Laman

Kamis, 05 Februari 2026

Sejarah Jepang (12): Sepak Bola di Indonesia dan Sepak Bola di Jepang; Futsal Indonesia Taklukkan Jepang di Semi Final AFC 2026


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini 

Baru saja Futsal Indonesia berhasil menaklukkan Futsal Jepang dalam partai Semi Final AFC tahun 2026 dengan skor 5-3. Dengan demikian Futsal Indonesia akan menantang Futsal Iran di parai Final. Hasil tersebut bermula pada waktu normal (2x20 Menit) dengan skor 2-2. Di waktu tambahan (2x5 Menit), Futsal Indonesia berhasil mendulang satu gol pada babak pertama dan kemudian tambahan gol terakhir pada babak kedua. Futsal Indonesia sendiri baru kali ini mencapai Semi Final, sementara Futsal Jepang sudah sebanyak empat kali juara AFC (2006, 2012, 2014 dan 2022). Futsal Iran sendiri saat ini adalah juara bertahan. Sejarah Sepak Bola di Indonesia


Sejarah sepak bola Jepang bertransformasi dari permainan yang dibawa oleh perwira Inggris menjadi kekuatan utama di Asia melalui perencanaan jangka panjang yang sangat terstruktur.Masuknya Sepak bola ini diperkenalkan pada tahun 1873 oleh perwira Angkatan Laut Inggris, Letnan Archibald Lucius Douglas, yang mengajarkannya kepada para kadet angkatan laut Jepang di Tsukiji. Pada 10 September 1921, dibentuklah Dai-Nippon Shukyu Kyokai (sekarang Japan Football Association atau JFA). Kompetisi nasional pertama, yang sekarang dikenal sebagai Emperor's Cup, dimulai pada tahun 1921. Jepang resmi bergabung dengan FIFA pada tahun 1929. Pada Olimpiade Berlin 1936, Jepang mengejutkan dunia dengan mengalahkan Swedia 3-2, mencapai perempat final pertama mereka. Sepak bola domestik dikelola melalui Japan Soccer League (JSL) (1965–1992), sebuah liga semi-profesional yang didominasi oleh tim-tim perusahaan. Untuk meningkatkan daya saing, J.League resmi dimulai pada 15 Mei 1993 dengan 10 klub pionir. Jepang melakukan debut di Piala Dunia FIFA pada tahun 1998 di Prancis. Jepang sukses menyelenggarakan Piala Dunia 2002 bersama Korea Selatan (AI Wikipedia).. 

Lantas bagaimana sejarah sepak bola di Indonesia dan sepak bola di Jepang? Seperti disebut di atas, Kompetisi sepak bola Jepang. Dai-Nippon Shukyu Kyokai (kini Japan Football Association atau JFA) dimulai tahun 1921. Tim sepak bola Indonesia (era Hindia Belanda) sendiri pada tahun 1938 berpartisipasi dalam Piala Dunia di Prancis (satu-satunya wakil Asia). Lalu bagaimana sejarah sepak bola di Indonesia dan sepak bola di Jepang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Sejarah Pers di Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Sepak Bola di Indonesia dan Sepak Bola di Jepang; Futsal Indonesia Taklukkan Jepang di Semi Final AFC 2026

Sepak bola modern (“ala Eropa”) belumlah lama di Jepang. Seperti dikutip di atas, sepak bola di Jepang diperkenalkan pada tahun 1873 oleh perwira Angkatan Laut Inggris, Letnan Archibald Lucius Douglas, yang mengajarkannya kepada para kadet angkatan laut Jepang di Tsukiji. Benarkah begitu? Sementara itu di Jepang, sudah sejak zaman kuno dikenal sepak bola “ala Jepang”. Sepak bola “ala Jepang” tersebut disebut “Kemari”. Sepak bola tersebut bahkan hingga tahun 1932 masih ada yang memainkannya. Sepak bola “kemari” diimpor dari Tiongkok yang disebut “Tsoe-koe” (lihat Algemeen Dagblad, 24-12-1949).


“Kemari”, permainan sepak bola Jepang kuno. Kemari berasal dari Tiongkok sekitar tahun 611 M, ketika negara kepulauan itu banyak belajar dari tetangga daratannya yang lebih tua. Permainan ini berkembang dan mencapai puncaknya pada tahun 1100. Olahraga ini merupakan rekreasi para pangeran dan kaisar. Para pemain mengenakan jubah sutra yang mengalir, membawa kipas kertas dan sapu tangan, dan upacara lengkap dilakukan sebelum permainan dimulai. Kostum serupa masih dikenakan hingga saat ini; beberapa, yang dimiliki oleh Klub Bangsawan Kyoto, berusia lebih dari tiga ratus tahun. Kipas, topi, sepatu, dan bahkan bola persis seperti yang ditentukan berabad-abad yang lalu. Kemari adalah olahraga yang membutuhkan keterampilan tinggi, sehingga anggota klub ini bertemu setiap minggu untuk berlatih. Butuh bertahun-tahun untuk menjadi pemain yang baik. Pertandingan ekshibisi diadakan beberapa kali dalam setahun. Saya menyaksikan permainan Kemari pada hari ketujuh bulan ketujuh, Hari Burung Penenun, hari yang sejak zaman kuno didedikasikan untuk musik, puisi, lukisan, dan kemari (lihat Een Duizend-jarig Jubileum van de Voetbalsport oleh Keman di Kyoto yang dimuat dalam surat kabar De Zuid-Willemsvaart, 10-12-1932). 

Okelah kalau begitu. Ada “kemari” dan ada “football” atau “voetbal”. Namun yang menjadi menarik untuk diperhatikan apakah sepak bola modern (football/voetbal) pertama kali diperkenalkan di Jepang oleh seorang Inggris tahun 1873? Yang jelas “kemari” adalah sisa sepak bola dari masa lampau, dan football/voetbal di Jepang adalah titik awal sepak bola ke masa depan. 


Pada tahun 1639 Jepang mengusir Portugis dari Jepang. Lalu pada tahun 1641, hanya orang Belanda yang diizinkan untuk berdagang di Jepang (dengan memindahkan orang Belanda di Firanda ke pulau Dejima di teluk Nagasaki). Setelah dua abad kemudian, pada tahun 1854 ekspedisi militer Amerika memaksa Jepang untuk membuka perdagangan Jepang untuk semua orang asing. Pemerintah (kerajaan) Jepang kemudian mengeluarkan maklumat untuk membuka isolasi dan memberi kesempatan bagi semua negara asing berdagang di Jepang. Namun kebijakan itu tidak semua orang Jepang menerimanya terutama para militer dari kesogunan (rezim lama). Perang saudarapun tidak terhindarkan. Dalam konteks inilah kekuasaan penuh yang dikembalikan ke Kaisar terjadi restorasi Meiji yang dimulai tahun 1868, rezim baru yang mendukung keterbukaan Jepang. Dalam hal ini semua perjanjian Jepang dengan negara asing ditulis dalam bahasa Inggris. Meski demikian, orang Belanda di Jepang masih dianggap sangat penting dan hubungan Jepang dengan Belanda masih dekat satu sama lain. 

Nama A Douglas pertama kali terinformasikan pada tahun 1872 di Indonesia (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 26-07-1872). Disebutkan bintara-bintara berikut dipromosikan di infanteri: Mayor PAA Collard dipromosikan menjadi letnan kolonel, dan Kapten FP Cavaljé dipromosikan menjadi mayor, dan bintara-bintara berikut diangkat sebagai letnan dua: Di batalion ke-1 FD Triebel, di batalion ke-2 J Bosman, di batalion ke-3 EC Scheffer, di batalion ke-4 AJ van Amstel dan A Douglas, di batalion ke-7 G Ruempol-Hamer dan FW Broker, di batalion ke-9 DB Schaap, di batalion ke-12 FR de Vries Hofman, W. AG Raraaer dan T Soeterik, di batalion ke-14 FBCH von Splinter, S Brandon dan HJE Wilten, dan di batalion ke-17 KJ Vermeijne. 


Disebutkan lebih lanjut sejauh menyangkut garnisun di Batavia, Letnan Infanteri ke-1 AFA de Mey Mecima dan M Tiernégo akan dikirim ke Jepang menjelang akhir tahun ini untuk merekrut tentara Jepang untuk Angkatan Darat Hindia Belanda. Seluruh detasemen perekrutan akan terdiri dari 1 Mayor, 2 Kapten, dan 4 Letnan Infanteri, serta bintara dan prajurit yang diperlukan untuk menjaga para rekrutan. Seorang petugas medis akan ditugaskan ke detasemen tersebut. 

Dari nama-nama anggota militer Pemerintah Hindia Belanda (termasuk yang disebut di atas) beragam bangsa, ada bernama Inggris, bernama Jerman dan bernama Prancis dan Portugal. Lantas apakah Letnan A Douglas termasuk yang akan diberangkatkan dari Hindia ke Jepang? Tidak diketahui secara pasti. Namun sekali lagi seperti dikutip di atas, sepak bola pada tahun 1873 oleh perwira Angkatan Laut Inggris, Letnan Archibald Lucius Douglas, yang mengajarkannya kepada para kadet angkatan laut Jepang di Tsukiji. 


Overijsselsche courant, 18-08-1843: ‘Kaki wanita Cina. Kapten Bingham, dalam Narrative of the Expedition to China yang baru-baru ini diterbitkan, menceritakan hal berikut tentang subjek yang banyak dibahas ini: Saat kami berada di lepas pantai Chusan, kami melakukan perjalanan berulang kali ke pulau-pulau sekitarnya, di mana kami berkesempatan melihat kaki orang Tiongkok yang terkenal kecil. Rasa ingin tahu kami terpicu oleh sepasang sepatu sutra sederhana yang saya beli dari seorang petani. Suatu hari kami mendapati diri kami dikelilingi oleh kerumunan pria, wanita, dan anak-anak, dan karena itu kami menyatakan keinginan kami untuk melihat kaki seorang wanita yang bertubuh bagus dari rombongan tersebut. Sinyal kami segera hilang; namun, karena usianya sudah lanjut, pemenuhan keinginan kami tampaknya bertentangan dengan kesopanan, dan dia menolak untuk menunjukkan kakinya; Tetapi sekarang seorang gadis yang sangat cantik berusia sekitar enam belas tahun ditempatkan di kursi untuk memuaskan rasa ingin tahu kami. Awalnya dia sangat malu; Namun, pemandangan kain sutra baru segera mengalahkan rasa malunya, dan setelah melepas sepatunya, ia mulai membuka perban yang menggantikan kaus kaki dan dililitkan sangat erat di sekitar pahanya dan seluruh kakinya, hingga ke pergelangan kaki tempat perban itu diikat. Ketika akhirnya ia menunjukkan kaki telanjangnya kepada kami, kami terkejut sekaligus senang mendapati kaki itu lembut, putih, dan sangat bersih, karena, mengingat kemerosotan moral orang Tiongkok yang terkenal, kami punya alasan untuk mengharapkan sebaliknya. Kakinya sangat kurus dari lutut ke bawah; telapak kaki tampak patah, sementara keempat jari kelingkingnya juga patah, sehingga hanya telapak kaki yang mempertahankan keadaan alaminya. Door het breken van den voetbal werd een verheven boog Insscheii den hiel en de teenen gevormd (Dengan patahnya bagian depan telapak kaki menciptakan lengkungan yang terangkat di antara tumit dan jari-jari kaki). Pada wanita-wanita di Kanton dan Makau, telapak tumit tetap utuh; tetapi tumit sepatu sangat tinggi sehingga ujung jempol kaki menyentuh tanah. Seorang warga Tionghoa dari Canton, yang bersama kami, ketika kami menunjukkan kepadanya sepatu yang dibeli di sini, sama sekali menolak untuk percaya bahwa seseorang dapat berjalan dengan sepatu itu. Jari-jari kaki, yang tertekuk di bawah kaki, hanya dapat ditekuk ke depan dengan tangan, sehingga orang dapat melihat bahwa jari-jari kaki tersebut tidak menyatu dengan kaki. Saya sering melihat dengan takjub betapa baiknya wanita dapat berjalan dengan kaki kecil mereka. Gaya berjalan mereka tidak jauh berbeda dengan gaya berjalan berputar-putar wanita Prancis – mereka selalu berjalan dengan bantuan tongkat, dan di Makau saya sering melihat bahwa mereka dapat berjalan dengan baik melawan angin kencang dengan tenda yang cukup besar dan terbuka. Ketika anak-anak kecil berlari menjauh dari kami, mereka menjaga keseimbangan dengan lengan mereka yang terentang, dan selalu mengingatkan saya pada ayam, yang setengah berjalan, setengah terbang. Semua wanita yang saya lihat di sekitar Chusan memiliki kaki kecil; ini adalah ciri umum keturunan Tionghoa sejati, dan merupakan kesalahan besar untuk percaya bahwa kaki kecil hanya terbatas pada kelas atas, meskipun mereka tentu saja melakukan lebih banyak upaya daripada mereka yang kurang beruntung untuk memasukkan kaki mereka ke dalam lingkar sekecil mungkin. Besar dan kecil, kaya dan miskin, semua mengikuti kebiasaan yang sama, dan ketika seseorang melihat kaki yang besar dan terbentuk secara alami, dapat dipastikan bahwa pemiliknya bukanlah keturunan Tionghoa asli, melainkan keturunan Tatar, atau termasuk suku-suku yang hidup sepenuhnya di atas air (yang disebut Tionghoa Air). Namun, wanita Tartar secara bertahap mulai mengubah bentuk kaki juga. Sebagai penentangan terhadap hal ini, sebuah dekrit keras baru-baru ini muncul dari Kaisar Tiongkok, mengancam kepala keluarga dengan pengasingan dan hukuman lain jika mereka tidak mengekang pelanggaran berat tersebut, dan Yang Mulia Kaisar lebih lanjut mengatakan kepada para wanita cantik bahwa, dengan tetap berpegang pada moral umum mereka, mereka akan menghilangkan kemungkinan dipilih sebagai dayang kehormatan untuk bagian dalam istana. Saya tidak dapat membayangkan sejauh mana hal ini telah menjadi hasilnya’. 

Bagaimana sepak bola ala Jepang yang disebut “kemari” dimainkan? Sumber-sumber tertua menyebut sepak bola ala Jepang “diimpor’ dari Tiongkok. Lantas bagaimana sepak bola ala Tiongkok dimainkan? Meski ada permainan sepak bola di China dan Jepang, yang jelas sepak bola ala Eropa belum ada di China maupun di Jepang. 


Algemeen Handelsblad, 07-01-1861: ‘Sebuah iring-iringan besar pegawai negeri dan tentara muncul tak lama setelah Kaisar, beberapa di atas kereta luncur, yang lain di atas sepatu roda, dan yang lainnya bermain sepak bola. Siapa pun yang berhasil menangkap bola sambil menunggang kuda akan menerima hadiah dari Kaisar. Kemudian bola digantung di bawah semacam lengkungan, dan beberapa Mandarin menembaknya dengan busur dan anak panah, sambil meluncur melewatinya. Sepatu roda mereka diikat dekat tumit, dan lengkungannya tidak bulat, tetapi dengan membentuk sudut siku-siku”. 

Bagaimana dengan sepak bola di Indonesia? Sepak bola sudah diketahui di Indonesia (lihat Soerabaijasch handelsblad, 13-02-1882), Akan tetapi apakah sudah ada yang memainkannya, tidak terinformasikan. Mungkin saja sudah ada, tetapi tidak terinformasikan. Pada akhir tahun 1893 di Medan terinformasikan permainan sepak bola. Sejauh data yang dapat ditelusuri, berita di surat kabar yang terbit di Medan tersebut sebagai sepak bola pertama di Indonesia. Lalu, bagaimana dengan di Jepang? 


Deli courant, 16-12-1893: ‘Penulis juga memberikan beberapa sketsa perkebunan tembakau. Bapak Eastwick pergi ke Deli sebagai anggota klub kriket Penang, dikirim untuk memainkan pertandingan internasional di koloni Belanda. Selama liburan singkat Tahun Baru Imlek. Mereka memainkan pertandingan mereka dan memenangkannya, serta beberapa pertandingan sepak bola. Dalam pertandingan sepak bola, penduduk setempat sangat tertarik dan menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Mereka meminta izin untuk bermain, dan dengan bertelanjang dada, dengan sarung dililitkan di pinggul mereka, mereka memulai dengan cara yang meriah berikut ini: 1. Bola dibawa masuk, dan kemudian diikuti salah satu pertandingan sepak bola paling luar biasa yang pernah disaksikan. Permainan itu segera berhenti menjadi permainan dan menjadi perkelahian sungguhan. Tangan, lengan, dan bahkan gigi digunakan di kedua sisi; Darah mengalir di mana-mana, dan tak lama kemudian yang terluka—saya hampir mengatakan yang kalah—terlihat berserakan di lapangan. Saat beberapa jatuh kelelahan ke tanah, mereka dibawa pergi, tempat mereka dalam pertempuran digantikan oleh orang lain, yang dengan penuh semangat maju dari barisan penonton. Teriakan para pemenang dan rintihan yang kalah bergema, dan akhirnya, situasinya menjadi begitu serius sehingga kedua kapten terpaksa mengambil bola dan melarikan diri ke paviliun. "Permainan" pun berakhir, dan para pemain pulang, diikuti oleh kerumunan yang gembira. Kunjungan "orang poetih" (berbahasa Inggris) akan tetap terukir dalam ingatan komunitas buruh Medan untuk waktu yang lama. Keesokan paginya kami menerima tanda dari pihak berwenang bahwa penduduk asli tidak diizinkan untuk berpartisipasi dalam permainan kami’. 

Sepak bola di Eropa, khsusnya di Inggris dan Jepang sudah lama terinformasikan diketahui. Di Belanda juga sudah ada klub-klub sepak bola yang berkompetisi. Dalam konteks inilah berita-berita sepak bola di Indonesia juga diberitakan di berbagai surat kabar berbahasa Belanda di Indonesia. Lalu sejak terinformasikan pertandingan sepak bola di Medan (melawan tamunya orang Inggris dari Penang), mulai terinformasikan tentang buku sepak bola yang dapat dibeli di Batavia. 


Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-02-1895: ‘W Muller, dengan kolaborasi beberapa ahli Belanda dan internasional, telah menulis sebuah buku kecil berjudul "Athletiek en Voetbal" yang membahas sejarah dan perkembangan disiplin ilmu ini. Buku ini penuh dengan ilustrasi dan potret serta menawarkan banyak kiat untuk atlet dan pemain sepak bola. Bagi mereka yang menyukai latihan fisik, karya ini tentu sangat berharga. Penerbit kami memilikinya dalam koleksi mereka’. 

Setahun setelah buku sepak bola beredar di Batavia (kini Jakarta), mulai terinformasikan pertandingan sepak bola di Batavia (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 11-05-1896). Disebutkan pertandingan sepak bola yang diadakan kemarin sore pukul 5-6 sore di sudut Gang Scott antara Bataviasche Sportclub dan Batavia Cricket Club, dimenangkan oleh tim pertama dengan skor 1-0. 


Di Jepang tidak terinformasikan permainan sepak bola ala Eropa. Yang terinformasikan adalah olah raga tradisional sepak bola ala Jepang (lihat Algemeen Handelsblad, 12-12-1897). Disebutkan sepak bola telah dilarang oleh pemerintah di Jepang beberapa kali. Oleh karena itu, pemerintah nasional atau kota lebih ketat daripada di Eropa. Namun, di Jepang, sepak bola terkait erat dengan agama, dan bahkan hingga saat ini bola disebut hama atau hamayami, yang berarti "menunduk untuk mengusir roh jahat". Di kalangan bangsawan, sepak bola adalah olahraga unggulan, dan istana kekaisaran telah membina banyak pemain yang gagah berani. Sebelum revolusi yang mengembalikan Mikado ke takhtanya, para pangeran konon mencari nafkah dengan memberikan pelajaran sepak bola. Sebagai tambahan disini, di Inggris pernah dilarang sepak bola karena kerap menjadi huru hara dan para golongan muda lebih mementingkan ke lapangan sepak bola dari pada ke gereja di hari Minggu. Artikel berjudul De Sport in  Korea en Japan tersebut tidak terinformasikan tentang sepak bola ala Eropa. Namun pada tahun 1898 terinformasikan majalah olah raga yang diterbitkan di Jepang (lihat Algemeen Handelsblad, 17-12-1898). Disebutkan sebuah majalah olahraga diterbitkan di Jepang, yang terutama berfokus pada olahraga dayung, renang, sepak bola, dan bersepeda. Namun tidak dijelaskan sepak bola ala Jepang atau sepak bola Eropa atau keduanya. Sepak bola sendiri di Jepang dikatakan telah dikenal sejak abad ke-7 (lihat Het nieuws van den dag : kleine courant, 18-06-1899). 

Di Batavia sudah ada klub yang didirikan. Di Medan pada tanggal 1 Juni 1899 telah didirikan didirikan dengan nama Sportclub Sumatra's Oostkust yang disingkat dengan Sportclub. Klub Medan ini sebagai klub sepakbola terbilang telat diproklamirkan meski sesungguhnya sepakbola justru di Medan pertamakali dilaporkan adanya. Boleh jadi pendirian klub di Medan ini karena pertandingan sepak bola semakin bersemangat di Medan yang dipusatkan di lapangan Esplanade (kini lapangan Merdeka di tengah kota). 


De Sumatra post edisi 24-05-1899 melaporkan bahwa di Medan telah diselenggarakan pertandingan sepakbola dengan tajuk pergaulan bersahabat (verbroedering). Isi beritanya sebagai berikut: ‘Kemarin sore yang berada di lapangan Esplanade (kini Lapangan Merdeka) di Medan terlihat tontonan yang menggembirakan. Sejumlah orang Eropa berada di pertandingan sepak bola tersebut dengan warga Tionghoa dan kaum pribumi. Hidup persaudaraan!!’ 

Sepak bola tidak hanya di Medan, Batavia, juga disebut telah semarak di Soerabaja, Semarang dan Bandoeng. Kompetisi sepakbola telah bergulir di Soerabaija pada tahun 1902 dan kemudian disusul di Batavia 1904. Dalam hal ini sepak bola pertama kali terinformasikan di Medan, tetapi klub sepak bola yang didirikan yang pertama di Batavia dan kompetisi sepak bola pertama diadakan di Soerabaja. Kompetisi diselenggarakan oleh suatu perserikatan (bond) sepak bola. 


De Sumatra post, 13-03-1905 melaporkan majalah olahraga pertama: ‘Het Orgaan, Algemeen Sportblad voor Ned.-Indië, majalah yang terbit dua kali sebulan yang bertindak editor R. Brons Middel. Sebuah "kata pengantar" dalam edisi perdana menyebutkan tujuan dari jurnal berita ini adalah untuk menyediakan cara yang umum bagi praktisi olahraga untuk tetap berhubungan dengan satu sama lain. Di Jawa, olahraga kuda hingga saat ini adalah olahraga utama, majalah khusus yang ada sebelumnya tentang sastra  kini bertambah lagi yang bersegmen olahraga, sehingga setiap orang dapat menemukan kejadian-keajdian dalam olahraga. Majalah ini juga akan mencakup selain olahraga berkuda, balap sepeda dan automobil, shooting game, olahraga air, senam dan atletik, tennis, permainan sepakbola dan kriket serta kompetisi lainnya di berbagai bidang. Para pembaca juga akan dapat menginformasikan hal apapun dari olahrga asing. Dalam edisi pertama, hal yang membuat menguntungkan untuk warga Sumatra adalah adanya laporan pertandingan sepakbola yang dilangsungkan pada tanggal 16 Januari di Medan antara Sportclub Medan vs Langkat Sportclub’. 

Kompetisi sepak bola di Medan baru dimulai tahun 1905. Bagaimana dengan sepak bola di Jepang? Tidak terinformasikan, kecuali majalah olah raga sudah ada di Jepang. 


De Sumatra post, 02-12-1905: ‘Pertandingan sepakbola. Dibawah cuaca yang kurang menguntungkan, kemarin di situs Esplanade, disaksikan oleh sejumlah penonton Eropa dengan atau tanpa jas hujan serta sejumlah kecil penduduk asli. Pertandingan ini dalam rangka memperebutkan Piala. Ini adalah pertandingan pertama antara Toengkoe Club melawan Medan Sportclub. Pertandingan ini dimenangkan oleh Toengkoe dengan skor 3-1. Untuk membuat penilaian yang baik tentang pemain sulit, sebab lapangan yang bagaikan sawah basah terasa licin dan bola tertahan. Kedudukan der Competitie untuk sementara sebagai berikut (lihat gambar)’. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Futsal Indonesia Taklukkan Jepang di Semi Final AFC 2026: Sepak Bola Jepang Awalnya Belajar Sepak Bola di Indonesia

Olimpiade musim panas tahun 1936 diadakan di Berlin, Jerman. Sejumlah negara anggota IOC telah mempersiapkan diri untuk keikutsertaannya termasuk Cina dan Jepang, Filipina, India-British. Dalam Olimpiade Berlin di Jerman juga mengikutsertakan cabang olahraga sepak bola. Dalam hal ini, sepak bola Olimpiade berada di bawah naungan FIFA. 


Nieuwsblad van het Zuiden, 20-04-1936: ‘Pertemuan Komite Eksekutif FIFA. Piala Dunia dan Turnamen Olimpiade; Di bawah kepemimpinan Bapak Rimet, presiden FIFA, komite eksekutif federasi internasional ini bertemu pada Minggu sore di gedung Asosiasi Sepak Bola Prancis di Paris. Karei Lotsy hadir untuk mewakili Belanda. Diskusi sangat beragam. Salah satu agenda utama adalah penyelenggaraan Kejuaraan Dunia. Ada pembicaraan tentang Prancis menjadi tuan rumah pada tahun 1937 selama Piala Dunia Paris. Kemungkinan ini dipertimbangkan dengan cermat, tetapi pada akhirnya disimpulkan bahwa tidak akan ada cukup waktu untuk penyelenggaraan ini pada tahun 1937, sehingga ide tersebut akhirnya ditinggalkan. Lagipula, kongres FIFA akan mengambil keputusan akhir apakah akan menyelenggarakan Olimpiade di Berlin pada bulan Agustus, dan kemudian hanya beberapa bulan tersisa hingga tahun berikutnya untuk persiapan. Selain itu, Asosiasi Sepak Bola Prancis belum menerima komitmen apa pun dari pihak-pihak yang berkepentingan, seperti Dewan Kota Paris dan Dewan Pameran, mengenai jumlah jaminan yang diminta sebesar 6. Terakhir, sangat bermasalah bahwa Prancis sudah memiliki stadion yang cukup besar untuk setidaknya 70.000 penonton tahun depan. Untuk saat ini, diasumsikan bahwa kejuaraan ini akan dimainkan pada tahun 1938 sesuai jadwal. Prancis sejauh ini adalah satu-satunya kandidat untuk penyelenggaraan kejuaraan dunia ini. Mengenai turnamen Olimpiade, diputuskan bahwa komite banding akan terdiri dari semua anggota Komite Eksekutif, kecuali mereka yang merupakan anggota komite lain yang terkait dengan turnamen ini. Juri lapangan akhirnya terdiri dari Dr. Bauwens (Jerman) sebagai ketua, Ir. Fischer (Hongaria) dan Karel-Lotsy (Belanda)), Dr. Pelikan (Republik Ceko) telah ditunjuk sebagai delegasi tetap. Yang juga penting adalah keputusan bahwa FIFA akan menunjuk NIVU (Persatuan Sepak Bola Belanda-Indonesia), di mana, seperti diketahui, 90 persen klub di NIVU bergabung kembali dalam likuidasi, akan mengakuinya sebagai asosiasi resmi ketika Persatuan tersebut telah memperoleh kepribadian hukumnya dan Bapak Bouman, mantan pemain HBS di Batavia, telah ditunjuk sebagai penasihat FIFA untuk Timur Jauh’. 

Tim sepak bola Olimpiade dari Cina akan melakukan uji coba ke Medan (lihat Deli courant, 25-05-1936).Disebutkan dalam pertemuan dewan eksekutif OSVB. yang diadakan kemarin pagi di aula kecil Hotel Siantar, beberapa poin penting dibahas mengenai kedatangan tim Olimpiade Tiongkok. Mengenai kedatangan para pemain sepak bola Tiongkok, dapat diumumkan bahwa mereka akan tiba pada tanggal 9 Juni dengan kapal "Plancius" dan akan tinggal di Deli hingga tanggal 17 Juni, di mana empat pertandingan akan dimainkan. Setelah kunjungan mereka ke Medan, tim Tiongkok akan berangkat ke Penang dan dari sana ke Kolombo. Pertandingan yang akan dimainkan di Pantai Timur akan berlangsung di lapangan DLSV (Medan). Para tamu kemungkinan akan bertanding melawan tim distrik, tim Eropa, tim asosiasi, dan tim asosiasi lokal. Pengaturan untuk hal-hal ini telah diserahkan kepada distrik Medan dari OSVB. Sementara Jepang telah mempersiapkan sebanyak 16 pemain sepak bola yang akan ke Berlin. Hanya dua Negara ini dari Asia dalam cabang sepak bola. 


De Noord-Ooster, 28-05-1936: ‘Tokyo, 27 Mei, Komite Olimpiade Jepang telah memutuskan untuk mengirim tim berikut ke Olimpiade di Berlin. Atletik: 46 atlet aktif dan 22 petugas, tukang pijat, juru masak, dll. Renang: 45 atlet aktif dan 13 petugas, tukang pijat, dll. Dayung: 18 atlet aktif dan 7 petugas. Sepak bola: 16 pemain dan 3 petugas. Hoki: 14 pemain dan 3 petugas. Bola basket: 11 atlet aktif dan 3 petugas. Senam: 8 atlet aktif dan 3 petugas. Tinju: 5 atlet aktif dan 3 petugas. Gulat: 5 atlet aktif dan 3 petugas. Berkuda: 4 atlet aktif dan 2 petugas. Layar: 4 atlet aktif dan 2 petugas. Dengan demikian, tim Olimpiade Jepang terdiri dari total 240 orang’. Dalam berita lain: ‘Ekspansi Jepang ke Selatan. Tokyo, 28 Mei. Pemerintah telah memutuskan untuk membentuk komisi koordinasi untuk "ekspansi Jepang ke Selatan" yang akan mencakup Menteri Luar Negeri, Angkatan Laut, dan Koloni. Dengan "ekspansi ke Selatan" Jepang maksudkan pembangunan ekonomi dan emigrasi ke Formosa, Polinesia, Filipina, dan Siam. Komisi ini akan mencakup departemen spesialis yang bertugas menyelidiki kemungkinan yang ditawarkan oleh masing-masing negara tersebut. Dalam hal ini, Nichi-Nichi menyatakan kekhawatiran bahwa ekspansi ekonomi Jepang ke negara-negara ini akan menyebabkan gesekan dengan Inggris dan Belanda, meskipun Jepang, seperti yang dicatat surat kabar tersebut, tidak memiliki niat untuk menaklukkan wilayah-wilayah ini’. 

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia (Hindia Belanda) tampaknya tidak berpartisipasi pada Olimpiade di Berlin (lihat Nieuwe Venlosche courant, 24-06-1936). Namun Federasi sepak bola di Hindia Belanda akan berpartisipasi dalam Piala Dunia tahun 1938 yang akan diadakan di Prancis. Perlu dicatat disini ada dua asosiasi di Indonesia (dualisme) yakni NIVU (Nederlandsch-lndiesche Voetbal Unie) dan PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia), namun yang diakui FIFA hanya satu setiap Negara, dalam hal ini, adalah NIVU. 


Arnhemsche courant, 23-06-1936: ‘Turnamen Olimpiade. Negara-negara peserta. Negara-negara berikut akan berpartisipasi dalam turnamen sepak bola Olimpiade: Bulgaria, Cina, Jerman, Mesir, Inggris, Finlandia, Hongaria, Italia, Jepang, Luksemburg, Norwegia, Austria, Peru, Polandia, Portugal, Turki, Amerika Serikat, dan Swedia’. Nieuwe Venlosche courant, 04-07-1936: ‘Di Timur Jauh, juga terdapat pertukaran terkait sepak bola yang hidup antara Jepang, Tiongkok, dan Filipina. "DaiNippon-Stukyu-Kwkwai" adalah nama yang merdu dari asosiasi Jepang, yang secara teratur memainkan pertandingan nasional melawan dua asosiasi nasional lainnya. Tiongkok melampaui Jepang. Meskipun Jepang dalam segala hal lebih unggul dari saudara mereka dari benua Asia dalam seni sepak bola, Tiongkok jauh di depan mereka. Dalam pertandingan internasional pertama antara Tiongkok dan Jepang, Jepang mengalami kekalahan telak. Mereka juga mengalami kekalahan terberat di Filipina. Mungkin akan membutuhkan waktu sebelum Jepang, yang berupaya meraih dominasi politik di Asia, juga mencapai level tertinggi dalam sepak bola. Hindia Belanda juga memiliki banyak tim yang diperkuat oleh pemain Eropa dan pemain lokal’. 


Indonesia sudah jelas tidak berpartisipasi dalam Olimpiade di Berlin tahun 1936. Dengan demikian cabang sepak bola Indonesia juga tidak akan tempil di Berlin. Namun, sepak bola Indonesia dengan bendera NIVU akan berpartisipasi dalam Piala Dunia 1938. Bagaimana dengan asosiasi sepak bola lainnya di Indonesia, PSSI? Tampaknya, PSSI mencari jalan keluar dengan mengirim pesepakbola Indonesia di bawah naungan PSSI ke Jepang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 13-07-1936). Disebutkan pemain sepak bola pribumi ke Jepang. Aneta melaporkan dari Djokja bahwa Asosiasi Sepak Bola Pribumi, PSSI, bermaksud mengirim beberapa tim ke Jepang tahun depan (1937) untuk menguji kekuatan mereka melawan pemain sepak bola Jepang. Lantas mengapa harus ke Jepang? 


Hubungan antara orang Indonesia dengan orang Jepang lebih akrab jika dibandingkan dengan orang Belanda. Fakta bahwa Belanda menjajah di Indonesia dan Jepang sudah menjadi negara maju (satu-satunya di Asia, nun jauh di Timur Jauh). Semua ini bermula tahun 1918. Parada Harahap membongkar kasus penyiksaan kuli kontrak asal Jawa di Deli (poenalie sanctie) yang dikirimkannnya ke surat kabar yang terbit di Medan tahun 1917. Parada Harahap kemudian dipecat dari tempat kerjanya di perusahaan perkebunan Belanda di Galang. Lalu Parada Harahap hijrah ke Medan dan menjadi redaktur surat kabar. Pada tahun 1918 Parada Harahap menginvestigasi praktek prostitusi di hotel-hotel mewah di Medan dimana para mucikari mendatangkan wanita-wanita Jepang melalui Singapoera. Konsulat Jepang di Medan mengapresiasi hasil jurnalistik Parada Harahap. Parada Harahap pulang kampong dan mendirikan surat kabar Sinar Merdeka tahun 1919 di Padang Sidempoean. Setelah beberapa kali terkena delik pers, Parada Harahap hijrah ke Batavia tahun 1922 dan mendirikan surat kabar Bintang Hindia (1923), lalu mendirikan kantor berita pribumi Alpena (1925) dan tahun berikutnya (1926) Parada Harahap mendirikan surat kabar harian Bintang Timoer. Parada Harahap saat ini berusia 26 tahun dan juga aktif bermain sepak bola di Batavia dan juga sebagai sekretaris organisasi kebangsaan Sumaranen Bond. Pada tahun 1927 Parada Harahap, MH Thamrin, Ir Soekarno dkk mendirikan federasi organisasi kebangsaan Indonesia disebut PPPKI (Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia). Singkatnya, pada tahun 1930 Ir Soekarno setelah pulang dari kongres PPPKI di Solo bulan Desember 1929 ditangkap. Setelah keluar dari penjara, Ir Soekarno kembali ditangkap karena melawan otoritas Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1933. Mendengar desas-desus bahwa Ir Soekarno akan diasingkan, Parada Harahap memimpin tujuh revolusioner Indonesia ke Jepang, berangkat pada bulan November 1933. Pada tanggal 12 Januari 1934 Parada Harahap dkk kembali ke tanah air, yang juga bersamaan dengan diasingkannya Ir Soekarno ke Flores. Pada tahun 1935 di Jepang sudah ada organisasi orang Indonesia yang dipimpin oleh anggota kamar dagang pribumi di Batavia (Parada Harahap sendiri adalah ketuanya sejak 1927). Guru bahasa Bahasa Indonesia sudah ada di Jepang, yang pertama adalah WJS Poewadarminta dan kemudian digantikan oleh Mr Soedjono tahun 1936. Dalam konteks inilah diduga mengapa PSSI akan mengirim pesabola Indonesia ke Jepang pada tahun 1937. 

Pembagian grup pertandingan cabang sepak bola dalam Olimpiade di Berlin sudah dirilis dalam dua grup. Jepang dan China yang menjadi wakil Asia berada di grub yang sama (Gropeup B). Tim Olimpiade Jepang sudah berada di Berlin, termasuk tim sepak bolanya. Mereka sedang relaksasi setelah perjalanan jauh dengan kereta api (melalui Siberia). 


De Telegraaf, 20-07-1936: ‘Sepak bola Olimpiade: Inggris di babak pertama melawan Tiongkok. Negara-negara dibagi menjadi dua grup. Berlin, 19 Juli — Komite yang mewakili turnamen sepak bola Olimpiade FIFA, yang diselenggarakan oleh Bapak KJJ Lotsy (Belanda), Dr Bauwens (Jerman), dan Ir Fischer (Hongaria), bertemu hari ini di Berlin untuk membagi negara-negara yang terdaftar menjadi dua grup dan selanjutnya melakukan pengundian untuk babak pertama. Selain para bapak tersebut, sekretaris jenderal FIFA Dr I Schricker, juga hadir. Hampir semua negara peserta diwakili dalam pertemuan ini. Diumumkan bahwa 16 negara akan berpartisipasi dalam turnamen tersebut. Ke-16 negara ini dibagi menjadi dua grup: Grup A dengan Jerman, Mesir, Inggris, Italia, Norwegia, Peru, Polandia, Swedia, dan Grup B dengan Austria, Tiongkok, Amerika Serikat, Finlandia, Hongaria, Jepang, Luksemburg, dan Turki. Hasil undian menghasilkan pertandingan-pertandingan berikut yang dimainkan di babak pertama: Mesir—Austria (Pertandingan A), Polandia—Hongaria (B), Italia—Amerika Serikat (C), Swedia—Jepang (D), Norwegia—Turki (E), Inggris—Tiongkok (F), Jerman—Luksemburg (G), dan Peru—Finlandia (H1). Hasil undian untuk babak kedua menghasilkan pemenang pertandingan H melawan pemenang A, pemenang E melawan G, pemenang D melawan C, dan pemenang F melawan B. Di semifinal pertama, negara-negara pemenang perempat final kedua dan ketiga akan saling berhadapan. Di semifinal kedua, pemenang semifinal pertama dan keempat akan saling berhadapan. Panitia penyelenggara juga menentukan tanggal dan tempat pertandingan yang akan dimainkan di babak pertama. Jadwal pertandingan saat ini adalah sebagai berikut: Senin, 3 Agustus: Italia—Amerika Serikat (Poststadion); Norwegia—Turki (Momnisenstadion). Selasa, 4 Agustus: Jerman—Luksemburg (Poststadion); Swedia—Jepang (Hertha Stadium). Rabu, 5 Agustus: Polandia—Hongaria (Poststadion); Mesir—Austria (Stadion Mommsen). Kamis, 6 Agustus: Inggris—China (Stadion Mommsen); Peru—Finlandia (Stadion Hertha). Perempat final: Jumat, 7 Agustus: Pemenang Norwegia/Turki vs. pemenang Jerman/Luksemburg (Poststadion); pemenang Italia/Amerika Serikat vs. pemenang Swedia/Jepang (Stadion Mommsen). Sabtu, 8 Agustus: Pemenang Mesir/Austria vs. pemenang Peru/Finlandia (Stadion Hertha); pemenang Polandia/Hongaria vs. pemenang Prancis/China (Poststadion). Senin, 10 Agustus: Semifinal. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-07-1936: ‘Para Pemain Sepak Bola Asia di Berlin. Jepang Memberikan Kesan yang Baik. Tim Lee Wai Tong. Puncak dari turnamen sepak bola Olimpiade mendatang di Berlin tidak diragukan lagi adalah partisipasi tim perwakilan dari Jepang dan Tiongkok, dua negara yang sejauh ini abstain dari berpartisipasi dalam turnamen sepak bola Olimpiade dan sama sekali baru di lapangan sepak bola Eropa kita. Kedua negara telah bermain melawan satu sama lain secara teratur sejak 1917, dengan Tiongkok secara konsisten membuktikan diri sebagai tim yang lebih kuat. Dari tujuh pertandingan, Tiongkok telah memenangkan setidaknya enam, "satu berakhir imbang, yang, bagaimanapun, merupakan kemenangan moral bagi Tiongkok, karena wasit Jepang berhasil mengubah kekalahan menjadi imbang dengan dua penalti" menurut "NRCrt". Para pemain sepak bola Jepang telah tiba di Berlin. Mereka telah menetap di Perkampungan Olimpiade dan saat ini sibuk berlatih, setelah mengatasi kelelahan perjalanan kereta api yang panjang. Cara Jepang Mengontrol Bola. Permainan mereka telah memberikan kesan yang baik pada para ahli di Berlin. Mereka pasti memiliki beberapa penjaga gawang yang luar biasa. Postur tubuh mereka yang kecil memungkinkan mereka untuk membungkuk dengan sangat cepat—sehingga mereka tidak, seperti kebanyakan penjaga gawang, berlutut saat menghadapi tembakan rendah. Mereka melemparkan diri dengan ketangkasan yang luar biasa untuk menyelamatkan tembakan di sudut gawang. Adapun para pemain di lapangan, kemampuan mengontrol bola mereka sangat dipuji. Dalam hal itu, mereka tidak kalah dengan negara mana pun di benua Eropa. Namun, orang bertanya-tanya apakah mereka akan mampu bertahan dalam permainan yang keras. Kelincahan mereka yang hebat mungkin memungkinkan mereka untuk menghindari serangan yang kuat. Mereka tampaknya tidak terlalu mempermasalahkan sundulan; setidaknya, itu belum terlihat dalam latihan. Seluruh skuad terdiri dari 17 pemain, seorang pelatih, seorang tukang pijat, dan seorang pemimpin. Sepak bola tidak dimulai di Jepang sekitar 19 tahun yang lalu. Pada tahun 1921, Asosiasi Sepak Bola Jepang (Dai-Nippon Shukyu Kyokai) didirikan, dan pada tahun 1929, Asosiasi tersebut bergabung dengan Asosiasi Sepak Bola FIFA. Jepang telah memainkan pertandingan internasional melawan Filipina dan Hindia Belanda. Pertandingan melawan Hindia Belanda terjadi pada Olimpiade Timur 1934 di Manila, di mana Hindia Belanda menang 7-1. Menurut seorang pelatih Jerman yang pernah bekerja di Jepang, kemampuan sepak bola Tiongkok seharusnya dinilai lebih tinggi daripada kemampuan sepak bola Jepang. Para pemain Jepang semuanya adalah mahasiswa dari Tokyo atau Kobe. Usia rata-rata para pemain sekitar 21 tahun’. 

Sepak bola Jepang sendiri tidak lebih baik dari sepak bola Tiongkok. Tim sepak bola Jepang pernah dikalahkan tim sepak bola Indonesia pada Olimpiade Timur di Manila pada tahun 1934 dengan skor yang meyakinkan 7-1. Tim sepak bola Tioangkok dalam persiapan ke Olimpiade di Berlin saat uji coba di Medan tidak terlalu memuaskan bahkan melawan tim yang berasal dari regional Sumatra Timur. Tim sepak bola Indonesia baik di berbagai klub/bond maupun di tim nasional terdiri dari komposisi pemain pribumi, Cina dan Belanda. Namun sejak 1930 sepak bola Indonesia terbagi dalam dua asosiasi (dualism kompetisi). Rencana tim sepak bola PSSI ke Jepang tampaknya semakin matang. 


Bataviaasch nieuwsblad, 31-07-1936: ‘Olahraga dan Permainan Sepak Bola Pemain Pribumi ke Jepang. Dua tim dari Djokja. Mataram, yang telah mengirim pesan kepada Aneta di Djokja, mengetahui bahwa Asosiasi Sepak Bola Pribumi, PSSI, sedang mempertimbangkan untuk menyelenggarakan tur ke Jepang pada pertengahan tahun 1937 dengan dua tim yang terdiri dari siswa yang merupakan bagian dari kelompok siswa yang lebih besar yang berjumlah sekitar seratus orang yang akan pergi ke Jepang untuk tujuan budaya. Inisiatif untuk rencana ini diambil oleh beberapa anggota Volksraad, termasuk Bapak MH Thamrin. Kontak juga dilakukan dengan Profesor Jepang terkenal Fujiwara, yang menjanjikan dukungan dan kerja samanya’. 


Seperti disebut di atas, pertandingan sepak bola Olimpiade di Berlin di mulai hari pertama pada hari Senin tanggal 3 Agustus yang mempertemukan Italia-Amerika Serikat di Poststadion; Norwegia-Turki di Momnisenstadion). Pada hari kedua hari Selasa, 4 Agustus antara Jerman-Luksemburg di Poststadion; dan Swedia-Jepang di Hertha Stadium. Hasil pertandingan antara Swedia-Jepang berakhir dengan skor 2-3 untuk kemenangan Jepang (lihat Christelijk sociaal dagblad voor Nederland De Amsterdammer, 04-08-1936). 


Hasil pertandingan antara Swedia-Jepang tentu saja diluar dugaan. Jepang adalah tim yang sebelumnya terbilang lemah di Asia jika dibandingkan dengan Tiongkok dan Indonesia, apalagi Jepang hanya diwakili tim seleksi mahasiswa di Jepang. Swedia sendiri di Eropa terbilang dengan kompetisi sepak bola yang sudah terbilang baik. Namun orang yang pernah ke Jepang telah melihat sisi orang Jepang dalam berbagai bidang termasuk dalam bidang olah raga, yang dalam hal ini, cabang olahraga sepak bola, memiliki semangat tinggi. Dalam pertandingan awal cabang sepak bola Olimpiade di Berlin, semangat Jepang berhasil menaklukkan sepak bola Swedia. Twentsch dagblad Tubantia en Enschedesche courant, 05-08-1936: ‘Turnamen sepak bola Olimpiade. Jepang mengalahkan Swedia 3-2. Kemarin sore, pertandingan Swedia-Jepang dimainkan di stadion Hertha sebagai bagian dari Turnamen Sepak Bola Olimpiade. Sebelum jeda, Swedia bermain melawan angin kencang, tetapi tetap berhasil menekan lawan mereka. Namun, Jepang bertahan dengan baik. Mereka tidak dapat mencegah pemain sayap kanan Swedia, Persson, untuk memberi negaranya keunggulan setelah 24 menit. Setelah itu, serangan Jepang menjadi lebih sering, tetapi Swedia beruntung ketika pertahanan mereka berhasil mencegah gol yang tampaknya pasti dari pemain sayap kiri Jepang, Takeshi Kamo. Delapan menit sebelum jeda, Persson mencetak gol lagi dari umpan silang pemain sayap kiri Hallman. Jeda berakhir dengan skor 2-0 untuk Swedia. Kejutan besar adalah bahwa Jepang merebut kemenangan setelah jeda. Hanya empat menit setelah jeda, pemain sayap kiri Sjogo Kamo mencetak gol, dan tidak lama kemudian, pemain sayap kanan menyamakan kedudukan. Swedia tetap memegang kendali penuh selama sisa pertandingan. Mereka berulang kali menyerbu gawang Jepang, tetapi mereka tidak berhasil mencetak gol selain beberapa tendangan sudut. Lima menit sebelum peluit akhir berbunyi, pemain sayap kanan Jepang, Matsunaga, mencetak gol ketiga Jepang. Pemain sayap kiri Jepang mengalami cedera dan harus dibawa keluar lapangan dengan tandu. Tidak ada gol tambahan yang tercipta, dan Jepang memenangkan pertandingan dengan skor 3-2. Mereka akan menghadapi Italia pada tanggal 7 Agustus’. De grondwet, 05-08-1936: ‘Turnamen sepak bola. Jepang mengalahkan Swedia. Pada babak pertama Turnamen Sepak Bola Olimpiade, Jepang mengamankan kemenangan 3-2 atas Swedia. Kemenangan ini bagi Jepang, yang hingga kini memiliki reputasi sebagai negara sepak bola yang lemah, tentu akan memberikan kesan yang besar. Kebetulan, Swedia adalah pemain sepak bola yang lebih baik, sementara Jepang seringkali tampak lebih seperti akrobat’. 

Wakil Asia lainnya, China harus mengakui keunggulan sepak bola Inggris, kalah 0-2 (lihat Christelijk sociaal dagblad voor Nederland De Amsterdammer, 06-08-1936). Pertandingan tersebut dilangsungkan pada hari ini tanggal 6 Agustus. Jepang akan melakukan pertandingan kedua besok hari Sabtu tanggal 7 Agustus. 


Arnhemsche courant, 07-08-1936: ‘Pertandingan Inggris-China, yang dimainkan Kamis sore di Stadion Mommsen, tidak jauh dari Lapangan Olahraga Nasional, menarik minat yang cukup besar, karena ini adalah pertama kalinya di Eropa orang-orang memiliki kesempatan untuk menyaksikan sepak bola China, yang telah banyak dibicarakan dan yang, dalam waktu singkat sejak pertama kali dimainkan di China, telah sangat dihargai di Asia Timur. Para penggemar sepak bola Inggris belajar bahwa orang-orang China adalah murid yang baik dari pelatih Inggris dalam pertandingan ini, ketika mereka belum berhasil mencetak gol hingga babak pertama dan gawang mereka bahkan beberapa kali terancam dibobol. Di babak kedua, Inggris mencetak dua gol. Tim Inggris memainkan permainan yang sangat biasa-biasa saja dan, dalam kondisi seperti ini, memiliki sedikit  atau tidak ada peluang melawan negara-negara kuat Eropa Tengah. Terlepas dari permainan Inggris yang agak lemah dan kekalahan yang diderita tim China di babak kedua, pertandingan ini tetap memberikan kesan yang sangat baik tentang sepak bola China, yang membenarkan kesimpulan bahwa banyak hal baik yang didengar tentangnya tentu tidak berlebihan. Sebagian besar pemain memiliki kemampuan mengontrol bola yang baik dan, seperti murid yang baik dari permainan Inggris, tahu bagaimana menghentikan atau menerima bola dan mengopernya dengan akurat satu sama lain. Secara umum, tim Tiongkok juga memposisikan diri dengan baik dan berupaya memainkan permainan bertahan dan singkat, yang tampaknya menjadi keunggulan mereka, tetapi Inggris memberi mereka sedikit peluang, terutama di babak kedua’. Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 10-08-1936: ‘Keenam belas negara peserta sepak bola dibagi menjadi dua kelompok: lebih kuat dan lebih lemah, setelah itu dilakukan pengundian dengan menempatkan negara yang kuat melawan negara yang lebih lemah. Pasangannya lihat tabel. 

Setelah membuat sensasi pada pertandingan pertama mengalahkan Swedia dengan 2-0, Jepang pada pertandingan kedua harus menelan kekalahan pahit 0-8 dari tim sepak bola Italia di stadion Mommsen di Berlin (lihat Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant, 08-08-1936). Dengan demikian Italia membuka peluang untuk babak selanjutnya. Sementara China gugur di pertandingan pertama dan Jepang gugur di pertandingan kedua. 


Namun bagaimanapun tim sepak bola Jepang sudah mencatat namanya dengan baik meski hanya mampu memenangkan pertandingan di pertandingan awal (melawan Swedia). Sementara China kandas di pertandingan pertama melawan Inggris. 

Hasil keseluruhan pertandingan sepak bola Olimpiade Berlin yang menjadi juara pertama adalah Italia, juara kedua Oostenrijk (Austria) dan ketiga Norwegia (lihat Haagsche courant, 18-08-1936). Dalam hal ini di partai Final Italia mengalahkan Austria, di perebutan tempat ketiga dimenangkan oleh Norwegia. 


Setelah usai Olimpiade Berlin, kontingen Jepang langsung pulang ke tanah air dengan menggunakan kereta api lagi. Sepak bola Jepang kalah bersaing di Olimpiade Berlin, tetapi secara keseluruhan masih bisa pulang dengan kepa tegak karena berhasil mendapat medali emas dari sejumlah cabang olah raga. Keseluruhan kontingen Jepang meraih 6 emas, 4 perak dan 10 perunggu (yang kurang lebih sama dengan kontingen Belanda) Sementara itu kontingen Cina tanpa medali satu pun. Meski demikian, tim sepak bola tidak langsung pulang, tetapi mencoba mencari pengalaman bertanding ke Belanda. Seperti disebutkan sebelumnya, tim sepak bola sebelum ke Berlin melakukan pertandingan uji coba di Medan (Hindia Belanda). Di Belanda, tim sepak bola Cina bertanding melawan Ajax Amsterdam (lihat Provinciale Noordbrabantsche en 's Hertogenbossche courant, 28-08-1936). Disebutkan Ajax bermain melawan tim Olimpiade Tiongkok tadi malam di hadapan hanya 8.000 penonton dan menang 5-3. Skor babak pertama: 3-0. 

Lantas mengapa Jepang langsung pulang melalui kereta api dari Jerman ke Moscow melalui Siberia (Rusia) ke Vladivostok, sementara sepak bola Cina masih menyempatkan diri berkunjung ke Belanda? Sebagaimana diketahui Jepang menginvasi Manchuria (Tiongkok) pada tahun 1931. Dui Belanda sendiri sangat banyak orang Cina asal Indonesia berada baik studi maupun kerja. 


Hubungan antara Jepang dan Rusia sendiri masih baik-baik saja. Sementara itu Tiongkok yang berada di bawah tekanan Jepang juga akan dialami Belanda di Hindia Belanda (baca: Indonesia). Seperti disebut di atas, Pemerintah Jepang telah memutuskan untuk membentuk komisi koordinasi untuk "ekspansi Jepang ke Selatan" untuk pembangunan ekonomi dan emigrasi ke Formosa, Polinesia, Filipina, dan Siam yang akan menyebabkan gesekan dengan Inggris dan Belanda, meski Jepang disebutkan tidak memiliki niat untuk menaklukkan wilayah-wilayah ini (lihat De Noord-Ooster, 28-05-1936). 

Belum hilang ‘demam” Olimpiade Berlin, terinformasikan bahwa Olimpiade musim dingin tahun 1940, salah satu kandidat utama adalah Jepang. Hal itu diungkapkan sekretaris Komite Olimpiade Internasional, Berdez. Olimpiade musim dingin sendiri sudah diadakan empat kali: 1924 di Chamonix, Prancis; 1928 di St Moritz, Swiss;  1932 di Lake Placid, New York, Amerika Serikat; dan 1936 di Garmisch-Partenkirchen, Jerman. Olimpiade musim dingin 1940 akan diadakan di kota Sapporo, Jepang. 


Nieuwsblad van Friesland: Hepkema's courant, 25-09-1936: ‘Jepang juga menjadi kandidat untuk pertandingan musim dingin. Keputusan dibuat pada Juni 1937. Sekretaris Komite Olimpiade Internasional, Bapak Berdez, telah membuat pengumuman mengenai pemberian hak penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin 1940. Bapak Berdez menyatakan bahwa negara yang menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 1940—Jepang—memiliki hak prioritas untuk menjadi tuan rumah Pertandingan Musim Dingin, artinya Jepang juga dapat menjadi tuan rumah Pertandingan Musim Dingin, asalkan bersedia dan mampu melakukannya. Karena Jepang belum secara resmi mengumumkan penarikan diri dari penyelenggaraan Pertandingan Musim Dingin, Jepang tetap menjadi kandidat. Kandidat lainnya termasuk St. Moritz, Oslo, dan Kanada’. 

Bagaimana dengan Olimpiade musim panas? Tahun 1936 ini, seperfti disebut di atas diadakan di Berlin, Jerman. Sebelum itu tahun 1932 diadakan di Los Angels, Amerika, Serikat; 1928 di Amsterdam, Belanda; 1924 di Paris, Prancis; 1920 di Antwerpen, Belgia. 1916 awalnya di Berlin, tetapi dibatalkan karena Perang Dunia I; 1912 di Stockholm, Swedia. Ringkasnya Olimpiade musim panas pertama diadakan tahun 1896 di Athena, Yunani. Olimpiade musim panas tahun 1940 juga akan diadakan di Tokyo, Jepang.

 

De Indische courant, 03-10-1936: ‘Stadion Olimpiade Jepang. Tokyo sudah bersiap. "Lonceng Olimpiade akan berbentuk bunga teratai terbalik!". "Yang terpenting," kata Dr. Kishida, "kami ingin membangun tempat yang lapang dan luas". Ia memperlihatkan beberapa rencana kasar kepada kami. "Saya sudah berada di Berlin beberapa waktu untuk mempelajari desain lapangan olahraga, yang terbukti sangat brilian di Olimpiade ke-11, dan untuk belajar dari pengalaman yang mungkin telah diperoleh di sini". "Apakah Stadion Olimpiade baru akan dibangun dengan gaya Jepang? Maksud kami dengan balok pagoda, atap sepuluh lipatan, dll.?" tanya kami. Karena di mata kami, Jepang masih merupakan negeri rumah-rumah dengan atap melengkung dan seribu satu ornamen di setiap tempat tinggal. Arsitek itu tersenyum; ia tampaknya telah mengantisipasi pertanyaan itu. "Hal seperti itu, Tuan-tuan", katanya sambil tertawa, "tidak lagi sesuai dengan konsep olahraga modern kita. Olahraga adalah tentang kepraktisan dan kenyamanan, oleh karena itu garis-garisnya lurus dan sederhana, gayanya sangat modern. Itulah sebabnya kami akan membangun sesederhana dan sebersih mungkin, mungkin mengikuti model Kompleks Olahraga Nasional di Berlin. Kami juga akan menggunakan beton, karena memungkinkan konstruksi yang paling indah". 

Rencana Olimpiade tahun 1940 yang akan diadakan di Jepang adalah penyelenggaraan pertama di luar Eropa. Ini menjadi suatu kehormatan bagi Asia, khususnya Jepang sendiri. Fasilitas Olimpiade di Jepang sudah mulai dipersiapkan. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bisa setelah Jerman, Olimpiade berikutnya diadakan di Jepang? Apakah itu dilatarbelakangi suatu koneksi tersembunyi antara Jerman dan Jepang? Yang jelas, orang Jerman sangat bersemangat Olimpiade diadakan di Jepang. 


Utrechtsche courant, 06-11-1936: ‘Atlet Jerman ingin berjalan kaki ke Olipmiade di Jepang. Untuk tiba di Tokyo tepat waktu untuk Olimpiade 1940, seorang atlet Jerman berusia 27 tahun bernama Ronald Bas telah berangkat dari Berlin. Ia bermaksud menempuh seluruh jarak 16.000 Km dengan berjalan kaki. Dengan membawa ransel di pundaknya, ia hanya membawa kebutuhan pokok’. Soerabaijasch handelsblad, 23-12-1936; ‘Olimpiase musim dingin. Bukan di Jepang? Lausanne, 22 Desember (Aneta). Selama pertemuan Komite Eksekutif Komite Olimpiade Internasional di Lausanne, kemungkinan Olimpiade Musim Dingin berikutnya akan diadakan di Eropa, bukan di Jepang, diungkapkan. Pertemuan tersebut diadakan untuk mendengarkan laporan Count de Balêt Latour, yang telah kembali dari perjalanan inspeksi ke Jepang’. Bataviaasch nieuwsblad, 26-12-1936: ‘Penerbangan: Olimpiade 1940 ke Tokyo dengan Zeppelin? Tak lama setelah Olimpiade di Berlin, seorang pengusaha Berlin menghubungi perusahaan pelayaran Zeppelin untuk memesan tempat bagi dirinya dan istrinya untuk melakukan perjalanan dengan pesawat udara ke Olimpiade 1940 di Tokyo! Sejak itu, sekitar sepuluh orang lainnya telah mengikuti contohnya, meskipun masih belum pasti apakah pesawat udara akan melakukan perjalanan ke Tokyo pada tahun 1940. Namun, sebuah surat dari salah satu agen perjalanan terbesar Swedia, yang diterima oleh perusahaan pelayaran Zeppelin Jerman di Berlin, menunjukkan bahwa pertimbangan serupa telah dilakukan di tempat lain. Agen ini telah mencetuskan ide untuk menyelenggarakan perjalanan kelompok bagi pengunjung Olimpiade di Jepang. Rincian perjalanan tersebut juga telah diteliti; sebuah rencana telah diusulkan untuk perjalanan langsung dari Jerman ke Tokyo, dengan masa tinggal empat belas hari di ibu kota Jepang, setelah itu perjalanan pulang akan dimulai. Pesawat udara itu kemudian akan digunakan sebagai hotel untuk para penumpang, sebaiknya termasuk sarapan dan makan malam, sambil sesekali melakukan penerbangan singkat di atas Tokyo’. 

Lalu bagaimana sepak bola Jepang selanjutnya? Pada tanggal 15 Maret 1937, FIFA menunjuk Jepang dan Indonesia untuk melakukan pertandingan prakualifikasi Piala Dunia 1938 yang pemenangnya akan melawan (play-off) pemenang pertandingan (play-off) antara Amerika Serikat (juara Amerika Utara) dengan Argentina (juara Amerika Tengah) untuk memperebutkan satu tempat dalam melengkapi 16 negara yang akan berlaga dalam final Piala Dunia 1938 di Prancis. Dalam hal ini penunjukan Indonesia dari Asia karena masa itu Indonesia telah memiliki kompetisi lokal yang teratur, sedangkan Jepang tidak/belum memiliki kompetisi lokal namun Jepang memiliki tim Olimpiade yang kuat. 


Pertandingan melawan tim Jepang dalam prakualifikasi Piala Dunia 1938 yang dijadwalkan akan dilangsungkan di Hong Kong. Namun dalam perkembangannya Jepang mengundurkan diri. Hal ini karena Jepang terlibat perang dengan Tiongkok di Manchuria. Indonesia dengan sendirinya menjadi wakil zona Asia maju untuk melawan hasil play-off antara Amerika Serikat dengan Argentina yang akan dijadwalkan dimainkan di Belanda. Argentina juga berhalangan hadir. Oleh karena sepak bola belum popular di Amerika, Amerika juga kemudian membatalkan ke Belanda untuk melawan tim Asia, Indonesia. Akhirnya Indonesia tanpa pernah melakukan pertandingan babak prakualifikasi yang sebenarnya berhak ke Prancis. Jadi, dalam hal ini prosesnya Indonesia menuju putaran Piala Dunia di Prancis berjalan normal, hanya saja tanpa pernah melakukan pertandingan. 

Di dalam negeri, di Indonesia ada dua asosiasi sepakbola, yakni: NIVU dan PSSI. Namun yang diakui oleh FIFA adalah NIVU. Persoalan muncul, sebab tentu saja pemain-pemain terbaik di Indonesia tidak hanya ada di klub-klub di bawah naungan NIVU tetapi juga klub-klub yang berafilasi dengan PSSI. Akibatnya, ada kegalauan diantara petinggi NIVU, ini beralasan, karena tim-tim yang dihadapi di Piala Dunia 1938 terdiri dari tim-tim tangguh yang berasal dari Eropa. Apalagi, jika Indonesia lolos prakualifikasi dan menang playoff akan langsung bertemu dengan tim Hungaria yang menjadi tim terkuat di Eropa Tengah. Presiden NIVU, Grouse mencoba mencari jalan keluar. Dia berinisiatif untuk membicarakan dengan petinggi PSSI dalam suatu pertemuan di Bandung. Presiden NIVU berharap terjadi unifikasi (NIVU dengan PSSI). Akan tetapi deadlock. Dengan pengakuan FIFA terhadap NIVU dan tidak tercapainya unifikasi, otomatis potensi pemain berkualitas hanya dapat diperoleh dari kompetisi yang dilakukan oleh klub-klub dibawah afiliasi NIVU. Sementara itu, tidak mudah untuk menyeleksi semua pemain klub-klub NIVU karena homebase klub-klub NIVU tidak hanya di Jawa, tetapi juga di Sumatra dan Sulawesi–yang tentu saja berjauhan. Dengan pertimbangan biaya dan jarak yang berjauhan, NIVU hanya membatasi seleksi pemain untuk Piala Dunia 1938 di wilayah Jawa saja.

 

Untuk proses seleksi ini, NIVU mendatangkan pelatih berkualitas dari Belanda bernama Mastenbroek dan NIVU juga menyelenggarakan kompetisi dadakan di tiga subwilayah Jawa untuk memantau pemain potensil, yakni: Jawa bagian barat di pusatkan di Bandung (perserikatan dari Batavia, Bandoeng dan Semarang) yang dilangsungkan tanggal 24, 25 dan 26 Desember 1937; Jawa bagian timur dipusatkan di Malang pada tanggal 29 dan 30 Desember 1937 (perserikatan Soerabaja dan Malang); dan Jawa bagian tengah dipusatkan di Solo tanggal 30 Desember 1937 (perserikatan Solo dan Djokjakarta). Selanjutnya, kombinasi pemain yang masing-masing mewakili tiga subwilayah (tiga tim) dipertemukan pada awal Februari 1938 di Solo. Pertemuan tiga tim subwilayah ini menjadi fase terakhir dalam memantau dan memilih kandidat pemain ke Piala Dunia. 

Pelatih Mastenbroek, memantau tournament untuk merekrut pemain yang sesuai dengan kualifikasi yang diinginkannya dalam membentuk tim Indonesia ke Piala Dunia. Hasilnya, dipanggil sejumlah pemain untuk mengikuti pelatihan dan uji coba. Pada fase keberangkatan menuju pemusatan latihan di Medan, akhirnya jumlah pemain diciutkan menjadi hanya 17 pemain yang benar-benar berangkat ke Prancis. Nama-nama pemain tim Indonesia yang berangkatke Prancis tersebut termasuk Nawir. De Indische courant, 12-04-1938 melaporkan bahwa secara aklamasi Nawir ditunjuk menjadi kapten Tim dan Rohrig sebagai wakil kapten. Untuk maskot tim adalah Teddybear, sebuah boneka beruang Teddy yang hampir seukuran bayi (De Indische courant, 19-04-1938). 


Hasil seleksi dari turnamen tiga subwilayah di Jawa, menurut para dewan NIVU sesungguhnya tidak begitu optimis dibandingkan dengan seharusnya untuk kebutuhan level permainan di Eropa. Namun itulah kenyataannya (dualisme kompetisi, pencarian bakat yang hanya di Jawa dan juga semakin sempitnya waktu persiapan). Akan tetapi dukungan yang luar biasa dari Mr. Karel Lotsy (Presiden KNVB, PSSI-nya di negeri Belanda) membuat para official Tim Indonesia untuk berangkat ke Eropa tetap bersemangat. Karel Lotsy yang juga menjadi pejabat tinggi di FIFA sangat simpatik talenta yang ada di Indonesia. Sebelum berangkat ke Eropa, tim Nivu akan memainkan pertandingan terakhir di Batavia pada hari Minggu siang 24 April di lapangan B. V. C., melawan "sisa" Batavia. Tim NIVU: Mo Heng (Malang), Samuels (Surabaya), Anwar (Batavia), Nawir (Soer.), Taihutu (Batavia), Patiwael (Batavia), Hong Djien (Soer.), Hukom, F. Meeng, Tan See Han, Summers Cadangan: Van Beuzekom (Batavia), Harting (Surabaya), Van der Burj (Djocja), Faulhaber (Semarang), Sudarmadji (Surabaya) dan Telwe (Surabaya). Hasil pertandingan di Batavia berakhir dengan skor 4-1 (2-0) untuk kemenangan Tim NIVU melawan tim Batavia (Bataviaasch nieuwsblad, 25-04-1938). 

Akhirnya Tim Indonesia berangkat dan memulai perjalanan panjang ke Eropa, dari Batavia tanggal 27 April 1938. Namun, Tim Indonesia tidak mengikuti rute dan skedul pelayaran reguler Batavia-Amsterdam (yang umumnya berada tiga minggu pelayaran), melainkan melakukan perjalanan dengan rute yang disesuaikan dengan kondisi pemain dan program pelatihan yang direncanakan (di dalam negeri, selama perjalanan dan di Eropa/Belanda). Oleh karenanya ada sejumlah persinggahan sebelum menuju Rheims, Prancis. Ini semua dimaksudkan untuk tetap menjaga stamina pemain tetap kondusif dan berupaya agar terjadi peningkatan performance hingga hari-H di Rheims pada tanggal 5 Juni 1938. Persinggahan pertama dilakukan di Medan.

 

Di Medan, Tim Indonesia melakukan pemusatan pelatihan terakhir di tanah air sebelum menuju Eropa. Pada tanggal 30 April di Medan melakukan uji coba melawan sebuah tim bentukan yang terbilang kuat yang merupakan kombinasi para pemain terbaik di Medan dan sekitarnya. Meski Tim Indonesia dapat memainkan partai indah dalam pertandingan itu, tetapi hanya mampu menang 4-2 (De Sumatra post, 02-05-1938). Hasil di Medan ini tidak terlalu diperhitungkan, tetapi tujuan utama lebih pada mendapatkan gambaran yang baik dari apa yang dapat selama pemusatan latihan sebelumnya di Soerabaja dan  Batavia serta hasil partai uji coba di Bandung melawan klub Bandung tanggal 13-3-1938. Tim ini dipimpin Mastenbroek yang didampingi ofisial van Bommel  (Pemimpin Umum) dan Weiss serta Nona Meyer sebagai sekretaris. Sementara tujuh belas pemain dipilih dari (hanya) tiga perserikatan di Jawa yang terdiri dari delapan orang Belanda, tiga orang Ambon, dua orang Sumatra, satu orang Jawa dan tiga orang Tionghoa (Soerabaijasch handelsblad, 25-05-1938). Jika hanya disebut satu orang Jawa itu berarti adalah Soedarmadji. Lantas siapa dua orang Sumatra. [Soetan] Anwar telah diklaim sebagai orang Minangkabau. Satu lagi sudah tentu yang dimaksud adalah Achmad Nawir Lantas siapa [Achmad] Nawir? Darimana asalnya di Sumatra? 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar