Laman

Senin, 23 Oktober 2023

Sejarah Bahasa (96): Bahasa Pubian, Dialek Bahasa Lampung, District Lampung; Jumlah Populasi Lampung, Jumlah Populasi Pubian


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Suku Pubian termasuk dalam masyarakat adat Lampung Pepadun, yang merupakan satu dari dua adat terbesar yang ada di Lampung. Masyarakat Pepadun menganut sistem kekerabatan patrilineal. Asal mulanya suku ini disebut Pubian disebabkan nenek moyang suku Pubian yang masuk melewati pinggiran Way Pengubuan dan hulu Way Pubian. Suku ini paling banyak ditemukan di wilayah pedalaman dan dataran tinggi. Dialek bahasa yang digunakan oleh suku Pubian adalah Bahasa Lampung dialek “A” yang biasa digunakan masyarakat adat Lampuung Saibatin atau Pesisir. Pubian merupakan satu dari sembilan marga di Lampung Tengah.


Bahasa Lampung Pubian merupakan salah satu dialek dalam bahasa Lampung, yang dituturkan oleh masyarakat di Kabupaten Lampung Selatan tepatnya di kawasan Natar dan Tegineneng. Bahasa ini juga dituturkan oleh masyarakat Kabupaten Lampung Tengah dan Kota Bandar Lampung (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah bahasa Pubian di wilayah Lampung dan dialek bahasa Lampung? Seperti disebut di atas bahasa Pubian adalah dialek bahasa Lampung. Bahasa Lampung dialek A, Lampung Saibatin dan Lampung wilayah pesisir. Lalu bagaimana sejarah bahasa Pubian di wilayah Lampung? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Bahasa Pubian di Wilayah Lampung dan Dialek Bahasa Lampung; Jumlah Populasi Lampung dan Populasi Pubian

Untuk memahami bahasa Pubian sebagai salah satu dialek bahasa Lampung harus merujuk pada adat dan marga-marga di Lampung. Penutur bahasa Pubian dari kelompok populasi Pubian berada di wilayah (district) Lampong. Tentu saja di wilayah Lampong tidak hanya orang Lampong. Tentang marga-marga di Lampong, meski sudah lama diketahui, tetapi penyelidikan yang komprehensif belum lama dilakukan.


W van Royen telah melakukan kajian mendalam tentang ada dan maraga-marga di Lampung yang diterbit dengan judul De staatkundige zijde van het Pĕpadonwezen (1928) dan Nota over de lampoengsche merga's (1930). Dalam Nota ini van Royen menyatakan: ’Suku Lampoeng mendiami sebagian besar residentie di Lampoengsche Districte, serta onderafdeeling Kroe (Benkoelen) kecuali merga Wai Tenong (Semendo), dan di residentie Palembang onderafdeeling Moeara Doea en Koemering Oeloe kecuali marga-marga Makakau dan Kisam (Pasemah). Hanya sebagian kecil wilayah afdeeling Lampong yang dihuni oleh penduduk non-Lampung, seperti tiga marga Semendo Kasoei, Rebang-Sepoetih dan Rebang Poegoeng, oleh penduduk Pasemah, sedangkan ada juga beberapa wilayah Banten. Penduduk Lampung ini terbagi dalam beberapa kelompok, seperti Belalau, Abueng, Poebian, dan lain-lain, yang tempat tinggalnya saat ini, karena terletak di wilayah afdeeling Lampung. Secara linguistik, kaum Lampoeng dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu: kelompok yang berbahasa “api” dan kelompok yang berbicara dialek “nja”. Dalam kelompok-kelompok ini beberapa dialek dapat dibedakan. Kelompok pertama meliputi suku Belalau, Peminggir sepanjang Teluk Semangka dan Teluk Lampong, suku Toelang Bawang Atas, Komering (Palembang), Kroei (Benkoelen), kelompok Melinting, dan suku Poebian. NH Van der Tuuk menyebut kelompok ini sebagai kelompok bahasa Poebian. Posisi yang agak luar biasa ditempati oleh Peminggir Boenga Majang yang berbicara dengan dialek "Datjok" dari kelompok "api". Kelompok kedua meliputi suku Aboeng dan kerabat Toelang Bawang Bawah yang disebut kelompok Aboeng oleh Van der Tuuk. Kelompok-kelompok Lampoeng yang berbeda umumnya tidak tinggal bersama, tetapi mempunyai wilayah masing-masing. Suku Aboeng menghuni jalur tengah horizontal Lampoeng; terbagi dalam apa yang disebut “marga siwa”, yaitu sembilan marga: Noenjai, Oenji, Soebing, Noban, Selagai (dengan Koenang), Belioek, Njeroepa, dan Anak Toeha… Diantara suku Aboeng dan Peminggir hidup suku Poebian, yang membentuk marga Poebian, Tegineneng, Merak Batin, Balau, Wai Semah dan Poegoeng…Diantara seluruh penduduk Lampoeng ditemukan tradisi keturunan dari nenek moyang yang sama, Si Lampoeng. Asal usul nenek moyang ini dimana-mana dikaitkan dengan kerajaan dari salah satu kerajaan bersejarah yang dominan. Suku Aboeng bergaul dengan pangeran Sekala-Berak; orang Belalau di Pagerroejoeng, penduduk Semangka membedakan golongan menurut golongan Pagerroejoeng dan golongan Banten. Suku Melinting-Peminggir mengaitkan silsilah pojang mereka dengan silsilah para pangeran Mojopahit, melalui perantaraan putri legendaris Darah-Poetih, sedangkan para Meninting menyebut para pangeran Banten sebagai nenek moyang purba, namun tetap mempertahankan keturunan Boeai- Roendjoeng. Rupanya setiap kelompok suku telah mengaitkan keturunan nenek moyang Si Lampoeng dengan kekuasaan kerajaan-kerajaan itu…’.

Dalam sensus penduduk yang diadakan tahun 1930, kelompok-kelompok populasi di wilayah Lampoeng juga didefinisikan dan jumlah populasi masing-masing dicacah. Kelompok populasi Lampoeng terdiri dari orang Kroei, orang Lampoeng, orang Aboeng, orang Peminggir, orang Toelangbawang dan orang Poebian.


Orang Lampoeng sendiri tidak banyak.  Orang Lampoeng di onderafdeeling Kotaagoeng sebanyak 1.347 jiwa dan onderafdeeling Teloekbetoeng sebanyak 1.154 jiwa dan di gemeente Teloekbetoeng sebanyak 33 jiwa. Di wilayah Lampoeng nama yang sudah dikenal sejak lama adalah nama Lampoeng. Nama Lampoeng sudah disebut dalam Negarakertagama (1365). Pada saat ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtma (1595-1587) kampong Dampin di teluk dikunjungi dan mereka diterima oleh pemimpinnya. Nama Dampin ini diduga adalah nama Lampoeng itu sendiri. Pada era VOC di wilayah Lampoeng dua pos perdagangan ditempatkan di Lampoeng (selatan) dan di Toelangbawang (timur). Nama Lampong, yang juga nama kelompok populasi kemudian oleh Pemerintah Hindia Belanda dijadikan sebagai nama wilayah (districten) dan juga untuk menyebut semua kelompok bahasa dari berbagai kelompok populasi.

Jumlah orang Poebian di onderafdeeling Teloekbetorng sebanyak 7.179 jiwa, di onderafdeeling Soekadana sebanyak 2.435 jiwa, di onderafdeeling Kotaagoeng sebanyak 1.894 jiwa. Di onderafdeeling Menggala dan onderafdeeling Kotaboemi serta di gemeente Menggala dan gemeente Teloekbetoeng masing-masing tidak lebih dari 100 jiwa. Dalam hal ini kelompok populasi Poebian jauh lebih banyak dari kelompok populasi Lampoeng.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Jumlah Populasi Lampung dan Populasi Pubian: Ragam Bahasa Lampung

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar