Laman

Rabu, 04 Februari 2026

Sejarah Jepang (11): Beras di Jepang dan Beras di Indonesia; Makanan Pokok Nasi di Jepang dan Indonesia Sejak Zaman Kuno


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini 

Hingga masa ini makanan pokok orang Jepang seperti halnya orang Indonesia adalah nasi dari baha beras. Sama seperti di Indonesia, nasi dikonsumsi hampir setiap hari dan menjadi dasar dari berbagai hidangan khas Jepang. Saat ini, varietas seperti Koshihikari dan Hitomebore sangat populer karena teksturnya yang pulen. Istilah "Itadakimasu" yang diucapkan sebelum makan merupakan wujud rasa syukur atas beras. Beras juga digunakan dalam berbagai festival (matsuri) dan perayaan (seperti sekihan atau nasi merah untuk momen spesial). Pengantar Studi Kelayakan Bisnis


Sejarah beras di Jepang merupakan fondasi dari perkembangan budaya, struktur sosial, dan ekonomi negara tersebut selama ribuan tahun. Padi pertama kali diperkenalkan ke Jepang dari Tiongkok atau Semenanjung Korea pada Periode Jomon (sekitar 1000–400 SM). Meskipun jejak butiran padi ditemukan pada tembikar dari akhir periode Jomon, pada masa ini masyarakat masih lebih banyak bergantung pada kegiatan berburu dan meramu. Periode Yayoi (300 SM – 300 M) adalah titik balik besar di mana budidaya padi sawah secara intensif mulai menyebar, dimulai dari pulau Kyushu. Teknologi irigasi dan penggunaan alat besi dari daratan Asia memicu revolusi pertanian, mengubah gaya hidup masyarakat menjadi menetap dan membentuk komunitas desa yang terorganisir. Pada masa Feodal dan Periode Edo (1603–1868) beras bukan sekadar makanan, melainkan mata uang. Kekayaan para penguasa wilayah (daimyo) diukur dalam unit koku (jumlah beras yang cukup untuk memberi makan satu orang dewasa selama setahun). Pajak kepada keshogunan dibayar menggunakan hasil panen beras. Setelah Restorasi Meiji, sistem pajak beralih ke uang tunai, namun beras tetap menjadi simbol ketahanan nasional. Meskipun konsumsi beras per kapita menurun karena perubahan gaya hidup, pemerintah Jepang terus menjaga stok pangan nasional dan mendorong ekspor beras berkualitas tinggi ke pasar global. Baru-baru ini, Jepang juga menghadapi tantangan harga akibat faktor cuaca dan distribusi (AI Wikipedia).. 

Lantas bagaimana sejarah beras di Jepang dan beras di Indonesia? Seperti disebut di atas, makanan pokok orang Jepang adalah nasi berbahan beras. Makanan pokok nasi ini di Jepang dan Indonesia sejak zaman kuno. Lalu bagaimana sejarah beras di Jepang dan beras di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Beras di Jepang dan Beras di Indonesia; Makanan Pokok Nasi di Jepang dan Indonesia Sejak Zaman Kuno

Kehadiran Belanda di Jepang dimulai pada tahun 1609. Pada saat ini, pos perdagangan utama Belanda berada di Amboina. Namun belum terinformasikan produk apa yang diperdagangkan di Jepang. Pada tahun 1619 pos perdagangan VOC/Belanda di Amboina direlokasi ke Batavia (di muara sungai Tjiliwong).

 

Tijdinghe uyt verscheyde quartieren, 23-02-1621: ‘Kapal Goede Dzede dari Oost Indien (Hindia Timur) tiba di Zeelant yang membawa kargo, antara lain: lada (peper), cengkeh (naghelen), pala (noten), fuli (bunga pala), jahe (gember), kamper (camphora), intan (diamanten) dan gaharu’. 

Dalam daftar kargo yang tiba di Belanda pada tahun 1621 tampaknya belum ada produk dari Jepang. Mengapa? Boleh jadi karena Portugis masih memainkan peran perdagangan yang sangat besar di Jepang. Produk-produk dari Hindia Timur yang terus mengalir ke Belanda, juga gula (suiker), kemenyan (benjuin), indigo (lihat Tijdinghe uyt verscheyde quartieren, 16-09-1623). Dalam daftar tahun 1623 ini juga sudah termasuk dari wilayah di luar Hindia Timur seperti katun dan porselin dari Cina dan kerajinan perak dari Jepang (Japons cooper). 


Satu-satunya produk yang diperdagangkan pada saat itu adalah produk tahan lama yang tonasenya tidak berat. Kapal-kapal masih terbilang ukurannya masih kecil dan lama pelayaran dari Batavia hingga Belanda sekitar enam bulan. Di Jepang, sejak 1641 hanya satu-satunya Belanda yang diizinkan berdagang. Portugis sudah diusir Jepang pada tahun 1639 sebagai kebijakan baru di Jepang (isolasi Sakoku). 

Belanda masih merupakan satu-satunya orang asing yang berdagang di Jepang. Selama hampir dua abad, tidak terinformasikan beras yang diperdagangan di Jepang (ekspor/impor). Pada tahun 1810 terinformasikan beras Jepang diperdagangkan di Batavia.

 

Bataviasche koloniale courant, 30-11-1810: ‘Pada hari Senin, bulan ketiga musim dingin (Wintermaand), seorang juru lelang akan mengadakan penjualan di EC Brandes, di Roeai–Malaka kecil, yang meliputi perhiasan, barang-barang emas dan perak, beras Jepang, mentega dan wajan, serta linen Jawa dan linen lainnya, dll’. 

Beras pada dasarnya sudah sejak lama menjadi komoditi perdagangan di Hindia Timur bahkan hingga Pemerintah Hindia Belanda. Di Era VOC, beras dibeli di Jawa lalu kemudian dipertukarkan dengan komoditi lain di berbagai wilayah, seperti di Bangka dan Belitung beras dari Jawa dan timah dibawah ke Batavia.

 

De vriend des vaderlands; een tijdschrift toegewijd aan den roem en de welvaart van Nederland en in het byzonder aan de hulpbehoeftigen in hetzelve, 1833, No 4: ‘Serealia. Di dalam Lingkaran Arktik, pertanian hanya ada di beberapa tempat. Di Siberia, pertanian mencapai garis lintang hingga 60°, di Kamtschatka bahkan tidak sampai 51°. Di Amerika barat laut (di wilayah jajahan Rusia), hanya jelai dan gandum hitam yang tumbuh hingga 58°. Di pantai timur Amerika, pertanian hampir tidak melebihi garis lintang 52°. Di Laplandia, batasnya mencapai 70°; jelai dan gandum, biji-bijian paling utara di Eropa, adalah tanaman pangan utama di Norwegia utara, Swedia, Skotlandia, dan sebagian Siberia. Gandum hitam mengikuti jelai dan gandum ke selatan. Ini adalah tanaman pangan utama di Swedia selatan, Swedia dan Norwegia, di Denmark, Skotlandia, negara-negara Laut Baltik, dan sebagian Siberia. Jelai ditanam di negara-negara ini terutama untuk bir, dan gandum untuk kuda. Lebih jauh ke selatan, roti dibuat terutama dari gandum, seperti di Inggris, Prancis, sebagian Jerman, dan Hongaria, di Kaukasus dan negara-negara Asia Tengah. Tanaman merambat sebagian menggantikan budidaya jelai di daerah-daerah ini. Di selatan negara-negara di mana gandum adalah makanan utama, beras dan jagung ditanam bersama gandum, seperti di Portugal, Spanyol, wilayah Prancis, Mediterania, Italia, Yunani, Asia Kecil, Persia, India, Arab Saudi, Mesir, Nubia, Negara-negara Barbary, dan Kepulauan Canary. Gandum hitam masih diproduksi dalam jumlah yang cukup besar, gandum akhirnya menghilang, dan jelai hanya digunakan untuk memberi makan kuda dan keledai. Di Cina, Jepang, dan India, beras adalah biji-bijian utama. Amerika Utara memiliki gandum dan gandum hitam. Di iklim yang panas dan kering, jagung ditanam di Amerika*, beras di Asia, dan keduanya sama di Afrika, mungkin karena jagung berasal dari Amerika dan beras dari Asia. Di negara-negara di antara daerah tropis, tanaman pangan penting lainnya, seperti pohon palem, yang berbagai spesiesnya, kurma, kelapa, dan sagu (inti tepung dari batang) menghasilkan (**) Di kepulauan Laut Selatan, pohon sukun menyediakan makanan utama. Di zona beriklim sedang di Belahan Bumi Selatan, pertanian sangat mirip dengan di Belahan Bumi Utara. Di selatan Era, Buenos Aires, Chili, di Tanjung Harapan, dan di zona beriklim sedang New Holland, gandum adalah biji-bijian utama. Jelai dan gandum hitam ditemukan di bagian paling selatan negara-negara yang disebutkan di atas dan di Diemensland. Pada ketinggian ini, jagung merupakan biji-bijian utama dari ketinggian 3.000 hingga 6.000 kaki, sedangkan di ketinggian yang lebih rendah, pisang juga sama pentingnya. Dari ketinggian 6.000 hingga 9.240 kaki, biji-bijian Eropa adalah yang paling umum, dengan gandum di daerah terendah dan jelai serta oat di daerah yang lebih tinggi; dari ketinggian 9.240 hingga 12.300 kaki, hanya kentang yang ditanam. *Di Amerika, sebelumnya tidak ada tanaman biji-bijian yang dibudidayakan, begitu pula hewan ternak penghasil susu. Seorang budak kulit hitam dari Cortes adalah orang pertama yang menabur tiga butir gandum di Meksiko. Biarawan Fransiskan dari Ghent adalah orang pertama yang menaburnya di Quito. **Dari 112 spesies pohon palem, hanya 12 yang tumbuh di luar daerah tropis. Namun, batas-batasnya di Holland Selatan dan Afrika hanya meluas hingga 35° lintang selatan, di Selandia Baru hingga 38° lintang selatan; di Belahan Bumi Utara, di Amerika Utara, hingga 36° lintang selatan, dan di dekat Aix-la-Chapelle hingga 44° lintang utara. Menurut Linseus, palem adalah raja dunia tumbuhan’.

 

Tunggu deskripsi lengkapnya

Makanan Pokok Nasi di Jepang dan Indonesia Sejak Zaman Kuno; Apakah Ada hubungan Perdagangan Beras antara Indonesia dan Jepang?

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar