Kamis, 06 Agustus 2026

Sejarah Dr Tjipto (13): Kongres PPPKI Pertama di Soerabaja dan Kongres Pemuda Kedua di Batavia; Pengurus PI Ditangkap


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Dalam narasi sejarah Indonesia, Kongres Pemuda jauh lebih dikenal dan lebih penting daripada Kongres PPPKI. Panitia Kongres Pemuda 1926 Tabrani (ketua); Soemarto (sekretaris), Solehuwy (bendahara); Kongres Pemuda 1928 Soegondo (ketua), Mohamad Jamin (sekretaris), Amir Sjarifoedon Harahap (bendahara). Kedua kongres tersebut diadakan di Batavai. Panitia Kongres PPPKI 1928 diadakan di Soerabaja dipimpin Dr Soetomo (ketua) dan Ir Anwari (sekretaris/bendahara). Ibarat Kongres Pemuda membangun landasan untuk masa depan, Kongres PPPKI membuka jalur “take off”. Oleh karena itu Kongres Pemuda dan Kongres PPPKI sama pentingnya: sama-sama membangun Indonesia Raya. Model Bisnis Era Teknologi Informasi


Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) adalah organisasi pergerakan kemerdekaan yang pernah ada di Indonesia. PPPKI merupakan organisasi kumpulan dari beberapa organisasi-organisasi seperti Partai Sosialis Indonesia, Budi Utomo, Partai Nasional Indonesia, Paguyuban Pasundan, Jong Sumatranen Bond, Pemuda Kaum Betawi, dan Kelompok Studi Indonesia. Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) didirikan dalam sebuah rapat di Bandung pada tanggal 17–18 Desember 1927. Latar belakang didirikannya PPPKI adalah karena tokoh-tokoh pergerakan nasional beranggapan bahwa berjuang melalui masing-masing organisasi tidak akan membawa hasil. Soekarno kemudian mempunyai ide untuk menggabungkan organisasi-organisasi tersebut supaya Indonesia dapat mencapai kemerdekaannya (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Kongres PPPKI Pertama di Soerabaja 1928 dan Kongres Pemuda kedua di Batavia 1928? Seperti disebut di atas, Kongres Pemuda dan Kongres PPPKI sama pentingnya: sama-sama membangun Indonesia Raya. Dr Tijpto Mengoen Koesoemo diasingkan ke Banda tahun 1927. Lalu bagaimana sejarah Kongres PPPKI Pertama di Soerabaja 1928 dan Kongres Pemuda kedua di Batavia 1928? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Catur di Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Kongres PPPKI Pertama di Soerabaja dan Kongres Pemuda kedua di Batavia 1928; Pengurus PI Ditangkap di Belanda 1927

Kongres Pemuda pada tanggal 30 (hari Jumat) April 1926 dibuka yang diadakan di gedung Lux Orientes (Bintang Timur) yang turut dihadiri berbagai organisasi pemuda (lihat De locomotief, 01-05-1926). Gedung Lux Orientes tidak jauh dari kantor surat kabar Bintang Hindia dan kantor berita Alpena). 


Dalam pembukaan ini pernyataan kepatuhan dari asosiasi yang diwakili dan lainnya dibacakan; Jong Java, Jong Sumatera, Asosiasi Pemuda Teosofis, Ambonsche Studeerenden, Jong Minabassa, Jong Islamietenbocd, Jong Batak, Sarikat Minahasa, Boedi Oetomo Afdeeling Batavia, Pelajar Indonesia (Sekar Roekoen), Bapak Darmo, Ali Tirtosoewirjo, Prawira dan Ny Koesoema Sumantri; sementara itu divisi Batavia Mohammadijah dan Jong-Jara serta Pasoendan tidak terwakili. Topik-topik yang dipresentasikan dalam kongres ini antara lain persatuan Indonesia, masa depan perempuan, bahasa dan sastra serta agama dalam gerakan. Beberapa kesimpulan persatuan Indonesia, usulan bahasa Melayu (lingua franca) sebagai bahasa persatuan Indonesia, kemajuan perempuan tanpa meninggalkan budaya Indonesia dan masalah agama harus berada di luar pembicaraam kongres (lihat De locomotief, 06-05-1926). Letak Gedung Lux Orientes kini di hook Jalan Budi Utomo dan Jalan Lapangan Banteng Timur). 

Pasca Kongres Pemuda pertama, Tabrani kemudian dipanggil (lihat De Indische courant, 28-05-1926). Disebutkan bahwa Tabrani, ketua Kongres Pemuda pertama, dipanggil ke Penasihat Urusan Pribumi sebagai tanggapan atas pernyataan yang agak bising selama kongres itu. Tampaknya ini adalah cara baru untuk menangani pelanggaran bicara. Akan lebih baik jika pelanggaran berbicara selalu ditangani oleh seorang ahli di bidang urusan Pribumi. Ini sering mencegah banyak kesalahpahaman. Sementara itu, prosedur dewan pertanahan (Landraad) yang panjang dan seringkali tidak membuahkan hasil dapat diselamatkan. Namun bagaimana hasilnya tidak diketahui. Sementara itu Tabrani masih memiliki permasalahan sendiri di internal surat kabar Hindia Baroe. 


Tabrani yang dulu anggota Jong Java sebenarnya hanya sebagian kecil anggota Jong Java yang menyetujui sepak terjang Tabrani. Sebagian besar lebih suka dengan cara yang biasa-biasa saja. Hal itulah mengapa Tabrani (yang berasal dari Madura) sangat jarang namanya dihubungkan dengan Jong Java maupun Boedi Oetomo. Hal itu juga nantinya yang dialami oleh Dr Soetomo dan Ir Soekarno. Di dalam internal Jong Java dan Boedi Oetomo ada sebutan Trawant Tabrani, tidak hanya Tabrani yang tidak diikuti tetapi juga orang-orang yang diindikasikan antek Tabrani. Sementara itu, surat kabar Hindia Baroe yang dipimpin Soetadi dengan pimpinan redaksinya Tabrani sedang memiliki masalah keuangan. Satu permasalahan besar Hindia Baroe adalah tidak memiliki percetakan sendiri yang sangat tergantung dari luar yang menyebabkan biaya cetak yang terus naik. 

Permasalahan surat kabar Hindia Baroe semakin dalam. Mohamad Tabrani sendiri masih memiliki kasus delik pers. Berbeda dengan rekannya, Parada Harahap yang menjadi pemimpin surat kabar Bintang Timoer (di bahwa percetakan/penerbit NV Bintang Hindia) masih terbilang aman-aman saja. Parada Harahap tentu memahami apa yang dialami rekannya tersebut. 


Parada Harahap sendiri sejak 1918 sudah beberapa kali terkena delik pers dan bahkan harus dibui. Surat kabar Parada Harahap sudah dua kali dibreidel. Mohamad Tabrani sendiri masih terbilang baru di dunia pers (sejak 1925). Soetadi mulai angkat tangan tidak bisa mengatakan apa, apakah Hindia Baroe ditutup atau tidak. Tampaknya setelah ini tidak pernah terinformasikan lagi kabar surat kabar Hindia Baroe. Pada akhirnya Tabrani tidak berada di surat kabar Hindia Baroe lagi. 

Setelah begitu lama baru diketahui keberadaan Tabrani (lihat De locomotief, 25-01-1927). Namun apa yang menjadi aktivitas Mohamad Tabrani sekarang di Batavia tidak terinformasikan, tetapi besar dugaan Mohamad Tabrani menjadi bagian dari jajaran redaksi surat kabar Bintang Timoer (pimpinan Parada Harahap). Sebagaimana diketahui, Parada Harahap adalah yang merekomendasi Tabrani yang belum lama lulus sekolah Osvia di Bandoeng masuk ke surat kabar Hindia Baroe di Batavia. Surat kabar Bintang Timoer sebagai sukses surat kabar Bintang Hindia terbit pertama tanggal 1 September 1926. 


Setelah para pemuda berkongres, Parada Harahap mulai menghubungi para senior seperti Dr Abdoel Rivai dan guru Soetan Casajangan. Lalu menghubungi para anggota Volksraad antara lain Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soeangkoepon (dapil Oost Sumatra) dan Alimoesa Harahap (dapil Tapanoeli).  Lalu diadakan pertemuan orang Sumatra di Welteverden (lihat De Indische courant, 10-02-1927). Pertemuaan ini diadakan karena Sumatranen Bond sudah lama vakum. Disebutkan komite sementara (formatur) terdiri dari Sutan Mohamad Zain, Parada Harahap dan Dr Abdoel Rivai. Pertemuan memutuskan susunan dewan Sumatranen Bond yang baru antara lain Soetan Mohamad Zain (ketua) dan Parada Harahap (sekretaris). Seperti dilihat nanti, lalu kemudian diadakan pertemuan publik pertama di rumah Dr Abdoel Rivai (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 24-05-1927). Catatan: mahasiswa pribumi pertama di Belanda adalah Abdul Rivai (1899); Soetan Casajangan yang kelima (1904). Sementara Mangaradja Soangkoepon tiba di Belanda tahun 1910 dan kemudian disusul Soetan Goenoeng Moelia tahun 1911. 


Dalam perkembangannya, nama Mohamad Tabrani terinformasikan kembali (lihat De locomotief, 10-03-1927). Disebutkan Panitia Kongres Jong Indonesia di Weltevreden, yang diketuai oleh Tabrani, mantan pemimpin redaksi harian berbahasa Melayu Hindia Baroe, mulai intens membahas Kongres Pemuda kedua, yang rencananya akan diadakan pada awal tahun ajaran baru. Belum ada yang diketahui tentang sifat pokok bahasan yang akan dibahas dalam kongres itu, tetapi Tabrani disebutkan akan berangkat ke Eropa.


De locomotief, 10-03-1927: ‘Kongres Pemuda Indonesia. Jumat sore lalu, tanggal 4 ini, Komite Kongres Jong Indonesia bertemu di Weltevreden. Hidangan utama diskusi adalah persiapan Kongres Pemuda kedua dan pemilihan panitia. Diputuskan untuk mengadakan Kongres Pemuda kedua pada bulan Agustus. Dari pokok-pokok yang akan dibahas, kita perhatikan: 1. Gagasan Indonesia Raya dan penjabarannya. 2. Arti penting pers dalam pembangunan nasional Indonesia 3. Emansipasi wanita Indonesia. 4. Masalah emigrasi. 5. Kesehatan. 6. Signifikansi internasional Indonesia. 7. Wajib belajar. 8 Arti penting olahraga bagi ketahanan fisik bangsa Indonesia. Berbeda dengan kongres pertama, kali ini akan diselenggarakan berbagai kegiatan seni dan  kompetisi olahraga juga tidak akan dilupakan. Pemilihan panitia sementara sehubungan dengan keberangkatan awal Tabrani ke Eropa menghasilkan komite sebagai berikut: Ketua Bahder Djohan (Semi-dokter), wakil ketua Ms. Soetji Soemarni (guru), sekretaris 1 Wahab (Stovia), sekretaris 2 Tirtawinata (RHS), bendahara 1 Nelwan (Stovia), bendahara 2 Louhanapessij (Normaal Cursus). Anggota: Ny. S. Adam (Normaal Cursus); M Soepit (RHS); P. Pinontoan (Stovia); J. Toule Soulehuwij (RHS); Darwin (Stovia); Diapari Siregar (Stovia); GM L Tobing (Stovia); Gindo Siregar (Stovia); TH Pangemanan; Abdullah Sjukoer (RHS) dan Tabrani (Jurnalis). Tabrani mengatakan dalam pidato perpisahan singkatnya antara lain bahwa Kongres Jong Indonesia harus menjadi sumber energi yang darinya organisasi-organisasi pemuda yang ada dan yang akan didirikan dapat menarik kekuatan mereka dalam mewujudkan gagasan Indonesia tentang persatuan. Pukul 7 malam ketua baru menutup rapat, setelah mengucapkan terima kasih kepada Tabrani atas nama panitia yang baru dibentuk atas segala upaya yang telah dilakukan oleh promotor Kongres Pemuda Indonesia pertama ini dengan penuh semangat menyebarkan gagasan Indonesia tentang kesatuan’. 

Panitia Kongres Pemuda tahun 1927 sudah terbentuk, panitia inti ketua Bahder Djohan (Semi-dokter), sekretaris pertama Wahab (Stovia) dan bendahara pertama Nelwan (Stovia). Kongres akan diadakan pada bulan Agustus 1927. Tabrani sendiri yang akan berangkat ke Belanda, hingga bulan Juni diketahui (sudah) berada di Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-06-1927).  Sementara itu di Belanda, pada bulan Juli 1927 Amir Sjarifoeddin Harahap lulus sekolah menengah di Haarlem (Gymnasium Haarlem) (lihat Algemeen Handelsblad, 10-07-1927). 


Amir Sjarifoeddin Harahap lulus sekolah dasar Eropa (ELS) di Sibolga. Amir Sjarifoeddin Harahap mengikuti ujian masuk ke sekolah PHS di Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 24-05-1921) Disebutkan ujian masuk kelas 1 HBS di Batavia, yang dinilai oleh Prins Hendrik School (PHS), telah lulus di Sibolga Amir Sjarifoedin. Namun Amir Sjarifoeddin Harahap tidak ke Batavia, tetapi melanjutkan studi ke Belanda (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 12-07-1921). Disebutkan kapal ss Pieter Zooncoon berangkat ke Belanda dimana dalam manifest tercatat nama Amir Sjarifoedin.. Sementara itu, Mohamad Hatta lulus ujian akhir di PHS Batavia. Pada bulan September Mohamad Hatta berangkat ke Belanda dengan kapal ss Kawi. Lama studi di Gymnasium Haarlem enam tahun. Amir Sjarifoeddin Harahap harus segera kembali ke tanah air karena ada masalah keluarga di Sibolga (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 09-04-1927). Amir Sjarifoeddin Harahap tidak kembali ke Belanda, lalu mendaftar di sekolah tinggi hokum (Rechthoogeschool) di Batavia. Sementara itu, Ali Sastroamidjojo dan Ida Loemongga Nasoetion lulus HBS di KW III School Batavia (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 31-05-1923). Ida Loemongga Nasoetion (studi kedokteran) berangkat ke Belanda pada bulan Agustus dengan kapal Tambora dan Ali Sastroamidjojo (studi hukum) berangkat ke Belanda bulan Oktober dengan kapal ss Prinses Jualiana. 

Tabrani baru berangkat ke Belanda pada bulan Juli (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-07-1927). Disebutkan kapal ss Jan Pieterszoon Coen dari Batavia dengan tujuan akhir Amsterdam tanggal 13 Juli dimana di dalam manifest tercatat nama M Tabrani Soerjowitjitro. Kapal ss Jan Pieterszoon Coen adalah kapal mewah. Kapal ss Jan Pieterszoon Coen tiba di Amsterdam pada tanggal 8 Agustus (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 10-08-1927). 


Di Belanda sudah barang tentu Mohamad Tabrani akan bertemu dengan para mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpoenan Indonesia. Saat ini yang menjadi ketua Perimpoenan Indonesia adalah Mohamad Hatta dengan sekretaris Abdoel Madjid dan bendahara Aboetari. 

Pada bulan September 1927 terinformasikan para pengurus Perhimpoenan Indonesia ditangkap. Para pengurus tersebut adalah Mohamad Hatta, Ali Sastroamidjojo, Abdoel Madjid dan Nazir Pamoentjak. Tentu saja itu tidak mengagetkan Tabrani di Belanda. Tabrani juga mengetahui sangat sering terjadi di Indonesia. Lagi pula pemberitaan penggerebekan rumah-rumah mahasiswa di Belanda sudah terinformasikan sejak Tabrani masih di tanah air (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 13-06-1927). 


De locomotief, 24-09-1927: Moskow-Hindia melalui Belanda, rencana revolusi mahasiswa pribumi. Di antara para mahasiswa pribumi yang ditangkap, terdapat rencana yang matang untuk melakukan pemberontakan di Hindia Belanda, termasuk mengorganisir kerusuhan untuk mengungkap Batavia dan mendapatkan kebebasan memerintah disana: menembak petugas, membujuk tentara pribumi, dan apa pun yang menjadi milik revolusi berdarah. Hatta, Sastro dkk ditangkap. Penggerebekan malam di Den Haag, Leiden dan Amsterdam. Dalam penangkapan kedua yang ditangkap di Leiden, [Abdoel Madjid] Djojoadiningrat, diangkut ke Den Haag dan ditahan di Pusat Penahanan disana. Polisi juga menangkap mahasiswa pribumi, Nazir Pamontjak’. Catatan: Yang dijadikan bukti untuk penangkapan adalah materi yang terdapat dalam Indonesia Merdeka, organ Perhimpoenan Indonesia pada edisi keempat (Maret) dan edisi kelima (April) berisi materi bersifat khusus dan tertutup. Surat kabar Het Volk menjadikan materi itu satu artikel dengan judul “Het nieuwe jaar in” yang lalu dikutip Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 12-06-1927. 

Mohamad Hatta studi bidang ekonomi di Rotterdam (ketua Perhimpoenan Indonesia), Ali Sastroamidjojo, Abdoel Madjid (sekretaris Perhimpoenan Indonesia) dan Nazir Pamoentjak ketiganya studi bidang hukum di Leiden. Abdoel Madjid dalam hal ini adalah saudara seayah RM Kartono dan RA Kartini. Lantas bagaimana dengan studi mereka setelah ditangkap? Apakah akan berakhir begitu saja? Oh, ternyata tidak. Di penjara di Den Haag, Ali Sastroamidjojo tetap mempersiapkan ujian sarjana untuk kelulusan bidang hukum di Leiden. Oh, lalu apakah bisa berhasil? Oh, ternyara Ali Sastroamidjojo dari penjara datang ke Leiden untuk mengikuti ujian. Hasilnya, berhasil mendapat gelar sarjana hokum. 


Het volk: dagblad voor de arbeiderspartij, 30-09-1927: ‘Dr. Sastro Amidjojo. Geslaagd. Pagi ini adalah mahasiswa Indonesia yang ditangkap, Ali Sastro Amidjoio. Ditemani sejumlah detektif dari Den Haag, ia berangkat ke Universitas Leiden untuk mengambil gelar doktor hukum disana dan berhasil lulus’. 

Sementara itu, Tabrani di Belanda pada bulan Oktober hadir dalam Konferensi Studi Hindia. Dalam konferensi ini Tabrani memaparkan situasi dan kondisi di tanah air mulai dari perihal pers (kebebasan pers), penganiayaan terhadap pribumi (khusunya kaum komunis) dan gerakan persatuan (khususnya pemuda; sebagai ketua Kongres Pemuda Indonesia pada bulan April 1926). Mewakili orang Cina dalam konferensi ini adalah Ir Thung Tjeng Hiang (kandidat doctor; yang juga mantan ketua Chung Hwa Hui di Belanda). 


De avondpost, 11-10-1927: ‘Konferensi Studi Hindia: Kampanye Perdamaian Pemuda. Sabtu dan Minggu lalu, Konferensi Studi Hindia berlangsung di Gedung "D Vonk" di Noordwijk aan Zee, yang dihadiri oleh sekitar 40 perwakilan kelompok lokal dan regional. Tabrani, seorang jurnalis pribumi, memulai Sabtu malam dengan memberikan gambaran tentang keadaan pers pribumi. Kebebasan pers, seperti yang kita kenal di Tanah Air, tidak dikenal di Hindia. Terlebih lagi, seluruh gerakan pribumi saat ini menderita penganiayaan komunis yang telah berlangsung sejak tahun 1924. Mereka yang hanya terbiasa dengan komunisme ditahan di penjara preventif selama bertahun-tahun; dikatakan bahwa hal ini sangat kuat terjadi di bawah rezim Fock dan juga merupakan faktor yang berkontribusi pada fakta bahwa berbagai kelompok pribumi secara berturut-turut berhenti muncul. Selain itu, dalam perburuan komunis ini, spionase digunakan secara luas, di mana segala macam nada yang tidak diinginkan menjadi populer. Lebih lanjut, sama sekali tidak benar untuk mengklaim bahwa gerakan nasionalis dan komunisme sebenarnya sama. Sebaliknya, pembicara, kami kaum nasionalis berharap, sesegera mungkin, untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam program yang terbuka dan realistis. Adapun pemuda Hindia Belanda, saat ini hampir seluruhnya telah diyakinkan untuk mendukung apa yang disebut "Gerakan Persatuan". Yang juga penting adalah gerakan intelektual Hindia Belanda, yang termanifestasi dalam Persatuan Intelektual Dr Soetomo. Adapun Sarikat Islam, mereka belum menyatakan dukungan maupun penolakan terhadap kerja sama. Akhirnya, beliau menyimpulkan pidatonya dengan menyatakan bahwa akan menjadi suatu kehormatan bagi pemuda Indonesia untuk diizinkan bekerja sama dengan pemuda Belanda dan pada prinsipnya berjanji akan memberikan dukungan penuh dari mereka untuk Kongres Pemuda Dunia yang akan diadakan di Hindia Belanda pada tahun 1928. Setelah itu, pidato singkat disampaikan oleh Ir Thung dari Wageningen, yang secara lebih spesifik mengkaji situasi orang Belanda di Hindia Belanda. Menurutnya, kelompok ini juga merasa terpinggirkan oleh pemerintah, terutama karena kebijakan pendidikan. Kongres Intelektual Cina di Semarang menyatakan dukungannya untuk kerja sama dengan pemerintah. Hal ini semakin mencolok mengingat ini adalah pertama kalinya berbagai kelompok intelektual Cina di Hindia Belanda bergabung dalam kerangka organisasi. Setelah beberapa gerbong terisi, pertemuan Sabtu malam ditutup. Keesokan paginya, AM Joekes menguraikan secara rinci prinsip-prinsip kebijakan etika di Hindia Belanda. 

Gerakan persatuan di Indonesia (Tabrani dkk) dan gerakan politik di Belanda (Mohamad Hatta dkk) pada kelompok organisasi pemuda/mahasiswa (junior) adalah dua gerakan yang bersifat komplemen. Tabrani dkk di Indonesia menginisiasi persatuan pemuda Indonesia ibarat membangun landasan untuk masa depan Indonesia, Mohamad Hatta dkk di Belanda untuk terus meratakan jalur untuk “take off”. Dalam konteks persatuan tersebut, kemudian muncul pada bulan September 1927 adanya inisiasi dari organisasi-organisasi kebangsaan Indonesia (senior) di Batavia untuk mendirikan organisasi sebagai wadah persatuan. 


Bataviaasch nieuwsblad, 26-09-1927: ‘Minggu di Weltevreden para pemimpin yang berbeda dari serikat pribumi bertemu di Batavia di rumah Dr Hoesein Djajadiningrat. Diputuskan untuk mendirikan organisasi yang terdiri dari para pemimpin dari berbagai serikat pribumi, dengan ketua komite adalah MH Thamrin dan sekretaris Parada Harahap. Serikat yang hadir adalah Boedi Oetomo, Pasoendan, Kaoem Betawi, Sumatranenbond, Persatoean Minahasa, Sarekat Ambon dan NIB (Perserikatan Nasional Indonesia). 

Dalam inisiasi pembentukan organisasi induk dari organisasi-organisasi kebangsaan Indonesia (senior) di Batavia tampaknya Parada Harahap memainkan peran lagi. Seperti disebut sebelumnya, Parada Harahap telah berperan dalam inisiasi penyelenggaraan Kongres Pemuda tahun 1926. Parada Harahap sendiri dalam hal ini adalah sekretaris Sumatranen Bond. Dalam pembentukan komite pembentukan organisasi induk ini Parada Harahap (Sumatranen Bond) sebagai sekretaris dana MH Thamrin (Kaoem Betawi) didaulat sebagai ketua. Sebagaimana diketahui Mohamad Hoesni Thamrin dan Parada Harahap adalah sama-sama pengusaha di Batavia. Usaha MH Thamrin bergerak di bidang perdagangan dan industri pengolahan, sementara usaha Parada Harahap di bidang media dan percetakan. Parada Harahap pemimpin surat kabar haria Bintang Timoer (satu-satunya harian di Batavia) adalah ketua pengusaha pribumi di Batavia (semacam Kadin pada masa ini). 


Dalam pertemuan inisiasi pembentukan organisas induk dari organisasi-organisasi kebangsaan Indonesia (senior) di Batavia diadakan di rumah Dr Hoesein Djajadiningrat. Saat ini Dr Hoesein Djajadiningrat adalah pimpinan sekolah tinggi hukum (Rechthoogeschool) di Batavia. Sebagaimana diketahui Hoesein Djajadiningrat adalah ketua yang ketiga dari Indische Vereeniging di Belanda (1911/1912). Sudah barang tentu dalam pertemuan ini turut dihadiri Soetan Casajangan, Direktur sekolah Normaal School di Meester Cornelis (kini Jatinegara) yang merupakan pendiri dan ketua Indische Vereeniging pertama (1908-1910). Rumah Hoesein Djajadiningrat di Kramat dan rumah Soetan Casajangan di Jatinegara tidak terlalu jauh. Soetan Casajangan tiba di Belanda tahun 1904 dan menyelesaikan studi keguruan dengan akta MO tahun 1910; Hoesein Djajadiningrat tiba di Belanda tahun 1906 dan menyelesaikan sarjana bahasa dan sastra di Leiden tahun 1912 dan langsung kembali ke tanah air. Soetan Casajangan baru kembali ke tanah air tahun 1913. Pada tahun 1914 Hoesein Djajadiningrat kembali ke Belanda dan kemudian meraih gelar doktor dalam bidang bahasa dan sastra pada tahun 1915. Hoesein Djajadiningrat adalah doktor pertama Indonesia. 

Komite persiapan organisasi induk dari organisasi-organisasi kebangsaan Indonesia (senior) di Batavia ini akan menyiapkan penyelenggaraan pembentukan organisasi (yang akan diadakan kemudian, seperti dilihat nanti diadakan di Bandoeng). Komite persiapan ini juga akan membangun kantor/gedung pertemuan organisasi induk (seperti dilihat nanti MH Thamrin menhibahkan lahan dan Parada Harahap mengumpulkan dana dari berbagai pihak terutama dari organisasi pengusaha pribumi di Batavia). 


Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 28-10-1927: ‘Denasionalisasi. Beberapa hari yang lalu, sebuah pertemuan warga Ambon diadakan di Soerabaja, yang diberi nama megah: Ambonessche Volksvergadering (Majelis Rakyat Ambon), di mana berbagai pembicara mencurahkan isi hati mereka, termasuk Dokter Sitanalaa yang banyak dibicarakan. Kami tidak ingin membahas beliau di sini, melainkan seorang koleganya; seorang dokter, yaitu dokter Ratu Laugi, yang diundang untuk tujuan itu — yang mana seorang warga Manado sebenarnya berbicara di Majelis Rakyat Ambon ini, jangan sampai hal itu menjadi jelas bagi kami — memberikan banyak kebijaksanaan kepada Anda dalam bahasa Belanda. Bapak ini melakukan hal itu karena beliau tidak cukup mahir dalam bahasa daerah, bahasa pribumi, karena denasionalisasi pendidikan kita. Di situlah letak leluconnya. Seorang "orang Indonesia" yang tidak berbicara bahasanya sendiri, sementara begitu banyak orang non-Indonesia yang berbicara... yah, itu pasti karena pendidikan yang... dijalani oleh orang Indonesia itu, pembaca? Tidak, yang ditanyakan adalah: Lebih banyak pendidikan, pemerintah, pendidikan yang lebih baik, pemerintah; fakta bahwa kita tidak puas adalah karena pendidikan yang tidak cukup. Sekolah menengah atas, pemerintah, silakan, seseorang meminta... seseorang mendapatkan; dan ketika seseorang telah menikmati semua kebaikan pemerintah itu, tidak ada ampun, kebodohan, dan kemudian seseorang harus berbicara di lingkaran "orang Indonesia", oh, maka sungguh menyenangkan untuk sekadar melontarkan sedikit kebencian ke arah yang sudah dikenal itu. Sebuah sikap pengecut. Karena mereka bisa melakukannya, karena jika mereka tidak bisa, mereka akan menjadi orang bodoh yang luar biasa. Anda memiliki contoh yang sangat bagus tentang itu di Weltevreden. Seorang Tabrani, ketua Kongres Pemuda Indonesia Pertama, seorang pria keturunan Madura, mengklaim sesuatu yang tidak terlalu gila, yaitu bahwa dia tidak berbicara selain bahasa Madura. Sesuatu yang memang gila, yaitu, bahwa dia juga tidak lagi berbicara bahasa Madura. Terlepas dari kenyataan bahwa pria itu menulis surat kabarnya dengan bahasa Melayu yang sangat fasih dan tinggi, pria kecil itu juga tidak bisa berbahasa Belanda, atau hanya sangat buruk..... (Mari kita sebutkan enam detail...) Benar, "korban" dari detail semacam ini harus ingat bahwa, pertama-tama, ketika mereka melupakan bahasa ibu mereka, mereka harus menyalahkan kemalasan mereka sendiri, dan tolong jangan banyak bicara terhadap Pemerintah Ibu Pertiwi, yang cukup gila untuk memberi mereka lebih dari, misalnya, anak laki-laki "Hindia". Hamerus’. 

Tabrani di Belanda tengah mempelajari (studi) jurnalistik di Eropa/Belanda. Sementara itu, Parada Harahap di Batavia masih terus perang opini dengan pers (berbahasa) Belanda (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 08-11-1927). Disebutkan diskusi tentang mayoritas Indonesia, bahwa Indonesia adalah warisan nenek moyang, sebagai protes keras Parada Harahap dari Bintang Timur. (Pemimpin Redaksi Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie Karel Wijbrand): ‘Jika Indonesia warisan nenek moyang, KW cs menganggap sebagai pemberontakan. Jadi saya memahami komunikasi yang dilakukan oleh Pemerintah, bermain aman! Dan Anda? K.W’. Perang opini Parada Harahap dengan KW ini dimulai sejak tahun 1925. 


De Indische courant, 17-09-1925: ‘Indisch fascisme. Het blanke front. Parada Harahap, editor Bintang Hindia, menulis dalam Java Bode tanggal 10 lalu dengan judul Kranten en Klanten (Koran dan Pelanggan) setelah posisi Lokomotif diambil oleh Soerabija HBL dengan operasi pasar di Semarang. Artikel ini di Soerabajasch Handelsblad dan Algemeen Handelsblad di Semarang. Parada Harahap mengatakan: ‘Sebagai pribumi, kemajuan negara-negara ini sangat dekat dengan hati saya, dan berusaha agar masyarakat tetap harmonis dari semua lapisan di Hindia, harus mencatat bawah saya pikir saya memiliki pemahaman, setidakanya mewakili wartawan dari pers Melayu. Mohon ijin saya harus member pendapat yang sama dikhususkan pada Soer. Hbld hari ini yang kesannya sikap yang diambil membahayakan kerjasama yang harmonis masyarakat di Hindia. Ini telah lama mengancam kepercayaan umum penduduk pribumi niat baik dari Belanda akan hilang di sini di Hindia, oleh tindakan beberapa pers Eropa/Belanda dan masyarakat ETI, terutama oleh cepat meluncurkan mereka dari tuduhan senegara mereka sendiri, yang mendukung keselamatan India dan rakyatnya dengan cara mereka, jika mereka bersalah mengkhianati rakyat dan negara mereka sendiri. Kesenjangan antara Timur dan Barat dan tidak sedikit Doori (tindakan yang dimaksudkan Anda dari Soer. Hbld) untuk membentuk sebuah front kosong, yang begitu banyak memiliki untuk menandakan tantangan resmi yang ditujukan kepada umat berwarna di Hindia. Bagaimana Pribumi dan disini yang mana Lokomotif, Cina berpikir, sempurna akrab bagi saya. Lokomotif adalah salah satu organ, menekankan sopan santun yang baik bagi kita. Dalam hal ini bagi kami adalah bukti bahwa tidak semua Belanda memusuhi kami, baik antar penduduk asli termasuk Cina, bahwa semua orang Eropa di Hindia kepercayaan rakyat tidak pantas berada sendirian dengan menunjuk ke item yang yang terdapat di Soer. Hbld. dan simpatisan nya. Memang benar bahwa Soer. Hbld. tidak hitam-putih terhadap pribumi, tetapi efek yang diperoleh oleh sesama seperti Mr Ant Lievegoed menunjuk sebagai anti-Belanda atau orang berbahaya bagi Nederlandsene di Hindia tidak berbeda dengan semakin yakin terletak di antara pribumi bahwa setiap pelatih asal Belanda, yang berusaha untuk kemajuan dan pengembangan tanah dan orang, dan yang tidak memperkuat depan putih, dan antagonisme abaian putih dan coklat, dengan bangsanya sebagai pengkhianat. Ini sekarang jelas tilisan anda  lebih berbahaya daripada tulisan wartawan pribumi. Pers ETI bergema di dunia asli tapi resonansinya jauh dari menguntungkan untuk hubungan timbal balik di Hindia. Menurut pendapat saya tugas pers putih sekarang jauh lebih besar dari sebelumnya, sekarang jadi harus memperhitungkan jutaan orang di Hindia, yang oleh pers sendiri dan melalui komunikasi yang lebih baik dan karena itu lebih menjamin kontak di antara mereka sendiri, akan diinformasikan diberitahu tentang apa yang terjadi di pers ETI tercermin apa yang mereka percaya sebagai yang kulit putih di wilayah ini. Anda telah mendorong ke arah fasisme. Hal ini unsur-unsur, seperti Komunis, akan datang untuk mengeksploitasi pernyataan tidak membantu seperti dan taktik dasar merusak mereka kemudian turun, dan digunakan sebagai alat propaganda. Soer. Hbld. Telah berusaha kebohongan, bahwa ada lebih kecurigaan terangsang antara pribumi melawan Belanda di Hindia? Bukankah sekarang delapan orang datang waktu untuk menahan suara seseorang dari journalistieken diucapkan sikap simpatik terhadap penduduk pribumi menunjukkan sikap yang menurut banyak pihak, melihat orang Barat telah mulai menaruh minat kompromi. Tapi kemajuan daerah ini telah membuat kemajuan besar juga, sudah ada terlalu banyak intelektual asli yang merupakan penilaian independen untuk mengetahui untuk membuat peristiwa politik saat ini dari yang klik taruhan reaksioner akan berani secara terbuka untuk keluar orang untuk prinsip-prinsip etika hanya sebagai musuh pemerintah Belanda. Oleh karena itu, adalah komunisme jika diperlukan untuk membenarkan kampanye. Ada yang mau mengikut Aku, yang akan menyelesaikan pekerjaan saya ini?’. [artikel ini juga dilansir De Sumatra post, 24-09-1925]. 

Bagi seorang jurnalis tentu saja tidak ada usia terlalu tua untuk terus belajar ilmu jurnalistik. Para jurnalis sambil bekerja di bidang pers juga belajar tentang ilmu jurnalistik. Dalam hal inilah Tabrani di Belanda sambil belajar (learning by doing) telah diterima di staf redaksi Telegraaf di Amsterdam. Tabrani juga terinformasikan bertindak sebagai koresponden untuk surat kabar Bintang Timoer di Batavia (pimpinan Parada Harahap). Perlu ditambahkan disini, sebelum Tabrani sudah ada orang Indonesia yang studi jurnalistik di Belanda, yakni Djamaloedin (yang juga turut hadir dalam Kongres Pemuda 1926). 


De Indische courant, 11-11-1927: ‘Jurnalisme. Kami mendapat informasi dari Darmo Kondo bahwa Tabrani, yang pernah bekerja di Batavia untuk surat kabar “Hindia Baroe” yang sekarang sudah tidak beroperasi, telah berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studinya di bidang jurnalisme. Beliau telah diterima di staf redaksi Telegraaf di Amsterdam dan juga akan bertindak sebagai koresponden untuk surat kabar “Bintang Timoer” di Batavia (pimpinan Parada Harahap). Tabrani menerima pendidikan awalnya di Osvia di Bandoeng. WSB Klooster, editor-reporter untuk  Utr. Prov. en Sted. Dagblad, telah diangkat menjadi editor Dcli Crt. di Medan’. 

Sementara itu Dr Tjipto Mangoenkoesoemo yang telah memilih tinggal di Bandoeng (buka praktek dokter) tiba-tiba terinformasikan dalam masalah. Bagaimana itu bermula? Mari kita lihat kembali dengan pendirian studi klub di Bandoeng. Sebelumnya, klub studi ini hanya melakukan pertemuan terbatas (dan tertutup), tetapi mulai dilakukan pertemuan publik. Dalam pertemuan public pertama klub studi ini turut dihadiri oleh Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. 


De koerier, 05-07-1927: ‘Malam Tanya Jawab. Pada salah satu hari terakhir minggu lalu, Klub Studi Umum di sini mengadakan pertemuan, yang disebut malam tanya jawab, di gedung klub perkumpulan Pasamoan Pasoendan di Poengkoerweg. Pertanyaan dapat diajukan oleh mereka yang hadir, yang akan dijawab oleh Dr. Sosrokartono. Di antara lebih dari 70 peserta yang hadir, antara lain Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, Dr Sarnsi, Mr Soenarjo, dan lain-lain. Ketua, Ir Soekarno, membuka pertemuan sekitar pukul setengah tujuh malam itu dengan sambutan kepada para hadirin. Di Indonesia, menurut pembicara, pertemuan seperti ini belum pernah diadakan sebelumnya, tetapi di Eropa acara seperti ini sering diselenggarakan. Acara ini bermanfaat untuk pertukaran ide. Menurut pembicara, ada niat untuk menyelenggarakan beberapa acara serupa. Penanya pertama adalah Soerioadipoetro, yang bertanya tentang pentingnya Volkslectuur bagi perkembangan rakyat Indonesia. Pembicara, Dr Sosrokartono, menyatakan bahwa Volkslectuur diselenggarakan menurut sistem tangan, dan oleh karena itu bertujuan untuk mencari keuntungan daripada mengejar kepentingan rakyat. Semua buku muncul setelah pertimbangan yang matang dan tidak dapat memuaskan. Singkatnya: Volkslectuur tidak menawarkan literatur yang memenuhi kebutuhan dan keinginan penduduk. Menanggapi hal ini, Bapak Sahip menyatakan bahwa ia tidak setuju dengan pembicara. Volkslectuur telah menerbitkan berbagai karya populer di bidang kesehatan, pertanian dan hortikultura, dll., yang tentunya sangat disukai oleh masyarakat. Banyak hal lain yang dikemukakan oleh peserta lain mengenai Volkslectuur, yang menunjukkan bahwa pendapat terbagi. Kita akan mengabaikan hal ini demi singkatnya penjelasan. Namun, kami ingin menyebutkan sesuatu mengenai pertanyaan Darmakoesoema, yaitu apakah tidak baik bagi penulis untuk menerbitkan sebuah bacaan, bukan dengan informasi sepihak, di mana, misalnya, Diponegoro tidak disebut sebagai pemberontak tetapi seseorang yang mencintai negaranya. Semua yang hadir tertawa mendengar hal ini. Mengenai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tersisa, kami hanya menyebutkan bahwa mengenai Teosofi dikatakan bahwa Hindia Britania ini telah tiba, sehingga sebenarnya memiliki karakter nasional, tetapi telah berubah sepenuhnya di sini, sehingga siapa pun yang sebelumnya aktif, dengan berpartisipasi dalam Teosofi (jenis yang, karena jamur pemecah belah juga tidak ada di dalamnya, seperti yang diketahui. —Red.), menjadi lunak (lemes) dan lesu. Saat itu pukul sepuluh ketika mereka berpisah’. Catatan: Dr Sosrokartono adalah mahasiswa Indonesia pertama studi di Belanda (setelah lulus HBS di Semarang tahun 1896). Sosrokartono turut serta hadir dalam pendirian organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda Indische Vereeniging yang diinisiasi oleh Soetan Casajangan tahun 1908. Sosrokartono dan Soetan Casajangan tinggal di alamat yang sama di Leiden. Sosrokartono lulus sarjana sastra di Leiden tahun 1909; Soetan Casajangan lulus akta guru MO di Haarlem tahun 1910. Sosrokartono adalah kakak dari RA Kartini. Dr Sjamsi tiba di Belanda sebagai guru muda pada tahun 1911 yang dikirim oleh pengurus Boedi Oetomo untuk studi keguruan yang menitipkannya kepada guru Soetan Casajangan (satu-satunya guru Indonesia di Belanda). Sjamsi lulus akta guru LO di Den Haag tahun 1915. Lalu setelah mendapat kata guru MO, Sjamsi melanjutkan studi di sekolah tinggi perdagangan di Rotterdam. Lulus sarjana ekonomi tahun 1923 dan meraih gelar doktor ekonomi tahun 1925. Pada tahun 1925 ini yang juga berhasil meraih gelar doctor (bidang hokum) adalah Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi. Klub studi pertama di Soerabaja tahun 1924 (Dr Soetomo dkk), baru kemudian pada tahun 1925 didirikan klub studi di Bandoeng dan Batavia, lalu menyusul didirikan di Solo pada tahun 1927. De nieuwe vorstenlanden, 10-08-1927: ‘Pertemuan yang dibatalkan. Pertemuan publik, yang telah dijadwalkan pada Minggu pagi oleh sebuah komite yang dibentuk dari anggota partai terkemuka dari PNI (Partai Nasionalis Indonesia) (baru), PSI, "Pasoendan," dan "Boedi Oetomo," untuk membahas masalah penggeledahan rumah mahasiswa Indonesia di Belanda, tidak dapat dilaksanakan karena kebisingan di lapangan festival di sebelah bioskop Oriental, tempat pertemuan akan diadakan, tidak dapat diredam. 

Sejak keberadaan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo di Bandoeng, sepak terjangnya terus diawasi. Pada bulan Agustus Dr Tjipto Mangoenkoesoemo terinformasikan tengah ditangani jaksa (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-08-1927). Disebutkan Wakil Jaksa Penuntut Umum Mr JD Werkman saat ini berada di Bandung, seperti yang dilaporkan oleh koresponden kami di sana hari ini. Kehadirannya di sana untuk penyelidikan kasus De Jeer. Kemarin, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, yang terkenal sejak zaman I.P., diperiksa oleh beliau. Begitulah isi telegramnya. Kami juga berpikir: di mana para mantan pemimpin IP di masa-masa kerusuhan ini, sekarang kesempatan mereka lebih besar dari sebelumnya? Tapi di sini kita sudah punya satu yang sedang menjalani operasi.

 

Algemeen Handelsblad, 28-08-1927: ‘Tjipto akan ditahan! Tetapi bukan di Boven Digoel. Batavia, 27 Agustus (Aneta.) Tjipto diusulkan untuk ditahan. Namun, pertimbangan sedang diberikan untuk menugaskannya tempat tinggal selain di Boven Digoel’. Nieuwe Haarlemsche courant, 14-11-1927: ‘Apakah Tjipto akan ditahan di Banda? Anela memberi sinyal dari Batavia: Tjipto kemungkinan akan ditahan di Banda, bertentangan dengan usulan awal Direktur Kehakiman untuk menetapkan Koepang sebagai tempat tinggalnya’. 

Apa yang menyebabkan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo tengah ditangani jaksa tidak terinformasikan secara jelas. Bagaimana duduk soalnya juga kurang terinformasikan. Dua minggu kemudian mulai terinformasikan. 


Algemeen Handelsblad, 27-11-1927: ‘Tjipto. Fakta-fakta yang memberatkan. Aneta selanjutnya mengetahui bahwa poin-poin yang dipertanyakan kepada Tjipto berkaitan 'Secara eksklusif dengan afiliasi radikalisasi komunis, sehubungan dengan rencana awal tanggal 17 atau 18 Juli lalu'. Dari sini tampak bahwa sesaat sebelum pertemuan tersebut, Tjipto menerima dua sersan Menado yang berpakaian sipil, yang kunjungannya telah diumumkan sebelumnya. Mereka berbicara kepada Tjipto tentang rencana yang dimaksud, yang disetujuinya. Ia mendorong para sersan untuk terus bekerja ke arah yang dimaksud. Dalam hal ini, Tjipto secara khusus menanyakan tentang sikap para tentara Menado, di mana para pengunjung melaporkan bahwa banyak dari mereka telah dibujuk untuk mendukung rencana pemberontakan, sehubungan dengan itu Tjipto menyatakan keherannya bahwa, meskipun demikian, para gendarme yang dikirim ke Pantai Barat telah bertindak demikian melawan partai perlawanan. Ia mendesak para sersan untuk mendorong para tentara tersebut, setelah kembali, untuk bergabung dengan asosiasi tentara yang berhaluan komunis. Tjipto selanjutnya menyatakan bahwa satu atau dua orang, sebagai pemimpin dari sebuah titik pusat, akan mengeluarkan perintah untuk pemberontakan. Akhirnya, Tjipto memberikan sumbangan sebesar f? kepada para sersan saat mereka pergi. Pertanyaan diajukan kepada Tjipto: "Apakah Anda mengakui bahwa selama kunjungan itu Anda memahami bahwa militer yang disebutkan di atas menganggap Anda sebagai pemimpin kaum intelektual, dan bahwa mereka ingin meyakinkan diri mereka sendiri tentang persetujuan Anda dengan rencana mereka?" Lebih lanjut, ditanyakan apakah Tjipto mengakui bahwa, meskipun ia telah dilarang oleh dekrit pemerintah untuk tinggal di sejumlah wilayah, ia sekarang, melalui sikap dan pernyataannya, juga telah menimbulkan bahaya bagi ketertiban umum selama masa tinggalnya saat ini. Tjipto ingin menggunakan haknya untuk membela diri’. 

Lantas bagaimana hasil penyelidikan jaksa? Tjipto telah konfirmasi akan diasingkan ke Banda (lihat De nieuwe vorstenlanden, 16-12-1927). Disebutkan Aneta hari ini mengumumkan bahwa telah dikonfirmasi bahwa Dr Tjipto Mingoenkoesoemo akan diasingkan di Banda. Sementara itu, seiring dengan pengasingan Dr Tjipto ke Banda, para nasionalis Indonesia yang tergabung dalam berbagai organisasi kebangsaan melakukan pertemuan umum di Bandoeng yang diadakan di Bandoeng pada tanggal 17 Desember. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Pengurus PI Ditangkap di Belanda 1927; Pemimpin Perhimpunan Indonesia di Belanda Ditangkap 1927, Diadili 1928

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar