Tampilkan postingan dengan label Sejarah Padang Sidempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Padang Sidempuan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Januari 2026

Sejarah Padang Sidempuan (27):Davos 2026 Kopi Angkola, Kopi Mandailing, Orang Utan Batangtoru; Coffeenatics di Pavilion WEF


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Belum lama ini terjadi banjir bandang di Sumatra, termasuk hilangnya desa Garoga karena terjangan banjir di sungai Aek Garoga. Sungai Aek Garoga ini hulu tertinggi berada di area tertinggi di barat laut (1048 Mdpl) dengan jarak garis lurus dari desa Garoga 16 Km dan hulu terjauh di timur laut di dolok Majang (908 Mdpl) jarak 17 Km. Sungai Batang Toru berada di timur sungai Garoga. Sungai Aek Oeloehala Na Godang yang berhulu di Dolok Majang bermuara ke sungai Batang Toru. Kawasan tiga daerah aliran sungai (DAS) iniklah habitat Orang Utan Tapanuli di ke Kecamatan Batang Toru, kabupaten Tapanuli Selatan. 


Coffeenatics is an Indonesian specialty coffee company that operates as a roaster, wholesaler, coffee academy, and cafe. Founded in Medan in 2015, it has since expanded operations to Jakarta and aims to be a leading caffeine solution provider in the country.  Coffeenatics offers a diverse selection of roasted coffee beans, including specialty-grade Arabica, Arabusta (Arabica & Robusta blend), and competition-level microlot and nanolot coffees. They emphasize the quality and unique taste profile of coffee from specific Indonesian regions like Southern Tapanuli. Cafe & Pastry Department: The company operates several physical cafe locations, primarily in Medan (Cik Ditiro, Tijili, and "X" Timor). These locations serve coffee, locally and globally inspired food, and unique pastries led by Chef Harris Hartanto Tan. They provide barista training programs designed for various skill levels, from aspiring baristas to home enthusiasts and industry professionals, to up-skill their coffee abilities. Coffeenatics is noted for its commitment to sustainability and social impact: Apes for Apes Project: Through this initiative, the sale of their Southern Tapanuli coffee helps fund the conservation of the endangered Tapanuli orangutan, one of the rarest primates in the world (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah kopi Angkola, kopi Mandailing dan Orang Utan Batangtoru? Seperti disebut di ata, Coffeenatics hadir di Pavilion WEF di Davos 2026 beberapa hari lalu dimana Presiden Prabowo menyampaikan tema “Probowonomics”. Harris Hartanto Tan dari Coffeenatics menawarkan kopi Tapanuli Selatan (Angkola dan Mandailing) dan konsep berkelanjutan ala Orang Utan Batang Toru. Lalu bagaimana sejarah kopi Angkola, kopi Mandailing dan Orang Utan Batangtoru? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, 26 Maret 2022

Sejarah Padang Sidempuan (26): Putra-Putri Angkola Mandailing Antar Generasi Studi ke Batavia; Jong Sumatranen Bond 1917

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Sejarah awal pendidikan Angkola Mandailing kurang populer pada masa ini, Namun sesungguhnya pada era Hindia Belanda sejarah pendidikan di Afdeeling Angkola Mandailing (kini Tapanuli Bagian Selatan) cukup dikenal luas. Hal ini karena Angkola Mandailing dan siswa-siswanya terbilang pionir dalam bidang pendidikan. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Pilar pendidikan adalah kesamaan hak diantara penduduk, penggunaan aksara, angka literasi dan semangat belajar. Pada era Hindia Belanda siswa-siswa Angkola Mandailing menuntut ilmu meski jauh hingga ke Jawa dan Belanda.

Penggunaan aksara Latin sejatinya terbilang baru di wilayah Tapanoeli, khususnya afdeeling Angkola Mandailing. Gagasan introduksi pendidikan modern (aksara Latin) baru muncul tahun 1846 (lihat TJ Willer, 1846). Meski demikian, pendidikan tradisi dengan menggunakan aksara lokal (aksara Batak) sudah berlangsung sejak zaman kuno (era Hindoe-Boedha). Prasasti-prasasti pada candi-candi di Padang Lawas sudah menggunakan aksara Batak. Demikian juga makam-makan tua yang ditemukan menggunakan aksara yang sama. Willem Marsden, seorang penulis asal Inggris yang pernah berkunjung ke district Angkola di dalam bukunya (1781) menyebut sesuatu yang fantastik bahwa lebih dari separuh orang Angkola bisa membaca dan menulis, sesuatu angka literasi yang tidak ditemukan pada semua bangsa-bangsa di Eropa. Lebih lanjut Marsden mencatat bahwa mereka menulis di kulit pohon yang halus dengan menggunakan tinta yang terbuat dari campuran arang dan getah damar. Pada permulaan cabang Pemerintah Hindia Belanda di afdeeling Angkola Mandailing sudah terdapat enam sekolah dasar pemerintah (tahun 1862). Jumlah ini terus bertambah, pada tahun 1870 dari 15 buah sekolah dasar pemerintah di Residentie Tapanoeli, sebanyak 12 buah berada di Afdeeling Angkola Mandailing. Lulusan sekolah Angkola Mandailing pada tahun 1854 sudah ada dua orang yang studi ke Batavia (siswa luar Jawa pertama studi ke Jawa) dan pada tahun 1857 satu orang studi ke Belanda (pribumi pertama studi ke Belanda).

Lantas bagaimana sejarah putra-putri Angkola Mandailing antar generasi studi ke Batavia-Buitenzoeg? Seperti disebut di atas, tradisi pendidikan modern di Angkola Mandailing adalah kelanjutan dari tradisi pendidikan sejak jaman lampau. Lalu bagaimana sejarah putra-putri Angkola Mandailing antar generasi studi ke Batavia-Buitenzoeg?  Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Rabu, 02 Maret 2022

Sejarah Padang Sidempuan (25): Kerajaan-Kerajaan di Simalungun Sejak Zaman Kuno; Pane Raya Silo Jawa Kuta Purba Siantar

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Sejarah kuno selalu menarik diperhatikan. Hal itu karena yang pertama. Namun data sejarah kuno sangat minim dan sangat terbatas. Sejarah kuno yang menarik dengan data yang terbatas merupakan suatu tantangan dalam penyelidikan sejarah. Data yang minim dapat diperkaya dengan menambahkan hasil analisis yang menghubungkan satu tempat dengan tempat yang lain. Itulah arti penting analisis sejarah dalam upaya melengkap narasi sejarah zaman kuno. Permasalahan ini terjadi di banyak tempat termasuk sejarah kuno di wilayah Simalungun.

Suku Simalungun atau lazim juga disebut Batak Simalungun adalah salah satu suku bangsa atau kelompok etnik yang mendiami wilayah Sumatra Utara; meliputi Kabupaten Simalungun, sebagian Kabupaten Serdang Bedagai, sebagian Kabupaten Deli Serdang, dan sebagian Kabupaten Karo serta juga dapat ditemukan di Kota Pematangsiantar & Kota Tebing Tinggi. Beberapa sumber menyatakan bahwa leluhur suku ini berasal dari daerah India Selatan tetapi diperdebatkan. Sepanjang sejarah suku ini terbagi ke dalam beberapa kerajaan. Marga asli penduduk Simalungun adalah Damanik, dan 3 marga pendatang yaitu, Saragih, Sinaga, dan Purba. Kemudian marga marga (nama keluarga) tersebut menjadi 4 marga besar di Simalungun. Orang Batak menyebut suku ini sebagai suku "Si Balungu" dari legenda hantu yang menimbulkan wabah penyakit di daerah tersebut, sedangkan orang Karo menyebutnya Timur karena bertempat di sebelah timur mereka. Suku Simalungun menggunakan Bahasa Simalungun sebagai bahasa Ibu. Derasnya pengaruh dari suku-suku di sekitarnya mengakibatkan beberapa bagian Suku Simalungun menggunakan bahasa Melayu, Karo, Batak, dan sebagainya. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah zaman kuno di Simalungun? Seperti disebut di atas, di Simalungun terdapat kerajaan utama. Tradisi lama menghormati para leluhur. Bahasa dan aksara kurang lebih sama dengan orang Batak umumnya. Lalu bagaimana sejarah zaman kuno di Simalungun? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.