Tampilkan postingan dengan label Sejarah Banyuwangi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Banyuwangi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Juni 2023

Sejarah Banyuwangi (44):Presiden Soekarno Kali Pertama ke Banjoewangi; Kunjungan Dinas Setelah Proklamasi NKRI 18-08-1950


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Usia RIS hanya seumur jagung. Suatu bentuk negara inisiiatif Belanda yang berlaku tanggal 27 Desember 1949. Pada tahun 1950 negara-negara federal dibubarkan yang kemudian secara resmi oleh Presiden RIS Ir Soekarni dibubarkan pada tanggal 17 Agustus 1950. Lalu keesikan harinya dilakukan Proklamasi NKRI. Kunjungan dinas Presiden Soekarno mulai diperluas, tidak hanya di Jawa, juga ke Sumatra. Dalam kunjungan ke Bali Presiden Soekarno melalui Banjowangi.


Sejarah Bung Karno Berkunjung ke Banyuwangi Setelah Kemerdekaan RI, Rabu, 17 Agustus 2022. Banyuwanginetwoek.com. Berikut ini adalah sejarah ketika Bung Karno berkunjung ke Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini dilakukan setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Sebelum, Bung Karno diyakini melakukan pertapaan di Alas Purwo beberapa pekan sebelum proklamasi. Lalu, bagaimana kisah ketika Bung Karno datang ke Banyuwangi? Dikutip BanyuwangiNetwork.com dari Naskah id dengan judul Menelusuri Jejak Soekarno di Banyuwangi dan Kisah Spiritualnya di Alas Purwo, berikut ceritanya. Selain di Alas Purwo, puing-puing jejak Ir Soekarno juga ada di Banyuwangi wilayah Utara. Tepatnya di wisata pantai yang kini bernama Marina Boom Banyuwangi. Pada tahun 1951, Presiden RI pertama tersebut mengunjungi monumen Taman Makam Pahlawan 0032. Taman Makam Pahlawan ini dahulunya bernama Taman Makam Pahlawan Satria Laut 0032 Banyuwangi dan sekarang dikenal dengan nama Wisma Raga Laut Pasukan AL RI 0032.Bangunan ini berdiri pada tahun 1950. Pada Mei 1951 Presiden Soekarno berkunjung ke Banyuwangi sekaligus meresmikannya. Didalamnya, ada sejumlah makam dengan nisan berbentuk kapal perang. Tertulis ada 17 prajurit TNI AL yang gugur dalam mempertahankan Indonesia dari penjajah terbaring di makam tersebut. (https://banyuwangi.jatimnetwork.com/)

Lantas bagaimana Presiden Soekarno kali pertama ke Banjoewangi? Seperti disebut di atas, Ir Soekarno berkunjung ke Banjowangi dalam kunjungan dinas. Suatu kunjungan dinas setelah Proklamasi NKRI 18 Agustus 1950. Lalu bagaimana Presiden Soekarno kali pertama ke Banjoewangi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, 16 Juni 2023

Sejarah Banyuwangi (43): NKRI, Itu Harga Mati Bernegara; Wadah Akur Rukun Usaha Nurani Gelorakan Negara Kesatuan RI


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah bentuk koreksi terhadap Negara Republik Indonesia (RIS) 1949/1950 untuk kembali ke bentuk awal sesuai amanat UUD 1945. Proklamasi NKRI dilakukan pada tanggal 18 Agustus 1945. Sejak itu, semboyan NKRI Harga Mati terus digaungkan hingga ini hari di seluruh Indonesia termasuk di wilayah Banyuwangi.


BNPT Dirikan Warung NKRI di Banyuwangi. Kamis, 20 Jan 2022. Banyuwangi - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mendirikan Warung NKRI di Banyuwangi. Ini merupakan Warung NKRI keempat yang didirikan BNPT di Indonesia. Banyuwangi dipilih karena memiliki banyak program deradikalisasi dan harmonisasi toleransi masyarakat. "Banyuwangi memiliki banyak program deradikalisasi. Seperti Festival Kebangsaan, Jagoan Digital, Rantang Kasih, dan lainnya yang merupakan bentuk negara hadir di tengah masyarakat. Sangat tepat memilih Banyuwangi untuk program Warung NKRI," kata Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar saat peresmian Warung NKRI, Kamis (20/1/2022). Peresmian yang dikemas dengan dialog kebangsaan tersebut, juga dihadiri Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahjo Kumolo, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Gubernur Jatim yang diwakili Kepala Bakesbangpol Heru Wahono Santoso, Kapolresta Banyuwangi, Danlanal Banyuwangi, Dandim Banyuwangi serta Kepala OPD Banyuwangi. Boy Rafli mengatakan, program-program Banyuwangi tersebut mampu mengikis intoleransi masyarakat. Kehadiran Warung NKRI ini bertujuan menggiatkan dialog-dialog kebangsaan yang sarat akan nilai persatuan, toleransi, dan gotong royong. Pesan kebangsaan dari dalam Warung NKRI ini diharapkan dapat menjalar ke seluruh lapisan masyarakat sehingga ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dapat dibendung. (https://www.detik.com/jatim/)

Lantas bagaimana sejarah NKRI, harga mati bernegara? Seperti disebut di atas, NKRT adalah harga mati. Pernah ditawar dengan harga lain pada masa RIS; Pada masa ini tempat harga mati iti ada yang menyebut Wadah Akur Rukun Usaha Nurani Gelorakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Warung NKRI). Lalu bagaimana sejarah NKRI, harga mati bernegara?  Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, 15 Juni 2023

Sejarah Banyuwangi (42): Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945; Perang Kemerdekaan Wilayah Banyuwangi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Proklamasi takluknya Jepang terhadap Sekutu/Amerika tanggal 14 Agustus menjadi sebab kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Pasukan Sekutu/Inggris ditugaskan ke Indonesia untuk melucuti dan mengevakuasi militer Jepang serta membebaskan interan Eropa/Belanda. Sekutu/Inggris menyertakan Belanda ke Indonesia yang menjadi pemicu perang kemerdekaan, tidak hanya terhadap Belanda juga terhadap Inggris.  Perang kemerdekaan juga terjadi di wilayah Banyuwangi.


Pertempuran Selat Bali. Kedatangan Belanda bersama tentara sekutu 2 Maret 1946 dengan menguasai dahulu pulau-pulau kecil seperti Bali. Wilayah Bali telah berhasil diduduki pasukan mereka menjadi 2.000 prajurit. Markas Besar Umum TRI di Yogyakarta segera menginstruksikan operasi Jawa - Bali. Pasukan terdiri pasukan pimpinan Kapten Markadi (M), pasukan Kapten Albert Waroka bersiaga di Banyuwangi, pasukan TRI Angkatan Darat pimpinan Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai. Kapten Markadi bersama pasukannya memberi dukungan kemerdekaan pada rakyat Bali. Pada tanggal 4 April Kapten Markadi bersama pasukan dari Pantai Boom menyeberangi Selat Bali pukul sembilan malam. Pada 5 April menjelang fajar, sekitar dua mil dari pantai Penginuman, mereka dihadang oleh dua kapal Angkatan Laut Belanda. Kapten Markadi memberi isyarat untuk bersiap-siap menyerang. Baku tembak akhirnya meletus di Selat Bali. Kapten Markadi bersama Pasukan M kemudian memutar haluan dan kembali ke Pelabuhan Banyuwangi untuk menghindari konflik yang berlebihan. Peristiwa tersebut mengakibatkan dua korban dari pihak Indonesia, Sumeh Darsono dan Sidik, serta Tamali luka tembak. Mereka memulihkan diri beberapa saat kemudian kembali berlayar ke Pulau Bali pada malam harinya dan berhasil mendarat di Bali untuk bergabung membantu pasukan Ciung Wanara yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai melawan pasukan Angkatan Laut Belanda. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945? Seperti disebut di atas proklamasi takluknya Jepang terhadap Sekutu/Amerika tanggal 14 Agustus menjadi sebab kemerdekaan Indonesia diproklamasikan Namun pasukan Sekutu/Inggris menyertakan Belanda ke Indonesia. Terjadilah perang kemerdekaan termasuk di wilayah Banyuwangi. Lalu bagaimana sejarah detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Rabu, 14 Juni 2023

Sejarah Banyuwangi (41): Pendudukan Militer Jepang di Banyuwangi; Penguasa Militer Jepang dan Para Pemimpin Pribumi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Berakhir sudah orang Belanda di Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda telah digantikan oleh Pemerintah (pendudukan militer) Jepang di Indonesia. Pejabat-pejabat Belanda telah diganti oleh Pemerintah Jepang dengan para pemimpin pribumi. Untuk posisi bupati di Banyuwangi diangkat Raden Toemenggoeng Achmad Rastiko.


Rakyat Banyuwangi di Bawah Penindasan Jepang. Pasukan Jepang telah berhasil mematahkan pertahanan Inggris di Malaya dan Birma. Juga pertahanan Amerika di Philipina. Pertahanan Belanda di Indonesia tidak berdaya menghadapi serangan bala tentara Jepang, Kedatangan Dai Nippon disambut rakyat Indonesia. Sebagian Pemimpin Indonesia tertarik terhadap propaganda Jepang itu, namun sebagian yang lain tetap meragukan. Kedatangan Jepang di kota Banyuwangi, juga disambut dengan hangat oleh masyarakat.   Saudara Tua (Jepang) akan segera membantu rakyat, khususnya masyarakat Banyuwangi yang sudah cukup lama menderita lahir batin akibat penindasan kolonialis Belanda. Pada akhir tahun 1942, sebuah kapal besar berbendera Jepang datang dan berlabuh di pelabuhan Bayuwangi. Kapal disambut dengan sukaria. Dalam kenyataan, kapal besar itu yang turun dari kapal itu adalah sejumlah pasukan Dai Nippon bersenjata lengkap. Sebagian penduduk laki-laki dari berbagai daerah banyak yang dijadikan romusha dan dikirim ke daerah-daerah, seperti Kalipait (Alas Purwo), Lampon, Rowoputih (pantai Grajagan), Poncomoyo, Pulau Merah, Sukamade (semuanya di pantai Selatan) dan lain-lain untuk pembuatan jinchi-jinchi. Romusha Banyuwangi juga banyak dikirim ke manca negara. Tindakan Penguasa Militer Jepang makin hari semakin kejam (https://kumparan.com/)

Lantas bagaimana sejarah pemerintah (pendudukan militer) Jepang di Banyuwangi? Seperti disebut di atas, orang Belanda di Hindia Belanda termasuk di Banjoewangi berakhir sudah. Kini era penguasa militer Jepang dan pemimpin pribumi di Banyuwangi. Lalu bagaimana sejarah pemerintah (pendudukan militer) Jepang di Banyuwangi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Selasa, 13 Juni 2023

Sejarah Banyuwangi (40): Detik Berakhir Belanda di Banyuwangi; Kepanikan Orang Belanda - Serangan Jepang di Banyuwangi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Akhirnya era Pemerintah Hindia Belanda harus berakhir. Yang mengakhiri adalah Pemeritah (kerajaan) Jepang dengan mengirim angkatan perang. Itu dimulai dengan serangan-serangan ke berbagai wilayah di Indonesia (Hindia Belanda), termasuk Banyuwangi. Saat serangan inilah terjadi kepanikan diantara orang-orang Belanda, termasuk di Banyuwangi.


Pada Januari 1942, Jepang mendarat masuk ke Indonesia melalui Ambon dan menguasai seluruh Maluku. Meski pasukan Koninklijk Nederlandsch Indishc Leger (KNIL) dan pasukan Australia berusaha menghalangi, tetapi tak mampu menahan kekuatan Jepang. Daerah Tarakan di Kalimantan Timur dikuasai oleh Jepang bersamaan dengan Balikpapan (12 Januari 1942). Jepang menyerang Sumatera setelah berhasil masuk Pontianak. Bersamaan dengan serangan ke Jawa (Februari 1942). Pada tanggal 1 Maret 1942, Jepang berhasil mendarat di tiga tempat di Pulau Jawa, yaitu Teluk Banten, Eretan Wetan (Indramayu, Jawa Barat), dan Kragan (Rembang, Jawa Tengah). Di tanggal yang sama, kemenangan tentara Jepang dalam Perang Pasifik menunjukkan kemampuan Jepang dalam mengontrol wilayah yang sangat luas, dari Burma (Myanmar) sampai Pulau Wake di Samudera Pasifik. Setelah daerah-daerah di luar Jawa dikuasai, Jepang memusatkan perhatian untuk menguasai Jawa sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda. (https://www.kompas.com/)

Lantas bagaimana sejarah detik berakhir Belanda di Banyuwangi? Seperti disebut di atas itu berakhir dengan serangan angkatan perang Jepang di Indonesia. Saat ini kepanikan orang Belanda yang dipicu serangan Jepang di Banyuwangi. Lalu bagaimana sejarah detik berakhir Belanda di Banyuwangi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, 12 Juni 2023

Sejarah Banyuwangi (39): Nama Jalan Kota di Banyuwangi Tempo Doeloe; Nama Jalan Utama Ada di Heerenstraat dan Regentstraat


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Apa pentingnya sejarah nama jalan di kota Banyuwangi? Mungkin tidak penting-penting amat, Akan tetapi penamaan jalan di kota Banjoewangi tentu saja memiliki sejarahnya sendiri. Sebagai bagian sejarah kota Banyuwangi, sejarah nama jalan juga perlu diperhatikan, Mengapa? Yang jelas penamaan jalan ada maksud dan tujuannnya. Jalan manakah di kota Banyuwangi yang terbilang awal menyandang nama jalan? Ratusan nama jalan di kota Banyuwangi sekarang berawal dari nama satu jalan tempo doeloe semasa Pemerintah Hindia Belanda.


Kota kecil tidak memerlukan nama jalan. Kota kecil cenderung hanya lalu lintas di jalan utama saja. Namun semakin besar kota, semakin banyak jalan-jalan yang telah dibangun di dalam kota, yang pertama mengalami kesulitan adalah tukang pos atau para pelancong yang tengah berada di kota. Bagi warga kota juga lambat laun memerlukan nama jalan, tentu saja untuk memudahkan iodentifikasi saja. Yang mendapat giliran pertama dalam penamaan jalan biasanya jalan-jalan utama. Biasanya penamaan jalan tersebut diresmikan berdasarkan surat keputusan. Nama apa yang diberikan kepada jalan tertentu berbeda setiap kota.

Lantas bagaimana sejarah nama jalan di kota di Banyuwangi tempo doeloe? Seperti disebut di atas, ratusan nama jalan di kota Banyuwangi yang sekarang berawal dari nama satu jalan di masa lampau semasa Pemerintah Hindia Belanda. Nama jalan utama bermula jalan Heerenstraat dan jalan Regentstraat. Dimana itu sekarang? Lalu bagaimana sejarah nama jalan di kota di Banyuwangi tempo doeloe? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyuwangi (38): Bahasa Osing dan Lingua Franca Wilayah Banyuwangi;Bahasa Osing Sejak Doeloe - Bahasa Jawa Masa Ini


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Di pulau Jawa, sejatinya berawal dari banyak bahasa-bahasa asli. Lalu bagaimana antara bahasa Jawa dan bahasa Sunda? Seperti halnya di pulau Jawa, di pulau Madura juga awalnya memiliki bahasa asli tersendiri. Lantas bagaimana hubungannya bahasa Madura dengan bahasa Jawa. Dalam konteks itulah posisi bahasa Osing di pulau Jawa. Bahasa Osing bukan bahasa Jawa, dan juga bukan bahasa Madura. Selain bahasa Osing juga ada bahasa Tengger. Last but not least: bagaimana dengan bahasa Banyumas/Tegal? Apakah bahasa Jawa telah menjadi lingua franca di pulau Jawa, menggantikan bahasa Melayu?


Bahasa Osing (Basa Using dikenal sebagai "bahasa dari Banyuwangi" adalah ​sebuah varietas dari bahasa Jawa yang dituturkan oleh suku Osing di Banyuwangi, Jawa Timur. Secara linguistik, bahasa ini termasuk dari cabang Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia. Bahasa Using mempunyai keunikan dalam sistem pelafalannya, antara lain: Adanya diftong [ai] untuk vokal [i]: semua leksikon berakhiran i pada Bahasa Osing selalu terlafal sebagai/ai/. Seperti misalnya geni /gəni/ (api) terbaca genai, bengi bəŋːi (malam) terbaca bengai, gedigi /gədigi/ (begini) terbaca gedigai. Adanya diftong [au] untuk vokal [u]: leksikon berakhiran u hampir selalu dilafalkan sebagai /a/. Seperti gedigu /gədigu/(begitu) terbaca gedigau, asu (anjing) terbaca asau, awu (itu) terbaca awau. Bahasa Using mempunyai kesamaan dan memiliki kosakata Bahasa Jawa Kuna yang masih tertinggal. Varian Kunoan terdapat di Giri, Glagah dan Licin, Bahasa Using di kabupaten Jember telah banyak terpengaruh oleh Bahasa Madura dan Bahasa Jawa baku. Di kalangan masyarakat Osing, dikenal dua gaya bahasa yang digunakan di situasi yang berbeda: cara Osing dan cara Besiki. Cara Osing dipakai dalam kehidupan sehari-hari ada perbedaan diantara semuanya. Kosakata Bahasa Using merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Kuna, akan tetapi menurut penelitian oleh Prof. Dr. Suparman Heru Santosa: Bahasa Using sudah memisahkan diri dari Bahasa Jawa Kuna sejak tahun 1114, dengan demikian sebelum Kerajaan Majapahit berdiri pun Bahasa Using sudah berkembang dan digunakan di tanah Blambangan. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah bahasa Osing dan lingua franca di wilayah Banyuwangi? Seperti disebut di atas, bahasa Osing tidak lagi menjadi bahasa dominan. Sudah ada bahasa Jawa dan bahasa Madura. Bahasa Osing sejak doeloe banyak dipengaruhi berbagai bahasa dan kini apakah bahasa Jawa menjadi lingua franca? Lalu bagaimana sejarah bahasa Osing dan lingua franca di wilayah Banyuwangi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Minggu, 11 Juni 2023

Sejarah Banyuwangi (37): Sepak Bola di Banyuwangi, Apakah Ada Sejarah Sepak Bola di Wilayah Banyuwangi? Jadi Hiburan


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Apakah sejarah sepak bola di wilayah Banyuwangi hanya Persewangi? Nah, itu dia. Apakah ada sejarah lama tentang sepakbola di wilayah Banjoewangi? Nah, ini dia. Apakah tidak ada yang tertarik menulisnya? Apakah dalam hal ini memang benar-benar tidak ada sejarah sepak bola di Banyuwangi? Okelah, kita tidak harus terus bertanya, ada baiknya perlu diselidiki. Mari kita lacak.

Persatuan Sepak Bola Banyuwangi (disingkat Persewangi) tim sepak bola Indonesia yang bermarkas di Stadion Diponegoro, Banyuwangi. Pada tahun 1997 tim ini pernah berlaga di Divisi Satu Liga Indonesia. Setelah itu, klub ini vakum kembali memulai kiprahnya pada tahun 2002, kini Persewangi bermain di Liga 3. Tim ini pada tahun 2008 menghuni Divisi Satu Liga Indonesia setelah pada musim kompetisi 2007 menjadi juara kedua Kompetisi Divisi II PSSI sekaligus promosi ke divisi I. Sebelumnya, Persewangi meraih juara 4 dalam kompetisi divisi III 2006 dan promosi ke divisi II 2007. Persewangi juga pernah menghasilkan beberapa pemain yang bermain untuk tim nasional, seperti Hendro Kartiko, Zaenal Ichwan, Imam Hambali, dsb. Perseaangi pernah mengalami dualisme kepengurusan pada awal tahun 2012 sampai dengan tahun 2019 dan pada awal tahun 2020 persewangi resmi menjadi satu di bawah naungan Yayasan Persewangi Banyuwangi Indonesia (YPBI). Julukan Laskar Blambangan atau yg sering disingkat dengan nama The Lasblang adalah julukan dari Persewangi Banyuwangi. Nama "Blambangan" diambil dari "nama Kerajaan Hindu" yang dahulu terdapat di "Kabupaten Banyuwangi". Alasan diberinya julukan Laskar Blambangan kepada "Persewangi Banyuwangi", karena diharapkan pemain mempunyai jiwa yang kuat dan bersemangat serta tangguh menghadapi lawan layaknya pasukan Kerajaan Blambangan. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah sepak bola di Banyuwangi, apakah ada sejarah sepak bola di wilayah Banyuwangi? Seperti disebut di atas, sejarah sepak bola di wilayah Banuwangi tidak terinformasikan. Apakah benar-benar tidak ada? Tempo doeloe sepak bola jadi hiburan. Lalu bagaimana sejarah sepak bola di Banyuwangi, apakah ada sejarah sepak bola di wilayah Banyuwangi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyuwangi (36): Tandiono Manu Lahir di Banjoewangi; Sarjana Hukum (Mr) Rechthogeschool,Menteri Pertanian 1950-51


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Siapa Tandiono Manu? Ada yang menulis Tandiono Manu lahir di Banyuwangi. Tandiono Manu menyelesaikan Pendidikan sarjana di Rechthoogeschool Batavia. Okelah, itu satu hal. Juga ada yang menulis Tandiono Manu lulus sarjana hukum di Rechthoogeschool Batavia. Okelah, itu hal lain lagi. Untuk melengkapi narasi sejarah Tandiono Manu, mari kita telusuri.


Tandiono Manu (lahir pada 28 Juni 1913) adalah seorang politikus Indonesia yang menjabat sebagai Menteri Pertanian dalam Kabinet Natsir antara 1950 dan 1951, dan Menteri Perdagangan dan Industri dalam Kabinet Halim Republik Indonesia pada periode Indonesia Serikat. Tandiono lahir di Banyuwangi, kini di Jawa Timur, pada 28 Juni 1913. Ia adalah anak tunggal, dan ayahnya Martoprawiro bekerja sebagai petugas departemen irigasi. Ia menyelsaikan sekolah dasar (Hollandsch-Inlandsche School) di Jember dan sekolah menengah (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Surabaya, sebelum melanjutkan pendidikan ke Rechtshogeschool (institut hukum) di Batavia. Ia lulus dari sana pada 1941. Pada masa pembelajarannya, ia aktif dalam organisasi-organisasi pemuda seperti Jong Java dan Unitas Studiorum Indonesiensis. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Tandiono Manu lahir di Banjoewangi? Seperti disebut, di atas ada yang menulis Tandiono Manu, sarjana hukum pernah menjadi Menteri Pertanian RI. Lalu bagaimana sejarah Tandiono Manu lahir di Banjoewangi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, 10 Juni 2023

Sejarah Banyuwangi (35): Mangapa Tidak Ada Lapangan Terbang Banyuwangi Tempo Doeloe? Pendaratan Darurat Lord Sempill's


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Suatu lapangan terbang dibangun ada alasannya. Alasan teknis, alasan strategis, alasan komersil dan sebagainya. Sebaliknya setiap warga di suatu wilayah membutuhkan layangan pesawat terbang. Untuk kebutuhan strategis, seperti pertahanan dapat dibiayai pemerintah, tetapi jika kebutuhannya komersil harus sesuai pengeluaran investasi dan penerimaan. Akan tetapi juga ada pertimbangan teknis seperti kesesuaian pembangunan landasan dan eksisting jaringan lalu lintas udara.


Bandar Udara Banyuwangi (sebelumnya Bandara Blimbingsari), terletak di desa Blimbingsari, kecamatan Blimbingsari. Landas pacu 2.500 M dan lebar 45 M. Bandara ini diklaim sebagai bandara hijau pertama di Indonesia. Gagasannya dimulai 1991-2000 lokasi pembangunan bandara di kecamatan Glenmore di bekas lokasi lapangan terbang Blambangan. Lapangan terbang Blambangan itu sendiri sebuah lapangan terbang pertanian dibangun 1970an untuk kegiatan pertanian sebagai landasan pesawat capung untuk menyemprot pestisida. Pada saat itu anggaran untuk proyek pembangunan bandara baru tersebut sudah disiapkan bahkan material bangunan sudah sempat dikirim menuju lokasi di Glenmore namun proyek itu urung terlaksana. Setelah melalui tahap kajian lebih lanjut lokasi bekas lapangan terbang Blambangan tidak layak untuk dijadikan bandar udara karena topografi wilayah kecamatan Glenmore yang bergunung-gunung. Kemudian, melalui keputusan menteri (Kepmen) nomor 49 tahun 2003, ditentukanlah lahan untuk pembangunan bandara yang baru yaitu berada di wilayah desa Blimbingsari saat itu masih menjadi bagian dari wilayah kecamatan Rogojampi. Bandar udara Blimbingsari Banyuwangi selesai 2010. Pada tahun 2017 bandara ini berubah nama menjadi Bandar Udara Banyuwangi (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah lapangan terbang, mangapa tempo doeloe tidak ada di Banyuwangi? Seperti disebut di atas, bandara Banyuwangi yang ada sekarang terbilang relative baru. Mengapa tidak ada sedari dulu. Apa pentingnya pendaratan darurat Lord Sempill’s dan bom pesawat Jepang dijatuhkan di Banjoewangi. Lalu bagaimana sejarah lapangan terbang, mangapa tempo doeloe tidak ada di Banyuwangi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyuwangi (34):Dokter Imanoedin Lulusan NIAS di Banyuwangi Tempo Dulu; Apa Itu Volksuniversiteit di Banjoewangi?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Siapa Dokter Imanoedin? Apakah lahir di Banjoewangi? Okelah, itu tidak penting. Yang penting dalam hal ini adalah apa peran dokter Imanoedin di Banjoewangi. Apakah hanya sekadar untuk bertugas dalam peningkatan status kesehatan di Banjoewangi? Tentu saja tetap menarik diperhatikan. Mari kita lacak.


Sejarah Singkat RSUD Blambangan. Banyuwangikab.go.id. 30-04-2013. Tidak banyak yang tahu jika RSUD Blambangan ternyata rumah sakit tertua di Kabupaten Banyuwangi. Rumah sakit yang kini berdiri megah ini dibangun kali pertama tahun 1930 oleh Prof. dr. Immanudin. “Sayangnya kita belum tahu tanggal, bulan dan hari apa rumah sakit ini pertama kali dibangun, masih kita telusuri. Namun yang jelas dibangun tahun 1930,” jelas Direktur RSUD Blambangan, dr. Taufik, ditemui di ruangannya, Selasa 30 April 2013. Diawal pendiriannya, fasilitas publik ini sudah memiliki 4 ruangan untuk pelayanan kesehatan dan penanggulangan penyakit menular bagi masyarakat. Yakni ruangan penyakit dalam, bedah, bersalin dan pelayanan rawat jalan. Seiring perjalanan waktu pembangunan fasilitas kesehatan dilakukan secara bertahap. (https://tegaldlimo.banyuwangikab.go.id/)

Lantas bagaimana sejarah dokter Imanoedin, lulusan NIAS di Banyuwangi tempo doeloe? Seperti disebut di atas, Dr Imanoedin pernah bertugas di Banhoewangi. Apa itu Volksuniversiteit di Banjoewangi? Lalu bagaimana sejarah dokter Imanoedin, lulusan NIAS di Banyuwangi tempo doeloe? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, 09 Juni 2023

Sejarah Banyuwangi (33): Kota Glenmore di Wilayah Banyuwangi, Djasinga di Wilayah Bogor; Batavia, Buitenzorg, Fort de Kock


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Ada Baltimore ada Glenmore. Itu sudah ada dari dulu. Di masa lalu juga ada nama asing di Indonesia semasa Pemerintah Hindia Belanda seperti Batavia, Buitenzorg dan Fort de Kock. Tapi nama-nama terakhir ini telah dkembalikan ke nama aslinya pada tahun 1950 semasa Pemerintah Republik Indonesia. Bagaimana dengan Glenmore di wilayah Banyuwangi? Yang jelas ada juga nama Djasinga di wilayah Bogor.

 

Sejarah Glenmore, Jejak Eropa yang Tersembunyi di Banyuwangi. detikTravel. Kamis, 12 Mar 2020. Banyuwangi - Sejak kecil, Arif Firmansyah terpaksa harus memendam rasa penasaran akan nama Kecamatan Glenmore, tempat dia dilahirkan dan menempuh pendidikan hingga selesai Sekolah Dasar. Nama yang aneh. Maklum nama salah satu kecamatan di Banyuwangi, Jawa Timur itu beda jauh dengan daerah di sekitarnya. Seperti: Sugihwaras, Krikilan, Margomulya atau pun Bumiharjo. Semua nama daerah di Banyuwangi umumnya mengandung unsur bahasa Jawa. Sementara Glenmore, tak ada dalam kamus bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Belanda juga Bahasa Inggris. Tak hanya Arif, semua rekan sejawatnya satu kampung dan juga banyak orang dari daerah lain heran bahwa di Banyuwangi ada kecamatan dengan nama Glenmore. Bahkan ketika Arif, lulusan Universitas Muhammadiyah Jember tahun 1999 ini menuliskan tempat lahir di Kecamatan Glenmore ada yang menyangka itu adalah daerah di luar negeri. Bertahun-tahun Arif dan rekan sejawat serta warga di Glenmore memendam rasa penasaran akan nama daerah mereka. Hingga akhirnya tahun 2015 lalu, Arif yang mantan wartawan di sejumlah media ini bersama seorang rekannya M Iqbal Fardian bertekad mengungkap misteri nama Glenmore di Banyuwangi. (https://travel.detik.com/)

Lantas bagaimana sejarah Glenmore di wilayah Banyuwangi, Djasinga di wilayah Bogor? Seperti disebut di atas, tempo doeloe banyak nama tempat eksis tetapi kemudian menghilang seperti Batavia, Buitenzorg, Fort de Kock. Lalu bagaimana sejarah Glenmore di wilayah Banyuwangi, Djasinga di wilayah Bogor? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyuwangi (32): Jan Willem de Stoppelaar; Orang Osing dan Hukum Adat Balambangan di Wilayah Banyuwangi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Siapa Jan Willem de Stoppelaar? Mungkin warga Banyuwangi masa kini tidak penting-penting amat. Akan tetapi buku Balambangansch Adatrecht menjadi sangat berguna bagi para peneliti dalam memahami sosial budaya dan hukum adat di wilayah Banyuwangi. Sejatinya penulis Balambangansch Adatrecht adalah Jan Willem de Stoppelaar.


Banyak orang Belanda, bahkan orang Inggris merekam situasi dan kondisi di wilayah Banyuwangi dari masa ke masa, termasuk perihal yang berkaitan dengan hukum adat. Tulisan-tulisan tentang wilayah Banyuwangi semasa Pemerintah Hindia Belanda akan menjadi lebih lengkap jika disertakan hasil tulisan Jan Willem de Stoppelaar berjudul Balambangansch Adatrecht. Dalam posisi inilah nama Jan Willem de Stoppelaar penting di wilayah Banyuwangi. Balambangansch Adatrecht sendiri adalah suatu desertasi di Universiteit te Leiden, 1927. Lalu bagaimana dengan yang lainnya? Salah satu pribumi yang menulis hukum adat di Indonesia (semasa Pemerintah Hindia Belanda) adalah Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi, desertasi berjudul ‘Het grondenrecht in de Bataklanden: Tapanoeli, Simeloengoen en het Karoland’ di Universiteit te Leiden tahun 1925.

Lantas bagaimana sejarah Jan Willem de Stoppelaar? Seperti disebut di atas Jan Willem de Stoppelaar adalah penulis buku hukum adat Orang Osing dan hukum adat Balambangan di Wilayah Banyuwangi tahun 1927. Lalu bagaimana sejarah Jan Willem de Stoppelaar? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, 08 Juni 2023

Sejarah Banyuwangi (31): Tatakota Bermula di Fort Utrecht Banjoewangi ke Soekaradja; Antara Kampong Saba-Kampong Soekawidi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Tata kota masa kini tentu saja berbeda dengan tata kota Banyuwangi tempo doeloe. Hanya membedakannya adalah tempo doeloe kota tumbuh berkembangan sesuai kebutuhannya. Sedangkan penataan kota pada masa kini mengikuti tren kota modern yang mempertimbangkan banyak hal, termasuk soal kebutuhan zonasi dan proyeksi perkembangan kota ke masa depan.


Penataan Ruang dan Wilayah Banyuwangi Dipuji Pakar Perkotaan. detikNews. Rabu, 19 Jul 2017. Penataan ruang dan wilayah yang dilakukan kabupaten Banyuwangi diapresiasi pakar perkotaan, Yayat Supriyatna. Dosen Planologi Universitas Trisakti Jakarta menilai, Banyuwangi cukup mampu mengendalikan struktur ruang kotanya dengan baik. "Kita lihat tidak saling tumpang-tindih. Saya dengar juga tidak boleh ada mall di dalam kota, itu bagus untuk memecah konsentrasi ruang sekaligus bagian dari pemerataan". Secara teroris, kata Yayat, pemimpin Banyuwangi banyak memahami tentang konsep tata ruang, tapi secara praktik, Yayat mengaku banyak belajar dari Banyuwangi. "Karena mempraktikkan teori di daerah itu lebih sulit. Banyuwangi relatif berhasil mempraktikkannya". Banyuwangi berhasil meraih juara penataan ruang terbaik se-Indonesia 2014 lalu. Yayat juga mengapresiasi penataan ruang di kawasan bandara di mana Pemkab Banyuwangi tidak memberikan izin mendirikan banguna di sekitar bandara. Sehingga lansekap persawahan di sekitar bandara tetap terjaga. "Itu bagian dari positioning. Karena untuk diferensiasi dengan bandara di kota lain, sehingga orang turun dari pesawat sudah langsung terasa keunikan Banyuwangi. Apalagi terminal bandaranya unik". Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pengendalian tata ruang. (https://news.detik.com/)

Lantas bagaimana sejarah tata kota, bermula di Fort Utrecht Banjoewangi ke Soekardja? Seperti disebut di atas, tata kota pada masa ini mengikuti kebutuhan zonasi dan arah perkembangan kota, sedangkan pada masa lampau mengikuti alamiah pertumbuhan kota. Perencanaan kota Banyuwangi tempo doeloe antara benteng dengan kampongc Soekaradja dan antara kampong Saba dan kampong Soekawidi. Lalu bagaimana sejarah tata kota, bermula di Fort Utrecht Banjoewangi ke Soekardja? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyuwangi (30): Pendidikan di Banyuwangi, Bagaimana Bermula? Sekolah Eropa/Belanda vs Sekolah untuk Pribumi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Seperti halnya bidang kesehatan, pada awal Pemerintah Hindia Belanda juga mendapat perhatian. Hanya saja, penyelenggaraan Pendidikan bagi anak-anak Eropa/Belanda yang berkembang. Bagaimana dengan sekolah untuk pribumi? Mari kita telusuri.


Pendidikan dan Pergerakan Nasional: Banyuwangi Awal Abad 20. Bahagio Raharjo. Jurnal Handep: Sejarah dan Budaya Volume 5, No. 2, June 2022. Abstract. Modern education in Banyuwangi, which was established by the government, firstly appeared in 1819 in the form of the Europeesche Lagere School (ELS), approximately two years after the first school has founded in the Dutch East Indies. The existence of this school is inseparable from the interests and needs of the government to prepare skilled government employees. The existing schools were not well developed even though the need for modern schools increased. The enactment of the ethical policy provided an opportunity for non-government parties. Subsequently, schools established by Indo-European, Arab, and Chinese entrepreneurs, and national movement organization. This paper studies the dynamics of their roles in founding a modern school in Banyuwangi during the era of ethical policy. This study used historical methods to explain the education and policies that encouraged the nongovernment sector’s efforts at that time in actively establishing schools for their respective groups. The study found that ethical policy opened opportunities and strengthened the existence of parties outside the government to establish schools in Banyuwangi and develop modern education. The changes were in the strengthening of plantation companies that promoted the opening of new areas, the economic crisis, and the politics of segregation demanded the availability of schools for all groups. (https://handep.kemdikbud.go.id/)

Lantas bagaimana sejarah pendidikan di Banyuwangi, bagaimana bermula? Seperti disebut di atas, pendidikan di wilayah Banyuwangi awalnya hanya sukses bagi anak-anak Eropa/Belanda. Untuk itu ada baiknya memperhatikan sekolah Eropa/Belanda vs sekolah untuk pribumi. Lalu bagaimana sejarah pendidikan di Banyuwangi, bagaimana bermula? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Rabu, 07 Juni 2023

Sejarah Banyuwangi (29): Kesehatan di Wilayah Banyuwangi dan Klinik Kesehatan; Rumah Sakit Kota dan Siapa Dr Imanudin?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Seiring pembentukan cabang-cabang pemerintahan semasa Pemerintah Hindia Belanda, aspek kesehatan juga mendapat perhatian. Mengapa? Penyakit, epidemic dan status kesehatan penduduk juga akan memperngaruhi kondisi kesehatan orang Eropa/Belanda. Untuk mebingkatkan status kesehatan diu wilayan, termasuk di wilayah Banyuwangi dibutuhkan kehadiran petugas kesehatan yang menjadi prakondisi terbentuknya klinik kesehatan yang pada gilirannya rumah sakit dibangun.


Sejarah Singkat RSUD Blambangan. Banyuwangikab.go.id. 30-04-2013. Tidak banyak yang tahu jika RSUD Blambangan ternyata rumah sakit tertua di Kabupaten Banyuwangi. Rumah sakit yang kini berdiri megah ini dibangun kali pertama tahun 1930 oleh Prof. dr. Immanudin. “Sayangnya kita belum tahu tanggal, bulan dan hari apa rumah sakit ini pertama kali dibangun, masih kita telusuri. Namun yang jelas dibangun tahun 1930,” jelas Direktur RSUD Blambangan, dr. Taufik, ditemui di ruangannya, Selasa 30 April 2013. Diawal pendiriannya, fasilitas publik ini sudah memiliki 4 ruangan untuk pelayanan kesehatan dan penanggulangan penyakit menular bagi masyarakat. Yakni ruangan penyakit dalam, bedah, bersalin dan pelayanan rawat jalan. Seiring perjalanan waktu pembangunan fasilitas kesehatan dilakukan secara bertahap. (https://tegaldlimo.banyuwangikab.go.id/)

Lantas bagaimana sejarah kesehatan di wilayah Banyuwangi dan klinik kesehatan? Seperti disebut di atas pengembangan kesehatan di wilayah Banyuwangi dimulai pada era Pemerintah Hindia Belanda. Siapa Dr Imanudin dan bagaimana sejarah rumah sakit di kota Banyuwangi. Lalu bagaimana sejarah kesehatan di wilayah Banyuwangi dan klinik kesehatan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyuwangi (28): Migrasi Menuju Banyuwangi; Perpindahan Populasi di Jawa dan Perpindahan ke Banyuwangi di P. Jawa


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Sejarah migrasi sebenarnya sezaman dengan pembentukan populasi penduduk di suatu wilayah. Hal seperti itulah yang juga terjadi di wilayah Banyuwangi. Dalam hubungan ini, di wilayah Banyuwangi, jika disebut populasi penduduk asli di wilayah Banyuwangi adalah orang Osing, sejatinya adalah perpaduan populasi di masa lampau. Pembentukan populasi sangat dipengaruhi oleh perpindahan.


Kampung Mandar: Migrasi dan Adaptasi Komunitas Mandar dan Bugis-Makassar di Banyuwangi 1930-1980. Skripsi. Wahyu Indah Hasanah. Universitas Airlangga (2019). Skripsi fokus pada proses migrasi yang dilakukan orang-orang Mandar dan Bugis-Makassar ke Banyuwangi serta strategi adaptasi apa yang digunakan sehingga mereka dapat diterima. Penelitian ini menggunakan metode sejarah. Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran di perpustakaan dan kantor badan arsip sumber lisan dan sumber foto. Sumber lisan didapatkan melalui wawancara dengan narasumber dari Keluarga Adat Mandar dan seorang pemerhati sejarah lokal di Banyuwangi. Terjadinya migrasi komunitas Mandar dan Bugis-Makassar ke Banyuwangi disebabkan faktor keamanan dan ekonomi Sulawesi Selatan, memasuki wilayah Banyuwangi awal abad 18 melalui jalur perdagangan. Orang Mandar dan Bugis-Makassar tersebar di beberapa desa, antara lain Sukojati Blimbingsari, Kepuh Pakisaji, Watubunjul Giri, Kenjo Glagah. Strategi adaptasi dalam bertahan adalah strategi perang, perdagangan dan perkawinan. Proses interaksi menghasilkan akulturasi budaya. Salah satu budaya yang terjadi akulturasi adalah tradisi Petik Laut. Tradisi Petik Laut dilaksanakan sesuai adat Mandar, namun di dalamnya juga terdapat Tari Gandrung dari Banyuwangi. Sedangkan tradisi yang masih terjaga keasliannya, adalah Saulak upacara adat meminta izin kepada nenek moyang sebelum melakukan sebuah hajatan (https://repository.unair.ac.id/)

Lantas bagaimana sejarah migrasi di Banyuwangi? Seperti disebut di atas, wilayah Banyuwangi menjadi salah satu tujuan migrasi. Bahkan sejak zaman lampau. Migrasi dalam hal ini perpindahan populasi di Jawa dan perpindahan ke Banyuwangi di pulau Jawa. Lalu bagaimana sejarah migrasi di Banyuwangi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Selasa, 06 Juni 2023

Sejarah Banyuwangi (27): Pemerintahan di Banjoewangi Semasa Era Pemerintah Hindia Belanda; Zaman Kuno versus Masa Kini


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Dalam narasi sejarah pemerintahan, yang terinformasikan adalah pemerintah zaman kuno dan era masa kini. Bagaimana masa pemerintahan diantaranya. Nah, itu dia. Kurang terinformasikan. Sejatinya pemerintahan di suatu wilayah, berkesinambungan dari zaman kuno hingga era masa kini.  Namun kurang terperhatikan pada era Pemerintah Hindia Belanda. Wulayah relative tidak berubah, yang berubah adalah rezim yang memerintah di wilayah tersebut.


Banyuwangi adalah sebuah wilayah kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Sejarah Banyuwangi tidak lepas dari sejarah Kerajaan Blambangan. Pada pertengahan abad ke-17, Banyuwangi merupakan bagian dari Kerajaan Hindu Blambangan yang dipimpin oleh Pangeran Tawang Alun. Pada masa ini secara administratif VOC menganggap Blambangan sebagai wilayah kekuasannya, atas dasar penyerahan kekuasaan Jawa bagian timur (termasuk Blambangan) oleh Pakubuwono II kepada VOC. Padahal Mataram tidak pernah bisa menguasai daerah Blambangan yang saat itu merupakan kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa. Namun VOC tidak pernah benar-benar menancapkan kekuasaannya sampai pada akhir abad ke-17, ketika pemerintah Inggris menjalin hubungan dagang dengan Blambangan. Daerah yang sekarang dikenal sebagai "kompleks Inggrisan" adalah bekas tempat kantor dagang Inggris. VOC segera bergerak untuk mengamankan kekuasaannya atas Blambangan pada akhir abad ke-18. Hal ini menyulut perang besar selama lima tahun (1767–1772). Dalam peperangan itu terdapat satu pertempuran dahsyat yang disebut Puputan Bayu sebagai merupakan usaha terakhir Kerajaan Blambangan untuk melepaskan diri dari belenggu VOC. Pertempuran Puputan Bayu terjadi pada tanggal 18 Desember 1771 yang akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Banyuwangi. (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah pemerintahan di Banjoewangi semasa Pemerintah Hindia Belanda? Seperti disebut di atas, narasi sejarah pemerintahan di berbagai wilayah cenderung hanya menarasikan zaman kuno versus masa kini. Pada masa Pemerintah Hindia Belanda kurang terinformasikan. Lalu bagaimana sejarah pemerintahan di Banjoewangi semasa Pemerintah Hindia Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Banyuwangi (26): Jembrana di Afd. Bali en Lombok;Pemerintah di Bali Bermula di Afdeeling Banjoewangi, Resid. Bezoeki


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini

Nama Djembrana adalah suatu nama kerajaan di pulau Bali, Kerajaan ini awalnya berpusat di Djambrana lalu kemudian relokasi ke Negara. Wilayah Djembrana di pulau Bali ini kali pertama Pemerintah Hindia Belanda membentuk cabang pemerintahan pada tahun 1855. Ini sehubungan dengan berakhirnya Perang Bali pertama (1846-1849). Relokasi ibu kota ini sehubungan dengan penempatan Controleur di Negara.


Menurut cerita, Oentoeng Soeropati adalah seorang pangeran yang lahir dari Poeger, bernama Sangadja, yang dipaksa pada usia enam tahun oleh pamannya, Soesoehoenan, untuk melarikan diri ke Blambangan, untuk mencari perlindungan dengan pangeran wilayah Blambangan. Namun pangeran Blambangan tidak berani menjaga pemuda belia itu bersamanya, lalu menyarankan Oentoeng Soeropati untuk menyeberang dengan pengasuhnya ke Djambrana di Bali. Disini mereka disambut dengan ramah oleh Shabandar, yang kemudian menerima pangeran kecil ini sebagai putranya dan memberinya panggilan (gelar) Bagoes Mataram. Setelah pemuda ini tumbuh menjadi seorang pemuda yang hebat (lihat Dr R van Eck dalam majalah Tijdschrift voor Neerland's Indie, 1878).

Lantas bagaimana sejarah Jembrana di Afdeeling Bali en Lombok? Seperti disebut di atas, hubungan antara wilayah Banjoeangi dan wilayah Djembrana di (pulau) Bali sudah sejak doeloe. Satu fase hubungan tersebut pada saat pemerintah di Bali bermula di afdeeling Banjoewangi, Residentie Bezoeki. Lalu bagaimana sejarah Jembrana di Afdeeling Bali en Lombok? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.