Kamis, 25 Agustus 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (796): Kenduri Swarnabhumi; Sungai Batanghari, Hulu di Sumatra Barat, Hilir Jauh di Muaro Jambi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Kenduri adalah satu haal, sungai Batanghari adalah hal lain lagi. Sejarah sungai Batanghari adalah sejarah yang panjang. Sungai Batanghari berhulu di Solok Selatan (Sumatra Barat) dan berhilir di Muaro Jambi dan Tanjung Jabung (Jambi). Dalam konteks inilah muncul gagasan kenduri Swarnabhumi.


Sungai menjadi bagian penting bagi manusia. Sungai merupakan jalur transportasi yang menghubung-rangkaikan satu lokasi dengan lokasi Dengan demikian, sungai bukan hanya berupa aliran air dari hulu ke hilir, melainkan bersamanya turut mengalirkan peradaban manusia. Satu di antara sungai yang dimaksud adalah sungai Batanghari, sungai Batanghari merupakan sungai terpanjang di pulau Sumatra. Panjangnya lebih kurang 800 km yang melintasi dua provinsi, yaitu Sumatra Barat dan Jambi, serta melewati sekian banyak kabupaten/kota, di antaranya adalah Kabupaten Solok Selatan, Dharmasraya, Bungo, Tebo, Batanghari, Kota Jambi, Muaro Jambi, dan Tanjung Jabung Timur. Sungai Batanghari mencatat perjalanan panjang sejarah kemelayuan di Sumatra hingga kawasan semenanjung. Setidaknya, hal tersebut telah ditapaki pada abad ke-7 hingga 13 Masehi dengan menjadi jalur perdagangan yang ramai. Tidak hanya para pedagang nusantara yang meramaikannya, melainkan juga dari Cina, India, Persia, hingga Arab dengan berbagai bahan perdagangannya. Maka, tidak mengherankan jika kemudian kita mendapati tinggalan arkeologi dan peninggalan penting lainnya yang menunjukkan adanya suatu peradaban atau pola hidup akuatik di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari. Prasasrti, candi/situs, area permukiman, perahu kuno, keramik, hingga arsitektur bangunan. Kembali mengingat pentingnya sungai Batanghari bagi peradaban kemelayuan di nusantara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) bersama 14 pemerintah daerah menginisiasi kegiatan Kenduri Swarnabhumi. Kenduri Swarnabhumi ini mengangkat tajuk utama: Peradaban Sungai Batanghari: Dulu, Kini, dan Nanti. Slogan kegiatan tersebut adalah “Cintai budaya kita lestarikan sungai, Cintai sungai kita lestarikan budaya”.(https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Lantas bagaimana sejarah kenduri Swarnabhumi? Seperti disebut di atas, gagasan kenduri itu dalam kontek sejarah sungai Batanghari, hulu di Sumatra Barat dan hilir di Muaro Jambi. Lalu bagaimana sejarah kenduri Swarnabhumi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Menjadi Indonesia (795): Kenduri Sko di Kerinci; Tanjung Tanah, Antara Pantai Barat Sumatra-Pantai Timur Sumatra


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Wilayah Kerinci adalah wilayah yang unik, berada diantara beberapa wilayah budaya (Batak, Minangkabau, Melayu dan Redjang). Wilayahnya juga strategis berada diantara pantai barat dan pantai timur Sumatra. Wilayah Kerinci awalnya dimasukkan ke wilayah Sumatra Barat tetapi kemudian ke wilayah Jambi (yang sekarang). Satu yang penting di wilayah Kerinci ditemukan teks tua di Tanjung Tanah. Naskah Tanjung Tanah adalah kitab undang-undang yang dikeluarkan oleh kerajaan Melayu pada abad ke-14. Naskah ini merupakan naskah Melayu yang tertua, dan juga satu-satunya yang tertulis dalam aksara Sumatera Kuno yang juga disebut sebagai aksara Malayu. Selain bahasa Melayu, naskah ini juga menggunakan bahasa Sanskerta.


Kenduri Sko adalah rangkaian acara adat berupa peringatan (kenduri) yang dilaksanakan oleh masyarakat suku Kerinci di provinsi Jambi. Acara ini juga disebut dengan istilah Kenduri Pusako (Pusaka). Istilah ‘sko’ berasal dari kata ‘saka’ berarti keluarga atau leluhur dari pihak ibu dan biasa disebut dengan khalifah ngan dijunnung dan waris yang dijawab. Sko sendiri dibagi menjadi sko tanah dan sko gelar, dimana sko gelar dapat diberikan oleh ibu kepada saudara laki-laki dari pihak ibu (mamak). Pada acara ini terdapat dua agenda pokok yaitu acara untuk menurunkan dan menyucikan benda-benda pusaka, dan acara untuk mengukuhkan pada orang yang akan menerima gelar adat. Acara penurunan benda pusaka biasanya dilaksanakan tiap setahun sekali, atau 5-10 tahun sekali, bahkan 25 tahun sekali. Di daerah Tanjung Tanah acara penurunan benda pusaka dilaksanakan setiap 7 sampai 10 tahun. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah kenduri Sko di Kerinci dan Tanjung Tanah? Seperti disebut di atas, Tanjung Tanah di wilayah Kerinci antara Pantai Barat Sumatra dan Pantai Timur Sumatra. Lalu bagaimana sejarah kenduri Sko di Kerinci dan Tanjung Tanah? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.