berbagai kesulitan yang tak terduga. 

Berbagai teknologi Jepang terus meningkat dari waktu ke waktu. Tidak hanya di bidang kedokteran dan elektronik, juga dalam berbagai bidang kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan personal. Orang Jepang juga dalam persenjataan sudah jauh meningkat dalam waktu yang singkat. 


Bataviaasch nieuwsblad, 28-09-1886: ‘Di Osaka, Jepang, ada pabrik pengecoran senjata dan bengkel konstruksi yang memiliki reputasi baik bahkan di luar negeri. Tahun lalu, 32 meriam gunung, 36 meriam lapangan, dan satu meriam artileri dikirim dari sana, dipesan oleh pemerintah Tiongkok. 5.000 peluru peledak juga diproduksi untuk pemerintah yang sama. Bapak Nishii Tamitaro, seorang warga negara Jepang yang tinggal di Jerman, telah diminta oleh pemerintahnya untuk menikahi seorang wanita muda Jerman yang tinggal di Hamburg. Seorang fotografer Jepang mengklaim telah menemukan seni fotografi berwarna. Namanya Azurizawa. Kepada majalah The Japan Herald, ia mengirimkan foto pulau Enoshima, dengan warna alami. Metode yang digunakan masih belum diketahui, tetapi menurut Herald, penemuan tersebut masih sangat membutuhkan perbaikan, karena satu bagian foto terlalu gelap dan bagian lain tidak terlihat jelas. Sejak kerusuhan yang dilakukan di Nagasaki oleh para pelaut perang Tiongkok—sekitar 600 orang Tiongkok dan Jepang—terjadi, seperti yang telah kami laporkan sebelumnya di sini, rasa acuh tak acuh terhadap orang Tiongkok telah berkembang di kalangan orang Jepang, yang telah membuat pemerintah Jepang khawatir. Langkah-langkah khusus telah diambil di Tokyo, Yokohama, dan tempat-tempat lain untuk melindungi putra-putra Kekaisaran Jepang yang didirikan di sana dari gangguan penduduk’. 

Orang Jepang si lengkapnyaOrang Jepang mulai dekat satu sama lain dengan orang Jerman. Fakta bahwa orang Jerman pertama berada di Jepang pada tahun 1870. Dalam hal ini, orang Jepang adalah orang baru di Jepang. Mahasiswa-mahasiswa Jepang juga sudah mulai banyak yang studi di Jerman. Apakah ini tanda-tanda orang Jepang dan orang Jerman sudah sesuai dan sulit dipisahkan satu sama lain? Satu yang jelas, orang Jepang tidak terlalu suka dengan orang Amerika dan juga terhadap orang Inggris. 


Bataviaasch nieuwsblad, 03-02-1887: ‘Jerman. Pada pertemuan departemen kolonialisme Jerman di Dresden, Dr. Groth, yang sebelumnya adalah seorang profesor di Jepang, memberikan kuliah tentang kekaisaran tersebut. Kami ingin secara singkat merangkum apa yang telah dipelajari pembaca tentang orang Jerman di Jepang. Orang Jerman pertama tiba di Jepang pada tahun 1870 dan perlahan tapi pasti menggantikan bangsa lain, terutama dalam perdagangan. Peralatan kereta api dipasok secara eksklusif oleh Jerman; orang Jerman bertugas sebagai insinyur dan mekanik; impor Jerman menggantikan barang-barang Inggris. Pendidikan sepenuhnya berada di tangan orang Jerman; profesor Jepang mengajar dalam bahasa tersebut. Angkatan bersenjata disusun berdasarkan model Jerman; dua orang Jerman ditugaskan untuk menyusun peraturan baru untuk administrasi nasional, yang akan berlaku pada tahun 1890. Hanya orang Jerman yang mengelola industri pertambangan, dan ratusan orang Jepang belajar di Jerman. Orang Jerman sangat dihargai dan dihormati di seluruh Jepang. Di ibu kota, semua orang meminta barang-barang Jerman, arsitek Jerman, pakaian Jerman, guru Jerman, buku-buku Jerman, dll. Bahasa Jerman digunakan dalam ibadah gereja. Dan sekarang setelah Jerman membuka layanan pos nasional, tidak ada orang Jepang yang akan lagi bepergian dengan kapal pos (Inggris, Amerika, atau Prancis), hanya orang Jerman. Orang Jepang tidak mempercayai orang Amerika karena orang-orang cerdik itu telah menipu mereka berkali-kali. Mereka membenci orang Inggris yang rakus emas. Mereka masih bisa bergaul agak baik dengan orang Prancis yang sopan, tetapi mereka mengidolakan orang Jerman yang sederhana dan jujur’. 

Orang Belanda yang sudah lama di Jepang dan masih eksis di Indonesia, tidak dianggap penting lagi oleh orang Jepang. Jerman kini telah menggantikan tempat orang Belanda di hati orang Jepang. Perlu dicatat di sini, sejak 1884 orang Jerman telah berkoloni di Papua baguian timur Nugini Jerman (Deutsch-Neuguinea). Bagi orang Jepang, Belanda adalah masa lalu, dan Jerman masa kini. Di Jepang dan di Jerman berbagai temuan terinformasikan. 


Seperti disebut di atas, pada tahun 1886 seorang fotografer Jepang mengklaim telah menemukan seni fotografi berwarna. Namanya Azurizawa dan telah mengirimkan foto pulau Enoshima, dengan warna alami. Pada tahun 1887 ini terinformasikan di Jepang adanya penemuan baru (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 09-02-1887). Disebutkan seorang warga Jepang telah menemukan cara membuat kertas dari rumput laut. Kertas yang sangat kuat ini begitu transparan sehingga bahkan dapat menggantikan panel kaca, memperlihatkan bentuk dan warna dengan sangat jelas. Ini adalah hasil dari zat perekat yang terdapat dalam rumput laut. Daklam bidang kedokteran disebut de Lacerda dari Brasil dan Ogata dari Jepang mengklaim telah menemukan penyebab beri-beri pada basil, yang (menurut makalah yang dapat saya akses) sangat mirip dengan Bacillus anthracis. Seorang rekan senegara Ogata, yang baru-baru ini mengunjungi Aceh dan melakukan penelitian di sana bersama Dr Cornelissen, telah mengkonfirmasi temuan Ogata (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 21-07-1887). 

Dalam hal kemiliteran, orang Eropa pertama yang menginformasikan bagaimana militer Jepang diberitakan di surart kabar (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 11-08-1887). Disebutkan seorang tentara Inggris berpangkat Mayor baru-baru ini ke Jepang dan mendapat kesan bahwa tentara Jepang terlalu penurut untuk disebut prajurit yang baik. Ia memiliki sifat tertentu, jeli, teratur, dan cerdas; namun, saya ingin melihat lebih banyak semangat dalam dirinya, meskipun hal itu disertai dengan kekacauan. Perintah diberikan dengan berani, pelaksanaannya tidak mengecewakan. Orang Jerman juga seperti itu, ini tidak mencegah fakta bahwa, meskipun artileri Jerman sangat bagus, artileri Jepang bekerja dengan sangat baik dan akurat. Terutama dalam hal pembidikan, artileri Jepang tidak dapat ditingkatkan lagi. 


Seperti disebut di atas, beberapa tahun yang lalu, di Hindia Belanda, ada desakan untuk merekrut orang Jepang untuk tentara. Namun apakah ide itu pernah mulai diimplementasikan atau tidak, tidak diketahui secara jelas. Jadi dalam hal ini, orang Belanda sendiri sudah menemukan bagaimana karakter tentara Jepang. 

Bagaimana jika Jerman dan Jepang bergabung dalam satu aliansi strategis? Tampaknya hanya Amerika yang mampu mengimbanginya. Amerika Serikat dalam decade-dekade terakhir sudah sangat maju dan sangat kuat angkatan lautnya. Seperti disebut pada artikel sebelumnya, pada tahun 1854 Amerika berhasil menekan dan membuka isolasi perdagangannya. 


Amerika Serikat terus memperluas wilayah baik dengan jalan membeli maupun dengan cara aneksisasi, Pada tahun 1845 Republik Texas dianekasi dimana pengaruh Spanyol masih ada. Pada tahun 1846 wilayah Oregon diakusisi dengan perundingan dengan Inggris. Akhirnya Amerika Serikat mengakusisi California pada tahun 1846 yang menjadi konsesi Mexico warisan dari Spanyol. Ini semua karena pertumbuhan dan perkembangan imigran Eropa yang datang ke Amerika. Sejak masuknya California ke dalam Serikat maka pembangunan kereta api mulai dibangun yang dapat menghubungkan antara timur dengan barat. Pada tahun 1853 sebagian wilayah Mexico dibeli yang kemudian dimasukkan ke Arizona. Pada tahun 1867 Amerika Serikat kembali membeli Alaska dari Rusia. Lengkap sudah Amerika Serikat memiliki daratan yang menyatu dari pantai timur hingga pantai barat dan daratan yang berseberangan langsung dengan Asia di selat Bering. Wilayah mana lagi yang diincar Amerika? 

Orang Jepang tidak hanya mahir menggunakan pedang sebagai pusaka lelehur, juga orang Jepang sangat mahir menggunakan senjata mesiu (sejak diperkenalkan orang Portugis). Kini di era kemajuan Jepang, kekuatan ekonomi mereka juga telah sejak lama mampu membeli kapal-kapal buatan Belanda dan Inggris. 


Nieuwe Haarlemsche courant, 16-10-1887: ‘Pedang Jepang. Pedang-pedang buatan Jepang membuktikan bahwa dunia Barat, meskipun memiliki peradaban yang diagungkan, masih banyak yang harus dipelajari dari Timur. Baik Birmingham maupun Solingen tidak dapat menghasilkan bilah yang menandingi ketajaman dan kekerasan pisau Jepang. Pedang Jepang tak tertandingi oleh industri modern dan hampir tidak tertandingi oleh pedang yang ditempa di Damaskus dan Toledo. Merupakan hal biasa bagi seorang prajurit Jepang untuk membelah babi hutan hidup menjadi dua dengan satu pukulan. Batang timah dan bahkan besi telah diputus oleh senjata ini, tanpa satu pun goresan atau kerusakan sedikit pun pada mata pisaunya. Dalam pertarungan pedang, satu lawan satu, orang Jepang adalah musuh yang berbahaya. Pada peristiwa pembunuhan Richardson dan teman seperjalanannya, menurut kesaksian seorang saksi mata, kaki belakang kuda terputus oleh pukulan dari salah satu pedang bermata dua yang dahsyat ini. Sebuah pedang Jepang yang sangat bagus disimpan sebagai pusaka keluarga di keluarga Satsema, dan konon dengan pedang ini, bilah yang mengapung di air dapat dipotong hanya dengan membiarkannya mengapung di tepinya. Orang Jepang memahami seni pengerasan baja lebih baik daripada bangsa lain di seluruh dunia’. 

Orang Belanda kini hanya mampu bercerita tentang Jepang. Pengaruh Belanda di Jepang telah tamat. Sekarang, yanfg terkuat pengaruhnya diu Jepang dalah orang Jerman. Bagi orang Belanda, Jerman Negara tetangga adalah kekuatan yang tidak pernah bisa tandingi. Orang Jepang terus mengakar di Jepang, orang Belanda hanya bisa melambai tangan saja. Teknologi Jerman mengalir deras ke Jepang. Belanda di masa depan akan tergilas oleh orang Jerman dan orang Belanda di Hindia akan tergilas pula oleh orang Jepang. Dunia sudah mulai terbalik. 


Soerabaijasch handelsblad, 10-01-1888: ‘Mari kita alihkan perhatian kita ke Jepang; kerajaan pulau ini, yang paling timur di benua itu, untuk tujuan kita adalah yang paling menarik yang dapat kita telusuri. Sejak negeri ajaib itu dibuka untuk bangsa Eropa, sebuah pemandangan terbentang di sana—begitu mengharukan, sejauh yang saya tahu, tidak ditemukan di tempat lain dalam sejarah dunia. Pada abad-abad sebelumnya, negeri itu sepenuhnya tertutup bagi aktivitas lain; sepenuhnya di luar pengaruh semua peradaban yang dibawa oleh orang asing; dengan menjaga jarak dengan Belanda di tempat terpencil, kekuatan-kekuatan besar akhirnya berhasil, tidak tanpa kesulitan, untuk mengizinkan mereka masuk, yaitu, ke beberapa kota pesisir. Ini berlangsung sampai sebuah partai berkuasa di Jepang yang percaya bahwa kekaisaran harus mengambil keuntungan dari peradaban Barat dan mencoba untuk merebut keuntungannya dengan harga berapa pun, meninggalkan kerugiannya di tempatnya. Apakah yang terakhir terjadi, saya kesampingkan, tetapi faktanya partai itu berhasil di Jepang untuk bermetamorfosis sepenuhnya. Namun, dalam satu hal, ia keliru. Ia percaya bahwa yang terbaik dari Prancis, Jerman, dan Inggris dapat diadopsi tanpa menimbulkan konflik satu sama lain, dan itu adalah pandangan yang keliru. Pada awalnya, tidak pasti siapa yang akan mendapatkan prioritas. Awalnya, tidak diragukan lagi Inggris, yang melalui dominasinya dalam perdagangan dunia yang luas, berhasil mengamankan posisi yang kuat di Jepang. Prancis menyusul, yang sebagian melalui politik dan sebagian melalui perdagangan, memainkan peran penting sebagai pembeli utama sutra Jepang. Pengaruh Jerman datang kemudian. Meskipun kehadiran Jerman di Jepang singkat, mereka kini telah sepenuhnya melampaui negara-negara lain di sana, baik secara politik maupun ilmiah. Perdagangan mereka meningkat pesat, berkelanjutan, dan stabil: statistik membuktikannya dengan sangat jelas. Tidak dapat disangkal bahwa orang Jepang berupaya mendapatkan pendidikan Jerman, mengesampingkan yang lain. Mereka tidak hanya mengirimkan pemuda berbakat mereka ke akademi Jerman, tetapi mereka juga berupaya merekrut orang Jerman untuk mengabdi kepada mereka. Perlu dicatat bahwa Jerman hanya memiliki peran penasihat dan keterlibatan organisasi sesekali dalam urusan pemerintahan. Pejabat tinggi Jepang tidak membiarkan siapa pun mengambil alih urusan dari tangan mereka. Kementerian Luar Negeri telah mengatur orang-orang Jerman sesuai keinginan mereka; Kementerian Dalam Negeri juga sebagian merupakan hasil karya mereka. Mereka menyusun rencana untuk pembagian kadaster kekaisaran dan merancang rancangan undang-undang untuk berbagai pajak. Saat ini mereka sedang mengerjakan undang-undang pemilihan berdasarkan prinsip-prinsip Eropa. Jika ini selesai dan berlaku, Jepang akan menjadi negara konstitusional sebelum tahun 1890. Di Kementerian Perang, perwira Jerman ditugaskan untuk membentuk staf umum, kepemimpinan dan pengajaran di akademi militer, dan bahkan pelatihan band militer. Namun, orang Jerman memiliki sedikit pengaruh dalam pembentukan angkatan darat itu sendiri. Terutama perwira Inggris dan Prancis yang membantu dalam hal ini; seragamnya juga bergaya Prancis. Angkatan darat juga diorganisir oleh Prancis, kecuali sistem torpedo, yang dibuat oleh Jerman pada tahun 1890. Tatanan dan negara secara permanen berada di bawah kepemimpinan Jerman. Orang Jerman telah memposisikan diri mereka paling menonjol di Kementerian Pendidikan. Seluruh fakultas kedokteran di Tokyo hanya memiliki profesor Jerman; di departemen hukum, orang Jerman mengajar ekonomi pertanian dan politik, Gereja Katolik Roma, dan Hukum perdata Prusia. Stasiun meteorologi berada di bawah manajemen Jerman. Di bidang filologi, orang Jerman mengajar bahasa, sejarah, dan filsafat; mereka juga mengajar matematika. Di bidang teknik sipil dan pertanian, mereka mengajar, tanpa melibatkan orang lain. Mata pelajaran teknik berada di bawah kepemimpinan Jerman; pendidikan dasar diorganisir menurut metode Jerman; kepolisian juga demikian. Saya tidak perlu mengatakan lebih banyak untuk membuktikan bahwa dalam semua ini terdapat inti unsur Jerman yang kuat, kecenderungan tertentu untuk berada di bawah pengaruh Jerman. Semua orang Jerman ini berada dalam pelayanan pemerintah Jepang. Sebagian besar kelompok juga memimpin bisnis industri, di mana mereka sangat dihargai karena pengetahuan dan integritas mereka. Perusahaan dagang besar Jerman banyak ditemukan di Jepang, dengan manajer dan karyawan Jerman di semua pelabuhan. Di antara mereka, Yokohama menonjol, hanya berjarak 50 menit dengan kereta api dari Tokyo, sehingga orang Jerman dari kedua tempat dapat dengan mudah bertemu. Oleh karena itu, suasananya sangat ramah, dan mereka memiliki berbagai perkumpulan di mana mereka bertemu satu sama lain. Beberapa untuk pertemuan sosial, seperti perkumpulan kita; di perkumpulan lain, musik dimainkan dan teater dipentaskan; ada juga yang memiliki tujuan yang lebih ilmiah dan telah menghasilkan studi Asia Timur yang menarik. Yokohama adalah perkumpulan yang ramai dihadiri di mana para Dewi Seni dihormati dan hal-hal yang bermanfaat dipadukan dengan hal-hal yang menyenangkan. Orang Jerman memiliki hubungan yang erat satu sama lain, sering berpindah-pindah dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, dari satu kantor cabang ke kantor cabang lain, dan mempertahankan ikatan persahabatan yang kuat. Di Jepang, semua orang Jerman saling mengenal. Mereka juga memiliki gereja dan pendeta sendiri di Tokyo, yang telah membaptis banyak orang Jepang. Domié Spinner adalah pria yang sangat ramah dan dihormati oleh semua orang. Saya tidak akan memberi tahu Anda lebih banyak tentang Deutichthum di Jepang’. 

Seperti halnya orang Jerman, orang Jepang sangat percaya pada bangsanya sendiri. Namun orang Jepang sangat menghargai budaya dan warisan leluhur. Adanya hubungan Jepang dengan bangsa-bangsa lain hanya semata-mata didasarkan pada kebutuhan dan hubungan itu dapat sewaktu-waktu diputuskan begitu saja seperti halnya tempo doeloe dengan orang Portugis. Seperti disebut di atas, posisi Belanda di Jepang pada masa ini telah digantikan oleh Jerman. Inggris dan Amerika bagi Jepang adalah tak bisa dipercaya. Ini misalnya baru-baru ini terinformasikan di Inggris (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 05-06-1888). Disebutkan orang Jepang sangat tersinggung karena adat dan praktik mereka dilanggar di Mikado. Duta Besar Jepang di London telah menjelaskan hal ini kepada komposer Sullivan, dan bahkan menambahkan bahwa "sama sekali tidak mustahil bahwa seorang Jepang yang bersemangat menikamnya sampai mati’.

 

Bataviaasch nieuwsblad, 05-06-1888: ‘Sejauh menyangkut komposisi etnologisnya, tentara Rusia tentu saja yang paling heterogen di seluruh dunia." Dari 227.906 rekrutan yang dipanggil pada tahun 1885, terdapat 169.052 orang Rusia, 17.212 orang Polandia, 406 orang Bulgaria, 12 orang Chekh, 5.800 orang Lituania, 3.424 orang Lothi, 155 orang Yunani, 2.350 orang Moldavia, 1 orang Prancis, 3.572 orang Jerman, 142 orang Armenia, 39 orang Bohemia, 3 orang Georgia, 10.011 orang Yahudi, 309 orang Earehan, 20 orang Tchoud, 2.604 orang Estonia, 1 orang Lapp, 1.707 orang Moravia, 704 orang Cheremissian, 841 orang Votiak, 828 orang Ziria, 78 orang Permia, 5 orang Vogul, 1.529 orang Chuvachi, 4.508 orang Tatar, 3.017 Orang Bashkir dan sekitar 100 orang dari tiga ras atau suku lainnya. Secara total, legiun Rusia terdiri dari 32 ras yang berbeda. Sungguh luar biasa bahwa orang Sirkasia dan Ossetia tidak terwakili di antara rekrutan ini sebelum tahun 1885’. 

Seperti disebut di atas, orang Jepang sudah pernah terinformasikan di Indonesia. Namun keberadaannya terkesan pasang surut. Namun kini, selain sudah ada orang Jepang yang kembali ke Indonesia, juga menulis tentang Indonesia di surat kabar Jepang di Jepang. Penulis Jepang tersebut memiliki kesan Indonesia itu tanah yang kaya. 


Bataviaasch nieuwsblad, 06-10-1888: ‘Tinjauan Jepang tentang Jawa. Japan Gazette tahun lalu mendedikasikan sebuah esai untuk Jawa, tampaknya oleh seseorang yang telah melakukan perjalanan ke Jawa Barat. Sangat terkesan dengan pemandangan indah di Preanger, penulis tidak memiliki pendapat yang baik tentang cara Belanda memerintah negara tersebut. Kebun raya dan taman "Gubernur Jenderal Buitenzorg menulis, 'Ini patut diperhatikan'. Namun, saya terkejut betapa sedikitnya kontribusi para cendekiawan Belanda terhadap pengetahuan tentang fauna di wilayah-wilayah kaya ini’.. 

Orang Belanda di Indonesia juga semakin kerap mengunjungi Jepang dan kesan-kesan mereka dimuat di dalam surat kabar yang terbit di Indonesia. Satu orang Belanda yang baru pulang menulis di surat kabar dengan kesan bahwa Jepang sudah sangat maju dalam tempo yang singkat. Sang penulis memiliki kesan yang harus diperhitungkan oleh kekuatan Eropa, terutama mereka yang memiliki koloni di Asia. 


Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 17-07-1889: ‘Disebutkan dalam surat saya sebelumnya, saya telah berbagi beberapa informasi tentang kereta api Jepang. Hal ini mendorong saya untuk sekarang menjelaskan layanan kapal uap yang menghubungkan pulau-pulau yang tak terhitung jumlahnya yang membentuk Kekaisaran Jepang. Penulis juga membaca tentang peristiwa penting proklamasi Konstitusi pada Ferbruari tahun ini. Dapat dikatakan dengan tepat bahwa ini adalah peristiwa terpenting dalam bidang politik. Peristiwa ini dirayakan di Tokyo dengan antusiasme yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada tahun 1866, belum ada masalah manufaktur di Jepang. Oleh karena itu, pemerintah tidak keberatan sama sekali untuk menetapkan tarif impor yang sangat tinggi pada saat itu; namun, sejak tahun 1966, situasinya telah berubah: Banyak barang yang dulunya berasal dari Eropa sekarang diproduksi di Jepang sendiri. Para produsen sekarang kesulitan bersaing dengan barang-barang yang diimpor dari Eropa dan Amerika. Oleh karena itu, sekarang ada keinginan untuk menaikkan tarif impor guna melindungi industri nasional. Perjanjian tersebut juga menetapkan bahwa pelabuhan Yokohama (Kanagawa), Kobe (Hiogo), Nagasaki, Osaka, Hakodate, dan Niigata, serta kota Tokyo, akan dibuka untuk perdagangan dan tempat tinggal warga asing. Revisi perjanjian adalah masalah yang telah lama dibahas. Hambatan utama adalah bahwa pemerintah di sini ingin mempertahankan yurisdiksi atas orang asing, dan untuk tujuan itu, bertahun-tahun yang lalu, mereka melibatkan seorang ahli hukum Prancis untuk menyusun kode baru berdasarkan konsep hukum Eropa. Selama revisi perjanjian, rencana awalnya adalah untuk menyimpulkan satu perjanjian yang telah diubah dengan semua perwakilan negara-negara adidaya secara bersama-sama. Namun, hal ini tidak tercapai karena para menteri Prancis dan Inggris, khususnya, sangat menentang warga negara mereka berada di bawah yurisdiksi Jepang. Perjanjian baru sekarang sedang disimpulkan dengan masing-masing negara adidaya secara terpisah, dimulai dengan Amerika Serikat, karena pemerintah Amerika tidak keberatan menempatkan warganya di bawah yurisdiksi Jepang; setelah Amerika selesai, Rusia akan menyusul. Prancis dan Inggris merasa sangat marah karena mereka sekarang tertinggal. Amerika tentu tidak akan ragu untuk menetap di mana pun di Jepang, karena hal ini diizinkan berdasarkan perjanjian baru, dan oleh karena itu akan menetap di pedalaman dan pelabuhan-pelabuhan lain yang sebelumnya tertutup bagi orang asing, yang saat ini juga tertutup bagi orang asing lainnya. Tentu saja, tuduhan bahwa perwakilan Inggris dan Prancis kurang bijaksana dan berwawasan, dan bahwa menteri Amerika memanfaatkan hal ini untuk kepentingan rekan senegaranya, tidak dapat dihindari. Perdagangan Rusia tidak terlalu signifikan di Jepang dan terbatas pada perdagangan dan pengiriman antara Nagasaki dan Yladivostok. Saya hanya dapat menjelaskan kecepatan ini terkait Rusia karena Jepang melihat Rusia sebagai kekuatan yang, jika perlu, dapat menghancurkan pelabuhan-pelabuhan dari Yladivostok dalam empat hari dengan 10.000 pasukan dan kapal perang lapis baja yang diperlukan. Adapun Yokohama dan Tokyo, misalnya, pelabuhan-pelabuhan ini sama sekali tidak dapat dipertahankan terhadap musuh seperti itu dengan artileri modern. Memang benar, Jepang juga memiliki beberapa kapal perang modern yang luar biasa, tetapi pertanyaannya adalah apakah mereka dapat bertahan melawan Rusia. Hal lain yang tidak dapat dijelaskan mengenai Rusia adalah pembangunan katedral Rusia di Tokyo. Uskup Rusia di sana telah menerima izin (?) untuk membangun "gereja kecil" di Tokyo, tepat di tengah kota Jepang—sesuatu yang tidak tepat, karena ada pemukiman Eropa di Tokyo, Tsukiji. Memanfaatkan kesempatan ini, hamba Tuhan yang bersemangat ini mulai membangun sebuah katedral megah, yang dilaporkan menelan biaya 1.500.000 rubel. Orang Jepang sama sekali tidak terkesan, terutama karena bangunan itu sangat tinggi dan kolosal, lebih tinggi dari bangunan Jepang mana pun di Tokyo. Orang Jepang menganggapnya sebagai penghinaan; sementara itu, bangunan itu hampir selesai, dan sejauh yang saya tahu, pemerintah tidak mencegah penyelesaiannya. Tidak ada yang mengerti tujuan katedral ini, karena di seluruh Tokyo, bahkan sepuluh warga negara Rusia pun tidak akan dapat berkumpul di sana. Segera akan tiba saatnya giliran Belanda untuk menyimpulkan perjanjian yang direvisi dengan Jepang. Kita kemudian akan berada di bawah yurisdiksi Jepang, tetapi juga memiliki hak untuk bepergian, tinggal, dan berdagang di seluruh Jepang tanpa paspor; tidak diragukan lagi, perjanjian dengan Belanda akan kembali menimbulkan beberapa kesulitan jika orang Jepang ingin menetap di koloni Asia kita. Tentu saja, mereka akan menuntut agar mereka tidak diklasifikasikan di bawah judul "Orang Oriental Asing," tetapi ditempatkan pada posisi yang setara dengan orang Eropa, sesuatu yang sepenuhnya menjadi hak mereka, karena tidak dapat diterima untuk menyamakan mereka dengan orang Arab dan Tiongkok. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah Belanda tidak akan mengajukan keberatan terhadap hal ini, karena pemerintah Jepang pasti akan mengambil tindakan balasan, yang pasti akan berdampak buruk pada perdagangan kita dengan Jepang, dan merugikan warga Belanda yang menetap di Jepang. Di antara bahasa-bahasa Eropa, bahasa Inggris jelas telah menjadi bahasa utama, dan saya bahkan percaya bahwa belajar bahasa Inggris sekarang wajib bagi pegawai negeri. Namun, saya sangat kecewa dengan pengetahuan orang Jepang tentang bahasa itu secara umum; selama sekitar satu tahun saya berhubungan dengan para pejabat di semua tingkatan, saya hanya bertemu satu orang Jepang yang berbicara bahasa Inggris dengan sangat baik; banyak yang menulis dengan sangat baik tetapi kesulitan berbicara. Dengan bahasa Prancis, keadaannya justru sebaliknya. Saya bertemu beberapa orang yang berbicara bahasa Prancis dengan baik, bahkan perempuan, tetapi ketika Anda menerima catatan berbahasa Prancis, isinya penuh dengan kesalahan tata bahasa; tampaknya, orang Jepang lebih mudah mengucapkan bahasa Prancis daripada bahasa Inggris. Bahasa Jerman jarang dipelajari; hanya dokter yang mempelajari bahasa Jerman karena sebagian besar karya medis ditulis dalam bahasa itu. Seluruh peradaban Eropa di Jepang baru berusia sekitar 20 tahun; dalam waktu singkat itu, Jepang telah memodernisasi negaranya dan meningkatkan angkatan darat, angkatan laut, pendidikan, dll. dengan cara Eropa. Oleh karena itu, tidak dapat diharapkan bahwa semuanya akan sempurna, yang membutuhkan waktu satu abad bagi kita orang Eropa untuk mencapainya. Tak dapat disangkal, Jepang sekarang adalah kekaisaran yang beradab, selalu selaras dengan semangat zaman, dan yang harus diperhitungkan oleh kekuatan Eropa, terutama mereka yang memiliki koloni di Asia. Sampai jumpa lagi, Fujitama’. 

Kekaisan Jepang telah memproklamirkan konstitusinya pada tanggal 2 Februari 1889. Era baru Jepang dimulai. Apapun yang terdapat di Jepang telah memiliki standar yang sama dengan negara-negara maju di Eropa. Jepang tampaknya (akan) menjadi satu-satunya bangsa di Asia yang mampu mengejar kemajuan barat dan tentu saja negara yang tidak pernah akan bisa ditaklukkan Eropa. Bagaimana pandangan Amerika terhadap Jepang? 


Pelabuhan di Formosa akan dibuka seiring dengan adanya perjanjian antara Pemerintah Cina dengan Inggris tahun 1858 (lihat De Oostpost: letterkundig, wetenschappelijk en commercieel nieuws- en advertentieblad, 12-08-1858). Di dalam isi perjanjian ini antara lain: Pasal-6 Ketentuan dan hak istimewa yang sama berlaku bagi duta besar Tiongkok di London. Dengan latar belakang inilah kemudian Jepang memperluas wilayah dengan mengakuisisi wilayah Formosa pada tahun 1895. Apa reaksi Tiongkok? Yang jelas Jepang sedang menguat dalam segala hal. Inggris yang sangat kuat di Tiongkok hanya gigit jari. Jepang sendiri sudah lama tidak menyukai Inggris. 

Lantas mengapa Jepang menganeksasi (pulau) Formosa? Satu yang jelas pulau-pulau kecil yang masuk wilayah Jepang di selatan begitu dekat dengan Formosa. Bagi Jepang, bahwa Formosa bukan milik sejati Tiongkok. Dalam sejarahnya, kehadiran orang Eropa (Portugis, Belanda dan Inggris) di Formosa tentulah bukan yang pertama. Orang-orang Cina di Formosa juga adalah pendatang. Sebab yang menjadi penduduk asli Formosa bukan orang Cina, tetapi penduduk yang berasal dari nusantara (Austronesia). 


Secara historis dalam aspek budaya, pulau Formosa tidak terhubung dengan utara (Korea dan Jepang), tetapi terhubung dalam berbagai aspek seperti bahasa dan adat dengan wilayah pulau-pulau di selatan seperti Filipina, Kalimantan, Semenanjung, Sumatra dan Jawa. Hubungan pulau Formosa dengan wilayah pulau-pulau selatan, paling tidak sebagian telah disimpulkan oleh Erin Asai tahun 1936 dalam judul disertasinya: ‘A study of the Yami language: An Indonesian language spoken on Botel Tobago Island’. Erin Asai sendiri adalah doktor asal Jepang tidak menemukan hubungan kebudayaan antara pulau Formosa dengan pulau-pulau di Jepang. Boleh jadi memang yang terhubung hanya secara politik dan ekonomi perdagangan. Pada era VOC/Belanda pelaut-pelaut VOC membuka pos perdagangan di selatan Formosa. Satu yang penting pada permulaan VOC di Jepang, salah satu orang Belanda yang diterima dengan baik adalah pedagang Jacques Specx yang kemudian menikah dengan wanita Jepang. Putri mereka bernama Sartje Specx di Batavia menikah dengan seorang pendeta dan kemudian berangkat ke Formosa. Sartje Specx meninggal di Formosa tahun 1636 sebelum berusia 20 tahun. Catatan: Jacques Specx menjadi Gubernur Jenderal VOC di Batavia (1629-1632). 

Sementara itu, Amerika sudah lama berhenti memperluas wilayah, yakni setelah membeli Alaska dari Rusia pada tahun 1867. Boleh jadi, setelah memperhatikan Jepang telah memperluas wilayah ke Formosa (kini Taiwan) pada tahun 1895, nafsu Amerika mulai bangkit dan ingin memperluas wilayah di kawasan Pasifik (hingga ke Pasifik Barat). Pada tahun 1897 para pemimpin Cuba memberontak kepada otoritas Spanyol. Wilayah Cuiba yang berdekatan dengan Amerika mencoba membantu para pemberontak. Para pemberontak akhirnya memenangkan perlawanan yang menyebabkan Spanyol yang berkoloni sejak lama di Cuba harus meninggalkannya. Sementara itu di Jepang muncul gagasan untuk menyertakan orang asing dalam pameran industri nasional untuk dapat melakukan perbandingan dan mempelajari produk luar negeri. 


Pada tahun 1897 terinformasikan bahwa akan diadakan pameran nasional yang akan menyertakan orang asing (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 16-09-1897). Disebutkan Pemerintah Jepang bermaksud menyelenggarakan pameran industri nasional yang besar di Osaka pada tahun 1903. Salah satu keistimewaannya adalah adanya bagian khusus untuk pameran barang-barang yang diproduksi atau diolah di luar negeri, yang dapat mengarah pada perbandingan dan peningkatan industri. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan kesempatan kepada para industrialis untuk mempelajari produk-produk terkini penemuan Barat dengan tujuan untuk meningkatkan industri Jepang’. Insulinde; weekblad gewijd aan koloniale zaken, jrg 2, 1897, No. 16, 20-04-1897: ‘Pameran permanen produk Belanda dan Hindia di Jepang. Di Loc., kita menemukan beberapa berita penting mengenai kemungkinan kebangkitan kembali hubungan antara Belanda dan Jepang. "Menurut komunikasi dari ED van Walree, Wakil Konsul Belanda di Tokyo, Pemerintah Jepang telah mendirikan tempat di Departemen Perdagangan dan Pertanian di Tokyo di mana pameran permanen barang dagangan akan diadakan untuk menginformasikan perdagangan dan industri. Setelah mengetahui bahwa sampel dari seluruh dunia sedang dikumpulkan untuk tujuan ini, De Testa dan Van Walree menghubungi menteri terkait untuk menanyakan apakah sampel produk Belanda dan Hindia juga mungkin diperlukan. Menteri yang dimaksud, Enomote, adalah salah satu dari sedikit warga Jepang yang masih menerima pendidikannya di Belanda dan masih berbicara bahasa kita; oleh karena itu, beliau tetap sangat tertarik pada negara kita dan dengan senang hati menerima tawaran tersebut, setelah menunjukkan niat baik terhadap negara kita. Tawaran tersebut menjanjikan lokasi terpisah untuk produk-produk dari Belanda dan Hindia Belanda, di mana berbagai sampel produk kita dapat dipajang bersama. Ini, kata Bapak Van Walree, adalah kesempatan yang sangat baik untuk menarik perhatian, tanpa biaya besar, pada produk-produk India yang sudah diimpor ke Jepang, atau mungkin akan diimpor di masa mendatang. Koleksi lengkap, yang mencakup semua spesies dan varietas dari berbagai bagian kepulauan, tidak terlalu diperlukan, melainkan koleksi terbatas yang menyoroti spesies utama dan disertai dengan data statistik tentang produksi, ekspor, tujuan, dan harga, yang ringkasannya diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dan kemudian dapat dipajang bersama barang-barang tersebut. Mengingat ruang yang terbatas, pameran tersebut tentu saja tidak boleh terlalu besar. Sampel yang sangat cocok untuk dipamerkan antara lain gula, minyak bumi, timah, indigo, kopra, minyak kelapa, kayu jati, kayu berkualitas tinggi lainnya, kulit binatang, kulit rusa dan iguana, tempurung kura-kura, arak, kapuk, rotan, tikar, topi bambu, getah, getah pertja, gambir, minyak jarak, tembakau, teh, kopi, lada, rempah-rempah, kulit kina, kina, dan cerutu Manila. Upaya juga akan dilakukan agar sampel-sampel tersebut dipamerkan untuk sementara waktu di Museum Perdagangan di Osaka, kecuali jika koleksinya duplikat, dalam hal ini lokasi permanen yang sesuai di Osaka, kota industri utama negara itu, dapat dengan mudah ditemukan. Perusahaan Pelayaran Paket Kerajaan telah diminta untuk mengirimkan sampel-sampel tersebut tanpa biaya pengiriman, permintaan yang kemungkinan besar akan dikabulkan, mengingat pentingnya pengiriman paket antara kedua negara. "Pengiriman segera sangat diharapkan". Dapat ditambahkan bahwa H s'Jacob, R van Lennep, dan JJ Benjamin di Surabaya telah membentuk komite untuk melaksanakan usulan yang dijelaskan di atas, dari Jhr de Testa dan Van Walree’. 

Bersamaan dengan masalah Cuba dengan Spanyol, Amerika melirik Filipina yang kurang mendapat perhatian dari Spanyol. Sebagaimana diketahui Spanyol sudah lama melemah baik di Eropa maupun di wilayah koloni-koloninya (sebagaimana juga Portugis yang hanya menyisakan koloni kecil di Asia seperti Macao dan Timor bagian timur). Untuk mengimplementasikan nafsu Amerika di Pasifik, pada tahun 1898 Amerika melakukan invasi ke Hawai dan Guam. Amerika Serikat juga setelah melakukan pendudukan di Filipina mencoba melakukan negosiasi dengan kerajaan Spanyol di Amerika. 


Kini, Amerika sudah berada di Asia. Tercapai pula upaya Amerika Serikat untuk mendekatkan diri ke Hindia (Belanda). Kehadiran Amerika Serikat sendiri di Filipina dapat dikatakan bersifat insidentil (tak terduga, karena melemahnya Spanyol). Tidak ada keterangan sebelumnya bahkan sejak era VOC kapal-kapal Amerika Serikat sudah mengunjungi Filipina seperti Manila. Kapal-kapal Amerika Serikat hanya diketahui pernah mengunjungi Makao, dan kapal-kapal Amerika hanya secara intens mengunjungi Batavia dan pernah beberapa kota di Hindia Belanda dikunjungi kapal-kapal Amerika seperti di Manado dan Ternate, plus pelaut-pelaut Amerika yang tengah memburu ikan paus hingga di pantai utara Papua. Catatan: Setelah Amerika menduduki Hawai, Jepang melancarkan prote terhadap aneksasi Hawaii oleh Amerika tersebut. Mengapa? Bagi orang Jepang, Hawai adalah jalur pelayaran tradisional orang Jepang (seperti kita lihat nanti, militer Jepang menyerang pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii, tahun 1941). 


Kehadiran Amerika di Guam dan Filipina, dengan sendirinya Amerika telah semakin dekat ke wilayah Jepang (plus Formosa). Dalam hal ini, Jepang berada diantara koloni-koloni Eropa. Inggris sangat kuat di Tiongkok (mulai dari India dan Semenanjung). Prancis di Indochina dan Belanda di Indonesia. Dan tentu saja kini Amerika Serikat di Filipina dan Guam. Lalu apakah Jepang akan berdiam diri?


Formosa sudah diakuisisi oleh Jepang (sejak 1895). Pulau-pulau kecil antara Jepang (pulau Honshu) dengan pulau Formosa seperti kepulauan Ryukyu secara bahasa dibedakan dengan rumpun bahasa Japonik di pulau-pulau besar di utara. Sebelum terbentuk rumpun bahasa Japonik, bahasa penduduk asli di Jepang sejatinya adalah bahasa Ainu. Wilayah kepulauan Ryukyu belum lama diakusisi Jepang. Kepulauan Ryukyu ditaklukkan dan rajanya digulingkan, Di dua wilayah Manshuria dan Formosa populasi orang Cina sangat besar. Wilayah kepulauan Ryukyu hanyalah pulau-pulau kecil yang dihuni oleh kelompok populasi asli. Dalam kronik Jepang disebutkan sejumlah kedutaan asing didirikkan di Jepang: Annarn (Tonquin) dari tahun 1600 hingga 1632, dan terkadang setelahnya; Kamboja dari tahun 1601 hingga 1627; Lucon (Manila) dari tahun 1601 hingga 1641 dan Siam dari 1606 hingga 1639. Selain negara-negara yang telah disebutkan dalam kronik, kapal-kapal jung Cina, juga tiba di Jepang untuk pertama kalinya pada tahun 1609. Sejak masa awal hubungan telah terjalin antara Kekaisaran itu (Jepang) dan Cina. Duta besar pertama dari Corea tiba pada tahun 1617; dan penduduk Kepulauan Riou-Kiou pada tahun 1610. Formosa, seseorang bernama Riga tiba di Yedo pada tahun 1627. Negara-negara ini datang ke Jepang dalam hubungannya dengan emas, perak dan tembaga. Peta: Maanchuria (warna hitam) 

Kehadiran Amerika di Guam dan Filipina (berada pada garis lintang yang sama) telah menjadi ancaman bagi Jepang dan wilayah baru Jepang di Formosa. Namun begitu, rencana  pameran nasional tahun 1903 tetap akan dilaksanakan dengan mengundang Negara asing. 


De nieuwe vorstenlanden, 07-05-1902: ‘Menurut apa yang dilaporkan surat kabar, Pemerintah Jepang akan menyampaikan surat edaran berikut kepada produsen di luar negeri melalui persetujuan konsulnya; Sensus industri nasional besar yang direncanakan oleh pemerintah Kekaisaran Jepang! yang akan diselenggarakan di Osaka pada tahun 1903, akan memberikan ciri baru dan menarik yang belum pernah ada pada pameran-pameran nasional Jepang, dan Pemerintah Kekaisaran ingin menarik perhatian para produsen asing dan dunia industri pada umumnya. Itulah yang dimaksud dengan penyediaan "gedung khusus" untuk sampel dan spesimen barang-barang tersebut, yang diproduksi atau dibuat di luar negeri, dan yang mungkin berharga untuk perbandingan atau referensi’. Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 27-02-1903: ‘Pameran Industri Nasional kelima, yang dibuka di Osaka pada tanggal 1 Maret, menjanjikan kesuksesan yang gemilang. Antusiasme para peserta pameran begitu besar sehingga panitia terpaksa mengurangi ruang yang sebelumnya dialokasikan untuk setiap peserta. Perusahaan-perusahaan yang terkena dampak kini telah memutuskan untuk membangun gedung dengan biaya sendiri sebagai perluasan pameran. Perusahaan asing juga telah diberikan izin untuk menyelenggarakan pameran di lokasi yang berdekatan, dan ini telah diterima dengan antusias, terutama oleh perusahaan Amerika, Jerman, dan Austria. Upacara pembukaan kemungkinan akan dipimpin oleh Kaisar sendiri, dan hadiah akan diberikan pada tanggal 1 Juli. 150 siswa, yang telah lulus ujian di Sekolah Bahasa Asing, telah ditunjuk untuk memandu pengunjung asing’. Sumatra-bode, 08-08-1903: ‘Hindia Belanda di Pameran Osaka. Pameran industri nasional di Osaka, yang dibuka untuk umum selama beberapa bulan, tampaknya merupakan pameran industri paling sukses dari lima pameran industri yang diadakan di Jepang. Patut dicatat bahwa negara-negara dengan partisipasi terbesar adalah koloni, yaitu Kanada dan Hindia Belanda. Banyak negara Eropa diwakili oleh perusahaan swasta. Austria diwakili oleh Messrs. Heller Bros. Australia juga berpartisipasi, meskipun dengan ruang terbatas, mungkin kurang dari yang awalnya direncanakan pemerintah. Salah satu bagian utama pameran dan daya tarik utama bagi pengunjung Jepang adalah bagian yang menampilkan sampel dari Hindia Belanda. Bagian Hindia Belanda terletak di dekat gedung utama dan mudah dibedakan dari yang lain. Terdapat etalase besar yang terisi penuh, dan dua pintu masuk menyediakan akses ke bagian tersebut. Salah satu hal yang pertama kali menarik perhatian pengunjung adalah lambang negara Belanda di atas patung perunggu Ratu Belanda. Lambang kerajaan ditempatkan di atas dua patung kayu dewa Jawa yang terbuat dari kayu Djatti (Jawa Jati). Patung-patung dewa kecil ini dilukis dengan indah dan berharga menggunakan warna kuning, merah, dan emas, dan merupakan daya tarik utama bagi pengunjung yang lebih menyukai ini daripada sampel batubara dan mineral bermanfaat lainnya yang tersedia di dekatnya. Terdapat juga model korek api Jawa yang sangat bagus terbuat dari kayu Djatti, dengan panjang sekitar lima kaki dan tinggi satu kaki. Bagian ini berisi produk-produk yang dikirimkan langsung oleh pemerintah Hindia Belanda atau oleh perusahaan swasta. Sebagian besar bagian dikhususkan untuk karya seni asli yang dikirim oleh "Asosiasi Timur dan Barat". Sekitar lima atau enam ratus barang dikirimkan oleh Asosiasi ini, berupa benda-benda yang bermanfaat, unik, dan berharga. Semua barang ini dijual. Terdapat benda-benda logam yang dibuat dengan rumit, alat-alat yang tidak biasa, dan di lemari lain, terdapat kotak cerutu, pipa, tempat pena, teko, kotak roti, kotak kartu, asbak, dll. Kotak cerutu dan barang-barang lainnya terbuat dari gutta-percha, timah, dan logam lainnya. Di bagian kain, dipamerkan sarung, kain sutra, penutup kursi, jilbab, dll. Seluruh koleksi Asosiasi menunjukkan keahlian luar biasa yang dimiliki penduduk asli dalam hal-hal yang tidak diajarkan kepada mereka oleh Belanda. Objek yang dipamerkan pemerintah terdiri dari serangkaian peta, yang diproduksi oleh biro topografi, yang menunjukkan posisi dan keunggulan militer, ekonomi, dan geografis koloni. Jalur kereta api, batubara, timah, dan tambang garam diwakili oleh produk-produknya, dan juga mengenai produk pertanian dan kehutanan, pemerintah mengirimkan sampel berharga, termasuk: karet, gutta-percha, dan berbagai jenis kulit kina. Budidaya kakao diwakili oleh berbagai pohon kakao, kulit kakao, dan berbagai jenis biji rami. Katalog departemen Hindia Belanda juga patut disebutkan. Karya yang disusun oleh Bapak H. Rud. du Mosch, perwakilan pemerintah Hindia Belanda, memiliki lebih dari 200 halaman dan berisi teks bahasa Inggris dan Jepang. Katalog ini tidak hanya bermanfaat bagi pengunjung pameran tetapi juga akan sangat bermanfaat bagi pedagang Jepang dan asing di tahun-tahun mendatang. Buku ini memberikan gambaran singkat tentang perdagangan Belanda dengan Jepang, deskripsi bentuk pemerintahan di Hindia Belanda, populasi, mineral, dan produk pertanian. Semua ini dijelaskan secara singkat dan jelas dalam buku ini. Selanjutnya, terdapat katalog produk departemen Hindia Belanda di pameran Osaka, dalam bahasa Jepang dan Inggris’. 


Kehadiran produk-produk Indonesia dalam pameran industri di Osaka pada tahun 1903 boleh jadi telah membuka mata Jepang tentang kekayaan alam Indonesia. Lantas dengan demikian apakah Jepang semakin tertarik ke Indonesia? Satu yang jelas, dalam perkembangannya, Jepang menganeksasi kepulauan Ryukyu (pulau-pulau kecil antara Jepang dan pulau Formasa). Nasib pulau Formosa dan kepulauan Ryukyu kurang lebih sama. Pulau Formosa didominasi imigran Cina yang kemudian dianeksasi Jepang. Kepulauan Ryukyu yang hanya terdiri kelompok populasi asli diakuisisi Jepang.


Deli courant, 07-10-1908: ‘Kita melihat Jepang mengambil alih jembatan dengan serius segera setelah mengambil alih, pertama-tama untuk menegaskan dominasi politiknya, tetapi juga untuk segera mengasimilasikan rekan-rekan barunya ke dalam ras yang berkuasa. Hal ini berjalan sangat mudah bagi penduduk kepulauan Ryukyu yang damai. Di Formosa, jumlah imigran Jepang yang berimigrasi terlalu sedikit dibandingkan dengan tiga juta penduduk Cina dan laporan tentang pulau ini terlalu langka untuk memberikan gambaran sebenarnya tentang kemajuan penjajahan. Suku-suku asli di Timur pulau, yang kekuasaannya tidak pernah bisa dipatahkan oleh suku China pada masa pemerintahan mereka, kini dengan tekun dikalahkan dan, jika laporan resmi dapat dipercaya, penaklukan mereka (oleh Jepang) hanya tinggal menunggu waktu saja. Kepulauan Ryukyu, Formosa, Hokkaido dan Sacha akan diserap oleh Jepang dan diubah menjadi bagian keseluruhan yang lebih besar’. 

Jepangi kemudian tampaknya lebih bereaksi lagi dengan menginvasi Korea pada tahun 1910. Dalam pekermbangannya, terinformasikan bahwa orang-orang Belanda sudah mulai khawatir tentang eksistensi mereka di Indonesia (baca: Hindia Belanda). 


Het nieuws van den dag, 31-03-1923: ‘Belanda dan Timur Jauh. Menteri Luar Negeri Tiongkok, Huang Fu, telah mengundurkan diri karena pihak berwenang di Tiongkok menuduhnya lemah dalam kampanyenya untuk menghapus 21 tuntutan Jepang. Daftar 21 tuntutan Jepang ini diserahkan kepada Pemerintah Republik Tiongkok pada tanggal 18 Januari 1915, oleh Duta Besar Jepang di Peking, Eki Hioki. Pada tanggal 7 Mei, sebuah ultimatum dikeluarkan dengan masa pertimbangan dua hari, dan sebelum dua hari itu berlalu, Tiongkok telah menyerahkan Tsing-tou dengan tikungan Kiauchou, Manchuria Selatan, jalur kereta api ke Mongolia Timur, dan provinsi Shantung kepada pengaruh Jepang yang sebagian langsung dan sebagian tidak langsung selama sembilan puluh sembilan tahun. Dan Tiongkok, untuk waktu yang lama ke depan, memiliki uang untuk para menterinya, para jenderalnya, untuk jutaan pejabat dan tentaranya... Kekuatan-kekuatan besar: Inggris, Prancis, dan Amerika, yang sangat terganggu oleh peningkatan kekuatan Jepang yang belum pernah terjadi sebelumnya di Tiongkok, terlalu terikat oleh Mars sehubungan dengan Perang Dunia sehingga tidak mampu melakukan tindakan balasan segera. Setelah dua setengah tahun kerja diplomatik, mereka berhasil, pada tanggal 14 Agustus 1917, memaksa Republik Tiongkok untuk menyatakan perang terhadap Jerman dan Austria-Hongaria, sehingga menempatkan Tiongkok pada kedudukan yang sama dengan Jepang sebagai sekutu. Oleh karena itu, Tiongkok dapat lebih adil menuntut agar Jepang selanjutnya tetap menjadi penguasa di negaranya sendiri. Kerusuhan terkenal mahasiswa Tiongkok terhadap Jepang pun terjadi, begitu pula boikot dan pembakaran barang dagangan Jepang, sebuah metode yang bahkan ditiru oleh orang Tiongkok di kepulauan kita. Demonstrasi ini tidak banyak membantu Tiongkok. Sekarang kita melihat upaya itu terulang, dan bukan tidak mungkin kali ini protes Tiongkok akan sedikit lebih bermartabat daripada yang ditunjukkan oleh pembakaran barang dagangan. Sekilas, tampaknya ada lebih banyak kekuatan di balik gerakan ini: Dewan Perwakilan Rakyat di Peking, dan akibatnya pemerintah Tiongkok, telah menyatakan keinginan untuk mencabut perjanjian yang disepakati dengan Jepang pada tahun 1915 (hasil dari 21 Tuntutan tahun itu). Kabinet, yang ingin mengundurkan diri, tetap menjabat untuk mendukung tuntutan Dewan Perwakilan Rakyat, tetapi memecat Menteri Luar Negeri, Huang Fu, karena dianggap terlalu longgar dalam tindakannya terhadap Jepang. Dan tokoh kuat Tiongkok, Wu-Pei Fu, tampaknya, sehubungan dengan masalah ini, telah mengamankan pengangkatan dua pendukungnya sebagai gubernur provinsi-provinsi penting di tenggara, yaitu Foki dan Kwantung. Semuanya menunjukkan bahwa situasi di Timur Jauh menjadi lebih menarik, bahkan lebih panas. Dan, kita, keturunan bangsa perdagangan Belanda yang giat, sekarang bertanya pada diri sendiri, sambil dengan gembira menggosok-gosok tangan kita, bagaimana posisi kita terkait konflik ekonomi di Timur Jauh ini, kita, dengan wilayah tetangga kita yang berpenduduk lima puluh juta jiwa dan defisit 1.200 juta guilder? Jawabannya adalah: sama seperti dalam semua konflik ekonomi lainnya, di mana pun konflik itu terjadi di dunia. Kita menunggu dan melihat, dan terus tersenyum ramah, bahkan ketika apa yang diharapkan tidak terjadi. Lagipula, diplomasi kita melindungi kita, bukan? Bukankah Menteri Luar Negeri kita juga membantu kita—antara lain, dengan berbicara bahasa Prancis dengan fasih di Konferensi Paris dengan Empat Besar—ketika Belgia ingin mencuri Limburg Selatan dari kita, bersama dengan Zeeuwsch-Vlaanderen? Bukankah kita memuji dan mengapresiasinya untuk itu? Namun... justru terkait dengan masalah Belgia di masa lalu dan masalah Timur saat ini, ada baiknya untuk memperhatikan apa yang ditulis oleh "Indische Post" pada 10 Februari 2011, tentang sebuah laporan yang berasal dari Belgia, sebagaimana yang awalnya diterbitkan di "XXe Siècle," yang diterbitkan di Brussels. Kisah ini, yang oleh "Indische Post" disebut "sangat mengejutkan," menyangkut peristiwa yang diduga terjadi di balik layar selama perang sehubungan dengan Hindia Belanda. Singkatnya: Inggris tidak akan membiarkan Belgia menginginkan negara kita, untuk mencegah Jepang membantu Sekutu dengan menduduki Hindia Belanda. Jepang tampaknya sangat menginginkan hal ini, didorong oleh petugas informasi seperti Takekoshi, dan yakin bahwa negara itu akan memperoleh pengaruh signifikan dengan koloni lima puluh juta orang Melayu dan sejenisnya di Nanjo (Laut Selatan). Jepang dapat menduduki Hindia Belanda dengan hati nurani yang bersih jika musuh-musuhnya berani menyerang Tanah Air. Lagipula, itu hanya akan memainkan permainan yang sama seperti yang mereka lakukan dengan Jerman dan Kiautsjou. Di situlah letak kesalahan Jhr. Van Karnebeek! Bukan karena kefasihannya berbahasa Prancis, bukan karena ketajaman diplomatiknya, tetapi karena fakta bahwa Inggris tidak menginginkan Jepang. Fakta bahwa kita ingin begitu dekat dengan Australia dan India Britania memastikan bahwa kita mempertahankan Limburg dan Flanders tanpa tersentuh. Diplomasi kita karenanya diagungkan secara tidak adil. Atau apakah Kementerian Luar Negeri menyajikan gambaran yang berbeda tentang masalah ini? Terlepas dari itu, kita memiliki terlalu sedikit tunas muda yang tumbuh menuju Timur Jauh. Salah satu dari sedikit di Tiongkok adalah Perusahaan Pekerjaan Pelabuhan Belanda, yang baru-baru ini kembali melakukan pekerjaan yang luar biasa untuk pelabuhan Chifu. Sejak masa kejayaannya di abad ketujuh belas, semua yang lain telah layu di tangan diplomasi yang menderita arteriosklerosis, selalu waspada terhadap kemungkinan kegagalan. Ini berarti bahwa, misalnya, kontak dengan Jepang, yang tampaknya mendapatkan kembali pentingnya selama dan setelah perang, sekarang terancam berakhir dengan kegagalan. Edisi lain dari "Indische Post," yang agak lebih lama, menggambarkan makan malam perpisahan yang ditawarkan oleh pedagang Jepang kepada duta besar kita, Bapak A.C.D. de Graeff, yang akan berangkat ke pos barunya di Washington. Surat kabar "Indische Post" menggambarkan bagaimana duta besar dengan tajam mengungkapkan kekesalannya atas kenyataan bahwa kecenderungan anti-Belanda kembali terlihat dalam pesan-pesan Jepang yang sampai ke Jepang dari Hindia. Duta besar didengarkan dengan hormat dan menjawab bahwa penerjemahnya telah menerjemahkan pidato tersebut dalam bahasa Jepang yang sangat baik. Dengan kata lain, dengan cara Timur yang paling sopan, dikatakan: "Kami tidak ingin menyangkal, dan kami juga tidak ingin membahasnya." Demikianlah utusan itu pergi, sambil menggerutu kepada orang Jepang, sebagai pengakuan atas kekuatan diplomasi Belanda. Di hadapan kita terdapat surat dari Siam, yang berisi keluhan: "Mereka yang di Belanda yang mengetahui sesuatu tentang Timur Jauh semuanya berkumpul dalam satu lingkaran kecil.... Namun, mereka sangat berhati-hati untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang menembus lingkaran ini, karena jika tidak, bagian pribadi mereka akan menjadi agak lebih kecil." Keluhan ini, yang sering kita dengar secara lisan di Timur dalam bentuk yang berbeda, berarti bahwa tunas-tunas hidup yang dikirim Belanda ke Timur Jauh hampir semuanya terhambat pertumbuhannya oleh diplomasi yang tidak dapat dipahami dan misterius, tanpa darah, tanpa kehidupan, mirip dengan yang umumnya kita lakukan di Eropa. Dan—bukankah mungkin sebaliknya di Eropa—di Timur Jauh sana segala sesuatu bergejolak dan berkembang, di sana kemungkinan-kemungkinan baru lahir dari konflik ekonomi. Ke sanalah orang-orang yang hidup harus pergi, dengan tangan terbuka dan gigi terkatup, tetapi tidak dipimpin (atau dihancurkan) oleh perjuangan yang didominasi oleh internasional: (bukan) dengan Engkau, (bukan) tentang Engkau, (tetapi) tanpa Engkau. 


Lantas bagaimana dengan respon orang Indonesia sendiri dalam eskalasi politik yang baru di Timur Jauh? Yang jelas orang Indonesia sudah sejak lama mengetahui kemunculan kekuatan baru di Asia. Lagi pula sudah sangat banyak orang Jepang yang berada di Indonesia seperti Batavia, Soerabaja, Medan, Manado dan bahkan di Solo.


Pada tahun 1918 di Medan radaktur surat kabar Pewarta Deli Parada Harahap berhasil membongkar praktek prostitusi di hotel mewah di Medan dimana para mucikari mendatangkan wanita-wanita Jepang melalui Singapoera. Terhadap kasus ini konsulat Jepang dui Medan berterimakasih kepada Parada Harahap. Pada tahun 1922 Parada Harahap hijrah ke Batavia. Parada Harahap juga cukup dekat dengan konsulat Jepang di Batavia.. 

Di Belanda sudah sangat banyak mahasiswa Indonesia yang studi di berbagai bidang. Bahkan di Belanda sudah ada organisasi mahasiswa sejak 1908. Dalam Kongres Indonesia yang diadakan Indonesisch Verbond sempat muncul pertanyaan dari mahasiswa Belanda asal Hindia mengapa mahasiswa pribumi asal Hindia selalu memperbandingkan Hindia Belanda dengan Jepang (lihat Algemeen Handelsblad, 02-02-1919). Bagaimana dengan mahasiswa asal Jepang di Belanda? Yang jelas pada tahun 1919 seorang mahasiswa Belanda menulis disertasi berjudul “De internationaalrechtelijke betrekkingen tusschen Nederland en Japan (1605-heden)” (Hubungan hukum internasional antara Belanda dan Jepang (1605-sekarang)) (lihat Algemeen Handelsblad, 17-01-1919). Delftsche courant, 10-03-1919: ‘NIPA di Amsterdam mengetahui bahwa perusahaan pelayaran Jepang Nion Yusher Kaisja akan membuka layanan dari Jepang melalui Hindia Belanda ke Rotterdam paling cepat bulan depan. Perusahaan Ph. van Ommeren di Rotterdam bertindak sebagai perwakilannya’. 


De Sumatra post, 15-11-1923: ‘Tokyo School for Foreign Languages (Sekolah Bahasa Asing Tokyo) akan dibuka kembali pada tanggal 1 November. Rencananya akan dibangun gedung baru untuk penggunaan sementara di lahan Departemen Pendidikan. D van Hinloopen Labberton dari Sydney telah ditunjuk sementara untuk menggantikan Dr J Feenstra Kuiper, yang telah mengundurkan diri dengan hormat. Setelah menyelesaikan studinya dalam bahasa Belanda, Sumitaka Asakura, yang saat ini sedang melakukan perjalanan ke Belanda, kemungkinan akan ditunjuk untuk menggantikan Labberton. Seperti dalam semua hal di negara ini, orang asing digantikan oleh staf Jepang setiap kali ada kekurangan, meskipun hanya sedikit. Fakta bahwa kualitas seringkali menurun tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah segala sesuatunya berjalan lancar. Tidak hanya dalam hal pendidikan, seperti ini, tetapi juga di perusahaan industri, orang asing diberhentikan setelah jangka waktu yang lebih pendek atau lebih lama. Oleh karena itu, sangat sulit bagi orang asing untuk ditempatkan di sini, kecuali di bidang perdagangan, ketika mereka mendirikan sesuatu sendiri, di rumah atau perusahaan industri Jepang. Orang-orang Belanda dari Belanda atau Hindia Belanda, yang datang ke sini mencari pekerjaan, keliru mengira semuanya akan mudah, tetapi mereka segera menyadari bahwa Jepang sama sekali bukan Amerika, di mana, sejak zaman dahulu kala, tentu saja tidak termasuk periode depresi, pekerjaan tersedia bagi siapa pun yang mau dan mampu, dan tidak malu untuk mengambil pekerjaan apa pun. Tidak jauh berbeda; orang lebih memilih dipekerjakan dari negara itu sendiri dan tidak tertarik pada orang asing, bahkan jika mereka seratus kali lebih cocok dan mampu untuk pekerjaan yang dibutuhkan’. 

Pada tahun 1925 seorang mahasiswa Indonesia yang studi ekonomi di Belanda, Sjamsi Widagda menulis disertasi dengan judulDe ontwikkeling der handelspolitiek van Japan” (Perkembangan kebijakan perdagangan Jepang) dan berhasil lulus di sekolah tinggi perdagangan di Rotterdam pada tanggal 17 November 1925. Doktor Indonesia menulis disertasi tentang kebijakan perdagangan Jepang adalah satu hal. Bagaimana orang Jepang berdagang ke Indonesia adalah hal lain lagi. Yang jelas di Jepang sudah ada asosiasi perdagangan laut selatan. Hasil konfrerensi Nanjo menjadi salah satu pilihan strategi perdagangan Pemerintah Jepang. 


Deli courant, 09-02-1927: ‘Jepang dan Belanda. Pertemuan dengan Inahata, presiden Kamar Dagang Osaka. Inahata, presiden Kamar Dagang Osaka, yang tiba di Batavia pada tanggal 23 Januari dan tinggal bersama konsul jenderal, Ida, memberikan kesempatan bertemu dengan Java Nippo, yang kami reproduksi di bawah ini. "Pada saat itu, Merlin, Gubernur Jenderal Indochina Prancis, didampingi oleh ketua Kamar Dagang Saigon, Hanoi, dan Haiphong, mengunjungi Jepang. Pangeran Yamagata kemudian dikirim ke Indochina untuk melakukan kunjungan balasan resmi. Kami berharap dapat memanfaatkan kunjungan para pejabat dari Kamar Dagang di Indochina untuk bertukar pikiran tentang revisi tarif bea cukai di negara tersebut dan untuk memperkuat hubungan persahabatan antara Prancis dan Jepang; namun, terlepas dari pertemuan kami, situasinya belum membaik hingga saat ini. Mengingat bahwa perbaikan ini harus dicapai melalui kerja sama, enam Kamar Dagang utama Jepang kemudian merancang rencana untuk mengirim delegasi ke Indochina, juga sebagai bentuk penghormatan balasan. Namun, rencana ini belum terwujud karena jadwal yang padat dari mereka yang terlibat. Saya sekarang telah ditunjuk oleh Federasi Kamar Dagang untuk mengunjungi negara tersebut sebagai perwakilan mereka. Ini adalah tujuan utama perjalanan saya. Saya juga ingin menyampaikan penghormatan saya kepada Raja Siam, yang saya berkesempatan temui selama kunjungannya di Jepang, yang itulah mengapa saya melakukan perjalanan dari Kamboja ke Bangkok dengan kereta api. Akhirnya, sebagai ketua cabang Osaka dari Nanyo Kyokai (Asosiasi Laut Selatan), saya merasa perlu untuk mengenal langsung pusat Nanjo, yaitu Hindia Belanda, oleh karena itu kunjungan saya ke negara tersebut. Jadwal perjalanan saya juga termasuk audiensi dengan Gubernur Jenderal, Jhr de Graeff, yang saya kenal sebagai duta besar di Jepang. “Hubungan ekonomi antara Jepang dan Hindia Belanda secara bertahap meningkat. Tugas apa yang harus dipenuhi negara kita dalam hal ini?”. "Negara kita miskin sumber daya alam; rakyat kita kekurangan bahan-bahan yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari mereka serta untuk industri mereka. Kita selalu memperoleh bahan mentah ini dari Tiongkok, India Britania, dan Amerika, sementara kita belum memanfaatkan sumber daya alam Hindia Belanda, yang relatif dekat. Itu tidak rasional. Bagi saya, saya menganggap Hindia Belanda sebagai negara yang tepat untuk memenuhi kebutuhan bahan mentah kita. Oleh karena itu, kita harus menginvestasikan lebih banyak modal dalam bidang pertanian untuk mendorong keterbukaan negara ini, terutama karena, tidak seperti Indo-China, doktrin "pintu terbuka dan kesempatan yang sama" dijunjung tinggi. Sebagai pusat industri, Osaka semakin merasakan kebutuhan akan bahan baku, dan mereka juga ingin menjalin kontak yang lebih besar dengan Hindia Belanda melalui investasi modal dan pendirian perusahaan baru. Di wilayah Yangtze saja, Osaka telah menginvestasikan lebih dari 200 juta yen, tetapi dengan semua gejolak dan perang Urgor saat ini, investasi lebih lanjut mungkin tidak mungkin dilakukan. Oleh karena itu, tampaknya perlu—dan jauh lebih aman—untuk menginvestasikan modal kita di Hindia Belanda. Kita kemudian dapat fokus pada produksi nutrisi dan bahan baku untuk industri Jepang atau memulai budidaya baru; produk yang diperoleh dapat dikirim langsung ke negara kita, yang menurut saya sangat penting. Osaka memiliki kepentingan yang lebih besar di Hindia Belanda daripada bagian Jepang lainnya, sebagaimana terbukti dari fakta bahwa masyarakat Osaka telah mendesak saya untuk melakukan perjalanan studi ke sini sebagai perwakilan mereka. Kelangsungan hidup kita sebagai bangsa, kemakmuran kita, bergantung sampai batas tertentu pada keberhasilan kita dalam perlombaan untuk mendapatkan bahan baku, dan sudah jelas bahwa kita lebih memilih untuk beralih ke negara sahabat untuk pasokan bahan-bahan yang sangat penting ini daripada ke negara di mana kita tidak diperlakukan setara. Dalam hal ini, Hindia sangat cocok bagi kita, dan ini harus menjadi panggilan ekonomi kita terhadap negara ini”. Di Hindia, masih ada pasar yang besar untuk barang-barang Jepang. Apakah ada rencana khusus untuk meningkatkan volumenya di negara ini? “Saat ini kami sedang meminta para ahli di bidangnya untuk menyelidiki masalah ini. Perusahaan perdagangan, yang saat ini berada di Singapura dan akan segera mengunjungi Hindia, bertujuan untuk menemukan pasar baru untuk produk Osaka. Lebih banyak perusahaan serupa, yang terdiri dari para ahli, akan dikirim untuk tujuan yang sama.| “Bagaimana opini umum di Jepang?”. Bagaimana pendapat dunia bisnis Jepang mengenai hasil Konferensi Laut Selatan? "Pertama, Konferensi Laut Selatan mempertemukan para duta besar dan penasihat jenderal kita dari berbagai wilayah Nanyo dan memberi mereka kesempatan untuk memberikan laporan yang akurat tentang kondisi ekonomi di wilayah masing-masing; tanpa konferensi itu, semua pedagang dan industrialis tersebut tidak akan pernah dapat duduk dengan tenang dan mengenal sejumlah besar detail ini. Kedua, konferensi tersebut membangkitkan kembali keinginan untuk ekspansi di Nanyo. Ketiga, konferensi tersebut menanamkan gagasan yang lebih akurat tentang Nanyo kepada masyarakat; anggapan lama, seperti bahwa perjalanan ke Nanyo akan membahayakan nyawa, bahwa seseorang harus selalu membawa kina, dan bahwa itu adalah negara liar yang penuh dengan orangutan, setidaknya telah dikoreksi. Dan pemerintah Jepang saat ini sedang mempertimbangkan bagaimana secara bertahap menerapkan usulan konferensi tersebut. Terakhir, konferensi tersebut telah memperkuat keinginan untuk mengenal Nanyo melalui penelitian pribadi". "Bagaimana pendapat Anda mengenai kerusuhan baru-baru ini di Hindia?" Bagaimanapun, Belanda adalah negara kolonial, dan oleh karena itu kami mengambil sikap yang sama dengan Belanda dalam menghadapi kerusuhan ini. Saya sangat berharap bahwa hukum dan ketertiban akan dijaga di bawah otoritas Belanda yang kuat, dan bahwa Hindia Belanda akan terus berkembang’. 

Nanjo Kyokui, atau Asosiasi Laut Selatan, berencana untuk mengirim sekitar sepuluh pemuda Jepang ke Sumatra. Sebagaimana diketahui, orang-orang Jepang sudah lama ada di Indonesia bahkan cukup banyak populasinya di Medan. Lantas apakah sudah ada orang Indonesia ke Jepang? Tampanya belum. Yang sudah terinformasikan ada orang Melaya dari Singapoera yang telah mengajar bahasa Melayu di Jepang. 


Deli courant, 17-01-1930: ‘Menurut laporan dari Layanan Nichi-Nichi di Straits Times, Nanjo Kyokui, atau Asosiasi Laut Selatan, berencana untuk mengirim sekitar sepuluh pemuda Jepang ke Sumatra tahun ini untuk mendapatkan pengalaman dalam perdagangan. Kami telah melakukan penyelidikan tentang hal ini; rencana seperti itu memang ada, meskipun belum ada yang diputuskan dengan pasti. Tujuannya adalah agar para pemuda tersebut berdagang langsung dengan penduduk asli dan orang Cina, tanpa menggunakan perantara. Setelah tiga tahun, mereka akan memiliki prospek untuk membuka toko mereka sendiri, yang modalnya akan disediakan oleh Asosiasi Laut Selatan’. 

Lalu kemudian Jepang melakukan invasi ke Manchuria pada tahun 1931. Pada tahun 1931 ini Jepang melancarkan invasi nyata ke pasar dunia dengan produk-produk murahnya, membanjiri kepulauan Indonesia khususnya dengan barang-barangnya, sebagai akibat dari krisis ekonomi global dan devaluasi mata uang Jepang. Untuk tujuan ini, dengan slogan "Barang-barang Jepang oleh tangan Jepang," posisi monopoli diupayakan dengan sekuat tenaga. Tujuannya adalah agar pasokan barang-barang Jepang dilakukan secara eksklusif oleh kapal-kapal Jepang, dioperasikan oleh eksportir Jepang, dibiayai oleh bank-bank Jepang, dan distribusi di Hindia Belanda dilakukan oleh pengecer Jepang. Invasi produk Jepang ke Indonesia ini sebagai tindakan nyata dari Nanshin-ron (faham menuju ke selatan). Sementara itu, orang Jepang sudah berada di berbagai belahan bumi bahkan di Amerika dimana penerbang Jepang terinformasikan pada tahun 1932, tewas ketika pesawatnya jatuh ke air di dekat Brooklyn. 


De locomotief, 01-04-1932: ‘Kecelakaan  pesawat Jepang. 1,5 Menit Setelah Penerbangan Lintas Pasifik. New York, 30 Maret (Aneta-Iwaki). Kapten Yoshinori Nagoya, seorang penerbang Jepang, tewas ketika pesawatnya jatuh ke air di dekat Brooklyn. Pesawat tersebut, sebuah Bellanca, yang dinaiki Nagoya bersama Sersan Asai untuk melakukan penerbangan lintas Pasifik, baru mengudara selama satu setengah menit ketika kecelakaan itu terjadi’. 

Pada tahun 1933 bulan November Parada Harahap memimpin tujuh revolusioner Indonesia ke Jepang. Di Jepang Parada Harahap dkk disambut dengan sangat meriah. Pers Jepang menjuluki Parada Harahap sebagai The King of Java Press. Sepulang dari Jepang pada tanggal 13 Januari 1934 di pelabuhan Tanjoeng Perak Soerabaja, pada hari yang sama Ir Soekarno diasingkan ke Flores. Pada tahun 1934 terinformasikan sudah ada isu tentang “sentiment anti Jepang” diantara orang Eropa/Belanda di Indonesia. 


De locomotief, 27-04-1934: ‘Sistem "barter". Surat kabar Chugai mencantumkan serangkaian telegram peringatan yang diterima oleh berbagai perusahaan dan organisasi di Jepang dari Hindia Belanda, termasuk cabang Bank Taiwan di Batavia, Ishihara Industrial Co di Surabaya, Asosiasi Perdagangan Jepang di Batavia, dll. Setelah membaca telegram-telegram ini, Fumio Nanjo, presiden Mitsui Bussan Kaisha, menyatakan pendapatnya: "Sistem perizinan telah diterapkan pada beberapa barang, tetapi cakupannya diharapkan akan diperluas. Namun, sistem perizinan perdagangan mungkin sulit diterapkan secara diplomatis. Di Hindia Belanda, terdapat kelompok besar warga negara Inggris, Inggris-India, dan negara-negara lain, selain Belanda dan Jepang. Akan sulit untuk membatasi perdagangan pedagang Jepang saja. Sistem 'barter' mungkin berguna untuk mengubah sentimen anti-Jepang, tetapi normalitas hanya dapat dipulihkan jika kedua belah pihak melakukan pengorbanan yang sangat serius". Sementara itu, Kementerian Perdagangan Jepang tampaknya terus berupaya meningkatkan impor minyak mentah dari Hindia Belanda. Pertemuan para pejabat tinggi pemerintah baru-baru ini diadakan di kementerian, di mana, menurut surat kabar Jepang, terjadi "diskusi yang sangat panas". Akhirnya, disepakati untuk memberikan penekanan khusus pada pentingnya peningkatan impor minyak "sebagai bagian dari kebijakan fundamental pemerintah," berdasarkan pertimbangan berikut: 1. Tidak ada bahan baku lain yang sesuai yang dapat diperoleh dalam jumlah besar dari Hindia Barat. 2. Dengan mempertimbangkan kebutuhan aktual akan barang-barang Jepang di Hindia Barat, situasi industri dalam negeri di Hindia Barat, dan prospek masa depan barang-barang Jepang di pasar Hindia Barat, masalah yang muncul antara kedua negara harus diselesaikan melalui cara politik. 


Sementara orang Jepang terus mencoba “mendobtrak” pintu perdagangan ke Hindia Belanda, para pemimpin Indonesia sudah mulai banyak yang diasingkan. Namun begitu jumlah sarjana Indonesia terus meningkat. Hingga tahun 1936, sudah ada sebanyak 59 orang Indonesia yang meraih gelar doktor dalam berbagai bidang di Eropa/Belanda. Sementara di Belanda juga ada sejumlah orang Jepang yang studi. Tentu saja sebagai sesama orang Timur, orang Asia antara mahasiswa Jepang dan mahasiswa Indonesia dekat satu sama lain. Salah satu mahasiswa Jepang yang studi di Belanda adalah Erin Asai. Pada tahun 1936 Erin Asai menyelesaikan disertasi dengan judul “A study of the Yami language: An Indonesian language spoken on Botel Tobago Island”. Lantas mengapa Erin Asai menggunakan nama Indonesia dalam judul disertasinya? Boleh jadi itu sebagai balasan kepada doktor Indonesia sebelumnya Sjamsi Widagda yang menulis disertasi berjudul De ontwikkeling der handelspolitiek van Japan”. Kahadiran Parada Harahap dkk di Jepang pada tahun 1933 diduga juga menjadi nama Indonesia semakin dikenal di Jepang.


Seperti disebut di atas, Sartje Specx, putri Jaques Specx keturunan Jepang menikah dengan seorang pendeta dan kemudian berangkat ke Formosa. Sartje Specx meninggal di Formosa tahun 1636 sebelum berusia 20 tahun. Bahasa Babuza sudah punah tetapi bahasanya masih lestari dalam berbagai bentuk dokumen sejarah masa lampau. Kamus Dialek Favorlang Bahasa Formosa, oleh Gilbertus Happart: ditulis tahun 1650. Lalu apakah sejarah Babuza yang dalam hal ini bahasa Favorlang diketahui orang di Indonesia? Tentu saja iya, sebab ada nama Dr Walter Handry Medhurst. Lihat juga ‘Favorlangsch Woordenboek’ (Tijdschrift voor Neerland's Indie, 1839). Disebutkan kamus kuno itu ditemukan dalam naskah di Arsip Gereja Reformasi (Archiven der Hervormde Gemeente) di Batavia. Dr Walter Handry Medhurst pernah menulis artikel berjudal Over een Favorlangsch Woordenboek yang diterbitkan di Batavia pada tahun 1840.  Medhurst juga mencetak di Batavia buku Gilbertus Happart: Kamus Dialek Pavorlang Bahasa Formosan, ditulis tahun 1650, yang diterjemahkan sendiri oleh WH Medhurst (lihat Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, 1917-1939). Catatan: Dr Walter Handry Medhurst adalah salah satu Sinolog terbaik; revisi terjemahan Alkitab berbahasa Mandarin sebagian besar adalah karyanya. Walter Handry Medhurst lahir di London, 1796. Dari tahun 1819 hingga 1822, Medhurst bekerja di Poelau Pinang, setelah itu dia menetap di Batavia. Dia sudah akrab dengan bahasa China dan Melayu dan bekerja terutama di antara orang Tionghoa, tetapi juga di antara orang berbahasa Melayu. Beliau adalah pendiri Gereja Inggris di Batavia dan Gereja Inggris di Parapatan. Pada tahun 1835 Medhurst melakukan perjalanan penjelajahan penting di sepanjang pantai Tiongkok, diundang oleh masyarakatnya, termasuk misionarisnya di Tiongkok, Dr. Morrison, Pada tahun berikutnya ia kembali ke Batavia. Lalu di Batavia ia mendirikan sebuah sekolah pelatihan bagi kaum muda Tiongkok, yang terhubung dengan Institut Parapattan; istrinya mengurus pendidikan para gadis Tionghoa. Ketika misi tersebut diterima di Tiongkok pada tahun 1842, dia berangkat ke Shanghai pada tahun berikutnya, di mana dia juga mendirikan percetakan dan terus melayani pekerjaan misionaris dengan berbagai cara melalui khotbah, pengajaran, perjalanan dan karya sastra. Karya Dr Walter Handry Medhurst tentang orang Babuza berbahasa Favorlang dapat dianggap sangat penting. Salah satu artikelnya berjudal Over een Favorlangsch Woordenboek yang diterbitkan di Batavia pada tahun 1840. Walter Handry Medhurst juga telah menerjemahkan dan mencetak di Batavia buku kamus berbahasa Babuza berjudul: Gilbertus Happart: Dictionary of the Pavorlang dialect of the Pormosan (Gilbertus Happart: Kamus Dialek Pavorlang Bahasa Formosan), diterbitkan tahun 1650, Dr Walter Handry Medhurst adalah salah satu Sinolog terbaik. 

Erin Asai dalam disertasi doktornya di Belanda (1936) menyebut sudah menjadi rahasia umum bahwa disana hidup ras Indonesia di Formosa, dan orang Jepang menyebutnya Ban-zoku atau Takasago-zoku yang termasuk suku asli Indonesia, tidak hanya di Formosa, tapi juga di pulau kecil Botel Tobago. 


Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 15-05-1934: ‘Seorang Profesor Jepang. Studi Bahasa Jawa. Saat ini, Profesor Asai dan istrinya sedang tinggal bersama Sawabe, pemilik toko Jepang besar Fuji di Djokja, dan perwakilan masyarakat Jepang di kota kesultanan. Mereka telah mengunjungi kraton, serta Pangeran Tedjokoesoemo untuk menyaksikan latihan tari. Kami mendapat informasi bahwa profesor Jepang ini sedang dalam perjalanan ke Belanda, di mana ia akan melanjutkan studinya dalam bahasa Jawa di Leiden’. Het Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad, 11-10-1934: ‘Esperanto. Komunitas Esperantis yang berkembang akan memulai musim ini dengan pertemuan publik yang meriah pada tanggal 17 Oktober di Diligentia. Pada pertemuan ini, kebenaran slogan "Esperanto Sekarang Diperlukan" akan dibuktikan. Setelah panel pembicara, yang terdiri dari Walikota, Ir Damme, Direktur Jenderal Layanan Pos, dan Profesor E Asai dari Universitas Osaka, memberikan slogan tersebut bentuk formal dan resminya sebelum istirahat, Andreo Cseh akan menghilangkan semua keraguan seperti Michael dengan salah satu ceramah publiknya yang terkenal. Pertemuan ini akan diselenggarakan oleh Asosiasi Esperantis Den Haag Fine Gi Venkos’. De Telegraaf, 03-05-1935: ‘Malam bertema Jepang. Pidato oleh duta besar. Amsterdam, 2 Mei. Pada tanggal 23 Mei, makan malam bertema Jepang akan diadakan di aula perjamuan Krasiiapiuky, menampilkan duta besar Jepang, T Takatomi, dengan topik: "Hubungan Persahabatan antara Belanda dan Jepang." Profesor Dr Rahder, profesor di Universitas Leiden, akan memberikan gambaran umum tentang sejarah Jepang. Turut berbicara juga Profesor Dr E Asai dari Osaka (Jepang), profesor di Universitas Kekaisaran di Osaka: "Tentang Jepang", dengan pemutaran film Mms (film-1: Kloto dan Nara; film--2 festa di Jepang). Sesi istirahat akan diisi dengan musik Jepang (musik rakyat dan modern)’. De Zuid-Willemsvaart, 25-05-1935: ‘Prof Dr Asai adalah profesor Filologi di Universitas Kekaisaran di Osaka, menyampaikan pidatonya dalam bahasa Esperanto, dimulai dengan kata-kata berikut: "Pada pertemuan internasional, saya lebih suka berbicara dalam bahasa internasional, itulah sebabnya saya juga berbicara dalam bahasa Esperanto hari ini". Bredasche courant, 25-02-1936: ‘Ujian akademik. Leiden. Meraih gelar doktor dalam bidang sastra dan filsafat untuk disertasinya yang berjudul: " A study of the Yami language: An Indonesian language spoken on Botel Tobago Island" oleh E. Asai, lahir di Ishikawa-Ken, Jepang’. 

Studi Erin Asai ini menjadi penting, karena studi ini telah mempertegas kembali adanya hubungan antara Indonesia (nusantara) dengan pulau-pulau di utara mulai dari Filipina, Formosa hinga Ryukyu. Jejak bahasa sangat jelas terlihat, dan juga profil penduduk di Formosa dan kepulauan Ryukyu, alih-alih sebagai orang Jepang, justru lebih mirip dengan orang Indonesia.

 

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar