Laman

Rabu, 23 Juni 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (63): Tiongkok dan Nusantara, Dinasti ke Dinasti; Pengaruh China Sejak Era VOC-Belanda di Indonesia

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog Klik Disini

Seperti halnya kita berbicara pengaruh Hindoe Boedha dan pengaruh Islam di Hindia Timur (nusantara), kita juga dapat membicarakan pengaruh Tiongkok di nusantara. Pada era kehadiran Eropa di Hindia Timur nama Tiongkok digantikan dengan nama China. Oleh karena itu pengaruh Tiongkok yang kita bicarakan adalah sejah era dinasti-dinasti di Tiongkok hingga era kolonial Belanda. Pengaruh Tiongkok di nusantara berarti tidak hanya di Indonesia yang sekarang juga termasuk di Filipina dan Semenanjung (Malaysia dan Indo China).

Pengaruh Tiongkok di Hindia Timur, khususnya wilayah Indonesia yang sekarang begitu penting dalam sejarah masa lampau. Oleh karena itu pengatruh Tiongkok (China) sama pentingnya dengan pengaruh Hindoe Boedha (terutama India) dan pengaruh Islam (terutama Arab). Sebagaiana sisa-sisa pengaruh India dan Arab, pengaruh China juga masih terlihat pada era Pemerintah Hindia Belanda. Sejak adanya pengakuan Arab dan China tahun 1936 (Persatoean Arab Indonesia dan Persatuan Tionghoa Indonesia) maka orang-orang Arab dan China yang sudah lahir dan eksis secara turun temurun di Hindia Belanda dianggap menjadi orang Indonesia. Dalam hal ini kita tidak relevan lagi membicarakan pengaruh Tiongkok (China).

Lantas bagaimana sejarah pengaruh Tiongkok di Hindia Timur atau nusantara? Bagaimana pula pengaruh China di Indonesia sejak era VOC? Yang jelas bahwa sejak Indonesia merdeka, tidak ada lagi dikotomi pribumi dan non pribumi. Lalu bagaimana sejarah pengaruh China atau Tionghoa seja era Tiongkok di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*

Tiongkok dan Nusantara: Dinasti di Tiongkok era Hindoe Boedha

Pada zaman kuno, sebelum penduduk Tiongkok turun ke selatan (seputar Laut China Selatan yang sekarang) sudah terbentuk beberapa kerajaan di pantai timur Annam (Vietnam yang sekarang). Berdasarkan prasasti Vo Canh abad ke-3 disebutkan raja termasyhur (kerajaan kuat yang diduga kerajaan di daerah aliran sungai Barumun di Sumatra bagian utara. Kerajaan Aru) telah menjalin hubungan politik dengan kerajaan yang mana prasasti dibuat. Ini mengindikasikan bahwa penguasa maritim di Laut China Selatan diawali oleh naiknya Sumatra ke timur laut Annam (kini provinsi An di Vietnam), jauh sebelum Tiongkok turun ke selatan.

Wilayah Annam ini disebutkan pada Hou Han Shu (semacam Negarakertagama) yang ditulis pada abad ke-5 disebut menjadi bagian dari wilayah diklaim kekaisaran Tiongkok pada era dinasti Han sebagai yurisdiksinya. Jauh sebelum dinasti Han ini menjangkau Vietnam selatan yang sekarang, penulis Geografi Yunani Claudius Ptolemeus dalam bukunya Geographikè Hyphègèsis yang ditulis tahun 150 M (buku II Bab 13, 14, 17) disebutkan portus Sinarura yang diduga Kattigara yang dapat dilayari dari India selatan. Kattigara ini berada di muara sungai Mekong. Dalam buku Ptolomeus ini juga dicatat bahawa sentra kamper adalah pulau Sumatra bagian utara. Dengan demikian informasi dari dinasti Tiongkok, catatan geografi Ptolomeus dan prasasti Vo Canh bersesuaian. Yang boleh jadi bahwa raja yang terkenal itu berasal dari Sumatra bagian utara (Kerajaan Aru).

Dalam catatan sejarah dinasti Liang yang dicatat dalam Liang Shu (502-557 M) sudah terdapat adanya navigasi pelayaran perdagangan dari India ke Tiongkok. Sementara itu, Cosmas mengatakan dalam abad keenam produk dari Tzinista (Cina) dibawa ke Ceylon, pusat komersial besar selama berabad-abad, Kota dagang lainnya pada masa ini adalah Tamlook (kota antara Ceylon dan Sumatra). Kota Tamlook ini disebut kerap dikunjungi para peziarah China pada abad ke-7.Fa-hsien adalah orang Tiongkok pertama yang meninggalkan catatan perjalanan dari India ke Tiongkok. Fa-hsien menyebut bahwa banyak gangguan laut di kawasan Laut China Selatan.

Sumber lainnya dari Tiongkok menyatakan bahwa telah dilakukan suatu ekspedisi hukuman kepada Annam dan telah berhasil ditaklukkan kerajaan tersebut. Oleh karena itu, kawasan Laut China Selatan menjadi aman bagi pedagang-pedagang Tiongkok ke India setidaknya untuk beberapa waktu. Boleh jadi inilah ekspansi pertama Tiongkok ke selatan (Luat China Selatan). Dengan amannya situasi Laut China Selatan memungkin pedagang-pedagang Tiongkok terhubung ke India yang mana dicatat oleh Fa-hsien pada abad ke-7. Pada fase ini terjadi hubungan Kerajaan Aru dengan pelabuhannya Binanga dengan (kerajaan) Sriwijaya (lihat prasasti Kedukan Bukit 682 M). Sebagaimana diketahui bahwa Fa-hsien ini lebih dahulu dari I Tsing (yang baru memulai perjalanan ke India tahun 671 M).

 

Dari kronologi tersebut, pengaruh Tiongkok belum ada di nusantara, ketika Kerajaan Aru, melalui rajanya Dapunta Hyang Nayik mengukuhkan Sriwijaya sebagai kerajaan (prasasti Kedukan Bukit 682 M) dengan raja yang bergelar Dapunta Hyang yakni Srinagajaya (lihat prasasti Talang Tuo 684 M). Justru sebaliknya pengaruh Sumatra (bagian utara) sudah ada sejak abad ke-3 ke selatan Tiongkok (lihat prasasti Vo Canh). Seperti banyak disebut penulis-penulis Indonesia masa ini, sebelum I Tsing ke India, singgah di kota Melayu (671 M) dan sepulang dari India 685 M I Tsing menyebut nama Sriwijaya. Sejak I Tsing inilah diduga awal hubungan Tiongkok dengan nusantara (Sriwijaya).

Dalam hal ini Kerajaan Sriwijaya yang terbentuk pada tahun 882 M adalah salah satu vassal dari Kerajaan Aru. Pengaruh Kerajaan Aru di Annam (Vietnam) semakin berkurang karena ekspansi Tiongkok pada dinasti Sui. Meski demikian, Kerajaan Aru masih memiliki vassal di Thailand selatan (lihat prasasti Ligor, sisia A tanpa tahun dan sisi B bertaruh 775 M). Kerajaan Sriwijaya setelah invasi ke Jawa (lihat prasasti Kota Kapur 686 M) telah banyak berkonsentrasi di Jawa dengan terbentuknya kerajaan dari keluarga (dinasti Seilendra).

Pengaruh Tiongkok yang signifikan di seputar Laut China Selatan baru terlihat menjelang akhir abad ke-9 dengan minat maritim setelah semakin populernya dua kota pesisir Tiongkok yakni Canton dan Ch'üan-chow karena selama periode ini perdagangan meningkat sangat banyak di dua kota pelabuhan tersebut. Disebutkan pada tahun 792 Gubernur Lingnan melaporkan intensitas perdagangan melemah di Tiongkok, para pedagang asing seperti dari Arab hanya sampai di Annam.

Semakin ramainya dua kota pelabuhan tersebut, karena sejak awal abad ketujuh, para pedagang asing sudah membentuk koloni di Canton dan juga di Ch'üan-chow serta Yang-chow. Sejumlah pedagang Arab sudah masuk di Canton yang menjadi awal siar agama Islam di Tiongkok. Antara tahun 618 dan 626 M empat pengikut Muhammad yang membawa Islam di Tiongkok. Satu mengajar di Canton, satu di Yang-chow dan dua lainnya di Ch'üan-chow. Dalam teks P'an-yü-hsien-chih bab 53 disebutkan bahwa:  ‘Ketika perdagangan laut dibuka pada Dinasti T'ang, Muhammad, raja Muslim Medina mengunjungi koloni Muslim di Canton’. Orang-orang Muhammad membentuk pemukiman besar di pelabuhan-pelabuhan Tiongkok, orang Tiongkok menyetujui orang asing yang tinggal dalam kelompok di wilayah mereka, semacam pemerintahan sendiri, Orang asing diizinkan untuk menggunakan hukum mereka sendiri dan mengamati kebiasaan dan kebiasaan mereka sendiri begitu lama karena mereka bisa hidup tertib dan damai dengan orang Tiongkok. Pihak berwenang Tiongkok tidak akan mempertimbangkan untuk ikut campur dalam hal-hal yang menyangkut orang asing, kecuali bila hal itu perlu.

Pada abad kesembilan oleh saudagar Arab Solaiman menyatakan salah satu dari mereka ditunjuk oleh orang Tiongkok kewenangan untuk mengadili perselisihan yang timbul di antara seagamanya tempat tinggal di Canton. Pada hari raya ketika umat Islam berkumpul, dia berdoa, menyampaikan Khutbah dan berdoa untuk kesejahteraan Sultan mereka. Sebagai orang yang tepat ditunjuk, penyelesaiannya diatur dengan baik, karena Solaiman menambahkan bertindak menurut kebenaran, dan keputusannya sesuai dengan kitab Tuhan (Al-Qur'an) dan ajaran Islam. Hal inilah yang membuat pedagang-pedagang Arab diterima di Tiongkok. Adapun komoditas perdagangan maritim dari Solaiman bahwa impor utama ke Cina adalah gading, kamper, kemenyan, batangan tembaga, cangkang penyu dan cula badak.

Pada awal abad ke-10 pengaruh Kerajaan Aru di kawasan Luat China selatan masih cukup kuat. Pengaruh itu berada di Annam, Kamboja dan Thailand selatan. Pengaruh Kerajaan Aru di Filipina dapat dibaca pada prasasti Laguna 900 M. Disebut raja masyhur di Binwangan melalui utusannya memberi pengampunan kepada raja Nayanam atas hutang perdagangan yang disaksikan oleh raja Tondo, raja Pilai dan raja Palilan. Binwangan adalah Binanga, ibu kota Kerajaan Aru, nama kota yang disebut pada prasasti Kedukan Bukit 682  sebagai Minanga.

Satu yang menarik dari komoditi yang diimpor pedagang-pedagang Arab di Tiongkok adalah kamper dan kemenyan. Sebab dua komoditi ini hanya diproduksi di wilayah Kerajaan Aru (Sumatra bagian utara). Namun ini mudah dijelaskan karena wilayah Laut China Selatan adalah kawasan perdagangan Kerajaan Aru, yang menjadi sebab terjadinya perdagangan kamper dan kemenyan di pelabuhan-pelabuhan Tiongkok seperti Canton.

Bedasarkan catatan dinasti Sung yang ditulis Chu Yu (1111-1117) disebutkan bahwa pada bagian akhir abad kesepuluh, Tiongkok mulai berdagang dengan Semenanjung Malaya, Jawa, Champa, Kalimantan, beberapa pulau di Filipina, Sumatra dan lain-lain. Meskipun daftar ini dalam catatan Sung tidak menyebutkan secara khusus negara-negara di pantai India, tidak terbayangkan bahwa tidak satupun dari mereka diperdagangkan dengan Tiongkok. Dalam daftar catatan Sung terasuk Jepang dan kepulauan Liu Kiu. Pada era inilah pedagang-pedagang Tiongkok mencapai Hindia.. Dalam laporan Chu Yu disebutkan metode navigasi sebagai berikut: ‘Junk-jung yang mengarungi samudra berlayar di bulan kesebelas atau kedua belas untuk memanfaatkan angin utara, dan kembali di bulan kelima atau bulan keenam untuk memanfaatkan angin selatan. Di laut seseorang tidak hanya memanfaatkan angin kencang, tetapi juga angin lepas atau menuju pantai. Hanya angin kencang yang mendorong perahu kembali. Ini disebut 'memanfaatkan angin tiga arah'. Dalam navigasi pelayaran perdana Tiongkok juga disebutkan bahaya dan ancaman bajak laut di tengah pelayaran. Kekhawatiran lainnya disebutkan misalnya, jika sebuah kapal akan menuju Champa, dan kebetulan ia keluar dari jalurnya dan masuk ke (wilayah) Kamboja, lalu keduanya kapal dan muatannya disita, dan orang-orangnya diikat dan dijual dan diberi tahu: 'Bukan tujuan Anda datang ke sini.'.

Sejak dimulainya navigasi pelayaran perdagangan Tiongkok, perdagangan di pelabuhan-pelabuhan Tiongkok semakin marak, yang diduga menjadi salah satu pangkal perkara mengapa Kerajaan Chola (di India selatang) melakuan invasi ke wilayah timur laut dan selat Malaka. Dalam hal inilah mengapa pelabuhan-pelabuhan Kerajaan Aru menjadi sasaran, karena dari pelabuhan-pelabuhan ini kamper dan kemenyan telah mengalir deras ke Tiongkok

Invasi Kerajaan Chola dimulai pada tahun 1022 (lihat prasasti Tanjore 1030). Beberapa pelabuhan yang diserang militer Chola antara lain Kadaram (Kedah), Lamuri, Panai dan Sriwijaya. Lamuri dan Panai adalah dua pelabuhan Kerajaan Aru di utara dan di timur. Sementara pelabuhan utama Kerajaan Aru dibarat adalah Barus.

Tunggu deskripsi lengkanya

China atau Tionghoa: Sama Saja yang Penting Indonesia

Tunggu deskripsi lengkanya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar