Laman

Selasa, 28 Juni 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (679): Sabah di Borneo Utara Negeri Tambunan Kinabalu; Negeri Sibu dan Negeri Bintulu di Serawak

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Pada artikel sebelumnya telah dideskripsikan sejarah lama Serawak dimana dihubungkan dengan Kerajaan Aru di pantai timur Sumatra dan telah disinggung nama-nama lama seperti negeri-negeri Sibu dan Bintulu. Pada artikel ini dideskripsikan sejarah Sabah di Borneo Utara dekat Sulu dimana pada kawasan gunung Kinabalu terdapat nama lama negeri Tambunan.

Sabah adalah salah satu dari 13 negara bagian di Malaysia. Sabah adalah negara bagian kedua terbesar di Malaysia setelah Sarawak. Sabah juga berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Utara, Indonesia, di selatan. Ibu kota negara bagian ini adalah Kota Kinabalu. Sabah sering disebut sebagai "Negeri di Bawah Angin" yang digunakan oleh pelaut pada masa lalu untuk menggambarkan daratan di selatan sabuk topan. Asal mula nama Sabah masih belum jelas, dan banyak teori yang muncul. Salah satu teori adalah bahwa pada masa Sabah merupakan bagian dari Kesultanan Brunei, di daerah pantai wilayah tersebut banyak ditemukan pisang saba (dikenal juga dengan nama pisang menurun yang tumbuh secara luas dan populer di Brunei. Suku Bajau menyebutnya pisang jaba. Nama Saba juga merujuk pada salah satu varietas pisang dalam bahasa Tagalog dan Visaya. Selain itu, dalam bahasa Visaya kata itu juga berarti "bising". Saat Brunei menjadi salah satu negara vasal Majapahit, naskah Nagarakretagama karya Empu PrapaƱca menyebut wilayah yang kini Sabah dengan nama Seludang. Sementara itu, meskipun Tiongkok telah berkait dengan Pulau Borneo sejak zaman Dinasti Han, mereka tidak memiliki nama khusus untuk wilayah itu. Baru pada masa Dinasti Song, mereka menyebut Borneo dengan nama Po Ni (disebut juga Bo Ni), yang merupakan nama yang sama yang merujuk pada Kesultanan Brunei pada saat itu. Karena lokasi Sabah berhubungan dengan Brunei, terkesan bahwa Sabah adalah sebuah kata dalam bahasa Melayu Brunei yang berarti hulu atau "di arah utara". Teori lain menyatakan bahwa nama itu berasal dari kata dalam bahasa Melayu sabak yang berarti tempat gula aren diekstrak. Sabah juga merupakan satu kata dalam bahasa Arab yang berarti matahari terbit. Banyaknya teori menyebabkan asal mula sebenarnya dari nama Sabah sulit ditentukan. Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Sabah di Borneo Utara dan Negeri Tambunan di Kinabalu? Seperti disebut di atas, wilayah Sabah adalah wilayah yang sudah lama dikenal yang dihubungkan dengan Brunai dan Sulu. Lalu bagaimana sejarah Sabah di Borneo Utara dan Negeri Tambunan di Kinabalu? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Sabah di Borneo Utara dan Negeri Tambunan Kinabalu; Negeri Sibu dan Bintulu di Serawak

Nama Sabah menjadi lebih dikenal sejak 1878 sejak pengusaha Inggris Baron von Overdeck mendapat konsesi jangka panjang dari Sultan Brunai dan Sultan Sulu (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 05-03-1878). Disebutkan dua wilayah yang menjadi konsesi Overdeck bagian barat di bawah otoritas Sultan Brunai yang dipimpin oleh Maharadja Sabah dan bagian timur di bawah otoritas Sultan Sulu yang dipimpin Datoe Bandara dan Radja van Sandakan.

Dalam peta yang dibuat Oliver Noort pada tahun 1601 tidak teridentifikasi nama Sabah. Nama yang diidentifikasi antara lain Broenai, Marudo serta nama-nama Portugis. Oliver Noort adalah pimpinan ekspedisi kedua Belanda (setelah ekspedisi Cornelis de Houtman). Nama Maludu besar dugaan adalah nama kuno (mungkin sudah ada sejak era Ptolomes). Nama Broenai kali pertama dilaporkan oleh pelaut Portugis yang mengujungi Broenai pada tahun 1524 (sejak itu nama pulau disebut Borneo (merujuk pada nama Broenai). Pedagang Inggris mendapat konsesi pertama di kawasan ini pada tahun 1775 di pulau Balanbangan (lepas pantai Marudu). Broenai pernah berada di bawah supremasi Kerajaan Aroe Batak Kingdom di pantai timur Sumatra (lihat Mendes Pinto 1537).

Sebelum kehadiran Baron van Overdeck di kawasan Sabah sudah lebih dahulu sejumlah pedagang mendapat konsesi. Yang pertama adalah seorang pedagang Inggris pada tahun 1775 di pulau Balambangan. Pulau di sebalah timur pulau Balambangan yang lebih besar adalah pulau Banggi. Dua pulau ini menjadi penanda navigasi pelayaran yang penting pada kawasan Sabah beserta gunung tinggi Kinabalu (gunung tertinggi di pulau Kalimantan), Penanda navigasi pelayaran di pedalaman adalah sungai Kinabantangan (sungai tertbesar di Sabah).

Sandakan adalah nama tempat yang terbilang baru dibandingkan Marudu. Dengan memperhatikan geomorfologi Sabah, pada masa lampau Sandakan berada di wilayah perairan atau suatu pulau dimana sungai Kinabatangan muaranya berada di pedalaman yang sekarang. Sungai ini di masa lalu tidak sepanjang,yang sekarang. Hal itulah mengapa nama sungai disebut Kinabatangan karena sungai ini tidak jauh dari hunung Kinabalu, Dalam hal ini nama Kina bukan nama tanaman (kina seperti di Jawa Barat), tetapi hanya sekadar nama yang berasal dari zaman kuno. Nama gunung disebut Kinabalu sedangkan nama sungai disebut Kinabatangan. Besar dugaan nama Kinabalu merujuk pada nama ‘ina’ dan ‘balu’. Dalam bahasa Batak ina adalah ibu sedangkan balu ada perempuan yang ditinggal suami (karena meninggal) dan batang adalah sungai. Penamaan nama gunung ini pada masa lampau diduga dihubungkan dengan pemujaan terhadap leluhur (pada era agama Budha Batak sekte Birawa (merujuk pada candi-candi di Padang Lawas (daerah aliran sungai Baroemoen dimana pusat Kerajaan Aroe). Besar dugaan nama Broenai merujuk pada nama sungai Baroemoen.

Satu nama tempat yang berada di dekat gunung Kinabalu adalah Tambunan. Apakah ada kaitannya dengan salah satu marga di Tanah Batak marga Tambunan? Boleh jadi karena Tambunan berada di pedalaman di barat gunung Kinabalu dengan yang terhubung dengan nama tempat Kinabalu (Kota Kinabalu, kini ibu kota Sabah). Nama tempat Tambunan tidak hanya di Sabah, juga ada di pulau Mangindanao, pulau Marinduque dan pulau Panai di Filipina dan Toradja, Sulawesi. Di dekat Tambunan di Sabah terdapat nama tempat Nabawan (nama marga Nababan di Tapanuli). Dekat Nabahan terdapat nama Samuran (nama tempat Sumuran di Tapanuli).

Umumnya penamaan gunung di masa lampau dihubungkan dengan nama tempat dan dalam hubungannya dengan pemujaan (kepercayaan zaman kuno). Besar dugaan nama tempat Kinabalu kemudian menjadi dasar penamaan gunung Kinabalu. Seperti disebut di atas, Kinabalu diduga merujuk pada nama ina dan balu. Oleh karena wilayah Borneo Utara di masa lampau adalah wilayah di bawah supremasi Kerajaan Aroe Batak Kingdom maka nama Tambunan diduga juga merujuk pada nama maraga di Tanah Batak. Sisa orang Batak di kawasan ini pada zaman dulu adalah etnik Batak di pulau Palawan dekat Sabah/Kinabalu (salah satu etnik di Filipina yang bahasa dan budayanya mirip Batak). Baron van Overdeck pada tahun 1878 mencatan gelar raja Sabah adalah Mangaradja (gelar raja yang mirip di tanah Batak).

Lantas bagaimana dengan nama Sabah sendiri? Tidak ditemukan nama Sabah dalam catatan awal, jauh sebelum dilaporkan Overdeck tahun 1878 nama gelar radja Mangaradja Sabah. Wilayah Mangaradja Sabah berada di kawasan gunung Kinabalu, sedangkan Radja Sandakan di sekitar daerah lairan sungai Kinabatangan. Saat mana Overdeck memulai pengelolaan konsesi, yang pertama dibangun adalah kota baru tidak jauh dari (kampong) Kinabalu. Kota baru ini disebut Jesselton. Sejak itu nama nama tempat Kinabalu meredup, tetapi nama Kinabalu masih tetap menjadi gunung (gunung yang pada era Portugis disebut gunung Mt del Pedro). Kota berikutnya yang dibangun adalah Weston di arah barat dekat Brunai (teluk Brunai).

Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 03-09-1900: ‘Kereta api sedang dibangun sepanjang sekitar 110 mil. Mulai dari 2 titik di Pantai Barat, Weston dan Jesselton, Dua jalur masing-masing sepanjang 20 dan 58 mil bertemu di Beaufort untuk mencapai Tenom [akhir tahun] 33 mil dari yang terakhir’.Catatan: Beaufort adalah pelabuhan sungai yang menghubungkan antara Westen di pantai dan Tenom di pedalaman.

Gaya adalah salah satu teluk di Borneo utara yang sesuai dengan pelabuhan yang tidak kalah dengan teluk Brunai. Kota Jesselton menjadi kota Eropa (selain Brooke Town di dekat Brunai). Semakin menguatnya orang Eropa di Borneo Utara mulai muncul perlawanan dari penduduk. Di Putatan, dekat Jesselton terjadi serangan, stasion pemerintah dihancurkan dan dua korban meninggal tetapi kemudian dapat diatasi setelah dikerahkan pasukan bersenjata (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 14-01-1901).

Jesselton dan Beaufort telah ditetapkan sebagai dua kota utama Eropa di wilayah Sabah, Para pekerja telah didatangkan dari Cina yang jumlahnya semakin banyak dari waktu ke waktu. Pembangunan jalan untuk koneksi telah digalakkan ke Paga;lan dan Oloe Padas. Khusus di Jesselton sedang gencar pembangunan kantor-kanrtor dan perumahan.

Pada tahun 1902 mulai ada usul bahwa British North Bomeo akan ditempatkan di bawah administrasi langsung Gubernur Straits Settlements (lihat Het vaderland, 25-02-1902). Sebagaimana selama ini Borneo Utara Inggris adalah pemerintahan di bawah Inggris yang terpisah dengan wilayah koloni di Semenanjung (Penang, Malaka dan Singapoera). Orang-orang Cina yang berada di Kudat dan Sandakan mulai banyak yang bermigrasi ke Jeeselyon dan Beuufort sehubungan dengan pembukaan pertanian ke arah pedalaman (lihat De Sumatra post, 06-08-1902). Catatan: Kudat adalah kota utama di pantai timur laut.

Tidak mudah bagi Inggris untuk membentuk koloni di Borneo Utara. Pada tahun 1904 terjadi serangan yang menewaskan sebanyak 20 orang di tempat antara Papar dan Jesselton. Namun semuanya mulai kondusif, Seorang Jerman, sebagai orang Eropa pertama yang memasuki pedalaman menceritakan jalur kereta api yang dinaiki sudah sampai ke Fort Tenom (Fort Birch) sepanjang 12- mil dari Jesselton via Beaufort. Tenom bukan kota metropolis, bahkan bukan kota, sepertinya hanya ada beberapa rumah penduduk asli yang berserakan, tapi begitu bangunan stasiun selesai dan kereta api beroperasi sedikit lebih teratur (lihat De Sumatra post, 14-09-1905). Pembangunan jalur kereta api ini telah membuat sepi jalur penduduk melalui sungai membawa dagangannya ke Beaufort dimana para pedagang Cina menunggu. Dengan adanya kereta api penduduk mulai ramai menggunakannya dan pendapatan kereta api mulai terasa meningkat.

Dalam perkembangannya sehubungan dengan meningkatkan perdagangan di Borneo Utara Inggris, perusahaan pelayarana Hindia Belanda, Noorddeuyschen Lloyd telah menyambungkan pelaysan dari Sulawesi ke Labuan melalui Lahad Datu, Sandakan, Kudat, dan Jesselton (lihat Algemeen Handelsblad, 18-01-1906). Selama ini pelayaran hanya sampai Zambongan dan Sulu via Sangir. Dari arah barat sudah terbentuk jalur pelayaran dari West Borneo ke Serawak dan Labuan. Sejauh ini tidak ada jalur langsung dari pantai timur Kalimantan yang hanya sampai di Tarakan. Dengan demikian akses menuju Borneo Utara hanya dapat ditempuh melalu jalur Manado dan Pontianak.

Pada akhir tahun 1906 satu ekspedisi geologi telah dikirim ke pedalaman Sabah dimana mereka bekerja selama enam bulan yang berakhir di Cowie (kalan dari Tenom). Tim ekspedisi ini menemukan potensi tambang batubara yanh jaraknya 35 mil dari garis pantai.

Gunung Kinabalu yang menjadi puncak gunung tertinggi di pulau Kalimatan jarang tersentuh meski dapat dengan mudah dilihat dari laut di Jesselton. Gunung ini sepi sendiri sejak pertama kali John Whitehead, seorang ahli zoologi Inggrus berhasil mendakinya pada tahun 1888,. Pada tahun 1910 muncul berita besar seorang perempuan bernama Lilian Gibbs berhasil mencapai puncak gunung Kinabalu (lihat Provinciale Noordbrabantsche en 's Hertogenbossche courant, 09-03-1910). Disebutkan nona LS Gibbs telah berhasil mendaki Kinabaloe setinggi 13.700 kaki, sebagaimana dilaporkan Reuter dari Jesselton (British North Borneo), Nona Gibbs adalah anggota Linnean Society dan ahli botani yang sangat berani dan ini adalah pertama kalinya Kinabaloe ditaklukkan oleh seorang wanita.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Negeri Tambunan Kinabalu: Gunung Kinabalu Gunung Tertinggi di Kalimantan

Sejak keberadaan Inggris di timur laut Brunai/Serawak, wilayah disebut Borneo Utara Inggris dimana admionistrasi pemerintahan dijalankan Inggris. Ibu kota berada di Jesselton. Pada saat perang Asia Pasifik, pasukan Australia memborbardir kota kecil Jesselton yang diduduki oleh militer Jepang. Kota hancur rata dengan tanah. Sejak itu pembangunan kota dimulai lagi dari nol. Berdasarkan laporan tahun 1962 pengaruh Inggris dominan, tetapi penduduk Cina adalah yang terbesar dan paling aktif. Di Jesselton juga bermukim  berbagai etnik Dayak seperti Dosoens, Bajaus, dan Maroet.

Disebutkan lebih lanjut penduduk kota sebanyak 24.000 jiwa. Perdagangan sekitar 1 juta ton per tahun sebagian besar ekspor karet. Jalut kereta api umumnya digunakan untuk pengangkutan karena. Bandara tampak lebih menonjol ada saja pesewar yang berangkat dan mendarat setiap hari.

Lantas kapan nama Kinabalu dikembalikan untuk menamai tempat yang telah sekian dasawarsa dikenal sebagai Jesselton? Yang jelas bahwa pada tahun 1963 Inggris membentuk Federasi Malaysia dimana empat wilayah digabung yakni Federasi Malaya, Singapoera, Serawak danj Borneo Utara. Sejak ini nama wilayah Borneo Utara Inggris diganti dengan nama lokal sebagai Sabah. Namun anggota federasi ini berkurang karena tahun 1965 Singapoera memisahkan diri.

Nama Sabah adalah nama pemimpin wilayah di masa lampau Mangaradja Sabah. Sejak kehadiran Inggris Overdeck nama wilayah itu dilabel sebagai British North Borneo. Kini nama wilayah dikembalikan ke aslinya, nama raja Sabah yang diduga kuat berasal usul dari Tapanoeli. Hal serupa ini pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1950 dimana Batavia dikembalikan kepada nama asli Jakarta, nama Buitenzorg dikembalikan dengan nama awal Bogor (demikian juga Fort de Kock menjadi Bukittinggi dan Fort van der Capellen menjadi Batusangkar. Saba atau sabah dalam bahasa Tapanuli adalah sawah. Pada era Inggris Borneo Utara di Borneo Utara (Sewarak, Brunai dan Sabah) sawah hanya ditemukan di wilayah Sabah, Apakah ada kaitan nama gelar Magaradja Sabah dengan kepemilikan sawah secara turun temurun di dekat gunung Kinabalu?

Lalu bagaimana dengan nama tempat (kota) Kinabalu? Setelah nama Sabah direhabilitas namanya giliran nama kota Jesselton harus dikembalikan ke nama aslinya Kinabalu pada tahun 1967 (lihat Amigoe di Curacao : weekblad voor de Curacaosche eilanden, 27-12-1967). Disebutkan negara bagian Saba di Borneo (Malaysia( selanjutnya akan menyebut ibu kotanya Kota Kinabaloe, bukan Jesselton. Nama pertama sebenarnya diambil dari gunung lokal dan yang terakhir dari orang asing. Seperti disebut di atas nama Kinabalu diduga kuat merujuk pada nama Inabalu (ina=ibu, balu=wanita ditinggal suami meninggal; janda) yang secara harfiah sebagai sebutan ibu yang tetap menjanda di Tapanoeli. Besar dugaan nama Inabalu ini sudah sejak zaman lampau pada era Hindoe/Boedha dimana nama gunung sebagai wujud dari pemujaan terjafap leluhur.

Ingat nama kota/gunung Inabaloe, ingat nama kota Tamboenan (nama salah satu marga Batak di Tapanuli), nama kampong/kota di dekat gunung Kinabaloe. Satu nama tempat/kota di masa lampau di lereng gunung Kinabalu adalah Tamparuli (Tapanuli?). Orang-orang Batak Tapanuli bermugrasi pada era sebelum kehadiran orang Eropa (Portugis) pada era Kerajaan Aroe Batak Kingdom dimana pasukan Kerajaan Aroe di pantai timur Sumatra (Padang Lawas, Tapanuli) juga ada yang direkrut dari Brunai (Borneo Utara) (lihat Mendes Pinto 1537). Nama Brunai sendiri diduga merupakan reduksi dari nama sungai di Padang Lawas, sungai Baroemoen dan sungai Panai. Di Teluk Brunai tempo dulu bermuara dua sungai yakni sungai Limbang (nama marga di Tapanuli) dan sungai Batang Trusan (batang di Tapanuli diartikan sungai). Di Filipina dimana juga migrasi orang Batak juga ditemukan nama pulau Panai dan etnik Batak..

Salah satu tokoh sejarah Sabah di Tambunan adalah Mat Saleh (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 19-12-1899). Mat Saleh adalah salah satu pejuang di wilayah Borneo Utara semasa Maskapai Borneo Utara (Inggris) yang terang-terangan berseberangan dengan Gubernur Borneo Utara (Inggris).

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar