Laman

Senin, 19 Desember 2022

Sejarah Madura (45): Rd Ario Soerjowinoto gelar Rd Adipati Ario Tjakraningrat; Dinasti Tjakraningrat hingga (Wali) Negara Madura


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Madura dalam blog ini Klik Disini  

Raden Ario Soerjowinoto bukan orang biasa. Raden Ario Soerjowinoto memiliki gelar tinggi di Madura, Raden Adipati Ario Tjakraningrat. Namun bagaimana perjalanan sejarahnya kurang terinformasikan. Mengapa? Apakah tidak ada yang tertarik menulisnya? Okelah itu satu hal. Dalam hal ini mari kita telusuri riwayat Raden Ario Soerjowinoto..


Cakraningrat (dulu Tjakraningrat) adalah nama gelar bangsawan di pulau Madura, yang disandang oleh satu garis keluarga pangeran, sultan, dan regent pada masa Pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1678. Garis tersebut dimulai dengan diangkatnya seorang pangeran Madura oleh Sultan Agung untuk memerintah keseluruhan pulau atas nama Mataram, berkedudukan di Sampang. Di awal abad ke-19, Daendels, kemudian Raffles, "menganak emaskan" wangsa Cakraningrat dengan memberi mereka gelar "Sultan", serta nama wangsa mendapat sisipan kata 'adi' (artinya unggul, besar) menjadi Cakraadiningrat. Namun, di paruh kedua abad ke-19, Belanda tidak memberi gelar tersebut lagi. Anggota keluarga Cakraningrat yang paling terkenal adalah: Adipati Cakraningrat I (bertahta 1624-1647); Vassal Mataram; Panembahan Cakraningrat II (bertahta 1647-1707); Panembahan Cakraningrat III (bertahta 1707-1718); Panembahan Cakraningrat IV (bertahta 1718-1746); Panembahan Cakraadiningrat V (bertahta 1745-1770); Panembahan Cakraadiningrat VI (bertahta 1770-1779); Sultan Cakraadiningrat I (atau Sultan Tjakraadiningrat I, bertahta 1780-1815); Sultan Cakraadiningrat II (atau Sultan Tjakraadiningrat II, bertahta 1815-1847); Panembahan Cakraadiningrat VII (bertahta 1847-1862); Panembahan Cakraadiningrat VIII (bertahta 1862-1882). Kemudian Kerajaan dibubarkan. Selanjutnya, Sampang dan Bangkalan dipisah masing-masing menjadi afdeeling tersendiri (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Raden Ario Soerjowinoto gelar Raden Adipati Ario Tjakraningrat? Seperti disebutkan di atas, meski sangat dikenal dan terkenal, narasi sejarahnya kurang terinformasikan. Raden Ario Soerjowinoto adalah berasal dari dinasti Tjakraningrat. Lalu bagaimana sejarah Raden Ario Soerjowinoto gelar Raden Adipati Ario Tjakraningrat? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Raden Ario Soerjowinoto Gelar Raden Adipati Ario Tjakraningrat; Dinasti Tjakraningrat hingga Negara Madura

Raden Adipati Ario (RAA) adalah gelar tertinggi bagi para pejabat local dalam struktur Pemerintah Hindia Belanda. Gelar ini berlaku di wilayah Jawa-Madura (Banten/Batavia, Pasoendan, Jawa dan Madoera). RAA Tjakraningrat adalah bupati (afdeeling) Bangkalan. Sebelum mendapatkan gelar Adipati, RA Tjakraningrat menggantikan bupati Bangkalan Raden Ario Soerionegoro. Raden Ario Soerionegoro tampaknya ada masalah. 


De locomotief, 18-10-1918: ‘Diberhentikan: Efektif tanggal 2 September. 1918, dengan hormat diberhentikan sebagai Bupati Bangkalan (Madoera), Raden Adipati Ario Soerio Negoro. De locomotief, 26-10-1918: ‘Volksraad. Tjokroaminoto akan membahas isu-isu berikut di Volksraad: pembuat garam di Madoera, kasus Bantool, kekurangan pangan yang akan datang dan pemecatan bupati di Bangkalan’. De nieuwe vorstenlanden, 16-11-1918: ‘Buitenzorg. Diangkat bupati di Afdeeling Bangkalan, bupati di afdeeling Sampang Raden Toemenggoeng Ario Soeriowinoto’. 

Kasus mantan bupati Bangkalan Raden Ario Soerionegoro terus bergulir. Ada yang pro dan ada yang kontra. Tentu saja Sarikat Islam memiliki kepentingan dalam masalah tersebut. Tentu saja pemberhentian Soerio Negoro tidak ada kaitannya dengan Soeriowinoto. Bagaimana dengan penduduk Bangkalan sendiri? Tampaknya tidak ada masalah. Yang bermasalah berada di atas. Toh juga Soeriowinoto adalah adik dari Soerionegoro.


Raden Arjo Soerjowinoto, lahir di Bangkalan pada tanggal 9 November 1886. Raden Arjo Soerjowinoto anak kedua dari Pangeran Bupati Tjakradiningrat, yang setelah dihapuskannya wilayah pemerintahan sendiri Madoera. Raden Arjo Soerjowinoto menyelesaikan pendidikannya di sekolah OSVIA di Probolinggo. Pada tahun 1906 ia ditempatkan sebagai pegawai di onderdistrict di Djaddih (afdeeling Bangkalan), dengan surat keputusan residen Madura, tanggal 28 Maret 1906. Jabatan ini tidak diinginkannya tetapi lebih memilih untuk menjadi seorang perwira, dengan mengikuti pendidikan di Akademi Militer perwira pribumi, yang didirikan pada tahun 1905 di Meester-Cornelis. Sempat kecewa karena keinginannya tidak diizinkan dan harus puas kemudian melanjutkan pekerjaan urusan administrasi. Berdasarkan keputusan Residen Madura tanggal 16 Februari 1907 No.18 diangkat menjadi schrijver (juru tulis) di kantor Asisten Residen di Bangkalan. Pada tahun yang sama ia menikah dengan Raden Ajoe Saleha, putri dari bupati Sampang, Raden Adipati Ario Satjaadiningrat, dan cucu dari putra mahkota Madoera, Pangeran Adipati Pakoeningrat, yang meninggal pada tahun 1879. Dengan keputusan Residen Madura tanggal 10 Februari 1909 No 57 diangkat menjadi mantri polisi di Ketapang dan Sampang, menyusul keputusan residen tersebut menjelang akhir tahun yang sama. 5 Oktober 1909 No.505 pengangkatannya sebagai asisten wedono di onderdistrict Kamal. Disini dia membedakan dirinya dengan sarana yang terbatas pada saat itu, yaitu. polisi lapangan belum menyelesaiakn kasus pembunuhan, pembantaian, pembajakan, pencurian ternak, dan perampokan yang sering terjadi, seringkali dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Dengan keputusan pemerintah tanggal 29 Maret 1912 No 10 diangkat menjadi districthoofd Pagantenan (regentschap Pamekasan). Setelah menjabat districthoofd selama dua setengah tahun, Raden Arjo Soerjowinoto dilantik berdasarkan surat keputusan 13 Oktober 1913 No 1, pada usia 27 tahun, setelah ayah mertuanya pensiun, Raden Adipati Ario Satjaadiningrat, diangkat menjadi bupati Sampang dengan gelar Raden Toemenggoeng Arjo Soerjowinoto. Dia segera mulai membuat perubahan pada sistem administrasi yang sudah ketinggalan zaman di yurisdiksinya. Yakin bahwa kesejahteraan rakyat hanya dapat dilayani secara intensif dengan memberantas buta huruf di kalangan penduduk, ia lalu mempromosikan pendidikan kerakyatan sebagai tugas utamanya. Saat mana pada tahun 1918 abangnya, Raden' Adipati Arjo Soerjoregoro, mengundurkan diri sebagai bupati kedua Bangkalan dan pensiun dari pengabdian negara, Raden Toemenggoeng Arjo Soerjowinoto menggantikannya sebagai bupati ketiga di kediaman leluhurnya saat itu. Penduduk Bangkalan sangat senang dengan pilihan bupati ini, karena menyerahkan pemerintahan Bangkalan di tangan seorang yang tepat dari keluarga garis keturunan Tjakraningrat.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Dinasti Tjakraningrat hingga Negara Madura: Raden Ario Soerjowinoto Seorang Terpelajar yang Promosikan Pendidikan Penduduk

Raden Ario Soerjowinoto adalah pemimpin local (bupati) dari (wilayah) Madoera yang memiliki perilaku yang ideal dan memiliki kapasitas. Meski pendidikannya hanya setingkat OSVIA, tetapi cita-citanya yang ingin menjadi perwira militer namun tidak terwujud, tidak mengubah fakta bahwa Raden Ario Soerjowinoto sangat piawai dalam pemerintahan. Misinya sebagai jabatan bupati pertamakali (di Sampang) yang mempromosikan Pendidikan untuk penduduk, tidak hanya dalam program pemerintah, tetapi juga diwujudkan dalam keluarganya. Seperti kita lihat nanti salah satu putranya berhasil menjadi sarjana hukum. Semua karyanya di dalam pemerintahan pada akhirnya membawa dirinya menjadi anggota Volksraad di Batavia pada tahun 1931 dimana di Volksraad Raden Ario Soerjowinoto bertemu dengan Mangaradja Soeangkoepon.


Raden Ario Soerjowinoto yang terbilang tidak pernah keluar dari (pulau) Madura dalam arti yang lebih luas, kecuali saat mengikuti pendidikan OSVIA di Probolinggo ketika masih remaja, di Batavia Raden Ario Soerjowinoto harus bertemu dan mulai bergaul dengan banyak (suku) bangsa. Boleh jadi Raden Ario Soerjowinoto sangat respek terhadap Mangaradja Soeangkoepon, anggota Volksraad yang sangat vocal di Pedjambon, yang berasal dari wilayah pemilihan (dapil) province Oostkust van Sumatra. Mengapa? Adiknya Dr Abdoel Rasjid Siregar adalah juga anggota Volksraad yang baru terpilih dari dapil Residentie Tapanoeli (lulusan STOVIA dan pendiri Bataksche Bond di Batavia pada tahun 1919). Managaradja Soeangkoepon dan Dr Abdoel Rasjid sama-sama kelahiran Padang Sidempoean. Pada tahun 1931 di Padjambon juga ada anggota Volksraad kelahiran Padang Sidempoean, Mr Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia dari dapil Batavia yang mewakili golongan pendidikan. Mr Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia lulusan Leiden 1918 yang menjadi direktur HIS di berbagai tempat sebelum menjadi anggota Komisi Pendidikan HIS di Batavia. Mangaradja Soeangkoepon sendiri menjadi anggota Volksraad untuk periode kedua, pertama terpilih tahun 1927.  Sebelum menjadi anggota Volksraad Mangaradja Soeangkoepon sudah lama menjadi pejabat pemerintah darerah di berbagai daerah dengan pangkat terakhir Ontvanger. Mangaradja Soeangkoepon berangkat studi ke Belanda tahun 1910 dan Kembali ke tanah air tahun 1914.

Raden Ario Soerjowinoto respek kepada Mangaradja Soeangkoepon. Mengapa? Boleh jadi Raden Ario Soerjowinoto sudah mendengar kiprah Mangaradja Soeangkoepon sejak awal. Seperti disebut di atas, pada tahun 1912 Raden Ario Soerjowinoto diangkat menjadi districthoofd Pagantenan du wilayah regentschap Pamekasan (berdasarkan keputusan pemerintah tanggal 29 Maret 1912 No 10). Pada bulan ini nun jauh di belanda, Abdul Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon menjadi terkenal karena namanya diberitakan di koran-koran yang terbit sekitar Maret 1912. Apa pasal? Dua imigran dari Madura terlibat perkelahian dengan sesama imigran dari Jawa (Oost Java), korban akhirnya meninggal dunia akibat tusukan. Di pengadilan Amsterdam terdakwa disidangkan dan menghadirkan saksi-saksi. Aparat pengadilan bingung, karena para imigran (terdakwa dan saksi-saksi) tidak bisa berbahasa Belanda. Untuk mencari penerjemah sekaligus untuk pemandu sumpah (secara Islam) ternyata tidak mudah. Dari sejumlah mahasiswa yang ada hanya Abdul Firman yang bersedia dan sukarela (tanpa paksaan).


Dari namanya memang pantas tetapi ternyata juga Abdul Firman adalah orang yang alim. Karenanya masyarakat Belanda menganggap Abdul Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon adalah pemimpin (imam) Islam dari para imigran dari Hindia di Belanda. Abdul Firman tidak keberatan. Di dalam pengadian tersebut Abdul Firman membela terdakwa untuk mengurangi tuntutan djaksa. Sebelum kembali ke tanah air tahun 1914, Mangaradja Soangkoepon bersama Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan (pendiri Indische Vereeniging di Belanda tahun 1908) membentuk Studiefond tahun 1913 untuk mengumpulkan dan mengelola dana pendidikan bagi pribumi yang akan berangkat studi ke Belanda tetapi kesulitan keuangan di Belanda (setelah kembali ke tanah air Soetan Casajangan dan Managaradja Soangkoepon dana pendidikan itu diserahkan ke Indische Vereeniging untuk dikelola dengan baik). Dalam hal inilah, tampaknya ada kesamaan perilaku antara Raden Ario Soerjowinoto dan Mangaradja Soangkoepon yang sama-sama peduli pada pendidikan. Seperti disebut di atas, Raden Ario Soerjowinoto saat mulai menjabat sebagai bupati di Sampang tahun 1913 dengan sadar memulai mempromosikan pendidikan pendudukn

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar