Rabu, 21 Februari 2024

Sejarah Bahasa (313): Bahasa Batak, Bahasa Sanskerta dan Bahasa Melayu; Tata Bahasa Batak dan Sejarah Kodifikasi BahasaMelayu


*Pemberitahuan kepada Pembaca Blog Poestaha Depok: Untuk sementara, dari sekian waktu yang lama, saya menghentikan penulisan serial artikel di blog ini, untuk menyediakan waktu lebih banyak untuk menulis buku. Semoga semakin banyak buku yang dapat diterbitkan berdasarkan ribuan artikel dalam blog ini. Sehat kita selalu. Akhir MH buku SEJARAH PERS

***

Kembangkan bahasa Indonesia, pelajari bahasa Inggris dan lestarikan bahasa daerah. Sebagaimana bahasa Indonesia merujuk bahasa Melayu dan bahasa Melayu merujuk pada bahasa Austronesia (bahasa Batak). Bagaimana itu semua berevolusi tentulah menarik diperhatikan. Bahasa dan aksara sendiri adalah satu hal, siapa yang mengembangkangkan adalah hal lain lagi.buku SEJARAH MAHASISWA


Dapat Tugas Kodifikasi Bahasa Melayu, Ada Ahli Belanda Hubungi Raja Ali Haji tetapi Bukan Van Ophuijsen. Senin, 25 September 2023. Pada 1857 Wall berkenalan Raja Ali Haji, pujangga kerajaan Riau, yang menyusun Kitab Pengetahuan Bahasa. Wall mendapat tugas dari GG menyusun kodifikasi bahasa Melayu namun Wall meninggal 1872. Buku pertamanya direvisi HN van der Tuuk, lalu diterbitkan ulang versi ringkas. Yang disambut penuh adalah hasil pekerjaan CA van Ophuijsen. “Paedah kitab itoe ialah tempat bertanja, tjarabagaimana tiap-tiap kata jang terseboet, haroes ditoetoerkan dan bagaimana atoeran toelisannja dengan hoeroef olanda,” tulis Djamaloedin April 1902 ditujukan untuk kehadiran Kitab Logat Melayu, Woordenlijst voor de spelling der Maleische taal (buku ejaan bahasa Melayu, terbit 1901). Buku itu sebagai hasil kerja Ophuijsen melanjutkan pekerjaan Wall. Pada 1910, Ophuijsen menerbitkan buku Maleische spraakkunst (buku tata bahasa Melayu). Karya Ophuijsen ini diputuskan oleh Kongres Bahasa Indonesia 1938 sebagai panduan pengembangan bahasa Indonesia. (https://oohya.republika.co.id/)

Lantas bagaimana sejarah bahasa Batak, bahasa Sanskerta dan bahasa Melayu? Seperti di sebut di atas bahasa Batak dituturkan di pedalaman dan bahasa Melayu dituturtkan di wilayah pesisir. Tata bahasa Batak dan sejarah kodifikasi bahasa Melayu tempo doeloe. Lalu bagaimana sejarah bahasa Batak dan bahasa Melayu? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Sejarah Bahasa (312): Bahasa Kenyam di Kabupaten Nduga di Papua Pegunungan; Bahasa di Papua Terbanyak di Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Bahasa Nduga adalah sebuah bahasa yang termasuk ke dalam rumpun bahasa-bahasa Papua dari Pegunungan Tengah. Bahasa Nduga Niknene dituturkan di kampong Taima distrik Kenyam kabupaten Nduga. Jugu dituturkan di kampong Kenyam, kampong Mamufu 2. Bahasa Nduga berbeda dengan bahasa Dani dan bahasa Lani.


Kabupaten Nduga adalah sebuah kabupaten berada di provinsi Papua Pegunungan, ibu kota kabupaten berada di distrik Kenyam. Pemekaran wilayah Kabupaten Jayawijaya 2008. Pada tanggal 31 Desember 2015 Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi Desa Kenyam, Kabupaten Nduga untuk meninjau pembangunan jalan yang akan menghubungkan Nduga dan Wamena. Perjalanan Presiden dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo bersama rombongan dari Wamena menuju Desa Kenyam, ditempuh selama 2 jam dengan berganti moda transportasi udara. Dalam kesempatan itu Presiden Jokowi juga menyampaikan, selain dibangun jalan tembus menuju Wamena, di wilayah Nduga juga akan dibuka pelabuhan besar Mumugu. Dengan dibukanya pelabuhan besar ini, maka logistik dan material dari dan ke Mumugu ini dapat didistribusikan menggunakan jalur darat yang telah menembus semua kabupaten di Papua. Bentang alam Kabupaten Nduga berada di hamparan Lembah Baliem, dikelilingi oleh Pegunungan Jayawijaya. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah bahasa Kenyam di kabupaten Nduga di Papua Pegunungan? Seperti disebut di atas bahasa Karnyam di kabupaten Nduga.Bahasa di Papua terbanyak di Indonesia. Lalu bagaimana sejarah bahasa Kenyam di kabupaten Nduga di Papua Pegunungan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Selasa, 20 Februari 2024

Sejarah Bahasa (311):Bahasa Permainan dan Musik di Nusantara; Peradaban Nusantara versus Sejarah India-Tiongkok di Nusantara


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Apakah kebudayaan nusantara (baca: Indonesia) dipengaruhi India dan Tiongkok? Mungkin iya mungkin tidak. Lalu apakah kebudayaan nusantara mempengaruhi kebudayaan Tiongkok dan India? Mungkin tidak mungkin iya. Fakta bahwa awalnya bahasa-bahasa Austronesia tidak terkait dengan baha-bahasa di India dan Tiongkok. Bagiamana dengan music dan berbagai bentuk permainan? Yang jelas music gamelan disahkan Unesco sebagai warisan nusantara dari Jawa. Bagaimana dengan permainan catur? Link buku baru terbit: https://deepublishstore.com/shop/buku-sejarah-mahasiswa/


Gamelan adalah musik ansambel tradisional Jawa dan Bali memiliki tangga nada pentatonis dalam sistem tangga nada (laras) slendro dan pelog. Terdiri dari perkusi yang digunakan pada seni musik karawitan. Instrumen yang paling umum digunakan adalah metalofon antara lain gangsa, gender, bonang, gong, saron, slenthem dimainkan oleh wiyaga menggunakan palu (pemukul) dan membranofon berupa kendang yang dimainkan dengan tangan. Juga idiofon berupa kemanak dan metalofon lain adalah beberapa di antara instrumen gamelan yang umum digunakan. Instrumen lain termasuk xilofon berupa gambang, aerofon berupa seruling, kordofon berupa rebab, dan kelompok vokal disebut sinden. Seperangkat gamelan dikelompokkan menjadi dua, yakni gangsa pakurmatan dan gangsa ageng. Gangsa pakurmatan dimainkan untuk mengiringi hajad dalem (upacara adat karaton). Gangsa ageng dimainkan sebagai pengiring pergelaran seni budaya umumnya seni tari, wayang. Kata gamelan berasal dari bahasa Jawa gamĂȘl berarti 'memukul' atau 'menabuh'. (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah bahasa permainan dan nahasa musik di Nusantara? Seperti disebut di atas bahasa-bahasa di nusantara (bahasa Austronesia dan bahasa Melanesia) berbeda dengan bahasa-bahasa di Tiongkok dan di India. Sejarah peradaban nusantara versus sejarah India-Tiongkok di nusantara. Lalu bagaimana sejarah bahasa permainan dan nahasa musik di Nusantara? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Sejarah Bahasa (310): Bahasa di Kabupaten Keerom dan Bahasa Daikat di Distrik Arso; Keragaman Populasi dan Bahasa di Keerom


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Bahasa Daikat (Taikat) dituturkan di oleh suku Brotian di kampong kampong Arso Kota di distrik Arso provinsi Papua. Bahasa Daikat juga ditururkan di kampong Kwimi, Wor, Bate dan Bagia. Di sebelah timur kampong Arso ditururtkan bahasa Manem (di kampong Wambes) dan disebelah barat dituturkan bahasa Beyaboa (di kampong Ubiyau), di sebelah utara dituturkan bahasa Melwap (di kampong Koya). Bahasa Daikat berbeda dengan bahasa Marap, bahasa Mnanggi, dan bahasa Abrap. Link buku baru terbit: https://deepublishstore.com/shop/buku-sejarah-mahasiswa/


Arso (atau Arso Kota) adalah sebuah distrik sekaligus menjadi ibu kota kabupaten Keerom, provinsi Papua. Kantor pemerintahan Kabupaten Keerom berada di Kampung Arso Kota. Distrik ini berada di perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini. Penduduk distrik ini berjumlah 16.030 (2021), dengan luas wilayah 1.431,82 km², dengan kepadatan penduduk 11 jiwa/km². Di distrik ini terdapat bermacam-macam kantor pemerintahan, dan juga berbagai fasilitas umum lainnnya, seperti kantor Bupati, kantor Kecamatan, Rumah Sakit, dan lainnya. Sementara itu, keberagaman agama dan budaya menjadi bagian dari masyarakat Arso. Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri tahun 2021, penduduk menurut agama yang dianut yakni Kekristenan sebanyak 58,41%, dimana Protestan 32,95% dan Katolik 25,30% serta agama Islam berjumlah 41,59%, Hindu 0,12% dan Buddha 0,04%. (Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah bahasa-bahasa di kabupaten Keerom, bahasa Daikat di distrik Arso? Seperti disebut di atas bahasa Daikat dituturkan di kabupaten Keerom. Keragaman populasi di Keerom. Lalu bagaimana sejarah bahasa-bahasa di kabupaten Keerom, bahasa Daikat di distrik Arso? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Senin, 19 Februari 2024

Sejarah Bahasa (309): Lambang Geometri Bilangan dan Waktu di Nusantara; Sejarah Aksara Batak Versus Evolusi Aksara Eropa


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Sejauh ini tidak ada yang membahas asal usul lambang bilangan dalam aksara Batak. Tidak ada, sama sekali tidak ada. Yang ada adalah India, Tiongkok, Arab dan Eropa. Bagaimana dengan lambang bilangan Mesir dan lambang bilangan Batak. Di nusantara juga ada lambang bilangan lainnya seperti lambang bilangan Jawa. Sejarah asal usul aksara dan lambang bilangan Batak tidak


Aksara Latin, dikenal sebagai Aksara Romawi, sistem penulisan alfabet berdasarkan huruf-huruf alfabet Latin klasik, berasal dari bentuk alfabet Yunani yang digunakan di kota Cumae, Yunani kuno, di Italia selatan (Magna Graecia). Alfabet Yunani diubah bangsa Etruria, dan selanjutnya diubah lagi bangsa Romawi. Ada beberapa alfabet aksara Latin, yang berbeda dalam grafem, susunan, dan nilai fonetik dari alfabet Latin klasik. Aksara Latin merupakan sistem penulisan yang paling banyak diadopsi di dunia, sebagai metode penulisan standar bahasa-bahasa di Eropa Barat dan Tengah, serta banyak bahasa di belahan dunia lain. Disebut aksara Latin atau Romawi, mengacu pada asal usulnya di Roma kuno (meskipun beberapa huruf kapital berasal dari bahasa Yunani). Dalam konteks transliterasi, istilah "romanisasi" sering ditemukan. Sistem bilangan disebut sistem bilangan romawi, dan kumpulan unsur-unsurnya disebut dengan bilangan romawi. Angka 1, 2, 3 ... adalah angka aksara Latin/Romawi untuk sistem angka Hindu–Arab. (Wikipedia)

Lantas bagamaimana sejarah lambang geometri, bilangan dan waktu di Nusantara? Seperti disebut di atas aksara yang banyak digunakan adalah aksara Latin. Bagaimana dengan bahasanya sendiri dan lambanga bilangan? Sejarah aksara Batak versus evolusi aksara di Eropa. Lalu bagamaimana sejarah bahasa geometri dan bahasa waktu di Nusantara? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Sejarah Bahasa (308): Bahasa Eipumek di Kabupaten Pegunungan Bintang; Bahasa-Bahasa Batas Papua - Negara Papua Nugini


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Bahasa Eipumek dituturkan oleh mayoritas etnik Eipumek di kampung Eipumek, distrik Eipumek, kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Bahasa ini juga dituturkan di kampong Marigia, Inde, Lumdagna dan Baric. Bahasa tetatangga adalah bahasa Telepe dan bahasa Perub. Bahasa Eipumek berbedan dengan bahasa Afiaup, bahasa Tangko dan bahasa Jelako.

 

Kabupaten Pegunungan Bintang adalah sebuah kabupaten yang terletak di kawasan Pegunungan Tengah, provinsi Papua Pegunungan berbatasan langsung negara Papua Nugini. Nama kabupaten ini diambil dari kata Steren Geberte berarti Gunung Bintang, merujuk pada kumpulan salju abadi di Puncak Mandala yang jika diamati berbentuk seperti bintang. Secara adat, berada di wilayah adat La Pago berbatasan kabupaten Jayapura dan kabupaten Keerom, di sebelah utara, Kabupaten Boven Digoel, di sebelah selatan, kabupaten Yahukimo di sebelah barat dan Negara Papua Nugini di sebelah timur. Kondisi geografis khas, sebagian besar wilayahnya pegunungan terutama di bagian barat, penduduk bermukim di lereng gunung terjal dan lembah-lembah kecil dalam kelompok-kelompok kecil, terpencar dan terisolir; dataran rendah hanya terdapat di bagian utara dan selatan sulit dijangkau bila dibandingkan dengan wilayah lainnya di tanah Papua. Hingga saat ini seluruh pelayanan di wilayah ini hanya dilakukan dengan transportasi udara. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah bahasa Eipumek di kabupaten Pegunungan Bintang?  Seperti disebut di atas bahasa Eipumek adalah salah satu bahasa di kabupaten Pegunungan Bintang. Bahasa-bahasa di perbatasan Papua dan negara Papua Nugini. Lalu bagaimana sejarah bahasa Eipumek di kabupaten Pegunungan Bintang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Minggu, 18 Februari 2024

Sejarah Bahasa (307): Bahasa, Penyelidikan Sejarah di Pulau Papua;Sejarah di Nusantara Antara Sejarah Mitos dan Bukti Sejarah


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Sebagaimana dikatakan berulang-ulang, sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Demikian juga dalam penyelidikan sejarah bahasa. Di nusantara (baca: Indonesia) mulai dari Sumatra hingga Papua sejarah bahasa penuh dengan mitos. Satu-satunya bukti sejarah yang ada bahasa itu sendiri yang masih dituturkan.


Sastra dan Sejarah Abad Pertengahan Dipenuhi dengan Mitos dan Takhayul. Ricky Jenihansen - Jumat, 13 Oktober 2023. Nationalgeographic.co.id—Abad Pertengahan sering kali dicitrakan sebagai periode zaman kegelapan di Eropa yang ditandai dengan kemunduran peradaban. Citra tersebut tentu bukan tanpa alasan, seperti misalnya sastra dan sejarah Abad Pertengahan yang dipenuhi dengan mitos, dongeng dan takhayul yang sulit dibedakan. Cerita-cerita yang ditulis awalnya merupakan cerita rakyat (floklore) abad pertengahan. Itu adalah cerita-cerita yang disampaikan secara lisan, dan karena sebagian besar penduduknya buta huruf, buku-buku terus dibacakan dengan suara keras kepada penonton. Tingkat melek huruf meningkat pada abad ke-15, dan seiring dengan berkembangnya mesin cetak, semakin banyak buku yang tersedia. Tindakan membaca sendiri untuk kesenangan pribadi menjadi lebih umum dan ini mengubah cara penulis menulis. Awalnya, penulis dalam sejarah abad pertengahan adalah juru tulis anonim yang menuliskan cerita yang mereka dengar. Tulisan mereka sering kali dianggap sebagai sejarah Abad Pertengahan, meski cerita tersebut bisa jadi hanya mitos atau dongeng. (https://nationalgeographic.grid.id/)

Lantas bagaimana sejarah bahasa dan penyelidikan sejarah di pulau Papua? Seperti disebut di atas; ada hubungan bahasa di satu sisi dan mitos dalam sejarah di sisi lain. Namun sejarah bahasa haruslah mencerminkan bahasa yang benar-benar terjadi. Sejarah di Nusantara antara sejarah mitos dan bukti sejarah. Lalu bagaimana sejarah bahasa dan penyelidikan sejarah di pulau Papua? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Sejarah Bahasa (306):Bahasa Sentani Danau Sentan -- Bahasa di Jayapura Masa ke Masa; Teluk Humboldt Kota Hollandia TempoDulu


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Bahasa Sentani (Buyaka) adalah sebuah bahasa dari rumpun bahasa Papua yang dituturkan di sekitar Danau Sentani. Bahasa Sentani dituturkan oleh masyarakat kampung Nendali, distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sentani merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 99,25%--100% jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, yaitu Bahasa Tabla dan Bahasa Ormu.


Bahasa Daerah di Kota Jayapura Dikhawatirkan Punah.  Jumat, 5 Oktober 2018. Jayapura (Antara News) - Sejumlah bahasa di wilayah adat tanah Tabi, Provinsi Papua yakni di Kota Jayapura dikhawatirkan akan punah jika tidak segera dilestarikan. Demikian disampaikan oleh Suharyanto, dari Balai Bahasa Papua dan Papua Barat di Kota Jayapura. "Bahasa-bahasa asli di tanah Tabi diantaranya ada bahasa Sentani, bahasa Nafri, Tobati Enggros, Kayu Pulo dan bahasa Skouw, secara umum kecuali bahasa Sentani, kondisi vitalitas bahasa yang ada di tanah Tabi ini cukup memprihatinkan keberadaannya,". Terancam punahnya ketiga bahasa bisa disebabkan karena beberapa hal, diantaranya terkait jumlah penutur yang berkurang, lokasi suatu daerah, kebutuhan serta asimilasi yang terjadi. "Ketika berbicara soal kebutuhan hidup maka akan menggunakan bahasa pengantar yang dipahami bersama, mau tidak mau pasti para penuturnya akan menggunakan bahasa Indoensia sebagai bahasa pengantar, maka secara langsung atau tidak langsung bahasa seperti Kayu Pulo ini akan terdesak, tergerus oleh pemakaian bahasa Indonesia". (https://www.antaranews.com/)

Lantas bagaimana sejarah bahasa Sentani di danau Sentani dan bahasa di Jayapura masa ke masa? Seperti disebut di atas bahasa di wilayah Jayapura yang sekarang terdapat sejumlah bahasa antara lain bahasa Sentani. Teluk Humboldt dan kota Hollandia tempo dulu. Lalu bagaimana sejarah bahasa Sentani di danau Sentani dan bahasa di Jayapura masa ke masa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Sabtu, 17 Februari 2024

Sejarah Bahasa (305): Bahasa Sarmi Banyak Suku Banyak Bahasa; SARMI adalah Sobei, Armati, Rumbuai, Manirem dan Isirawa


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Bahasa Sobei adalah sebuah bahasa dari rumpun bahasa Austronesia yang dipertuturkan di daerah sekitar Kabupaten Sarmi, Papua. Bonggo, juga dikenal sebagai Armopa, adalah sebuah bahasa Austronesia yang dituturkan di distrik Bonggo, kabupaten Sarmi di pesisir utara provinsi Papua,


Kabupaten Sarmi adalah salah satu kabupaten yang berada di provinsi Papua. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Sarmi. Kabupaten Sarmi terletak di bagian Utara Pulau Papua. Nama Sarmi adalah singkatan dari nama suku-suku besar yang terdapat di wilayah ini, yakni Sobei, Armati, Rumbuai, Manirem, dan Isirawa. Keberadaan mereka telah lama menjadi perhatian antropolog Belanda, Van Kouwenhoven, yang kemudian memberikan nama Sarmi. Singkatan Sarmi sebenarnya belum mencerminkan suku-suku di sana mengingat di wilayah ini terdapat banyak kelompok lain. Dari bahasa yang ada, paling tidak bisa disimpulkan terdapat 87 suku, dan setiap suku mempunyai bahasa sendiri-sendiri. Kabupaten Sarmi secara geografis di utara Samudra Pasifik, di timur kabupaten Jayapura, di selatan provinsi Papua Pegunungan dan di barat kabupaten Mamberamo Raya. Kabupaten Sarmi terdiri dari wilayah pesisir, dataran rendah, dataran tinggi hingga pegunungan. Wilayah pesisir dataran rendah di bagian selatan merupakan dataran aluvial Sungai Mamberamo. (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah bahasa di Sarmi, banyak suku banyak bahasa? Seperti disebut di atas di wilayah Sarmi banyak suku banyak bahasa. Sarmi adalah singkatan dari nama-nama suku besar Sobei, Armati, Rumbuai, Manirem, dan Isirawa. Lalu bagaimana sejarah bahasa di Sarmi, banyak suku banyak bahasa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Sejarah Bahasa (304): Bahasa Dani Lembah Baliem Pedalaman Papua; Wamena Daerah Hulu Sungai Memberamo di Jayawijaya


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Bahasa Dani terdiri beberapa bahasa diantaranya Bahasa Dani Hubula dituturkan oleh seku Mukoko di kampong Wesapot distrik Wamena Kota kabupaten Jayawijaya provinsi Papua. Di sebelah utara kampong Waseput dituturkan bahasa Yali Pass dan di sebalah barat dituturkan bahasa Lani. Bahasa Dani berbeda dengan bahasa Yali Pass, bahasa Lani, bahasa Dani Atas, bahasa Dani Bawah, bahasa DaniBokondini dan bahasa Dani Tengah (Dani Baliem),


Suku Dani atau Hubula adalah sekelompok suku yang mendiami wilayah Lembah Baliem di Pegunungan Tengah, Papua Pegunungan. Pemukiman mereka berada di antara Bukit Ersberg dan Grasberg di Kabupaten Jayawijaya serta sebagian Kabupaten Puncak Jaya. Suku-suku di pegunungan pertama kali diketahui bermigrasi ke Lembah Baliem diperkirakan sekitar ratusan tahun yang lalu. Banyak eksplorasi di dataran tinggi pedalaman Papua yang dilakukan. Salah satu diantaranya yang pertama adalah Expedisi Lorentz pada tahun 1909-1910 (Netherlands), yang berhasil bertemu dengan representatif dari Horip dan Pesegem tetapi mereka tidak sampai ke Lembah Baliem. Kemudian penyidik asal Amerika Serikat yang bernama Richard Archold anggota timnya adalah orang dari luar negeri pertama yang mengadakan kontak dengan penduduk asli yang belum pernah mengadakan kontak dengan negara lain sebelumnya. Peristiwa ini terjadi secara kebetulan pada 23 Juni 1938 saat sedang melakukan penerbangan di atas Lembah Baliem (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah bahasa Dani di Lembah Baliem pedalaman Papua? Seperti disebut di atas bahasa Dani terdiri beberapa bahasa; Wamena daerah hulu sungai Memberamo di kabupaten Jayawijaya. Lalu bagaimana sejarah bahasa Dani di Lembah Baliem pedalaman Papua? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Jumat, 16 Februari 2024

Sejarah Bahasa (303):Aksara Jawi dan Bukti Pertama di Trenggano, Aksara Orang Moor? Pantai Timur Sumatra-Pantai Barat Papua


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Abjad Jawi alias huruf Jawi, aksara Jawi, abjad Arab-Melayu, abjad Yawi, tulisan Jawi, atau tulisan Melayu adalah kumpulan huruf berbasis abjad Arab yang umumnya digunakan untuk menuliskan teks dalam bahasa Melayu (dialek Malaysia, Brunei, Siak, Pahang, Terengganu, Johor, Deli, Kelantan, Songkhla, Riau, Pontianak, Palembang, Jambi, Sarawak, Musi dan dialek lainnya) dan bahasa-bahasa lainnya; seperti bahasa Aceh, Betawi, Banjar, Kerinci, Minangkabau maupun Tausug.


Istilah Moor adalah sebuah eksonim pertama kali digunakan oleh orang Kristen Eropa untuk menunjuk populasi Muslim di Maghreb, al-Andalus (Semenanjung Iberia), Sisilia dan Malta selama Abad Pertengahan. Bangsa Moor bukanlah bangsa yang tunggal, berbeda, atau memiliki definisi sendiri. Orang-orang Eropa abad pertengahan dan periode modern awal menerapkan nama ini secara beragam pada orang Arab, Berber dan Muslim Eropa. Istilah dalam arti lebih luas untuk merujuk pada umat Islam pada umumnya, khususnya keturunan Arab atau Berber, di Andalusia atau Afrika Utara. Pada masa kolonial, Portugis memperkenalkan nama "Ceylon Moor" dan "Indian Moors" di Asia Selatan dan Sri Lanka, dan umat Islam Bengali juga disebut Moor. Di Filipina, komunitas Muslim yang sudah lama berdiri, sebelum kedatangan Spanyol, kini mengidentifikasi diri mereka sebagai "orang Moro", sebuah nama samaran yang diperkenalkan oleh penjajah Spanyol karena keyakinan Muslim (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah aksara Jawi bukti pertama di Trenggano, aksara Orang Moor? Seperti disebut di atas aksara Jawa diduga dipopulerkan oleh orang-orang Moor. Pantai Timur Sumatra-Pantai Barat Papua. Lalu bagaimana sejarah aksara Jawi bukti pertama di Trenggano, aksara Orang Moor? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Sejarah Bahasa (302): Bahasa Lani Bahasa di Pedalaman Papua; Jayawijaya, Lanijaya, Puncak Jaya, Membramo Tengah, Tolikara


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Bahasa Lani dituturkan oleh etnik Lani di kampong Ninabua distrik Rom kabupaten Lanny Jaya provinsi Papua. Bahasa Lani juga dituturkan di kampong Wesaput, di kampong Abenaho dan lainnya. Bahasa Lanny berbeda dengan bahasa Dani (Hubula), Dani Atas dan Nggem. Catatan: distrik Yiginua di kabupaten Lanny Jaya terdiri kampong-kampong Abua, Golikme, Gumagame, Ninabua, Ninengwa, Tepogi dan Weri.

 

Lani Wone: Kamus Bahasa Lani-Indonesia Karya Anak Asli Lani. Jayapura, Selasa 31 Agustus 2021.Humas Papua. Withen Kolago pria Asli Lanijaya bersama isteri hari ini menyambangi Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Papua. Withen Kolago datang dengan menenteng tas nokennya yang berisi beberapa buku didampingi isteri tercinta. Kehadiran Withen dan Isterinya untuk mendaftarkan karya ciptanya berupa Lani Wone Kamus Bahasa Lani – Indonesia yang ditulisnya sejak 6 tahun lamanya. Kakanwil dan Jajaran menerima setiap data dukungnya dan segera memproses Sertifikat Hak Ciptanya. Withen mengatakan saya menulis Bahasa Lani, karena Bahasa Lani merupakan suku yang paling besar di Pegunungan Tengah Papua, mencakup hampir 6 kabupaten, diantaranya Jayawijaya, Lanijaya, Puncak Jaya, Membramo Tengah, Tolikara merupakan basisnya orang Lani, dan Bahasa Lani paling besar di atas. (https://papua.kemenkumham.go.id/berita-kanwil/)

Lantas bagaimana sejarah bahasa Lani di pedalaman pulau Papua? Seperti disebut di atas bahasa Lani dituturkan di wilayah bahasa Lani. Bahasa Lani tersebar di wilayah Jayawijaya, Lanijaya, Puncak Jaya, Membramo Tengah dan Tolikara. Lalu bagaimana sejarah bahasa Lani di pedalaman pulau Papua? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Kamis, 15 Februari 2024

Sejarah Bahasa (301):Penamaan Bahasa dan Pergantian Nama Bahasa di Indonesia Sejak Tempo Dulu; Geografi, Linguistik, Politik


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Bahasa Indonesia awalnya Bernama bahasa Melayu di Indonesia. Lalu apa nama bahasa tersebut di masa lampau sebelum disebut bahasa Melayu. Apakah bahasa Austronesia. Seperti nama bahasa Batak? Demikian juga dengan nama-nama bahasa daerah di Indonesia pada masa ini, apakah namanya berbeda dengan nama masa lampau?


Keunikan Nama-Nama Geografi Indonesia: Dari Nama Generik ke Spesifik. Abdul Gaffar Ruskhan. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 17(3). Abstrak. Nama-nama geografi di Indonesia memiliki bentuk yang bermacam-macam, baik yang berasal dari bahasa Indonesia maupun yang berasal dari bahasa daerah masing-masing. Keberbagaian itu merupakan keunikan nama geografi yang kaya dengan budaya termasuk bahasanya dan bahwa terdapat pula nama geografi yang berasal bahasa asing. Namun, penggunaan bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai nama geografi merupakan pilihan yang tidak dapat diabaikan. Dalam nama geografi, ada unsur generik dan unsur spesifik yang menjadi hal yang penting. Unsur generik itu merupakan unsur yang mengandung makna umum berupa kenampakan alam, seperti daratan dan perairan, serta. kawasan khusus, buatan, dan administratif. Sementara itu, nama spesifiknya adalah nama yang membatasi unsur generiknya. Unsur spesifik itu muncul dari penamaan masyarakatnya, yang tidak lepas dari nama generiknya.

Lantas bagaimana sejarah penamaan bahasa dan pergantian nama bahasa di Indonesia sejak rempoe doeloe? Seperti disebut di atas ada nama bahasa berbeda antara masa kini dengan masa lalo. Geografi, linguistic dan politik. Lalu bagaimana sejarah penamaan bahasa dan pergantian nama bahasa di Indonesia sejak rempoe doeloe? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Sejarah Bahasa (300): Bahasa Tebako di Daerah Aliran Sungai Membramo; Sungai Besar Sejak Era Portugis Hulu Sangat Jauh


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Bahasa Tebako dituturkan oleh masyarakat kampung Bareri, distrik Rufaer, kabupaten Mamberamo Raya, provinsi Papua. Bahasa itu juga dituturkan di kampung Tayai, Fauwi, Kordesi, Dofo, dan Foitau. Di sebelah barat kampung Bareri, yaitu kampung Taroure dan sebelah utara, yaitu kampung Pona dituturkan bahasa Biri. Di sebelah selatan kampung Bareri, yaitu lampung Obokui, dituturkan bahasa Obokuitai.

 

Rufaer adalah sebuah distrik di kabupaten Mamberamo Raya, Papua. Distrik Rufaer di daerah aliran sungai Memberamo terdiri kampong-kampong Bareri, Fona, Kai, Sikari, Taria, Tayai. Sungai Mamberamo adalah sebuah sungai sepanjang 1.102 km berhulu di Pegunungan Jayawijaya dan bermuara ke Samudera Pasifik. Nama "Mamberamo" berasal dari bahasa Dani — mambe berarti 'besar' dan ramo berarti 'air'. Beberapa suku terasing bermukim di lembah sungai. Lanskap di sekitar sungai ini bervariasi. Di daerah hulu berupa Pegunungan Jayawijaya yang curam, dan di bagian tengah berupa cekungan dataran tinggi yang luas. Sedangkan di daerah hilir terdapat dataran yang berawa-rawa. Pada 1545, seorang pelayar bernama Yñigo Ortiz de Retez menelusuri daerah di sepanjang pesisir utara pulau hingga mulut sungai Mamberamo. Di lokasi ini, ia mengklaim pulau tersebut sebagai milik Kerajaan Spanyol dan menamakannya Nueva Guinea ('Nugini' dalam bahasa Spanyol) yang dikenal hingga kini. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah bahasa Tebako di daerah aliran sungai Membramo? Seperti disebut di atas bahasa Tebako di bagian tengah daerah aliran sungai Membramo. Sungai besar sejak era Portugis fulu sangat jauh di pedalaman. Lalu bagaimana sejarah bahasa Tebako di daerah aliran sungai Membramo? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Rabu, 14 Februari 2024

Sejarah Bahasa (299): Bahasa-Bahasa Punah dan Ragam Bahasa di Pulau Papua; Lingua Franca Tempo Doeloe Lingua Franca Kini


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Konon wilayah Papua punya 395 bahasa daerah. Artinya hampir 60% bahasa daerah yang dimiliki Negara Kesatuan Republik Indonesia, punya Papua. Sebaliknya di wilayah pantai timur Sumatra dan kepulauan Riau semua berbasa Melayu dengan variasi dialeknya. Bagaimana dengan di Jawa? Di luar bahsa Sunda, bahasa Jawa yang meluas.


Kepunahan Bahasa-Bahasa Daerah: Faktor Penyebab dan Implikasi Etnolinguistis. Fanny Henry Tondo. Abstract. This article tries to explain the language extinction phenomena in Indonesia particularly in accordance with factors that can cause the language extinction and its ethnolinguistic implications. There are some factors that can be identified as the reasons so that many languages are in the threshold of extinction. Those are the effects of major language, bilingual or multilingual community, globalization, migration, intermarriage, natural disaster, lack of appreciation towards ethnic language, lack of communication intensity using ethnic language in many domains, economic, and bahasa. Meanwhile, the language extinction can ethnolinguistically bring some implications. By the extinction of a language it could be the loss of knowledge on the internal aspects of it, that is, its structure. On the other side, it can bring implications to a loss of local knowledge and other cultural wealth of a certain ethnic using the language because they can only be known through the language used by its community, unless the language has been documented and revitalized (Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 11 No. 2 Tahun 2009).

Lantas bagaimana sejarah bahasa-bahasa punah dan ragam bahasa di pulau Papua? Seperti disebut di atas ada anggapan sejumlah bahasa di Papua terancam punah. Lingua franca tempo doeloe lingua franca masa kini. Lalu bagaimana sejarah bahasa-bahasa punah dan ragam bahasa di pulau Papua? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Sejarah Bahasa (298): Bahasa Yawa Bahasa Yava di Pulau Japen Pulau Yapen di Teluk Gelvink Teluk Cendrawasih; Bahasa Isolat


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Yawa (Yava) adalah bahasa Papua di pulau Yapen tengah di Teluk Geelvink (Cenderawasih). Nama alternatifnya adalah Iau (tidak sama dengan bahasa Iau), Mantembu, Mora, Turu, dan Yapanani. Nama Yawa mirip nama Jawa. Mengapa?


Yava Stock-Level Isolate: Yava (Mantembu, Yapanani, Mora, Turu). Population 4500. Dialects: There are fifteen dialects, spoken in the following villages: Ariobu, Rasbori, Artanen, Dore, Tindaret, Kiriow; Sambarawai, Yobi; Ambaidiru, Mombon; Ariepi; Tatui, Abukarei, Aromarea; Sarawandori; Mariadei; Mantembu; Taraum, Kampong Baru, Woru; Tutu; Kabuaena; Yapanani-Borai; Konti-Unai, Kainui; Wadapi Darat; Saweru. (CL Voorhoeve. Languanges of Irian Jaya Checklist Preliminary Classification, Languange Maps, Wordlists (1976).

Lantas bagaimana sejarah bahasa Yawa bahasa Yava di pulau Japen pulau Yapen di teluk Gelvink teluk Cendrawasih? Seperti disebut di atas bahasa Yawa dituturkan di pulau Yapen di teluk Cendrawasih. Bahasa isolat. Lalu bagaimana sejarah bahasa Yawa bahasa Yava di pulau Japen pulau Yapen di teluk Gelvink teluk Cendrawasih? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Selasa, 13 Februari 2024

Sejarah Bahasa (297): Bahasa Serui Orang Serui di Pulau Yapen di Teluk Cendrawasih; Pulau Japen - Teluk Gelvink Tempo Doeloe


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Serui Laut, atau Arui, adalah bahasa Austronesia yang dituturkan di pulau Yapen, dan pulau Serui di kepulauan Ambai. Pulau Serui terletak di teluk Cenderawasih (dulu teluk Gelvink). Bahasa Serui adalah salah satu dari bahasa Yapen, dalam kelompok bahasa Halmahera Selatan–Bahasa Nugini Barat. Pulau Yapen adalah salah satu pulau di wilayah Kabupaten Kepulauan Yapen terletak di selatan pulau Biak. Pulau-pulau sekitar: Biak, Num, Numfor dan Supiori.


Orang Serui (dikenal juga sebagai Serui Laut atau Arui) adalah kelompok etnis yang berdiam di pulau Yapen bagian tengah, pulau Nau di selatan pulau Yapen, Teluk Cendrawasih, Yapen Selatan, Yapen Barat, dan kepulauan Ambai. Daerah tersebut termasuk dalam wilayah Kabupaten Kepulauan Yapen dan Kabupaten Waropen, Jumlah populasinya sekitar 1.300 jiwa. Dari segi bahasa, bahasa suku Serui termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia, Melayu-Polinesia Timur. Kata "Serui" berasal dari kata Arui-Sai yang dalam bahasa Serui Laut yang berarti "di atas laut", urutan penyebutan yang lebih sering adalah Sai-Arui yang kemudian pelafalannya berubah menjadi Serui. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah bahasa Serui orang Serui di pulau Yapen teluk Cendrawasih? Seperti disebut di atas, bahasa Serui di pulau Yapen. Nama pulau Japen dan nama teluk Gelvink tempo doeloe. Lalu bagaimana sejarah bahasa Serui orang Serui di pulau Yapen teluk Cendrawasih? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982