Laman

Sabtu, 27 Februari 2021

Sejarah Ternate (21): Inggris di Maluku Akhirnya Taklukkan Ternate; Maluku Masa Lampau, Jawa Kini, Sumatra Masa Depan

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Ternate dalam blog ini Klik Disini 

Kepulauan Maluku bagaikan gugus bintang yang indah di Hindia Timur, terdapat beberapa bintang yang terang dan bintang yang paling terang adalah (pulau) Ternate. Hal itulah mengapa Portugis, Spanyol dan Belanda silih berganti mengincarnya untuk dijadikan sebagai pusat perdagangan di kepulauan Maluku. Terbukti Spanyol menggasak Portugis, lalu Belanda berperang habis-habisan dengan Spanyol. Tentu saja Inggris sangat iri melihat kedudukan Belanda di kepulauan Maluku khususnya di Ternate.

Kepulauan Maluku khususnya Ternate sudah sejak lama terjadi persaingan perdagangan antara Porttugis, Spanyol, Belanda dan Inggris. Lalu yang adikuasa di Maluku adalah Belanda (VOC) dengan pasukan militer yang kuat. Portugis tamat, Spanyol menyingkir ke Filipina dan Inggris hanya bisa bertahan di pantai barat Sumatra di Bengkoelen. Itu setelah inggris saling sikut dengan Belanda dan Prancis di pantai barat Sumatra. Pada tahun 1782 Inggris yang berpusat di Calcutta (India) mengirim satu skuadron militer di pantai barat Sumatra yang dipusatkan di Bengkoelen. Mengapa? Inggrsi tidak membutuhkan Maluku dan Ternate lagi, karena Inggris sudah membawa bibit cengkeh dan pala dari Maluku dan telah dibudidayakan di Bengkolen. Lalu buat apa mengirim skuadron angkatan laut ke Bengkoelen? Untuk menjaga jalur navigasi pelayaran dari pantai barat Sumatra ke selat Malaka dan terus ke laut Cina (Tiongkok) dan juga untuk menjaga jalur navigasi dari pantai barat Sumatra ke (benua) Australia via pantai selatan Jawa dan pantai selatan kepulauan Soenda Ketjil. Kedudukan yang semakin menguat di pantai barat Sumatra, Inggris mulai mengincar wilayah di antara dua jalur navigasi pelayaran tersebut. Seperti disebut di atas akhirnya Ternate berhasil ditaklukkan dan Jawa bisa diduduki.

Lantas bagaimana sejarah Inggris di kepulauan Maluku khususnya di Ternate? Yang jelas, Inggris kalah bersaing dengan Belanda di Ternate sejak lama. Perang Inggris dengan Belanda di Ternate tahun 1795 adalah sisa noda yang tidak terhapus dalam sejarah navigasi pelayaran Inggris. Seperti kita lihat nanti, akhirnya ambisis Inggris berhasil menaklukkan Belanda di Ternate tahun 1810. Satu tahun kemudian Inggris juga berhasil menaklukkan Belanda di Jawa. Tuntas sudah Inggris berhasil enguasai seluruh Hindia Timur. Celakanya, sejak Inggris berkedudukan di Jawa, Maluku mulai dilupakan dan Ternate secara perlahan mulai redup. Orang-orang Belanda yang kembali berkuasa tahun 1816 celakanya lagi mengikuti cara Inggris melupakan Ternate. Muncullah adagium: Maluku masa lalu,Jawa masa kini dan Sumatra masa depan. Itulah ringkasan sejarah Inggris di Ternate yang ingin diketahui lebih rinci. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Inggris di Ternate, Maluku: Prakondisi Inggris Menguasai Wilayah Luas dari Laut Merah Lautan Hindia hingga Laut Cina Lautan Pasifik

Ternate tidak pernah jatuh kepada kekuasaan siapapun. Pedagang-pedagang VOC (Belanda) di Ternate masih eksis, berkat kegigihan orang-orang Ternate dalam mempertahankan dari berbagai ancaman. Sementara, Banda dan Amboina yang lalu kemudian disusul Manado sudah jatuh ke tangan Inggris pada tahun 1795. Sementara itu, di tahun yang sama Prancis menaklukkan Batavia (Jawa). Ini sehubungan dengan kejadian di Eropa yang mana Prancis yelah menginvasi Belanda.

VOC yang dalam posisi sangat lemah, tidak memiliki induk lagi, dan wilayah kekuasaan hanya terbatas di Ternate, maka pada tahun 1799 VOC dinyatakan pailit dan dibubarkan. Habis sudah era VOC (di Maluku dan Ternate sejak 1605) selama hampir dua abad. Peta Ternate 1835

Dalam situasi transisi ini Inggris kembali menyerang Ternate. Namun tidak udah. Pada tahun 1801, Inggris mengepung benteng Ternate Fort Oranje selama lima bulan. Boleh jadi karena kehabisan bekal, Gubernur Ternate Willem Jacob Cransen menyerah. Takluk sudah Ternate. Dalam perkembangannya, Maluku dikembalikan kepada Belanda dengan damai pada 1802, tetapi perang pecah lagi pada tahun berikutnya.

Hindia Belanda (di bawah kekuasaan Napoleon-Prancis) telah membentuk pemerintahan di Hindia Belanda sejak 1800. Namun cabang-cabang pemerintahan yang dibentuk baru efektif pada tahun 1808 (pada era Gubernur Jenderal Daendels). Peta Ternate 1835

Pada permulaan pembentukan cabang-cabang pemerintahan di Hindia Belanda, pada tahun 1809 Gubernur Jenderal Daendels mengangkat sejumlah pejabat di Ternate. J van Mittman diangkat sebagai Commandant Civiel en Militair di Ternate dengan sekretaris JM Otto. Pemerintahan awal ini juga dilengkapi beberapa orang Belanda yang bertugas untuk urusan boekhouder, administrateur, fiscaal dan translateur (bahasa Melayu).

Namun tidak lama kemudian situasi berubah di Eropa, pasukan Inggris yang berpusat di Calcutta, India mengerahkan kekuatan untuk menyerang Batavia (Jawa). Pada tahun 1810 benteng Ternate kembali diserang dan setelah setelah pengeboman singkat Belanda menyerah dan Maluku berada di bawah kekuasaan Inggris. Pada tahun 1811 Belanda juga menyerah di Batavia (Jawa). Tamat sudah Belanda, seluruh Hindia Belanda berada di bawah kekuasaan Inggris (mulai dari laut Merah lautan Hindia hingga laut Cina lautan Pasifik). Inggris membentuk pemerintahan di Jawa yang berpusat di Buitenzorg dan Semarang.

Setelah menguasai Batavia (Jawa), Inggris yang telah membentuk pemerintahan di Jawa, tampaknya Inggris hanya tertarik di Jawa. Kantong-kantong Belanda seperti di Ternate kurang diperhatikan dan seakan dibiarkan saja (tetap orang Belanda yang berperan). Hal ini dapat dilihat pada struktur pemerintahan pendudukan Inggris hanya terkonsentrasi di Jawa yang berpusat di Batavia, Semarang dan Soerabaja (lihat Almanak 1815). Wilayah luar Jawa hanya ditempatkan pejabat di Pelembang en Banka dan di Makassar.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Belanda Mengikuti Inggris: Maluku Masa Lampau, Jawa Masa Kini, Sumatra Masa Depan

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar