Laman

Sabtu, 17 April 2021

Sejarah Filipina (5): Pulau Corregidor Teluk Manila Tempo Dulu Disebut Pulo Marivelle; Sejarah Awal Pulau Onrust di Teluk Jakarta

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Filipina dalam blog ini Klik Disini 

Apa pentingnya pulau Corregidor di teluk Manila? Pertanyaan ini juga kurang lebih sama dengan pertanyaan: Apa pentingnya pulau Onrust di teluk Jakarta? Pada masa ini dua pertanyaan ini tidak begitu penting dan dianggap tidak penting-penting amat. Namun jika dibuka lembar pertama sejarah Manila dan sejarah Jakarta, dua pertanyan ini menjadi sangat penting diketahui. Apa pasal? Pulau Marivelle yang kini lebih dikenal sebagai Pulau Corregidor adalah awal pelaut-pelaut Spanyol menguasai teluk Manila dan mendirikan Kota Manila. Hal yang sama juga Pulau Onrust adalah awal pelaut-pelaut Belanda menguasai teluk Batavia dan mendirikan Kota Batavia (kini Kota Jakarta).

Pelaut-pelaut Spanyol kali pertama mencapai Hindia Timur Filipina pada tahun 1521 di pulau Zebu. Pelaut-pelaut ini dipimpin oleh Ferdinand Magellan. Setelah Tomi Pires, penulis Portugis lainnya Mendes Pinto engunjungi kota Zunda Kelapa pada tahun 1539, Pada tahun Pada tahun 1571 pelaut-pelaut Spanyol dari Zebu (San Miguel) mengunjungi teluk Manila di pulau Marivelle. Dari pulau inilah Admiral Miguel menaklukkan (kerajaan) Manila. Sementara itu, pelaut-pelaut Belanda mencapai Hindia Timur di Banten tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Sempat singgah di kota Zunda Kalapa (Jacatra) sebelum akhirnya berhenti di Bali awal tahun 1597.  Pada tahun 1618 Admiral Jan Pieterszoon Coen dari Amboina tiba di teluk Jacatra di pulau Onrust dan kemudian menduduki (kerajaan) Jacatra. Seperti Spanyol yang memindahkan ibu kota (stad) dari Zebu ke Manila, Belanda memindahkan ibu kota dari Amboina ke Jacatra dan mendirikan kota Batavia (kini Jakarta).

Lantas bagaimana sejarah Pulau Corregidor di Teluk Manila? Tentu saja sudah ada yang enulis. Namun sejauh data baru ditemukan, narasi sejarah pulau Marivelle atau pulau Corregidor perlu diperkaya.  Seperti disebut di atas pulau ini dikunjungi pelaut-pelaut Spanyol pada tahun 1570. Lalu apa hubungannya dengan pulau Onrust di teluk Jakarta? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pulau Marville di Teluk Manila

Nama pulau itu disebut Pulau Marivelle (Mar-Ivelle). Namun entah bagaimana kemudian disebut Pulau Corregidor. Nama Mar-ivelle berarti nama lama, karena berawalan Ma atau Mar seperti halnya Manila, Makao, Mangindanao, Manado, Makassar, Majene, Maumere, Mangarai dan Malaka serta Matan.

Nama-nama geografis di Filipina saat mana Ferdinand Magellan, via Pasifik (celah Amerika Selatan) tiba di Filipina tahun 1521. Berawal dari tanjung tenggara pulau Ma-ngindanao, lalu menyusuri ke arah utara dan berbelok ke barat laut di pulau Ma-tinguk dan melalui selat antara pulau Mangindanao dan pulau Ma-haba, lalu berbelok ke barat di pulau Banaja (antara pulau Mangindanao dan pulau Panaon, kemudian pulau Limasaya. Dari pulau ini eksplorasi ke kampong Butuan (di muara sungai di pantai utara Mangindanao) sebelum dari pulau Limasaya melanjutkan navigasi ke arah barat laut melalui selat dimana terdapat kampong Ma-asin di pantai barat pulau (kelak disebut Leyte), lalu berbelok ke arah selatan di pantai timur pulau Zebu (kampong Ma-ndari) lalu menyusuri pantai barat pulau Bojol di kampong Ma-labohi, lalu ke arah barat daya melalui pulau Sikulor dan lalu mencapai tanjung (di sudut selatan pulau Negros (dekat kampong Mar-ibago dan Mar-ila), selanjutnya menyeberang ke pulau kecil Lubunga dekat pantai utara Mangindanao dan seterusnya ke arah barat daya di pantai Boernai (sekitar Sabah sekarang) dekat pulau Ma-tolo dan pulau Ma-lagan, dan kemudian berbalik ke suatu pulau di tengah laut (kini laut Sulu) pulau kecil yang kemudian dikenal Cagayanas (dekat pantai timur pulau Paragoa) dan berbalik lagi ke tenggara di pulau Lolo (kini pulau Sulu) dan kemudian ke arah timur laut melalui selat antara pulau Basilan dan pulau Ma-nisan dan seterusnya kembali ke laut lepas (dari arah kedatangan).

Awalan ma dan mar kini mirip awal me dan ber dalam kata kerja. Awalan ma dan mar (hanya) ditemukan dalam bahasa Batak. Namun awalan ma dan mar dalam nama-nama tempat (geografi) tidak diketahui maksudnya secara pasti, Namun yang pasti awal Ma untuk nama tempat begitu banyak pada waktu sejaman: seperti misalnya lagi Madagaskar (timur Afrika), Mauritius, Maladewa (Maldives), Margao (Goa), Marthanda (Tamil), Madaripur dan Maguwa (Bangladesh), Martban dan Maragi (Myanmar), Manjung dan Marina (Perak), Machang (Kelantan), Maran (Pahang), Marang (Trengganu), Marudi (Sarawak), Mabul dan Marudu (Sabah), Ma Kham Duang dan Ma Chom Phra (Thailand), Ma Da dan Ma Lo (Vietnam). Tentu saja banyak nama tempat berawalan Ma pada masa ini di Filipina seperti Mago, Maguirig dan sebagainya serta tentu saja jangan lupa Malacanang dan Makati.

Kapan nama-nama georafis berawal Ma atau Mar ini muncul? Pada era Hindoe-Boedha jarang ditemukan nama tempat berawalan Ma atau Mar di Sumatra bagian selatan, Jawa dan Borneo bagian selatan. Sangat tidak realistis nama-nama geografis itu berasal dari India. Demikian juga nama tempat berawalan Ma atau Mar sangat jarang di Tiongkok. Lantas nama tempat berawalan Ma dan Mar berasal darimana? Yang jelas, terlihat dari sebaran nama-nama tempat berawalan Ma dan Mar ini mulai dari Afrika Utara di Laut Mediterania (Mauritania, Maroko dan Mali), Afrika Timur (Madagaskar dan Mauritius) dan Maladewa (Maldives) hingga ke kota-kota pantai India, dan kemudian ke arah Myanmar, Semenanjung, Laut Cina (Thailand, Borneo Utara, Vietnam dan Filipina) dan kemudian Sulawesi, Maluku dan Laut Banda (Flores, Selat Torres) hingga Selandia Baru (Maori). Ini seakan menggambarkan jalur navigasi pelayaran orang-orang Moor (pada akhir era Hindoe dan awal era Islam). Orang Moor adalah bangsa Moor beragama Islam yang berasal dari Afrika Utara yang pernah mendiamia semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) di era kejayaan Islam (Usmaniyah). Pasca Perang Salib (di Eropa), orang-orang Moor memusat di Afrika Utara (Mauritania, Maroko, Tunisia dan Mali) dan sebagian yang lain menyebar ke Afrika bagian selatan dan timur hingga ke India dan seterusnya ke Hindia Timur. Pada tahun 1345 seorang ilmuwan Moor mengunjungi kerajaan Pasai di Atjeh, Malaka di Semenanjung hingga ke Tiongkok. Ilmuwan tersebut bernama Ibnu Batutah. Apakah kunjungan ilmuwan ini terkait dengan sebaran orang-orang Moor yang mencapai Hindia Timur hingga Tiongkok dan Selandia Baru.

Pulau Marivelle di teluk Manila tentu saja pada tempo doeloe begitu penting di teluk Manila karena berada di pintu masuk. Nama kampong (kota) Manila dan nama pulau Marivelle jelas begitu penting dalam dunia pelayaran (perdagangan). Hal itulah mengapa pelaut-pelaut Portugis yang berbasis di Malaka (sejak 1511) yang dipimpin George Menesez mengunjungi pelabuhan Brunai pada tahun 1521 yang kemudian melanjutkan pelayaran ke Manila. Pada tahun yang sama pelaut-pelaut Spanyol pertama di bawah pimpinan Ferdinad Magellan via Pasifik tiba di pulua Zebu. Selanjutnya pada tahun 1570 pelaut Spanyol yang berbasis di pulau Zebu (kini Cebu) mengunjungi teluk Manila di pulau Marivelle dan kemudian menaklukkan kota (kampong) Manila yang selanjutnya mendirikan benteng (berkoloni) tepat di kota Manila yang sekarang. Sejak kehadiran Spanyol di teluk Manila pada tahun 1570 lalu kemudian nama pulau Marivelle digantti menjadi nama baru pulau Corrregidor (hingga ini hari).

Kapan nama Marivelle diganti menjadi Corregidor tidak diketahui secara jelas. Pada peta-peta lama pulau ini diidentifikasi sebagai pulau Marivelle. Sebagaimana diketahui pelaut-pelaut Belanda pertama kali mengunjungi teluk Manila pada tahun 1600 di bawah pimpinan Olivier van Noort yang menjadikan pulau ini sebagai basis, sementara orang-orang Spanyol di pantai (Manila dan sekitar). Oleh karena itu ketika kehadiran Spanyol (1570) nama Corregidor belum ada, sebab pada saat kehadiran pelaut-pelaut Belanda (1600) nama pulau hanya dikenal sebagai pulau Marivelle.

Nama Marivelle sebagai nama awal, nama ini juga merujuk pada nama sungai, nama gunung dan kemudian nama pulau serta nama teluk (bagian dari kampong Marivelle). Sejak bergantinya nama pulau Marivelle (menjadi Corregidor), maka nama Marivelle yang kini tersisa hanyalah nama gunung. Penduduk awal kawasan ini diduga migran yang berasal dari Batak pada era Kerajaan Aru. Etnik Aeta di Marivelles dan etnik Batak di Palawan memiliki kemiripan dala beberapa aspek. Aeta adakalanya disebut Ayta, Agta atau Atta). Orang Aeta juga ditemukan di Zambales, Tarlac, Pampanga, Panay dan di Bataan sendiri.

Marivelles (kini Corregidor) masuk wilayah Bataan, suatu provinsi di region Luzon Tengah, Filipina (sekitar teluk Manila). Ibu kota Provinsi Bataan adalah Balanga City. Beberapa  munisipalitas (kabupaten) di provinsi Bataan ini adalah Bagac, Hermosa, Mariveles dan Morong. Munisipalitas Mariveles adalah yang terluas di provinsi Bataan, Nah, sekarang, apakah nama Bataan merujuk pada nama Batak? Seperti halnya penduduk asli Aeta mirip dengan etnik Batak di Palawan yang juga ada kemiripan dengan etnik Batak di Tapanuli (Sumatra Utara) Indonesia. Balanga dalam bahasa Batak adalah cekungan (kuali), Bagak dalam bahasa Batak adalah Cantik. Yang jelas ada nama kampong kuno (era Hindoe) dekat Padang Sidempuan, Tapanuli bernama Mosa (mirip Her-mosa) dan kampong kuno (era Moor, Kerajaan Aru) Morang (mirip Morong). Satu lagi, seperti sudah disebut di atas bahwa nama geografis banyak yang berawal Ma (seperti Ma-nila) atau Mar (seperti Mar-ivele), suatu awal dalam kata kerja pada bahasa Batak untuk me dan ber. Awalan ma dan mar hanya ditemukan di Tanah Batak. Untuk sekadar menambahkan aksara Batak mirip dengan aksara Filipina. Secara keseluruhan, nama-nama yang mirip nama Batak banyak ditemukan di Filipina, termasuk nama provinsi kepulauan di sebelah utara pulau Luzon (provinsi Batanes).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Sejarah Pulau Onrust di Teluk Jakarta

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar