Tampilkan postingan dengan label Sejarah BANYUMAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah BANYUMAS. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 April 2023

Sejarah Banyumas (58): Perguruan Tinggi di Wilayah Banyumas dan Universitas Jenderal Soedirman; Sekolah Dasar-Perguruan Tinggi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Pada era Pemerintah Hindia Belanda perguruan tinggi hanya di kota besar: Bandoeng, Batavia dan Buitenzorg. Pada masa perang kemerdekaan terbentuk perguruan tinggi di Makassar, Jogjakarta dan Soerabaja. Pada era Republik Indonesia di Padang, Medan, Palembang dibentuk perguruan tinggi. Lalu pada gilirannya seperti di Malang, Surakarta dan Purwokerto. Kini hampir di semua kota di Indonesia sudah terbentuk perguruan tinggi.


Sesuai dengan amanat yang tersurat dalam Pembukaan UUD 1945 dan desakan masyarakat Banyumas akan kebutuhan pendidikan tinggi, para pemimpin formal dan informal Banyumas menggagas perlunya didirikan perguruan tinggi/universitas di wilayah Banyumas, dibentuklah Yayasan Pembina Universitas Jenderal Soedirman (Akte Notaris No. 32/20 September 1961. Dengan Surat Keputusan Presiden RI No. 195 tertanggal 23 September 1963, berdirilah Universitas Jenderal Soedirman. Pada awalnya UNSOED memiliki tiga fakultas, yaitu Fakultas Pertanian, Fakultas Biologi, dan Fakultas Ekonomi. Dalam perkembangannya, UNSOED membuka beberapa fakultas lagi, yaitu Fakultas Peternakan (1966), Fakultas Hukum (1982), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (1993), Program Pascasarjana (1994). Pada tahun 2007, berdiri Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan serta Fakultas Sains dan Teknik. Pada tahun 2014, terjadi perubahan organisasi, di mana Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan dikembangkan menjadi Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan. Selain itu, Fakultas Sains & Teknik juga dikembangkan  Fakultas Teknik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam serta Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Masih di tahun yang sama juga UNSOED juga membuka Fakultas Ilmu Budaya yang sebelumnya berada di bawah administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. (https://unsoed.ac.id/id/sejarah)

Lantas bagaimana sejarah universitas di wilayah Banyumas Universitas Jenderal Soedirman? Seperti disebut di atas, kini di wilayah Banyumas telah berdiri perguruan tinggi berkualitas, Universitas Jenderal Soedirman. Semua itu berawal dari keinginan yang kuat dari semuan pihak di wilayah Banyumas sejak era sekolah dasar era Pemerintah Hindia Belanda hingga Perguruan Tinggi era Republik Indonesia. Lalu bagaimana sejarah universitas di wilayah Banyumas Universitas Jenderal Soedirman? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyumas (57): NKRI Negara Kesatuan Republik Indonesia; Persatuan dan Kesatuan Indonesia di Wilayah Banyumas


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah bentuk koreksi terhadap Negara Republik Indonesia (RIS) 1949/1950 untuk kembali ke bentuk awal sesuai amanat UUD 1945. Proklamasi NKRI dilakukan pada tanggal 18 Agustus 1945. Sejak itu, semboyan NKRI Harga Mati terus digaungkan hingga ini hari di seluruh Indonesia termasuk di wilayah Banyumas.


Ratusan warga Purwokerto nyalakan lilin untuk NKRI. Sabtu, 13 Mei 2017. Purwokerto (Antara News) - Sekitar 300 warga berbagai komunitas di kota Purwokerto, kabupaten Banyumas, menyalakan ratusan lilin sebagai simbol untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu, aksi menyalakan lilin yang digelar di sisi selatan Alun-Alun Purwokerto, Sabtu malam, juga ditujukan memberi dukungan moral kepada Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang saat ini ditahan di Rutan Mako Brimob. Dalam aksi, massa membawa poster di antaranya bertuliskan "Save Ahok", "Save NKRI...TNI...POLRI...Purwokerto", "Harga Mati NKRI", "Bersatu! Bercahaya! Bangkit! Tuntunlah Kebenaran!", "Kita Dukung Pancasila", dan "Biarlah Rohmu Tetap Menyala-nyala Pak Ahok dan Layanilah Tuhan". Massa juga menyanyikan sejumlah lagu perjuangan. Salah seorang peserta aksi, Agus mengatakan kegiatan yang diikuti warga dari berbagai komunitas seperti Gusdurian, Majelis Agama Konghucu Indonesia, dan umat Nasrani itu digelar secara spontanitas. "Aksi ini bukan sekadar untuk memberi dukungan moral kepada Pak Ahok tetapi juga untuk menuntut ditegakkannya keadilan dan kedamaian di Indonesia," katanya. Menurut dia, Ahok adalah sosok pemimpin yang mempunyai integritas, jujur, karakter yang kuat, bekerja untuk rakyat, dan melayani masyarakat dengan baik sehingga tidak selayaknya mendekam dalam penjara. (https://www.antaranews.com/)

Lantas bagaimana sejarah NKRI Negara Kesatuan Republik Indonesia? Seperti disebut di atas, bentuk bernegara NKRI masih berlaku hingga kini termasuk di wilayah Banyumas. Persatuan dan kesatuan negara Indonesia di wilayah Banyumas. Lalu bagaimana sejarah NKRI Negara Kesatuan Republik Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, 21 April 2023

Sejarah Banyumas (56): Berakhirnya Perang Kemerdekaan, Pengakuan Kedaulatan Cara Belanda; Situasi Kondisi Wilayah Banyumas


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Indonesia memproklamasikan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Dalam hubungan ini tidak ada yang menginginkan perang diantara Indonesia dan Belanda. Namun masalahnya siapa yang memulai, dan bagaimana harus mengakhirinya. Perang kemerdekaan Indonesia harus diakhiri yang lalu kemudian dilanjutkan ke meja perundingan. Celakanya Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia sejak 17 Agustus 1945, hanya mengakui kedaulatan Indonesia yang diberlakukan tanggal 27 Desember 1949. Okelah. Itu artinya perang belum benar-benar berakhir di Indonesia termasuk di wilayah Banyumas.


Sejarawan Ingatkan Pentingnya Pengakuan Kedaulatan. Banjarnegara 18 Agustus 2022. Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Banjarnegara Heni Purwono mengingatkan pentingnya pengakuan kedaulatan atas kemerdekaan. Pengakuan kedaulatan penuh ini penting bagi Bangsa Indonesia yang memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. “Dalam memperingati HUT RI, salah satu hal penting yang perlu diketahui masyarakat adalah tentang pengakuan kedaulatan RI, ternyata Belanda tidak mengakui 17 Agustus 1945,” kata Heni Selasa (16/8). Bangsa Indonesia kala itu menganut pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS) harus membayar 4,3 milyar Gulden kepada Belanda agar mengakui kedaulatan Indonesia. “Dan itu pun tidak 17 Agustus 1945, melainkan 27 Desember 1949,” terang Heni. Heni menjelaskan Belanda tidak mau mengakui 17 Agustus karena mereka tidak mau menanggung biaya agresi militer 1 dan 2. Dalam konteks Banjarnegara, menurut dia aneh kalau masih ada yang masih mempermasalahkan perubahan Hari Jadi Banjarnegara dari 22 Agustus 1831 menjadi 26 Februari 1571. Sebab 22 Agustus 1831 menandai pemindahan ibu kota Banjarnegara oleh Belanda sekaligus mengganti bupatinya yang pro Diponegoro. Untuk itu menurutnya dibutuhkan pendekatan pemahaman (verstegen) dalam mengkaji sejarah. (https://www.banyumasekspres.id/)

Lantas bagaimana sejarah berakhirnya perang kemerdekaan, pengakuan Belanda terhadap kedaulatan Indonesia? Seperti disebut di atas, jika Belanda tidak mengakui kemerdekaaan Indonesia 17 Agustus dan hanya mengakui kedaulatan Indonesia sejak 27 Desember 1949, itu berarti perang kemerdekaan memang belum benar-benar berakhir. Bagaimana situasi di wilayah Banyumas pasca pengakuaan kedaulatan tersebut. Lalu bagaimana sejarah berakhirnya perang kemerdekaan, pengakuan Belanda terhadap kedaulatan Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyumas (55): Perang Indonesia, Kemerdekaan di Wilayah Banyumas; Amir Sjarifoeddin, Soedirman dan Abdoel Haris


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Perang kemerdekaan Indonesia di wilayah Banyumas. Apakah keutamannya? Yang jelas sudah ada yang menulis tentang perang kemerdekaan Indonesia di wilayah Banyumas. Mengapa harus ditulis kembali? Nah, itu dia. Tentu saja menarik untuk mempelajari sejarah wilayah (residentie) Banyumas selama masa perang kemerdekaan Indonesia. Ada sejumlah tokoh sentral pada awal perang kemerdekaan Indonesia, diantaranya Mr Amir Sjarifoeddin Harahap, Soedirman dan Abdoel Haris Nasoetion.


Karesidenan Banyumas pada masa kemerdekaan 1945-1947. Diah Tjaturini. Skripsi. 1989. Abstrak. Penelitian mengenai situasi di Karesidenan Banyumas dilakukan di Jakarta, Purwokerto dan Banyumas sejak bulan April 1988 sampai November 1988. Tujuannya untuk mengetahui situasi di Karesidenan Banyumas sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945 sampai dilancarkannya Aksi militer I Belanda pada tanggal 21 Juli 1947. Pengumpulan data dilakukan melalui kepustakaan, berupa buku-buku, manuskrip, surat kabar dan surat pribadi. juga melalui wawancara serta peninjauan ke lokasi. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa Karesidenan Banyumas merupakan daerah yang aman dan tenang, serta tidak pernah dilanda pertempuran namun merupakan pusat kekuatan untuk dikirim ke daerah pertempuran. Dengan situasi yang berbeda dengan daerah lain, maka Karesidenan Banyumas dapat memusatkan perhatian pada kehidupan dan kesejahteraan rakyatnya. Keadaan yang semula tenang dan aman berubah setelah dilancarkan Aksi Militer I Belanda, yang menyebabkan seluruh daerah di karesidenan ini jatuh dalam kekuasaan tentara NICA, sehingga kerap terjadi pertempuran antara pasukan Republik Indonesia dengan tentara NICA. (https://lontar.ui.ac.id/)

Lantas bagaimana sejarah perang kemerdekaan Indonesia di wilayah Banyumas? Seperti disebut di atas, sejarah perang kemerdekaan Indonesia di wilayah Banyumas, meski sudah ada yang menulisnya, tetapi masih perlu ditulis lagi. Tiga diantar sejumlah tokoh pada masa perang kemerdekaan Indonesia adalah Mr Amir Sjarifoeddin, Soedirman dan Abdoel Haris Nasoetion. Lalu bagaimana sejarah perang kemerdekaan Indonesia di wilayah Banyumas? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, 20 April 2023

Sejarah Banyumas (54): Hari H Proklamasi Kemerdekaan - Situasi Kondisi di Wilayah Banyumas; Sekutu/Inggris - Militer Jepang


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah satu hal. Situasi dan kondisi di wilayah Banyumas pada saat proklamasi kemerdekaan adalah hal lain. Proklamasi kemerdekaan Indonesia dilaksanakan di Djakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. Bagaimana situasi dan kondisi di wilayah Banyumassaat proklamasi atau sesudahnya. Yang jelas kemudian pasukan Sekutu/Inggris memasuki wilayah Indonesia termasuk di wilayah Jawa Tengah dalam rangka melucuti dan mengevakuasi militer Jepang. Namun situasi ini dimanfaatkan Belanda/NICA untuk ‘berkuasa’ kembali di Indonesia termasuk di Banyumas.

 

Soeharto Ada di Mana saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945? Ini Tempatnya. Sabtu, 6 Agustus 2022. Harmasnews. Soekarno-Hatta membacakan teks Proklamasi 17 Agustus 1945 di Jakarta. Pada saat itu Soeharto, berada di Brebeg, sebuah desa di kecamatan Jeruklegi, Cilacap. Dia kedapatan sedang melatih tentara muda PETA. Tidak begitu menonjol di kalangan tokoh pemuda dan tua di Jakarta, dan namanya kurang dikenal di lingkaran Soekarno. Namanya baru melejit saat pertempuran besar di Semarang Ambarawa tanggal 20 Oktober sampai 15 Desember 1945. Soeharto berada di bawah langsung pemimpin Pasukan Tentara Keamanan Rakyat Kolonel Soedirman. TKR Indonesia berhasil memukul mundur sekutu sampai ke daerah Semarang. Saat kejadian Proklamasi itu, buku karya Ramadhan KH berjudul Soeharto Otobiografi: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, Soeharto sebenarnya belum mengetahui jika di Jakarta, Soekarno-Hatta sudah membacakan teks Proklamasi dan Indonesia telah merdeka. Setelah melatih prajurit selesai, Soeharto balik ke Madiun dan tiba di Yogyakarta, 18 Agustus 1945. Pada 19 Agustus 1945, pagi Soeharto membaca koran harian Matahari. Koran memberitakan terkait Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Koran yang dibaca Soeharto itu, juga memuat kata sambutan Sri Sultan Hamengku Buwono IX berisi imbauan agar seluruh rakyat Indonesia untuk siap dan rela berkorban menjaga nusa dan bangsa. (https://www.harmasnews.com/)

Lantas bagaimana sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia, situasi dan kondisi di wilayah Banyumas? Seperti disebut di atas ada dikisahkan Soeharto tengahg berada di Cilacap dan kemudian baru mengathui Indonesia telah merdeka tanggal 19 di Jogjakarta. Dalam hubungan proklamasi kemudian pasukan Sekutu/Inggris melucuti dan mengevakuasi militer Jepang. Lalu bagaimana sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia, situasi dan kondisi di wilayah Banyumas? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyumas (53): Pendudukan Jepang di Wilayah Banyumas (1942-1945); Situasi Kondisi Gua Jepang Kabupaten Banyumas


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Bagaimana sejarah pendudukan militer Jepang di wilayah (residentie) Banjoemas kurang terinformasikan. Pada masa kini, kehadiran Jepang di wilayah Banyumas hanya dibicarakan secara luas tentang keberadaan gua di wilayah kabupaten Banyumas yang diduga sebagai peninggalan masa Jepang. Dalam hubungan itulah artikel ini ditulis.


Gua Jepang di Kabupaten Banyumas. 19 Februari 2021. Di kabupaten Banyumas peninggalan masa Jepang di temukan di dua kecamatan, yaitu kecamatan Rawalo dan kecamatan Kebasen. Di kecamatan Rawalo, di dusun Kalibacin, desa Tambaknegara ditemukan gua Jepang sebanyak empat (4). Sementara di kecamatan Kebasen, di dusun Losari dan dusun Beji, desa Gambarsari ditemukan gua Jepang sebanyak delapan buah. Di antara kedua kecamatan tersebut terdapat jalur 3 jalur yang sangat strategis yaitu jalur antar kota yang menghubungan antar kota, yaitu Jalan Raya Purwokerto sampai Bandung dan Jalan Raya Purwokerto – Kebasen – Sampang – Kroya – Cilacap. Khususnya jalan yang menghubungkan antara Purwokerto – Cilacap dinilai yang utama dan paling penting, sebab Cilacap merupakan kota pelabuhan penting. Selain jalan darat tersebut terdapat dua (2) jalur perhubungan, yaitu jalur lalu lintas kereta api dan jalur lalu lintas air melalui Sungai Serayu. Jalur lalu lintas kereta api ke barat menghubungkan dengan daerah pusat kekuasaan yaitu Jakarta dan ke timur menghubungkan dengan daerah Yogyakarta sebagai bekas ibu kota. Sedangkan jalur lalu lintas air melalui Sungai Serayu. Sungai ini bagian hilir berada di pantai selatan, yaitu di kota Cilacap. Sedangkan bagian hulu berada di daerah pedalaman. Diperkirakan dengan bisa mengamankan jalur tersebut kepentingan Jepang di Jawa akan dapat terjaga. (https://arkeologijawa.kemdikbud.go.id/)

Lantas bagaimana sejarah pendudukan Jepang di wilayah Banyumas (1942-1945)? Seperti disebut di atas, sejarah kehadiran Jepang di wilayah (residentie) Banjoemas kurang terinformasikan. Mengapa begitu. Yang jelas narasi sejarah Jepang di wilayah Banyumas hanya seputar tentang situasi dan kondisi gua Jepang di kabupaten Banyumas. Lalu bagaimana sejarah pendudukan Jepang di wilayah Banyumas (1942-1945)? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Rabu, 19 April 2023

Sejarah Banyumas (52): Detik Berakhir Era Kolonial Belanda; Apakah Berlaku Pepatah 'Habis Gelap Timbul Terang' di Banyumas?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Kehadian (pendudukan militer) Jepang di Indonesia termasuk di wilayah Banyumas telah membuat situasi dan kondisi berbalik. Ini mengindikasikan detik-detik berakhirnya colonial Belanda do wilayah Banyumas. Apakah ada penduduk yang terkenang dengan berakhirnya Belanda, dan sebaliknya apakah ada rasa tidak nyaman dengan kehadiran Jepang. Tentu saja ada yang menyambut kehadiran Jepang. Apakah ini yang disebut dalam pepatah lama habis gelap timbul terang?


Sisi Terang Kolonialisme Belanda di Banyumas. Purnawan Basundoro. 2013. Penerbit UPT UNDIP Press Semarang. Deskripsi. Hampir semua masyarakat Indonesia melihat periode kolonial Belanda hanya dari satu sisi saja, yaitu sisi gelapnya. Periode kolonial hanya semata-mata dianggap sebagai periode eksploitasi yang menguras habis kekayaan dan merendahkan martabat bangsa Indonesia. Pandangan semacam ini tidak salah karena kenyataannya sejak diberlakukannya system tanam paksa (cultuurstelsel) pada 1830, eksploitasi terhadap sumber daya ekonomi bangsa Indonesia terus dilakukan. Eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya ekonomi tersebut telah menciptakan trauma yang amat mendalam bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Para petani diperas habis-habisan baik tenaga kerja maupun tanah yang mereka miliki. (https://fib.unair.ac.id/fib/)

Lantas bagaimana sejarah detik berakhir kolonial Belanda di wilayah Banyumas? Seperti disebut di atas, masa ini berlaku di seluruh Indonesia seiring dengan kehadiran (pendudukan militer) Jepang di Indonesia. Apakah dalam fase ini berlaku pepatah lama ‘habis gelap timbul terang?’. Lalu bagaimana sejarah detik berakhir kolonial Belanda di wilayah Banyumas? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyumas (51): Lapangan Terbang di Wilayah Banyumas, Bagaimana Bermula? Kini Bandara di Cilacap dan di Purbalingga


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

an terbang (bandara) di kabupaten Purbalingga Jenderal Besar Soedirman memiliki runway sepanjang 1.600 M dan lebar 30 M. Suatu lapangan terbang baru, bandara masa kini. Sebelumnya sudah ada lapangan terbang di wilayah kabupaten Cilacap. Nah, pertanyaan yang tersisa nagaimana bermula pembangunan lapangan terbang di wilayah Banjumas?


Bandar Udara Tunggul Wulung terletak di sebelah barat Kota Cilacap, tepatnya di Kecamatan Jeruklegi. Bandar udara dengan panjang landas pacu 1.400 m x 30 m dan luas terminal 777 M². Merupakan bandar udara kelas III yang dikelola oleh UPT Ditjen Hubud. Juga terdapat dua Flying School yang beroperasi di bandara ini yaitu Genesa Academy dan Perkasa Flight School. Dengan fasilitas yang sudah dapat melayani night flight (terbang malam) yang menjadi kurikulum sekolah penerbangan. Maskapai yang pernah beroperasi disini adalah Wings Air dengan De Haviland Dash 7, Merpati Nusantara Airlines dengan CN235. Lapangan terbang pernah sepi sendiri, namun kemudian pemerintah mengaktifkan kembali dengan membuat jalur penerbangan dari Jakarta ke Cilacap ke dari Cilcap ke Semarang. Sebagai informasi, Bandara Tunggul Wulung dibangun oleh Pertamina pada tahun 1974. Lalu, diserahkan tahun 1989 dan resmi dikelola Departemen Perhubungan Cq. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Saat itu bandara memiliki landasan pacu sepanjang 140 M x 30 M dan luas terminal 777 M2 (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah lapangan terbang di wilayah Banyumas, bagaimana bermula? Seperti disebut di atas, di wilayah Banyumas kini ada dua lapangan terbang, di Cilacap dan di Purbalingga. Bagaimana dengan tempo doeloe. Lalu bagaimana sejarah lapangan terbang di wilayah Banyumas, bagaimana bermula? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Selasa, 18 April 2023

Sejarah Banyumas (50): Margono Soekarjo, Nama RSUD Purwokerto; Dokter Pribumi Studi ke Belanda, Siapa Raih Gelar Doktor?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Nama Margono Soekarjo sangat terkenal di wilayah Banyumas di kota Purwokerto. Margono Soekarjo, putra Banyumas telah ditablkan menjadi nama RSUD di Purwokerto. Margono Soekarjo adalah seorang dokter, disebut lulusan sekolah kedokteran di Batavia (STOVIA) yang kemudian melanjutkan studi ke Belanda. Bagaimana Riwayat lengkapnya? Mari kita lacak. 


Prof. Dr. Margono Soekarjo (Banyumas, 29 Maret 1897-Jakarta, 1970) salah satu perintis pembedahan jantung di Indonesia. Margono Soekarjo, dokter bumiputra pertama diakui Pemerintahan Hindia Belanda. Lahir di Kebutuh, Sokaraja, Banyumas 29 Maret 1897, menempuh pendidikan di ELS (1904-1910), melanjutkan ke Sekolah Kedokteran STOVIA. Karena kecerdasannya, tahun 1927 melanjutkan pendidikannya di Universitas Amsterdam Belanda dengan memperoleh gelar Artz, dan menekuni spesialisasi bedah hingga diberi kesempatan vedah bersama Prof. Sauerburch, Prof Van Hebeer, Prof Schiieden serta Prof Volcker. Selama 3 tahun, berkecimpung dibagian bedah di negara Kincir Angin Belanda. Sekembalinya dari Belanda, Margono Soekarjo menjadi Asisten di GHS. tapi hanya beberapa waktu karena ia harus menjadi dosen NIAS menggantikan Dr. Wieberdink.  Ia juga pernah menjabat direktur CBZ Semarang (1944-1947), yang kemudian berubah nama menjadi Pusat Rumah Sakit Rakyat (PURUSARA). Kariadi diangkat Kepala bagian Laboratorium. Kemudian pada 25 Januari 1947, ia diangkat Guru Besar bidang Ilmu Bedah oleh FKUI. Ia wafat 1970 dimakamkan di Kebutuh. Namanya diabadikan nama rumah sakit di tanah kelahirannya di Kec. Purwokerto, Banyumas (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Margono Soekarjo dan nama RSUD di Purwokerto? Seperti disebut di atas nama dokter Margono Soekarjo telah ditabalkan sebagai nama nama RSUD di Porwokerto. Margono Soekarjo lulusan sekolah kedokteran dan salah satu dokter-dokter pribumi semasa Pemerintah Hindia Belanda. Lalu bagaimana sejarah Margono Soekarjo dan nama RSUD di Porwokerto? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyumas (49): Sepakbola Wilayah Banyumas Bermula di Cilacap? Persatuan Sepak Bola Cilacap dan Sekitarnya (PSCS)


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Klub sepak bola kabupaten Banjumas tidak di Banyumas tetapi di Purwokerto. Persatuan Sepakbola Indonesia Banyumas (Persibas Banyumas) bermarkas di Stadion Satria, Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Persibas Banyumas sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 1950 dengan nama ISB (Ikatan Sepakbola Banyumas), Bagaimana dengan di Banjarnegara? Persatuan Sepakbola Indonesia Banjarnegara (Persibara) berbasis di Kabupaten Banjarnegara dengan stadion Sumitro Kolopaking. Sementara itu, Persatuan Sepak Bola Cilacap dan Sekitarnya (PSCS) bermarkas di Cilacap.


Profil PSCS CIlacap, Berawal Dari Anak Muda Perkeretapian Hingga Kembali ke Liga 2 2021. Senin, 7 Juni 2021. Seipoku.com. PSCS Cilacap salah satu klub di Liga 2 2021. Klub merupakan kebanggaan kabupaten Cilacap berjuluk 'Hiu Pantai Selatan'. PSCS Cilacap sendiri termasuk klub baru promosi ke Liga 2 pada musim 2019. Sebab 2 musim sebelumnya, mereka terdegradasi ke Liga 3. Dikutip dari Youtube 'Sejarah Berdirinya PSCS Cilacap' oleh Media PSCS Cilacap, klub tersebut bermarkas di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. PSCS Cilacap berdiri bermula dari kegemaran sekumpulan anak – anak muda perkeretaapian terhadap sepak bola pada akhir tahun 1959. Berjalannya waktu dan semakin meningkatnya kegemaran anak – anak muda tersebut, akhirnya pada tahun 1960 sekitar bulan April bertepatan dengan hari jadi PSSI tanggal 19 April 1960 kumpulan anak muda perkeretaapian tersebut mulai memperkenalkan Klub tersebut dengan nama PST (Persatoean Sepak Bola Tjilatjap). Berjalannya waktu dan semakin giatnya anak muda Cilacap dalam olah raga sepak bola yang ternyata menjalar tidak hanya di kawasan kota Cilacap. Maka sejak tahun 1970 secara resmi nama klub berubah menjadi Persatuan Sepak Bola Cilacap dan Sekitarnya (PSCS). (https://palembang.tribunnews.com/2021/) 

Lantas bagaimana sejarah sepak bola wilayah Banyumas bermula di Cilacap? Seperti disebut di atas, klub sepak bola Persibas di Purwokerto dan Persibara di Banjarnegara serta PSCS di Cilacap. Pertanyaannya dimana sepak bola bermula di wilayah Banyumas? Lalu bagaimana sejarah sepak bola wilayah Banyumas bermula di Cilacap? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, 17 April 2023

Sejarah Banyumas (48): Kereta Api Wilayah Banyumas; Pembangunan Jalur Jogjakarta-Cilacap, Cirebon-Jogjakarta via Purwokerto


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Adanya rencana pembangunan jalur kereta api dari Jogjakarta hingga Cilacap sudah lama ada. Namun tetap sulit terwujud. Jalur dari Semarang hingga ke Jogjakarta sendiri baru tercapai pada tahun 1870. Bagaimana dengan Jogjakarta ke Cilacap. Dalam perkembangannya inisiatif pra planter mendorong percepatan pembangunan kereta api. Wilayah Banyumas dalam perkembangannya menjadi interchange antara Cirebon dan Bandoeng/Tasikmalaya dari arah barat dan dari arah timur di Jogjakarta.


Senjakala Jalur Kereta Api Kawasan Banyumas Kompas.com. 05/12/2022. Di laman sumber bacaan di Kompas.com terdapat informasi bahwa layanan kereta api di kawasan Banyumas juga terdapat di Kecamatan Sumpiuh. Jalur kereta api di kawasan Banyumas dalam catatan heritage PT Kereta Api Indonesia (KAI) meliputi kota-kota eks-Karesidenan Banyumas. Jalur antara lain penghubung antara Banyumas, Purwokerto, Banjarnegara, Wonosobo, Purbalingga, dan Cilacap. Pada tahap awal, pembangunan jalur Purwokerto-Wonosobo 1893 hingga 1917. Pembangunan jalur tersebut dilaksanakan oleh perusahaan kereta api Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SSM). Kemudian, jalur-jalur kereta api yang dibangun melintasi Sokaraja, Banjarsari, Klampok, Banjarnegara, Patikraja, Sampang, Maos, dan seluruh wilayah eks-Karesidenan Banyumas. Alasan perkebunan-perkebunan pembangunan jalur-jalur kereta api diwujudkan. Perjalanan kereta api di eks Karesidenan Banyumas memang awalnya, sistem pengangkutan barang ke pabrik gula. Pabrik gula masa itu antara lain Pabrik Gula (PG) Klampok, PG Bojong, dan PG Kalibagor. Perubahan zaman menunjukkan bahwa industri gula di Banyumas memasuki masa senjakala. Maraknya pembangunan jalan raya membuat masyarakat meninggalkan moda transportasi kereta api. Pada 1978, perusahaan kereta api milik pemerintah Indonesia akhirnya menutup layanan di jalur Purwokerto-Wonosobo dan kemudian rute Purwokerto-Purwokerto Timur ditutup 1985. (https://www.kompas.com/)

Lantas bagaimana sejarah kereta api di wilayah Banyumas? Seperti disebut di atas, wilayah Banyumas termasuk salah satu pengembangan jalur kereta api di pantai selatan Jawa. Kekuataman wilayah Banyumas dalam jaringan kereta api Jawa posisinya yang strategis tidak hanya menghubyungkan pantai utara dan pantai selatan Jawa juga dari arah barat ke timur (dan sebaliknya). Dalam hal ini pembangunan jalur Jogjakarta-Cilacap dan Cirebon-Jogjakarta via Purwokerto. Lalu bagaimana sejarah kereta api di wilayah Banyumas?  Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyumas (47): Pelabuhan Wilayah Banyumas; Pelabuhan Donan di Cilacap dan Perdagangan Daerah Aliran Sungai Serayu


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Pelabuhan di wilayah Banjumas bermula di pelabuhan Donan di Tjilatjap. Dalam perkembangannya, posisinya berubah. Meski demikian, pelabuhan di wilayah Banyumas tetap berada di Tjilatjap. Lalu apakah ada pelabuhan pendahulu di wilayah Banjumas? Satu yang pasti pelabiuhan Donan di Tjiatjap semakin intens kegiatannya sejak dibangunannya kanal Kali Osso. Sejak pembangunan jalur kereta api pelabuhan di Tjilatjap semakin berkembang.


Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap, Antara Tragedi Berdarah dan Masa Kejayaan. Cilacap, Serayunews.com. 2 April 2021. Pegiat sejarah Cilacap sekaligus ketua komunitas Tjilatjap History Riyadh Ginanjar Widodo menyebutkan, di Cilacap tahun 1832, sudah terlihat kegiatan ekspor komoditas di pelabuhan. “Pelabuhan Cilacap dipilih Belanda karena strategis, memiliki laut cukup dalam di sekitar dermaga serta memiliki arus air yang tenang dilindungi Pulau Nusakambangan dari ombak besar pantai selatan,” terangnya. Pemerintah Hindia Belanda melakukan pengembangan tahun 1859. “Dengan semakin ramainya kegiatan di pelabuhan, perusahaan kereta api pemerintah (Staatsspoorwegen) membangun jalur masuk ke dalam pelabuhan, membuat stasiun khusus barang di dalam kompleks pelabuhan beroperasi pada 1887. Kondisi ini berlangsung sampai tahun 1942. Pada awal Jepang menduduki Cilacap. orang Belanda melarikan diri melalui Pelabuhan Cilacap. Puncaknya pada 27 Februari 1942 Jepang membombardir beberapa titik strategis di Kota Cilacap. Serangan itu dilancarkan lewat udara, di Pelabuhan Cilacap, di Stasiun Cilacap menewaskan 200 orang. Beberapa kapal selam Jepang berjaga-jaga di perairan Cilacap. Pasukan darat merangsek masuk dari sisi timur. Tercatat terdapat sebayak 25 kapal evakuasi, namun hanya 12 kapal yang selamat sampai ke Australia. (https://serayunews.com/)

Lantas bagaimana sejarah pelabuhan di wilayah Banyumas? Seperti disebut di atas, pelabuhan terkenal di wilayah Banyumas berada di Cilacap. Itu semua bermula di pelabuhan Donan. Mengapa? Bagaimana pelabuhan Donan di Cilacap dan perdagangan di daerah aliran sungai Serayu? Lalu bagaimana sejarah pelabuhan di wilayah Banyumas? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Minggu, 16 April 2023

Sejarah Banyumas (46): Goeteng Taroena di Brata Nama RSUD di Purbalingga; Sekolah Kedokteran Docter Djawa School- STOVIA


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Banyak tokoh dokter ditabalkan sebagai nama rumah sakit. Tentu saj itu pantas. Salah satu rumah sakit daerah (RSUD) di Purbalingga diberi nama RSUD Dr R Goeteng Taroenadibrata. Siapa Goeteng Taroenadibrata? Yang jelas rumah sakit umum daerah (RSUD) di Purbalingga cukup dikenal, tetapi siapa Goeteng Taroenadibrata kurang terinformasikan. Raden Goeteng Taroenadibrata disebut masuk STOVIA pada 1 Oktober 1887 dan lulus pada 10 Maret 1893. Hanya itu.


Tokoh Dokter Dibalik Nama Rumah Sakit Rujukan. 18 Maret, 2020. RSUD Dr. R. Goeteng Taroenadibrata (Purbalingga). Raden Goeteng Taroenadibrata masuk STOVIA pada 1 Oktober 1887 dan lulus pada 10 Maret 1893. Beliau tercatat sebagai dokter pertama dari daerah kelahirannya Purbalingga. Oleh karena itu, nama beliau diabadikan menjadi nama rumah sakit yang berada di Jl. Tentara Pelajar No.23, Kembaran Kulon, Kec. Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah (https://muskitnas.net/2020/)

Lantas bagaimana sejarah Goeteng Taroenadibrata nama RSUD Purbalingga? Seperti disebut di atas, Dr Goeteng Taroenadibrata lulusan sekolah kedokteran STOVIA. Namun hanya itu yang terinformasikan. Sekolah kedokteran pada era Pemerintah Hindia Belanda adalah Docter Djawa School, STOVIA, NIAS dan GHS. Lalu bagaimana sejarah Goeteng Taroenadibrata nama RSUD Purbalingga? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyumas (45): Pertanian - Industri Perkebunan di Wilayah Banyumas; Investor Bidang Perkebunan Kopi, Gula dan Indigo


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Pertanian rakyak diusahakan oleh penduduk terutama untuk kebutuhan pangan. Pada era Pemerintah Hindia Belanda, terhadap perkebunan kopi rakyat diterapkan koffiestelsel. Satu bentuk system perkebunan, termasuk di wilayah Banyumas adalah perkebunan swasta dengan menyedikan konsesi lahan bagi investor.


Perkebunan Kopi Di Karesidenan Banyumas Masa Tanam Paksa Tahun 1836-1849. Maratu Latifa Yuan. 2018. Abstrak. Tanaman kopi menjadi komoditi perdagangan utama sejak masa VOC. Pada abad ke-18 kopi Jawa menjadi primadona di pasar Eropa melebihi kopi Yaman, Arab dan Ethiopia. Pada tahun 1830 bersamaan dengan diberlakukannya Sistem Tanam Paksa dibukalah perluasan perkebunan kopi khususnya di Jawa. Sistem Tanam Paksa dibawah Gubernur Jendral van den Bosch bertujuan memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Tujuan penulisan untuk mengetahui aktifitas dan perkembangan perkebunan kopi di Karesidenan Banyumas 1836-1849. Penelitian ini menggunakan metode penelitian secara kritis, heuristic, kritik sumber dan interpretasi serta historiografi yaitu suatu tulisan sejarah yang didasarkan pada fakta-fakta yang telah diperoleh. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perkembangan perkebunan kopi di Karesidenan Banyumas banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti geografis wilayah, iklim, aksesbilitas dan keadaan ekonomi Eropa pada saat itu. Para petani sebagai pekerja paksa di perkebunan kopi mendapatkan dampak paling besar baik di bidang sosial dan ekonomi. Bencana kelaparan dan kemiskinan di masyarakat Banyumas menjadi tidak dapat dihindarkan, sedangkan pemerintah tidak dapat mengambil tindakan perbaikan. Pada akhirnya kekejaman sistem ini dapat dihapuskan. Namun dihapuskannya sistem ini, perkebunan kopi di Karesidenan Banyumas tetap berjalan hingga akhir abad ke-19. (https://journal.student.uny.ac.id) 

Lantas bagaimana sejarah pertanian dan industri perkebunan di wilayah Banyumas? Seperti disebut di atas, wilayah Banyumas termasuk wilayah yang subur dimungkinkan pengembangan pertanian sejak masa lampau. Dalam perkembangannya system pertanian rakyat diintegrasiukan dengan koffiekultuur dan koffiestelsel. Bagaimana dengan yang lain seperti kehadiran investor di bidang perkebunan kopi, gula dan indigo? Lalu bagaimana sejarah pertanian dan industri perkebunan di wilayah Banyumas? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, 15 April 2023

Sejarah Banyumas (44): Cikal Bakal BRI, Hulp-en Spaarbank di Poerwokerto? Bank di Sumatra, Volksbank dan Bataksche Bank


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Ada satu anggapan bahwa cikal bakal BRI adalah Hulp-en Spaarbank yang didirikan di Poerwokerto. Itu satu hal. Dalam hal ini yang menjadi perhatian kita adalah sejarah pembentukan lembaga keuangan yang disebut Hulp-en Spaarbank yang didirikan oleh E Sieburgh di Poerwokerto. Tentu saja pendirikan lembaga ini dimaksudkan untuk meningkatkan akses penduduk khusus yang bergerak di bidang pertanian terhadap kredit. Lembaga keuangan juga didirikan di Sumatra seperti Volksbank dan Bataksche Bank.


Museum Bank Rakyat Indonesia. Tribunnewswiki.com. Rabu, 22 September 2021. Museum Bank Rakyat Indonesia, museum menyimpan sejarah berdirinya Bank Rakyat Indonesia (BRI). Museum didirikan di Purwokerto karena di kota ini adalah cikal bakal berdirinya BRI. Museum BRI diresmikan Kamardy Arief, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia 19 Desember 1990. Adapun Bank BRI sendiri berdiri di Purwokerto 16 Desember 1895. Pendiri bank ini ialah Aria Wiriatmadja. Awalnya BRI ini bernama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden. Dalam perjalanannya bank ini sempat berhenti masa perang 1948. Pada 1949 bank ini kembali beroperasi dengan nama BRI Serikat. Pada 1968 nama berubah menjadi BRI. Bangunan museum dua lantai. Lantai satu tempat informasi terkait sejarah perjalanan BRI, ruang pameran koleksi yakni, akta-akta pendirian, peralatan dan mesin-mesin, foto-foto direksi dan kegiatannya, dokumen-dokumen. Lantai dua tempat sistem keuangan dan sistem perbankan di Indonesia. Informasi-informasi ditampilkan dengan patung kuwera, mata uang pernah dipakai di Indonesia, dan wadah penyimpanan uang tradisional. Juga terdapat koleksi Raden Aria Wirjaatmadja dan diorama yang menggambarkan awal mula gagasan pendirian bank. Juga terdapat perpustakaan. (https://www.tribunnewswiki.com/)

Lantas bagaimana sejarah cikal bakal BRI, Hulp-en Spaarbank di Poerwokerto? Seperti disebut di atas, pada era Pemerintah Hindia Belanda di Poerwokerto oleh E Sieburgh didirikan suatu lembaga keuangan yang disebut Hulp-en Spaarbank. Sementara itu di Sumatra juga didirikan lembaga perbankan yang disebut Volksbank dan Bataksche Bank. Lalu bagaimana sejarah cikal bakal BRI, Hulp-en Spaarbank di Poerwokerto? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyumas (43):Tatakota Banyumas, Ibu Kota Relokasi ke Purwokerto; Tata Kota di Purbalingga, Banjarnegara dan Cilacap


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Pada masa ini kota Purwokerto disebut kota terbesar ketiga di wilayah Jawa Tengah (setelah Semarang dan Solo). Bagaimana dengan tempo doeloe? Nah, itu dia. Ketika Banjoemas ibu kota residentie Banjoemas telah berkembang menjadi kota, Poerwokerto masih kota kecil, Bahkan kota Poerbalingga, kota Bandjarnegara dan kota Tjilatjap relative lebih besar dari kota Poerwokerto. Situasi mulai berubah, ketika ibu kota residentie dipindahkan dari Banjoemas ke Poerwokerto tahun 1937.


Lain dulu lain sekarang. Ibu kota adalah pusat pemerintahan. Ibu kota Hindia Belanda pernah dipindahkan dari Batavia ke Buitenzorg. Namun itu tidak berlangsung lama. Hal serupa dengan ibu kota Residentie Tapanoeli pernah direlokasi dari Sibolga ke Padang Sidempoean. Saat itu kota Padang Sidempoean adalah kota terbesar kedua di Sumatra setelah kota Padang. Pada saat Padang Sidempoean sudah menjadi kota besar, Medan malahan masih kampong kecil. Demikian pula yang terjadi dengan kota Banyumas. Pada saat Banyumas telah menjadi kota besar, Poerwokerto masih kota kecil. Setekah ibu kota Residentie Banjoemas direlokasi dari Banjoemas ke Poerwokerto tahun 1937, secara perlahanan Poerwokerto tumbuh dan berkembang hingga masa ini menjadi kota terbesar ketiga di Jawa Tengah.

Lantas bagaimana sejarah tata kota Banyumas, ibu kota relokasi ke Purwokerto? Seperti disebut di atas pada saat Banjoemas sudah menjadi kota, Poerwokerto masih suatu kampong besar. Ini mengindikasikan kota Banjoemas ditata lebih awal jika dibandingkan dengan tata kota di Puwokerto, Purbalingga, Banjarnegara dan Cilacap. Lalu bagaimana sejarah tata kota Banyumas, ibu kota relokasi ke Purwokerto? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, 14 April 2023

Sejarah Banyumas (42): Banjir di Wilayah Banyumas Masa ke Masa; Pembangunan Kanal Kali Osso Cilacap Minimalkan Banjir


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Kejadian banjir terjadi di setiap daerah. Itu lazim terjadi ketika musim hujan atau ada genangan sungai atau waduk yang jebol. Banjir cenderung lebih intens di wilayah pesisir dan daerah aliran sungai. Di wilayah Banyumas seperti di Cilacap dan juga wilayah Poerwokerto sedari dulu kerap terjadi banjir. Oleh karena itu banjir adalah lazim sejak masa lalu. Masalahnya adalah belum maksimalnya penanganan. Dalam hal diperlukan pemahaman pola banjir untuk membuat rencana penanggulangan yang efektif.


Sejumlah wilayah Banyumas dilanda banjir dan tanah longsor. Jumat, 7 Oktober 2022. Purwokerto (Antara). Bencana tanah longsor dan banjir melanda sejumlah wilayah kabupaten Banyumas, akibat hujan lebat sejak Jumat siang, kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). "Berdasarkan laporan sementara yang kami terima, tanah longsor terjadi di 13 desa yang tersebar di delapan kecamatan, sedangkan bencana banjir melanda tujuh desa di enam kecamatan" katanya di Purwokerto. Bahkan, kata dia, banjir yang terjadi pada Jumat siang sempat menggenangi ruas Jalan Raya Wangon-Lumbir sehingga mengganggu arus lalu lintas di jalur selatan Jateng. Sementara dari Purwokerto, Camat Sumpiuh mengatakan hujan lebat yang terjadi sejak pukul 13.00 mengakibatkan tanah longsor di desa Banjarpanepen. "Bahkan, rumah milik Bu Sisum terkena longsoran hingga akhirnya hilang. Alhamdulillah rumah dalam kondisi kosong, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa," katanya. Selain tanah longsor di Banjarpanepen, bencana banjir juga melanda desa Selandaka dan desa Karanggedang (https://jateng.antaranews.com/)

Lantas bagaimana sejarah banjir di wilayah Banyumas masa ke masa? Seperti disebut di atas, kejadian banjir terjadi di berbagai daerah, tetapi sejarah banjir di wilayah Banyumas memiliki problem sendiri sejak dari dulu. Salah satu upaya penangangan dimulai dengan pembangunan kanal Kali Osso Cilacap untuk meminimalkan bahaya banjir. Lalu bagaimana sejarah banjir di wilayah Banyumas masa ke masa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyumas (41): Badai di Wilayah Banyumas Sejak Tempo Dulu;Kapal Karam, Rumah dan Pohon Rubuh, Tanaman Rusak


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Sejarah badai tentu saja jarang ditulis. Namun menjadi penting sejarah badai ditulis karena wilayah Banyumas kerap dilanda bandai dan angin kencang (puting beliung). Kejadian badai di wilayah Banyumas bahkan hingga kini masih sering diberitakan di wilayah Banyumas. Tidak hanya di laut, di wilayah pesisir (Cilacap) juga jauh di pedalaman (Banyumas). Kajadian badai, ibarat kejadian gempa yang dapat mengancam orang per orang dan lingkungan penduduk.


Warga Banyumas, Dikejutkan dengan Hujan Badai dan Fenomena Hujan Es. 3 Feb 2022. Purwokerto, serayunews.com. Dari pantauan serayunews.com, hujan dengan intensitas yang cukup tinggi disertai angin kencang, terjadi sekitar pukul 15.00 WIB. Hujan tersebut menyebabkan pohon tumbang di sekitar SPN Purwokerto. Beruntung tidak ada korban jiwa, meski pohon tersebut menutupi akses jalan nasional. Koordinator TAGANA Banyumas, Ady Candra mengatakan, TAGANA bersama pihak kepolisian, BPBD, Pemadam Kebakaran Linmas dan relawannya lainnya yang mendapati laporan tersebut langsung menuju lokasi pohon tumbang. “Pohon tersebut sudah kami evakuasi. Warga juga ikut membantu membersihkan puing-puing ranting pohon tumbang,” ujar dia. Dari pantauan kami, akses lalu lintas memang sempat terhambat. Namun, dengan pekerjaan cepat yang dilakukan oleh sejumlah relawan dan aparat kepolisian yang mengatur arus lalu lintas. Kepadatan lalu lintas pun segera terurai. Setelah melakukan evakuasi pohon tumbang, Ady mengaku, tengah melakukan pengecekan ke Sumbang, terkait informasi adanya fenomena hujan es, untuk memastikan kebenarannya. “Kami lakukan pengecekan, dan kebetulan sedang patroli di Sumbang, informasinya begitu,” ujarnya. (https://serayunews.com/)

Lantas bagaimana sejarah badai di wilayah Banyumas sejak tempoe doeloe? Seperti disebut di atas, wilayah Banyumas termasuk wilayah yang kerap terjadi badai atau angin kencang (puting beliung). Namun bagaimana itu terjadi dari masa ke masa kurang terinformasikan. Dampaknya beragama mulai kapal karam, rumah dan pohon rubuh hingga kerusakan tanaman. Lantas bagaimana sejarah badai di wilayah Banyumas sejak tempoe doeloe? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.