Laman

Kamis, 26 Oktober 2023

Sejarah Bahasa (101): Bahasa di Sumatra dan Bahasa di Jawa; Bahasa Sanskerta dan Bahasa Batak, Melayu, Bahasa Kawi, Jawa


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Pulau Sumatra dan pulau Jawa berdekatan. Secaea geomorfologis kedua pulau diduga menyatu di masa lampau. Oleh karena cukup berdekatan dimungkin bahasa terjadi interaksi yang intens dari waktu ke waktu. Pada masa ini wilayah Jawa diidentifikasi beberapa bahasa, yakni bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Madura, bahasa Kangean dan bahasa Betawi. Dalam hal ini bahasa Betawi mirip bahasa Melayu di Sumatra.


Daftar bahasa di Sumatra adalah sebagai berikut: Abung, Aceh, Alas-Kluet, Bangka, Basemah, Angkola, Mandailing, Simalungun, Toba, Bengkulu, Col, Dairi, Devayan, Duano, Enggano, Gayo, Haji, Kaur, Karo, Kerinci, Komering, Kubu, Lampung, Lematang,Lengkayap, Loncong, Lubu, Melayu, Belitung, Jambi, Deli, Palembang, Riau, Mentawai, Minangkabau, Musi, Nias, Ocu, Pekal, Penesak, Rejang, Sakai, Sekayu, Sigulai dan Simeulue (Wikipedia)     

Lantas bagaimana sejarah bahasa di Sumatra dan bahasa di Jawa? Seperti disebut di atas bahasa di Jawa jumlahnya sedikit sebaliknya di Sumatra jumlahnya banyak. Bahasa Betawi di Jawa mirip bahasa Melayu di Sumatra. Bagaimana bahasa Sanskerta dan relasi bahasa Batak dan Melayu, dan relasi bahasa Kawi dan Jawa? Lalu bagaimana sejarah bahasa di Sumatra dan bahasa di Jawa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Bahasa di Sumatra dan Bahasa di Jawa; Bahasa Sanskerta dan Relasi Bahasa Batak, Melayu, Bahasa Kawi, Jawa 

Untuk memahami sejarah bahasa-bahasa di (pulau) Sumatra dapat dimulai dengan sejarah bahasa-bahasa di (pulau) Jawa. Mengapa? Jumlah bahasa di pulau Jawa pada masa kini hanya tersisa beberapa bahasa saja. Jumlah penutur bahasa Jawa dapat dikatakan yang terbanyak di pulau Jawa, lalu disusul bahasa Sunda, dan kemudian bahasa Madura.


Pada masa ini persamaan (kekerabatan) antara bahasa Jawa dengan bahasa Madura sebesar 52.0 persen (lihat EPI Rachma); antara bahasa Jawa dengan bahasa Sunda sebesar 36.0 persen (lihat Shifa Nur Zakiyah, 2022). Dalam hal ini dapat ditambahkan antara bahasa Jawa dengan bahasa Bali sebesar 24.0 persen (lihat M Islaqudin, 2019). Bahasa Madura umumnya berasal dari pulau Madura, suatu pulau yang berbeda dengan pulau Jawa. Jika pada masa ini bahasa Madura dan bahasa Jawa persamaannya sebesar 52 persen, lalu bagaimana di masa lampau? Secara teoritis bahasa Jawa dan bahasa Madura di masa lampau berbeda jauh, namun dalam perkembangannya dari waktu ke waktu semakin mendekat. Apakah dalam hal bahasa Jawa mempengaruhi bahasa Madura, atau sebaliknya? Sementara itu pada masa ini antara bahasa Jawa dan bahasa Sunda di pulau yang sama memiliki perbedaan sebesar 64 persen. Lalu apakah dalam hal bahasa Jawa mempengaruhi bahasa Sunda atau sebaliknya?

Lantas apakah di masa lampau di pulau Jawa hanya terdiri dari bahasa Jawa, bahasa Sunda dan bahasa Madura saja? Bagaimana dengan bahasa ‘Banyumasan’ yang berada di antara wilayah bahasa Jawa dan wilayah bahasa Sunda? Pertanyaan serupa dapat ditambah tentang bahasa Cirebon dan bahasa Tegal. Apakah bahasa Banyumas, bahasa Tegal dan bahasa Cirebon adalah bahasa yang benar-benar berbeda dengan bahasa Jawa dan bahasa Sunda? Atau dialek bahasa baru yang muncul kemudian seperti halnya bahasa Betawi di wilayah bahasa Sunda?


Jika dianggap bahasa Jawa dan bahasa Sunda adalah bahasa yang berbeda, lantas bagaimana posisi bahasa Kawi di masa lampau? Ada yang berpendapat bahwa bahasa Kawi adalah asal-usul bahasa Jawa. Jika pendapat/anggapan ini benar, bagaimana membuktikan? Apakah dalam hal ini bahasa Jawa memiliki kekerabatan yang dekat dengan bahasa Kawi? Tentu saja untuk membuktikan itu perlu membandingkan jumlah kosa kata yang sama diantara kamus bahasa Kawi dan kamus bahasa Jawa. Namun untuk menguji apakah bahasa Jawa memiliki kekerabatan dengan bahasa Kawi, juga harus dilakukan perbandingan antara bahasa Sunda dan bahasa Kawi di satu sisi, antara bahasa Kawi dengan bahasa Madura di sisi lain. Jika tingkat persentase bahasa Jawa tinggi (relative terhadap tingkat persentasi bahasa Madura dan bahasa Sunda) dapat disimpulkan ada indikasi bahwa bahasa Jawa adalah sukses bahasa Kawi. Bagaimana jika yang terjadi sebaliknya: tingkat persentase bahasa Madura dan bahasa Sunda lebih tinggi dari bahasa Jawa? Untuk sekadar catatan pada masa ini tersedia kamus bahasa Kawi.

Pada masa ini di wilayah (pulau) Jawa terdapat bahasa Tengger dan bahasa Osing yang juga dianggap dialek bahasa Jawa. Antara bahasa Jawa dan bahasa Osing terdapat persamaan sebesar 75 persen (lihat Puspa Ruriana, 2018); antara bahasa Tengger dengan bahasa Jawa persamaannya sebesar kurang lebih sama dengan bahasa Osing. Fakta bahwa mengapa orang Jawa masih sulit dalam memahami bahasa suku Tengger? (lihathttps://nasional.okezone.com/). Ada yang berpendapat bahasa Tengger mirip bahasa Tegal dialek Jawa (lihat Pertanyaan intinya adalah mengapa ada perbedaan sementara kedua bahasa tersebut berada di tengah-tengah bahasa Jawa? Jawabannya, bukan pada tingginya persentase perbedaan, tetapi mengapa ada perbedaannya?


Adanya perbedaan bahasa Jawa dan bahasa Sunda masa kini (sebesar 36 persen), dapat dipahami karena ada perbedaan secara geografis. Lalu bagaimana dengan bahasa Tengger dan bahasa Osing yang berada di wilayah geografis yang sama dengan bahasa Jawa? Perbedaan 25 persen pada masa kini, bukanlah persentase yang kecil (karena berada di wilayah geografis yang sama). Bagaimana dengan di masa lampau?

Adanya perbedaan bahasa-bahasa di Jawa khususnya keberadaan bahasa Banyumas, bahasa Cirebon dan bahasa Tegal plus bahasa Osing dan bahasa Tengger haruslah diperhatikan sebagai adanya indikasi bahwa bahasa ini di masa lampau adalah bahasa-bahasa yang berbeda dengan bahasa Jawa dan bahasa Sunda.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Bahasa Sanskerta dan Relasi Bahasa Batak, Melayu, Bahasa Kawi, Jawa: Dialek-Dialek Bahasa

Pada masa ini jumlah bahasa-bahasa di Jawa terkesan sedikit jika dibandingkan dengan jumlah bahasa-bahasa di Sumatra. Tentu saja itu masa kini. Bagaimana pada masa lampau di Sumatra? Apakah jumlah bahasa-bahasa yang ada sekarang di Sumatra, pada masa lampau jumlahnya lebih sedikit atau lebih banyak?

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar