Laman

Jumat, 18 Februari 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (424): Pahlawan Indonesia – Li Tjwan Ing Ketua Chung Hwa Hui di Belanda (1914-1915); Dr Sorip Tagor

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Setelah Yap Hong Tjoen, tokoh mahasiswa Cina asal Indonesia (baca: Hindia Belanda), dapat dikatakan tokoh penting berikutnya adalah Li Tjwan Ing. Mereka termasuk dua diantara para pendiri organisasi mahasiswa Cina di Belanda, Chung Hwa Hui. Kebetulan keduanya menjadi ketua pada periode kepengurusan yang pertama dan yang kedua. Siapa Yap Hong Tjoen? Sudah dideskripsikan pada artikel sebelumnya.

It would have been 1927 when this photo was taken. My grandfather Li Tjwan Ing concluded his HBS Atheneum (university-bound secondary school) in Schiedam, and attended medical school at Leiden University, finishing up with a specialisation in syphilis-serology. Around 1914-15 he was on the board of the Chung Hwa Hui (student association for Peranakan Chinese). He did his studies in dermatology/venearology in Vienna and Berlin. Unfortunately, my grandmother Albertine ten Raa burnt all his documents, which showed that some of his professors were Jewish. Immediately after he finished his studies in 1921, Li Tjwan Ing and Albertine returned to Indonesia. He was apparently the first Chinese specialist in Batavia. Life was not easy for them: the mixed Chinese-Dutch couple was not acceptable in Batavia’s Dutch community. Tjwan Ing’s parents and family in Jombang, East Java, did not approve of his wife since she was not Chinese. The Dutch wife of his brother Li Tjwan Kiat, who also studied in the Netherlands, suffered from the same negative family sentiments. Moreover, Tjwan Ing had more work as a general practitioner than as a dermatologist, which dissatisfied him. Patients with little money got a free treatment. Despite all that, they were a happy family. Alas, fate dictated otherwise. In 1928, he suffered from blood poisoning (erysipelas). He was not properly treated for it, despite his protests, and he passed away. Three months later, grandmother Ten Raa hastily – alone and panicked - packed her bags and went to the Netherlands with her two children. She did not receive any support, including financially, from the Li family. The only one who did so was her brother-in-law Tjwan Kiat. Moral of the story: follow your heart, not just the conventions, and allow others to do so.  Photo caption: Li Tjwan Ing (1889) and his wife Albertine ten Raa (1892), on the left is Kitty (1924, mijn moeder) en Tineke (1922) in Batavia (lihat @ChineseIndonesianHeritageCenter).

Lantas bagaimana sejarah Li Tjwan Ing? Seperti disebut di atas, sebagaimana dikutip dari sebuah tulisan singkat di facebook, cucu Li Tjwan Ing menulisnya, Li Tjwan Ing menjadi pengurus Chung Hwa Hui di Belanda 1914/1915. Tulisan itu disertai foto keluarga Li Tjwan Ing 1927. Lalu bagaimana sejarah Li Tjwan Ing? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Indonesia dan Li Tjwan Ing: Ketua Chung Hwa Hui di Belanda yang Kedua 1914

Tunggu deskripsi lengkapnya

Dr Li Tjwan Ing: Sorip Tagor Harahap di Belanda

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar