Kamis, 08 Juni 2023

Sejarah Banyuwangi (31): Tatakota Bermula di Fort Utrecht Banjoewangi ke Soekaradja; Antara Kampong Saba-Kampong Soekawidi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Tata kota masa kini tentu saja berbeda dengan tata kota Banyuwangi tempo doeloe. Hanya membedakannya adalah tempo doeloe kota tumbuh berkembangan sesuai kebutuhannya. Sedangkan penataan kota pada masa kini mengikuti tren kota modern yang mempertimbangkan banyak hal, termasuk soal kebutuhan zonasi dan proyeksi perkembangan kota ke masa depan.


Penataan Ruang dan Wilayah Banyuwangi Dipuji Pakar Perkotaan. detikNews. Rabu, 19 Jul 2017. Penataan ruang dan wilayah yang dilakukan kabupaten Banyuwangi diapresiasi pakar perkotaan, Yayat Supriyatna. Dosen Planologi Universitas Trisakti Jakarta menilai, Banyuwangi cukup mampu mengendalikan struktur ruang kotanya dengan baik. "Kita lihat tidak saling tumpang-tindih. Saya dengar juga tidak boleh ada mall di dalam kota, itu bagus untuk memecah konsentrasi ruang sekaligus bagian dari pemerataan". Secara teroris, kata Yayat, pemimpin Banyuwangi banyak memahami tentang konsep tata ruang, tapi secara praktik, Yayat mengaku banyak belajar dari Banyuwangi. "Karena mempraktikkan teori di daerah itu lebih sulit. Banyuwangi relatif berhasil mempraktikkannya". Banyuwangi berhasil meraih juara penataan ruang terbaik se-Indonesia 2014 lalu. Yayat juga mengapresiasi penataan ruang di kawasan bandara di mana Pemkab Banyuwangi tidak memberikan izin mendirikan banguna di sekitar bandara. Sehingga lansekap persawahan di sekitar bandara tetap terjaga. "Itu bagian dari positioning. Karena untuk diferensiasi dengan bandara di kota lain, sehingga orang turun dari pesawat sudah langsung terasa keunikan Banyuwangi. Apalagi terminal bandaranya unik". Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pengendalian tata ruang. (https://news.detik.com/)

Lantas bagaimana sejarah tata kota, bermula di Fort Utrecht Banjoewangi ke Soekardja? Seperti disebut di atas, tata kota pada masa ini mengikuti kebutuhan zonasi dan arah perkembangan kota, sedangkan pada masa lampau mengikuti alamiah pertumbuhan kota. Perencanaan kota Banyuwangi tempo doeloe antara benteng dengan kampongc Soekaradja dan antara kampong Saba dan kampong Soekawidi. Lalu bagaimana sejarah tata kota, bermula di Fort Utrecht Banjoewangi ke Soekardja? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyuwangi (30): Pendidikan di Banyuwangi, Bagaimana Bermula? Sekolah Eropa/Belanda vs Sekolah untuk Pribumi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Seperti halnya bidang kesehatan, pada awal Pemerintah Hindia Belanda juga mendapat perhatian. Hanya saja, penyelenggaraan Pendidikan bagi anak-anak Eropa/Belanda yang berkembang. Bagaimana dengan sekolah untuk pribumi? Mari kita telusuri.


Pendidikan dan Pergerakan Nasional: Banyuwangi Awal Abad 20. Bahagio Raharjo. Jurnal Handep: Sejarah dan Budaya Volume 5, No. 2, June 2022. Abstract. Modern education in Banyuwangi, which was established by the government, firstly appeared in 1819 in the form of the Europeesche Lagere School (ELS), approximately two years after the first school has founded in the Dutch East Indies. The existence of this school is inseparable from the interests and needs of the government to prepare skilled government employees. The existing schools were not well developed even though the need for modern schools increased. The enactment of the ethical policy provided an opportunity for non-government parties. Subsequently, schools established by Indo-European, Arab, and Chinese entrepreneurs, and national movement organization. This paper studies the dynamics of their roles in founding a modern school in Banyuwangi during the era of ethical policy. This study used historical methods to explain the education and policies that encouraged the nongovernment sector’s efforts at that time in actively establishing schools for their respective groups. The study found that ethical policy opened opportunities and strengthened the existence of parties outside the government to establish schools in Banyuwangi and develop modern education. The changes were in the strengthening of plantation companies that promoted the opening of new areas, the economic crisis, and the politics of segregation demanded the availability of schools for all groups. (https://handep.kemdikbud.go.id/)

Lantas bagaimana sejarah pendidikan di Banyuwangi, bagaimana bermula? Seperti disebut di atas, pendidikan di wilayah Banyuwangi awalnya hanya sukses bagi anak-anak Eropa/Belanda. Untuk itu ada baiknya memperhatikan sekolah Eropa/Belanda vs sekolah untuk pribumi. Lalu bagaimana sejarah pendidikan di Banyuwangi, bagaimana bermula? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.