Laman

Sabtu, 14 Oktober 2023

Sejarah Bahasa (77): Bahasa Melayu Lingga Origin Bahasa? Dialek Bahasa Melayu Riau di Daratan (Sumatra) dan di Riau Kepulauan


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Dialek bahasa Melayu Riau terbagi dua: dialek Riau daratan dan dialek kepulauan Riau. Bahasa Melayu yang dituturkan di daerah Riau daratan terdiri atas satu dialek yaitu dialek Pesisir. Sementara wilayah kepulauan yang kini jadi provinsi sendiri bahkan mencapai 24 dialek. Di pulau/kepulauan Linggfa mengapa banyak dialek?


Ada 15 Dialek Bahasa Melayu di Kepri. Dedi Arman. 2018: Berdasarkan peta bahasa Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud, ada 15 dialek bahasa Melayu di Kepri: Dialek Pesisir, Dialek Kundur (Kundur, Karimun), Dialek Bintan-Karimun (Bintan dan Karimun). Dialek Pecong (Kelurahan Pecong, Kota Batam). Dialek Karas Pulau Abang (Pulau Abang Karas, Batam). Dialek Malang Rapat-Kelong (Desa Malang Rapat, Bintan dan Desa Kelong, Bintan). Ada pula Dialek Mantang Lama (Mantang Lama, Bintan). Dialek Rejai (Desa Rejai, Lingga). Dialek Posek (Posek, Lingga), Dialek Merawang (Merawang, Lingga). Dialek Berindat Sebelah (Desa Berindat, Lingga). Dialek Arung Ayam (Natuna). Ada lagi Dialek Kampung Hilir, Dialek Pulau Laut, keduanya di Natuna. Dialek Ceruk (Bunguran, Natuna). Sementara itu, di Indonesia, bahasa Melayu ada 87 dialek. Di Sumatera Utara ada 11 dialek, Kepri ada 15 dialek, Jambi ada delapan dialek, Riau hanya satu dialek, yakni Dialek Pesisir. Di Sumsel ada sembilan dialek Bahasa Melayu. Dialek Bahasa Melayu lainnya ada di DKI Jakarta terdiri dua dialek, Kalimantan Timur tujuh dialek, NTB satu dialek. (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/) 

Lantas bagaimana sejarah bahasa Melayu di Lingga origin bahasa? Seperti disebut di atas, cukup banyak dialek bahasa Melayu, di Lingga ada cukup banyak. Mengapa? Bahasa sialek bahasa Melayu di Riau Daratan dan di Riau Kepulauan. Lalu bagaimana sejarah bahasa Melayu di Lingga origin bahasa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Bahasa Melayu di Lingga Origin Bahasa? Bahasa Dialek Bahasa Melayu di Riau Daratan dan di Riau Kepulauan

Apakah ada bahasa Lingga? Yang jelas di pulau/kepulauan Lingga pada masa ini adalah bahasa Melayu. Bahasa Melayu dialek Lingga? Bagaimana dengan masa lampau? Yang jelas pada masa lampau, penanda navigasi pelayaran penting adalah gunung Lingga (kini disebut gunung Daik). Puncak gunung Lingga adalah tertinggi di kepulauan Riau yang sekarang (1.165 M). Di lereng sebelah tenggara gunung Lingga di wilayah pesisir diidentifikasi suatu pemukiman (Peta 1855). Pemukiman lain yang diindentifikasi adalah Singapoera.


Apa arti gunung Lingga dan puncaknya? Namanya waktu itu adalah gunung Linggga. Belum disebut gunung Daik. Nama gunung sesuai dengan nama pulau. Di wilayah kepulauaan Riau dari pulau Singkep di selatan hingga pulau Singapoera di utara yang tertinggi adalah gunung Lingga. Selain penanda navigasi, gunung dan puncak gunung tinggi di masa lampau dihubungkan dengan kehidupan, pemukiman, kelompok populasi dan peradaban. Peta 1855

•Pulau Lingga. Ibu kotanya, Koewala-Dai, terletak di bagian selatan pulau, sebelah barat gunung Tanjong-Hiang di tepi sungai. Sultan berkedudukan di tempat itu (lihat Journal de La Haye, 28-06-1843). Disebutkan pelabuhannya bagus dan luas serta tampak seperti teluk. Penduduknya banyak karena terjaminnya tempat berlabuh bagi para nelayan. Inilah tempat paling menakjubkan di pulau itu.


Hujan turun hampir setiap hari, yang menyejukkan penduduknya, namun membuat malam menjadi cukup dingin. Udara di sana sangat sehat dan sedikit penyakit. Yang paling menonjol di sana adalah yang ramah yang mungkin berasal dari cara hidup penduduknya. Pulau ini berbukit dan berhutan. Sebuah barisan pegunungan membelahnya di tengah dari timur ke barat. Gunung ini cukup tinggi dan terletak beberapa mil dari pantai. Kami menemukan di hutan berbagai jenis kayu yang digunakan untuk pembuatan kapal seperti atau kegunaan lainnya. Pesisir selatan umumnya datar dan berawa dan ditutupi oleh setiap pasang surut. Tanahnya banyak mengandung tambang timah. Sungai utama bermuara di bagian selatan pulau dimana terus-menerus berlabuh disana beberapa kapal jung Siam dan banyak perahu asli, Di muara sungai terdapat baterai tertutup, terdiri dari 20 hingga 24 ruangan, yang sepenuhnya mengontrol pintu masuk sungai. Setengah jam kami menyusuri sungai, kami sampai di sebuah kampung atau perkampungan Tionghoa yang letaknya di tepi kiri sungai. Sungguh mengejutkan bahwa pulau ini, seperti beberapa pulau tetangga lainnya, tidak menghasilkan bamboo. Rumah disini menggunakan kadjang dan niebong. Rumah-rumah ini sama bagusnya dengan rumah daei bambou, lebih murah, tapi juga kurang tahan lama. Di sebelah kampong Cina dimulailah kota/kampong orang Melayu. Rumah-rumahnya jarang terisolasi, hampir selalu berkelompok. Istana sultan berjarak dua mil dari sungai. Kami tiba di sana melalui jalan yang cukup lebar, yang merupakan pengecualian, karena jalur lain, sebenarnya, hanyalah jalan setapak. Populasi diperkirakan mencapai 9.000 hingga 10.000 jiwa, termasuk 6.000 jiwa di ibu kota dan sisanya di tempat lain di pulau itu. Di antara penduduk ibu kota ada 4 hingga 500 orang Cina.

Lebih lanjut disebutkan, populasi pulau Lingga mereka dapat dianggap sebagai suku aborigin (suku asli), karena mereka merupakan keturunan langsung dari koloni induk masyarakat tersebut (Sumatra), yang menetap di bagian selatan pulau.


Melayu berasal dari pulau Sumatera, mereka tinggal disana di suatu wilayah di pedalaman yang disebut Minang Kaboe, dekat gunung Maha-Meroe, yang hingga saat ini masih dihuni oleh suku yang menyandang nama yang sama. Sebagian dari masyarakat ini meninggalkan koloni ini, sekitar pertengahan abad ke-12 di bawah kepemimpinan pemimpin mereka Demang Lebar Daoun dan seorang yang disebut Sri Tueri Doewana. Mungkin Sri Toeri Boewana ini adalah seorang petualang yang ditempatkan sebagai ketua rombongan yang ingin melepaskan diri dari dominasi Menang Kaboe tidak melihat cara yang lebih baik untuk mencapai tujuannya selain emigrasi, baik itu Sri Toeri Boewana yang telah menikah dengan putri Demang Lebar Daoun berangkat bersama ayah mertuanya dan banyak orang Melayu, menyusuri sungai dan meninggalkan Sumatera. Para emigran ini, mendarat di sebuah pulau di sekitar Semenanjung Malaya, dimana mereka mendirikan sebuah kota yang mereka beri nama Singapura. Pusat pemerintahan Melayu tetap berdiri selama satu abad di Singapura. Orang Jawa merebut Singapura dan Sultan terpaksa mengungsi ke barat dimana sebagian besar rakyatnya mengikutinya untuk menghindari perbudakan. Mereka mencari tanah air lain dan mendirikan koloni baru, di tepi sungai, yang mereka beri nama Malaka.

Dalam kisah (babad) yang disebut populasi asli di pulau Bangka berasal orang Melayu dari pedalaman Sumatra (seperti halnya Melayu di Singapoera dan Malaka) dan dalam perkembangannya kemudian muncul kukuatan lain dari Jawa. Lalu bahasa apa yang digunakan di Lingga dari waktu ke waktu? Yang jelas dari nama pulau dan nama gunung merujuk pada era Hindoe (lingga).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Bahasa Dialek Bahasa Melayu di Riau Daratan dan di Riau Kepulauan: Mengapa Banyak Dialek Bahasa Melayu di Lingga?

Traktat London 1824 telah memisahkan Semenanjung Malaya dan Riau. Perbatasannya di selat Singapoera yang memisahkan pulau Singapoera dan pulau Bintan. Pemerintah Hindia Belanda berkedudukan di Tandjoeng Pinang di pulau Bintan. Meski demikian, pemimpin lokal Riau tidak berkedudukan di pulau Bintan, tetapi tetap berkedudukan di pulau Lingga. Untuk mewakili kepentingan Sultan Lingga dilakukan oleh Sultan Moeda di pulau Panyengat. Namun pada tahun 1857 secara defacto Kesultanan Lingga tamat. Hal ini karena ada perselisihan antara sultan Lingga dan sultan muda di Riau (pulau Panyengat). Perselisihan ini berimbas pada munculnya kebencian Lingga pada Pemerintah Hindia Belanda di Riau di pulau Bintan. Sultan Machmud Mutliafar Shah disingkirkan dan digantikan oleh Soeleiman Badaroel Alam Shah sejak Oktober 1857. Untuk posisi sultan Muda di Riau belum diangkat.


Nieuw Amsterdamsch handels- en effectenblad, 04-12-1857: Laporan terbaru dari Hindia Belanda melaporkan bahwa Gubernur Jenderal, dengan keputusan tanggal 23 September yang lalu telah menyatakan Sultan Machmud Mutliafar Shah disingkirkan dari wilayah kekuasaan Kerajaan Lingga, Riouw. Sehubungan dengan laporan penting ini, kami dapat menambahkan, dari korespondensi pribadi, yang telah kami komunikasikan: Karena perilakunya yang tercela, baik terhadap Residen van Riouw, maupun terhadap orang Penjingat, Sultan Lingga dirampas martabatnya oleh Gubernur Jenderal dan diangkat sebagai penjabat raja muda Riouw, Radja Abdulla,  saudara laki-laki Raja Alie Hadji almarhum. Baik deposisi sultan dan pengangkatan raja tersebut telah diumumkan pada saat publikasi, di seluruh reasidentie (Riau). Pernyataan sultan menjadi miliknya pada 6 Oktober yang lalu diumumkan di Singapura, selanjutnya pada hari yang sama, kapal uap Celebes, bersama E Netscher dan van de Wall, telah berangkat untuk menyampaikan kabar yang fatal kepadanya. Sultan sedang berada di rumah Curicdjie, dan, seperti yang kudengar, dia mendengar keputusannya dengan sangat tidak peduli, tanpa berbicara sepatah kata pun dengan tuan-tuan ini. Keesokan harinya, setelah kembali ke Riouw, Celebes kembali ke Lingga, dengan Residen dan Radja Abdulla Hadji, bersama dengan rombongannya, serta E Netscher dan van de Wall, dan dua puluh lima tentara Eropa. Beberapa jam kemudian melihat sultan, yang berangkat ke Lingga dengan tiga prahu (bejana panjang), dan seperti yang saya ketahui kemudian - sangat pahit tentang pernyataannya, yang, bagaimanapun, persetujuan umum diberikan dan terutama pada orang-orang hebat di Lingga, yang sudah lama lelah dengan tindakan bodoh dan konyol, tetapi lebih khusus lagi kezalimannya yang tak tertahankan, karena penduduk, di bawah otoritas langsungnya, telah jatuh jauh ke dalam kerusakan dan kesengsaraan. Saat ini saya mendengar bahwa Radja Muda dari Lingga, setelah pencalonan Radja Abdulla Hadjie, saudara iparnya, telah diangkat menjadi Sultan Lingga. Baik pilihan ini dan pilihan raja muda baru sama-sama dipuji. Namun, pernyataan clen Sultan Machmud tidak akan ditahan oleh ini; tetapi semua upaya balas dendam yang dilakukan pasti akan berguna dan sia-sia baginya, karena orang-orang hebat di Pinjingat, seperti mayoritas penduduk Lingga sangat muak dengannya. Foto: Sultan van Lingga en Riouw, Soeleiman Badroe Alamsjah (1867)

Apa yang terjadi dengan Sultan Lingga ditemukan di berbagai tempat, di Mataram, di Bali, di Lombok dan sebagainya. Perjanjian awal dengan Pemerintah Hindia Belanda dilanggar (perdamaian dan keamanan wilayah) karena munculnya perselisihan diantara para penguasa lokal. Sultan Lingga tamat. Masa lanmpua Lingga berakhir. Kini, Bintan yang promosi (karena telah menjadi ibukota residentie Riau).


Seperti disebut di atas, ada dialek-dialek bahasa Melayu yang berbeda di kepulauan Riau. Dialek Bintan-Karimun (Bintan dan Karimun) dan Dialek Malang Rapat-Kelong (Desa Malang Rapat dan Desa Kelong, Bintan); Dialek Mantang Lama (Mantang Lama, Bintan). Dialek Rejai (Desa Rejai, Lingga). Dialek Posek (Posek, Lingga), Dialek Merawang (Merawang, Lingga). Dialek Berindat Sebelah (Desa Berindat, Lingga). Dalam hal ini di pulau/kepulauan Bintang ada beberapa dialek, demikian juga di pulau/kepulauan Lingga ada beberapa dialek bahasa Melayu.

Suatu dialek bahasa terbentuk karena bahasa yang sama berbeda secara geografis. Namun jika terdapat dialek-dialek di wilayah geografis yang sama, diduga terbentuk karena asal-usul kelompok populasi. Diantara kelompok-kelompok populasi yang berbeda dialek dari bahasa yang sama, salah satu diantaranya ada yang lebih tua (asli) dan yang lainnya sebagai pendatang (datang sesudah yang lainnya). Lantas bagaimana dialek-dialek di pulau/kepulauan Lingga; Dialek Rejai, Dialek Posek, Dialek Merawang dan Dialek Berindat Sebelah.


Dialek Rejai di pulau Sebangka di utara pulau Lingga; Dialek Posek di pulau Posik di sebelah barat pulau Lingga; Dialek Merawng di pulau Lingga di wilayah Daik. Dialek Berindat di pulau Singkep. Seberapa besar perbedaan/kemiripan dialek-dialek di kabupaten Lingga?

Besar dugaan dialek Merawang diduga adalah dialek bahasa Melayu terawal di (kabupaten) Lingga. Suatu dialek bahasa Melayu yang telah terbentuk sejak masa lampau, bahkan sejak nama Lingga itu sendiri muncul. Dalan hal ini ini nama Lingga adalah nama gunung dan juga menjadi nama pulau.


Hasil studi Mini Andriani (2023) bahwa daerah yang memiliki perbedaan isolek adalah daerah Senayang (pulau Sebangka) dan Kelumu (pulau Lingga). Senayang memiliki perbedaan wicara dengan Panggak Darat: 21.62%, sedangkan Kelumu memiliki perbedaan subddialek pada semua daerah DP yang diperbandingkan dengan persentase di atas 44%. Berdasarkan penghitungan leksikostatistik, status kekerabatan bahasa Melayu Lingga bahwa bahasa Melayu Lingga di daerah daratan memiliki hubungan kekerabatan bahasa yang lebih dekat dengan daerah pesisir, tetapi lebih jauh dengan daerah Kelumu dengan perbandingan di atas 35%. Dengan demikian, bahasa Melayu Lingga dapat dikelompokkan ke dalam 2 kelompok bahasa yaitu; Melayu Darat Pesisir (MDP) dan Melayu Suku Laut (MSL). Beberapa penanda bahasa Lingga Darat-Pesisir adalah ‘aok; dan ‘ikak’.

Jika bahasa Melayu di Lingga berasal dari (pedalaman) Sumatra, seberapa jauh pulau Lingga dengan pulau Sumatra? Pada masa ini pulau Lingga secara geografis cukup dekat dengan pulau Sumatra. Itu masa kini. Bagaimana dengan masa lampau? Secara geomorfologis, di masa lampau antara pulau Sumatra dan pulau Lingga berjauhan. Proses sedimentasi jangka panjang terlah terjadi pantai timur Sumatra. Penanda navigasi pelayaran jaman kuno di pulau Lingga adalah gunung Lingga di pulau Lingga, sementara di pulau Sumatra adalah pegunungan Tigapuluh.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar