Laman

Kamis, 18 Juni 2020

Sejarah Lombok (10): Sejarah Ampenan dan Rezim Bali Selaparang di Lombok; Siapa Sesungguhnya GP King dan Hans Lange?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Lombok dalam blog ini Klik Disini

Ampenan adalah pelabuhan di pantai barat pulau Lombok. Pelabuhan ini telah menggantikan peran pelabuhan Lombok di teluk Lombok pantai timur Lombok sejak era VOC. Meski pelabuhan ini tidak terkenal di era VOC, namun karena kampong Ampenan ini yang memiliki pantai yang sedikit lebih aman untuk kapal-kapal berlabuh, maka pelabuhan ini bertahan secara terus menerus. Komoditi dari pedalaman Lombok semakin mengalir deras Ampenan (dari pada Laboehan Lombok). Hal ini karena jalan-jalan yang dibangun Bali Selaparang membuat transportasi lebih lancar. Pelabuhan ini semakin berkembang setelah kehadiran seorang pedagang Inggris GP King dan Hans Lange..

Pelabuhan Ampenan (1894-1895)
VOC bubar pada tahun 1799. Kerajaan Belanda kemudian mengakuisisinya dan membentuk Pemerintah Hindia Belanda. Selagi masih sibuk menata dan membentuk cabang pemerintahan (khususnya) di Jawa, para eks pedagang-pedagang VOC masih menjalankan bisnisnya di berbagai tempat termasuk Lombok. Pada era Gubernur Jenderal Daendels mulai membangun jalan pos di Jawa dan pengembangan pertanian di sekitar Batavia. Pada saat inilah terjadi pendudukan Inggris yang dimulai pada tahun 1811. Pemerintah pendudukan Inggris juga masih berkutat di Jawa. Namun kekuasaan Inggris tidak lama dan pada tahun 1816 dikebalikan kepada Pemerintah Hindia Belanda. Meski telah dibuat perjanjian antara Inggris dan Belanda pada tahun 1824, para pedagang-pedagang Inggris juga masih terdapat dimana-mana termasuk di Lombok. Pelabuhan-pelabuhan di Hindia Belanda oleh pedagang-pedagang Inggris dijadikan feeder untuk pelabuhan Inggris di Singapoera. Dalam situasi inilah banyak pemimpin lokal yang berinteraksi dengan pedagang-pedagang Inggris termasuk di Ampenan, Lombok.

Bagaimana pelabuhan Ampenan berkembang pesat? Peran GP King dan Hans Lange sangat menonjol. Itu satu hal. Hal yang terpenting dari peran pelabuhan Ampenan ini adalah pedagang GP King asal Inggrsi dan pedagang H Lange asal Denmark sengaja atau tidak sengaja telah memunculkan terjadinya perebutan kekuasaan antar para pengeran di Bali Selaparang yang juga berimbas pada penduduk Sasak (munculnya pemberontakan Sasak kepada Mataram Selaparang dan dilancarkannya ekspedisi militer Belanda ke Lombok). Nah, untuk meningkatkan pengetahuan tentang sejarah pelabuhan Ampenan (sejak era GP King hingga Perang Lombok 1895), mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

GP King di Ampenan dan Lange di Karangasem

Pada tahun 1838 terjadi peristiwa yang tidak terduga di Lombok (lihat Nederlandsche staatscourant, 11-01-1839). Disebutkan permusuhan di pulau Lombok telah berakhir antara Radja Karang Assam (Lombok) dan Goestie Mataram (Lombok). Goestie terbunuh tetapi pasukannya menang. Lalu Radja Karang Assam membakar bentengnya dimana istri-istrinya dibakar, anak-anaknya dan semua pengikutnya, lalu dia sendiri melemparkan dirinya ke tengah-tengah bara api dan mati.

Ampenan dan Karangaem di Lombok
Di Selaparang (Lombok) raja yang diakui adalah Anak Agoeng Agoeng Ngoerah Ketoet Karang Asem sebagai pangeran van het eilnad Selaparang dan Anak Agoeng Agoeng Gede Karang Asem sebagai pangeran kerajaan Karangasem di Lombok. Dua kerajaan ini diakui Pemerintah Hindia Be;anda sejak 1830 (lihat Almanak, 1847). Kerajaan Karangasem lebih besar dari Mataram.

Mengapa bisa terjadi perang saudara? Mataram ingin melemahkan Karang Assam? Atau adakah faktor lain yang memicu terjadinya perang? Boleh jadi.

GP King sejak 1834 diketahui sudah berada di Bali (lihat Javasche courant, 23-07-1834). Sementara itu sejak 1835 Lange bersaudara membuka usaha di Lombok, Atas izin radja Karangasem (Lombok) mereka mendirikan perusahaan di pelabuhan Tandjoengkarang (selatan Ampenan). Keberadaan perusahaan Lange di Karangasem telah menghalangi kehadiran GP King di pelabuhan Karangasem. Perusahan Lange telah menjadi mitra usaha kerajaan Karangasem. Pada tahun 1837 GP King sudah merapat dan membuka usaha di pelabuhan Ampenan (lihat Javasche courant, 30-09-1837). GP King mendapat penerimaan yang baik oleh kerajaan Mataram. Seperti halnya, Lange yang bermitra dengan kerajaan Karangasem, maka kerajaan Mataram menjalin mitra dengan GP King.

Dua Eropa inilah yang membuat persaingan makin ketat di pantai Lombok barat. Lange bersaudara asal Denmark sangat sukses di Karangasem sehingga cepat meningkatkan kemakmuran bagi kerajaan Karangasem. Boleh jadi usaha GP King asal Inggris di pantai Bali timur tidak menjanjikan. Pantai barat Lombok adalah persimpangan jalur pelayaran yang ramai sebab lautnya lebih tenang (barat-timur, Batavia, Bali, Lombok, Sumbawa dan Timor; utara-selatan, terutama antara Singapoera dan Sydney), sementara pantai timur Bali banyak hambatan navigasi seperti karang dan arus laut yang lebih deras. Boleh jadi itulah alasan GP King memindahkan pusat usahanya di Bali ke Lombok. Kemakmuran Karangasem boleh jadi membuat Mataram iri.

Kota (pelabuhan) Ampenan di Lombok (Peta 1895)
Keluarga Lange adalah pelaut-pelaut yang handal di Eropa. Perusahaan pelayaran Lange sudah sejak lama berkantor pusat di Hamburg, Jerman. Awalnya keluarga Lange berbisnis dalam bidang perikanan laut dan kemudian bergeser menjadi usaha pelayaran (angkutan barang). Dengan pengalaman inilah Lange bersaudara mencari peruntungan di timur. Awalnya India dan kemudian ke Asia Tenggara,

Tunggu deskripsi lengkapnya

Ampenan dan Perang Saudara di Lombok

Hubungan timbal balik antara Goesti Mataram dengan GP King telah memunculkan konspirasi (lihat De vrije kerk, 1894). Dua orang Eropa ingin saling bersaing di perdagangan di pantai Lombok barat. Persaingan itu merembes menjadi persaingan antara kerajaan Mataram dan kerajaan Karangasem. GP King, yang memiliki beberapa kapal, membawa pasukan dari Bali untuk membantu Mataram menyerang Karangasem. Kapal-kapal (perusahaan) Lange mencoba menghalangi masuk kapal-kapal GP King yang mebawa pasukan. Terjadilah pertempuran di laut antara dua kubu Eropa tersebut di laut. Lalu menyusul pertempuran antara dua kerajaan Bali di Lombok,

Perang saudara (Bali) di Lombok yang masing-masing dibantu orang Eropa, berakhir dengan kemenangan pangeran Mataram. Radja Karangasem Lombok melarikan diri ke istananya dan mengakhiri hidupnya sendiri, sementara seluruh keluarganya, termasuk istri-istri dan anak-anaknya bunuh diri untuk menghilanghkan rasa malu karena kekalahan. Sementara itu kerajaan Karangasem ingin Lange bersaudara tetap di Karangasem.

Radja Karangasem di Lombok kalah dan telah bunuh diri (lihat Nederlandsche staatscourant, 11-01-1839), Radja Mataram menjadi penguasa tunggal di Lombok. Pelabuhan Karangasem yang sebelumbnya melebihi keramaian pelabuhan Ampenan, kembali bergeser ke pelabuhan Ampenan. GP King terus berkibar di Bali, Radja Mataram Lombok secara perlahan menemukan kemakmuran yang melampaui tingkat pencapaian kerajaan Karangasem sebelumnya (di era Lange). Radja muda Karangasem menggantikan ayahnya dan Lange masih ada di Karangasem. Tentu saja itu akan tetap mengganggu GP King. Lalu perang dikobarkan kembali pada tahun 1839. Radja muda ditangkap dan kerajaan Karangasem hancur total. Pada saaat inilah Lange menghindar ke Bali dan mermilih di Bali selatan di sekitar Koeta. Radja Mataram menjadi penguasa tunggal di Lombok.

Sejak 1830 sesungguhnya Pemerintah Hindia Belanda dan kerajaan Karangasem Lombok dan kerajaan Mataram Lombok saling mengajui dengan ikatan perjanjian. Setelah terjadi perang saudara ini (1838) Pemerintah Hindia Belanda memperbarui kembali perjanjian yang ditandatangani pada bulan Juni 1843. Poin yang terpenting dalam perjanjian ini dibanding sebelumnya adalah penambahan aspek impor senjata dari luar dan ketaatan menjaga perdamaian di Lombok.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Ampenan dan Ekspedisi Militer di Lombok

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar