Laman

Kamis, 30 Juni 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (684):Ejaan yang Disempurnakan Indonesia - Malaysia 1972; Aksara Pallawa, Aksara Jawi, Aksara Latin

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Ada satu peristiwa sejarah bahasa pada tahun 1972. Peristiw tersebut adalah perubahan dari eajaan yang tidak sempurna lalu dideklarasikan ejaan yang disempurnakan (EYD) antara negara Indonesi dan negara (federasi) Malaysia. Saat saya duduk dikelas dua sekolah dasar (SD), cara menulis nama saya berubah dari Achir Matua Harahap menjadi Akhir Matua Harahap. Ada perubahan ejaan ch menjadi kh. Namun perubahan itu masih janggal dan saya masih kerap menulis dengan ejaan ch, sebab umumnya masyarakat secara luas hanya mengenal itu, termasuk ayah dan ibu saya. Dengan mengabaikan adaptasi ejaan di kalangan pers, saat itu perubahan ejaan terkesan bergaung hanya di sekolah. Pada izajah kelulusan saya di sekolah dasar nama saya dibakukan dengan ejaan kh.

Pada 23 Mei 1972, sebuah pernyataan bersama ditandatangani oleh Menteri Pelajaran Malaysia Tun Hussein Onn dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Mashuri. Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan yang Disempurnakan. Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin bagi bahasa Melayu ("Rumi" dalam istilah bahasa Melayu Malaysia) dan bahasa Indonesia. Di Malaysia, ejaan baru bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB). Pada waktu pidato kenegaraan untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke XXVII, tanggal 17 Agustus 1972 diresmikanlah pemakaian ejaan baru untuk bahasa Indonesia oleh Presiden Republik Indonesia. Dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972, ejaan tersebut dikenal dengan nama Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Ejaan tersebut merupakan hasil yang dicapai oleh kerja panitia ejaan bahasa Indonesia yang telah dibentuk pada tahun 1966. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan ini merupakan penyederhanaan serta penyempurnaan daripada Ejaan Suwandi atau Ejaan Republik yang dipakai sejak bulan Maret 1947. Selanjutnya pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan buku "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan" dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 27 Agustus 1975 Nomor 0196/U/1975 memberlakukan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan" dan "Pedoman Umum Pembentukan Istilah". (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah ejaan yang disempurnakan Indonesia dan Malaysia 1972? Seperti disebut di atas, ada korbanya yakni perbedaan penulisan pada dokumen resmi seperti akta dan izajah. Nama saya termasuk bagian dari perubahan itu. Lalu sejarah ejaan yang disempurnakan Indonesia dan Malaysia 1972? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..

Sejarah Menjadi Indonesia (683): ASEAN Persatuan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara; Federasi Malaysia dan Kemerdekaan Brunai

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

ASEAN sebagai organisasi bangsa-bangsa Asia Tenggara masih eksis hingga ini hari. Ini bermula tahun 1967 dimana organisasi ASEAN dibentuk. Lima negara pendiri (Indonesia, Malaysia, Singapoera, Thailand dan Filipina) adalah negara-negara merdeka. Tujuan pendirian organisasi ini adalah inisiatif Indonesia. Selain untuk tujuan ekonomi, penididikan dan kebudayaan, pers barat menyebutkan pendirian organisasi (dari negara-negara merdeka) adalah bertekad untuk menjamin stabilitas dan keamanan terhadap campur tangan asing, dan pangkalan asing di wilayah mereka hanya "tempat peristirahatan sementara" (lihat Gereformeerd gezinsblad / hoofdred. P. Jongeling, 10-08-1967).

ASEAN didirikan oleh lima negara melalui 5 menteri luar negerinya, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina di Bangkok pada 8 Agustus 1967 melalui Deklarasi Bangkok. Berikut adalah daftar menteri luar negeri pendiri ASEAN; Adam Malik (Indonesia); Tun Abdul Razak (Malaysia); S. Rajaratnam (Singapoera); Thanat Khoman (Muang Thai); Narsisco Ramos (Filipina). Deklarasi Bangkok: (1)     Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara; (2) Meningkatkan perdamaian dan kestabilan regional; (3)   Meningkatkan kerja sama dan saling membantu untuk kepentingan bersama dalam bidang ekonomi, sosial, teknik, ilmu pengetahuan, dan administrasi; (4)     Memelihara kerja sama yang erat di tengah-tengah organisasi regional dan internasional yang ada; (5)    Meningkatkan kerja sama untuk memajukan pendidikan, latihan, dan penelitian di kawasan Asia Tenggara. Brunei Darussalam menjadi anggota pertama ASEAN di luar lima negara pemrakarsa. Brunei Darussalam bergabung menjadi anggota ASEAN pada tanggal 7 Januari 1984 (tepat seminggu setelah memperingati hari kemerdekaannya). Sebelas tahun kemudian, ASEAN kembali menerima anggota baru, yaitu Vietnam yang menjadi anggota yang ketujuh pada tanggal 28 Juli 1995. Dua tahun kemudian, Laos dan Myanmar menyusul masuk menjadi anggota ASEAN, yaitu pada tanggal 23 Juli 1997. Walaupun Kamboja berencana untuk bergabung menjadi anggota ASEAN bersama dengan Myanmar dan Laos, rencana tersebut terpaksa ditunda karena adanya masalah politik dalam negeri Kamboja. Meskipun begitu, satu tahun kemudian Kamboja akhirnya bergabung menjadi anggota ASEAN yaitu pada tanggal 16 Desember 1998. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah terbentuknya ASEAN sebagai organisasi bangsa-bangsa Asia Tenggara? Seperti disebut di atas, salah satu tekad dari pembentukan organisasi adalah untuk menjamin stabilitas dan keamanan terhadap campur tangan asing, dan pangkalan asing di wilayah mereka hanya "tempat peristirahatan sementara". Dari tujuh butir deklarasi mengapa kini hanya tinggal lima butir. Lalu bagaimana sejarah terbentuknya ASEAN sebagai organisasi bangsa-bangsa Asia Tenggara? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..

Rabu, 29 Juni 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (682): Federasi Malaysia 1965 dan Kemerdekaan Singapura; Sabah - Sarawak Soal Malaysia Agreement

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Sebelum keluar, Inggris ingin terbentuinya Federasi Malaysia (dimana pengaruh Inggris masih ada dan kepentingan Inggris terjaga). Namun dalam pembentukan Federasi Malaysia banyak pihak yang terkait. Pertama adalah Federasi Malaya yang menginginkan selain Singapoera juga Sabah dan Serawak dimasukkan yang direalisasikan tahun 1963 (Malaysia Agreeement MA63). Dalam hal ini Inggris dan Federasi Malaya diuntungkan. Kedua Indonesia bersama Filipina menentang campur tangan Inggris, khususnya soal Sabah dan Serawak. Awalnya Federasi Malaysia satu kata dengan Indonesia dan Filipina, tetapi Federasi Malysia berbalik arah lalu bekerjasama dengan Inggris. Ketiga, Singapoera sendiri yang akhirnya keluar dari MA63) tahun 1965. Kini, Sabah dan Serawak (yang tidak mendengar nasehat Indonesia dan Filipina) terperangkap dalam misi khusus Federasi Malaya.

Kemerdekaan Malaya, Pulau Pinang dan Melaka dicapai pada 31 Agustus 1957 dengan nama Federasi Malaya. Singapura masih berada di bawah kekuasaan Britania Raya pada saat itu karena letaknya yang stategis. Pada 16 September 1963, Federasi Malaya bersama-sama dengan koloni mahkota Britania, yaitu Sabah (Borneo Utara), Sarawak, dan Singapura, membentuk Malaysia (Malaysia Agreement MA63). Kesultanan Brunei, meski mulanya berminat menggabungi Federasi, menarik kembali rencana penyatuan itu karena adanya penentangan dari sebagian penduduk, juga dalih tentang pembayaran royalti minyak dan status Sultan di dalam perencanaan penyatuan. Tahun-tahun permulaan pembentukan atau kemerdekaan diganggu oleh konflik dengan Indonesia yang dicetuskan oleh Soekarno melalui Dwikora karena ketidak sesuaian dengan laporan Sekretaris Jenderal PBB menyangkut pelanggaran Manila Accord dalam pembentukan Malaysia, Dalam perjalanan federasi ini bekurang satu dimana Singapura keluar pada 1965 karena kembali adanya ketidak sesuaian dengan Perjanjian Pembentukan Malaysia. Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Federasi Malaysia dan Kemerdekaan Singapoera pada tahun 1965? Seperti disebut di atas, Singapoera keluar dari MA63 pada tahun 1965. Mengapa Sabah dan Sarawak lalu terperangkap dalam misi khusus Federasi Malaya? Lalu bagaimana Federasi Malaysia dan Kemerdekaan Singapoera pada tahun 1965? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..

Sejarah Menjadi Indonesia (681): Semua Orang Pribumi di Malaysia Bangsa Melayu; Bangsa Indonesia = Semua Warga Negara

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Di Malaysia dibagi ke dalam tiga golongan bangsa (Melayu, Cina dan India). Di Malaysia semua orang Nusantara (pribumi), apakah orang Batak, Minangkabau, Jawa atau Bugis dan beragama Islam disebut bangsa Melayu. Sebaliknya di Indonesia, semua orang Batak, Minangkabau, Jawa, Bugis atau lainnya, termasuk orang Melayu apapun agamanya disebut Bangsa Indonesia. Di Malaysia juga semua orang Indonesia (Batak, Minangkabau, Jawa, Bugis, Melayu dan lainnya) disebut bangsa/ras Melayu. Apa, iya? Bukankah tidak semua orang Indonesia beragama Islam? Nah, lo! Yang jelas di Indonesia orang Melayu hanyalah satu suku dari banyak suku yang terdapat di Indonesia.

Warga negara Malaysia keturunan Indonesia, juga dikenal sebagai Anak Dagang adalah warga negara Malaysia keturunan Indonesia. Saat ini, terdapat banyak sekali orang Melayu Malaysia yang memiliki garis keturunan dari suku-suku di Indonesia dan telah memainkan banyak peran penting didalam pembentukan dan perkembangan negara Malaysia, sebagian besar dari mereka telah berasimilasi dengan komunitas Melayu lokal dan hampir seluruh keturunan Indonesia di Malaysia telah dikelompokkan sebagai bagian dari masyarakat Melayu atau secara spesifik disebut kelompok “Anak Melayu dagang”. Sensus di Malaysia tidak mengkategorikan masyarakat yang berasal dari kelompok etnis di Indonesia sebagai kelompok etnis yang terpisah (seperti Jawa, Minangkabau, Banjar, Bugis dll), melainkan dikelompokan sebagai bagian dari masyarakat Melayu. Berbeda dengan Indonesia, di Malaysia, definisi Melayu telah diperluas ke semua orang yang bisa berbahasa Melayu, beragama Islam, dan mengikuti tradisi dan adat Melayu, dapat disebut sebagai masyarakat “Melayu”, bahkan orang asing yang menikah dengan orang Melayu dan memeluk Islam juga dapat diterima sebagai bagian dari masyarakat Melayu. Di Malaysia ada kecenderungan politik untuk mencoba menempatkan semua kelompok etnis yang bisa dan memahami bahasa Melayu dan beragama Islam di bawah satu panji - Melayu ("Jika Anda berbicara Melayu dan Anda Muslim, maka Anda Melayu"). Tidak demikian halnya di Indonesia dimana semua suku bangsa memiliki identitas budayanya masing-masing yang diakui dan dihormati oleh pemerintah. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah semua orang Nusantara (pribumi) di Malaysia disebut bangsa Melayu? Seperti disebut di atas, ada perbedaan identifikasi bangsa (Melayu) di Malysia dengan di Indonesia (semua warga negara adalah Bangsa Indonesia). Lalu bagaimana sejarah semua orang Nusantara (pribumi) di Malaysia disebut bangsa Melayu? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..

Selasa, 28 Juni 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (680): Ompung dan Eyang Nama Gelar Raja Zaman Kuno; Hyang Hang Yang Dipertuah Mpu Empung

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Ompung adalah kakek di Tanah Batak dan Eyang adalah kakek di Tanah Jawa. Dalam silsilah keluarga (batih) sebutan kakek dan cucu adalah dua sebutan yang terus berulang seperti halnya grandfather (kakek) dan grandson (cucu). Dalam tradisi, terutama di Tanah Batak, nama anak pertama adalah sebutan ayah dan cucu pertama adalah sebutan kakek. Lantas pernahkah terpikir bahwa Ompung dan Eyang berasal dari zaman kuno sebagai gelar yang sangat terhormat (Raja): Ompung di Tanah Batak yang merujuk pada Mpu dan Empung; Eyang di Tanah Jawa yang merujuk pada Hyang, Hang dan Yang di Peruah (Yang di Pertuan).

Pada zaman dahulu kala, di Jawa dikenal nama-nama terkenal dengan gelar Mpu seperti Mpu Prapanca, Mpu Grandring, Mpu Sendok, Mpu Tantular. Di wilayah Melayu (Sumatra dan Semenanjung) pada zaman dahulu dikenal gelar Hang seperti Hang Tuah, Hang Lekir dan Hang Jebat. Gelar Hang kemudian diduga menjadi Yang seperti Yang Dipertuan Agung. Pada zaman yang lebih tua, selain Hang dan Mpu disebut nama gelar Hyang seperti pada prasasti Kedoekan Boekit (682 M) yakni Dapunta Hyang Nayik (di Tanah Batak?); prasasti Talng Tuwo (684 M) Dapunta Hyang Srinagajaya (di Tanah Palembang) dan prsasati Sojomerto (700 M) Dapuntra Seildendra, tidak disebutkan gelar Hyang (di Tanah Jawa). Kini Mpu menjadi Empung di Sulawesi dan Ompung di Tanah Batak; Hyang atau Hang menjadi Eyang di Jawa.

Lantas bagaimana sejarah Ompung dan Eyang yang merujuk pada nama gelar Raja pada Zaman Kuno? Seperti disebut di atas, pada zaman dahulu kala raja memiliki gelar, tetapi kini nama-nama gelar itu hanya dikenal sebagai sebutan kakek. Lalu bagaimana sejarah Ompung dan Eyang yang merujuk pada nama gelar Raja pada Zaman Kuno? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..

Sejarah Menjadi Indonesia (679): Sabah di Borneo Utara Negeri Tambunan Kinabalu; Negeri Sibu dan Negeri Bintulu di Serawak

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Pada artikel sebelumnya telah dideskripsikan sejarah lama Serawak dimana dihubungkan dengan Kerajaan Aru di pantai timur Sumatra dan telah disinggung nama-nama lama seperti negeri-negeri Sibu dan Bintulu. Pada artikel ini dideskripsikan sejarah Sabah di Borneo Utara dekat Sulu dimana pada kawasan gunung Kinabalu terdapat nama lama negeri Tambunan.

Sabah adalah salah satu dari 13 negara bagian di Malaysia. Sabah adalah negara bagian kedua terbesar di Malaysia setelah Sarawak. Sabah juga berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Utara, Indonesia, di selatan. Ibu kota negara bagian ini adalah Kota Kinabalu. Sabah sering disebut sebagai "Negeri di Bawah Angin" yang digunakan oleh pelaut pada masa lalu untuk menggambarkan daratan di selatan sabuk topan. Asal mula nama Sabah masih belum jelas, dan banyak teori yang muncul. Salah satu teori adalah bahwa pada masa Sabah merupakan bagian dari Kesultanan Brunei, di daerah pantai wilayah tersebut banyak ditemukan pisang saba (dikenal juga dengan nama pisang menurun yang tumbuh secara luas dan populer di Brunei. Suku Bajau menyebutnya pisang jaba. Nama Saba juga merujuk pada salah satu varietas pisang dalam bahasa Tagalog dan Visaya. Selain itu, dalam bahasa Visaya kata itu juga berarti "bising". Saat Brunei menjadi salah satu negara vasal Majapahit, naskah Nagarakretagama karya Empu Prapañca menyebut wilayah yang kini Sabah dengan nama Seludang. Sementara itu, meskipun Tiongkok telah berkait dengan Pulau Borneo sejak zaman Dinasti Han, mereka tidak memiliki nama khusus untuk wilayah itu. Baru pada masa Dinasti Song, mereka menyebut Borneo dengan nama Po Ni (disebut juga Bo Ni), yang merupakan nama yang sama yang merujuk pada Kesultanan Brunei pada saat itu. Karena lokasi Sabah berhubungan dengan Brunei, terkesan bahwa Sabah adalah sebuah kata dalam bahasa Melayu Brunei yang berarti hulu atau "di arah utara". Teori lain menyatakan bahwa nama itu berasal dari kata dalam bahasa Melayu sabak yang berarti tempat gula aren diekstrak. Sabah juga merupakan satu kata dalam bahasa Arab yang berarti matahari terbit. Banyaknya teori menyebabkan asal mula sebenarnya dari nama Sabah sulit ditentukan. Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Sabah di Borneo Utara dan Negeri Tambunan di Kinabalu? Seperti disebut di atas, wilayah Sabah adalah wilayah yang sudah lama dikenal yang dihubungkan dengan Brunai dan Sulu. Lalu bagaimana sejarah Sabah di Borneo Utara dan Negeri Tambunan di Kinabalu? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..

Senin, 27 Juni 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (678): Serawak dan Kerajaan Aru di Padang Lawas; James Brooke dari Tapanoeli Koloni Serawak 1841

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Jauh sebelum dikenal nama Serawak di Borneo Utara, sudah dikenal nama Brunai. Sejak kehadiran orang Eropa, pelaut Portugis yang mengunjungi Broenai tahun 1524, sejak itu nama peta pulau disebut Borneo (merujuk pada nama Brunai). Bagaimana dengan wilayah Serawak ketika Brunai telah menjadi pelabuhan ramai dalam aktivitas perdagangan?

Sarawak, populer dengan julukan Bumi Kenyalang secara de facto merupakan sebuah negara berdaulat yang merdeka pada 22 Juli 1963, dan secara de jure juga termasuk sebagai salah satu negara bagian di Malaysia. Negara bagian ini memiliki otonomi dalam pemerintahan, imigrasi, dan yudisier yang berbeda dari negara-negara bagian di Semenanjung Malaysia. Sarawak terletak di Barat Laut Borneo dan berbatasan dengan Negara Bagian Sabah di Timur Laut, Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Kalimantan Timur, dan Provinsi Kalimantan Utara di bagian Selatan, juga berpapasan dengan Brunei di Timur Laut. Berdasarkan penjelasan yang paling umum diterima, kata "Sarawak" berasal dari bahasa Melayu Sarawak, serawak, yang berarti antimon. Sementara itu, menurut penjelasan lain yang populer, kata Serawak merupakan pemendekan dari empat kata Melayu yang konon pernah diucapkan oleh Pangeran Muda Hashim (paman Sultan Brunei), Saya serah pada awak (Aku menyerahkannya kepadamu), saat ia memberikan Sarawak kepada James Brooke pada 1841. Namun, penjelasan semacam itu tidak benar, karena wilayah tersebut sudah dijuluki Sarawak sebelum kedatangan Brooke, dan kata "awak" tak pernah ada dalam kosakata Melayu Sarawak sebelum pembentukan negara Malaysia. Sarawak juga dijuluki "Tanah Rangkong" (Bumi Kenyalang), karena burung rangkong merupakan salah satu simbol kebudayaan yang penting bagi suku Dayak di Sarawak. Selain itu, terdapat sebuah kepercayaan setempat yang menyatakan bahwa burung rangkong akan mendatangkan keberuntungan jika terlihat terbang di atas permukiman. Di Sarawak juga terdapat 8 dari 54 spesies rangkong dunia, dan rangkong badak adalah burung resmi negara bagian Sarawak. Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Serawak dan Kerajaan Aru di pantai timur Sumatra? Seperti disebut di atas, tempo doeloe Kerajaan Aroe di pantai timur Sumatra, tempo kolonial Eropa James Brooke dari Tapanoeli 1841. Lalu bagaimana sejarah Serawak dan Kerajaan Aru di pantai timur Sumatra? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..

Sejarah Menjadi Indonesia (677): Brunai dan Kerajaan Aru di Pantai Timur Sumatra; Awal Sejarah Kerajaan Brunai Borneo Utara

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Dalam memahami sejarah awal Brunai di Borneo utara harulah memperhatikan bnkti-bukti awal, antara lain peta Ptolomeus abad ke-2, prasasti Muara Kaman, Koetai abad ke-5, prasasti Laguna, Mainla (Luzon) 900 M dan prasasti Ligor dan khususnya prasasti Trenggano 1326 (atau 1386). Ini mengindikasikan bahwa wilayah Borneo Utara yang sekarang khususnya wilayah Brunai adalah wilayah yang sudah dikenal luas sejak zaman kuno. Selanjutnya bagaimana? Apa hubungannya dengan Kerajaan Aru di pantai timur Sumatra?

Brunei Darussalam atau Brunei adalah negara berdaulat di Asia Tenggara yang terletak di pantai utara pulau Kalimantan. Negara ini memiliki wilayah seluas 5.765 km² yang menempati pulau Kalimantan dengan garis pantai seluruhnya menyentuh Laut Tiongkok Selatan. Wilayahnya dipisahkan ke dalam negara bagian di Malaysia Sarawak. Replika stupa yang dapat ditemukan di Pusat Sejarah Brunei menjelaskan bahwa agama Hindu-Buddha pada suatu masa dahulu pernah dianut oleh penduduk Brunei. Sebab telah menjadi kebiasaan dari para musafir agama tersebut, apabila mereka sampai di suatu tempat, mereka akan mendirikan stupa sebagai tanda serta pemberitahuan mengenai kedatangan mereka untuk mengembangkan agama tersebut di tempat itu. Replika batu nisan P'u Kung Chih Mu, batu nisan Rokayah binti Sultan Abdul Majid ibni Hasan ibni Muhammad Shah Al-Sultan, dan batu nisan Sayid Alwi Ba-Faqih (Mufaqih) pula menggambarkan mengenai kedatangan agama Islam di Brunei yang dibawa oleh musafir, pedagang dan mubalig-mubaliq Islam, sehingga agama Islam itu berpengaruh dan mendapat tempat baik penduduk lokal maupun keluarga kerajaan Brunei. Islam mulai berkembang dengan sangat pesat di Kesultanan Brunei sejak Syarif Ali diangkat menjadi Sultan Brunei ke-3 pada tahun 1425 M karena sultan yang sebelumnya mengahwini puterinya dengan Syarif Ali. Sultan Syarif Ali adalah seorang Ahlul Bait dari keturunan / pancir dari Cucu Rasulullah Shalallahualaihi Wassallam yaitu Amirul Mukminin Hasan / Syaidina Hasan sebagaimana yang tercantum dalam Batu Tarsilah / prasasti dari abad ke-18 M yang terdapat di Bandar Sri Begawan, Brunei. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Brunai dan Kerajaan Aru di Pantai Timur Sumatra? Seperti disebut di atas, awal sejarah Kerajaan Brunai di Borneo Utara satu hal dan awal sejarah wilayah di Borneo Utara adalah hal lain lagi. Lalu bagaimana sejarah sejarah Brunai dan Kerajaan Aru di Pantai Timur Sumatra? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..

Minggu, 26 Juni 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (676): Kerajaan Pedalaman di Sumatra Interaksi Dunia Luar; Kerajaan Minangkabau dan Kerajaan Aru

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Satu era berama Kerajaan Malaka di pantai (barat Semenanjung Malaya) adalah dua kerajaan di pedalaman (Sumatra bagian utara) yakni Kerajaan Aru dan Kerajaan Minangkabau (yang kemudian nama yang dipertukarkan dengan Pagaroejoeng). Bagaimana hubungan antara kerajaan-kerajaan di pedalaman Sumatra dengan kerajaan pantai Malaka dan bagaimana pula hubungan antara dua kerajaan di pedalaman Sumatra (Aru Batak Kingdom dam Minangkabau Pangaroejoeng Kingdom. Pada masa ini ada yang mempersepsikan dua kerajaan pedalaman ini berada di wilayah pesisir, ada pula yang menulis Kerajaaan Aru berawal di daerah aliran sungai Baroemoen, namun disebut berada di daerah aliran sungai Deli. Bagaimana bisa?

Kesultanan Aru atau Haru merupakan sebuah kerajaan yang pernah berdiri di wilayah pantai timur Sumatra Utara sekarang. Nama kerajaan ini disebutkan dalam Pararaton, yang tepatnya disebut di dalam Sumpah Palapa: “Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa”. Sebaliknya tidak tercatat lagi dalam Kakawin Nagarakretagama sebagai negara bawahan sebagaimana tertulis dalam pupuh 13 paragraf 1 dan 2. Sementara itu dalam Suma Oriental disebutkan bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan yang kuat Penguasa Terbesar di Sumatra yang memiliki wilayah kekuasaan yang luas dan memiliki pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh kapal-kapal asing. Dalam laporannya, Tomé Pires juga mendeskripsikan akan kehebatan armada kapal laut kerajaan Aru yang mampu melakukan pengontrolan lalu lintas kapal-kapal yang melalui Selat Melaka pada masa itu. Dalam Sulalatus Salatin Haru disebut sebagai kerajaan yang setara kebesarannya dengan Malaka dan Pasai. Peninggalan arkeologi yang dihubungkan dengan Kerajaan Haru telah ditemukan di Kota China dan Kota Rantang. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah kerajaan pedalaman di Sumatra memiliki interaksi dengan dunia luar? Seperti disebut di atas, ada dua kerajaan pedalaman di Sumatra yakni Kerajaan Minangkabau dan Kerajaan Aru. Lalu bagaimana sejarah kerajaan pedalaman di Sumatra memiliki interaksi dengan dunia luar? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Menjadi Indonesia (675): Terbentuk Kerajaan-Kerajaan Wilayah Pesisir Pantai; Hubungan Bilateral Kerajaan di Pedalaman

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Tidak banyak jumlah kerajaan lama di pedalaman, sebaliknya begitu banyak terbentuk kerajaan-kerajaan di wilayah pesisir (pantai). Mengapa bisa begitu? Di wilayah pedalaman awalnya bermula saru daratan, antara satu tempat dengan tempat lain yang dihubungkan jalur perjalanan, dimana antara satu penduduk dengan penduduk yang lain berinteraksi. Sebaliknya untuk mengakses wilayah pedalaman dapat diakses dari berbagai arah angin dan berbagai teluk yang ada. Hal itulah mengapa pada akhirnya terbentuk banyak kerajaan-kerajaan di wilayah pesisir.

Dalam sejarah zaman kuno di nusantara hanya beberapa nama kerajaan-kerajaan yang catatannya diketahui, apakah dalam prasasti atau bentuk-bentuk data yang lainnya. Kerajaan-kerajaan tersebut antara lain Sriwijaya, Singhasari, Madjaphit, Malaka, Atjeh, Aru, Demak, Banten, Gowa, Brunai dan Minangkabau. Diantara kerajaan yang disebut tersebut hanya tiga kerajaan yang berada di pedalaman (Singhasari, Aru dan Minangkabau). Sebagai kerajaan-kerajaan di pantai, memiliki kecenderungan mengembangkan perdagangan menjadi jauh di lautan diantara daratan dan juga mengabadikan perdagangan menjadi jauh ke pedalaman. Oleh karena itu, kerajaan-kerajaan di wilayah pantai menjadi jauh lebih di kenal di manca negara (Eropa dan Tiongkok).

Lantas bagaimana sejarah terbentuk kerajaan-kerajaan di wilayah pesisir pantai? Seperti disebut di atas, ada perbedaan wilayah pedalaman dan wilayah pantai dimana terbentuk kerajaan-kerajaan di masa lampau. Lalu bagaimana sejarah terbentuk kerajaan-kerajaan di wilayah pesisir pantai? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, 25 Juni 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (674):Silat Lidah Sejarah Melayu? Menulis Ulang Sejarah Melayu di Barat Malaya dan Timur Sumatra

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Pada era Hindia Belanda, para peneliti telah menguji catatan sejarah Melayu yang telah disalin dari aksara Jawi ke aksara Latin seperti Sulalat-al-Salatin. Banyak materi dalam teks-teks itu tidak dapat dibuktikan dan banyak yang terbukti salah, yang kemudian disimpulkan teks-teks itu adalah mitos dalam bentuk cerita (hikayat), dan bukan buku fakta sejarah yang dapat dirujuk dalam penyelidikan sejarah. Bagaimana dengan narasi sejarah Melayu yang ada sekarang? Apakah silat lidah masa lampau masih dipertahankan pada masa ini?

Sejarah Melayu oleh Ahmad Dahlan. Tersaji dalam buku ini sejarah bangsa dan Kemaharajaan Melayu yang cukup komprehensif. Bersandarkan pada banyak sumber-seperti Sulalatus Salatin karya Tun Sri Lanang-penelitian lapangan, dan wawancara, penulis memberikan pandangan alternatif tentang sejarah Melayu. Buku ini memperlihatkan, Kemaharajaan Melayu yang bermula dari Bukit Siguntang--kemudian meluas sampai ke Tanah Semenanjung, Kepulauan Riau dan Riau, serta kawasan lain--merupakan kemaharajaan yang mapan. Selama ini historiografi Kemaharajaan Melayu bersumber pada, misalnya, karya Raja Ali Haji Tuhfat al-Nafis. Kendati demikian, tulis H. Tenas Effendy, budayawan Melayu, dalam pengantarnya, "Buku ini menempatkan diri dengan arif dan bijaksana dalam menyikapi dominasi opini dalam sejarah Kemaharajaan Melayu [...] Penulis buku ini mengambil jalan tengah sebagai "pendamai" dan "penyejuk" kelompok-kelompok yang pernah bersaing di gelanggang politik Kemaharajaan Melayu di masa lalu. Sikap ini mencerminkan kearifan penulis dalam memilih dan memilah bahan yang dihimpunnya." Diperlihatan oleh penulis, perlawanan bangsa Melayu terhadap penjajah di masa silam-seperti Laksamana Hang Nadim dan Raja Haji Fisabilillah-membuktikan bangsa ini berani mati demi membela kedaulatan, harkat, dan martabatnya. Demikian pula dengan kaum cendekiawan Islam di Pulau Penyengat yang menentang Belanda melalui pemikiran yang bernas dan jernih, diikuti hubungan diplomasi dengan bangsa maju di masa itu seperti Turki dan Jepang, membuktikan bangsa Melayu juga memilih jalan cerdas dalam memperjuangkan kedaulatan negerinyai (kemendagri.go.id)

Lantas bagaimana sejarah silat lidah sejarah Melayu? Seperti disebut di atas, sejarah Melayu jelas ada tetapi apa yang tertulis pada zaman lampau yang diyakni hingga kini sebahgai fakta sejarah, apakah masih perlu diteruskan. Lalu bagaimana sejarah silat lidah sejarah Melayu? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..

Sejarah Menjadi Indonesia (673): Pantai Timur Sumatra, Masa ke Masa; Kadaram Muar dan Malaka Malaya Malay Malaysia

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Sejarah pantai timur Sumatra adalah bagian dari Sumatra bagian utara. Catatan Sumatra bagian utara sudah ada sejak era Ptolomeus abad ke-2 dan dikenal nama Barus hingga abad ke-7 (sumber impor kamper). Catatan pantai timur Sumatra tertua terdapat dalam prasasti-prasasti abad ke-7 (seperti prasasti Kedoekan Boekit 682 M), kemudian prasasti Laguna 900 M dan prasasti Tanjore 1030 M. Catatan pantai timur Sumatra semakin kaya dengan prasasti-prasasti berikutnya plus candi-candi serta laporan orang Moor, Italia, Arab, Tiongkok dan Jawa plus Portugis. Dalam konteks inilah muncul nama-nama di pantai barat (semeanjung) Malaya, dari nama Kadaram hingga nama Malaysia.

Sejarah masa lampau dan sejarah masa kini haruslah bersesuain (bersifat continuum). Demikian juga sejarah di pantai timur Sumatra (vis-à-vis pantai barat Semenanjung Malaya). Satu yang perlu ditambahkan dalam sejarah kuno pantai timur Sumatra haruslah dihubungkan dengan geomorfologi wilayah dimana sejarah terbuktukm dicatat dan terus lestari. Satu bukti yang tetap lestari tentang sejarah kuno di pantai timur Sumatra, ridak hanya prasasti-prasasti juga ada candi-candi yang sangat banyak terutama di daerah aliran sungai Barumun (Padang Lawas) yang merupakan jarak terdekat ke pantai barat Semenanjung dari wilayah mana pun. Bukti-bukti sejarah yang juga masih lestari hingga ini hari, yang jarang disinggung para ahli sejarah, adalah bahasa dan budaya Melayu di satu sisi dan bahasa dan budaya Batak di sisi lain. Dalam hubungan ini, di wilayah Batak di pantai timur Sumatra (Padang Lawas) aspek bahasa dan budaya banyak yang bisa menjelaskan sejarah lama. Boleh jadi nama Malaka (yang muncul tahun 1400) berasal dari nama pohon Balaka di Padang Lawas. Bandingkan bukti-bukti kuno di Padang Lawas dengan bukti-bukti kuno di Malaka, tidak ada bukti kuno di Malaka (hanya berada di kawasan kecil di Kedah). Disebut Malaka sangat mashur, namun bukti sejarah yang ada hanya berasal dari sejarah Eropa (sejak Portugis dan disusul Belanda/VOC).

Lantas bagaimana sejarah pantai timur Sumatra dari masa ke masa? Seperti disebut di atas, sejarah di kawasan adalah berasal dari sejarah kuno, dan bahkan masih eksis. Kawasan ini tidak hanya strategis ke selatan (Palembang) juga ke utara di Atjeh (Pasai) dan tentu saja di Malaka (Semenanjung Malaya). Lalu bagaimana sejarah pantai timur Sumatra dari masa ke masa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..

Jumat, 24 Juni 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (672): Bahasa Indonesia vs Bahasa Melayu; Silat Lidah Persepsi Indonesia Ala Mahathir Mohamad

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Dalam artikel sebelumnya, tentang ilusi Mahathir Mohamad yang harus dianggap serius. Soalannya terus berlanjut, seperti yang diduga. Mahathir Mohamad memberi klarifikasi. Ibarat seorang ayah menasehati anaknya yang di dengar sediri oleh para tetangga mereka: ‘Nak, jangan mencuri, jangan tiru tetangga kita yang sebelah rumah’. Dalam pernyatan itu sang anak tidak terinformasikan apakah sudah pernah mencuri, demikian juga tetangga sebelah rumah juga tidak terinformasikan apakah pernah mencuri. Namun nasehat tetaplah nasehat, tetapi nasehat yang membuat orang lain bereaksi. Ketika semua tetangga protes, sang ayah tersebut hanya menjawab ‘ngeles’ enteng: ‘saya hanya menasehati anak saya jangan sampai mencuri, saya tidak katakan tetangga telah mencuri’. Dalam hal ini cara berbahasa dapat menimbulkan masalah. Itulah yang disebut bersilat lidah.

 

Anggota DPR Tanggapi Pernyataan Mahathir Mohamad Soal Kepri: Nostalgia, Tak Perlu Dianggap Serius! (KOMPASTV); Begini Tanggapan Tegas Kemenlu RI soal Klaim Mahathir: Sampai Kapan Pun Kepri Milik Indonesia (Tribunnews); Klaim 'Tanah Melayu', Eks PM Malaysia Diprotes Warganya Sendiri (VIVACOID); Tanggapi Mahathir, KSP: Kepri Wilayah Indonesia! (BeritaSatu); Tanggapi Mahathir, PDIP: Hormati Kedaulatan Setiap Negara! (detikcom); Kepulauan Riau Diklaim Mahathir Milik Malaysia, Ormas di Yogyakarta Gelar Demo (iNews id); Warganet Indonesia Geruduk Akun Instagram Mahathir (aceh.tribunnews.com); Netizen Indonesia dan Singapura Kompak Gempur Instagram Mahathir Mohamad (mediakepri.co.id); Kedubes Malaysia: Komentar Mahathir Soal Kepri Bukan Sikap Pemerintah Malaysia (kumparan.com); Saya tak minta Malaysia tuntut Singapura, Kepulauan Riau - Dr M (KiniTV).

Lantas bagaimana sejarah persepsi Bahasa Indonesia versus bahasa Melayu di Malaysia? Seperti disebut di atas, silat lidah ala Mahathir Mohamad di Malaysia diperersepsikan berbeda di Indonesia. Tentulah tidak hanya itu, soal kosa kata bahasa Melayu di Malaysia yang berbeda dengan kosa kata Bahasa Indonesia bisa salah persepsi. Lalu bagaimana sejarah Bahasa Indonesia versus bahasa Melayu di Malaysia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.