Minggu, 04 Februari 2018

Sejarah Jakarta (21): Rekor Pertemuan Tim Persija vs PSMS dan Pertandingan Klasik; Memori 26 Desember 1954 di Stadion Ikada

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Baru saja Persija Jakarta mengalahkan lawannya dengan skor 3-1 dalam perempat final (8 Besar) turnamen Piala Presiden 2018. Dengan kemenangan ini, Persija Jakarta menantang PSMS Medan di partai semi final. PSMS Medan sehari sebelumnya berhasil mengalahkan Persebaya Surabaya. Tiga kesebelasan ini mengingatkan kembali dengan nama-nama tim kesebelasan legandaris di era sepakbola perserikatan. Pertandingan Persija Jakarta vs PSMS akan ditunggu para gibol dengan sangat antusias, karena pertemuan PSMS dengan Persija masuk dalam label El Clasico di sepak bola Indonesia.

Stadion IKADA  Djakarta 1955
Dalam partai semi final Piala Presiden 2018 menggunakan format pertandingan home (leg-1) dan away (leg-2). Format ini pernah diterapkan pada Kejuaraan Antar Perserikatan pada tahun 1967 yang diselenggarakan di Stadion Utama Senayan. Namun kini, PSMS pada leg pertama menjadi tuan rumah dan pada leg-2 Persija menjadi tuan rumah. Masalahnya, Stadion Teladan Medan (yang dibangun 1952) proses renovasinya belum selesai, sementara Stadion Gelora Bung Karno Senayan baru saja selesai direnovasi dan Persija menginngikan menjadi laga kandangnya melawan PSMS. Anehnya, PSMS yang notabene tidak memiliki stadion bersedia memilih kandang di kandang Persija. Jika ini yang terjadi maka akan teringat memori tahun 1967

Disebut pertandingan El Clasico, pertemuan antara Persija dan PSMS sudah terjadi sejak tempo doeloe dan telah dilakukan untuk yang kesekian kali. Pertandingan PSMS vs Persija kali ini akan merecall kembali memori kejadian 26 Desember 1954 di Stadion Ikada Jakarta. Pertandingan ini adalah pertemuan kali kedua antara tim Persija dan PSMS. Pertandingan ini juga merupakan pertandingan terakhir dalam partai 6 Besar Kejuaraan Antar Perserikatan 1953/1954 (partai menentukan untuk mnjadi juara: Persija atau PSMS).

Sabtu, 03 Februari 2018

Sejarah Kota Surabaya (21): Pertandingan Klasik Persebaya vs PSMS Medan; Sejarah SVB Jadi Persebaya, OSVB Berubah PSMS

*Semua artikel Sejarah Kota Surabaya dalam blog ini Klik Disini.


Pertandingan antara Persebaya Surabaya melawan PSMS Medan sore ini dalam perempat final Piala Presiden 2018 adalah kelanjutan, garis continuum pertandingan-pertandingan tim sepak bola Surabaya dengan tim sepak bola Medan sejak tempo doeloe (klasik).  Dengan kata lain jika di masa lampaui gengsinya Kota Surabaya vs Kota Medan, tetapi pada masa kini Persebaya vs PSMS.


Docter Djawa School Voetbal Club di Batavia, 1903
Pertandingan antar kota Surabaya vs Medan, tidak hanya Persebaya vs PSMS, tetapi juga pernah terjadi (pada era kompetisi Galatama) antara Niac Mitra vs Pardedetex. Jauh ke belakang, pada masa lampau (sebelum 1951), juga terjadi pertandingan antara SVB Surabaya vs OSVB Medan. Pada tahun 1938, tim nasional NIVU yang diperkuat banyak pemain Surabaya sebelum menuju Piala Dunia di Prancis melakukan uji tanding dengan tim Medan.

Jelang melihat pertandingan prospektif sore ini antara Persebaya vs PSMS, coba kita kembali ke masa lampau (retrospektif) bagaimana dinamika antara tim-tim Surabaya dengan tim-tim Medan. Dengan cara begitu, kita dapat memahami mengapa pertandingan Persebaya vs PSMS diberi label pertandingan klasik. Satu hal yang perlu dideskripsikan adalah bahwa klub Persebaya Surabaya masa kini merupakan wujud metamorfosis PSV/PSS dan klub PSMS Medan adalah wujud metamorfosis OSVB.  

Kamis, 01 Februari 2018

Sejarah Jakarta (20): Sejarah Nama Jalan; Tan Boen Tjit (Buncit) di Mampang dan Usulan Nama Jalan Abdul Haris Nasution

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Hari ini Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan menunda sosialisasi perubahan nama jalan terusan Rasuna Said, Jalan Mampang Prapatan dan Jalan Warung Jati Barat (Warung Buncit) menjadi Jalan AH Nasution. Usulan ini muncul dari Ikatan Keluarga Nasution tetapi ada penolakan dari pihak tertentu. Gubernur Anies Baswedan disamping masih memerlukan kajian dan juga menginginkan partisipasi sejarawan, budayawan dan ahli tata kota dalam penentuan nama jalan juga ingin meninjau Surat Keputusan Gubernur Nomor 28 Tahun 2009 terkait pedoman penetapan nama jalan.

Peta 1938
Sejarah Jenderal Abdul Haris Nasution sudah diketahui sejak lama dan siapa Abdul Haris Nasution sudah dipahami secara luas oleh rakyat Indonesia. Sementara sejarah Mampang dan sejarah Buncit masih simpang siur. Disebut bahwa Mampang dan Buncit berkaitan dengan memori kolektif warga Betawi. Namun tidak bisa dijelaskan memori kolektif dalam hal apa dan sejak kapan memori kolektif itu terbentuk.

Artikel ini akan mendeskripsikan sejarah perubahan nama-nama jalan di Jakarta, sejak era Batavia hingga Pasca Pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia (1950). Dalam artikel ini juga akan dideskripsikan asal-usul nama Mampang dan asal-usul nama Buncit. Nama Buncit diduga kuat adalah seorang Tionghoa pemilik lahan di Mampang dan sekitarnya yang bernama Tan Boen Tjit. Deskripsi ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman para sejarawan (yang belum menemukan data).

Rabu, 31 Januari 2018

Sejarah Jakarta (19): 'Gerhana Bulan Total' 31 Maret 1866 Tempo Dulu Tidak Seheboh 'Super Blue Blood Moon' 31 Januari 2018

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Baru saja kita melewati peristiwa alam yang spektakuler, gerhana bulan total yang istimewa yang disebut  Super Blue Blood Moon tepatnya tanggal 31 Januari 2018 yang dimulai pukul 20.00 WIB. Gerhana bulan total ini disebut istimewa karena hanya terjadi sekali dalam 150 tahun. Berita-berita resmi (seperti LAPAN) menginformasikan bahwa peristiwa Super Blue Blood Moon ini terjadi pada tanggal 31 Maret 1866.

Gerhana bulan total istimewa (three lunar events collide)
Gerhana bulan total terjadi saat matahari, bumi, dan bulan berada pada satu garis lurus. Peristiwa ini sedikitnya terjadi dua kali dalam satu tahun. Gerhana bulan istimewa ini tidak hanya gerhana total (total lunar eclips) tetapi juga terjadi fullmoon (a blue moon) dan supermoon. Pada hari ini fullmoon, supermoon, dan eclips terjadi secara bersama-sama (three lunar events collide). Inilah yang disebut Super Blue Blood Moon yang hanya terjadi berulang setiap 150 tahun.

Berita-berita Super Blue Blood Moon yang sekarang begitu heboh. Setiap orang tampaknya mengetahui akan terjadinya peristiwa. Ini terbantu karena setiap orang di ear IT ini sudah terhubung satu sama lain (era zaman now) sehingga informasi dari titik manapun di dunia ini menyebar dan beredar ke semua penjuru secara cepat dan masif. Lantas bagaimana, fenomena alam yang sama ini di masa tempo doeloe. Sebagaimana diyakini Super Blue Blood Moon terjadi pada tanggal 31 Maret 1866. Apakah berita Super Blue Blood Moon kala itu seheboh sekarang? Mari kita lacak!

Sejarah Jakarta (18): Benteng-Benteng VOC di Batavia dan Sekitar; Benteng Terjauh Fort Padjadjaran, Bogor Hulu Sungai Tjiliwong

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Benteng Batavia (Casteel Batavia) adalah benteng pertama di Batavia. Benteng Batavia  dibangun seiring dengan penetapan muara sungai Tjiliwong sebagai ibukota (stad) VOC yang baru, sejak 1619. Casteel Batavia tentu saja bukan satu-satunya benteng VOC di Batavia. Benteng sendiri bagi VOC dari sisi luar adalah untuk fungsi pertahanan, tetapi dari sisi dalam benteng juga berfungsi sebagai komplek bangunan untuk berbagai hal: pimpinan, administrasi, gudang komoditi, gudang senjata, barak pekerja, barak tentara dan sebagainya. Benteng Batavia (Casteel Batavia) adalah benteng terbesar VOC di Oost Indie (Hindia Timur).

Stad Batavia dan benteng sekitar Batavia (Peta 1660)
Benteng-benteng VOC tidak hanya terdapat di Batavia. Benteng VOC juga terdapat di Ternate, Tidore dan Amboina dan Macassar. Benteng-benteng VOC lainnya berada di Atjeh, Baros, Singkel dan Padang serta (pulau) Gontong di Riaouw di Sumatra. Benteng-benteng di timur Batavia diantaranya benteng Missier di Tegal, benteng-benteng di Semarang dan sekitar serta benteng-benteng di di Soerabaja dan sekitar. Di sebelah barat Batavia juga ditemukan benteng VOC di Banten. Satu benteng VOC yang berada di selatan Batavia adalah benteng Padjadjaran.   

Benteng di Batavia dan sekitar terbilang cukup banyak. Jumlah benteng VOC di sekitar Batavia diperkirakan sebanyak 20 buah. Benteng-benteng dibangun sesuai dengan situasi dan kondisi wilayah. Lokasi dimana benteng dibangun ditentukan atas pertimbangan potensi (ekonomi) wilayah dan kemungkinan munculnya ancaman (serangan) di wilayah sekitar. Pembangunan benteng adalah investasi pertama VOC di wilayah yang baru.

Selasa, 30 Januari 2018

Sejarah Bogor (24): Sejarah Cibinong dan Scipio Isebrandus Helvetius van Riemsdijk; Land Tjibinong Dipecah Jadi Oost dan West

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disin


Sejak era VOC, lahan-lahan di sepanjang sisi barat dan sisi timur sungai Tjiliwong, dari Tjililitan hingga Buitenzorg (baca: Bogor) sudah dipetakan dan dijual ke pihak swasta. Bahkan van Imhof, Gubernur Jenderal kemudian membeli lahan di Land Kampong Baroe yang sudah dipegang swasta. Di lahan tersebut, van Imhoff tahun 1745 membangun rumah villa untuk tempat peristirahatannya.  Villa milik van Imhoff inilah kelak yang menjadi Istana Buitenzorg (baca Istana Bogor yang sekarang).

Peta Cibinong, 1901
Pada tahun 1809 Pemerintahan Hindia Belanda, Gubernur Jenderal Daendels ingin membangun kota Buitenzorg. Persil-persil lahan di Land Kampong Baroe dibeli dari swasta. Dalam pembelian ini 1/10 menjadi bagian pribadi Daendels. Sejak itulah villa Buitenzorg diubah menjadi Istana Buitenzorg. Sedangkan lahan-lahan pemerintah disekitarnya disewakan kepada swasta. Inilah awal kota Buitenzorg sebagai milik pemerintah minus persil-persil yang menjadi bagian Daendels.

Program lainnya dari Gubernur Jenderal Daendels adalah membangun jalan pos Trans-Java dari Anjer hingga Panaroekan. Jalan pos (groote weg) ini dari Batavia menuju Buitenzorg, lalu melewati Tjisaroea, Tjianjoer, Baybang, Sumadang hingga ke Cheribon. Adanya jalan pos ini aliran komoditi kopi yang sudah menghasilkan di Preanger megalir ke Batavia semakin deras. Sementara itu Daendels membuat kontrak-kontrak baru dengan Bupati Tjiandjoer dan Bupati Bandoeng untuk menghasilkn kopi yang lebih banyak.