Laman

Rabu, 25 Oktober 2023

Sejarah Bahasa (100): Bahasa Hakka - Khek Bangka Belitung dan Migran Asal Tiongkok Masa ke Masa; Bahasa Hakka dan Mandarin


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Orang Tionghoa Indonesia telah tinggal di Kepulauan Bangka Belitung selama berabad-abad. Bangka Belitung salah satu daerah dengan jumlah orang Tionghoa terbanyak di Indonesia. Imigran Cina datang ke kepulauan Bangka Belitung pada tahun 1700–1800an. Banyak orang Hakka dari berbagai wilayah di Guangdong datang sebagai penambang timah. Tionghoa pulau Bangka berbeda dengan pulau Belitung. Generasi pertama tiba di pulau Bangka, berdarah campuran (peranakan). Tionghoa Belitung dianggap lebih murni (totok).


Bahasa Hakka berarti "bahasa keluarga tamu" atau di Indonesia disebut Khek adalah bahasa dituturkan oleh orang Hakka, yakni suku Han yang tersebar di kawasan pegunungan provinsi Guangdong, Fujian dan Guangxi di Republik Rakyat Tiongkok. Masing-masing daerah ini juga memiliki khas dialek Hakka yang agak berbeda tergantung provinsi dan juga bagian mana mereka tinggal. Menurut ahli bahasa Hakka di awal abad ke-20 Donald Maciver, Bahasa Hakka di satu sisi masih berkerabat dengan Bahasa Kanton dan di lain dengan Bahasa Mandarin. Bahasa Hakka diwariskan dari bahasa rakyat Tiongkok Utara yang mengungsi ke selatan Tiongkok sejak periode Dinasti Song dan Dinasti Yuan. Bahasa ini mendapatkan namanya dari penyebutan kelompok penuturnya oleh orang Kanton di Provinsi Guangdong "Hakka". Di daerah lain seperti di Jiangxi atau Fujian, umummnya tidak mengenal istilah Hakka, melainkan "ThĂș-fa" yang berarti "Bahasa Lokal" untuk membedakan mereka dengan penutur bahasa lain. Meixian, dahulu dinamakan Jiayingzhou (Hakka: Ka-yin-chu) adalah konsentrasi Hakka terbesar di Guangdong, maka bahasa Hakka standar adalah Bahasa Hakka dialek Meixian. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah bahasa Hakka di Bangka Belitung dan migran asal Tiongkok masa ke masa? Seperti disebut di atas populasi orang Cina (kini Tionghoa) asal Tiongkok cukup banyak di Bangka Belitung. Bagaimana bahasa Hakka dengan bahasa Mandarin? Lalu bagaimana sejarah bahasa Hakka di Bangka Belitung dan migran asal Tiongkok masa ke masa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Bahasa Hakka di Bangka Belitung dan Migran Asal Tiongkok Masa ke Masa; Bahasa Hakka dan Bahasa Mandarin 

Secara alamiah, dimanapun di muka bumi, orang sebangsa sebahasa bermigrasi membawa bahasa ibu, bahasanya sendiri. Bahwa ada adopsi, adaptasi dan percampuran bahasa di tempat tujuan adalah masalah yang timbul kemudian. Demikian juga orang Tiongkok bermigrasi, khususnya ke Hindia Timur di selatan, membawa bahasanya sendiri. Dalam hal ini sejarah migran adalah sejarah bahasa itu sendiri. Sejarah bahasa adalah sejarah populasi yang terbentuk di suatu wilayah tertentu, temasuk populasi migran.


Dalam peta bahasa di pulau Bangka (1889), dominan bahasa asal Tiongkok di pulau Bangka ditemukan di onderdistrict Klabat di district Djeboes; bagian utara district Merawang, seberang Blindjoe di teluk Klabat. Sementara bahasa campuran asal Tiongkok dan bahasa Melayu di kota Djeboes. Bagaimana dengan di pulau Billiton?

Adanya komunitas pengguna bahasa asal Tiongkok dalam peta bahasa di pulau Bangka dan pulau Belitung mengindikasikan ada suatu wilayah/area dimana populasi asal Tiongkok dominan yang membentuk kelompok populasi sendiri dengan penggunaan bahasa sendiri. Besar dugaan kelompok populasi ini adalah bagian dari migran asal Tiongkok dari masa ke masa.


Sejarah migran Tiongkok ke pulau-pulau selatan (baca: Hindia Timur) diduga masih terbilang baru. Pada era dinasti Han, abad ke-2, tidak ada indikasi orang Tiongkok sudah melaut. Dengan kata lain orang Tiongkok masih berada di pedalaman Tiongkok. Sebaliknya pada abad ke-2 sudah ada orang Hindia Timur (baca: Nusantara) yang melakukan kontak perdagangan ke pantai timur Tiongkok. Dalam catatan Tiongkok pada dinasti Han disebutkan utusan raja Yeh-tiau datang menghadap Kaisar Tiongkok di Peking untuk meminta izin membuka pos perdagangan. Menurut sejumlah peneliti era Hindia Belanda, pos perdagangan ini diduga berada di dekat kota Hue yang sekarang di Vietnam dan kerajaan Yeh-tiau ini diduga kuat berada di pantai timur Sumartra (muara sungai Baroemoen) dalam hubungannnya dengan perdagangan emas dan kamper. Pelayaran I’tsing pada abad ke-7 ke pantai timur Sumatra diduga awal kehadiran orang Tiongkok ke pulau-pulau selatan. Pada abad ke-12 dan ke-13 sudah banyak catatan Tiongkok yang mengindikasikan nama-nama tempat yang diduga berada di pantai timur Sumatra. Akhirnya ekspedisi besar Tiongkok pada awal abad ke-15 yang dipimpin Cheng Ho diduga menjadi awal hubungan yang intens antara Tiongkok dengan pulau-pulau di selatan, dan sebaliknya. Catatan Portugis (lihat antara lain Mendes Pinto 1537) pada paruh pertama abad ke-16 sudah massif pedagang-epdagang asal Tiongkok di seputar selat Malaka, baik di Malaka maupun di pantai timur Sumatra (kerajaan Aru). Pedagang-pedagang Portugis sendiri pada tahun 1519 telah membuka pos perdagangan di muara sungai Canton. Kehadiran pedagang-pedagang asal Tiongkok pada awal permulaan VOC sudah massif di pantai utara Jawa. Jumlah migran asal Tiongkok mencapai puncaknya pada paruh pertama abad ke-18. Kehadiran migran asal Tiongkok di Jawa dalam hubungannya dengan produksi diduga dalam hubungannya dengan pertanian tebu dan pengolahan/pabrik gula di Batavia dan sekitar, yang berakhir timbulnya kerusuhan pada tahun 1740.

Kehadiran migran asal Tiongkok di Bangka dan Belitung diduga baru muncul pada masa awal produksi/pertambangan timah (sebagai perluasan dari pertambangan timah di pantai barat Borneo dan semenanjung Malaya). Deposit timah yang melimpah di Bangka Belitung, menjadikan wilayah sebagai sentra produksi timah utama pada awal Pemerintahan Hindia Belanda (bersaing dengan pantai barat Kalimantan).


Pada masa pendudukan Inggris (dimulai pada tahun 1811), akibat kerusuhan di Palembang, yang mana residen Pemerintah Hindia Belanda terbunuh, pihak Inggris menghukum kesultanan Palembang dengan menghilangkan hak-hak kesultanan. Dalam perjajian yang dibuat antara Kolonel Gliepsie dan Sultan Palembang, salah satu isinya wilayah Bangka dan Belitung diserahkan kepada Inggris. Sejak itulah Inggris membangun benteng di suatu kempaong kecil (Fort Minto) yang kemudian daerah tersebut disebut Moentok. Di Kawasan Moentok ini pada era Inggris memperdagangkan hasil produksi timah yang ditambang di sekitar.

Setelah Pemerintah Hindia Belanda dipublihkan, Pemerintah Hindia Belanda mulai membentuk cabang pemerintahan di Bangka dan Belitung (Residentie Palembang) dengan menempatkan sejumlah inspektur pertambangan di beberapa kota di Bangka dan Belitung. Saat inilah diduga produksi timah semakin meningkat, kebutuhan tenaga kerja yang terus meningkat menjadi sebab para migran asal Tiongkok semakin banyak yang menuju ke Bangka dan Belitung.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Bahasa Hakka dan Bahasa Mandarin: Kelompok Populasu Asal Tiongkok di Bangka Belitung

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar