*Untuk melihat semua artikel Sejarah Surat Kabar di blog ini Klik Disini
Soerabaijasch Handelsblad ("Surat Kabar Perdagangan Surabaya") adalah surat kabar lembar lebar berbahasa Belanda[1] yang beredar di Surabaya, Hindia Belanda. Surat kabar ini diterbitkan oleh Kolff and Company (Wikipedia Indonesia). Sejarah Catur di Indonesia
Soerabaijasch Handelsblad ("Surat Kabar Komersial Surabaya") adalah surat kabar berformat lembaran besar berbahasa Belanda yang terkemuka yang diterbitkan di Surabaya, Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Surat kabar ini berperan penting sebagai media selama era kolonial, terutama mewakili kepentingan perdagangan dan perkebunan Eropa. Garis Waktu Sejarah Utama 1853 (Pendirian): Didirikan dengan nama De Oostpost ("Pos Timur"), menjadikannya surat kabar kedua yang muncul di Surabaya. Awalnya berfokus sepenuhnya pada iklan. Pada tahun 1865 secara resmi mengubah namanya menjadi Soerabaijasch Handelsblad seiring perluasan cakupannya ke berita umum, sastra, dan budaya. Pada tahun 1942 terpaksa mengubah format kalendernya ke sistem kōki Jepang sebelum ditutup sementara setelah pendudukan Jepang di wilayah tersebut. Pada tahun 1945 melanjutkan penerbitan setelah Perang Dunia II, beroperasi selama Revolusi Nasional Indonesia hingga akhirnya berhenti beroperasi secara permanen pada tahun 1957 (Wikipedia Inggris).
Lantas bagaimana sejarah surat kabar Soerabaijasch handelsblad terbit di Surabaya? Seperti disebut di atas, surat kabar di Surabaya ini merupakan sukses surat kabar De Oostpost. Surat kabar sendiri pada masa ini sangat andal dijadikan sebagai sumber data dalam penulisan sejarah di Indonesia. Satu yang menjadi pertanyaan adalah Soerabaijasch handelsblad adalah satu-satunya surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di masa (permulaan) pendudukan Jepang. Lalu bagaimana sejarah surat kabar Soerabaijasch handelsblad terbit di Surabaya? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.
Surat Kabar Soerabaijasch
handelsblad Terbit di Surabaya; Satu-Satunya Terbit di Masa Jepang
Pada saat permulaan Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1809 diterbitkan surat kabar berbahasa Belanda di Batavia (kini Jakarta). Dalam perkembangannya hanya terinformasikan satu surat kabar pemerintah Java Courant. Pada tahun 1846 nama surat kabar Samarangsch advertentie-blad terinformasikan di surat kabar Javasche courant, 21-03-1846. Kapan terbit pertama surat kabar Samarangsch advertentie-blad tidak terinformasikan. Beberapa tahun kemudian terbit surat kabar De Oostpost di Surabaya dengan edisi no 1 tanggal hari Sabtu tanggal 1 Januari 1853. Dalam hal ini pada tahun 1853 paling tidak di Hindia Belanda (baca: Indonesia) di kota berbeda (Jakarta, Semarang dan Surabaya) eksis tiga surat kabar (satu milik pemerintah dan dua swasta).
De Oostpost: letterkundig, wetenschappelijk en commercieel nieuws- en advertentieblad, 01-01-1853: ‘Pemberitahuan, Yang bertanda tangan di bawah ini, penerbit OOSTPOST, dengan ini mengumumkan bahwa langganan untuk Mingguan ini telah dibuka sejak tadi malam, dan kesempatan lebih lanjut akan tersedia di Batavia di toko buku Lange & Co., dan di Samarang di toko buku PJ de Groot. Fuhri’.
Pada tahun 1861 terinformasikan surat kabar Soeraba’ja Courant (lihat De Oostpost: letterkundig, wetenschappelijk en commercieel nieuws- en advertentieblad. 05-06-1861). Beberapa tahun kemudian terbit surat kabar baru di Surabaya dengan nama Soerabaijasch handelsblad. Dalam edisi No136 surat kabar Soerabaijasch handelsblad, 14-11-1865 memuat informasi dari surat kabar Oostpost untuk pembacanya. Nama Soeraba;ja Courant tidak pernah terinformasikan lagi.
Soerabaijasch handelsblad, 14-11-1865: ‘Kepada para pembaca Oostpost. Sebelumnya, kami berjanji untuk memperbesar ukuran surat kabar kami, agar dapat memperluas bagian berita kami. Keadaan di luar kendali kami telah mencegah kami untuk melakukannya hingga sekarang. Namun, sekarang setelah kami memiliki peralatan yang diperlukan, di antaranya mesin cetak yang lebih besar harus disebutkan terlebih dahulu, kami tidak lagi ingin menunda pemenuhan janji kami. Tetapi bahkan terlepas dari itu, kami telah lama merasa perlu untuk memperluas koran kami; karena sering terjadi bahwa kami harus menghilangkan pengumuman penting karena keterbatasan ruang koran kami menghalangi penyertaan pengumuman tersebut. Keberatan itu sekarang telah diatasi, dan baik melalui ini maupun dengan membangun hubungan baru, kami akan memiliki banyak kesempatan untuk terus memberi informasi kepada pembaca kami tentang hal-hal politik, komersial, dan keuangan yang paling penting, baik di dalam maupun di luar kepulauan ini. Kami juga yakin dapat dengan percaya diri menunjukkan peningkatan yang telah kami lakukan sebelumnya pada korespondensi kami dari Batavia dan Den Haag, yang akan segera diikuti oleh komunikasi dari tempat-tempat paling terkemuka di kepulauan ini. Kami juga ingin menggabungkan perluasan surat kabar kami ini dengan perubahan nama. Pada saat didirikan, hampir empat belas tahun yang lalu, ketika tidak lebih dari satu surat kabar terbit di seluruh Jawa Timur. Karena pada awalnya hanya berupa lembaran iklan semata, ketika pengiriman surat di seluruh Jawa hanya dilakukan dua kali seminggu, dan belum ada kapal uap yang membawa berita dari bagian timur kepulauan ke ibu kota Hindia, nama Ooslpost, sebagai pengumpul berita dari Jawa Timur dan bagian timur kepulauan, dapat diterapkan dengan tepat. Sekarang setelah tiga surat kabar lain di Jawa Timur dan satu di Kepulauan Cayvancia telah ditambahkan, nama itu telah kehilangan kekhasannya. Mengingat kota tempat tinggal kami merupakan pusat perdagangan terpenting di kepulauan ini, ditambah dengan niat kami untuk memasukkan sebanyak mungkin hal-hal yang dianggap penting bagi perdagangan di masa mendatang, kami memutuskan untuk memberi nama surat kabar kami Socrabaijasch Handelsblad. Selain itu, kami akan terus berupaya menjadikan surat kabar kami penting bagi Jawa Timur dan wilayah yang terletak lebih jauh ke timur dari tempat ini, dan oleh karena itu kami percaya bahwa para pelanggan Ooslpost akan puas dengan perubahan nama ini dan tidak akan menahan dukungan mereka terhadap surat kabar ini, bahkan dengan nama barunya. Lebih lanjut, kami tetap terbuka terhadap komunikasi yang mungkin bermanfaat atau diinginkan untuk diketahui publik, baik yang dikirimkan kepada kami dalam bentuk surat kepada editor atau sebagai komentar dan catatan sederhana; sudah jelas bahwa kebijaksanaan kami akan menjadi prioritas dalam hal ini. Namun, kami berhak untuk tanpa syarat mengesampingkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan perselisihan pribadi, sementara tulisan tanpa tanda tangan sama sekali tidak akan dipertimbangkan untuk dipublikasikan. Kami percaya bahwa peningkatan signifikan jumlah pelanggan adalah bukti bahwa upaya kami dihargai, dan ini akan semakin mendorong kami untuk terus melanjutkan upaya peningkatan. Dengan ini, kami mempersembahkan Socrabaijasch Handelsblad kepada publik’.
Satu-Satunya Surat Kabar Terbit di Masa Pendudukan Jepang; Bagaimana dengan Surat Kabar Berbahasa Indonesia?
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: (1) Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; (2) Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; (3) Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; (4) Sejarah Bahasa Indonesia; (5) Sejarah Catur di Indonesia; Forthcoming: “Sejarah Klub Como 1907 di Liga Sepak Bola Italia dan Sepak Bola Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



Tidak ada komentar:
Posting Komentar