Laman

Minggu, 29 Agustus 2021

Sejarah Makassar (50): Gunung Tertinggi Lompobattang di Pantai Selatan Sulawesi; Penanda Navigasi Pelayaran Zaman Kuno

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Makassar dalam blog ini Klik Disini  

Pada zaman kuno, puncak gunung Lompobatta dijadikan sebagai navigasi pelayaran perdagangan. Gunung tertinggi di semenanjung selatan Sulawesi ini dijadikan sebagai penanda navigasi untuk mengitarari pantai selatan dari Makassar ke Luwu dan sebaliknya. Tidak hanya gunung Lompobattang, gunung-gunung lainnya di berbagai pulau selalu puncak gunung yang terlihat dari lautan dijadikan sebagai penanda navigasi seperti gunung Agung di Bali dan gunung Rinjani di Lombok.

Gunung Lompobattang yang memiliki ketinggian 2.691 M terletak di kabupaten Bantaeng, provinsi Sulawesi Selatan. Gunung Lompobattang berdekatan dengan gunung Bawakaraeng. Pada masa ini dua gunung kerap dijadikan sebagai target pendakian. Dari puncak gunung Lompobattang dapat melihat puncak gunung BawakaraengNamun anehnya, tidak hanya para pendaki yang mengunjungi puncak kedua gunung ini, tetapi juga dilaporkan ada juga warga yang pada musim haji bulan Zulhijjah mengunjunginya untuk menjalani salat Idul Adha yang dianggap sebagai ritual perjlanan ibadah haji. Disebutkan para warga ini menganggap tradisi itu telah dilaksanakan secara turun temurun. Disebutkan dua gunung ini seakan dua gunung suci seperti Mekah dan Madinah, dua kota yang menjadi tujuan para jemaah haji.

Lantas bagaimana sejarah gunung Lompobattang di pantai selatan provinsi Sulawesi Selatan di kabupaten Gowa? Seperti disebut di atas gunung ini dulunya adalah penanda navigasi pelayaran perdagangan yang penting. Namun kini tidak hanya pendaki yang mengunjunginya, juga ada warga yang menganggapnya gunung suci untuk menunaikan ibadah haji. Lalu bagaima sejarah gunung Lompobattang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

 

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Gunung Lompobattang: Penanda Navigasi Pelayaran Perdagangan Zaman Kuno

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pendakian Gunung Lompobattan dan Gunung Bawakaraeng

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar