Laman

Kamis, 17 Februari 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (423): Pahlawan Indonesia – Tan Goan Po, Ekonom Lulusan Rotterdam; Republiken dan Pendirian FEUI

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Sebelum ada fakultas ekonomi di Indonesia (bahkan sejak era Hindia Belanda), sudah banyak orang Indonesia sebagai ekonomi bahkan bergelar doktor (Ph.D). Ekonom pertama Indonesia adalah Drs Samsi Sastrawidagda, Ph.D meraih gelar doktor ekonomi di Rotterdam pada tahun 1925. Tentu saja harus diingat Drs Mohamad Hatta (lulus sarjana di Rotterdam 1931). Dr Soemitro Djojohadikoesoemo, Drs Tan Goan Po dan Dr Ong Eng Die adalah generasi terakhir di era Hindia Belanda. Para ekonom ini inilah yang turut membentuk Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia tahun 1950.

Prof Dr Tan Goan Po (4 Agustus 1913 - 14 Februari 1978) adalah Seorang Ekonom Indonesia, salah satu pendiri Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI), juga dikenal sebagai Paul Mawira, ekonom terkemuka pada 1950-an. Selama perjuangan kebangsaan untuk Indonesia, Tan Goan-Po menulis artikel ekonomi di koran Semangat Baroe yang dia sebagai editor saat belajar di Belanda. Sebagai manajer umum Banking dan Trading Corporation di akhir 1940-an, Tan Goan-Po juga membantu dana membiayai delegasi Indonesia dalam perjuangan untuk kemerdekaan dan pengakuan internasional di Dewan Keamanan PBB di Lake Success, New York. Tan mendirikan dan mengelola beberapa bisnis dan lembaga keuangan. Dia membantu berdirinya Akademi Perniagaan Parahyangan pada tahun 1955. Pada 1957-1961 Tan bergabung dengan PRRI/Permesta dan kemudian dikarantina di sebuah pusat penahanan politik. Tan lahir di Ulu, sebuah kota kecil penghasil pala dan cengkih di pulau vulkanik Siau, bagian dari Sangihe Kepulauan. Ayahnya Tan Pek Jong adalah pedagang pala dan cengkih yang belajar sendiri untuk membaca, dan ibunya, Jauw Keng-Nio, buta huruf. Tan Pek-Jong melihat Goan-Po sebagai anak yang luar biasa cerdas dan mengirim putranya pada usia 10 ke kota Manado untuk sekolah dasar. Setelah menyelesaikan sekolah menengah di Tondano dan SMA di Jakarta, Tan Goan Po melanjutkan studi ke Belanda. Istrinya Florentina Petronella Geise dikenal sebagai Tineke ikut dalam unjuk rasa kemerdekaan Indonesia di tempat kelahirannya Rotterdam. Tinneke merupakan adik dari Uskup Katholik Bogor, Mgr.Paternus Nicholas Joannes Cornelius Geise (Wikipedia).  

Lantas bagaimana sejarah Tan Goan Po? Seperti disebut di atas, Tan Goan Po asal Sangihe menjadi salah satu pendiri Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (kampus saya dimana saya mengajar). Lalu bagaimana sejarah Tan Goan Po? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. Koran: Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 20-10-1949

Pahlawan Indonesia dan Tan Goan Po, Ekonom Lulusan Rotterdam

Tan Goan Po bukan Tan Po Goan. Meski satu marga Tan keduanay berada pada generasi yang sama tetapi dengan keahlian yang berbeda. Tan Po Goan sarjana hukum ahli hukum lulusan Rechthoogeschool Batavia, sedangkan Tan Goan Po sarjana ekonomi ahli ekonomi lulusan Handelshoogeschool Rotterdam. Tan Goan Po setelah lulus sekolah MULO di Tondano, kemudian melanjutkan studi ke Batavia. Pada tahun 1932 Tan Goan Po di sekolah menengah AMS, Weltevreden (Batavia) lulus ujian transisi dari kelas lima ke kelas enam (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 03-05-1932). Tan Po Goan sendiri pada tahun ini di Rechthoogeschool lulus ujian kandidat pertama (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 26-04-1932).

Lama studi di sekolah AMS adalah enam tahun (berbeda dengan di HBS yang hanya lima tahun). Lulusan sekolah menengah pertama MULO yang melanjutkan studi ke HBS atau AMS ditempatkan di kelas empat. HBS dan AMS hanya ada di beberapa kota besar di Jawa. Di lua Jawa hanya ditemukan di Medan. Lulusan HBS dan AMS dapat melanjutkan studi ke fakultas/universitas. Di Indonesia (baca: Hindia Belanda) fakultas ter dapat di Bandoeng (THS dibuka 1920); di Batavia (RHS, 1924 dan GHS, 1927). Meski sudah ada fakultas-fakultas, pada tahun-tahun terakhir ada sejumlah lulusan HBS dan AMS yang melanjutkan studi ke Belanda, termasuk Tan Goan Po.  

Pada tahun 1933 Tan Goan Po lulus ujian akhir di AMS Weltevreden Afdeeling B (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 15-05-1933). Yang sama-sama lulus antara lain Lompo Siregar, Santoso, Imanuel Hoetagaloeng, Djohan Sjahroezah, EJ Lapian, Lie Gim Tjoan, Wetters, Hogendorp, Soetrisno dan Martoeani Siregar. Pada bulan Agustus Ta Goan PO berangkat ke Belanda (lihat De locomotief, 28-08-1933). Disebutkan kapal ms Dempo akan berangkat tanggal 30 Agustus dari Batavia dengan tujuan akhir Rotterdam, salah satu diantara penumpang adalah Ta Goan Po. Dari ratusan penumpang dengan dengan nama Eropa/Belanda juga terdapat nama-nama yang bisa diidentifikasi selain Tan Goan Po adalah Han Swie Tian dan Sie Tjiauw Sing. Belum diketahui dimana Tan Goan Po kuliah.

Pada tahun 1933 ini di Batavia, Tan Po Goan lulus ujian kandidat kedua di Rechthoogeschool (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 16-10-1933). Pada tahun 1934 Tan Po Goan lulus ujian doktoral pertama (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 10-11-1934). Pada tahun 1935 di Rechthoogeschool ada sejumlah mahasiswa yang lulus ujian doktoral kedua yakni F. de Tourton Bruijns, GJ Resink, Haroen Al Rasjid. Tan Po Goan. Moeljatno, en M. Abdoerrachman (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-08-1935). Tidak terinformasikan kapan Tan Po Goan lulus ujian akhir (ujian doktoral ketiga). Yang jelas berdasarkan surat labar Soerabaijasch handelsblad, 22-03-1938 Tan Po Goan telah diangkat sebagai advokat di Makassar. Pada tahun ini RM Soemitro Djojohadikoesoemo lulus ujian akhir di Prins Hendrik School Batavia (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 04-06-1935). RM Soemitro Djojohadikoesoemo dengan kapal Op ten Noort dari Tandjong Priok tanggal 7 September yang dilanjutkan dengan kapal Postdam dari Singapoera pada tanggal 10 September 1935 berangkat ke Belanda.

Pada tahun 1937 diberitakan Tan Goan Po lulus ujian kandidat di bidang perdagangan (handelswetenschap) di Nederland Handels Hoogeschool di Rotterdam (lihat Rotterdamsch nieuwsblad, 08-07-1937). Beberapa bulan kemudian diberitakan Raden Mas Soemitro Djojohadikoesoemo berhasil ujian candidat ekonomi di Handelshoogeschool di Rotterdam (lihat Nieuwsblad van het Noorden, 22-10-1937).

Ada perbedaan waktu antara keberangkatan Tan Goan Po ke Belanda tahun 1933 dengan waktu lulus ujian kandidat di Handelshoogeschool Rotterdam tahun 1937. Besar kemungkinan Tan Goan Po di Belanda melakukan perubahan minat dari bidang keilmuan MIPA ke bidang keilmuan sosial. Tan Goan Po di AMS Batavia adalah afdeeling B (jurusan MIPA). Tan Goan Po takmpaknya pada tahun-tahun awal di Belanda belajar ilmu-ilmu sosial terlebih dahulu sebelum melakukan ujian masuk perguruan tinggi (seperti UMPTN seperti masa kini).

Sejak tahun 1935 hawa perang eskalasinya terus meningkat baik di Eropa (Barat; Jerman) maupun di Asia (Timur; Jepang). Pergerakan perjuangan kemerdekaan di Indonesia juga terus meningkay. Belanda, baik di Eropa maupun di Indonesia mulai ddalam situasi sulit, baik tekanan dari luar maupun dari dalam negeri. Dalam situasi dan kondisi inilah mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia di Belanda, agak sedikit gamang.

Di Belanda Soemitro Djojohadikoesoemo aktif organisasi mahasiswa. Dalam kepengurusan Roekoen Peladjar Indonesia (ROEPI) terdiri dari Ketua Hertog dan Wakil Ketua Daliloedin Lubis. Organ ROEPI adalah majalah Soeara Roepi dengan ketua Redaksi Maroeto dan para anggota Soemitro dan T. Tobing (Zaans volksblad: sociaal-democratisch dagblad, 07-02-1939). Sementara pengurus Perhimpoenan Indonesia (PI) saat itu (periode 1936-1940) adalah Parlindoengan Lubis (ketua); Sidhartawan (sekretaris) dan Mohamad Ildrem Siregar (bendahara). Parlindoengan Lubis adalah abang dari Daliloedin Lubis.

Bagaimana Tan Goan Po tidak terinformasikan setelah lulus ujian kandidat tahun 1937. Yang jelas Soemitro Djojohadikoesoemo lulus ujian doktoral (Drs) di bidang ekonomi tahun 1940 (lihat De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 11-07-1940). Saat ini di Belanda sempat kacau karena pada bulan Mei 1940 Jerman menduduki Belanda. Namun segera pemerintah pendudukan Jerman mengizinkan sekolah dan perguruan tinggi dibuka kembali. Hal itulah mengapa Soemitro dapat mengikuti ujian doktoral.

Tidak berapa lama setelah kelulusan Soemitro Djojohadikoesoemo, Parlindoengan Lubis lulus ujian dan meraih gelar dokter di Universiteir te Amsterdam (lihat De standard, 26-10-1940). Namun dalam perkembangannya, Dr. Parlindoengan Lubis yang anti fasis (termasuk anti Jepang) ditangkap militer Jerman lalu dijebloskan ke kamp NAZI Jerman (satu-satunya orang Indonesia di kamp NAZI). Mohamad Ildrem Siregar disiksa, sementara Sidhartawan dikabarkan meninggal, sedangkan Parlindoengan Lubis masih bisa bertahan meski berada di kamp NAZI. Selama tokoh-tokoh PI ditahan, mahasiswa-mahasiswa Indonesia masih bisa berkuliah. Daliloedin Lubis lulus dan meraih gelar dokter dari Universiet Amsterdam tahun 1941. Sementara itu di tanah air pada tanggal 8 Maret 1942 Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada (militer) Kerajaan Jepang.

Akhirnya Tan Goan Po terinformasikan Pada tahun 1942 Tan Goan Po lulu ujian ecomiesche wetenschappen di Economiesche Hoogeschool di Rotterdam (lihat Het Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad, 25-11-1942). Sejak pendudukan Jerman di Belanda, sudah terputus hubungan Belanda dengan Indonesia. Oleh karena itu tidak ada jalur pelayaran. Mahasiwa dan sarjana yang telah menyelesaikan studi dengan sendirinya tidak bisa pulang ke tanah air. Dalam situasi ini, kemungkinan yang memiliki tabungan yang cukup meneruskan studinya ke tingkat doktoral.

Ong Eng Die lulus di Universiteit Amsterdam dan Soemitro Djojohadikoesoemo di Universiteit Rotterdam. Keduanya sama-sama meraih gelar doktor (Ph.D) di tahun 1943. Ong Eng Die lulus ujian doktoral tahun 1940 di Vrij Universiteit Amsterdam (lihat Nieuwsblad van het Noorden, 01-06-1940). Disertasi Ong Eng Die tentang Chineezen in Nederlandsch-lndie: Een sociographische over het economische, sociale en cultureele leven der Chineezen in Nederlandsche Indie (lihat Maandschrift van het Centraal Bureau voor de Statistiek = Revue mensuelle du Bureau Central de Statistique du Royaume des Pays-Bas, 30-06-1943). Drs. Soemitro Djojohadikoesoemo meraih gelar doktor bidang ekonomi di universitas yang sama di Rotterdam tahun 1943 (lihat Algemeen Handelsblad, 13-03-1943). Sementara itu di tahun yang sama di Universiteit Utrecht Mr. Masdoelhak Nasution juga meraih gelar Ph.D di bidang hukum (lihat Friesche courant, 27-03-1943). Catatan: Economische Hoogeschool te Rotterdam kini lebih dikenal sebagai Erasmus Universiteit

Setelah kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, orang-orang Belanda/NICA kembali secara perlahan menguasai sejumlah wilayah di Indonesia. Saat inilah kembali terbuka hubungan komunikasi dan transportasi antara Belanda dan Indonesia. Sarjana-sarjana yang selama ini tertahan di Belanda mulai secara berangsur-angsur pulang ke tanah air pada tahun 1946 (era Kabinet Sjahrir) termasuk Drs Tan Goan Po, Dr Ong Eng Die dan Dr Soemitro Djojohadikoesoemo. Dr Parlindoengan Loebis yang telah dibebaskan dari kamp NAZI/Jerman juga kembali ke tanah air.

Kepemimpinan Perhimpoenan Indonesia tetap eksis, meski tanpa ketua tetapi FKN Harahap dan kawan-kawan tetap meneruskan perjuangan dengan menerbitkan majalah yang pro kemerdekaan Indonesia. FKN Harahap (pecatur tangguh yang pernah mengalahkan juara catur Belanda) menggaungkan kembali semangat Indonesia dengan Indonesia Raya. Ini dapat dibaca pada edisi De bevrijding: weekblad uitgegeven door de Indonesische Vereniging Perhimpoenan Indonesia, 15-05-1945: ‘Pada musim semi tahun 1944..kami tetap berjuang...kegamangan dalam menyelesaikan studi...kami terus melawan Jepang... muncul utusan dari Kedutaan Besar Jepang di Berlin untuk memberikan umpan, mahasiswa Indonesia membuang umpan tersebut. Itu adalah siasat untuk menangkap Mahasiswa Indonesia dengan jaring mereka... tiga tahun bagi orang Indonesia dari semua kehilangan hubungan dengan keluarga mereka!..Untuk itu jangan lupa dan harus sadar Seberapa jauh studi Anda sudah berkembang. Apakah Anda semua terburu-buru untuk ujian, atau mungkin ujian terakhir Anda pergi?...FKN Harahap’. Kegiatan mahasiswa Indonesia juga dapat dibaca pada edisi De bevrijding: weekblad uitgegeven door de Indonesische Vereniging Perhimpoenan Indonesia, 26-05-1945): ‘De vrijheidsbetogingen te Amsterdam (9 Mei 1945). Demonstrasi besar di Amsterdam dengan mengatasnamakan Perhimpunan Indonesia untuk menuntut kemerdekaan Indonesia yang berkumpul di lapangan Istana Kerajaan. Bendera Merah Putih menjulang diantara demonstrasi. Banyak orang Amsterdam yang mendukung demo ini dengan simpati. Beberapa orang Amsterdam juga ikut naik panggung untuk berbicara untuk mendukung kemerdekaan Indonesia termasuk Wali Kota Amsterdam...FKN Harahap telah berpidato, yang mewakili atas nama Perhimpoenan Indonesia untuk mengatakan beberapa kata. mengucapkan terima kasih kepada orang-orang Belanda untuk semua dukungan dan simpati ini, yang mana orang Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus memperjuangkan kemerdekaan...’. Dalam Rapat Umum yang dilakukan oleh kepanitiaan yang dibentuk orang-orang Indonesia (Perhimpoenan Indonesia) yang disebut Verbond van Indonesische Burger (VIB) yang diadakan di Foyer van de Stadsgehoorzaal te Leiden pada hari Jumat 13 Juli menghadirkan dua pembicara (lihat De kroniek, 11-07-1945). Dua pembicara tersebut adalah R. Poeradiredja dengan judul ‘Indonesie! Beheer of Bevrijding?’ dan RM Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo dengan judul ‘Sociaal-economische problemen rondom Indonesie’. Catatan: Verbond van Indonesische Burger (VIB) suatu perhimpuan warga negara Indonesia di Belanda didirikan tanggal 6 Mei 1945 di Leiden sebagai respon terhadap pidato HM Ratu di London 7 Desember 1942. Pengurus perhimpunan ini dari HK Poeradiredja, ketua; RA Poeradiredja, Wakil Ketua; PHWF Tellegen, sekretaris 1 (Zoeterwoudse Singel 89, Leiden), CD Barkman, Tan Goan Po, Z.Zain dan WChEA de Vries (lihat Je maintiendrai, 23-06-1945). Dalam pertemuan VIB di Leiden pada Kamis malam, 4 Oktober pukul 07:30, pertemuan Perhimpunan Warga Negara Indonesia berlangsung di Stadsgehoorzaal, dimana ketua dewan Drs. Tan Goan Po berbicara dengan topik "Apa yang terjadi di Indonesia?". Tan Goan Po menyatakan bahwa kita tidak perlu memikirkan pentingnya pertemuan ini, namun yang penting bahwa setiap orang Belanda mengenal dirinya lebih dekat dengan masalah kehidupan di negara kita dan bahwa ia memperhatikan dari berbagai sudut pandang (lihat De kroniek, 02-10-1945).

Sementara mahasiswa-mahasiwa Indonesia yang belum selesai studinya seperti FKN Harahap tetap meneruskan studi di Belanda. Lalu kemudian sebuah manifesto di Belanda diumumkan yang mana agar Belanda untuk menahan diri untuk perang dan memberi kesempatan bagi Indonesia untuk mandiri. Penandatangan manifesto ini termasuk didalamnya FKN Harahap (lihat De waarheid, 03-01-1946). Dalam situasi ini, akhirnya FKN Harahap berhasil menyelesaikan studi dan menjadi sarjana (lihat Friesch dagblad, 10-07-1946). FKN Harahap akhirnya kembali ke tanah air.

Perjuangan FKN Harahap dan kawan-kawan di Belanda (1945) seakan mengakhiri Perhimpoenan Indonesia yang digagas oleh Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan yang saat pendiriannya pada tahun 1908 yang disebut Indisch Vereeniging. Jika dulu (1908) Husein Djajadiningrat dan Soetan Casajangan bahu-membahu mengawali, maka tahun 1945 FKN Harahap dan Soemitro Djojohadikoesomo mengakhiri. Sebelum kembali ke tanah air, sementara para pemimpin Indonesia seperti Ir Soekarno, Drs Mohamad Hatta, Soetan Sjahrir dan Mr Amir Sjharifoeddin Harahap melawan Belanda/NICA, Drs Soemitro Djojohadikoesoemo, Ph.D dari Belanda berangkat menghadiri sidang PBB di London sebagai penasehat ekonomi dari delegasi Belanda (lihat Nieuwe courant, 20-03-1946). Setelah ke London ini kemudian diktehui dengan mengutip dari surat kabar Straits Times bahwa Drs. Soemitro Djojohadikoesoemo, Ph.D dan Dr. Djairin Zain telah tiba di Singapoera tanggal 12 Maret. Mereka berdua ke London menjadi bagian delegasi Belanda ke PBB. Ketika diwawancara mereka menyatakan bahwa Indonesia harus memiliki kursi di PBB, karena dalam banyak hal negara Indonesia dianggap setara dengan sejumlah negara yang diwakili di PBB. Mereka berdua menyatakan tidak menjadi masalah dalam struktur Indonesia merdeka dalam kerangka Persemakmuran Belanda. Dr Soemitro Djojohadikoesoemo dan Mr. Djairin Zain, dua anggota Indonesia dari delegasi yang mewakili Belanda pada sesi pertama PBB di London telah tiba dengan kapal perang Inggris dan kembali ke Batavia. Menteri Pendidikan Todoeng Harahap Soetan Goenoeng Moelia dari Departemen Pendidikan Republik memberitahukan bahwa keduanya akan menemui (Perdana Menteri) Sjahrir dan menjelaskan secara ekstensif tentang kunjungan mereka di London’. Beberapa bulan kemudian ketika diketahui Perdana Menteri Soetan Sjahrir akan mau bekerjasama dengan Belanda, Soetan Sjahrir diculik oleh kelompok oposisi (Nieuwe courant, 01-07-1946). Disebutkan pada malam 27-28 Juni di Solo, selain Soetan Sjahriri, juga diculik Menteri Kesejahteraan Rakyat Darmawan, General Majoor Soedibjo, Mr. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo dan tentara lainnya. Ini merupakan peristiwa yang serius, yang tidak bisa ditoleransi oleh pemerintah republik. Di sisi lain, Menteri Keamanan Rakyat Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap marah besar atas tindakan penculikan tersebut. Sejak penculikan kendali pemerintah diambilalih oleh Presiden Soekarno. Disebutkan pihak yang menculik adalah pengikut Tan Malaka dan Soebardjo. Setelah ultimatum Soekarno kepada penculik akhirnya Soetan Sjahrir dibebaskan di Solo. Mr. Amir Sjarifoeddin dari Djogjakarta datang ke Solo untuk membebaskan yang lain dari penjara termasuk Soemitro Djojohadikoesoemo (lihat Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 11-07-1946).

Setelah pulang ke tanah air, bagaimana Drs Tan Goan PO belum terinformasikan. Yang terinformasikan secara luas adalah Mr Tan Po Goan. Disebutkan Mr Tan PO Goan termasuk salah satu dari enam perwakilan Tionghia di dewan baru yang dibentuk Belanda/NOCA (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 03-09-1946). Baru pada tahun 1947 Drs Tan Goan Po terinformasikan (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 15-11-1947).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Dr Tan Goan Po: Seorang Republiken dan Pendiri FEUI

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar