*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini
Sejarah mahasiswa Jepang yang menempuh studi di luar negeri telah berlangsung selama berabad-abad, bertransformasi dari misi keagamaan menjadi alat modernisasi nasional yang krusial. Mahasiswa pertama kali dikirim ke Tiongkok (terutama selama Dinasti Sui dan Tang) untuk mempelajari teknologi, hukum, dan ajaran agama Budha. Di bawah ancaman kolonialisme Barat, Keshogunan Edo mulai mengirim mahasiswa ke Belanda (1862), Inggris, dan Prancis untuk menyerap ilmu pengetahuan modern. Studi luar negeri menjadi kebijakan nasional utama selama Restorasi Meiji (1868–1912) dengan slogan "mencari pengetahuan di seluruh dunia" demi modernisasi Jepang.
Sejarah perguruan tinggi di Jepang bermula dari adopsi ilmu pengetahuan Barat pada era Meiji (akhir abad ke-19), dengan berdirinya universitas swasta tertua, Keio University (1858) dan Universitas Doshisha (1875). Universitas modern pertama, Universitas Imperial Tokyo, didirikan pada 1877, mengadopsi model Jerman dan sistem pendidikan Barat untuk memodernisasi negara. Pendidikan tinggi Jepang berkembang pesat melalui kombinasi pengaruh Jerman dan Amerika, bertransformasi dari sistem elitis menjadi institusi riset modern. Pendidikan tinggi modern dimulai dengan fokus pada studi Barat (rangaku). Universitas Keio didirikan oleh Fukuzawa Yukichi pada 1858, disusul sekolah-sekolah swasta lainnya seperti Universitas Meiji (1881). Pemerintah mendirikan universitas kekaisaran (Imperial Universities) untuk melayani kebutuhan negara, dengan Universitas Imperial Tokyo (1877) sebagai yang pertama, diikuti Kyoto (1897) dan Tohoku (1912). Sistem pendidikan tinggi awal mengadopsi model Prusia (Jerman) yang menekankan kebebasan akademik dan penelitian. Setelah 1945, sistem pendidikan Jepang direstrukturisasi di bawah pengaruh Amerika Serikat, mengubah fokus menjadi lebih demokratis dan berbasis pada sistem sarjana (S1) serta pascasarjana modern. Universitas di Jepang saat ini berfokus pada inovasi, riset, dan internasionalisasi, menjadikan banyak dari mereka pusat keunggulan akademik global (AI Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah Perguruan Tinggi di Jepang? Seperti disebut di atas, mahasiswa Jepang pada masa restoraji Meiji semakin banyak yang yang studi ke luar negeri. Meski Imperial University Tokyo dibentuk tahun 1877, mahasiswa Jepang tetap dikirim studi ke luar negeri. Lalu bagaimana sejarah Perguruan Tinggi di Jepang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Perguruan Tinggi
di Jepang; Imperial University Tokyo 1877 dan Mahasiswa Jepang Studi di Luar
Negeri
Ada persamaan antara Indonesia dan Jepang dalam hubunganya studi ke Belanda, tetapi lebih banyak perbedaannya. Belanda adalah satu-satunya negara asing yang diizinkan berada (berkoloni) di Jepang, sementara Indonesia dengan nama Hindia Belanda berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Persamaannya, para siswa penduduk asli di kedua wilayah kepulauan tersebut untuk pertama kali studi di luar negeri di Eropa (Belanda) pada kurun waktu yang sama.
Pada tahun 1857 Sati Nasoetion, anak seorang koeria (radja) di Onderafdeeling Mandailing, afdeeling Angkola Mandailing, Residentie Tapanoeli, melanjutkan studi keguruan ke Belanda, berangkat dengan kapal dari Padang pada bulan Maret 1857 (lihat (lihat De Oostpost: letterkundig, wetenschappelijk en commercieel nieuws- en advertentieblad edisi 26-03-1857). Sati Nasoetion alias Willem Iskander lulus ujian guru di Amsterdam pada tahun 1860. Di dalam daftar kelulusan di Belanda disebutkan sebagai berikut: ‘Iskander, Willem, geb. in 1841, geëxam. in Noordholland, kweekeling te Amsterdam’ (lihat majalah Nieuwe bijdragen ter bevordering van het onderwijs en de opvoeding, voornamelijk met betrekking tot de lagere scholen in het Koningrijk der Nederlanden, voor den jare 1860, Volume 30, D. du Mortier en zoon). Pada tahun 1860 ini juga Dja Ogot berangkat studi keguruan ke Belanda yang dikirim oleh seorang misionaris G van Asselt di Sipirok (lihat Orgaan der Nederlandsche Zendingsvereeniging, 1860-1861, no. 2, 1860). Willem Iskander kembali ke tanah air dan pada tahun 1861 Willem Iskander mendirikan sekolah guru di Tanobato, Onderafdeeling Mandailing. Namun, Dja Ogot di Belanda diberitakan meninggal yang dapat dibaca dalam berita surat kabar pada bulan Maret 1862 (lihat Rotterdamsche courant, 04-03-1862). Willem Iskander adalah pribumi pertama studi ke Belanda. Catatan: Sebelumnya sudah ada dua sekolah guru pribumi yang dipimpin guru Belanda yang terdapat di Soerakarta (dibuka tahun 1852) dan di Fort de Kock (dibuka tahun 1856). Catatan: Willem Iskander kelak lebih dikenal sebagai kakek buyut Prof Dr Ir Andi Hakim Nasoetion, PhD (rektor IPB 1978-1987).
Pada tahun 1862, pemerintah (kerajaan) Jepang (Keshogunan Tokugawa) mengirim sejumlah orang muda Jepang untuk studi lebih lanjut ke Belanda. Mereka ini sebanyak 16 orang yang akan studi di berbagai bidang termasuk teknologi militer, kedokteran, hukum dan bahasa. Dua tahun kemudian, beberapa diantaranya telah kembali ke Jepang, dan beberapa yang masih melanjutkan studinya yang membutuhkan waktu lebih lama seperti bahasa dan filsafat, hukum dan kedokteran. Selama studi ada satu orang yang meninggal di Belanda sehingga hanya 15 orang yang masih ada (lihat De Oostpost: letterkundig, wetenschappelijk en commercieel nieuws- en advertentieblad, 13-11-1863). Salah satu orang muda Jepang yang dikirim studi (kemiliteran) ke Belanda adalah Enomoto Takeaki.
Provinciale Drentsche en Asser courant, 10-03-1864: ‘Ketika pasukan sekutu secara tak terduga melintasi perbatasan Jutland, seolah-olah seluruh Eropa akhirnya akan terbangun dari ketidakpeduliannya. Austria dan Prusia meminta maaf kepada Kekuatan-Kekuatan Besar, dan bahkan kepada satu sama lain; mereka tidak tahu apa-apa tentang penyeberangan perbatasan ini. Kemudian Pangeran Prusia turun tangan; dia mengancam akan memecatnya dan ada juga desas-desus tentang perwira senior lainnya yang telah mematahkan pedang mereka. Dan sekarang Austria telah mencapai kesepakatan dengan Prusia bahwa operasi terhadap Jutlandi akan dilanjutkan, dan baik Inggris, Prancis, maupun Swedia tampaknya tidak menemukan apa pun dalam peristiwa itu sekarang, Untuk memperkaya laporan perang yang saat ini kurang signifikan, wartawan surat kabar Schleeswijk melaporkan kedatangan dua orang Jepang yang mengunjungi Hensburg, Rinkenis, dan tempat-tempat lain, ditemani oleh Hotz dan Van Coeverden dari Den Haag. Nama-nama orang Jepang, menurut para reporter, adalah Enomoto dan Akuwats; aktivitas mereka terbatas pada mengamati medan perang dan lokasi di mana pertempuran lebih lanjut diperkirakan akan terjadi, menandai beberapa meriam artileri, dll., dan akhirnya menghadiri pesta malam di mana makanan dan sampanye memainkan peran utama. "Masyarakat" ini, seperti yang disebut oleh koresponden Jerman, tampaknya telah memberikan kesan yang sangat kuat pada kancah perang, dan orang Jepang memiliki dampak yang sama di Schleswig seperti penampilan pertama mereka di Belanda. Mereka adalah pahlawan hari itu, yang bagi mereka seluruh kancah perang dilupakan’.
Enomoto
dan satu rekan senegaranya (Akuwats), sebagai dua orang Jepang yang mengunjungi
arena perang di Eropa di Hensburg, Rinkenis, dan tempat-tempat lain. Dua perwira
Jepang yang tengah studi di Belanda ke TKP ditemani oleh Hotz dan Van Coeverden
dari Den Haag. Siapa Hotz dan Van Coeverden? Tidak terinformasikan tetapi
diduga adalah instruktur kedua Jepang itu dalam studi kemiliterannya di
Belanda. Kehadiran dua perwira Jepang di medan perang di Eropa juga dilaporkan
surat kabar yang terbit di Soerabaja.
De Oostpost: letterkundig, wetenschappelijk en commercieel nieuws- en advertentieblad, 05-07-1864: ‘Baru-baru ini, Kolnische Zeitung melaporkan bahwa satu-satunya hal yang luar biasa di lokasi perang besar di Sleeswijk Holstein. Dua perwira laut Jepang Enomoto dan teman senegaranya, telah mengambil gambar artileri berlaras ulir dengan kecepatan yang mengagumkan di Alsnoer, dan segera, oleh karena itu, Jepang dalam hal itu akan setara dengan peradaban Eropa yang maju. Dalam surat menyurat pribadi dari Kopenhagen pada tanggal 23 April, terdapat rincian berikut tentang lokasi perang. Perang, yang dimulai tiga bulan lalu, telah menewaskan 120 perwira dan melukai 7.000 orang. tidak hanya di lubang jebakan yang ramai, tetapi juga di reruntuhan Federiksberg, Kronberg, akademi militer, dan di hampir semua gedung pemerintah lainnya. Mereka bahkan mempertimbangkan untuk memasukkannya ke dalam daftar harta karun kerajaan, karena raja tercinta tidak terlalu memperhatikan rumah yang berada di dekat jalan Amelie. Ia umumnya dicintai karena kesederhanaannya dan karena banyak hal yang dilakukannya’.
Sementara pemerintah (kerjaan) Jepang mengirim para pemudanya studi ke Eropa di Belanda, pemerintah (kerajaan) Jepang juga telah membiayai pembuatan kapal perang di Belanda untuk kebutuhan pertahanan Jepang. Seperti disebut dalam artikel sebelumnya, perwira Jepang yang studi kemiliteran ke Belanda, pada tahun 1863 saat Menteri Angkatan Laut Jepang berkunjung ke Belanda, sang menteri ditemani perwira Enomoto Takeaki yang juga bertindak sebagai penerjemah. Pada tahun 1864 cucu dari Soeltan Djocjocarta Ismangoen Danoe Winoto berangkat studi ke Belanda yang ditemani FN Nieuwenhuijzen (Residen Soerakarta) dan keluarga yang akan cuti ke Eropa (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 29-06-1864). Mereka tiba di Rotterdam dengan selamat sebagaimana daftar manifes kapal yang diberitakan (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 29-08-1864). Pada tahun 1865 kapal perang pertama Jepang yang dibuat di Belanda selesai. Enomoto Takeaki akan bertindak sebagai panglima kapal dalam pelayaran ke Jepang.
Utrechtsch provinciaal en stedelijk dagblad: algemeen advertentie-blad, 03-11-1865: ‘Dari Dordrecht kami menerima surat kemarin, 2 November; Sore ini pukul 4 sore, fregat uap Kaya-mar ("Pengirim"), yang dibangun di sini atas nama pemerintah Jepang, diluncurkan. Fregat ini dirancang untuk 36 meriam dan, menurut Kewa, dilengkapi dengan 26 meriam baja 30-pounder. Setelah dipasangi perlengkapan dengan benar, para perwira Jepang yang berada di negara ini akan berangkat ke Jepang dengan kapal ini. Kapal ini akan dikomandoi oleh kapten laut Jepang Octida, sementara perwira Jepang Enomoto sendiri akan bertindak sebagai panglima tertinggi. Selama pelayaran ini, awak kapal Belanda akan bertugas di atas kapal, dan Letnan Kolonel Dinaux dari angkatan laut Belanda telah ditunjuk sebagai panglima tertinggi atau komandan tertinggi. Ini adalah kapal perang pertama angkatan laut Jepang. Namun, hingga saat ini, belum ada kapal perang. Berbagai pejabat menghadiri upacara yang menandai berakhirnya kapal megah ini. Yang Mulia Menteri Angkatan Laut juga turut hadir dalam acara tersebut. Kapal ini sangat membanggakan para pembangunnya, Gips dan Zonen’. Kapal ini masih terinformasikan di Dordrecht pada bulan Mei 1866 (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 10-05-1866).
Pada tahun 1868 didirikan sekolah Kaisei-kö. Pada tahun berikutnya, beberapa orang Inggris dan orang Prancis dipekerjakan sebagai profesor di lembaga tersebut, di mana mereka mengajar matematika Eropa. Kaisei-kö kemudian berganti nama menjadi Daigaku Nanko. Seperti kita lihat nanti Daigaku Nanko yang digabungkan dengan lembaga-lembaga lain menjadi cikal bakal pendirian Tokyo Imperial University (Universitas Kekaisaran Tokyo) dimana bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Pada tanggal 3 Januari 1869, Kaisar Jepang mengeluarkan deklarasi formal tentang pengembalian kekuasaan ke tangannya: Namun tentara yang setia kepada kekaisaran mengakhiri upaya mereka dalam Pertempuran Hakodate di Hokkaido, Mei 1869. Kekalahan tentara mantan keshogunan yang dipimpin oleh Enomoto Takeaki dan Hijikata Toshizō menandai tamatnya Keshogunan Tokugawa dan pemulihan sepenuhnya kekuasaan di tangan Kaisar.000
Middelburgsche courant, 12-08-1869: ‘Jepang. Dari Yokohama, pada tanggal 13 Juni, sebuah surat dikirim: "Laporan telah diterima di sini mengenai dimulainya operasi militer di Utara oleh pasukan dan angkatan laut Mikado. Setelah upaya sia-sia untuk memutus hubungan Stonewall dari angkatan laut tersebut, armada Mikado berkumpul di Teluk Awainori dan berlayar dari sana ke Esashi, titik terjauh dari Hakadate yang telah dicapai musuh. Esashi direbut tanpa kesulitan pada tanggal 22 Mei, dan kemudian pergerakan diarahkan ke Matsmai. Sebagian pasukan dikirim ke sana melalui jalur darat, tetapi pasukan utama di atas kapal ditujukan untuk serangan dari sisi laut. Pasukan yang mendarat menghadapi perlawanan kuat dari pasukan Enomote di pegunungan dan dipukul mundur setelah kehilangan 60 orang tewas atau terluka. Sementara itu, armada mencapai Matsmai, dan pada tanggal 28, setelah pengeboman selama satu jam, mereka berhasil menyerbunya; garnisun dikejar untuk jarak tertentu. Matsmai terletak sekitar 60 mil dari Hakodade, dan Kini diperkirakan bahwa benteng utama musuh yang terakhir juga akan diserbu. Kapal uap Inggris Albion dikirim ke sana, meminta semua orang asing di Esashi untuk meninggalkan pelabuhan untuk sementara waktu dan memberi tahu mereka tentang bahaya yang mendekat; sebagian besar orang asing mematuhi saran baik hati ini. Empat belas dari mereka tetap tinggal di sana dan mengibarkan bendera rumah dan gudang, berharap ini akan menimbulkan rasa takut yang diperlukan. Namun demikian, mereka tetap rentan terhadap bombardir. Kini diyakini bahwa ganti rugi akan dibayarkan atas kerusakan yang diderita; tetapi pengalaman telah membuktikan bahwa lebih baik menyelamatkan orang dan barang tepat waktu daripada menyerahkan semuanya pada nasib. Orang asing yang tersisa, bersama wanita dan anak-anak, kini berada di Teluk Awamori, beberapa di atas kapal Albion, sisanya di berbagai kapal lain. Kapal perang Dove telah berlayar ke Hakodade, jadi kabar dari sana juga diharapkan segera datang. Banyak desas-desus beredar seolah-olah tempat itu telah direbut, tetapi belum ada berita pasti tentang hal ini; namun, tidak ada keraguan sama sekali tentang kemenangan pasukan Mikado di perairan itu juga. Dengan jatuhnya musim gugur ini, perdamaian dan ketertiban akan dipulihkan di seluruh Jepang, dan diharapkan pengaturan mengenai administrasi pemerintahan di Jeddo akan membuahkan hasil. Semuanya tenang di ibu kota itu. Penghinaan yang ditujukan kepada Kapten Stanhope dan Konsul Robertson di jalan raya (Fokaido) kini telah sepenuhnya terbalas. Seperti diketahui, tindakan pencegahan telah diambil untuk mencegah pertemuan serupa di masa mendatang. Para penyerang beberapa orang Prancis di jalanan belum ditemukan; mereka kemungkinan besar adalah penggemar atau pemburu liar yang terisolasi. Adapun perdagangan, harga sutra hampir tidak berubah; lebih banyak sampel dari panen baru diharapkan. Musim perdagangan teh kini telah berakhir; volume perdagangan jauh lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya. Harga teh baru masih sangat tinggi sehingga tidak ada yang dapat dilakukan. Masalah mata uang masih belum diputuskan’.
Pada bulan November 1871, Yang Mulia Moutsohito, Kaisar Jepang, mengadakan jamuan makan untuk para Bangsawan kerajaannya di istananya di Tokei dan menyampaikan pidato berikut: ‘Setelah penelitian yang tekun dan pengamatan yang cermat, saya sangat yakin bahwa bangsa-bangsa yang paling kuat dan tercerahkan di bumi adalah mereka yang telah melakukan segala upaya untuk membudayakan pikiran mereka dan mengembangkan negara mereka dengan cara yang paling lengkap dan optimal. Karena yakin akan hal ini, saya menganggapnya sebagai tugas saya yang paling berharga, sebagai Pangeran, untuk membimbing rakyat saya dengan cerdas di jalan yang dapat mereka capai, sementara kewajiban mereka adalah untuk membantu saya dengan tekun dan bersatu dalam mengejar tujuan mulia ini. Bagaimana lagi Jepang dapat maju dan mempertahankan posisinya yang independen di antara bangsa-bangsa di bumi?’ (lihat The Japanese in America. By Charles Lauman, American Secretary to the Japanese Legation in Washington. London, 1872 di dalam Wetenschappelijke bladen, 1873 (1e deel) [volgno 1]. Disebutkan lebih lanjut, pemerintah Jepang mengirim duta besar Jepang di Amerika yang ditempatka di San Fransisco.
Opregte Haarlemsche Courant, 06-10-1874: ‘Pembunuhan konsul Jerman Haber di Hakodadi, Jepang, dilaporkan dalam telegram beberapa hari terakhir. Kasus ini sama sekali tidak memiliki signifikansi politik, tetapi terungkap sebagai berikut. Seorang mahasiswa Jepang berusia 22 tahun, yang tampaknya fanatik, bermimpi bahwa Kaisar diancam oleh orang asing. Karena itu, ia menganggap sebagai kewajibannya untuk membunuh orang asing pertama yang ditemuinya, dan konsul Jerman tersebut mengalami nasib yang sama. Pembunuh itu secara sukarela melapor kepada pihak berwenang dan dijatuhi hukuman mati’.
Sejak dimulainya restorasi Meiji, perhatian para akademisi asing semakin intens menulis tentang berbagai aspek di Jepang baik yang dimuat dalam jurnal maupun buku-buku yang dipublikasikan. Hal serupa ini sudah lama terjadi di Indonesia, tidak hanya para akademisi Belanda tetapi juga akademisi Eropa lainnya terutama akademisi Jerman. Penulisan artikel di Jurnal dan penulisan buku oleh orang asing adalah salah satu prakondisi yang baik dalam dunia akademik di Jepang..
Nieuwsblad voor den boekhandel jrg 43, 1876, no 77, 26-09-1876: ‘Grifeis (Wm. E.), The Mikado's Empire. Book 1: History of Japan, from 660 b.c. to AD. Book 2: Personal Experiences: Observations, and Studies in Japan, 1870-1874. By Williaim Elliot Griffis, A.M., late of the Imperial University of Tokio. Japan. Copiously illustrated. 8vo. (New York) cl. London, 21’
Sekolah Daigaku Nanko digabungkan dengan lembaga-lembaga lain yang kemudian pada tahun 1877 didirikan Tokyo Imperial University (Universitas Kekaisaran Tokyo). Bahasa pengantar adalah bahasa Inggris. Hal ini karena guru besar banyak orang Eropa. Sementara yang menjdi rektor adalah Hiroyuki Katō, salah satu yang dikirim pemerintah (kerajaan) Jepang studi ke Belanda pada tahun 1862. Hiroyuki Katō studi di bidang sastra dan filsafat.
Dokter Jepang pertama yang menempuh pendidikan kedokteran di Belanda adalah Yuichi Ito (Ito Genpaku). Yuichi Ito salah satu yang dikirim Keshogunan Tokugawa ke Belanda untuk studi pada tahun 1862 (lihat Rotterdamsche courant, 28-10-1862). Yuichi Ito studi kedokteran di Universiteit te Leiden dan lulus sebagai dokter.
Seperti disebut dalam artikel sebelumnya, bahwa dokumen-dokumen Jepang sudah banyak di Eropa, terutama di Belanda yang pertama adalah koleksi dari vob Siebold. Koleksi tersebut kemudian disatukan menjadi satu bagian dari gedung museum Belanda di Amsterdam. Koleksi itu menjadi penting bagi akademisi manca Negara yang ingin melakukan studi tentang Jepang.
Museum Kepurbakalaan dan museum etnografi di Leiden selama tahun 1877 menerima sejumlah dokumen dan buku (lihat Nederlandsche staatscourant, 15-08-1878). Diantara dokomen dan buku yang diterima adalah (1) The calender of the Tokio Kaisei-Gakko or the imperial university of Tokio, for the year 1876. Tokio 1876. (2) An outline history of the Japanese education, prepared for the, Philadelphia international exhïbition 1876. Bij the Japanese Department of education 1876. Tokio Kaisei Gakko: Imperial University of Tokio, Tokio, Japan. The Calendar for 1875. [Containing a history of the institution, regulations, and schedules of the course of study, besides the usual matter] Pp. 1-176 (lihat The Journal of Speculative Philosophy, Vol IV, 1881).
Artikel-artikel yang dimuat di Jurnal maupun buku-buku yang ditulis di Jepang (orang Jepang sendiri maupun orang asing) juga semakin banyak jumlahnya. Satu yang penting dalam hal ini adalah buku berjudul “University of Tokio (Tokio Daigaku). Memoirs. No. 9 yang diterbitkan oleh JA Ewing. Earthquake measurement. Tokio 1885. Dalam hal ini pula, peran Universitas Tokyo semakin penting dalam mengiringi perkembangan kemajuan seni, ilmu dan teknologi di Jepang.
Bataviaasch nieuwsblad, 16-04-1886: ‘Mantan warga kota kita, guru musik terkenal di sini, Sauvlet, telah diangkat menjadi profesor musik di Sekolah Bangsawan di Tokyo. Kami senang mendengar tentang pengangkatan ini’.
De zee; tijdschrift gewijd aan de belangen der Nederlandsche stoom- en zeilvaart, jrg 9, 1887, 01-01-1887: ‘Pembuatan kapal besi di Jepang. Kapten JM James dari Angkatan Laut Jepang, telah memberikan rincian berikut: mengenai kapal perang besi pertama yang dibangun di Jepang. Kapal ini, "Maya-Kan" berhasil diluncurkan pada tanggal 18 Agustus di "Galangan Kapal Ono-hama" di Kobe (galangan kapal Angkatan Laut Kekaisaran) di hadapan Laksamana Muda TY Ito dan beberapa pejabat lainnya. Pembangunan kapal ini dimulai pada tanggal 29 September 1885, sehingga pada saat selesai, hanya membutuhkan waktu kurang dari 11 bulan. Rencana untuk kapal, mesin, dll., diserahkan ke Admiralty di Tokyo, sementara kapal itu sendiri dibangun sepenuhnya oleh pekerja Jepang di bawah pengawasan kepala insinyur, "Yamagata". "Maya Kan" memiliki panjang 154 kaki dan lebar 26 kaki; bobotnya 614 ton, sedangkan mesinnya (mesin compound horizontal) memiliki daya keluaran 700 hp. Ini adalah kapal perang pertama dari sepuluh kapal perang yang direncanakan pemerintah Jepang untuk dibangun jika, setelah pengujian, terbukti memenuhi standar yang dibutuhkan. Kapal ini dipersenjatai dengan meriam 24 cm di bagian depan dan meriam 15 cm di bagian belakang (keduanya buatan Krupp), serta dua meriam Nordenfeldt berkecepatan tinggi. Dalam kondisi yang menguntungkan, jangkauan kapal diperkirakan mencapai 12 mil. Bahan bangunan kapal dipasok dari Inggris. Tidak diragukan lagi akan memakan waktu beberapa tahun sebelum besi dan baja yang dibutuhkan untuk proyek semacam ini dapat diproduksi di Jepang. Namun, pemerintah Jepang patut diberi selamat atas hasil yang menguntungkan dari upaya pertamanya di bidang pembuatan kapal besi. Kita juga perlu menyebutkan bahwa kapal torpedo, yang baru-baru ini tiba dalam keadaan terpisah-pisah dari Inggris, sekarang sedang dirakit di galangan kapal di Yokosuka. Rencananya adalah untuk meningkatkan jumlah kapal torpedo secara signifikan tahun depan.
Universitas Tokyo telah menjadi kawah candradimuka bagi para akademisi Jepang. Dalam hal praktis sudah mulai terlihat hasilnya seperti kemampuan membuat kapal perang yang menggunakan ilmu dan teknologi Eropa. Jika Eropa dan Amerika membutuhkan waktu satu abad, Jepang tampaknya lebih singkat, bahkan belum sampai tiga abad.
Mahasiswa-mahasis Jepang generasi pertama yang dikirim ke Belanda pada tahun 1862, kini telah mengisi posisi penting di berbagai bidang di Jepang. Perwira muda Enomoto Takeaki yang belajar teknologi militer kelautan kini dengan pangkat laksamana menjadi perwira penghubung di Eropa; Hiroyuki Katō yang belajar sastra dan filsafat kini (masih) menjadi rektor Universitas Tokyo.
Kini, mahasiswa-mahasiswa Jepang tidak lagi berorientasi ke Belanda, tetapi lebih memilih ke Jerman (lihat Rotterdamsch nieuwsblad, 02-03-1893). Disebutkan di Berlin, mahasiswa Jepang telah menjadi hal yang biasa, dan siapa pun yang menghadiri kuliah besar di universitas di sana akan selalu melihat beberapa orang Jepang duduk di barisan depan, dengan penuh perhatian mengikuti presentasi dosen. Mereka termasuk di antara mahasiswa yang paling rajin dan berbakat, putra-putra dari Timur Jauh ini.
Rotterdamsch nieuwsblad, 02-03-1893: ‘Perpustakaan umum pertama di Jepang. Di antara semua bangsa Asia, orang Jepang menunjukkan rasa ingin tahu dan penerimaan yang paling besar. Meskipun kurang berbakat dalam hal berkreasi, mereka sangat mahir dalam mengajar. Perkembangan intelektual dan peradaban bangsa ini berkembang begitu pesat sehingga di Eropa, sulit untuk mengikuti jalannya proses perubahan ini. Orang Jepang sepenuhnya berkomitmen untuk memanfaatkan manfaat peradaban; menunjukkan prasangka yang lebih sedikit daripada orang Cina, mereka menyadari bahwa mereka masih memiliki banyak hal untuk dipelajari dari orang Eropa dan karena itu mengirim putra-putra mereka ke benua kita untuk menyelesaikan pendidikan mereka di sana. Di Berlin, misalnya, mahasiswa Jepang telah menjadi hal yang biasa, dan siapa pun yang menghadiri kuliah besar di universitas di sana akan selalu melihat beberapa orang Jepang duduk di barisan depan, dengan penuh perhatian mengikuti presentasi dosen. Mereka termasuk di antara mahasiswa yang paling rajin dan berbakat, putra-putra dari Timur Jauh ini. Tetapi orang Jepang juga mengirim para sarjana yang berpengalaman ke Barat dan Timur untuk mempelajari semua lembaga dan fasilitas yang mungkin dan untuk mencari tempat-tempat yang dapat bermanfaat bagi tanah air mereka. Baru-baru ini, Tanaka diutus untuk tujuan ini. Tanaka adalah direktur perpustakaan umum di Tokyo dan telah ditugaskan untuk mempelajari perpustakaan dan fasilitasnya di Amerika dan Eropa. Ia kemudian harus dapat menunjukkan sistem terbaik untuk menyempurnakan koleksi yang ada dan untuk membentuk koleksi baru. Ia harus merancang metode yang paling praktis agar buku, "nutrisi yang membangkitkan semangat," dapat menjangkau mereka yang membutuhkan nutrisi spiritual ini, atau setidaknya percaya bahwa mereka membutuhkannya. Hingga saat ini, buku di Jepang hanya diperuntukkan bagi sekelompok kecil individu yang memiliki hak istimewa. Hal ini harus berubah sekarang. Dua puluh tahun yang lalu, Kekaisaran Jepang yang hampir seluas 100 mil persegi, yang dihuni oleh dua puluh juta orang, hanya memiliki empat belas perpustakaan kecil. Bahkan perpustakaan-perpustakaan ini tetap bertahan, meskipun dengan cara yang agak tidak spektakuler, melalui sumbangan lokal dan kontribusi kecil lainnya. Namun, pada tahun 1892, Menteri Pendidikan Umum mendirikan sebuah perpustakaan umum besar di Taman Eleno di Tokyo. Perpustakaan tersebut saat ini berisi lebih dari 130.000 jilid buku, jumlah yang cukup banyak mengingat usia lembaga tersebut yang masih muda. Salinan setiap karya yang diterbitkan di Jepang harus dikirim ke perpustakaan. Setelah kembali, Tanaka akan segera melanjutkan pengelolaan perpustakaan dan menatanya kembali sesuai dengan pandangannya, yang tentunya telah sedikit berubah setelah kunjungannya ke luar negeri. "Pembaca kami sebagian besar adalah cendekiawan" katanya baru-baru ini, "yang belajar untuk kesenangan atau dengan tujuan ilmiah. Jika seorang pembaca yang gugup lebih suka menyelesaikan studinya dalam kesendirian, mereka akan ditempatkan, dengan membayar sejumlah kecil uang, di ruangan khusus di mana suasananya lebih tenang daripada di ruang baca umum yang besar”. "Dari 130.000 buku di perpustakaan kami, 100.000 ditulis dalam bahasa Jepang atau Cina, sisanya terdiri dari karya-karya berbahasa Inggris atau Amerika, dan sisanya ditulis dalam bahasa Prancis atau Jerman. Bahasa Rusia juga diwakili oleh beberapa karya". "Para penulis asing favorit adalah Herbert Spencer, Stuart Mill, Charles Darwin, dan Hegel. Karya-karya Rusia, kritikus seni Inggris yang hebat, juga disambut dengan antusias. Orang-orang membaca Shakespeare di sini". Tidak hanya itu, tetapi karya-karyanya bahkan dipentaskan dalam teks aslinya! "Julius Caesar" diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang beberapa waktu lalu, dan tidak begitu sukses. Tak lama kemudian, mahasiswa di Tokyo mementaskan drama tersebut dalam bahasa Inggris. "Kita memiliki satu keunggulan dibandingkan orang Eropa, perpustakaan kita juga buka pada hari Minggu. Kita tidak perlu berebut libur hari Minggu. Perpustakaan Tokyo buka untuk umum setiap hari dari pukul 8 pagi hingga 5 sore, kecuali pada beberapa hari libur nasional, seperti hari ulang tahun Mikado. Selama tinggal di London, Tanaka membantu pustakawan Museum Inggris mengkatalog buku-buku Jepang. "Ada 10.000 buku" kata Tanaka, "tetapi sebagian besar di antaranya sama sekali tidak berharga". Ia menjelaskan rencananya untuk reorganisasi sebagai berikut: "Saya akan berusaha mendirikan perpustakaan umum di mana pun memungkinkan. "Saya akan mencoba mengajukan rancangan undang-undang untuk pendirian perpustakaan umum di Parlemen kita, serupa dengan Undang-Undang Perpustakaan Inggris. "Saya sangat saya berencana memperkenalkan sistem katalog kartu, serupa dengan yang digunakan di Perpustakaan Guildhall di London dan Perpustakaan Boston. Selain itu, saya akan mendesak penerbit kita untuk mengatur buku-buku kita sesuai dengan model Eropa, karena sampul kertas kita, misalnya, akan segera tidak lagi berguna. Lebih lanjut, Tanaka mengusulkan untuk meningkatkan minat membaca dengan memperkenalkan banyak novel asing, "walaupun", ia buru-buru menambahkan, "walaupun kita memiliki novel-novel yang sangat bagus dalam bahasa kita sendiri". Salah satu karya tersebut baru-baru ini diumumkan. Judulnya adalah: "Bulan yang Bersinar di Balik Awan pada Malam Musim Semi". Novel ini memiliki karakter yang sangat unik—orang tidak dapat mengatakan "Spanyol" karena itu "Jepang"—sehingga orang benar-benar penasaran bagaimana teman-teman kita di luar negeri akan menerima sastra modern dan realistis kita. Zola di Negeri Bunga! Tanaka telah mempelajari secara menyeluruh organisasi perpustakaan Amerika dan Inggris. Saat ini ia sedang mempelajari perpustakaan terbesar di dunia, Perpustakaan Nasional Prancis di Paris. Setelah itu, ia akan berangkat ke Berlin dan Munich’.
Seiring dengan kemajuan pendidikan dan
perguruan tinggi di Jepang, pada tahun 1892, Menteri Pendidikan Umum mendirikan
sebuah perpustakaan umum besar di Taman Eleno di Tokyo. Perpustakaan tersebut
saat ini berisi lebih dari 130.000 jilid buku, jumlah yang cukup banyak
mengingat usia lembaga tersebut yang masih muda. Salinan setiap karya yang
diterbitkan di Jepang harus dikirim ke perpustakaan. Ketika perpustakaan umum
di Jepang telah memenuhi rak-raknya, salah satu sarjana Jepang yang terpenting
dikabarkan telah meninggal dunia.
Hiroyuki Katō tidak berumur panjang. Hiroyuki Katō meninggal tahun 1894 (lihat Morgenrood; zondagsblad gewijd aan wetenschap, kunst en letteren, 1894, No. 30, 30-07-1894). Disebutkan sebuah buku sedang ditulis tentang subjek penolakan filsafat sosialisme berisi beberapa pernyataan yang sangat luar biasa. Dan yang paling penting adalah bahwa penulis ini, dalam beberapa penilaiannya, mengandalkan, antara lain, buku-buku sosialis. Saya akan memberikan ringkasan singkat buku tersebut: Nama penulis (ia baru saja meninggal dunia) adalah Hiroyuki Katō dan ia adalah rektor universitas di Tokyo (Jepang). Dari bahasa-bahasa Barat, ia tampaknya hanya mengetahui bahasa Jerman dan karena itu menulis bukunya dalam bahasa tersebut. Ia juga hanya membaca karya-karya penulis Inggris dan Prancis yang ia gunakan dalam terjemahan bahasa Jerman. Bukunya dibagi menjadi sepuluh bab. I. Hak asasi manusia yang melekat; II. Hak yang lebih kuat; III. Kesesuaian antara kebebasan dan hak yang lebih kuat; IV. Perjuangan untuk hak yang lebih kuat di dunia manusia secara umum dan dalam perkembangannya; V dan VI. Hal yang sama antara penguasa dan yang diperintah; VII. Hal yang sama antara kelas atas dan kelas bawah; VIII. Hal yang sama antara yang bebas dan yang tidak bebas; IX. Hal yang sama antara perempuan dan laki-laki; X. Hal yang sama antara ras, bangsa, negara, dll. Profesor Katö menjelaskan bahwa perjuangan untuk hak yang lebih kuat dan perjuangan untuk kekuasaan pada dasarnya sama, dan ia mengutip pepatah lama: seseorang memiliki hak yang sama persis dengan kekuasaan yang dimilikinya. Kemudian ia membela pandangan bahwa tidak seorang pun dapat menegaskan hak nyata untuk hidup. Ia menemukan dukungan untuk hal ini dalam teori Darwin’.
Pemerintah Jepang sejak awal sudah membuka diri dan mengundang para akademisi untuk bekerja di Jepang yang kemudian perkembangan ilmu pengetahuan di Jepang cepat melesat. Pemerintah Jepang juga membuka diri untuk investasi asing, termasuk dalam bidang-bidang produksi yang kurang dikuasai Jepang. Alih-alih untuk tujuan ekonomi, tetapi itu diharapkan akan terjadi proses alih teknologi seperti pembuatan jam. Seperti halnya dulu, orang Portugis memperkenalkan senjata mesiu kepada penduduk Jepang, kini orang Portugis yang membeli senjata mesiu Jepang.
De Volksstem, 02-05-1894: ‘Fakta yang sangat penting adalah bahwa Jepang saat ini memproduksi peralatan perang modern untuk negara-negara Barat. Pemerintah Portugal baru-baru ini membeli enam senjata buatan Osaka, dan sebulan yang lalu, sebuah pabrik jam tangan dibuka di Jepang di bawah pengawasan Inggris, mempekerjakan pekerja Jepang, untuk jam tangan bagi pasar Timur’. Provinciale Noordbrabantsche en 's Hertogenbossche courant, 12-09-1896: ‘Sepeda murah dari Jepang. Ketika beberapa waktu lalu sebuah laporan dibaca di berbagai majalah bahwa sepeda kayu paling elegan pasti akan diimpor dari Jepang tahun depan dengan harga 28 hingga 48 gulden, seorang pedagang Groningen, yang juga seorang olahragawan, yang berbisnis dengan Jepang, menanyakan hal ini kepada agennya di Timur Jauh. Informasi ini baru-baru ini tiba dan, menurut surat dari Groningen, berbunyi sebagai berikut: "Sepeda-sepeda tersebut terkenal di sini dan diimpor dari Inggris. Harganya sekitar 300 gulden; tetapi tidak ada penyebutan pabrik di Jepang". Siapa pun yang menunggu kesempatan untuk mendapatkan sepeda murah pasti akan kecewa.
Imperial University Tokyo 1877 dan Mahasiswa Jepang Studi di Luar Negeri: Mahasiswa Indonesia Studi ke Jepang
Mahasiswa Jepang pertama kali studi ke luar negeri di Belanda. Seiring dengan semakin terbukanya Jepang (restorasi Meiji), pilihan studi tidak hanya Belanda di Eropa, juga negara-negara lainnya termasuk Amerika Serikat. Di dalam negeri Jepang, guru-guru besar Negara asing didatangkan untuk mengajar di Jepang. Singkatnya, universitas terbentuk di Jepang di Tokyo tahun 1877. Oleh karena itu, tidak perlu lagi semuanya harus studi ke luar negeri. Sekolah-sekolah yang telah lama berkembang di Jepang, pendidirian Tokyo Imperial University akan menyerap lebih banyak siswa-siswa Jepang di perguruan tinggi.
Bataviaasch handelsblad, 30-10-1877: ‘Seorang siswa Jepang, Nishumura, dari Tokyo, memenangkan hadiah pertama dalam bidang matematika di Lycée Charlemagne di Paris’. De huisvrouw; weekblad tot voorlichting, nut en ontwikkeling van het huisgezin, jrg 22, 1891, no. 1, 19-12-1891: ‘Nona Urne Isuda, seorang wanita Jepang, yang menerima pendidikannya di Amerika, sekarang menjadi guru sains di sebuah sekolah di Tokyo’.
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




Tidak ada komentar:
Posting Komentar