Laman

Senin, 15 Juni 2026

Sejarah Indonesia Jilid 6-7: Sie Kong Lian dan Kongres Pemuda; Fa Ledikanten Handel di Jalan Pasar Senen No 95 Weltevreden


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Museum Sumpah Pemuda adalah museum sejarah khusus yang menjadi saksi bisu tempat dibacakannya ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Terletak di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat, gedung kolonial ini awalnya merupakan rumah indekos mahasiswa bernama Commensalen Huis milik Sie Kong Liong. Di sinilah para pemuda dari berbagai daerah berkumpul, berdiskusi, hingga akhirnya melahirkan momentum persatuan bangsa Indonesia..Sejarah Bahasa Indonesia


Sie Kong Lian (3 Januari 1877-1954) adalah seorang warga Indonesia keturunan Tionghoa yang berjasa besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia sebagai pemilik rumah kos di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Jakarta, yang menjadi lokasi pembacaan ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Rumah tersebut kini berdiri tegak sebagai Museum Sumpah Pemuda. Sie Kong Lian merupakan seorang pedagang kasur di pasar Jakarta dan dikenal memiliki keahlian kungfu. Sie Kong Lian sendiri tidak tinggal di Kramat Raya 106, melainkan menetap di kediamannya di Jalan Senen Raya. Rumah di Jalan Kramat Raya didirikan pada awal abad ke-20 dan disewakan sebagai tempat kos bagi para pelajar STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) dan Rechtsschool (sekolah hukum) sejak tahun 1908. Sejumlah tokoh penting bangsa pernah indekos di rumah ini, termasuk Mohammad Yamin, Amir Sjarifuddin, Sugondo Djojopuspito, Assaat, dan Abu Hanifah. Sejak tahun 1927, gedung ini resmi disewa oleh organisasi pemuda dan dinamakan Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw sebagai wadah diskusi kebangsaan. Rumah kos ini menjadi lokasi persinggahan akhir Kongres Pemuda II sekaligus tempat dikumandangkannya ikrar Sumpah Pemuda 1928 (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Sie Kong Lian dan Kongres Pemuda? Nama Sie Kong Lian adalah satu hal dan Kongres Pemuda adalah hal lain. Ledikanten Handel Firma di Jalan Pasar Senen No 95 Weltevreden diduga kuat adalah milik Sie Kong Lian. Lalu bagaimana sejarah Sie Kong Lian dan Kongres Pemuda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Sejarah Catur di Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Sie Kong Lian dan Kongres Pemuda; Ledikanten Handel Firma di Jalan Pasar Senen No 95 Weltevreden

Museum Sumpah Pemuda pada masa ini dijadikan sebagai warisan sejarah pemuda. Secara geografis terletak di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat. Namun yang menjadi fokus penyelidikan sejarah dalam hal ini adalah bagaimana sejarah bangunan tersebut. Lalu kemudian bagaimana kaitannya dengan Sie Kong Lian dan tempat dibacakannya ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. 


Bangunan yang penah dimiliki Sie Kong Lian adalah satu hal.
Museum Sumpah Pemuda adalah hal lain. Satu yang jelas bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 tidak terinformasikan adanya pemuda bersumpah. Yang terinformasikan adalah bahwa para pemuda melakukan Kongres Pemoeda, yang hasilnya disebut Poetoesan Kongres yang terdiri dari tiga poin utama: satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa: Indonesia. Jadi yangt dibacakan adalah hasil putusan kongres. Soal pemuda bersumpah baru terinformasikan pada tahun 1953. 

Lantas bagaimana bangunan Museum Sumpah Pemuda bermula? Yang jelas sejak dulu hingga sekarang nama jalan dan nomornya tetap sama: Jalan Kramat No, 106. Pertama kali terinformasikan pada tahun 1909 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 03-05-1909). Disebutkan “untuk fotografi artistik, Atelier,  RB Creak. Kramat 108. Tetangganya tentu saja No. 106. 


Jalan Kramat No, 106 baru terinformasikan pada tahun 1910 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 01-06-1910). Disebutkan disewakan, mulai dari f165-per bulan: Di Kramat No. 106 dengan 2 paviliun. Silahkan hubungi di (jalan yang sama) No. 59. Bataviaasch nieuwsblad, 14-06-1910: “(jalan) Kramat No. 106 dekat Trem uap dan Listrik. Disewakan. Rapi, berperabot lengkap. Ruang depan dan dalam serta paviliun mulai dari £60 termasuk makan’. Jalan Kramat No, 106 ini tampaknya suatu tempat penginapan sementara (kost). Satu yang jelas lokasinya strategis, tidak hanya di depan terdapat jalan raya, juga di sebelah kanannya terdapat lintasan trem (hingga di ujung Gang Kernolong). Catatan: Trem ini mulai dioperasikan tahun 1895. 

Bangunan di jalan Kramat 106 bukanlah rumah biasa, tetapi suatu tempat penginapan sementara (kost) yang terdiri dari dua paviliun. Pemilik bangunan ini berada di seberang jalan Kramat No. 59. Tidak terinformasikan siapa pemiliknya. Paviliun dalam hal ini adalah dua ruangan pribadi yang memiliki kamar mandi sendiri yang terpisah dengan ruang depan dan ruang dalam bersama, plus dapur. 


Pada tahun 1910 ini, Sie Kong Lian sudah terinformasikan sebagai pengusaha (pabrik dan toko) tempat tidur (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 08-07-1910). Disebutkan “diterima melalui kapal ss Ophir sejumlah sepeda (merek) Osmond terkenal, tersedia dengan harga yang sangat kompetitif. Sie Kong Lian, Passer-Senen No. 48”. 

Bangunan Jalan Kramat No, 106 yang memiliki dua pavilion tampaknya memiliki nama sendiri yakni Pernsion Mataram (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 29-08-1910). Disebutkan “Penginapan Mataram, Kramat No. 106. Telepon No. 965. Dekat stasiun trem uap dan listrik. Disewakan: Dua kamar paviliun, berperabotan, termasuk makan. Terminologi “pension” dalam hal ini diartikan sebagai “tempat penginapan”. Bangunan Pension Mataram yang berada di Jalan Kramat No. 106 tampaknya dimiliki oleh FA Harterink.

 

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-10-1912: ‘Iklan. Lelang akan segera dilaksanakan, Hari ini tanggal 28 dan Selasa 29 Oktober 1912, di rumah Yang Terhormat Bapak FA Harterink, Kramat No. 106, (Penginapan.asrama Mataram) oleh Komisi Lelang besar, Komisi Sewa Slijpe & Co., dalam kondisi sangat rapi, hampir baru. Barang-barang rumah tangga (berwarna cokelat muda): *perabot ruang depan berukir lengkap dengan tirai jendela yang serasi. Tirai jendela. Valance tirai. Lampu gantung berwarna terang. Patung katun, menggambarkan "Eoho" di atas alas. Pena marmer. Guci Jepang dan vas Satsuma yang indah. Pot Jepang di atas alas. Buku-buku, termasuk Karya Standar oleh Boroy, "Kehidupan Leluhur Kita" dengan edisi bergengsi. Sebuah pot Arab yang indah. Tablet tulis. Meja permainan. Dua dan satu wastafel dengan porselen. Lukisan. Patung. Regulator modern dengan lonceng yang indah. Lemari pakaian besar dan lemari gantung. Sebuah meja. Dua tempat tidur tunggal dan dua tempat tidur ganda, termasuk kotak dekoratif besar. Vas. Perabot putar. Kursi kantor. Lemari. Lampu meja. Divan Draw-Trekgordijnen. Lemari kecil. Lampu dinding bensin. orselen berhias peralatan makan. Piring, sendok, garpu, dan gelas. Meja makan panjang (panjang 4 meter). Bufet cermin dengan marmer. teko es, meja teh. Taplak meja dan serbet yang bagus. Seprai Jew. Sarung bantal dan handuk. Symphony besar berdiri dengan piring logam. Kompor meja. Pompa air. dan Daokl muda murni (betina) 6 bulan: kandang ayam tertutup genteng, Selanjutnya: di bak jati. Lihat: Minggu, 27 bulan ini dari jam 8 - 12 pagi, sekitar jam 5 - 8 sore/malam. Pengaturan lelang: Tanggal 28 bulan ini: Perabotan Gedung utama hingga galeri belakang. Selasa tanggal 29 bulan ini: Taplak meja, Seprai, Barang-barang galeri belakang, Perabotan, paviliun, dll’.

Lalu siapa yang beruntung menjadi pemenang lelang bangunan tempat penginapan di Jalan Kramat No. 106 (eks Pension Mataram) tahun 1912 tersebut tidak terinformasikan. 


Bataviaasch nieuwsblad, 16-11-1912: ‘Baru saja diterima: Roda Amerika dengan ban karet. Ukuran ban 2 inci. Cocok untuk delman, bendi atau dos-a-do. Direkomendasikan: Sie Kong Lian, Ledikantenhandel, Passar Senen 48. Dalam perkembangannya muncul pengusaha bisnis sejenis (Ledikantenhandel) yang dimiliki oleh Gouw Sam Boen. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 11-05-1914: ‘Toko Jahit dan Kasur Gouw Sam Boen. Passer Senen 47 dan 50, Telepon 352 Welt. di seberang Gouvts. Pandhuis (Toko Gadai Pemerintah). Menjual kantong tidur dan kasur, untuk dewasa dan anak-anak, lengkap dengan atau tanpa kelambu. Juga memproduksi kantong tidur dan kasur sesuai ukuran yang diinginkan. Harga wajar’. 

Yang jelas pada tahun 1915 nama bangunan tersebut dikenal sebagai Pension Kramat Tramstation (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 03-04-1915). Disebutkan Pension Kramat Tramstation (Penginapan Kramat Stasiun Trem). Kramat 106. Kamar tersedia’. Pemilik Pension Kramat Tramstation adalah G Wiessner (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 17-06-1915). Disebutkan “Lelang, Rabu, 23 Juni 1915, di rumah Yang Terhormat Bapak G Wiessner, Kramat No. 106. Spesifikasi lebih lanjut’. Tampaknya G Wiessner akan menjual bangunan Jalan Kramat No. 106 ke publik. Sementara itu, Sie Kong Lian juga memiliki rumah sewaan dengan pavilion.

 

Bataviaasch nieuwsblad, 02-06-1916: ‘Disewakan f150. Rumah besar dengan paviliun, halaman luas. (Jalan) Defensielijn v/d Bosch 92. Hubungi Sie Kong Lian, (jalan) Senen 48, No. telepon 1531’. Bataviaasch nieuwsblad, 05-03-1917: ‘Mulai 1 April mendatang. Rumah luas dengan pavilion dan kandang kuda. Def. v. d. Bosch No. 92 sudut Gg. Cornelius, f150, per bulan. Hubungi: Sie Kong Lian, (jalan) Pasar Senen 48, Weltevreden’. Catatan: Jalan Defensielijn v/d Bosch kini jalan Kramat Kwitang-Pantura-Bungur Besar. Gang Cornelius = Jalan Gunung Sahari II.

Dalam perkembangannya bangunan Jalan Kramat No. 106 terinformasikan sebagai tempat kursus untuk pendidikan pembukuan (Bon A dan Bon B) yang diselenggarakan oleh Handelsbond Batavia (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-06-1920) dan kemudian menjadi kantor Asosiasi Kredit Nasional (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-10-1922).

 

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-06-1920: ‘Serikat Perdagangan Batavia. Kursus Baru, untuk pelatihan diploma "A" dan "B" dalam Pembukuan, Korespondensi Komersial dalam Bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis, serta Stenografi. Dimulai 1 Juli 1920. Tersedia juga kesempatan untuk mengikuti les privat. Mereka yang ingin mengikuti kursus diminta untuk mendaftar sebelum tanggal 1 Juni mendatang di Administrasi Serikat Perdagangan Batavia, Kramat 106, Weltevreden. Pimpinan Dewan’. De Preanger-bode, 25-01-1921: ‘Di wilayah Tapanoeli, gerakan rakyat tetap aktif dalam beberapa bulan terakhir, berkat banyaknya organ surat kabar yang diterbitkan di wilayah Batak. Tentang pahlawan rakyat muda—sebagaimana ia dianggap di kalangan tertentu di sana, Parada Harahap—baru-baru ini diketahui bahwa ia telah dikurung di balik pintu kandang tikoes yang terkenal karena beberapa pelanggaran pers dalam salah satu surat kabar yang dieditnya sendiri dalam bahasa Batak atau Melayu. Isu demonstrasi untuk Residen Vorstman dibahas berulang kali di berbagai asosiasi dan surat kabar, dan orang tidak pernah sampai pada kesimpulan lain selain bahwa cara Modonna—orang yang tulisannya diprotes—menyampaikan dirinya tidak sepenuhnya tepat, tetapi tetap saja seharusnya lebih banyak yang dilakukan mengenai pendidikan di Tapanoeli’. De Indische courant, 07-01-1922: ‘Gerakan Muda Sumatra. Pada akhir November, sebuah pertemuan diadakan di Sibolga. Pada pertemuan itu, yang juga dihadiri oleh Liga Koeria—yaitu, liga para pemimpin adat—diputuskan untuk membentuk komite persatuan Sumatera, dan diputuskan untuk mengadakan kongres Sumatera pada Maret 1922. Di kalangan Batak, fenomena luar biasa baru-baru ini diamati bahwa umat Kristen dan non-Kristen bergabung dengan umat Muslim dan kaum bebas berpikir, dan bahwa perselisihan agama tidak lagi menjadi tempat, tetapi prinsip kebangsaan diutamakan. Ini adalah ciri khas Batak. Perselisihan mengenai masalah agama jarang terjadi lagi, dan bahkan munculnya, yang begitu terkenal belum lama ini, sebuah pekerjaan misionaris kecil yang dianggap menyinggung Islam oleh umat Muslim, tidak mencegah Batak Hatopan Kristen untuk bekerja sama secara menyenangkan dalam masalah politik dengan organisasi Muslim dan bahkan dengan Sarekat Islam. Para pemimpin rakyat Sibolga, seperti Parada Harahap yang masih muda dan Manullang yang lebih tenang, bersama dengan editor jurnal Hindia Sepakat yang cukup terhormat, Abdoel Manap. Gerakan persatuan tidak diragukan lagi akan mendekatkan partai-partai tersebut, terutama karena para tetua telah kehilangan pemimpin yang kuat dan para pejabat adat bergabung dalam aksi persatuan’.

Siapa yang menjadi pemilik sebenarnya bangunan Jalan Kramat No. 106 terinformasikan. Handelsbond Batavia dalam hal ini bisa sebagai pemilik atau bisa sebagai penyewa. Demikian juga nantinya Asosiasi Kredit Nasional. Satu yang jelas, bahwa pada tahun 1922 ini bangunan tersebut akan dijual (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 23-12-1922). Disebutkan “dijual: sebuah hunian besar, di lokasi strategis. Untuk pertanyaan: Kramat 106”. 


Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-10-1922: ‘Iklan. Asosiasi Kredit Nasional sedang mencari Inspektur Berpengalaman, Wakil Inspektur, dan Agen Aktif (pria atau wanita) di semua lokasi di Hindia Belanda. Lingkungan kerja yang menyenangkan; penghasilan yang besar untuk orang-orang yang energik. Surat dengan Nomor 19354. Asosiasi Kredit Nasional. Kantor Pusat. Den Haag. Modal £200.000. Kantor Cabang. Semarang. Reserve f100.011. Tabungan sistematis. Sangat menguntungkan dan tidak dapat disangkal keandalannya. Menjamin tanpa syarat akumulasi bunga minimal f5. Murni mutual. Semua dana yang termasuk dalam dana tabungan disimpan di Perusahaan Perdagangan Belanda. Minta informasi dan brosur dari Gen. Vert. JH van Os, Weltevreden, Kramat No. 106 Telp. 1921. Catatan: Gen. Vert. = Generaal Vertegenwoordiger (Agen Umum/Perwakilan Umum). Catatan: Bangunan di jalan Kramat No.108 terinformasikan dimiliki JH Leysd (lihat Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, 1922, Deel: LXXXII). 

Bangunan/rumah sewa dengan paviliun saat itu hanyalah bisnis biasa (seperti masa ini rumah kos atau apartemen) Seperti kota-kota lainnya, kota Batavia adalah kota melting pot yang menjadi pusat bisnis dimana banyak pendatang yang datang dan pergi. 


De Preanger-bode, 22-11-1922: ‘Bintang Hindia. Bintang Hindia, yang sebelumnya merupakan majalah bulanan yang diedit oleh Parada Harahap, menikmati minat yang begitu besar sehingga sekarang akan diterbitkan sebagai surat kabar dua mingguan dan diharapkan akan muncul dalam bentuk mingguan dalam waktu dekat. Menurut pengumuman tersebut, mereka bermaksud untuk mengirimkan majalah berbahasa Melayu ini ke seluruh dunia dengan sirkulasi empat puluh ribu eksemplar. Surat kabar ini bergambar dan tidak diragukan lagi merupakan daya tarik bagi pembaca lokal. Melalui kesepakatan khusus dengan Revue, mingguan Belanda yang terkenal, majalah ini dapat menjadi semacam edisi Revue versi Melayu, asalkan kesuksesannya terus meningkat. Sejauh yang saya ketahui, Volkslectuur juga saat ini menerbitkan edisi mingguan. Maka ia menghadapi pesaing yang serius. Kami berharap dapat kembali ke majalah ini—Bintang Hindia—pada waktu yang lebih tepat. Sayangnya, edisi mingguan Volkslectuur belum sampai ke tangan kami’. 


Bagi pendatang baru termasuk mahasiswa (di STOVIA dan Rechtschool di Batavia), karena keterbatasa kapasitas asrama, yang dari keluarga kaya banyak memilih paviliun (yang sedikit harganya miring jika dibandingkan hotel). Seperti dilihat nanti, WR Soepratman yang belum lama hijrah dari Bandoeng ke Batavia pada tahun 1925 tinggal di paviliun milik Parada Harahap (direktur dan pemimpin redaksi surat kabar Bintang Hindia).


Bataviaasch nieuwsblad, 27-04-1929: ‘Ditawarkan untuk Disewa. Rumah nyaman dengan beranda depan, tiga kamar dan bangunan tambahan, air mengalir dan lampu listrik, disewakan seharga f153— berlaku mulai bulan Mei. Lokasi Malabarweg 22, Menteng Poelo. Hubungi Nyonya P. Harahap, no. telepon Weltevreden 2562’. 

Tunggu deskripsi lengkapnya

Ledikanten Handel Firma di Jalan Pasar Senen No 95 Weltevreden, Museum Sumpah Pemuda Jalan Kramat Raya Nomor 106, Jakarta Pusat

Bangunan Jalan Kramat No 106 yang dimiliki oleh Mejuffr. WJ  d'Artillact Brill akan dijual (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 23-12-1922). Pada bulan Maret 1923 bangunan/rumah tersebut dilelang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 12-03-1923). 


Surat kabar Sinar Merdeka yang dimiliki oleh Parada Harahap dibreidel tahun 1922. Surat kabar yang diterbitkan di kota Padang Sidempoean tersebut sejak 1919 tamat. Parada Harahap hijrah ke Batavia. Parada Harahap menerbitkan surat kabar Bintang Hindia di Batavia pada tahun 1922. 

Bangunan Jalan Kramat No 106 tidak terindikasi tentang keberadaan paviliun seperti tahun 1910. Boleh jadi bagian dalam bangunan telah dilakukan perubahan layout sesuai dengan kebutuhan pada masanya masing-masing (pemilik atau penyewa) apakah sebagai tempat penginapan, tempat tinggal biasa atau tempat kantor. Saat ini pada tahun 1923 ketika pemiliknya ingin menjual bangunan tersebut sebagai tempat tinggal biasa. 


Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 31-03-1923: ‘Kamis, 5 April. Lelang di luar rumah Nyonya Mejuffr. WJ  d'Artillact Brill, Kramat No. 106, berbagai perabot seperti: lemari, meja (termasuk satu dengan permukaan marmer), kursi, tempat tidur Inggris tunggal lengkap, brankas, lemari cermin, peralatan makan, mesin fotokopi besar, mesin sterika, lampu listrik, sisa material: 1, dll. Pemeriksaan barang lelang pada pagi hari mulai pukul 7 pagi hingga 9’. 

Lantas siapa yang beruntung untuk mendapatkan bangunan/rumah Jalan Kramat No 106? Tidak terinformasikan. Pada bulan Oktober 1923 terinformasikan bahwa bangunan Jalan Kramat No. 106 telah dimiliki oleh Sie Kong Lian (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 24-10-1923). Disebutkan “Disewakan: Mulai 1 Desember. Rumah besar dengan paviliun dan kamar-kamar luas, f250 per bulan, Kramat No. 106. Hubungi Sie Kong Lian, (jalan) Senen 95, Weltevreden, Telp. No. 1532”. 


Nama Sie Kong Lian sudah lama dikenal. Pada tahun 1910 Sie Kong Lian terinformasikan sebagai pemilik Ledikantenhandel (pabrik dan toko tempat tidur). Pada tahun 1916 Sie Kong Lian yang beralamat di (jalan) Senen 48, No. telepon 1531 menyewakan rumah besar dengan paviliun, halaman luas di (jalan) Defensielijn v/d Bosch No. 92. Sie Kong Lian saat ini sudah tidak asing dengan bisnis penyewaan rumah. Pada masa ini Sie Kong Lian dicatat beralamat di Jalan Senen No. 95, Weltevreden, Telp. No. 1532. Diduga bahwa rumah di jalan yang sama No 48 dan no 95 berseberangan jalan (dan bisa kemungkinan berhadapan langsung). Kedua rumah ini memiliki nomor telpon yang berurutan (1531 dan 1532). Ledikantenhandel sendiri yang dimiliki oleh Sie Kong Lian berdiri tahun 1877.

Para pendiri Indische Vereeniging (1908 di Belanda) setelah menyelesaikan studi sudah banyak yang kembali ke tanah air. Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan pendiri dan ketua Indische Vereeniging pertama, sarjana pendidikan sejak 1921 menjadi direktur sekolah guru (Normaal School di Salembaweg. Dr Abdoel Rivai membuka praktik dokter di Bandoeng. Pada tahun 1923 Dr WK Tehupelory terinformasikan praktek dokter di Matramanweg (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 03-04-1923).. 


Sebagaimana diketahui perguruan tinggi pertama didirikan di Bandoeng, THS pada tahun 1920. Beberapa mahasiswa yang diterima pada tahun 1921 di THS antara lain Soekarno dan Anwari. Lulusan HBS dan AMS banyak yang studi ke Belanda. Dalam Kongres Jong Sumatranen Bond di Padang tahun 1921 turut dihadiri Parada Harahap dan Mohamad Hatta. Selepas kongres, setelah lulus HBS di PHS Batavia tahun 1921, Mohamad Hatta berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studi. Pada tahun 1925 Soekarno di THS Bandoeng berada di tingkat terakhir; Mohamad Hatta dkk di Belanda menjadi pengurus baru Indische Vereeniging. 

Parada Harahap di Batavia memeiliki latar belakang yang kompleks. Pada usia 17 tahun mendirikan organisasi para krani perkebunan. Pada tahun 1918 hasil investigasinya terhadap Poenalie Sanctie yang dimuat surat kabar Benih Merdeka di Medan menyebabkan dirinya dipecat sebagai karyawan di perkebunan Sungai Karang. Pada tahun 1918 ini Parada Harahap merantau ke Medan dan diterima manajemen Benih Merdeka sebagai redaktur. Pada tahun ini juga Parada Harahap mendirikan organisasi jurnalis di Medan. Namun Benih Merdeka dibreidel. Parada Harahap sempat menjadi redaktur surat kabar Pewarta Deli dan pendiri surat kabar Perempoean Bergerak sebelum pulang kampong ke Padang Sidempoean untuk mendirikan surat kabar Sinar Merdeka. Seperti disebut di atas, setelah beberapa kali Parada Harahap dimejahijaukan, Sinar Merdeka dibreidel tahun 1922. Parada Harahap hijrah ke Batavia dan mendirikan surat kabar Bintang Hindia pada tahun 1922. Parada Harahap di Batavia turut menginisiasi pendirian Perhimpunan Asosiasi Hindia. 


Bataviaasch nieuwsblad, 13-01-1925: ‘Indische Associatie Vereeniging (Perhimpunan Asosiasi Hindia). Kemarin malam, rapat umum Perhimpunan Asosiasi Hindia diadakan di Restoran Oost Java. Dalam rapat ini, anggaran dasar dan peraturan internal, serta program kerja, disetujui, dan pengurus tetap dipilih. Program kerja tersebut berbunyi sebagai berikut: a. Berusaha terutama untuk: 1. tindakan politik yang seimbang, 2. pendidikan publik yang lebih luas, termasuk pendidikan kejuruan dalam arti luas, sesuai dengan prinsip-prinsip asosiasi; b. meningkatkan kesehatan masyarakat; c. meningkatkan kesejahteraan masyarakat; d. pengaturan hubungan keuangan yang lebih memuaskan antara negara dan bagian-bagian konstituennya, serta sistem pajak; e. pengaturan legislasi sosial yang lebih memuaskan; f. peningkatan sistem hukum; g. berupaya untuk administrasi negara yang sehat atas dasar demokrasi; h. pendidikan untuk pemerintahan mandiri; i. berupaya untuk terwakili oleh Hindia di Majelis Umum (Staten Generaal). Berikut ini terpilih sebagai Ketua: PJA. Maltimo, Sekretaris Sementara: Ph. van Nifterlk, Bendahara: Mobamad Djamli. Komisaris: Parada Harahap, Raden Goenawan, Oey Kim Koel, JK Panggabean, Ph. J Krancher dan A. Cbatib’. 

Parada Harahap pemimpin surat kabar Bintang Hindia, pada tahun 1925 mendirikan kantor berita Alpena dimana sebagai pemimpin redaksi WR Soepratman (yang belum lama keluar dari surat kabar Kaoem Kita di Bandoeng). Pada tahun 1924 ini, surat kabar Neratja berganti manajemen baru dengan nama baru Hindia Baroe yang dipimpin oleh Palindih. Namun Palindih mendirikan surat kabar Berita. Posisinya kemudian digantikan oleh seorang pemuda yang baru lulus Osvia di Bandoeng, Tabrani DI. Sebelum mendirikan surat kabar Bintang Hindia, Parada Harahap adalah salah satu redaktur di surat kabar Neratja. Parada Harahap yang pernah mendirikan organisasi jurnalis di Medan, di Batavia Parada Harahap menginisiasi pembentukan organisasi jurnalis. 


Pada tanggal 23 dan 26 Agustus 1925 dalam rapat para jurnalis di kantor berita Alpena (yang menjadi kantor surat kabar Bintang Hindia) diputuskan untuk mendirikan asosiasi jurnalis di Weltevreden. Tabrani DI diangkat sebagai ketua dewan sementara asosiasi tersebut, dan selanjutnya, WR Soepratman (Alpena) diangkat sebagai sekretaris, dan Bee Giauw Tjoen (Sin Po) sebagai bendahara. Tujuannya adalah untuk memajukan jurnalisme; untuk menjalin ikatan antara jurnalis dari berbagai aliran pemikiran, untuk mengadakan konferensi dan kunjungan lapangan, untuk mendirikan dana dukungan, dan lain sebagainya (lihat Hindia Baroe, 26 Augustus 1925, No 190 yang dikutip Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1925, No. 35). 

Asosiasi jurnalis belum resmi dididirikan, Parada Harahap pemimpin surat kabar Bintang Hindia sudah mulai pasang badan terhadap serangan para sekolompok jurnalis Belanda yang fasis. Sebagaimana diketahui pada saat ini jurnalis pribumi terbaik dari pers (berbahasa) Belanda adalah Parada Harahap.

 

De Indische courant, 17-09-1925: ‘”Fasis Hindia”. Front Putih. Parada Harahap, pemimpin redaksi Bintang Hindia, menulis di Javabode: Saya membaca dengan penuh minat artikel di Java Bode tanggal 10 bulan ini dengan judul “Surat Kabar dan Pelanggan”, mengenai sikap yang diambil oleh Soerabajasch Handelsblad terhadap De Locomotief, sehubungan dengan aksi perdagangan di Semarang. Saya telah mengikuti artikel-artikel ini di Soerabajasch Handelsblad dan Algemeen Handelsblad di Semarang secara menyeluruh, sehingga saya sepenuhnya mengetahui masalah yang sedang dibahas. Sebagai seorang pribumi, yang sangat peduli dengan kemajuan negeri ini, dan yang berjuang untuk masyarakat yang harmonis dari semua ras di Hindia, saya merasa perlu untuk menyatakan—dan mayoritas jurnalis pers Melayu memiliki pendapat yang sama—bahwa sikap yang saat ini diadopsi oleh Soerabajasch Handelsblad menimbulkan bahaya bagi kerja sama yang harmonis antar ras di Hindia. Untuk waktu yang lama, kepercayaan umum penduduk asli terhadap niat baik orang Belanda di Hindia Belanda terancam hilang karena tindakan sebagian pers Eropa dan asosiasi Eropa, terutama melalui tuduhan tergesa-gesa terhadap rekan senegara mereka sendiri, yang dengan cara mereka sendiri membela kesejahteraan Hindia Belanda dan penduduknya, seolah-olah mereka bersalah melakukan pengkhianatan terhadap rakyat dan tanah air mereka sendiri. Jurang antara Timur dan Barat hanya semakin melebar, dan tidak sedikit oleh tindakan yang direncanakan oleh Soerabajasch Handelsblad untuk membentuk front putih, yang pada dasarnya berarti tantangan formal yang ditujukan kepada ras berwarna di Hindia Belanda. Bagaimana penduduk asli—dan juga orang Tionghoa—di sini memikirkan Locomotief sepenuhnya saya ketahui. Locomotief adalah salah satu organ yang tata cara persnya menjadi contoh yang baik bagi kita. Kita dapat belajar dari Locomotief, antara lain, bagaimana membahas masalah seobjektif mungkin, dan bagi kita, itu adalah bukti lebih lanjut bahwa tidak semua orang Belanda memusuhi kita. Tanpa adanya organ semacam itu, opini umum akan semakin menguat, baik di kalangan penduduk asli maupun di kalangan orang Tionghoa, bahwa semua orang Eropa di Hindia Belanda tidak pantas mendapatkan kepercayaan penduduk, hanya dengan menunjuk pada artikel-artikel di Soerabajasch Handelsblad dan media sejenisnya. Opini Locomotief tidak sepenuhnya dianut oleh semua penduduk asli, namun dapat dikatakan bahwa surat kabar ini setidaknya berintegritas dan mengutamakan kepentingan publik. Memang benar bahwa Soerabajasch Handelsblad tidak secara eksplisit mengambil sikap menentang penduduk asli, tetapi efek yang diperoleh dengan menyebut seorang warga negara seperti Tuan Ant. Lievegoed sebagai anti-Belanda atau bahkan orang yang berbahaya bagi kepentingan Belanda di Hindia Belanda tidak lain adalah semakin memperkuat keyakinan di kalangan penduduk asli bahwa setiap orang Belanda yang berjuang di sini untuk kemajuan dan pembangunan tanah dan rakyat, dan yang tidak memperkuat front kulit putih dan mengabaikan antagonisme antara kulit putih dan cokelat, dianggap oleh sesama warga negaranya sebagai pengkhianat, dan jumlah orang seperti itu akan semakin berkurang. Ini, sekarang, pasti jauh lebih berbahaya daripada tulisan jurnalis pribumi, yang seringkali kurang berdampak karena terlalu keras. Apakah Soerabajasch Handelsblad mungkin menyiratkan bahwa bahkan sekarang pernyataan-pernyataan di pers Eropa tidak dipahami oleh, dan tidak menarik perhatian, penduduk asli? Dan dengan demikian, bahwa semua tulisan itu hanya dimaksudkan sebagai "urusan pribadi"? Jika demikian, maka surat kabar itu keliru. Saat ini, pernyataan pers Eropa bergema di dunia pribumi, tetapi gema itu jauh dari menguntungkan bagi hubungan timbal balik di Hindia. Menurut pendapat saya yang rendah hati, tugas pers kulit putih sekarang jauh lebih besar daripada di masa lalu; karena sekarang mereka harus mempertimbangkan jutaan orang di Hindia, yang mendapat informasi dari pers mereka sendiri dan dari komunikasi yang lebih baik dan akibatnya kontak timbal balik yang lebih banyak, tentang apa yang diungkapkan di pers Eropa, yang mereka terima sebagai milik orang kulit putih di wilayah ini. Dan unsur-unsur seperti komunis akan memanfaatkan pernyataan-pernyataan yang bermaksud buruk tersebut dan mendasarkan taktik jahat mereka padanya, serta menggunakannya sebagai sarana propaganda. Tentu saja itu bukan maksud dari Soerabajasch Handelsblad. terletak pada kenyataan bahwa semakin banyak ketidakpercayaan yang ditimbulkan di antara penduduk asli terhadap Belanda di Hindia? Para editor Javabode mencatat di sini: Kami dengan senang hati memberikan ruang untuk artikel yang terukur ini, yang, tanpa sedikit pun memihak para pemogokan, menunjukkan dengan sangat jelas betapa berbahayanya membentuk "front putih". Kita harus bekerja sama dengan penduduk asli yang memiliki pola pikir seperti ini. Merupakan kesalahan taktis besar untuk mengklasifikasikan mereka secara kasar seperti yang dilakukan Soerabajasch Handelsblad sebagai "para penghancur". Tempat mereka adalah di samping pembangun. Mengenai sebuah artikel di De Ind. Tel., kami masih menyangkal: Uji kekuatan yang telah dilakukan berbagai "pengusaha" terhadap surat kabar terkenal ini (Loc.) tidak akan berani dilakukan di masa lalu. Namun, sekarang dianggap tepat untuk membungkam suara seseorang yang karya jurnalistiknya mengungkapkan sikap simpati yang jelas terhadap penduduk asli, sikap yang, menurut banyak orang, mengurangi kepentingan Barat. Tetapi kemajuan wilayah-wilayah ini sudah terlalu jauh—sudah terlalu banyak intelektual pribumi yang mampu membentuk penilaian independen mengenai peristiwa politik saat ini—bagi kelompok reaksioner untuk secara terbuka berani mencap seseorang sebagai musuh otoritas Belanda berdasarkan prinsip-prinsip etika semata. Oleh karena itu, komunisme diseret masuk, jika perlu, dengan paksa, untuk membenarkan kampanye fitnah terhadap teman-teman penduduk asli. Orang-orang yang di Belanda yang gigih tentang "pertunjukan kolonial" seperti pemimpin redaksi Soerabajasch Handelsblad saat ini, akan selangkah lebih dekat dengan tujuan mereka? Kami tidak mempercayai sepatah kata pun dari itu, karena paling-paling mereka hanya akan dapat menikmati kesenangan telah menyingkirkan lawan yang berbahaya di mata mereka. Tetapi lawan yang tak berdaya seperti itu, ketika ia membelakangi Hindia dengan putus asa, akan dapat menggemakan kata-kata Johannes Huss: "Akan datang setelahku orang-orang yang akan menyelesaikan pekerjaanku". Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 23-09-1925: ‘Delik pers "Keng Po". Serikat Jurnalis Bergerak. Seperti sebelumnya saat penangkapan pemimpin redaksi "Warna Warta", Serikat Jurnalis Pribumi dan Tionghoa, yang didirikan di Batavia, telah menindaklanjuti penangkapan wakil pemimpin redaksi "Keng Po". Pada Kamis malam, sebuah pertemuan mengenai masalah ini diadakan di gedung kantor berita "Alpea" di Weltevreden, dipimpin oleh pemimpin redaksi "Hindia Baroe", Tabrani. Kami menyimpulkan hal berikut dari laporan yang dimuat di "Sin Po": Seorang delegasi dari "Keng Po", yang diberi kesempatan berbicara pertama, menjelaskan bahwa Bapak Lauw Giok Lan yang ditangkap adalah orang yang memiliki nama baik dan reputasi yang baik baik di bidang jurnalistik maupun dalam kehidupan pribadinya, telah berkecimpung di dunia jurnalistik selama beberapa dekade (antara lain, beliau adalah salah satu pendiri "Sin Po", Ed.), berasal dari Hindia Belanda, dan keluarganya tidak pernah meninggalkan Hindia, sehingga penahanan preventif tidak dapat dibenarkan untuk orang seperti itu. Bahkan jika ia dibebaskan dari tahanan, ia tidak akan berusaha untuk menghindarinya. Diusulkan untuk mengirim surat penahanan kepada Jaksa Agung untuk memohon pembebasan Bapak LGL. Bapak Parada Harahap, pemimpin redaksi "Bintang Hindia", meminta serikat pekerja untuk menunggu sedikit lebih lama, karena penyelidikan polisi belum selesai dan Bapak Lauw masih ditahan, meskipun belum ditempatkan secara preventif di Glodok. Segera setelah penyelidikan pendahuluan ini selesai dan Bapak L ditahan sementara menunggu sidang kasusnya di hadapan hakim, barulah saatnya serikat pekerja bertindak seperti yang diusulkan. Ia mengusulkan kepada dewan untuk segera menyusun manifesto, yang akan disampaikan kepada pers. Setelah rapat membahas masalah ini untuk beberapa waktu, akhirnya diputuskan: 1. untuk menerbitkan manifesto, yang akan dikirim ke pers (isi manifesto ini, yang kami temukan di "Hindia Baroe" kemarin, terutama berisi keluhan pers Pribumi dan Melayu-Tionghoa terhadap tindakan pejabat pemerintah terhadap jurnalis mereka, juga terkait dengan penangkapan Bapak Lauw Giok Lan, Red.), 2. untuk mengirim delegasi ke Jaksa Agung untuk memohon pembebasan orang yang ditangkap). Kami juga membaca di "Sin Po" hari Jumat bahwa Bapak Lauw Giok Lan harus menandatangani pernyataan jika ingin dibebaskan. Isi pernyataan ini akan sama dengan yang disampaikan kepada Bapak Oei Kie Hok, editor "Sin Yit Po" di Surabaya (untuk menahan diri dari tulisan-tulisan yang menyebarkan kebencian di masa mendatang). Namun, seperti halnya Bapak Oei Kie Hok, Bapak Lauw Gok Lan menolak menandatangani pernyataan tersebut, dengan demikian ingin menunjukkan bahwa ia lebih memilih kehilangan kebebasan bergerak daripada kebebasan berekspresinya dibungkam. Oleh karena itu, ia ditempatkan secara permanen dalam tahanan preventif di pasungan di Glodok ("Java Bode")’. 

Tidak seperti dulu dimana Parada Harahap berjuang sendiri di dalam pers yang disuarakannya. Kini, di jantung ibu kota Hindia (baca: Indonesia) sudah memiliki banyak rekan yang saling mendukung (pers pribumi dan pers Cina, mahasiswa pribumi di Hindia dan mahasiswa pribumi di Belanda). Parada Harahap tidak memiliki pendidikan tinggi, hanya memiliki insting yang kuat dalam jurnalistik serta kepiawaian berorganisasi. 


Pada tanggal 6 Oktober 1925 Persatuan Jurnalis Asia (Journalistenbond Asia) didirikan dan menurut laporan di surat kabar ini, berikut ini terpilih pada pertemuan tersebut sebagai ketua: Tabrani DI. (Hindia Baroe), wakil ketua: Kwee Kek Boeng (Sin Po), sekretaris: WR Soepratman (Alpena), bendahara pertama: Boen Joe On (Perniagaan), dan bendahara kedua: RS Palindih (Berita). Para komisionernya adalah: Parada Harahap (Bintang Hindia), Sing Yen Chen (Sin Po, edisi Tionghoa), Khoe Boen Sioe (Keng Po), Boe Giauw Tjoen (Sin Po) dan Achmad Wongsosewojo (Volkslectuur), terakhir Penasihat dan pengacara. Biaya keanggotaan sebesar f1,5 untuk pemimpin redaksi, f1 untuk editor, dan 0,50 untuk koresponden, sedangkan biaya masuknya dua kali lipat. Sebuah asosiasi juga telah didirikan di Medan, sementara Parada Harahap akan berkampanye untuk afiliasi di Sumatera (lihat Hindia Baroe, 7 Oktober 1925, No 224 yang dikutip Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1925, No. 41). 

Segera setelah Persatuan Jurnalis Asia diresmikan, Parada Harahap melakukan kunjungan berkeliling ke berbagai kota di Sumatra seperti Telok Betong, Padang, Sibolga, Kota Radja, Medan, Palembang (seperti dilihat nanti hal yang sama dilakukan Parada Harahap di seluruh Jawa). Parada Harahap bukan masuk golongan pemuda lagi (usianya sudah 26 tahun). Parada Harahap adalah sekretaris Sumatranen Bond. Sementara itu di lapisan pemuda Sumatranen Bond yang tergabung dalam Jong Sumatranen Bond pada tahun 1925 ini dipimpin oleh Bahder Djohan (ketua) dan Diapari Siregar (sekretaris). Bahder Djohan dan Diapari Siregar sama-sama mahasiswa kedokteran di Stovia.  Catatan: Tabarani (21 tahun); Bahder Djohan (23 tahun). 


De Indische courant, 30-12-1925: ‘Kongres Pemuda Indonesia. Kami telah mendengar dari sumber yang dapat dipercaya bahwa kongres pemuda Indonesia pertama akan diadakan di Weltevreden selama hari-hari Paskah mendatang. Tujuan dari kongres tersebut adalah untuk membangkitkan semangat kerja sama di berbagai asosiasi pemuda di negeri ini, sehingga meletakkan dasar bagi persatuan Indonesia, di mana Hindia kemudian harus dilihat dalam konteks dunia yang lebih luas. Kerja sama seperti itu sulit ditemukan dalam perkumpulan-perkumpulan nasional besar kaum lanjut usia, yang karena kepedulian terhadap keberadaan sosial mereka, hanya memiliki sedikit kontak dengan gagasan-gagasan baru, cita-cita baru yang kini menggemparkan dunia, dan yang sedang mempersiapkan dunia. dari hubungan baru. Perhatian khusus akan diberikan pada konvensi ini untuk memajukan warga negara Indonesia dengan mengantisipasi segala sesuatu yang memecah belah. Selanjutnya, beberapa topik yang sangat topikal dan penting bagi Indonesia akan dibahas. Penyelenggaraan kongres ini berada dengan panitia: Tabrani (ketua); Bahder Djohan (wakil ketua), Soemarto (sekretaris), J Toule Solehuwy (bendahara); Komisaris P. Pinontoan. Selain Tabrani, semua adalah siswa STOVIA dan Rechthoogeschool’, 

Apakah Tabrani (ketua) dan Bahder Djohan (wakil ketua) serba kebetulan pemnjadi pimpinan tertinggi Kongres Pemuda 1926? Yang jelas kedua tokoh muda dari dua bidang yang berbeda tersebut (pers dan mahasiswa) cukup dekat dengan Parada Harahap. Seperti disebut di atas Tabrani adalah ketua organisasi juernalis dimana Parada Harahap salah satu komisionernya dan Bahder Djohan ketua Jong Sumatranen Bond dimana Parada Harahap sebagai salah satu pembinanya. 


Pada bulan Meret 1926 di Weltevreden, Batavia kembali berkumpul sejumlah pemuda untuk membentuk komite kongres pemuda (lihat De locomotief, 10-03-1926). Dalam pertemuan itu disepakati untuk menyelenggarakan Kongres Pemoeda yang direncanakan diadakan pada tanggal 29 April hingga 2 Mei 1926. Dari pertemuan ini dibentuk komite sementara yang terdiri dari: Tabrani (voorzitter), Bahder Djohan (vicevoorzitter), Soemarto (secretaris), J Tonle Solehuwij en Paul Pinontoan. Tujuan kongres adalah untuk membangkitkan semangat kerja sama di berbagai perkumpulan pemuda di negeri ini, guna meletakkan dasar bagi kebangsaan Indonesia. 

Jelang hari-H penyelenggaraan Kongres Pemoeda terinformasikan bahwa kongres dimulai pada tanggal 30 April 1926 dan akan berakhir tanggal 2 yang akan diadakan di Vrijmetselaarsloge, Waterlooplein (lihat De Indische courant, 29-04-1926). Disebutkan Jumat malam, 30 April pukul 8, pidato pembukaan oleh ketua dan ceramah oleh Soemarto tentang "Persatuan Indonesia." Sabtu malam, 1 Mei, pukul 8 malam, ceramah oleh Bahder Djohan tentang "Masa depan perempuan dalam masyarakat Indonesia", yang ceramahnya akan dilengkapi oleh Nyonya Adam. Minggu pagi, 2 Mei, pukul 9 pagi, ceramah oleh Jamin tentang "Potensi masa depan bahasa dan sastra Indonesia" dan setelah istirahat ceramah oleh P Pinontoan tentang "Tugas agama dalam gerakan nasionalis". Setelah ini, pidato penutupan oleh ketua, Tabrani, dan pada malam hari pukul 8 malam makan malam bersama di restoran Insulinde di Petjenongan. 


Gedung Lodge "Lux Orientes" di Weltevreden (kini disebut Gambir) juga disebut gedung Vrijmetselaarsloge di Waterlooplein (kini disebut lapangan Banteng). Vrijmetselaarsloge dalam bahasa Belanda, Freemason's Lodge dalam bahasa Inggris. Mengapa disebut Gedung Vrijmetselaarsloge karena di Gedung Lux Orientes ini tempat klub Freemason. Letak gedung Lux Orientes ini tidak jauh dari kantor surat kabar Bintang Hindia dan kantor berita pribumi Alpena. Peta: Jalan Vrijmetselaar weg

Pada akhirnya Kongres Pemuda dapat direalisasikan tiga hari pada tanggal 30 April (hari Jumat malam), dan dilanjutkan hari Sabtu malam tanggal 1 Mei dan hari Minggu tanggal 2 Mei sejak pagi. Kongres Pemuda ini tampaknya akan berhasil menyelesaikan agendanya. 


De locomotief, 01-05-1926: ‘Het Jeugdcongres te Weltevreden. Kongres Pemuda di Weltevreden. Seorang wartawan melaporkan kepada kami dari Weltevreden hari ini, 1 Mei. Kongres Pemuda dimulai kemarin di gedung Lodge "Lux Orientes" di bawah pimpinan M Tabrani. Tadi malam ketua membuka kongres dengan pidato, yang ditambahkan sebagai berikut: Pembicara, Atas nama panitia kongres, pembicara mengucapkan selamat datang kepada semua “putri dan putra Indonesia”. Kongres ini merupakan tonggak sejarah gerakan pemuda dan diselenggarakan untuk menghasilkan pemikiran yang lebih luas dan lebih besar tentang Indonesia Raya dan untuk memberikan kesempatan bagi semua anak Indonesia untuk mengekspresikan perasaan kebangsaannya. Menurut ketua, kita harus saling mengulurkan tangan untuk mencapai tujuan dan cita-cita kita: kemerdekaan Indonesia, tanah air kita tercinta. Putri dan putra Indonesia, Tabrani melanjutkan — dalam perjalanan sejarah telah ada (penderitaan, yang jauh di belakang kita), yang tidak menjadi tanggung jawab kita, tetapi tetap saja sangat diperlukan, karena kita menyadarinya dan kita soroti secara singkat saat ini. Nah, sumber-sumber sejarah membuktikan bagaimana bangsa-bangsa ini dulunya mampu memerintah secara mandiri, meskipun banyak yang perlu dikatakan tentang kualitasnya. Fakta dari sejarah ini juga membuktikan adanya semangat giat, inisiatif, dan kepahlawanan. Ya, bahkan ada halaman-halaman dalam buku sejarah ini yang bisa kita banggakan. Hari-hari itu diikuti oleh masa kebingungan, yang mengakibatkan penurunan dalam jajaran dan dengan dominasi inilah penyebab penurunan umum lebih lanjut. Gambaran masa lalu kita sebelum kedatangan orang-orang Barat itu gelap, tetapi situasinya menjadi lebih buruk dengan kedatangan orang-orang Barat ini. Meskipun masa lalu itu harus disebut gelap, itu seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengungkapkan ratapan! Jauhkan pikiran bahwa seseorang tidak akan mampu melakukan tindakan besar. Waktu baru kerja dan perjuangan tanpa pamrih telah tiba bagi seluruh negara dan rakyat kita. Bangkitlah, saudara-saudari, demikian pembicara, —dan bersiaplah untuk berkorban demi tanah air kita tercinta, demi pembebasan negara dan rakyat kita. Itu bukan hal yang mustahil, karena 300 tahun perkenalan kita dengan Belanda. Melalui perkenalan itu lahirlah cita-cita dan cita-cita itu begitu indah sehingga patut diperjuangkan dan jika perlu mati untuk itu. Para peserta kongres pemuda sekarang ingin bekerja sama dalam tujuan besar ini. Pertama dan terutama, harus ada kerja sama yang kuat untuk mencapai tujuan, pembentukan front persatuan untuk pembebasan negara kita. Kita, seperti dikatakan Tabrani, merupakan inti dari ras Indonesia yang sedang muncul. Marilah kita orang Indonesia dari semua pulau di Nusantara bersatu. Kemudian ketua menyatakan dewan direksi terbuka. Pernyataan dukungan dibacakan dari perwakilan dan asosiasi lainnya; Jong Java, Jong Sumatra, Ikatan Pemuda Teosofis, Mahasiswa Ambon, Jong Minahasa, Jong Islamietenbond, Jong Batak. Sarikat Minahassa, Boedi Oetomo afdeeling Batavia, Mahasiswa Indonesia (Sekar Roekoen), Darmo, Ali Tirtosoewirjo, Prawira dan Nona Koesoema Soemantri; selanjutnya dari Mohammadjjah afdeeling Batavia. Pasoendan tidak terwakili. Sekretaris Kongres Pemuda, Soemarto, kemudian memberikan ceramah tentang: "Ide persatuan Indonesia", yang diikuti oleh perdebatan, tanggapan. Sabtu malam konferensi akan dilanjutkan dengan ceramah oleh Bahder Djohan tentang: "Kedudukan perempuan dalam masyarakat Indonesia". Ceramah akan dilengkapi oleh Nona S Adam. Pada hari Minggu beberapa ceramah lagi akan diberikan. Kongres akan ditutup pada sore hari. Pada Jumat malam kongres dihadiri oleh Dahler, anggota Volksraad, Prof Dr B Schriecke dari Rechthoogeschool Batavia dan Dr Kajadu dari departemen investigasi politik’. 

Secara keseluruhan banyak perserta yang berbicara dalam Kongres Pemuda ini, baik sebagai pembawa makalah maupun sebagai pembahas (forum). Selain nama-nama Tabrani, pembawa makalah Bahder Djohan, Soemarto dan Nona S Adam dan Pinontoan, juga pembahas di forum sebagai berikut (lihat De locomotief, 07-05-1926): Djaksodipoero, ketua Jong Java; Djamaloedin perwakilan Jong Sumatrnanen; Okker mewakili Jeugd Vereeniging van Theosofen; Abdoel Soekoer perwakilan dari persatoean peladjar Ambon; Palar, perwakilan Jong Minahasa; Haroen al Rasjid perwakilan Jong Islamieten Bond afdeeling Batavia; Aminoedin Pohan ketua Jong Batak; Waktoedi perwakilan Sekar Roekoen; Damanhoeri perwakilan Mohammadiyah afdeeling Batavia; Ali Tirtosoewirjo mewakili dirinya sendiri; Nona Koesoema Soemantri mewakli dochter van Indonesia (klub Indonesia di Soerabaja, Dr Soetomo) dan Nata Prawira mewakili dirinya sendiri. 


Dalam Kongres Pemuda tahun 1926 tidak terinformasikan tentang bahasa persatuan. Mengapa? Karena belum terbentuk persatoean diantara organisasi-organisasi pemuda yang ada. Yang sudah terbentuk adalah kesadaran untuk bersatu dan menganggap persatuan adalah sangat penting untuk mencapai cita-cita bersama: kemerdekaan Indonesia. Seperti disebut di atas, sebelum kongres diadakan Tabrani mengatakan: kesatuan bahasa sendiri akan muncul secara alami dengan terbentuknya negara, menunjuk ke Belanda, dimana dengan terbentuknya negara itu bahasa Belanda muncul dari dialek-dialek. Bahasa tunggal mana yang akan menjadi bahasa Indonesia kurang penting, bisa jadi bahasa Melayu, Jawa, dan mungkin bahkan bahasa Belanda. Dalam hal inilah, menurut Tabrani letak tugas berat bagi kaum intelektual. Sementara itu, pada saat kongres hari ketiga Minggu pagi, 2 Mei, pukul 9 pagi, ceramah Mohamad Jamin hanya seputar topik tentang "Potensi masa depan bahasa dan sastra Indonesia". Dalam kongres ini tidak terinformasikan ada tidaknya kesepakatan tentang bahasa yang digunakan para pemuda Indonesia. Seperti dilihat nanti, semuanya baru terjadi pada seputar Kongres Pemuda 1928. 

Kongres Pemuda tahun 1926 belum ada yang disepakati kecuali nama Indonesia yang sudah dianggap nama kolektif untuk tanah air, yang menjadi wilayah semua penduduk yang mana organisasi pemuda terwakili di dalam kongres. Jangankan untuk menentukan nama bahasa (baca: Bahasa Indonesia), bahasa apa yang akan digunakan di tanah air Indonesia juga belum disepakati. Kongres Pemuda pertama tahun 1926 baru satu tahap dalam rangkaian menuju persatuan (pemuda) Indonesia. 


Pada tahun 1917 di Belanda akan diadakan Kongres Hindia. Kongres ini diikuti oleh pelajar/mahasiswa asal Hindia (Belanda, Cina dan pribumi) antara lain Indische Vereeniging (Perhimpoenan Hindia), organisasi yang digagas oleh Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan pada tahun 1908 dan Chung Hwa Hui, organiasi pelajar/mahasiswa Cina di Belanda didirikan pada tahun 1911. Ketua Kongres Hindia pada tahun 1917 dipimpin oleh HJ van Mook. De nieuwe courant, 14-10-1917: ‘Indische Vereeniging. Pada Sabtu malam, di Koffieguis di Zuid Holland diadakan rapat tahunan dan mengadakan pemilihan pengurus baru. Yang terpilih adalah RM Noto Dhiningrat (ketua), Soerjomihardjo (sekretaris), RM Tjohro-adi-Soerjo (bendahara), Baginda Dahlan Abdoellah (pengawas) dan RM Noto Soeroto (arsiparis). Sebagai delegasi dan pembicara di Leidsche Indologencongres (Kongres Hindia) diangkat Dahlan Abdoellah, penunjukan telah diterima. Memutuskan untuk mengadakan rapat umum pada hari Sabtu pertama setiap bulan, dimana topik-topik penting tentang tanah air akan dibahas, dan pertemuan luar biasa selanjutnya, jika memungkinkan kuliah, juga dari orang luar, akan berlangsung. Salah satu anggota secara sukarela memberikan ceramah di setiap pertemuan tentang ekspresi gerakan Hindia, yang tawarannya diterima dengan sepenuh hati oleh pertemuan tersebut. Kelompok-kelompok lokal juga akan didorong untuk mengadakan pertemuan secara berkala. Organ perhimpunan Hindia-Poetra selanjutnya akan muncul pada interval yang tidak teratur, berisi seperti ceramah dan pengumuman, juga di mana artikel oleh anggota dan lainnya akan dimasukkan, dan bukan hanya risalah dan laporan tahunan’. Catatan: Indische Vereeniging pada tahun 1916 disebutkan diketuai oleh Raden Loekman Djajadiningrat (lihat Dagblad van Zuid-Holland en 's-Gravenhage, 09-08-1916). Dalam kepengurusan tersebut Dahlan Abdoellah disebut sebagai archivaris. Dalam forum kongres itu (yang diadakan 28 November 1917), yang berbicara mewakili Indische Vereeniging antara lain Sorip Tagor Harahap, Dahlan Abdoellah dan Goenawan Mangoenkoesoemo. Dahlan Abdoellah menyampaikan makalah sebagai perwakilan Indische Vereeniging. Sebagai pembahas untuk makalah lain, dari Indische Vereeniging antara lain Sorip Tagor Harahap dan Goenawan Mangoenkoesoemo. Pembicara dari Chung Hwa Hui adalah Han Tiauw Tjong, ketua asosiasi Cina Chung Hwa Hui sendiri). Dahlan Abdoellah dalam paparannya di kongres menyambaikan banyak hal. Salah satu yang dapat dikatakan dalam hal ini cukup penting adalah soal nama Indonesia. Kutipan dari makalah pembicara Dahlan Abdoellah mewakili Indisch Vereeniging “Kami, orang Indonesia, di Hindia Belanda merupakan bagian utama dari penduduk Hindia dan karenanya kami memiliki hak untuk berpartisipasi lebih dari sebelumnya”. Selanjutnya Mr Han Tiauw Tjong ketua asosiasi Cina Chung Hwa Hui mengamini apa yang disampaikan oleh Dahlan Abdoellah, menyatakan “Cina tidak menginvasi Hindia dan karena itu tidak berlebihan kami disambut disana, menjadi kolaborator yang sangat diperlukan untuk pembangunan negara’. Di dalam Kongres Hindia di Belanda ini untuk pertama kali nama Indonesia secara resmi diadopsi oleh orang pribumi. Seperti disebut di atas, nama Indonesia diintroduksi oleh orang Inggris (Logan) dan kemudian dipopulerkan oleh orang Jerman (Bastian) dan selanjutnya diterima diantara orang-orang Belanda di Hindia. Dalam hal ini, seperti disebut di atas, nama Indonesia bukan asing diantara orang-orang terpelajar pribumi, terutama pelajar/mahasiswa di Belanda. Ini juga mengindikasikan bahwa orang pribumi sudah mengenal secara luas nama Indonesia, nama yang sudah beredar luas dalam literatur akademik. Nama Indonesia yang diusulkan oleh Indische Vereeniging tentu saja tidak asing bagi pelajar/mahasiswa Cina dan mahasiswa Belanda asal Hindia di dalam forum tersebut. Seperti disebut di atas, nama Indonesia sudah wujud sejak lama dan tersebar di berbagai teks akademik maupun media umum. Perwakilan Belanda dan perwakilan Cina di dalam forum menyetujui usul mahasiswa pribumi yang tergabung dalam Indische Vereeniging. Singkatnya: dalam Kongres Hindia kedua berikutnya (1918), nama kongres sudah disebut Kongres Indonesia. Tanggal 28 November 1917 adalah hari bersejarah tentang nama Indonesia. Nama Indonesia sudah lama dikenal, tetapi secara kelembagaan (formal) baru dipatenkan pada tahun 1917. Pada tahun 1921 nama Indonesia diajukan di dewan pusat (Volksraad) untuk mengademen nama Hindia Belanda namun ditolak dan ketika dilakukan voting kalah. Hal serupa ini juga, seperti kita lihat nanti yang terjadi dengan nama Bahasa Indonesia (1928) dan nama Republik Indonesia (1945). 

Lantas bagaimana dengan pengusaha Sie Kong Liang? Tentu saja, Si Kong Lian tidak terkait dengan Kongres Pemuda. Sebab penyelenggaraan Kongres Pemuda 1926 diadakah di gedung umum, Gedung Lodge "Lux Orientes" atau Gedung Vrijmetselaarsloge (Freemason's Lodge) di Waterlooplein (kini disebut lapangan Banteng). Letak gedung Lux Orientes ini tidak jauh dari kantor surat kabar Bintang Hindia dan kantor berita pribumi Alpena. Satu yang jelas, hingga tahun 1926 ini bangunan/rumah di Jalan Kramat No. 106 masih dimiliki oleh Sie Kong Lian. 


Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 28-08-1926: ‘Disewakan: per tanggal 1 Oktober 1926, sebuah rumah yang terletak di Kramat 106, sewa f200. Untuk pertanyaan, telp. 1582 Weltevreden’. Catatan: meski dalam berita iklan ini tidak disebut nama Sie Kong Lian, tetapi karena nomor telpon yang dapat duhubungi adalah 1582, itu berarti nomor telpon Sie Kong Lian yang beralamat di Jalan Senen No. 95. 

Lantas apakah bangunan/rumah di Jalan Kramat No. 106 sudah dijual oleh Sie Kong Lian? Yang jelas ada yang menjual sebuah piano besar di tempat tersebut (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20-09-1926). Disebutkan “Piano besar Mignon". Dalam kondisi baik, ditawarkan untuk dijual. Dapat dilihat hingga 27 September di Kramat 106’. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 25-09-1926: Bantuan Diri. Lelang pada hari Selasa, 28 September 1926. Acara peninjauan: Senin - pukul 20.00 di rumah Bapak DF Braam Morris, Kramat 106‘. 


Bataviaasch nieuwsblad, 06-02-1926: ‘Perusahaan Perdagangan Tempat Tidur (Ledikantenhandel) Firma Sie Kong Lian. Senen 95. Weltevreden Telp. Wl. 1532 Didirikan pada tahun 1877. Selalu tersedia: Kapok berkualitas tinggi per 'kati' atau per picol dan rangka ranjang besi, tunggal dan ganda, serta rangka ranjang anak-anak dengan atau tanpa aksesoris. Juga tersedia untuk dipesan: Karung untuk ranjang, divan, dll’. 

Perlu diingat disini bahwa bisnis ledikantenhandel yang pertama mengiklankan di surat kabar adalah milik Si Kong Lian (sejak 1910). Sekarang di tahun 1926 sudah banyak bisnis sejenis di Weltevreden. Hal itu diuga yang menyebabkan iklan terbaru Firma Sie Kong Lian pada tahun 1926 perlu menyebut di dalam iklannya didirikan tahun 1877. 


Apakah Sie Kong Lian sudah menua? Jika benar bahwa Sie Kong Lian memulai berbisnis ledikantenhandel sejak 1877, berarti usahanya di tahun 1926 sudah berjalan selama 48 tahun. Katakanlah Sie Kong Lian memulai usaha pada usia 20 tahun. Lalu apakah Sie Kong Lian pada tahun 1926 sudah berusia 68 tahun? Jika itu benar, Sie Kong Lian sudah waktunya pension. 

Pada tahun 1926 dimana diumumkan 1877 sebagai tahun berdiri Firma Sie Kong Lian seakan menjadi pengingat satu hal: Firma Sie Kong Lian yang lahir tahun 1877 adalah yang pertama ada. Lantas apakah ini juga mengindikasikan pada tahun 1926 sebagai tahun berakhir? Satu yang jelas, sejak 1926 nama Sie Kong Lian tidak pernah terinformasikan lagi. Lalu apakah dalam hal ini Firma Sie Kong Lian sudah berakhir dan kemudian diteruskan keluarga/anaknya dengan nama yang baru? 


Masih di tahun 1926 bangunan/rumah di Jalan Kramat No. 106 masih terhubung dengan nama Sie Kong Lian (paling tidak dari no telpon rumahnya). Namun setelah ini bangunan/rumah di Jalan Kramat No. 106 tidak pernah terinformasikan lagi yang dikaitkan dengan nama Sie Kong Lian. Sebaliknya bangunan/rumah di Jalan Kramat No. 106 hanya dihubungkan dengan nama-nama orang Eropa/Belanda. Seperfti DF Braam Morris. 

Tidak hanya nama Firma Sie Kong Lian (ledikantenhandel) yang menghilang sejak tahun 1926, juga alamat Jalan Senen No 45 dan Jalan Senen No 95 tidak pernah terinformasikan. Lantas dengan demikian apakah menjadi idem dito dengan tidak terkaitnya lagi nama Sie Kong Lian dengan bangunan/rumah di Jalan Kramat No. 106? Seperti dilihat nanti, pada tahun 1928 dan seterusnya masih terinformasikan bangunan/rumah di Jalan Kramat No 106. Seperti dilihat nanti pada tanggal 28 Oktober 1928 di bangunan/rumah di Jalan Kramat No 106 juga diadakan kegiatan Kongres Pemuda 1928. 


Sie Kong Lian (3 Januari 1877-1954) adalah seorang warga Indonesia keturunan Tionghoa yang berjasa besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia sebagai pemilik rumah kos di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Jakarta, yang menjadi lokasi pembacaan ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Rumah tersebut kini berdiri tegak sebagai Museum Sumpah Pemuda. Sie Kong Lian merupakan seorang pedagang kasur di pasar Jakarta dan dikenal memiliki keahlian kungfu. Sie Kong Lian sendiri tidak tinggal di Kramat Raya 106, melainkan menetap di kediamannya di Jalan Senen Raya. Rumah di Jalan Kramat Raya didirikan pada awal abad ke-20 dan disewakan sebagai tempat kos bagi para pelajar STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) dan Rechtsschool (sekolah hukum) sejak tahun 1908. Sejumlah tokoh penting bangsa pernah indekos di rumah ini, termasuk Mohammad Yamin, Amir Sjarifuddin, Sugondo Djojopuspito, Assaat, dan Abu Hanifah. Sejak tahun 1927, gedung ini resmi disewa oleh organisasi pemuda dan dinamakan Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw sebagai wadah diskusi kebangsaan. Rumah kos ini menjadi lokasi persinggahan akhir Kongres Pemuda II sekaligus tempat dikumandangkannya ikrar Sumpah Pemuda 1928 (AI Wikipedia) 


Tunggu deskripsi lengkapnya



*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar