Laman

Rabu, 13 Juli 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (710): Sulu di Filipina dan Negara Sabah di Borneo Utara Malaysia; Portugis Spanyol Belanda Inggris


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Ketika Kesultanan Sulu mengklaim wilayah Sabah dari (federasi Malaysia), hamir semua orang kaget. Sejak itu banyak orang ingin mengetahui sejarah (kesultanan) Sulu. Dari berbagai tulisan nama Sulu dan kerrajaan Sulu  memiliki data sejarah yang cukup. Hanya saja kurang terinformasikan. Disinilah masalahnya. Ketika Kesultanan Sulu (Filipina) klaim Sabah menjadi heboh.


Kesultanan Sulu adalah sebuah pemerintahan Muslim yang pernah menguasai Laut Sulu di Filipina Selatan. Kesultanan ini didirikan pada tahun 1450. Pada zaman kegemilangannya, negeri ini telah memperluas perbatasannya dari Mindanao hingga bagian timur negeri Sabah (sekarang bagian dari Sabah dan Kalimantan Utara). Kesultanan Sulu didirikan pada 17 November 1405 oleh seorang penjelajah kelahiran Johor dan ulama Sharif ul-Hashim. Setelah perkawinan Abu Bakar dan dayang-dayang (putri) setempat Paramisuli, ia mendirikan kesultanan. Kesultanan memperoleh kemerdekaannya dari Kekaisaran Brunei pada tahun 1578. Negeri Sulu terletak di lepas pantai Kepulauan Nusa Utara, Sulawesi Utara. Wilayah Kesultanan Sulu saat ini pernah berada di bawah pengaruh Kekaisaran Brunei sebelum memperoleh kemerdekaannya sendiri pada tahun 1578. Setelah itu, permukiman paling awal yang diketahui di daerah ini segera ditempati oleh kesultanan yang berada di Maimbung, Jolo. Pada waktu itu, Sulu dipanggil dengan nama Lupah Sug. Pada tahun 1380, seorang ulama keturunan Arab, Karim ul-Makdum memperkenalkan Islam di Kepulauan Sulu. Kemudian tahun 1390, Raja Bagindo yang berasal dari Minangkabau[3] melanjutkan penyebaran Islam di wilayah ini. Hingga akhir hayatnya Raja Bagindo telah mengislamkan masyarakat Sulu sampai ke Pulau Sibutu. Sekitar tahun 1450, seorang Arab dari Johor yaitu Sharif ul-Hashim Syed Abu Bakr tiba di Sulu. Ia kemudian menikah dengan Paramisuli, putri Raja Bagindo. Setelah kematian Raja Bagindo, Abu Bakr melanjutkan pengislaman di wilayah ini. Pada tahun 1457, ia memproklamirkan berdirinya Kesultanan Sulu dan memakai gelar "Paduka Maulana Mahasari Sharif Sultan Hashim Abu Bakr". Gelar "Paduka" adalah gelar setempat yang berarti tuan sedangkan "Mahasari" bermaksud Yang Dipertuan. Pada tahun 1703, Kesultanan Brunei menganugerahkan bagian timur Sabah kepada Kesultanan Sulu atas bantuan mereka menumpas pemberontakan di Brunei. Pada tahun yang sama, Kesultanan Sulu menganugerahkan Pulau Palawan kepada Sultan Qudarat dari Kesultanan Maguindanao sebagai hadiah perkawinan Sultan Qudarat dengan puteri Sulu dan juga sebagai hadiah persekutuan Maguindanao dengan Sulu. Sultan Qudarat kemudian menyerahkan Palawan kepada Spanyol. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Kesultanan Sulu di Filipina dan Negara Sabah di Federasi Malaysia? Seperti disebut di atas, Kesultanan Sulu pernah berkuasa di bagian timur Sabah. Lalu bagaimana sejarah Kesultanan Sulu di Filipina dan Negara Sabah di Federasi Malaysia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Kesultanan Sulu di Filipina dan Negara Sabah di Federasi Malaysia; Era Spanyol versus Inggris

Nama Sulu bukanlah nama baru dalam sejarah Nusantara (baca: Hindia Timur/Hindia Belanda). Nama Sulu sudah ada sejak era Portugis, bahkan jauh sebelum itu. Wilayah segitiga Portugis, Belanda dan Spanyol, wilayah Sulu terbilang independen, tetapi kemudian menjadi bagian yurisdiksi Spanyal (Filipina). Namun setelah sekian lama, nama Sulu kembali muncul ke permukaan mana kala perusahaan Inggris yakni Maskapai Borneo Utara disebut melakukan pengalihan wilayah Sabah (Borneo Utara bagian timur) dari Kesultanan Sulu pada tahun 1878.


Penyerahan lahan Sandakan dan Sabah antara Sultan Brunai dan Sultan Sulu di satu sisi dengan Maskapai Borneo Utara di sisi lain, pada tahun 1878 ternyata kemudian menjadi isu yang terus ada dimana Kesultanan Sulu (Filipina) mengklaim wilayah Sabah dari Federasi Malaysia yang dibentuk tahun 1963.

Mengapa Kerajaan (Kepulauan) Sulu tetap menjadi independen ketika tiga kekuatan mengapit wilayah ini. Pada fase pertama tiga kekuatan adalah Portugis, Belanda/VOC dan Spanyol dan pada fase kedua dengan tiga kekuatan yakni Spanyol, Belanda dan Inggris. Yang jelas Kerajaan Sulu memiliki kekuatan maritim di kawasan  hingga Teluk Tomini di timur, kepulauan Riau di Laut Cina Selatan di barat serta selata antara Sulawesi  (Mamajoe) dan Kalimantan (Koetai).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Portugis Spanyol Belanda dan Inggris: Kesultanan Sulu

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar