Laman

Jumat, 13 Oktober 2023

Sejarah Bahasa (76): Bahasa 'Pesisir' Pantai Barat Sumatra; Bahasa Campuran di Bahasa Melayu, Bahasa Minangkabau Bahasa Batak


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Suku Pesisir (bahasa Pesisir: Ughang Pasisi) adalah sebuah kelompok etnis yang tersebar di pesisir barat Sumatera Utara. Suku Pesisir merupakan keturunan dari orang Minangkabau yang bermigrasi ke Tapanuli sejak abad ke-14 dan telah bercampur dengan suku lain, yaitu suku Batak dan Aceh. Sejarah terbentuknya kelompok suku ini tidak jauh berbeda dengan sejarah terbentuknya suku Aneuk Jamee di pantai barat Aceh, masyarakat Negeri Sembilan di Semenanjung Malaya.


Bahasa Pesisir (bahasa Pesisir: bahaso Pasisi) adalah sebuah dialek bahasa Minangkabau yang dituturkan oleh Suku Pesisir yang merupakan penduduk Tapanuli Tengah, Sibolga, pantai Tapanuli Selatan dan pantai Mandailing Natal, di sepanjang pesisir barat Provinsi Sumatera Utara. Bahasa ini menyebar di sepanjang pesisir barat Pulau Sumatra mulai dari Mandailing Natal, Sibolga, hingga Barus. Bahasa ini merupakan salah satu dialek dalam Bahasa Minangkabau, karena sejarah bahasa ini bermula dari datangnya perantau Minang dari daerah Pariaman untuk berdagang di sepanjang pesisir barat Pulau Sumatra bagian utara. Para perantau ini kemudian berkomunikasi dengan suku bangsa lain seperti Batak dan Aceh, sehingga terjadilah akulturasi dengan kedua bahasa tersebut. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah bahasa Pesisir di pantai barat Sumatra? Seperti disebut di atas kelompok penutur bahasa Pesisir berada di wilayah pantai barat Sumatra. Bahasa campuran bahasa Melayu yang dipengaruhi bahasa Minangkabau dan bahasa Batak. Lalu bagaimana sejarah bahasa Pesisir di pantai barat Sumatra? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Bahasa Pesisir di Pantai Barat Sumatra; Bahasa Campuran Bahasa Melayu, Bahasa Minangkabau, Bahasa Batak

Ada kelompok populasi (etnik) Pesisir dan ada juga bahasa Pesisir. Pesisir yang dimaksud berada di pantai barat Sumatra. Sejak kapan nama Pesisir terinformasikan? Yang jelas nama Pesisir sebagai nama tempat (kampong, desa, district) cukup banyak di pantai utara Jawa. Bagaimana dengan di pantai barat Sumatra? Tidak terinformasikan.


Sebagaimana dikutip di atas bahasa Pesisir (bahaso Pasisi) adalah sebuah dialek bahasa yang dituturkan oleh Suku Pesisir yang merupakan penduduk Tapanuli Tengah, Sibolga, pantai Tapanuli Selatan dan pantai Mandailing Natal, di sepanjang pesisir barat Provinsi Sumatera Utara. Bahasa ini menyebar di sepanjang pesisir barat Pulau Sumatra mulai dari Mandailing Natal, Sibolga, hingga Barus. Bahasa ini merupakan salah satu dialek dalam bahasa Minangkabau.

Lantas siapa orang Pesisir? Bagaimana terbentuk? Laporan seorang Cina yang pernah di Angkola selama 10 tahun (1691-1701) berangkat dari Angkola ke Barus yang ditempuh selama 11 hari. Padagang Cina dengan keluarganya akan ke Batavia dengan terlebih dahulu dengan perahu dari Barus ke Padang. Hanya nama Barus dan Padang yang disebut. Nama Air Bangis dan Natal muncul kemudian.


Nama Air Bangis adalah nama yang sudah lama dikenal. Tidak dikenal sebagai nama tempat tetapi sebagai nama sungai. Para Peta 1695 sungai Air Bangis berada di dekat sungai Oedjoeng Gading. Di sebelah utara sungai Air Bangis terdapat sungai Batahan dan sungai Natal. Berdasarkan Peta 1665 nama sungai Air Bangis muncul kemudian menggantikan nama sungai Batang Sikabou. Sementara itu nama sungai Batang kemudian dikenal sebagai sungai Batang [Natal]. Sungai Batang dan sungai Batahan saling tertukar dan adakalanya pembuat peta menganggap dua sungai tersebut adalah sungai sama. Jika merujuk pada peta yang lebih tua (Peta 1595) sungai dan kota yang diidentifikasi adalah Batahan. Ini mengindikasikan bahwa sungai Batang (Natal) belum teridentifikasi oleh pelaut-pelaut Eropa. Dengan demikian ada tiga sungai yang berdekatan satu sama lain: Batang (Natal), (Batang) Batahan dan (Batang Sikabou). Tiga sungai ini berhulu di Mandailing (gunung Malintang). Seperti lazimnya penamaan sungai umumnya dimulai di hulu (dimana populasi lebih awal ada dari pada populasi di muara atau pantai). Para pendatang atau populasi di kota muara menyebut dengan nama baru. Nama Air Bangis sebagai suatu tempat paling tidak sudah diketahui tahun 1761 (lihat Leydse courant, 26-06-1761). Disebutkan pada tanggal 4 Februari 1760 kapal Prancis berlabuh di Ayer Bangis dan 7 Februari 1860 Inggris mengambil pelabuhan Natal dari Perancis. Pelabuhan Natal ini diduduki oleh 40 Eropa dan 60 orang pribumi. Nama Air Bangis diberitakan pada tahun 1764 sebagai post perdangan VOC (lihat Leydse courant, 04-05-1764). Dalam berita ini juga disebut Baros dan Padang. Nama Padang dijadikan pos perdagangan VOC sejak 1665 (sejak pedagang-pedagang Atjeh diusir VOC sejak 1665 dari pantai barat dari Padang hingga Singkil). Dua tahun kemudian setelah perjanjian dengan Radja Baros dibangun benteng tahuh 1667. Dalam hal ini Baros adalah nama (pusat perdagangan) kuno. Lalu kemudian VOC membangun pos perdagangan di muara sungai Simpanh Kanan (belum ada nama Singkil).Catatan: Orang Belanda sudah sejak awal mengenal pantai barat Sumatra. Yang pertama satu kapal dalam ekspedisi Cornelis de Houtman (1595-1599) dari pulau Enggano menyusuri pesisir ke utara. Kedua satu kapal darlam ekspedisi Belanda berikutnya yang dipimpin oleh Paulus van Cardeen VOC yang berangkat dari Atjeh pada bulan November 1600. Van Cardeen singgah di kerajaan Pasaman juga mengunjungi Tikoe dan Priaman (sebelum mereka mencapai Bantam). Hingga beberapa dasawarsa kemudian nama Tikoe dan Priaman serta Indrapoera lebih utama dari Pasaman bagi pedagang VOC maupun pedagang Inggris datang kemudian. Di Priaman tempat kedudukan gubernur (panglima) dari kerajaan Atjeh. Pada tahun 1665 atas permintaan pemimpin local, militer VOC mengusir Atjeh dari pantai barat Sumatra.

Dalam catatan Charles Miller yang pernah ke Angkola pada tahun 1772 berangkat dari teluk Tapanoeli di Pulo Pontjang ke Angkola melalui Loemoet. Nama-nama tempat yang disebut Charles Miller selain Pulau Pontjang dan Loemoet, juga Sipisang, Pinang Sore. Kampung-kampung yang dilalui melalui sungai Loemoet disebut tempat tinggal orang-orang Batak.


Inggris menetap di Natal antara tahun 1755-1760 dengan membangun benteng. Benteng yang dibangun tahun 1755-1756 ini panjang 212 M, lebar 150 M disediakan dengan empat bastion yang tinggi 10 M masing-masing, dan dikelilingi oleh parit yang dalamnya 10 kaki dan lebar lebar 14 kaki. Benteng ini dibuat untuk melindungi penduduk di belakangnya dari musuh (baik dari darat maupun dari laut). Wilayah di sekitarnya di arah utara terdapat Linggabojo, Mandailing dengan populasi 3.000 jiwa dan di selatan terdapat Batahan, Mandailing dengan 2.500 jiwa. Populasi di kota (benteng) Natal sendiri terdiri dari berbagai asal-usul. Di dalam benteng sendiri terdapat satu bangunan tinggal dan empat bangunan untuk gudang rempah-rempah, tempat persenjataan, tempat tenaga kerja dan lainnya. Benteng ini mirip Casteel Batavia (di awal kehadiran Belanda). Di luar benteng yang jaraknya 200 M di sepanjang pantai terdapat rumah perjabat dan pegawai, termasuk Asisten Residen dan rumah sakit. Di sekitar bukit terdapat taman-taman botani dan taman-taman pemerintah. Di sebelah atas benteng adalah pasar dimana terdapat 200 rumah.  Setelah ditinggal Inggris, benteng dan bangunan ini tidak menjadi perhatian VOC lagi dan hingga kehadiran Belanda kembali sudah banyak yang rusak berat.

Hingga tahun 1755-1760 tampaknya populasi penduduk dipantai barat Sumatra, mulai dari Batahan belum ada indikasi migran dari Minangkabau. Populasi yang ada adalah orang Batak mulai dari Batahan hingga Singkel. Mengapa?


Pada tahun 1821 Raffles melakukan ekspedisi ke pedalaman Minangkabau. Namun sejak 1824 dilakukan perjanjian antara Belanda dan Inggris (Traktat London). Pada tahun 1825 di pantai barat Sumatra sepenuhnya di bawah kendali Pemerintah Hindia Belanda dan membentuk cabang pemerintahan dengan ibu kota di Padang. Dominasi (kaoem) Padri di pedalaman Minangkabau mulai mendapat perlawanan dari militer Belanda. Sejak saat inilah orang-orang Minangkabau sebagain mulai keluar (eksodus ke wilayah pantai) di bawah perlindungan Pemerintah VOC. Perang antara Pemerintah Hindia Belanda dengan kaoem Padri ini cukup lama, hingga sepenuhnya kaoem padri hilang tahun 1838. Sehubungan dengan itu sejak 1840 dibentuk Residentie Air Bangis (ibu kota di Air Bangis), yang juga meliputi afdeeling Angkola Mandailing (ibu kota di Panjaboengan) dan afdeeling Natal (ibu kota di Natal). Pos perdagangan Belanda di utara (masih independent) terdapat di (kampong) Tapanoeli (teluk Tapanoeli) dan kampong Baros. Sebelum Inggris keluar dari pantai barat Sumatra, Traktat London 1824 ibu kota pantai barat di (kampong) Tapanoeli, lalu kemudian direlokasi ke Padang. Catatan: Dalam catatan Peta 1695 disebutkan Radja Baros adalah Radja Settia Moeda yang menggantikan Radja Na Bolon, Radja Baros yang pertama. Gelar Radja Na Bolon mengindikasikan raja dari (penduduk) Batak. Radja Settia Moeda, anak Radja Na Bolon mengindikasikan raja muda yang tetap setia (kepada VOC?). Dari catatan ini memunculkan pertanyaan: Mengapa penduduk Batak diradjakan? Apakah ada ke(radja)an sebelumnya di Baros?

Setelah masa Padri, orang Minangkabau mulai turun dan bermigrasi ke wilayah pesisir. Bagaimana gambaran populasi di Air Bangis dapat diperhatikan gambaran populasi di Natal. Populasi kota Natal adalah pendatang yang umumnya berdagang (lihat Tijdschrift voor Neerland's Indiƫ jrg 2, 1839). Disebutkan di Natal terdapat enam suku: 1. Soekoe Menangkabauw. Menangkabausche stam; 2. Soekoe Bharat, Westelijke stam; 3. Soekoe Padang, stam van Padang; 4. Soekoe Bandar Sepoeloe, stam uit de plaatsen gelegen tusschen Padang en Benkoelen; 5. Soekoe Atje, stam van Atjin; dan 6. Soekoe Rauw, stam van Rauw.


Disebutkan lebih lanjut setiap suku dikepalai oleh seorang Datoe dan para Datoe dipimpin oleh seorang Radja yang disebut Toeankoe Besar. Lanskap Natal juga meliputi hulu Kota Natal terdapat Linggabayo, di sebelah utara (kini Batang Natal, kabupaten Mandailing-Natal), di sebelah selatan Batahan dan Air Bangis. Di Linggabayo terdapat Radja (dan panglima) yang mana penduduknya Mandailing. Di Batahan terdapat penduduk Mandailing yang dikepalai oleh seorang Radja. Wilayah Batahan termasuk pulau Tamang. Di selatan Batahan terdapat Air Bangis yang dikepalai oleh seorang Radja (dan Panghoeloe). Catatan: pengangkatan Toeankoe Besar di Natal dan Toeankoe Moeda di Airbangis dimulai pada tahun 1827 oleh Pemerintah Hindia Belanda. Upaya ini dilakukan pemerintah untuk mengontrol kaoem Padri yang melarikan diri dari pedalaman yang dapat mengancam penduduk pesisir.

Dari gambaran di atas, terutama di Natal populasi penduduk terdiri dari berbagai kelompok populasi (stam/suku). Kota Natal menjadi kota melting pot. Sudah ada kelompok populasi dari Minangkabau dan kelompok populasi Rao di pedalaman, kelompok populasi yang diduga kuat muncul sejak Pemerintah Hindia Belanda melancarkan serangan kepada kaoem Padri. Kelompok populasi lainnya diduga sudah lebih awal di Natal yakni Soekoe Bharat (Alas dan Dairi), Soekoe Padang, dan Soekoe Bandar Sepoeloe di pesisir selatan. Kelompok populasi Atjeh (Soekoe Atje) diduga sisa orang Atjeh di pantai barat Sumatra (setelah VOC mengusir pedagang Atjeh sejak tahun 1665). Tidak ada indikasi orang Batak (Mandailing) di Natal, tetapi terkonsentrasi di Linggabajoe dan Batahan.


Pada tahun 1845 Pemerintah Hindia Belanda membentuk cabang pemerintahan baru (Residentie) Tapanoeli. Akibatnya Residentie Airbangis dilikuidasi. Afdeeling Natal dan afdeeling Angkola Mandailing dimasukka ke Residentie Tapanoeli dan afdeeling Air Bangis dan Ophir (termasuk Rao) dimasukkan ke Residentie Padangsche Benelanden (yang beribukota di Padang). Sebagai ibu kota Residenrtie Tapanoeli di pilih di kampong Sibolga (sejak inilah nama Sibolga dikenal, suatu perkampongan orang Batak). Kampong Tapanoeli di bagian dalam di sebelah utara teluk mulai ditinggalkan.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Bahasa Campuran Bahasa Melayu, Bahasa Minangkabau, Bahasa Batak: Terbentuknya Bahasa Pesisir

Pada era Pemerintah Hindia Belanda, aAntara kerajaan Pasaman dan kerajaan Tikoe muncul nama kerajaan baru yang disebut kerajaan Kinali. Saat terjadi perang antar kerajaan Pasaman dan kerajaan Tikoe pada era Pemerintah Hindia Belanda, kerajaan Kinali terjepit. Untuk menghindari perseteruan, Pemerintah Hindia Belanda memisahkan kerajaan Tikoe dan kerajaan Pasaman ke dalam afdeeling yang berbeda.


Pada tahun 1762 VOC berupaya untuk membujuk bekerjasama dengan kerajaan yang berada di antara Pasaman dan Tikoe (yang disebut Klein Pasaman) yang dipimpin oleh Soetan di Kinali (penyebutan gelar yang umum di Mandailing, red). Wilayah inilah yang kelak disebut wilayah Kinali. Catatan: kot Pasaman awalnya berada di muara Pasaman, Sungai Pasaman sendiri berhulu di gunung Koelaboe (Mandailing). Ada jalur darat dari lereng goenoeng Koelaboe ke Oesdjoeng Gading dan terus ke Kinali (wilayah pantai). Pada tanggal 10 September 1768, wakil pedagang (onderkoopman) VOC dan Resident VOC di Air Bangis membuat perjanjian dengan kepala (Radja) Groot Pasaman agar VOC bisa berlabuh di wilayahnya. Radja Kinali tidak bersedia melakukan kerjasama. Tidak diketahui secara jelas atas dasar apa VOC menempatkan sebanyak 50 orang Eropa dan pasukan Bugis di pantai Klein Pasaman (Kinali). Radja Kinali memang tidak melakukan perlawanan, tetapi menghalangi pedagang VOC memasuki wilayahnya (ibu kota Kinali) dengan menghancurkan semua jalan-jalan masuk dan membanjiri sungai dengan kayu-kayu gelondongan. VOC sangat bernafsu untuk mendapatkan Kinali, sebab Kinali menjadi satu-satunya tempat dan sungai yang dapat mencegah Inggris bersatu dengan Soetan di Kinali dan melindungi penduduk pegunungan di Pegunungan Ophir. Kerajaan Kinali adalah kerajaan independen yang berada di antara wilayah VOC di sebelah selatan (Priaman dan Tikoe) dan di utara (Air Bangis dan Pasaman). Sikap politis kerajaan Kinali ini dapat dipahami mengingat wilayah antara Batahan hingga Baros telah menjadi wilayah kerjasama Inggris. Sementara kerajaan Kinali memiliki hubungan yang dekat dengan kerajaan-kerajaan di pedalaman di pegunungan Ophir dan Rao (dan Mandailing).

Kerajaan Tikoe dimasukkan ke afdeeling Priaman dan kerajaan Pasaman plus kerajaan Kinali disatukan dengan kerajaan-kerajaan lainnya yang berdekatan dengan nama afdeeling Ophir Districten. Ibu kota afdeeling Ophir Districten awalnya di Parit Batoe kemudian direlokasi ke Taloe. District-district yang termasuk (afdeeling) Ophir Districten adalah Kinali, Pasaman, Taloe, Sinoeroet dan Tjoebadak.


Seperti halnya nama Bondjol, nama Parit Batoe adalah nama baru. Kampong Parit Batoe hanya bisa diakses dari Sasak melalui sungai Batang Kapas. Kampong Parit Batoe adalah kampong terpencil. Ada jalan setapak dari Kiawai ke Parit Batoe terus ke Kinali. Dari kampong Parit Batoe ke Taloe tidak ada jalan akses. Jalan utama (jalan kuno) dari Kiawai ke Taloe melalui Kadjai. Keterangan ini dapat dibaca pada laporan perjalanan seorang pendaki gunung pada tahun 1838 ketika mengukur ketinggian gunung Ophir. Disebutkan bahwa pendaki tersebut memulai pendakian dari kampong Parit Batoe dimana terdapat benteng militer Belanda yang dipimpin oleh seorang letnan. Pendaki ini memilih jalan setapak dari sebelah utara hingga kampong Sawa (kampong di lereng gunung). Pendaki ini kembali ke Parit Batoe dan kembali ke Air Bangis melalui Patoman dan Kiawai. Benteng Parit Batoe adalah benteng Padri yang direbut oleh militer Belanda pada era Residen Luitenant Kolonel Elout. Benteng ini direbut untuk mendekatkan diri ke pusat kekuatan Padri di Bondjol. Benteng ini pada era Perang Padri (1831-1837) diakses dari tiga tempat: Kiawai, (Moeara) Pasaman dan Kinali (dan Loeboe Basoeng). Jalur militer utama dari Pasaman dan Kinali, sedangkan dari Kiawai-Air Bangis hanya jalur pendukung.

Seperti disebut di atas ada perselisihan antara Pasaman dan Tikone, ini bermula pada tahun 1850an perselisihan menjadi perang terbuka. Sehubungan dengan kejadian perang tersebut, Pemerintah Hindia Belanda, ketika dibentuk afdeeling, kerajaan Kinali dan kerajaan Pasaman disatukan dengan kerajaan-kerajaan lainnya (Taloe, Tjoebadak) menjadi satu afdeeling dengan nama Afdeeling Ophir Districten; sedangkan kerajaan Tikoe diintegrasikan dengan Afdeeling Pariaman.


Dua kerajaan kuno (Pasaman dan Tikoe) kini dipisahkan oleh batas afdeeling yang berbeda (Kerajaan Pasaman kuno berada di muara sungai Pasaman yang mana sungai Pasaman bermuara di gunung Koelaboe). Apa yang menyebabkan dua kerajaan kuno ini (Pasaman dan Tikoe) bermusuhan dan mengapa pula kerajaan Pasaman dan kerajaan Kinali (dan tentu saja dengan kerajaan-kerajaan Taloe, Sinoeroet dan Tjoebadak) terkesan ‘mesra’ silahkan pembaca mempelajarinya sendiri. Ini dapat dihubungkan kembali ketika Raja Kinali pada era VOC (Soetan di Kinali) ngotot tidak mau kerjasama dengan VOC (dan bahkan menutup diri kepada pedagang VOC dengan merusak jalan dan membanjiri sungai dengan kayu gelondongan ke pedalaman) karena ingin melindungi penduduk Rao, Tjoebadak dan Taloe tetap memiliki akses perdagangan ke laut untuk menjual hasil-hasil tambang dan hasil hutan ke pihak Inggris. Sejumlah nama-nama kampong kecil di dekat Parit Batoe antara lain kampong Panindjaoean, kampongTjoebadak dan kampong baru Simpang Ampat (kelak menjadi pusat kota Simpang Ampek, ibu kota kabupaten Pasaman Barat). Nama kampong Parit pada era Padri berubah nama menjadi Parit Batoe. Nama-nama kampong Parit yang berdekatan saat itu juga terdapat di dekat Kiawai dan di dekat Oedjoeng Gading. Nama Parit semacam nama generic.

Perang antara dua kerajaan bertetangga: Kinali vs Tikoe muncul bukan karena perbedaan pandangan politik terhadap VOC-Pemerintah Hindia Belanda di masa lampau, tetapi disebabkan oleh soal perbatasan. Kerajaan Tikoe menganggap batas wilayahnya semua daratan di selatan sungai Masang adalah wilayahnya. Dalam perang ini muncul bantuan dari raja Baros. Mengapa? Apakah karena ada hubungan perdagangan atau hubungan kerabat?


Kerajaan Kinali sudah sejak lampau kota Kalliagan sebagai pelabuhannya (tujuan produksi Kinali mengalir ke pantai). Pemerintah Hindia Belanda yang jelas-jelas berada di tengah antara dua kerajaan (lebih) menyetujui batas teritori dari sudut pandang kerajaan Kinali. Itulah mengapa pada era Pemerintah Hindia Belanda, batas antara Kinali dan Tikoe tidak sepenuhnya hanya semata-mata dibatasi oleh sungai Masang.

Dalam konteks tersebut di atas, diduga yang menjadi asal muasal terbentuknya bahasa Pesisir di pantai barat Sumatra, mulau dari Kinali hingga Baroes (pada basis bahasa Batak). Semakin meluasnya migran Minangkabau dari pedalaman ke wilayah pesisir, bahasa Minangkabau kemudian turut memperkaya keberadaan bahasa Pesisir yang terus tumbuh dan berkembang (hingga ke hari ini). Namun sebelum kehadiran penutur bahas Minangkabau, di wilayah pantai barat Sumatra penutur yang ada, bahkan sejak lama adalah bahasa Melayu (baik dari utara maupun dari Selatan), bahasa Bharat (bahasa Alas/bahasa Pakpak) dan kemudian bahasa Atjeh. Pengaruh bahasa Minangkabau di dalam bahasa Pesisir diduga bersamaan dengan pengaruh bahasa Batak dari pedalaman pada era yang berbeda dengan sebelumnya.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar