Laman

Senin, 04 April 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (511): Pahlawan Indonesia–Amaroellah di Belanda; Rintisan Perdagangan Pribumi antara Belanda-Hindia

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Kehadiran orang Eropa di Nusanatara, dalam hal ini oraang Belanda karena perdagangan. Sudah selama berabad-abad perdagangan Belanda, sejak era VOC dimonopoli oleh orang-orang Belanda sendiri. Kesadaran para pribumi sudah muncul untuk mengambil alih fungsi perdagangan tersebut, paling tidak ikut berpartisipasi dalam hubungan perdagangan antara Hindia dan Belanda. Pribumi yang studi di Belanda juga berjuang merintisnya seperti Soetan Casajangan, Sjamsi Sastra Widagda dan Amaroellah Soetan Mangkoeto..

Kisah-kisah nenek moyang Indonesia dalam menguasai perdagangan Nusantara sangat dipercaya sebagai kekuatan ekonomi dan pembentukan peradaban pribumi sebelum kehadiran orang-orang Eropa di Nusantara. Bukti-bukti kekuatan perdagangan dan keunggulan peradaban dapat dilacak pada prasasti-prasasti, candi dan teks zaman kuno. Orang-orang Belanda sendiri mulai memahami itu melalu kajian-kajian sejarah masa lampau/zaman kuno Nusantara. Dalam konteks inilah di era Pemerintah Hindia Belanda, diantara pribumi muncul kesadaran dan ada keinginan untuk membangkitkan riwayat nenek moyang bahwa dalam perdagangan orang pribumi dapat mengambil bagian. Namun sejauh apa keinginan itu terwujud, saat mana pedagang-pedagang Belanda dengan modal dan kekuatan armada pelayaran dapat tersaingi? Dalam konteks inilah, ketika para pedagang pribumi sangat dirufikan dan memiliki ketergantungan yang besar pada perdagangan Belanda, muncul sejumlah pribumi untuk merintis hubungan perdaganganm antara Belanda dan Hindia yang melayani kepentingan pribumi.   

Lantas bagaimana sejarah Amaroellah Soetan Mangkoeto? Seperti disebut di atas, Amaroellah cukup lama berada di Belanda dan turut hadir dalam pembentukan Indische Vereeniging. Amaroellah termasuk salah satu pribumi yang merintis upaya perdagangan dari golongan pribumi. Lalu bagaimana sejarah Amroellah St Mangkoeto? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Indonesia dan RM Oetarjo: Studi Pertanian di Belanda

Kehadiran Amaroellah terkait dengan keberadaan surat kabar berbahasa Melayu dwimingguan di Belanda, Biutang Hindia. Pada tahun 1906 Djamaloedin akan mengundurkan diri karena ingin melanjutkan studi di Belanda (studi pertanian di Wageningen).

Surat kabar ini diinisiasi oleh Dr AA Fokker tahun 1903 yang bekerjasama dengan Dja Endar Moeda, pemimpin surat kabar berbahasa Melayu Pertja Barat di Padang. Pada tahun itu Dja Endar Moeda membawa dua guru membantu Fokker yakni Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan guru di Padang Sidempoean dan guru muda Djamaloedin yang menjadi co-editor Dja Endar Moeda dalam menerbitkan majalan Insulinde di Padang. Sementara Abdoel Rivai berangkat sendiri dari Batavia ke Belanda. Mereka bertiga inilah yang mengasug Bintang Hindia di bawah pimpinan Dr AA Fokker. Dalam perkembangannya Soetan Casajangan mengundurkan diri tahun 1905 karena ingin melanjutkan studi keguruan di Belanda. Soetan Casajangan adalah adik kelas Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda di sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean.

Untuk membantu Clockener Bronsson untuk meneruskan Bintang Hindia, didatangkan tiga orang dari Hindia, yakni Mas Soengkono (sebagai korektor) pada bulan Februari 1906, lalu pada bulan Mei 1906 Sjamsoedin Rasad sebagai asisten editor. Yang berikutnya didatangkan Ameroellah pada bulan September 1906 untuk membantu editor (lihat Soerabaijasch handelsblad, 12-12-1907). Sejak November 1906 Clockener Bronsson sudah tinggal di Berlin.

Mas Soengkono tampaknya kurang memenuhi syarat sebagai korektor dan publikasi tidak sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan, lalu penerbit memutuskan untuk mengirimnya kembali ke kantor di Bandoeng pada bulan Februari 1907 untuk bergabung dengan staf administrasi disana seperti sebelumnya. Akan tetapi, Mas Soengkono tidak mau kembali ke Hindia dan karena itu mengundurkan diri pada bulan Juni 1907. Dalam perkembangannya atas bantuan Vereeniging West en Oost di Belanda, dan dibimbing oleh mantan residen di Sumatra’s Westkust, Mas Soengkono kemudian mengikuti ujian masuk sekolah pertanian di Wageningen. Tidak terduga Mas Soengkono yang malang tiba-tiba sakit parah pada bulan Agustus dan meninggal dalam beberapa hari kemudian.

Sebelumnya, untuk pengelolaan Bintang Hindia sepenuhnya diberikan kepada NJ Boon  dan Abdoel Rivai. Mas Soengkono sudah tidak aktif lagi di Bintang Hindia. Namun perubahan ini tidak diterima oleh Sjamsoedin Rasad dan praktis mengundurkan diri pada bulan April 1907. Sementara Amaroellah tetap bekerja untuk Bintang Hindia. Tidak lama kemudian timbul permasalahan baru, pada bulan Juni 1907 Abdoel Rivai mengundurkan diri (karena ingin melanjutkan studi kedokteran). Akhirnya Bintang Hindia ditutup dan sebagai gantinya diterbitkan Bandera Wolanda pada bulan Januari 1908 dengan pemimpin redakasi JE Tehupelory dan Amaroellah sendiri sebagai asisten editor.

Di Belanda sendiri, setelah Raden Kartono dan kemudian disusul Soetan Casajangan yang melanjutkan studi di Belanda, jumlah pribumi yang studi di Belanda semakin banyak. Pada tahun 1905 Djamaloedin lulus ujian dari kelas persiapan naik kelas satu Rijks Landbouwschool di Wageningen (lihat Algemeen Handelsblad, 19-07-1905). Disebutkan Djamaloedin satu kelas dengan Raden Mas Soemardji (RM Soemardji lulus tahun 1909 dan kembali ke tanah air). Pada tahun 1905 RM Notokworo lulusan sekolah HBS Semarang tiba di kemudian Raden Soemitro siswa HBS di KW III Batavia meneruskan sekolah HBS di Leiden. Pada tahun 1906 menyusul datang lulus HBS Batavia Hoesein Djajadingrat. Pada tahun 1907 siswa KW III Batavia KJ Leatemia menyusul meneruskan studi ke Belanda yang kemudian diikuti kedatangan RM Notosoeroto. Pada tahun 1907 JE Tehupelory dan saudaranya WK Tehupelory diketahui sudah di Belanada sebagaimana disebut Soerabaijasch handelsblad, 12-12-1907 JE Tehupelory sebagai editor majalah Bandera Wolanda (suksesi Bintang Hindia). Masih pada tahun 1907 RM Oetarjo siswa HBS Semarang dan melanjutkan studi dan lulus ujian transisi dari kelas satu ke kelas dua di Rijks Landbouwschool di Wageningen 1908 (lihat Arnhemsche courant, 07-09-1908). SM Latif siswa KW III Batavia meneruskan HBS di Haarlem tahun 1908. Sejumlah pribumi yang datang tahun 1908 ini untuk studi di Belanda antara lain R Tumbelaka dan JD Apituley. Dalam konteksnya inilah kemudian pada tahun 1908 ini di Belanda, mahasiswa senior Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan mengajak Raden Soemitro yang baru lulus HBS di Leiden dan diterima di Indische Administrative Dienst, untuk mengirim undangan ke semua orang Hindia yang studi di Belanda untuk menghadiri pertemuan pembentukan organisasi yang diadakan pada tanggal 25 Oktober di kediaman Soetan Casajangan di Leiden. Hasil pertemuan Anggaran Dasar disetujui pada prinsipnya dengan suara bulat dan diputuskan untuk mendirikan 'Indische Vereeniging'. Kemudian dilanjutkan untuk memilih pengurus yang nana Presiden terpilih adalah R. Soetan Cssajangau Soripada dan sebagai sekretaris dan bendahara RM Soemitro (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-01-1909).

Amaroellah sejak kedatangannya di Belanda pada tahun 1906 sebagai asisten redaktur Bintang Hindia masih tetap dalam pekerjaan jurnalistik dengan tetap sebagai asisten editor majalah Bandera Wolonda (suskesi Bintang Hindia) hingga tahun 1908. Pada bulan April 1909 diketahui beberapa pribumi yang studi di Belanda masuk dalam jajaran redaksi majalah Bandera Wolanda antara lain Soetan Casajangan dan Notosoeroto (lihat Het vaderland, 01-04-1909). Disebutkan sekarang lengkap dan terdiri sebagai berikut: pemimpin redaksi adalah Clockener Brousson, sedangkan redakturnya adalah R Soetan Gasajangan Soripada, guru Batak ternama, RM Noto Soeroto, studi hukuk putra Pangeran Noto di Red'jo, dari keluarga Paikoe Alamsche dan Amaroellah gelar Soetan Mangkoeto, seorang Melayu dari Pantai Barat Sumatera, mantan guru di Idi di Aceh. Clockener Brousson bermaksud berangkat ke Hindia lagi pada akhir tahun 1909 atau awal tahun 1910 untuk melakukan berbagai kegiatan selama dua setengah tahun.

Susunan redaksi ini berubah karena pada bulan Desember 1908 JE Tehupelory meninggal dunia. Sebelumnya yang menjadi kepada redaktur adalah Clockener Brousson (bahasa Belanda) dan JE Tehupelory (bahasa Melayu) dengan asisten redaksi Amaroellah. Pada tahun 1909 sejumlah mahasiswa ada yang telah lulus kembali ke tanah air atau berangkat ke tempat lain (M Boenjamin, Abdoel Rivai, Ph Laoh) dan juga semakin banyak jumlah yang datang untuk studi di Belanda. Soetan Casajangan sendiri pada tahun 1909 ini lulus ujian dan mendapat akta guru LO (dan melanjutkan studi untuk mendapatkan akta gur MO). Kepengurusan Soetan Casajangan di Indische Vereeniging berakhir tahun 1910 karena juga ingin menyelesaikan studi, lalu lulus tahun 1911 mendapat akta guru MO (sarjana pendidikan setara lulusan IKIP masa ini). Djamaloedin yang lulus di sekolah pertanian Wageningen telah kembali ke tanah air pada tahun 1910.

Seperti rekan-rekannya yang lain yang studi juga melakukan berbagai kegiatan pekerjaan yang menambah keuangan. Bekerja di majalah Bintang Hindia dan Bandera Wolanda memiliki honor bulanan. Soetan Casajangan juga menjadi asisten dosen bahasa Melayu di Rijks universiteiet te Leiden membantu Prof CA van Ophuijsen (mantan gurunya di Kweekschool Padang Sidempoean). Amaroellah selain di Bandera Wolanda juga menjadi anggota Vereeniging Handelsonderwijs di Amsterdam (lihat Algemeen Handelsblad, 21-08-1909). Vereeniging ini menyelenggarakan kursus terdiri dari beberapa afdeeeling. Amaroellah mengajar bahasa Melayu pada afdeeling A (Handelschool). RM Notosoeroto juga bekerja untuk majalah Oedaja.

Pendidikan dan jurnalistik sangat terkait satu sama lain. Dja Endar Moeda di Padang pada tahun 1898 pernah mengaatakan bahwa pendidik dan jurnalistik sama pentingnya: sama-sama mencerdaskan bangsa. Satu bidang yang dapat dilakukan pribumi di Belanda yang tidak terlalu menggangu studi adalah bekerja di bidang jurnalistik. Sejauh ini belum diketahui apakah Amaroellah melanjutkan studi di Belanda. Yang jelas Amroellah mantan guru di Atjeh menjadi guru bahasa Melayiu di Handelschool di Amsterdam.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Landbouwschool  dan Veeartsenschool: Buitenzorg dan Wageningen

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar