Rabu, 31 Mei 2023

Sejarah Pendidikan (15): Pionir Pendidikan Indonesia Semasa Willem Iskander, Haji Dja Endar Moeda Soetan Casajangan SG Moelia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Pendidikan dalam blog ini Klik Disini

Banyak tokoh pendidikan Indonesia. Mereka adalah pionir dalam dalam mencerdasakan bangsa. Pionir pendidikan Indonesia adalah guru Willem Iskander (Sati Nasoetion). Lalu kemudian bermunculan guru-guru selanjutnya. Salah satu guru tersebut adalah Dja Endar Moeda dengan misinya Pendidikan dan jurnalis sama pentingnya: sama-sama mencerdasakan bangsa. Lalu kemudian muncul tokoh Pendidikan Soetan Casajangan (sarjana Pendidikan Indonesia pertama, lulus di Belanda tahun 1911). Satu generasi dengan Raden Mas Soewardi Soerjaningrat adalah guru Soetan Goenoeng Moelia.


Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, sejak 1923 menjadi Ki Hadjar Dewantara lahir 2 Mei 1889 adalah bangsawan Jawa, aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia guru bangsa, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan pribumi. Ia pendiri Taman Siswa, lembaga pendidikan. Pada tahun 1959 atas jasanya mengembangkan pendidikan, Ki Hadjar Dewantara dianugerahi gelar Bapak Pendidikan Nasional dan tanggal kelahirannya diperingati Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Ia dikukuhkan pahlawan nasional 28 November 1959. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS, sempat melanjukan pendidikan di STOVIA. Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi pelajar Indische Vereeniging. Tahun 1913 dia mendirikan Indonesisch Pers-bureau. Ia memperoleh Europeesche Akta, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi. Soewardi kembali ke tanah air September 1919. Pada tanggal 3 Juli 1922, ia mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta. Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia di Kota Yogyakarta  26 April 1959. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah pionir pendidikan Indonesia semasa guru Willem Iskander, Dja Endar Moeda, Soetan Casajangan dan SG Moelia? Seperti disebut di atas, banyak tokoh pendidikan Indonesia sebagai guru. Jasa-jasa guru juga banyak. Namun pada masa kini guru dianggap pahlawan tanpa jasa. Okelah, tetapi jangan sampai jasa mereka tidak tertulis dalam narasi Sejarah Menjadi Indonesia. Lalu bagaimana sejarah pionir pendidikan Indonesia semasa guru Willem Iskander, Dja Endar Moeda, Soetan Casajangan dan SG Moelia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyuwangi (15):Pelabuhan di Kota Banyuwangi, Dimana Kapan? Pelabuhan Banjoewangi, Pelabuhan Boom, Masa Kini


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Ada yang menyebut Pelabuhan Boom sudah eksis sejak era Majapahit? Bagaimana bisa. Yang jelas pelabuhan tertua di wilayah Banyuwangi berada di Balambangan di daerah aliran sungai Blambangan (kini sungai Setail). Kota Banyuwangi sendiri adalah kota baru, tempat pemukiman baru yang terbentuk pada era VOC. Lalu apakah sudah adalah Pelabuhan Boom? Namun semua itu adalah prosesnya dari awal hingga era Pelabuhan Boom dan kini era Pelabuhan Ketapang.


Pelabuhan Ketapang adalah sebuah pelabuhan feri di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali via perhubungan laut (Selat Bali). Pelabuhan dapat dicapai dengan melewati Jalan Gatot Subroto. Pelabuhan Ketapang berada dalam naungan dan pengelolaan dari ASDP Indonesia Ferry. Pelabuhan ini dipilih para wisatawan yang ingin menuju Pulau Bali menggunakan jalur darat. Setiap harinya, ratusan perjalanan kapal feri melayani arus penumpang dan kendaraan dari dan ke Pulau Bali melalui Pelabuhan Gilimanuk di Bali. Rata-rata durasi perjalanan yang diperlukan antara Ketapang - Gilimanuk atau sebaliknya dengan feri ini adalah sekitar 1 jam. Pelabuhan ini akan terintegrasi dengan Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi yang masih dalam tahapan perencanaan (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah pelabuhan di kota Banyuwangi, dimana dan kapan? Seperti disebut di atas di wilayah Banyuwangi juga terdapat pelabuhan sejak masa lampau. Pelabuhan di Banyuwangi masa ke masa Pelabuhan Boom hingga pelabuhan masa kini di Ketapang. Lalu bagaimana sejarah pelabuhan di kota Banyuwangi, dimana dan kapan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Selasa, 30 Mei 2023

Sejarah Pendidikan (14): Sekolah Tinggi Era Hindia Belanda, THS, RHS dan GHS; Cikal Bakal Terbentuk Universitas di Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Pendidikan dalam blog ini Klik Disini

Sekolah tinggi adalah sekolah tertinggi, dimana Pendidikan tertinggi dapat dicapai. Sekolah tinggi (hoogeschool) bermula pada Pemerintah Hindia Belanda dengan didirikannya Technich Hoogeschool (THS) di Bandoeng tahun 1920 lalu kemudian diikuti pendirian Rechthoogeschhol (RHS) dan Geneeskundige Hoogeschool (GHS) di Batavia. Pada akhir Pemerintah Hindia Belanda dibentuk universitas (Universiteit van Indonesia) yang menjadi cikal bakal pembentukan sejumlah universitas di Indonesia.


Sejarah perguruan tinggi di Indonesia bermula era Pemerintah Hindia Belanda. Rintisan hanya di bidang kesehatan, tahun 1902 di Batavia didirikan STOVIA kemudian NIAS tahun 1913 di Surabaya. Ketika STOVIA tidak menerima didirikanlah sekolah GHS tahun 1927. Di Bandung tahun 1920 didirikan THS (embrio ITB). Pada tahun 1922 didirikan Textil Inrichting Bandoeng (TIB) embrio Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung, sekolah hukum (Rechts School) kemudian ditingkatkan menjadi Recht hooge School (1924). Di Jakarta tahun 1940 didirikan Faculteit de Letterenen Wijsbegeste menjadi Fakultas Sastra dan Filsafat di Indonesia. Di Bogor didirikan sekolah tinggi pertanian tahun 1941 sekarang IPB. Zaman Jepang sampai awal kemerdekaan, GHS ditutup dan atas inisiatif pemerintahan militer, GHS dan NIAS dijadikan satu dan diberikan nama Ika Dai Gakko (Sekolah Tinggi Kedokteran). Dua hari setelah proklamasi, pemerintah Indonesia mendirikan Balai Pergoeroean Tinggi RI yang memiliki Pergoeroean Tinggi Kedokteran, dibuka tanggal 1 Oktober 1945, pada masa perang kemerdekaan mengungsi ke Klaten dan Malang. Pemerintah RI di Yogyakarta bekerja sama dengan Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada pada tanggal 19 Desember 1949 mendirikan Universitas Gadjah Mada. Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta berdiri tanggal 8 Juli 1945 perguruan tinggi swasta pertama. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah sekolah tinggi era Hindia Belanda, THS, RHS dan GHS? Seperti disebut di atas perguruan tinggi di Indonesia bermula pada era Pemerintah Hindia Belanda berupa sekolah tinggi (hoogeschool). Lalu menjelang berakhirnya Belanda, dibentuk universitas (Universiteit van Indonesia) yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuk Universitas di Indonesia. Lalu bagaimana sejarah sekolah tinggi era Hindia Belanda, THS, RHS dan GHS? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyuwangi (14): Jalan di Wilayah Banyuwangi, Antara Kota Balambangan dan Banjoewangi via Rogodjampi; Laut ke Darat


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Tidak ada jalan darat pada peta-peta VOC di wilayah Banyuwangi. Hanya ada jalan air, melalui sungai (sungai Setail) dari laut ke kota Balambangan dan melalui laut sepanjang pantai timur (mulai muara sungai Balambangan/sungai Setail) dan pantai selatan (hingga teluk Gradjakan). Pembangunan jalan baru terjadi pada awal Pemerintah Hindia Belanda selama pendudukan Inggris. Era jalan darat dimulai.


Mengapa Ujung Jalan Raya Pos Daendels Tidak Berakhir di Banyuwangi? Kumparan.com. 23 Agustus 2017. Pembangunan jalan raya Pos ini adalah kebijakan Pemerintah Hindia Belanda (dilaksanakan Daendels) demi kelancaran mobilisasi pengangkutan kopi dari pulau Jawa serta memudahkan trasportasi sampai ke daerah-daerah pedalaman. Pada tanggal 5 Mei 1808, Daendels melakukan perjalanan dari Buitenzorg menuju Semarang dan terus sampai ke Jawa bagian timur. Pada awalnya, dari Anyer dan berakhir di Panarukan, namun kemudian diperpanjang hingga ke Banyuwangi. Tahun 1811 pembangunan jalan tahap kedua ini sampai ke Banyuwangi. Titik akhir jalan di ujung Timur sebenarnya bukan Panarukan, tapi di Banyuwangi. Kenapa tidak tertulis sampai di Banyuwangi? Jalan ke Banyuwangi terputus dari Sumberwaru hingga ke Bajulmati.  Dari Bajulmati, jalan baru dibangun dan diperlebar hingga ke Banyuwangi, seperti di peta 1815 - 1856.  Titik nol Jalan Groote Postweg ini, menurut data peta tahun 1815 di sekitar pendopo hingga kampong Klembon, kelurahan Singonegaran. Sedangkan titik nol bagian selatan berada di Sekitar Perliman Banyuwangi. Jalan ini tidak dibangun di masa Deandles. Pembangunan Jalan dari Genteng hingga ke Banyuwangi, titik nolnya berada di Perliman dan masih belum dibangun jalan ke Kumitir. (https://kumparan.com/banyuwangi_connect/)

Lantas bagaimana sejarah jalan di wilayah Banyuwangi, antara Balambangan dan Banjoewangi via Rogodjampi? Seperti disebut di atas jalan-jalan raya di wilayah Banyuwangi dapat dikatakan masih baru. Baru karena dimulai pada awal Pemerintah Hindia Belanda. Transportasi laut bergeser ke transportasi darat. Lalu bagaimana sejarah jalan di wilayah Banyuwangi, antara Balambangan dan Banjoewangi via Rogodjampi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, 29 Mei 2023

Sejarah Pendidikan (13): Sekolah Swasta Era Hindia Belanda (v Sekolah Pemerintah); Taman Siswa, Perg. Rakjat, Joshua Instituut


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Pendidikan dalam blog ini Klik Disini

Sekolah di Indonesia bermula sejak era VOC. Namun baru mulai mendapat perhatian pada awal Pemerintah Hindia Belanda (masa pendudukan Inggris). Keterlibatan pemerintah baru terjadi pada tahun 1817 setelah Pemerintah Hindia Belanda dipulihkan. Sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah disebut sekolah pemerintah. Selainnya dikategorikan sebagai sekolah swasta (agama, kerjuruan, umum). Dalam perkembangan zaman, sekolah-sekolah swasta muncul di berbagai tempat.  


Taman Siswa adalah nama sekolah didirikan Ki Hadjar Dewantara tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Pada waktu pertama sekolah diberi nama "National Onderwijs Institut Taman Siswa", realisasi gagasan Dewantara bersama-sama dengan teman di paguyuban Sloso Kliwon. Sekolah Taman Siswa ini sekarang berpusat di balai Ibu Pawiyatan (Majelis Luhur) di Jalan Taman Siswa, Yogyakarta, mempunyai 129 sekolah cabang di berbagai kota di Indonesia. Prinsip dasar dalam sekolah/pendidikan sebagai Patrap Triloka. Konsep ini dikembangkan oleh Dewantara setelah ia mempelajari sistem pendidikan progresif yang diperkenalkan oleh Maria Montessori di Italia dan Rabindranath Tagore di India dan Benggala). Patrap Triloka memiliki unsur-unsur (dalam bahasa Jawa): ing ngarsa sung tulada "(yang) di depan memberi teladan"); ing madya mangun karsa "(yang) di tengah membangun kemauan/inisiatif"); tut wuri handayani "dari belakang mendukung"). Patrap Triloka dipakai sebagai panduan dan pedoman dalam dunia pendidikan di Indonesia. Taman Siswa didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara sebagai bentuk perjuangan dalam menentang penjajahan di Indonesia. Persebaran Sekolah Taman Siswa paling banyak terjadi di Jawa Timur dimana periode 1928 sampai 1930 60 persen. Taman Siswa juga ada di Medan, Tebingtinggi, Bandar Lampung, Kalimantan (3 sekolah); Jawa Barat (9); Jawa Tengah termasuk Jogjakarta (9); dan Jawa Timur (27 sekolah) (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah sekolah swasta era Hindia Belanda (versus sekolah pemerintah)? Seperti disebut di atas, dalam perkembangaannya dibuka sekolah swasta di berbagai tempat termasuk yang dikelola oleh pribumi seperti Taman Siswa (berawal di Jogja), Pergoeroean Rakjat (Batavia) dan Joshua Instituut (Medan). Lalu bagaimana sejarah sekolah swasta era Hindia Belanda (versus sekolah pemerintah)? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyuwangi (13): Agama Islam di Wilayah Banyuwangi; Masjid Baiturrahman, Masjid Tertua di Kota Banyuwangi (1773)?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Pada masa ini persentase penduduk di wilayah Banyuwangi beragama Islam sebesar 84,37 persen dari keseluruhan penduduk. Persentasi kedua adalah agama Hindu sebesar 13,23 persen. Gambaran seakan Banyuwangi dalam banyak hal begitu dekat dengan (pulau) Bali. Dalam sejarah agama, di wilayah Banyuwangi, seperti halnya di Jawa bagian lainnya, umumnya Hindu. Masuknya agama Islam ke Jawa juga pada akhirnya mencapai wilayah Banyuwangi (pada era VOC). Bagaimana dengan keberadaan masjid?


Masjid Baiturrahman Banyuwangi adalah sebuah masjid yang berada di Banyuwangi, kabupaten Banyuwangi. Latar belakang berdirinya masjid ini dimulai sejak tanggal 7 Desember 1773, hal ini berdasarkan data pada surat wakaf yang berupa denah gambar arsitektur masjid dari keluarga besar Raden Tumenggung Wiraguna I—Bupati pertama Banyuwangi. Masjid ini sejak awal pembangunan setidaknya mengalami beberapa renovasi, yakni pada tahun 1844, 1971, 1990, dan tahun 2005. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah agama Islam di wilayah Banyuwangi? Seperti disebut di atas, penyebaran agama Islam di wilayah Banyuwangi bermula pada era VOC. Salah satu penanda navigasi sejarah adalah keberadaan masjid. Pada masa ini masjid Baiturrahman di kota Banyuwangi disebut masjid tertua. Lalu bagaimana sejarah agama Islam di wilayah Banyuwangi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Minggu, 28 Mei 2023

Sejarah Pendidikan (12): Studi ke Belanda dan Sarjana-Sarjana Pribumi; Perjuangan Peningkatan Pendidikan Penduduk Pribumi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Pendidikan dalam blog ini Klik Disini

Siapa pribumi pertama berpendidikan modern (aksara Latin) tidak terinformasikan. Siapa pribumi pertama studi ke Belanda? Jelas bukan Raden Kartono. Ada nama-nama awal yang perlu dicatat: Sati Nasoetion dan Ismangoen Danoe Winoto. Lantas siapa mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikan ke Belanda? Banyak, bahkan hingga sekarang. Yang jelas Raden Kartono adalah mahasiswa pertama di Belanda. Semua bertujuan utnuk meningkatkan pendidikan.


Drs. Raden Mas Panji Sosrokartono (atau Kartono) (10 April 1877 – 8 Februari 1952) adalah wartawan perang, penerjemah, guru. Ia adalah anak keempat dari R.M. Ario Sosrodiningrat dan kakak kandung R.A. Kartini. Setelah tamat Europeesche Lagere School di Jepara, Sosrokartono meneruskan pendidikannya ke H.B.S. di Semarang. Selanjutnya pada 1898, Sosrokartono meneruskan pendidikannya ke Belanda di Sekolah Teknik Tinggi di Delft. Namun karena merasa tidak cocok, ia pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur sehingga lulus dengan gelar Doctorandus in de Oostersche Talen dari Universitas Leiden. Ia merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikan ke Belanda. Sosrokartono pernah berprofesi sebagai wartawan Perang Dunia I dari harian New York Herald Tribune di Wina, Austria semenjak 1917. Sosrokartono menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa daerah di Nusantara. Dari 1919 sampai 1921, R.M.P. Sosrokartono menjadi anak bumiputra yang mampu menjabat sebagai Kepala penerjemah untuk semua bahasa yang digunakan di Liga Bangsa-Bangsa (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah studi ke Belanda dan sarjana-sarjana pribumi pertama? Seperti disebut di atas, pribumi studi ke Belanda sudah cukup banyak, namun yang datang ke Belanda untuk kuliah di perguruan tinggi yang pertama adalah Raden Kartono. Para sarjana pribumi inilah yang kemudian melalukan perjuangan peningkatan pendidikan penduduk pribumi. Lalu bagaimana sejarah studi ke Belanda dan sarjana-sarjana pribumi pertama? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyuwangi (12): Orang Osing di Wilayah Banyuwangi; Mix Population, Apa Masih Ada Penduduk Asli di Indonesia?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Bangsa adalah satu hal, suku bangsa lain lagi. Penduduk asli satu hal, mix population lain lagi. Seperti halnya orang Batak, orang Jawa, orang Tengger, orang Osing juga tidak dapat dikatakan suatu bangsa, tetapi dapat dikatakan orang asli yang mendiami suatu wilayah/kawasan tertentu. Orang asli dalam hal ini adalah populasi terdahulu yang masih eksis di suatu wilayah. Orang Osing adalah salah satu suku di Indonesia masa kini yang membentuk bangsa Indonesia.


Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi juga disebut sebagai Laros (Lare Osing) atau Wong Blambangan. Orang Osing menggunakan bahasa Osing. Pada awal terbentuknya masyarakat Osing kepercayaan utama suku Osing adalah Hindu-Buddha seperti halnya Majapahit. Namun berkembangnya kerajaan Islam di Pantura menyebabkan agama Islam dengan cepat menyebar di kalangan suku Osing. Masyarakat Osing mempunyai tradisi puputan, seperti halnya masyarakat Bali. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebagai usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771. Suku Jawa Osing berada di kecamatan Songgon, Rogojampi, Blimbingsari, Singojuruh, Kabat, Licin, Giri, Glagah dan sebagian berada di kecamatan Banyuwangi, Kalipuro dan Sempu. Ada juga sekelompok kecil di kecamatan Srono, Cluring, Gambiran dan kecamatan Genteng. Orang Osing menyebut mereka dengan sebutan "Wong Osing" dengan "Tanah Blambangan". Suku Osing berbeda dengan suku Bali dalam hal stratifikasi sosial. Suku Osing tidak mengenal kasta. Kesenian suku Osing sangat unik seperti Gandrung, Patrol, Seblang, Angklung, Tari Barong, Kuntulan, Kendang Kempul, Janger, Jaranan, Jaran Kincak, Angklung Caruk dan Jedor. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Orang Osing di wilayah Banyuwangi? Seperti disebut di atas, penduduk asli di wilayah Banyuwangi adalah orang Osing. Penduduk mix population adalah warga Banyuwangi. Dalam hubungan ini apakah masih ada penduduk asli terawal di Indonesia? Lalu bagaimana sejarah Orang Osing di wilayah Banyuwangi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, 27 Mei 2023

Sejarah Pendidikan (11): Sekolah Pamong OSVIA di Bandoeng Magelang Probolinggo Serang Madiun Blitar Fort de Kock; Mosvia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Pendidikan dalam blog ini Klik Disini

Dalam artikel sebelumnya sudah dideskripsikan sekolah kedokteran (Docter Djawa Svhool menjadi SYOVIA) dan sekolah guru (kweekschool menjadi normaalschool). Sekolah pamong Hoofden School kemudian menjadi OSVIA. Dalam hal ini setiap era memiliki kebutuhannya sendiri-sendiri. Sekolah pamong dibutuhkan untuk kebutuhan pemerintahan di tingkat local (penduduk pribumi).


Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) sekolah pendidikan bagi calon pegawai-pegawai bumiputra pada zaman Hindia Belanda. Setelah lulus mereka dipekerjakan dalam pemerintahan kolonial sebagai pamong praja atau ambtenaar. Sekolah ini dimasukkan ke dalam sekolah ketrampilan tingkat menengah dan mempelajari soal-soal administrasi pemerintahan. Masa belajarnya lima tahun, tetapi tahun 1908 masa belajar ditambah menjadi tujuh tahun. Pada umumnya murid yang diterima di sekolah ini berusia 12-16 tahun. Sebelumnya sekolah OSVIA bernama Hoofden School (sekolah para pemimpin). Sekarang OSVIA bertransformasi menjadi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Hoofden School tersebar di Jawa, masing-masing di Bandung, Magelang, dan Probolinggo. Pada tahun 1900 sekolah-sekolah ini mengalami reorganisasi dan diberi nama baru, yakni OSVIA. Di Bandung, sebagian muridnya berasal dari Jawa Barat. OSVIA Magelang, menarik siswa-siswa dari Jawa Tengah, sedangkan OSVIA Probolinggo bagi siswa dari Jawa Timur. Pada tahun 1900, OSVIA membuka cabang lagi di tiga tempat, yakni Serang, Madiun, dan Blitar. Pembukaan cabang itu dilakukan karena jumlah murid OSVIA meningkat dua kali lipat. Pada tahun 1918, OSVIA membuka cabang di Bukittinggi, Sumatra Barat. Pada tahun 1927 seluruh cabang OSVIA digabungkan menjadi MOSVIA (Middelbare Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren) berpusat di Magelang. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah sekolah pamong OSVIA di Bandoeng, Magelang, Probolinggo, Serang, Madioen, Blitar dan Fort de Kock? Seperti disebut di atas sekolajh pamong ini disebut Hoofden School yang kemudian menjadi sekolah OSVIA. Untuk meningkatkan kualitas sekolah pamong kemudian dibentuk sekolah MOSVIA. Lalu bagaimana sejarah sekolah pamong OSVIA di Bandoeng, Magelang, Probolinggo, Serang, Madioen, Blitar dan Fort de Kock? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyuwangi (11): Tanaman Lucu di Banyuwangi (Etlingera elatior):Kecombrang Siala Batak, Sekala Lampung, Honje Sunda


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Mengapa lucu di Banyuwangi? Di wilayah bukan, tetapi honje di Sunda, kecombrang di Jawa dan siala di Batak. Seperti halnya orang Sunda, orang Jawa dan orang Batak serta sekala di Lampong, tanaman lucu dimanfaatkan oleh orang Osing. Buah lucu, honje, kecombrang dan siala yang berbentuk bijian termasuk rempah-rempah. Bunganya juga menjadi ragam sayuran yang membuat khas masakan gulai dan masakan sayuran. Apakah dalam hal ini tanaman lucu di wilayah orang Osing di Banyuwangi memiliki sejarahnya sendiri?


Lucu Nama Sambal ini Khas Banyuwangi. RadarBanyuwangi. 10 April 2023. Tak pelak, sambal kecombrang pun populer dengan sebutan sambel lucu di kalangan warga suku Oseng. Selain memanjakan lidah dan menyegarkan aroma masakan, ternyata kecombrang juga memberikan manfaat untuk kesehatan. Ini karena kecombrang mengandung antibakteri dan antioksidan. Sejatinya, kecombrang adalah tumbuhan berwarna merah yang termasuk dalam jenis rempah-rempah. Bagian bunga kecombrang yang masih kuncup, sering kali dimanfaatkan sebagai bumbu masakan. Terutama dalam beberapa menu kuliner berupa sambal. Selain itu, kecombrang kerap digunakan sebagai bauran bumbu penyedap pada menu makanan. Baik yang ditumis, maupun sayuran berkuah. Sama seperti kemangi, kecombrang juga memberikan sensasi aroma kuat yang segar pada masakan. Aroma segar ini bermanfaat untuk mengurangi anyir pada bahan makanan tertentu, seperti ikan atau seafood. Menurut Siti Suhaimah, 32, penjual makanan di Desa Karanganyar, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, masakan yang terbuat dari kecombrang cukup banyak diminati. Salah satunya yakni sambal kecombrang. Pada masakan tumis maupun berkuah pun, Siti bisa mencampurkan kecombrang untuk menambah cita rasa yang menggugah selera. ‘Berkat aromanya yang khas, sangat mudah untuk membedakan masakan yang menggunakan kecombrang dengan masakan lainnya’, ujarnya. (https://radarbanyuwangi.jawapos.com/)

Lantas bagaimana sejarah tanaman lucu di Banyuwangi (Etlingera elatior)? Seperti disebut di atas, tanaman lucu dimanfaatkan orang Osing sebagai rempah-rempah. Nama umum tanaman lucu adalah kecombrang yang mana disebut di siala Batak, sekala Lampung dan honje Sunda. Lalu bagaimana sejarah tanaman lucu di Banyuwangi (Etlingera elatior)? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, 26 Mei 2023

Sejarah Pendidikan (10): Sekolah Menengah di Hindia Belanda - Hoogere Burgerschool HBS; Docter Djawa School-Normaal School


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Pendidikan dalam blog ini Klik Disini

Setelah sekolah dasar diselenggarakan, dalam perkembangannya dibuka sekolah menengah di berbagai tempat di Indonesia (baca: Hindia Belanda). Tidak hanya untuk untuk anak-anak Eropa/Belanda, juga pribumi. Untuk menjembatani lulusan sekolah menengah di Hindia dengan sekolah/perguruan tinggi di Belanda mulai diinisiasi sekolah berkurikulum setara Eropa yang dimulai di Batavia (Gymnasium Koning Willem III) tahun 1860. Dalam konteks inilah mulai ada siswa pribumi melanjutkan studi di perguruan tinggi di Belanda.

Hoogere Burgerschool (HBS) adalah pendidikan menengah umum untuk orang Eropa/Belanda dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Masa studi HBS berlangsung dalam lima tahun. Lalu kemudian pribumi lulusan ELS diterima. Lulusan ELS dapat diterima di HBS III dan V; Gymnasiun/Lyceum; MULO - AMS. Sekolah ELS diperluas dengan HIS/HCS yang dapat melanjutkan ke MULO, HBS, atau Kweekschool. Pendidikan HBS selama 5 tahun setelah HIS atau ELS adalah lebih pendek daripada melalui jalur MULO (3 tahun) + AMS (3 tahun). Jumlah anak pribumi yang masuk HBS pada tahun 1900 hanya 2%, pada tahun 1915 sebanyak 6,1% dari 915 siswa di tiga HBS (Jakarta, Surabaya, dan Semarang). Pemerintah Hindia Belanda sudah mengizinkan anak pribumi masuk HBS sejak tahun 1874. Middelbaar Onderwijs (pendidikan menengah) baik bagi orang Belanda/Eropa baru tahun 1860 dibuka Gymnasium Koning Willem III namun lebih merupakan HBS 3 tahun yang kemudian ditingkatkan menjadi HBS 5 tahun. Sampai 1937-1938 terdapat 27 sekolah HBS 3 tahun dan 14 sekolah HBS 5 tahun. Lalu HBS di Soerabaja dibuka 1 November 1875; Semarang dibuka 1 November 1877; Prins Hendrikschool te Batavia (PHS) dibuka 3 Juli 1911; HBS di Bandoeng dibuka 7 Februari 1919; Malang 2 Juli 1927; Medan 1928; Djogja 1 Juli 1931; Buitenzorg 31 Juli 1937; Makassar 1 Agustus 1939 (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah sekolah menengah di Hindia Belanda dan Hoogere Burgerschool HBS? Seperti disebut di atas, sekolah menengah tidak hanya untuk anak-anak Eropa/Belanda juga anak-anak pribumi (Docter Djawa School dan Normaal School). Lalu bagaimana sejarah sekolah menengah di Hindia Belanda dan Hoogere Burgerschool HBS?  Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyuwangi (10): Selat Bali, Tempo Dulu Nama Selat Blambangan; Keutamaan Navigasi Pelayaran Selat Bali-Selat Lombok


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Selat Bali di Banyuwangi. Tempo doeloe namanya selat Blambangan (straat van Balambangan). Itu semua berbeda situasi dan kondisi di kawasan selat. Sebagaimana penamaan nama geografis sejak awal kehadiran pelaut Eropa (Portugis/Belanda) ditentukan siapa dan darimana sumber diperoleh. Pada era VOC, sumber di Banyuwangi, tetapi kemudian sumber merujuk di Bali. Saat mana selat Blambangan bergeser menjadi nama Selat Bali, lalu selat Bali menjadi selat Lombok. Mengapa di dua selat di dua sisi pulau Bali ini penting dari masa ke masa.


Selat Bali adalah selat memisahkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali. Selat Bali dihubungkan layanan kapal ferry dengan Pelabuhan Gilimanuk (Bali) dan Pelabuhan Ketapang (Jawa). Pelabuhan Ketapang di desa Ketapang, Kalipuro, Banyuwangi. Pelabuhan Gilimanuk pelabuhan feri di kelurahan Gilimanuk, Melaya, Jembranai. Dirut PT Pelindo III, mengatakan, proyek pelabuhan wisata ini akan dibangun di lahan seluas 44,2 hektar di Pantai Boom. Pelabuhan Marina di Pantai Boom ini akan terintegrasi Pelabuhan Benoa di Bali dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur. Pelabuhan Ikan Muncar. Pelabuhan rakyat ini berada di Muncar, Banyuwangi. Kawasan ini juga menjadi salah satu pusat pengalengan ikan terbesar setelah Bagansiapiapi di Rokan Hilir, Riau. Beberapa pantai di selat Bali di Banyuwangi seperti Pantai Watudodol, Pantai Boom, Pantai Cacalan, Pantai Solong, Pantai Cemara, Pulau Santen, Pantai Sobo, Pantai Kampe, Rumah Apung Bangsring, Pantai Blimbingsari, Pantai Muncar, Tanjung Sembulungan dan lainnya. Di sisi Bali ada Pulau Menjangan dan Pantai Gilimanuk. Selat Bali memiliki pemandangan bawah air yang indah. Oleh karena itu terdapat titik-titik dimana pemandangan tersebut bisa dinikmati seperti di Bangsring Underwater (Bunder) di desa Bangsring, Pulau Tabuhan dan Pulau Menjangan bagian dari Taman Nasional Bali Barat. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Selat Bali, tempo doeloe Selat Blambangan? Seperti disebut di atas, dari masa ke masa selat Balambangan/selat Bali begitu penting. Mengapa memiliki keutamaan navigasi pelayaran di Selat Bali dan Selat Lombok. Lalu bagaimana sejarah Selat Bali, tempo doeloe Selat Blambangan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, 25 Mei 2023

Sejarah Pendidikan (9): Sekolah Militer di Hindia Belanda,Siapa Saja Perwira Pribumi? Sekolah Militer Semarang dan Perang Jawa


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Pendidikan dalam blog ini Klik Disini

Sejarah adalah narasi fakta dan data. Namun narasi sejarah acap kali sesuai pengetahuan penulis, untuk menambahkan diperkaya dengan karangan sendiri (her/his story). Dalam hal ini, sejarah sekolah militer di Indonesia nyaris tidak tersentuh dan jarang diperhatikan. Meski lebih awal kehadiran sekolah meltier di Indonesia (baca: Hindia Belanda), namun dapat dikatakan juga sebagai bagian dari perluasan pendidikan (sebagaimana sekolah guru dan sekolah kedokteran). Sekolah militer (di Meester Cornelis) inilah yang kemudian bertransformasi yang kemudian cikal bakal pendirian Akademi Militer di Bandoeng dimana tiga kadetnya TB Simatoepang, A Kawilarang dan Abdoel Haris Nasoetion. 


Oerip Soemohardjo: Bapak Tentara Yang Dilupakan. Tim Majalah Historia. Deskripsi Buku: Oerip lahir 22 Februari 1893, nama Muhammad Sidik. Tidak ada menyangka, ini kelak menentukan jalannya sejarah militer Indonesia. Ketertarikan dunia militer mendorongnya masuk Sekolah Militer Meester Cornelis (kini Jakarta). Kariernya di KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger) moncer. Dia menjadi mayor, pangkat tertinggi di antara tentara bumiputera. Karirnya tamat setelah Jepang. Proklamasi 17 Agustus 1945 Oerip kembali ke dunia militer. Oktober 1945, Oerip sebagai Kepala Staf Oemoem (KSO) TKR. Pada 12 November 1945, Oerip membuat konferensi dihadiri eks KNIL dan eks PETA di Yogyakarta. Dari konferensi ini muncul nama Soedirman sebagai Panglima Besar TKR, sementara Oerip tetap menjabat KSO. Oerip Soemohardjo wafat 17 November 1948. Sebagai tentara profesional, Oerip kecewa sikap politik pemerintah, baik terhadap militer Indonesia maupun dalam menghadapi Belanda. Kendati berhasil membangun tentara Indonesia, tetapi Oerip seakan dilupakan. Kita lebih mengenal Jenderal Soedirman yang mengalahkan Oerip dalam pemilihan sebagai Panglima Besar. Sebagaimana dwitunggal Soekarno-Hatta, Soedirman-Oerip merupakan dwitunggal memimpin tentara. Mereka seperti “abang dan adik”. Oerip memanggil Soedirman, “Dimas”; dan Soedirman memanggilnya, “Kang Mas atau Pak Oerip”. Buku 154 halaman, penerbit Penerbit Buku Kompas: 2020 (https://www.gramedia.com/)

Lantas bagaimana sejarah Sekolah Militer di Hindia Belanda, siapa perwira pribumi? Seperti disebut di atas, dalam perluasan pendidikan di Hindia Belanda, sekolah militer juga pada akhirnya merekrut siswa pribumi. Lalu bagaimana sejarah Sekolah Militer di Hindia Belanda, siapa perwira pribumi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyuwangi (9):P'gunungan Selatan di Wilayah Banyuwangi dan Pantai Selatan Jawa; G.Raung-Pantai Timur di Banyuwangi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Seandainya wilayan (daratan) Australia tidak dicaplok Inggris dari hak otoritas VOC/Belanda, boleh jadi pantai selatan Jawa tidak sesepi selarang. Nasib malang dialami pantai selatan Jawa. Di wilayah selatan pulau Jawa ini sudah sedari doeloe populasi penduduk di kawasan pegunungan selatan (pegunungan Kendeng) meramaikan navigasi pelayaran perdagangan. Bagian wilayah zaman kuno ini berada di wilayah Banyuwangi yang sekarang.


Gunung Betiri. Gunung Betiri adalah sebuah gunung yang berada di Provinsi Jawa Timur. Gunung Betiri merupakan salah satu puncak tertinggi di kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Gunung Betiri masih merupakan bagian dari rangkaian zona Pegunungan Selatan Jawa. Secara Administrasi, Gunung Betiri terletak di perbatasan dua kabupaten yakni Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi. Di Kabupaten Banyuwangi gunung ini mencangkup Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggrahan, Kabupaten Banyuwangi. Sedangkan di Kabupaten Jember meliputi Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember. Gunung Betiri memiliki ketinggian 1.233 meter di atas permukaan air laut Mdpl dengan ketinggian relative 1.215 Mdpl. Sejumlah Gunung disekitarnya adalah Gunung Betiri I (1.160 Mdpl), Gunung Betiri II (1.020 Mdpl) dan Gunung Butak (960 Mdpl). Sungai yang berhulu dari Gunung Betiri diantaranya Sungai Sanen, dan Sungai Sukamande. (https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/)

Lantas bagaimana sejarah Pegunungan Selatan di wilayah Banyuwangi dan Pantai Selatan Jawa? Seperti disebut di atas, pegunungan selatan Banywangi di pantai selatan Jawa kurang mendapat perhatian dalam sejarah Indonesia. Yang banyak ditulis adalah Gunung Raung dan Pantai Timur di Banyuwangi. Lalu bagaimana sejarah Pegunungan Selatan di wilayah Banyuwangi dan Pantai Selatan Jawa?  Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Rabu, 24 Mei 2023

Sejarah Pendidikan (8): Sekolah Kedokteran Pribumi Batavia dan Docter Djawa School; Garis Continuum Dokter - Doktor Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Pendidikan dalam blog ini Klik Disini

Pada masa ini di Indonesia sudah banyak fakultas kedokteran yang terdapat di berbagai universita. Namun semua itu berawal dari sekolah kedokteran pada era Hindia Belanda. Sekolah kedokteran dibuka pertama tahun 1851 di Batavia (kini Jakarta). Dalam perkembangannya sekolah kedokteran pribumi ini bertransformasi ke bentuk fakultas kedokteran. Dalam garis continuum sejarah inilah lahir dokter-dokter dan doctor-dokter Indonesia.


Delapan Jurusan Kedokteran Terbaik Indonesia 2022, Daya Tampung Vs Peminat Kompas.com. 20/09/2022. Seleksi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terkenal akan persaingannya yang ketat dengan jumlah peminat yang tinggi. Indonesia memiliki kampus dengan jurusan kedokteran yang masuk dalam pemeringkatan Times Higher Education Asia University Rankings 2022. Ranking didasarkan pada semua misi inti terkait pengajaran, penelitian, transfer pengetahuan, dan pandangan internasional. Berikut 8 kampus dengan jurusan kedokteran di Indonesia dan jumlah daya tampung berdasarkan Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2022. 1. Universitas Indonesia. 2. Universitas Airlangga. 3. Universitas Gadjah Mada. 4. Universitas Hasanuddin. 5. Universitas Sebelas Maret. 6. Universitas Brawijaya. 7. Universitas Diponegoro. 8. Universitas Padjadjaran. (https://www.kompas.com/)

Lantas bagaimana sejarah sekolah kedokteran pribumi di Batavia dan Docter Djawa School? Seperti disebut fakultas kedokteran di Indonesia berawal dari sekolah kedokteran pada era Hindia Belanda (Docter Djawa School). Sekolah kedokteran adalah garis continuum Dokter dan Doktor Indonesia. Lanlu bagaimana sejarah sekolah kedokteran pribumi di Batavia dan Docter Djawa School? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyuwangi (8): Pulau di Wilayah Banyuwangi; Boom, Santen, Watulayar dan Tabuhan Serta Pulau di Pantai Selatan Jawa


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Adakah pulau di wilayah Banyuwangi? Tentu saja ada. Apa menariknya dalam sejarah Banyuwangi? Okelah satu hal. Di masa lampau ada pulau besar di Banyuwangi, namun kemudian menghilang. Mengapa? Apakah ada pulau baru yang terbentuk? Pulau Boom dan pulau Santen dekat kota Banyuwangi adalah peulau-pulau yang terbentuk baru. Disebut pada masa ini ada pulau-pulau di tengah laut antara lain pulau Tabuhan di utara dan pulau Watulayar di selatan. Tentu saja banyak pulau di kecamatan Pesanggrahan.


Pulau Tabuhan Banyuwangi: Pulau Kecil Tak Berpenghuni di Tengah Selat Bali. Wisata Pulau Tabuhan Banyuwangi, pulau Tabuhan merupakan pulau kecil yang kosong atau tidak berpenduduk dengan luas sekitar 5 hektar, lokasi pulau berada diantara Pulau Jawa dan Bali, ditengah selat Bali. Pulau Tabuhan meski kecil tapi memiliki pantai berpasir putih yang luas, kehidupan bawah lautnya yang menakjubkan, serta flora dan fauna yang cantik dan satu-satunya lokasi di Banyuwangi yang ideal untuk aktivitas Kiteboarding. Di tengah-tengah pulau terdapat pohon-pohon hijau yang subur dan dikelilingi dengan pasir berwarna putih. Selain itu, kejernihan air laut yang unik ini bergradasi seperti biru mudah dan hijau muda jika di lihat dari kejauhan. Berlokasi di kecamatan Wongsorejo Banyuwangi. Akses menuju wisata Pulau Tabuhan ini bisa ditempuh dengan menggunakan perahu. Dari arah pantai kampe di Wongsorejo maupun dari arah Watudodol di kecamatan Kalipuro. Untuk bisa menyeberangi pulau tabuhan dari arah Banyuwangi hanya butuh waktu hingga 45 menit dengan menggunakan perahu. Kedalaman laut mulai dari tiga meter sudah dapat melihat banyak biota laut yang cantik-cantik. Misalnya saja seperti ikan yang berwarna warni dan terumbu karang. (https://www.exploreijen.com/2021/)

Lantas bagaimana sejarah pulau-pulau di wilayah Banyuwangi? Seperti disebut di atas, di wilayah Banyuwangi ada pulau yang hilang dan ada pulau yang terbentuk baru. Pulau-pulau yang masih eksis di wilayah Banyuwangi antara lain Boom, Santen, Watulayar, Tabuhan dan pulau pulau di kecamatan Pesanggrahan. Lalu bagaimana sejarah pulau-pulau di wilayah Banyuwangi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Selasa, 23 Mei 2023

Sejarah Pendidikan (7): Sekolah Guru dan Willem Iskander; Kebutuhan Guru dan Guru di Soerakarta, Fort de Kock dan Tano Bato


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Pendidikan dalam blog ini Klik Disini

Perguruan tinggi keguruan (fakultas keguruan/IKIP) pada masa kini bermula dari sekolah guru (kweekschool) tempo doeloe. Kebutuhan guru tidak terputus, karena itu sekolah guru tidak pernah berhenti. Guru mengasuh murid untuk menjadi guru. Guru tetap guru. Guru tidak hanya di ruang sekolah, guru juga ikut berjuang. Berjuang untuk mencerdaskan bangsa. Kecerdasan yang diperlukan dalam perjuangan bangsa.


Pendidikan Guru Bumiputra masa Hindia Belanda. November 24, 2022. Kweekschool atau Sekolah Guru, jenjang menandai fase baru dalam sejarah pendidikan di Indonesia. Kehadiran sekolah guru di Hindia Belanda dimulai pada akhir abad 19 dan awal abad 20.  Sekolah guru menjadi sebuah upaya dari Pemerintah Hindia Belanda untuk memajukan pendidikan bagi penduduk bumiputra. Penduduk bumiputra mulai mendapat materi pendidikan. Mereka dibutuhkan menggantikan tenaga terampil dari bangsa Belanda dan bangsa Barat lainnya. Kebutuhan tenaga terampil yang murah adalah alasan pemerintah Hindia Belanda mulai mendirikan sekolah. Pada tahun 1871, pemerintah mengeluarkan peraturan tentang pendidikan untuk guru bumiputra. Peraturan ini diperlukan sebagai langkah awal dari pendirian sekolah dasar bumiputra. Praresta Sasmaya Dewi dalam artikel Perkembangan Kweekschool (Sekolah Guru) di Yogyakarta Tahun 1900-1927, menyebutkan bahwa Kweekschool di Hindia Belanda pertama dibuka pada tahun 1852. Pembukaan ini segera diikuti dengan pembukaan sekolah guru di sejumlah lokasi di Indonesia. Pendirian Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers (Sekolah Pelatihan Guru-guru Pribumi) di Yogyakarta tertera dalam Staatsblad van Nederlandsch Indie No. 156 tahun 1894. Pembukaan sekolah baru dilakukan pada tahun 1897. Bekas Gedung Sekolah Pelatihan Guru-guru Pribumi sekarang menjadi markas Komando Distrik Militer (Kodim) 0734 Kota Yogyakarta. (http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/)

Lantas bagaimana sejarah sekolah guru dan Willem Iskander? Seperti disebut di atas sekolah guru pertama di Hindia Belanda didirikan di Soerakarta, guru pribumi pertama di Angkola Mandailing (Tapanoeli); Kebutuhan guru dari sekolah guru Kweekschool Soerakarta, Fort de Kock dan Tano Bato hingga era selanjutnya (HKS dan HIK/HCK). Lalu bagaimana sejarah sekolah guru dan Willem Iskander? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyuwangi (7): Dulu Semenanjung Blambangan dan Kini Taman Nasional Alas Purwo; Pulau Proa Doeloe, P. Jawa Meluas


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Semenanjung Blambangan termasuk di dalamnya wilayah Taman Nasional Alas Purwo. Tempo doeloe hanya ada nama satu kampong di kawasan, kampong Proa. Apakah nama Proa kemudian menjadi Poerwo? Yang jelas nama semenanjung mengikuti nama ibu kota kerajaan Balambangan. Besar dugaan pulau Proa menyatu dengan daratan Jawa yang kemudian kini dikenal sebagai Semenanjung Blambangan.


Taman Nasional Alas Purwo terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, kabupaten Banyuwangi, di ujung paling timur Pulau Jawa, termasuk pesisir pantai selatan. Sebagai taman nasional berdasarkan SK Menteri Kehutanan 1992, seluas 43.320 ha, masuk dalam Semenanjung Blambangan. Ekosistem hutan hujan tropika hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau, hutan tanaman, hutan alam, dan padang rumput. Taman Nasional Alam Purwo tempat ritual Pagerwesi umat Hindu, berbatasan dengan Pulau Bali. Di dalamnya ada Pura Luhur Giri Salaka. Keanekaragaman hayati di Taman Nasional Alas Purwo sangat tinggi. Juga terdapat jenis hewan banteng, kijang, rusa, lutung, kancil, macan tutul, anjing hutan dan kucing hutan. Di pesisir pantai dapat ditemukan empat jenis penyu. TN Alas Purwo beberapa zonasi: Inti; Rimba; Pemanfaatan; Penyangga. Wilayah sebelah barat curah hujan lebih tinggi. Secara umum kawasan topografi datar, bergelombang ringan sampai barat dengan puncak tertinggi gunung Lingga Manis (322 M). Hampir keseluruhan jenis tanah liat berpasir. Sungai di kawasan umumnya dangkal dan pendek, yang mengalir sepanjang tahun di bagian barat sungai Segoro Anak dan Sunglon Ombo. Mata air banyak terdapat di daerah Gunung Kuncur, Gunung Kunci, Goa Basori, dan Sendang Srengenge. Masyarakat di sekitar kawasan bertani, buruh tani, dan nelayan (tinggal di wilayah Muncar), yang merupakan salah satu pelabuhan ikan terbesar di Jawa, dan di wilayah Grajagan. Mayoritas penduduk agama Islam, beragama Hindu terutama di desa Kedungasri dan desa Kalipait. Secara umum masyarakat sekitar TN Alas Purwo digolongkan sebagai masyarakat Jawa tradisional. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Semananjung Blambangan dan Taman Nasional Alas Purwo? Seperti disebut di atas taman nasional Alas Purwo kini kawasan yang menjadi ujung dari Semenanjung Blambangan. Suatu pulau Proa tempo doeloe yang menjadi satu bagian pulau Jawa semakin meluas. Lalu bagaimana sejarah Semananjung Blambangan dan Taman Nasional Alas Purwo? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.