Laman

Rabu, 15 Juli 2020

Sejarah Lombok (39): Sejarah Senggigi dan Sejarah Gili Trawangan; Dari Era Cornelis de Houtman hingga Era Pariwisata Dunia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Lombok dalam blog ini Klik Disini

Pantai Senggigi dan (pulau) Gili Trawangan memiliki sejarah sendiri-sendiri. Namun kedua area ini dapat disatukan karena sama-sama menjadi tujuan wisata di pantai barat pulau Lombok. Dua area wisata ini yang secara geografis berdekatan, juga dijadikan sebagai satu paket perjalanan wisata yang saling melengakapi: pantai Senggigi adalah wisata pantai; Gili Trawangan adalah wisata pulau. Gili dalam bahasa Sasak adalah pulau yang lebih kecil (pulau besarnya adalah Lombok).

Pulau Gili Trawangan (Peta-peta tempo doeloe)
Lupakan sejenak keindahan pantai Senggigi dan pulau Gili Trawangan. Karena kita ingin mempelajari sejarahnya sebelum menjadi destinasi wisata. Namun mempelajari sejarah dua area destinasi wisata ini tidak mudah, karena sejarahnya masing-masing kurang terinformasikan. Hal itulah yang menyebabkan mengapa pantai Senggigi dan pulau Gili Trawangan yang diperhatikan keindahannya saja dan tidak terinformasikan sejarahnya. Padahal destinasi wisata tidak berdiri sendiri tetapi juga terkait dengan sejarahnya. Memahami sejarah pantai Senggigi dan pulau Gili Trawangan akan memperkaya kunjungan wisatanya. Itulah mengapa sejarah pantai Sengigigi dan pulau Gili Trawang diperlukan.

Lalu seperti apa sejarah pantai Senggigi dan pulau Gili Trawangan? Itulah yang menjadi tugas kita untuk membacanya. Untuk itu kita harus memutar jarum jam kembali ke masa lampau yakni sejak ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman (1597). Dari titik waktu inilah kita mulai mempelajari sejarah pantai Sengigigi dan pulau Gili Trawangan. Nah, untuk itu, agat menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Pantai Senggigi di Lombok (Now)
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pulau Gili Trawangan dan Pantai Senggigi

Boleh jadi orang Belanda pertama yang menemukan pulau Gili Trawangan adalah Cornelis de Houtman pada tahun 1597. Ketika dalam perjalanan pulang (kembali ke Belanda) setelah singgah di pelabuhan Lombok (pantai timur pulau Lombok) dan pelabuhan Kloengkoeng (pantai timur Bali) kapal begerak ke arah pulau Gili Trawangan karena lebih aman (pantai timur Bali di sekitar Karangasem banyak karang yang berbahaya). Tentu saja yang memegang teropong terbaik adalah Cornelis de Houtman karena dia adalah pimpinan ekspedisi. Baru pada ekspedisi kedualah pulau Gili Trawangan dipetakan tahun 1599. Cornelis de Houtman tidak sempat lagi melihat pulau Gili Trawangan untuk kali kedua, sebab dalam pelayaran ke Lombok, Cornelis de Houtman tewas dalam pertempuran di Atjeh. Itulah sejarah terawal tentang pulau Gili Trawangan.

Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 24-05-1956
Sudah barang tentu dua ekspedisi pertama Belanda tersebut kurang memperhatikan pantai Sengigigi. Sebab laporan navigasi mereka hanya mengidentifikasi permukaan bumi dilihat dari pantai, ukuran kedalaman tempat berlabuh dan pulau-pulau kecil yang dilalui. Dalam dokumen Belanda (1597-1942) tidak ditemukan yang menjelaskan orang Belanda telah mengindentifikasi pantai Senggigi sebagai situs yang menarik. Hanya taman Narmada yang sering mereka kunjungi plus gunung Rindjani untuk melihat danau Sagara. Boleh jadi yang menemukan pertama kali keindahan pantai Senggigi justru orang-orang Jerman. Itu baru terjadi tahun 1956. Surat kabar Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode, 24-05-1956. Disebutkan orang-orang Senggigi di Lombok Utara panik hari ini ketika mereka melihat tiga orang kulit putih mendarat di pantai Senggigi dengan menggunakan perahu karet. Penduduk mengira tiga orang tersebut adalah geng Belanda, lalu segera melaporkan kepada polisi di Ampenan. Namun, ternyata setelah diselidiki ketiga orang yang mampir ke pantai Senggigi tersebut adalah tiga orang Jerman yang tengah berlayar untuk menuju Olimpiade di Melbourne (Australia). Mereka telah berlayar dari Jerman sejak tahun 1954. Itulah sejarah terawal tentang pantai Senggigi sebagai pantai yang indah hingga memaksa tiga supporter olahraga asal Jerman turun ke darat karena pasir pantainya kelihatan dari jauh putih dan perairannya sangat jernih terlihat ke dalam. Catatan: Olimpiade Melbourne diselenggarakan dari tanggal 22 November hingga 8 Desember 1956.

Satu yang penting tentang sejarah Senggigi adalah salah satu dari tiga benteng kerajaan Bali Selaparang di Lombok Utara yang direbut oleh penduduk Sasak dalam pemberontakan penduduk Sasak melawan pasukan kerajaan Bali Selaparang pada tahun 1892 (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 19-09-1892). Disebutkan pasukan Sasak yang bersenjata alakadarnya (parang, tombak dan tameng termasuk termasuk potongan-potongan besi, batu dan rantai) berhasil menduduki benteng Senggigi yang menjadi salah satu pertahanan pasukan Bali Selaparang yang telah menggunakan senjata modern (diimpor dari Singapoera). Benteng Senggigi dan dua benteng lainnya kemudian pasukan Sasak membakarnya. Para pasukan Sasak berhasil mendapatkan tiga meriam.

Java-bode: nieuws, handels..blad voor NI, 19-09-1892
Penduduk Sasak,penduduk asli pulau Lombok mulai sangat menderita ketika pangeran Made semakin merajalela di kerajaan Bali Selaparang dimana puri berada di Mataram. Para pemimpin Sasak mulai melakukan pemberontakan pada tahun 188oan, Pemberontakan penduduk Sasak ini tidak kunjung padam. Pendudukan benteng Sengigi salah satu keuletan penduduk Sasak berperang, Namun karena persenjataanya yang sangat terbatas akhirnya para pasukan Sasak kewalahan. Dalam satu pertempuran (tidak disebutkan dimana) dilaporkan bahwa sebanyak 300 pasukan Sasak berhasil ditawan (Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 28-10-1892). Tawanan tersebut telah diisolasi di pulau Gili Trawangan. Kerajaan Bali Selaparang yang memiliki empat kapal modern diduga alat yang digunakan untuk menginternir tawanan ke pulau Gili Trawangan. Mereka dibiarkan di pulau itu tanpa suplai makan dan banyak yang sakit dan menemui kematian. Penyekapan tawanan ini akhirnya bocor dan Residen Bali en Lombok yang berkedudukan di Boeleleng melakukan penyelidikan. Berita itu benar adanya yang kemudian atas inisiatif Residen tawanan yang tersisa dan masih hidup dibebaskan. Maalahan kemanusiaan inilah yang menjadi faktor penting ketika para pemimpin Sasak yang sudah trerdesak di pedalaman Lombok meminta Pemerintah Hindia Belanda di Boeleleng melakukan intervensi. Lalu dikirim ekspedisi militer dari Batavia dan memasuki pelabuhan Ampenan pada tangga 11 Juli 1894. Akhirnya kerajaan Bali Selaparang dapat ditaklukkan pada tanggal 18 November 1894. Pasukan Bali yang melakukan aneksasi ke pulau Lombok tahun 1740 yang kemudian membentukan kerajaan di Lombok berakhir sudah. Kerajaan Bali Selaparang, kerajaan yang terakhir, tamat. Pasukan Sasak lega, penduduk Sasak mendapat kemerdekaannya dari orang-orang Bali di Lombok.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pantai Senggigi dan Gili Trawangan Masa Kini

Sejak pendudukan dan pembakaran benteng Senggigi pada tahun 1892, bagaimana situasi dan kondisi di Senggigi tidak pernah diketahui hingga akhirnya tiga orang Jerman sengaja tidak sengaja mendarat di pantai Senggigi pada tahun 1956. Mereka menikmati pantai yang bersih dan laut yang jernih. Nama Senggigi hanya diidentifikasi pada peta 1894. Boleh jadi ini karena pada tahun 1892 pasukan Sasak berhasil menduduki benteng Senggigi dan membakarnya. Peta-peta sesudahnya hingga tahun 1945 nama Senggigi tetap tidak teridentifikasi pada peta, Sejatinya pertumbuhan pariwisata di Lombok belum lama. Baru pada seputar tahun 1990 pantai Senggigi sebagai destinasi wisata mulai terasa marak. Pada tahun 1991 gaung pembangunan cabang Sheraton Hotel di Senggigi menjadi semacam mercu suar untuk wisatawan dunia.

Senggigi dan Trawangan (Peta 1894)
Pada tahun 1991 saya sedang bekerja untuk survei di Lombok (selama tiga bulan lebih). Pada saat inilah saya memiliki kesempatan ke pantai Senggigi dan pulau Gili Trawangan untuk melihat keindahan dan eksotik alamnya. Seingat saya sudah mulai banyak hotel-hotel, salah satu hotel terpenting adalah Hotel Sheraton Senggigi yang belum lama dibangun. Pantai Senggigi ini tengah berkembang. Sekitar lima tahun sebelum kedatangan saya di pantai Senggigi, pantai ini hanya disinggahi wisatawan yang datang dengan ransel (backpacker) yang hendak mendaki gunung Rindjani. Tentu saja pada saat menulis artikel ini, pantai Senggigi dan pulau Gili Trawangan sudah sangat heboh.

Destinasi wisata pantai Senggigi dan pulau Gili Trawangan di Lombok bukan substitusi atau luberan dunia pariwisata di pantai Kuta-Sanur dan pulau Penida di Bali tetapi lebih pada komplemennya (saling memperkuat di satu kawasan Bali en Lombok).

Dua pulau ini sejak 1846 (saat berlangsungnya Perang Bali) Pemerintah Hindia Belanda menyatukannya sebagai satu wilayah administratif dengan nama Residentie Bali en Lombok dimana ibu kota ditetapkan di Boeleleng. Saat itu cabang Pemerintah Hindia Belanda yang sudah dibentuk baru dua afdeeling yakni Afdeeling Boeleleng dan Afdeeeling Djembrana. Sementara kerajaan-kerajaan lainnya termasuk kerajaan di Lombok hanya diikat dalam bentuk perjanjian. Pada saat dimulainya Perang Lombok 1894 Pemerintah Hindia Belanda membentuk cabang pemerintahan di pulau Lombok dengan nama Afdeeeling Lombok (terdiri dari tiga onderafdeeling yakni West Lombok ibu kota di Mataram, Oost Lombok ibu kota di Sisik kemudian dipindahkan ke Selong dan Midden Lombok dengan ibu kota Praja). Perseteruan Pemerintah Hindia Belanda dengan kerajaan-kerajaan di Bali baru berakhir tahun 1906 (Perang Badoeng) dan tahun 1908 (Perang Kloengkong). Sejak 1908 Pemerintah Hindia Belanda membentuk cabang pemerintahan baru dengan membentuk Afdeeling Zuid Bali dengan ibu kota Denpasar. Pada era Republik Indonesia setelah pengakuan Belanda terhadap kedaulatan Indonesia (1949) wilayah Bali dan Lombok dipisahkan di dalam provinsi Kepulauan Sunda Ketjil yang lalu kemudian pada tahun 1958 provinsi Soenda Ketjil dimekarkan yang mana pulau Bali menjadi provinsi tersendiri dan pulau Lombok digabungkan dengan pulau Sumbawa untuk membentuk provinsi Nusa Tenggara Barat serta sisanya menjadi provinsi Nusa Tenggara Timur. Di pulau Lombok di Provinsi Nusa Tenggara dibentuk tiga kabupaten yakni mengikikuti bentuk dan wilayah administrasi tiga onderafdeeling tempo doeloe.

Pembangunan Hotel Sheraton cabang Senggigi menjadi tonggak awal pariwisata dunia di pulau Lombok khususnya di pantai Senggigi dan pulau Gili Trawangan. Pemerintah Nusa Tenggara Barat mulai merasakan aura positif ini. Ibarat kata, pulau Lombok dipromosikan untuk mulai menatanya agar bisa bersaing dengan pariwisata di pulau Bali. Namun celakanya ambisi untuk meningkatkan pamor pariwisata Lombok khususnya pantai Senggigi dan pulau Gili Trawangan, bungalow-bungalow yang sudah marak untuk wisatawan backpacker di pulau Trawangan menjadi korban.

Pada tahun 1992 bungalow-bungalow yang dibangun dari bangunan kayu yang menjadi surga bagi wisatawan mencanegara backpacker di pulau Gili Trawangan dibongkar oleh pemerintah. Ada sekitar 300 unit bungalow yang digusur demi alasan untuk penataan kawasan pariwisata, Bungalow-bungalow yang dimiliki oleh warga itu menjadi korban pertama menjadikan pantai Senggigi dan pulau Gili Trawangan sebagai destinasi wisata dunia. Tuduhan masyarakat atas penggusuran itu bermacam-macam seperti pemerintah akan menginzinkan pembangunan lapangan golf dan juga adanya desakan para pemilik hotel kepada pemerintah karena bungalow yang sewa murah menyebabkan okupasi hotel tidak optimal. Yang jelas atas kebijakan baru ini (pembongkaran) telah merugikan warga lokal dan usaha bungalow adalah ketergantungan hidup sebagian masyarakat. Dan banyak cluster bungalow juga menjadi tempat tinggal para pemilik. Namun itulah strategi pembangunan (pariwisata) ada plus minusnya dalam hal mana pemerintah mengambil kebijakan.

Kini, jika dilihat pada peta satelit, pantai Senggigi dan pulau Gili Trawangan tetap terlihat indah dan eksotik dengan sarana dan prasana pariwista yang terus berkembang. Semua itu, sejarahnya berawal dari era Cornelis de Houtman (1597) di pulau Gili Trawangan dan tiga supporter olahraga asal Jerman pada tahun 1956.

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar