Laman

Senin, 19 Juli 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (88): Gunung di Sulawesi; Puncak Pegunungan Latimojong di Toraja dan Gunung Api di Minahasa

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog Klik Disini  

Seperti halnya di Sumatra dan Jawa, di (pulau) Sulawesi juga ditemukan banyak gunung, di bagian selatan pulau terdapat gunung-gunung tinggi, teta[I di bagian utara justru yang ditemukan banyak gunung berapi. Gunung-gunung tinggi di bagian selatan umumnya ditemukan di rantai pegunungan Latimojong dengan puncak tertinggi Rantemario 3.478 M yang menjadi tertinggi di Sulawesi. Puncak gunung Latimojong sendiri adalah 3.305 M. Di bagian utaa pulau gunung-gunung yang relatif rendah tetapi masih ada yang aktif. Salah satu gunung terkenal di bagian utara adalah gunung Empung.

Di Sumatra dan Jawa gunung-gunung yang ada cenderung memberikan dampak pada daerah aliaran sungai dan terjadinya proses sedimentasi di sekitar muara yang menyebabkan terbentuknya daratan. Oleh karenanya garis pantai di pantai utara Jawa dan pantai timu Sumatra diduga kuat telah menjauhi gunung-gunung seiring dengan semakin memanjangnya sungai. Hal serupa ini kurang terlihat di pulau Sulawesi. Tampaknya bentuk pulau Sulawesi relatif tidak berubah sepanjang masa. Nama-nama gunung utama di Sumatra dan Jawa cenderung merujuk pada nama India (Hindoe Boedha), sedangkan di Sulawesi nama-namanya khas. Dua klaster gunung di pulau Sulawesi merujuk pada wilayah Minahasa dan wilayah Toraja.

Lantas bagaimana sejarah gunung zaman di (pulau) Sulawesi? Seperti disebut di atas, gunung-gunung di Sulawesi memberikan dampak yang berbeda jika dibandingkan dengan gunung-gunung di Sumatra dan Jawa. Tidak seperti rantai gunung di Jawa dan Sumata cenderung berada pada garis lurus (barisan), rantai gunung di pulau Sulawesi hanya terlihat jelas pada rantai cincin api (gunung). Klaster gunung di wilayah Toraja puncaknya cendrung tinggi-tinggi dan memiliki kisah-kisah yang berbeda-beda. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Gunung-Gunung di Sulawesi: Minahasa dan Toraja

Sejak kapan sejarah (pulau) Sulawesi diketahui? Sejauh ini belum ada keterangan yang pasti. Ada ditemukan prasasti di Minahasa dan prasasti di Toraja namun belum ada penanggalan yang pasti kapan prasasti di dua wilayah itu dibuat. Yang sudah lebih pasti adalah ada beberapa nama tempat di pulau Sulawesi yang dapat diidentifikasi Prof Kern (1919) berdasarkan teks Negarakertagama (1365). Nama-nama yang diidentifikasi itu adalah Makasar, Bantayan (Bantaeng), Salaya (Kepulauan Selayar), Butun (Buton), Banggaun (Banggai) dan Luwuk (Luwu).

Keterangan tempat dalam teks Negarakertagama diduga terkait dengan nama-nama tempat (pelabuhan) yang menjadi tujuan (mitra) dagang dari Kerajaan Majapahit di pulau Jawa. Sementara itu tidak ada identifikasi nama tempat di wilayah utara pulau, bisa jadi karena belum ada kota pelabuhan penting atau kota pelabuhan yang menjadi mitra dagang Kerajaan Majapahit. Wilayah Sulawesi bagian utara ini relatif dekat dengan pulau-pulau di Filipina. Satu-satunya nama tempat yang didientifikasi adalah Solot (diduga kepulauan Sulu), Keterangan yang lebih awal tentang pulau di Filipina adalah teluk Manila pulau Luzon (prasasti Laguna 900 M). Dalam hal ini mengapa penting menghubungkan wilayah Filipina dengan Sulawesi karena memiliki bentuk aksara yang mirip satu sama lain (berbeda dengan aksara Jawa). Selain itu ada beberapa nama tempat yang sama baik di Filipina maupun Sulawesi seperti Minanga.

Prasasti Seko (Toraja) ditemukan di kecamatan Seko, kabupaten Luwu Utara. Wilayah Seko ini diduga bagian dari wilayah (kerajaan) Luwu di masa lampau. Kerajaan Luwu juga diduga meliputi kabupaten Tana Toraja yang sekarang. Hal ini karena wilayah Seko bertetangga dengan wilayah kabupaten Tana Toraja. Secara geografis Seko dan Tana Toraja relatif lebih bedekatan satu sama lain. Tetangga kabupaten Tana Toraja di selatan adalah kabupaten Enrekang (yang juga diduga bagian dari Kerajaan Luwu).

Gugus gunung-gunung di Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi dapat dibedakan pada beberapa pola yang dapat diamati. Di Sumatra terkenal dengan bukit barisan yang diantaranya beberapa puncaknyanya muncul di atas awan (lihat foto internet). Namun demikian, meski secara umum gunung-gunung di Sumatra berbaris mulai dari Aceh (Leuserr) hingga Sumata selatan (Dempo) ada juga gunung atau klaster gunung yang menyimpang dari barisan seperti kawasan gunung Ophir. Gunung-gunung di Jawa dan Kalimantan juga cenderung berbaris dan beberapa yang jalurnya menyimpang seperti kawasan gunung Muria. Di pulau Sulawesi polanya lebih beragam. Pada pulau-pulau kecil juga ada yang muncul puncak tinggi seperti di pulau Lingga dan ada juga yang bersifat gunung api seperti Krakatau, Banda dan pulau kecil di teluk Tomini.

Gunung-gunung tinggi (kawasan gunung Latimojong) berada diantara tiga wilayah yang berdekatan (Luwu, Enrekang dan Tana Toraja). Kawasan gunung ini menjadi kawasan gunung-gunung tinggi di pulau Sulawesi. Seperti halnya di wilayah Minahasa, di kawasan pegunungan Latimojong inilah peradaban awal bermula di selatan pulau Sulawesi. Hal serupa juga dengan awal peradaban di utara Sulawesi di wilayah Minahasa (kawasan gunung Empung dan gunung Lokon)

Di pegunungan Latimojong terdapat beberapa puncak yang tinggi yakni Puncak Rantemario (3.478 M), gunung Nenemori (3.397 M), gunung Latimojong (3.305 M), gunung Rantekambola (3.083 M), gunung Simbolong (3.054 M), gunung Balease (3.016 M), gunung Tolangi (3.016 M) dan gunung Kambuno (2.950 M). Tidak jauh dari pegunung Latimojong ini di kabupaten Enrekang terdapat nama-nama yang khas seperti Minanga (kampung), Pana, Banti (desa) dan Anggeraja (kecamatan)

Prasasti Seko ditemukan di wilayah dimana terdapat gunung-gunung tinggi (pegunungan Latimojong. Prasasti Watu Rerumeran di Minahasa juga ditemukan di dekat gunung-gunung tinggi di Minahasa (gunung Empung dan gunung Lokon dan gunung Tondano)..Yang membedakan gunung-gunung di wilayah Toraja dan wilayah Minahasa adalah statusnya. Gunung-gunung di Minahasa tersebut terbilang sebagai gunung aktif. Tidak ada informasi gunung-gunung di pegunungan Latimojong pernah erupsi.

Tidak adanya erupsi gunung di kawasan teluk Bone dan sungai-sungainya yang pendek (tidak seperti di Jawa dan Sumatra) menjadikan garis pantai di wilayah kawasan teluk Bone tidak banyak mengalami perubahan. Boleh jadi di kawasan teluk juga dasar laut cukup dalam (yang berbeda dengan dasar laut di paparan Sunda dan paparan Sahul). Sebaliknya, di teluk Tomini dikelilingi oleh banyak gunung api. Boleh jadi itu mengapa teluk Tomini diidentifikasi sebagai perairan dangkal yang di dalam peta Portugis kawasan teluk berupa daratam (pantai selatan Sulawesi Utara dan pantai utara Sulawesi Tengah menyatu. Lantas apa yang menyebabkan pada peta-peta VOC (Belanda) teluk mulai didientifikasi sebagai perairan dangkal (rawa-rawa) yang kerap dijadikan para bajak laut internasional sebagai persembunyian yang meresahkan penduduk di kawasan. Perubahan dari proses pendangkalan (sedimentasi massa erupasi) menjadi perairan kembali diduga kuat karena faktor arus laut Pasifik yang deras.

Berdasarkan nama tempat dalam teks Negarakertagama, dari lima nama tempat hanya tiga yang melekat di (daratan) pulau Sulawesi yakni Makasar, Luwuk dan Banggai. Menurut para ahli diantara tiga tempat itu yang tertua adalah Luwuk yang berada di teluk Bone. Secara teoritis hal itu juga didukung bahwa secara geografis di dalam pulau, sepertinya wilayah Luwuk ini merupakan wilayah yang paling strategis, terlindung dari lautan dan sangat dekat pada sumber daya alam di pegunungan Latimojong. Dalam posisi inilah diduga kuat yang menjadi faktor penting terbentuknya Kerajaan Luwuk pada zaman kuno. Sedangkan Makassar dan Banggai serta Boeton adalah pelabuhan-pelabuhan yang muncul kemudian sebagai tempat transit perdagangan (di sisi luar). Wilayah (pelabuhan) Luwuk dikawasan teluk diduga kuat telah memainkan peran penting sejak awal (zaman kuno).

Kedatuan Luwu (juga dieja Luwuq, Wareq, Luwok, Luwu') adalah salah satu kerajaan Bugis tertua. Pada 1889, Gubernur Hindia Belanda di Makassar menyatakan bahwa masa kejayaan Luwu antara abad ke-10 sampai 14, tetapi tidak ada bukti lebih lanjut. Luwu bersama-sama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka adalah tiga kerajaan Bugis pertama yang tertera dalam epik I La Galigo, sebuah karya orang suku Bugis. Namun begitu, I La Galigo tidak dapat diterima sepenuhnya sebagai teks sejarah karena dipenuhi dengan mitos, maka keberadaan kerajaan-kerajaan ini dipertanyakan. Pusat kerajaan ini terletak di Malangke yang kini menjadi wilayah Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan (Wikipedia)

Tunggu deskripsi lengkapnya

Gunung Api di Sulawesi: Bagian Cincin Api Pasifik

Dalam berbagai tulisan kerap disebut bahwa gunung api adalah ancaman besar bagi penduduk ketika terjadi erupsi, tetapi gunung api juga memberi jalan bagi kesuburan tanah yang dapat ditempati penduduk. Seperti dikutip di atas, wilayah Minahasa adalah gugus gunung api di pulau Sulawesi (bersama dengan gugus gunung api di kepulauan Maluku). Ada satu gunung api di teluk Tomini (gunung Una atau gunung Colo).

Gunung Empung di Minahasa adalh gunung api yang sudah lama tidak aktif lagi, tetapi gunung di dekatnya (gunung Lokon, gunung Tondano dan gunung Soputan serta gunung Klabat) diketahui pernah mengalami erupsi. Seperti ditunjukkan di atas, gugus gunung api di Ternate dan gugus gunung api di Minahasa dan gugus gunung api di kepulauan Sangihe. Gunung Una yang berada di kawasan teluk Tomini yang berada jauh dari zona subduksi tampaknya arah menyimpang dari gugus cincin api. Ini berbeda dengan dengan gunung Lokon dan gunung Empung yang dapat dikatakan berada di gugus cincin api. Gunung Una tidak hanya terbentuk sendiri, juga gunung yang berada di luar jalur cincin api.

Oleh karena itu gunung-gunung di bagian utara Sulawesi telah memberi kesuburan yang sangat berarti di wilayah Minahasa dan bahkan hingga ke wilayah Toraja. Dalam hal ini besar dugaan populasi penduduk diduga menyebar dari atas ekuator ke pulau Sulawesi dan pulau-pulau Maluku. Hal itu itu dapat diperhatikan dari banyak kemiripan di pulau Sulawesi dengan pulau-pulau di Filipina, apakah bahasa. aksara, sistem pemerintahan (yang demokratis; non monarkis) dan juga adanya beberapa nama geografis.

Dua wilayah zaman kuno di pulau Sulawesi adalah Toraja yang mana ditemukan pasasti dan situs kuno di Seko (kecamatan Seko) dan Minahasa yang mana ditemukan prasasti zaman kuno Waru Rerumeran di dekat Tomohon dan danau Tondano (kecamatan Tompaso). Secara geogafis dua wilayah ini mirip sama-sama berada di kawasan pegunungan. Kecamatan Seko berada pada ketinggian antara 1.100 sampai 1.400 M. kecamatan Tompaso  sekitar 700 M, Tomohon (900-1100 M)b dan danau Tondano 600 M. Pada prasasti Tompaso berisi tentang pembagian wilayah federasi, Hal yang sama juga tercermin dari situs Seko yang mencerminkan empat anggota federasi (daliang). Tampaknya dua kerajaan tua ini bersifat non monarkis. Hal semacam ini juga ditemukan di teluk Manila pulau Luzon (prasasti Luguna 900 M) yang mencerminkan tiga anggota federasi. Di tiga wilayah ini pada masa kini memiliki aksara yang mirip satu sama lain dan juga ditemukan nama Minanga di tiga wilayah. Kapan situs di Minahasa dan situs di Seko eksis? Diduga antara kurun waktu 900 M dan tahun 1365 sebagaimana nama Luwuk dicatat dalam Negarakertagama. Besar dugaan situs Toraja lebih muda jika dibandingkan dengan situs Minahasa.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar