Selasa, 04 Agustus 2026

Sejarah Dr Tjipto (12): Guru Soewardi Soerjaningrat Dirikan Sekolah Taman Siswa; Guru Soetan Goenoeng Moelia Raih Doktor


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Dr Tjipto Mangoenkoesoemo diasingkan ke Banda tahun 1927. Bagaimana dengan Soewardi Soerjaningrat? Ada sejumlah guru lulusan Belanda, antara lain Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan (tiba di Belanda 1904), Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia dan Sjamsi Sastrawidagda (keduanya 1911), Sam Ratulangi (1912); Soewardi Soerjaningrat, Dahlan Abdoellah, Tan Malaka (ketiganya 1913). Dalam perjalanan karir guru hanya satu yang mendirikan sekolah sendiri (Soewardi Soerjaningrat) dan hanya satu yang meraih gelar doktor. Soewardi Soerjaningrat kemudian dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara. Deepublish


Soewardi kembali ke Indonesia pada September 1919. Soewardi diingatkan oleh istrinya, Raden Ajeng Soetartinah, bahwa perjuangan juga dapat melalui pendidikan. Berbekal ilmu tentang pendidikan dan pengajaran di Belanda, Soewardi kemudian bergabung dengan sekolah binaan saudaranya, Perguruan Adhidarma Yogyakarta pada 1921. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang berencana untuk didirikannya.[butuh rujukan]Pada 3 Juli 1922, ia akhirnya mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa. Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. ("di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan"). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah guru Soewardi Soerjaningrat dan sekolah Taman Siswa? Seperti disebut di atas, sejumlah guru lulusan Belanda hanya satu yang mendirikan sekolah sendiri (Soewardi Soerjaningrat) dan hanya satu yang meraih gelar doktor (Soetan Goenoeng Moelia). Lalu bagaimana sejarah guru Soewardi Soerjaningrat dan sekolah Taman Siswa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Model Bisnis Era Teknologi Informasi

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Guru Soewardi Soerjaningrat dan Sekolah Taman Siswa; Guru Soetan Goenoeng Moelia Raih Gelar Doktor

Pada tahun 1919 ada tiga guru yang telah menyelesaikan studi keguruan kembali ke tanah air: Soewardi Soerjaningrat, Soetan Goenoeng Moelia dan Tan Malaka. Soewardi Soerjaningrat dengan kapal uap ss Wilis dari Belanda dengan tujuan akhir Tandjong Priok (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-08-1919). De Maasbode, 13-09-1919: ‘Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia, di Leiden, diangkat sebagai guru dalam pendidikan Hindia Belanda’. Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia dengan kapal ss Tambora berangkat tanggal 1 November dari Rotterdam dengan tujuan akhir Batavia (lihat Algemeen Handelsblad, 03-11-1919). Ibrahim gelar Tan Malaka dengan kapal ss Jan Pieterszoon Coen dari Amsterdam dengan tujuan akhir Batavia pada tanggal 8 November 1919 ((lihat Algemeen Handelsblad, 07-11-1919). Kapal ss Jan Pieterszoon Coen adalah kapal mewah. Kapal ss Wilis dan kapal ss Tambora sama-sama kapal sedang. 


Soewardi Soerjaningrat lulus ujian akta guru LO di Den Haag (lihat De nieuwe courant, 17-06-1915). Soetan Goenoeng Moelia lulus ujian akta guru MO di Den Haag tahun 1917 (lihat De Maasbode, 22-08-1917). Akta MO juga diperoleh Tan Malaka di sekolah keguruan Rijkskweekschool di Haarlem pada tahun 1916 ini. Soewardi Soerjaningrat, pernah studi  di sekolah kedokteran Batavia (Stovia), setelah kasus Indische Partij Soewardi Soerjaningrat mengasingkan diri ke Belanda 1913. Soewardi Soerjaningrat tiba di Belanda bulan Oktober 1913; satu bulan kemudian guru Tan Malaka bulan November di Belanda. Soetan Goenoeng Moelia segera setelah lulus sekolah dasar Eropa (ELS) di Sibolga berangkat tahun 1911 ke Belanda untuk melanjutkan studi menengah. Soetan Goenoeng Moelia lulus akta guru LO tahun 1915. Ketiganya tidak segera kembali ke tanah setelah menyelesaikan studi masing-masing, tetapi melakukan aktivitas masing-masing. Soetan Goenoeng Moelia diangkat sebagai guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan (Handelschool). Soewardi Soerjaningrat dan Tan Malaka hanya terinformasikan di dalam kegiatan organisasi di Belanda. 

Di tanah air, Tan Malaka memulai sebagai guru di perkebunan di Deli (Senembah Mij); Soewardi Soerjaningrat kembali ke kampong halaman di Jogjakarta. Tidak terinformasikan apakah menjadi guru di sekolah sang kakak Soerjopranoto di Jogjakarta (sekolah Adhi Darmo di Pakoealaman). Yang jelas pada bulan Oktober 1919 Soewardi Soerjaningrat menjadi salah satu pembicara di Jogjakarta (lihat De locomotief, 14-10-1919). Disebutkan besok malam pukul tujuh, akan diadakan pertemuan di rumah Ketib Arnin di Kaoeman. Pembicaranya adalah Bapak Tjokroaminoto, Soewardi Soerjaningrat, Teeuwen, dan Douwes Dekker. Ini mengindikasikan Soewardi Soerjaningrat telah berada diantara kawan-kawan lamanya. Soewardi Soerjaningrat kembali bergabung dengan Insulinde (yang kemudian berubah nama menjadi Nationaal Indische Partij). Soewardi Soerjaningrat yang menjadi guru di sekolah sang kakak Soerjopronoto di Jogjakarta (Adhi Dharma) juga bergabung dengan PFB (lihat De locomotief, 15-05-1920).. 


Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 24-05-1920: ‘Semarang, 24 Mei 1920. "Partai Komunis Indonesia". Dari ISDV dilaporkan bahwa rapat tahunan ISDV yang ketujuh telah diselenggarakan pada hari Minggu. Rapat tersebut dipimpin oleh Mr Hartog, yang dalam sambutan pembukaannya menyatakan bahwa rapat ini diselenggarakan sehubungan dengan situasi umum saat ini, meskipun rapat umum baru saja diselenggarakan beberapa bulan yang lalu. Pertemuan tersebut dihadiri oleh delegasi dari Semarang, Soerabaja dan Bandoeng yang mewakili 1.250 suara. Usulan Semarang diterima untuk mengubah nama perkumpulan menjadi Indische Communisten Partij. Samaoen terpilih sebagai ketua dewan utama, Darsono wakil ketua, Bergsma sekretaris, Dekker bendahara, Baars, Stam, Soegono, Dengah dan Kraan anggota dewan eksekutif. Baars, Bergsma Darsono dan Dengah terpilih sebagai editor untuk organ baru yang diberi nama Vrije Woord’. Segera setelah Semaoen menjadi ketua ISDV/PKI langsung membuat pernyataan yang menghebohkan (lihat Sumatra-bode, 25-06-1920). Disebutkan pernyataan Samaoen yang ingin bekerja sama dengan kaum Bolshevik dari negara lain. Semaoen menjadi target pemerintah. Catatan: Kaum Bolshevik adalah faksi radikal dari Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia yang dipimpin oleh Vladimir Lenin.

Soetan Goenoeng Moelia ditempatkan sebagai guru di sekolah HIS di Bengkoeloe. Namun tidak lama kemudian Soetan Goenoeng Moelia diangkat pemerintah menjadi guru dan ditempatkan sebagai kepala sekolah di Sipirok (lihat Algemeen Handelsblad, 18-07-1920). 


Ibrahim gelar Datoek Datoek Tan Malaka terinformasikan pada bulan Februari berangkat ke Batavia dengan kapal ss Rumphius dari Medan (lihat Deli courant, 24-02-1921). Lalu mengapa Ibrahim gelar Datoek Datoek Tan Malaka berhenti guru di Senembah Mij? Ada apa ke Batavia? 

Selanjutnya Soetan Goenoeng Moelia, guru pendidikan Eropa, diangkat menjadi kepala sekolah (direktur) di Hollandsch Inlandsche School (HIS) yang baru dibuka di Kotanopan (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-05-1921). 


Untuk mengisi kekosongan 'kursi' anggota dewan yang ditinggalkan, untuk sidang di Volksraad, terhitung 17 Mei 1921 Soetan Goenoeng Moelia diangkat menjadi anggota Volksraad di Batavia (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-05-1921). Ini dapat dikatakan awal karir Soetan Goenoeng Moelia di panggung (politik) nasional. Sebagai seorang guru, Soetan Goenoeng Moelia tentu saja akan membawa misi untuk perbaikan dan peningkatan pendidikan pribumi. 


Dalam perkembangannya PFB sedang menghadapi masalah organisasi. Soerjopranoto menyatakan bahwa PFB akan dibubarkan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 03-09-1921). Juga terinformasikan bahwa Soewardi Soerjaningrat mendapat masalah. Ini untuk yang pertama sepulang dari Belanda. Disebutkan Soewardi Soerjaningrat telah dipindahkan dari tempat penahanan di Semarang ke tempat penahanan di Pekalongan (lihat De Telegraaf, 04-10-1921). 


Semaoen yang di dalam pengawasan intel menghilang (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-11-1921). Disebut Semarang, 7 Nov. 1921. Polisi tengah menyelidiki apakah benar Samaoen berangkat ke Shantung. Disebutkan pula bahwa ia berangkat ke Soerabaja seminggu yang lalu. Namun setelah dicek kesitu, Semaoen tidak datang ke tempat itu. Muncul rumor bahwa Semaoen akan ke Shanghai (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 10-11-1921). Disebutkan polisi melakukan investigasi terhadap rumor bahwa Semaoen telah beremigrasi ke Shanghai. Samaoen meninggalkan Semarang seminggu yang lalu.  Lantas mengapa Semaoen ke Shanghai? Sebagaimana diketahui, setelah Sneevliet (pendiri ISDV) setelah diusir dari tahun 1918 sudah bermukim di Shanghai sebagai perwakilan Moscow. 


Tan Malaka di Semarang diketahui telah menjadi bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebelumnya Tan Malaka di Semarang bagian dari NIP dalam pencalonannya sebagai anggota dewan kota (gemeenteraad) Semarang. Lalu bagaimana Tan Malaka bisa menjadi seorang komunis?


Bataviaasch nieuwsblad, 27-12-1921: ‘Koresponden kami di Semarang menulis kepada kami pada tanggal 25 Desember: Kemarin, menjelang malam, kongres komunis dimulai yang didahului dengan rapat umum besar-besaran di gedung SI Semarang. Komunis versi SI sekitar 1.500 orang berkumpul di aula, mendengarkan janji-janji komunisme yang terdengar indah dan apa yang dikatakan tentang Rusia. Kami tidak menganggap diri kami terikat untuk memberikan penjelasan rinci tentang kletsika yang dijual di sana. Kepemimpinan (ketua pertemuan) berada di tangan T Malaka yang fanatik, sementara Kadaroesman, (Mas) Bergsma dan (Raden) Dekker juga duduk di meja dewan. Diumumkan bahwa sobat Semaoen tidak dapat hadir karena cuti. Dekker wakil inspektur NIS, seseorang yang dalam pekerjaannya sehari-hari masih bergaul dengan orang-orang baik, bertindak melawannya dengan cara yang hanya bisa diharapkan dari para pelanggar jalanan Amsterdam. T Malaka mengulangi dengan teriakan dalam bahasa Melayu dan melangkah lebih jauh: kami telah menarik perhatian pihak berwenang pada fanatismenya. Dalam pertemuan Volksraad diserang dan diksi yang mengerikan memutuskan untuk memboikot dewan tersebut. Mereka bisa menggunakan biaya kehadiran 30 gulden untuk seorang anggota komunis, jika hanya untuk membantu sekolah komunis sedikit lebih baik. Menjelang tengah malam, rapat umum diubah menjadi rapat tertutup. Polisi terlebih dahulu memastikan, apakah pesertanya benar, memiliki sertifikat keanggotaan PKI’. 

Ibrahim gelar Datoek Datoek Tan Malaka sudah menjadi bagian dari organisasi PKI. Sementara Soewardi Soerjaningrat kembali dan tetap di dalam NIP (organisasi Indo Eropa dan pribumi). Sedangkan Soetan Goenoeng Moelia telah menjadi anggota Dewan Rakyat (Volksraad). Ini berarti, tiga guru lulusan dari Belanda yang sama-sama kembali ke tanah air tahun 1919 telah berbeda haluan. Soetan Goenoeng Moelia, selain tetap menjadi guru juga menjadi anggota Volksraad. Ibrahim tidak lagi menjadi guru, sudah menjadi sosok penting di dalam lingkaran PKI di Semarang. Apakah Tan Malaka masih menjadi guru, tidak terinformasikan, tetapi yang jelas Tan Malaka sudah menjadi anggota dewan kota (gemeenteraad) Semarang.


Di Belanda masih ada dua guru yang tersisa. Selama ini Dahlan Abdoellah dan Sjamsi Widagda sebagai asisten pengajar di Universiteit Leiden dalam bahasa Melayu dan bahasa Jawa. Jabatan asisten dosen Melayu dan bahasa Jawa di Universiteit Leiden kosong karena mereka berdua sangat sibuk situdi. Untuk mengisinya guru bahasa Melayu kemudian didatangkan dari Batavia Soetan Mohammad Zain (lihat De Maasbode, 27-07-1922). Sementara untuk posisi asisten dosen Jawa didatangkan Perbatjaraka (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 18-09-1922). Dahlan Abdoellah melanjutkan studinya untuk mendapatkan kata guru MO; Samsji Widagda masih menyelesaikan program sarjananya di Handelhoogeschool di Rotterdam..

 

Di Jogjakarta sudah terinformasikan sejak lama sekolah Adhi Darma (Tugas Indah) yang dipimpin oleh Soerjopranoto, Sekolah ini, bekerja sesuai hukum, tetapi bukan di bawah panji agama atau nasional. Di sana-sini, Adhi-Dharma masih ada. Di Semarang Tan Malaka telah ditahan. Tan Malaka ditangkap 13 Februari 2022 di Bandung. Dalam perkembangannya, Tan Malaka meminta untuk diasingkan ke Belanda. 


De expres, 21-02-1922: ‘Malaka Lebih Memilih Pengasingan Pemohonan Berdasarkan Latar Belakang Hindia. Seinarang, 21 Februari [Aneta]. Malaka mengajukan petisi kepada Gubernur Jenderal untuk diasingkan ke Belanda. (P- Ed). Masalahnya berbeda. Malaka akan meminta, seperti yang dilakukan DD, Tjipto, dan Soewardi pada saat itu, untuk diizinkan meninggalkan Hindia dengan biaya sendiri dan dengan demikian agar pelaksanaan perintah pengasingannya ditangguhkan. Secara hukum, tidak mungkin ada pengasingan terhadap Malaka. 'Wartawan Semarang' ini berulang kali salah dan agak terlambat. Kami mengetahui permintaan Malaka beberapa hari yang lalu, tetapi tetap diam agar tidak mengeksposnya pada hasutan sayap kanan—Red)’. 

Di Jogja, tempat kelahirannya, aliran Adhi-Dharma masih ada, yang di bawah kepemimpinan Soewardi Soerjaningrat, dilaporkan berkembang pesat. Sekolah Adhi Dharma yang dipimpin oleh Soewardi Soerjaningrat mulai memperkernalkan metode pengajaran yang baru. 


De expres, 27-02-1922: ‘Wawancara Residen Jonqufère. Soewardi dicap sebagai pengikut Gandhi. Pendidikan Montessori-Tagore Merusak? Mengapa ia Diperlukan? Jogja, 26 Februari. Tidak selalu mudah untuk mereproduksi wawancara dengan jelas dan akurat. Saya mengatakan ini berdasarkan pengalaman saya sendiri. Karena bagaimana hal itu bekerja pada wawancara rutin Anda? Anda duduk di depan narasumber. Dengan sedikit prasangka manusiawi, dan karena itu dapat dibandingkan. Anda tentu ingin hal ini dikonfirmasi oleh subjek percobaan jurnalistik. Berbicara tentang berbagai hal di luar subjek sebenarnya, terkadang melibatkan sedikit debat ramah. Dan karena itu dapat dimengerti bahwa pewawancara, saat mempersiapkan wawancara untuk publikasi di rumah, terkadang menuliskan hal-hal yang lebih merugikan narasumber daripada orang atau hal-hal yang menjadi subjek wawancara. Dengan asumsi bahwa semua ini memang merupakan faktor yang mendasari pengkhianatan dalam wawancara Jonqueret. Pertimbangkan ini baik-baik: wawancara tersebut diterbitkan di salah satu surat kabar Batavia, yang dipuji secara eksklusif di bagian Footerimat dari Bandung Express kita dulu. Jelas bahwa teks wawancara sepenuhnya merupakan tanggung jawab pewawancara, dan bukan narasumber, Residen Jogja. Karena sindiran yang terkandung di dalamnya murni berita hari itu! Lihat di sini apa yang kami temukan melalui surat kabar lokal Jogja. Situasi Politik: Javasch Gandhi-isme. Kerusuhan politik adalah pertanyaan balik dari ZH. EdG. ketika kami menanyakan hal ini kepadanya //Tidak, ini tidak ada di wilayah Djokjakarta, dalam arti faktual, yaitu, di kalangan massa. Ada "gerakan" tertentu yang disebabkan dari luar—tanpa sebab alami. Seperti yang sudah jelas, hanya beberapa strata atas yang digerakkan, sementara sebagian besar massa tetap tidak aktif. (Oleh karena itu, tidak berbahaya). Karena itu, situasi politik dapat dengan aman disebut menguntungkan, tanpa berlebihan, menurut Residen Jouquière, menambahkan lebih lanjut bahwa pihak berwenang telah sepenuhnya mengendalikan situasi. Menurut Jouquière, tidak dapat disangkal bahwa "para pemimpin" di Djokja saat ini agak mengikuti model India Britania, terutama Soewardi dan rekan-rekannya. Selain itu, faktor baru telah tercipta dalam aksi baru ini yang harus diperhitungkan saat ini, yaitu hasutan dari kaum muda yang tidak bermoral. Untuk tujuan ini (Sie. Corresp.), kursus-kursus telah didirikan yang, dalam bentuk yang sedikit dimodifikasi, didasarkan pada prinsip-prinsip Gandhi dan Tagore. Bahwa dalam penanaman semangat yang merusak secara artifisial pada kaum intelektual Jawa asli ini, terdapat bahaya besar, (Sekali lagi: berbahaya. v. Corresp.) tidak terkecuali bagi kaum muda itu sendiri, sudah jelas. Pembatasan hak berkumpul juga tidak diberlakukan dengan mempertimbangkan pengaruh-pengaruh ini. Seperti yang telah dilaporkan, pertemuan kursus semacam itu pernah dibubarkan karena tidak ada izin yang diminta. Kesalahpahaman. Kita dapat melihatnya dengan jelas. Mereka tidak dapat menulis apa pun tentang gerakan populer di Batavia tanpa tanda kutip, yang menunjukkan sedikit hal selain sindiran. Tetapi mari kita abaikan hal-hal sepele ini dan lihat apa yang dinyatakan di dalamnya. Ketidakakuratan langsung terlihat ketika wawancara berbicara tentang "pengaruh" relatif, yang lebih kuat, dari pemuda pribumi, hanya sehubungan dengan pendirian kursus (Komite Hidoep Mardeka). Kita tahu bahwa kursus-kursus tersebut ditujukan untuk para demonstran dan orang dewasa lainnya. Kursus-kursus ini ditujukan dan bertujuan untuk mempersiapkan siswa untuk profesi independen yang lebih bermanfaat dan memberikan kepuasan lebih daripada sekadar bekerja di balik meja dan berlagak politik di kantor. Sistem Pendidikan Baru: Gandhi - Tagore - Methode. Ketidakakuratan utama kedua terletak pada penyebutan kombinasi nama pedagogis baru. Yaitu Mahatma Gandhi dan penyair terkenal Tagore. Sungguh orisinal! Sekarang, kebetulan bahwa Soewardi Surjaniugrat, yang namanya disebutkan dalam wawancara tersebut, memang telah merancang sistem pendidikan baru sebagai pemimpin Sekolah Adhi Dharma. Yang mana nama Tagore juga terkait erat. Tetapi ini bukanlah sistem Gandhi-Tagore. Teori yang dianggap sangat penting oleh Soewardi untuk pengajaran pendidikan di India sebenarnya bersifat murni pedagogis, yang sering ia nyatakan baru-baru ini dengan nama "metode Montessori-Tagore yang dimodifikasi". Apakah organ Katolik Batavia, sang pewawancara, akan malu menyebut nama pendidik Katolik Dr Maria Montessori sehubungan dengan sekolah Soewardi? Dan kemudian kita bertanya dengan hati nurani yang baik apakah sistem pendidikan Montessori—yang berasal dari Italia, yang telah menggemparkan dunia pedagogi, di Amerika bahkan lebih daripada di Eropa—benar-benar menumbuhkan semangat yang berbahaya pada para intelektual Jawa di masa depan. Shi'anti Niketan, "Luis des Vredes" (Kutu Perdamaian). Pendidikan Tagore juga disebut "berbahaya" dalam wawancara tersebut. Dan Shanli-Niketan, sekolah terkenal penyair pemenang Hadiah Nobel dari Bengal, secara harfiah berarti, ingatlah, "Rumah Perdamaian"! Sungguh mengejutkan bahwa seorang propagandis dari teori mulia "penetrasi universal damai" tersebut dipertontonkan di tiang hukuman. Dan akhirnya, menurut wawancara tersebut, pembatasan hak berkumpul di Jogja berakar pada penyebaran teori-teori pendidikan oleh para pendidik terkemuka—yang bahkan terkenal di Eropa dan Amerika—seperti Montessori dan Tagore, menjadikan seluruh laporan wawancara tersebut sebagai karya jurnalistik yang luar biasa. Tidak, tanpa pemogokan, sistem Tagore-Montessori tetap tak tergoyahkan dalam keunggulannya. Seperti biasa dalam sebagian besar wawancara, kebenaran seringkali melenceng. Memang, akhir-akhir ini—tetapi tidak hanya di Jogja, tetapi di mana-mana di Hindia—terjadi fenomena yang mengingatkan kita pada tindakan pemimpin Inggris-India [dui]. Sementara itu, ini adalah fenomena logis dari tindakan diam dan pasif di negara di mana aktivisme jauh dari tanpa gestur dan tampaknya dapat dengan mudah menyebabkan kehancuran. Coba perhatikan daftar nama-nama mereka yang berakhir di penjara karena pekerjaan politik aktif mereka. Dan Anda akan terkejut dengan banyaknya jumlah mereka. Untuk tujuan apa? Bukankah lebih baik menghindari segala sesuatu yang menimbulkan bahaya hukum? Dan dengan tenang dan damai, melalui pendidikan dan bimbingan, membentuk individu menjadi manusia yang kuat secara batin, sehingga tidak ada kekuatan yang mampu menindas orang tersebut secara moral dan fisik, karena hal itu sama sekali tidak mungkin. Lebih sedikit kata dan lebih banyak perbuatan! Ketika upaya seperti itu, tindakan tenang seperti itu, disebut Gandhianisme, ya, maka pengaruh Gandhian kini terlihat di mana-mana. Tetapi itu adalah pengaruh yang tidak membuat kita malu. Itu telah membuat kita merasa terdorong untuk melakukannya karena, demi keselamatan kita sendiri, kita merasa wajib melakukannya’. 

Lantas dimana sekarang Semaoen berada? Semaoen sudah berada di Moscow. Henk Sneevliet di Shanghai telah memberi jalan bagi Semaoen ke Moscow. Semaoen berangkat dari Shanghai ke Moscow melalui Vladivostok dan dengan kereta api ke Moscow. Sementara itu, Tan Malaka di Semarang masih menunggu permohonannya dikabulkan pemerintah untuk mengasingkan diri ke Belanda. 


De Sumatra post, 06-03-1922: ‘Bergsma en Tan Malaka. Semarang. Locomotief melaporkan bahwa Bergsma dibebaskan pada Sabtu pagi selama tiga hari, setelah itu pemindahannya akan dilakukan. Tan Malaka akan tetap ditahan sampai keputusan dibuat mengenai permintaan pemindahannya ke Belanda. Residen Timor diberi wewenang untuk mengeluarkan biaya sebesar f50 untuk perawatan Malaka. Pertimbangan di balik keputusan untuk eksternalisasi terutama didasarkan pada upaya untuk melaksanakan program Moskow oleh Bergsma dan Malaka. De Volkskrant, 07-03-1922: ‘Seorang tahanan komunis. guru komunis Malaka, yang bekerja di Hindia Belanda, akan di internernir di Koepang, pulau Timor. Ia akan tetap ditahan sampai keputusan dibuat mengenai permohonannya untuk diizinkan berangkat ke Belanda. Penahanan Malaka terutama didasarkan pada upaya untuk melaksanakan program Moskow’. 

Di Moscow nama Semaoen sudah kenal luas di Rusia (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 08-03-1922). Disebutkan Semaoen muncul di Moskow dan berbicara di sana pada kongres partai komunis Asia Timur atas nama "proletariat Jepang dan Hindia Belanda”. Pembicara yang terhormat mengatakan bahwa "proletariat" yang disebutkan di atas telah menderita di bawah rezim kapitalis selama beberapa waktu hingga sekarang. 


“Sekarang lihat itu! Anda mengajarkan anak-anak muda itu untuk membaca, menulis, dan berhitung, dan ketika mereka bisa melakukannya, mereka pergi ke pedesaan menemui orang-orang yang sama sekali tidak mereka kenal dan memberi tahu mereka bahwa mereka berada di bawah "belenggu". Sementara itu, disebutkan pemerintah (Hindia belanda) sebaiknya menangkapnya segera setelah ia kembali ke sini (Indonesia) untuk melakukan propaganda komunis lagi dengan — seperti sebelumnya tentang Bolshevik, sambil menunggu keputusan untuk menahannya. Disebutkan Semaoen lebih berbahaya daripada Tan Malaka, dan Semaoen memiliki cukup banyak alasan dalam hati nuraninya untuk membenarkan tindakan seperti itu’. 

Permohonan Tan Malaka telah diluluskan pemerintah (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 20-03-1922). Disebutkan Malaka. Semarang, 20 Maret (info pribadi) Malaka akan dibebaskan dari penjara pada hari Selasa dan Rabu untuk membereskan urusannya. Keluarga Sneevliet menanggung biaya perjalanannya ke Belanda. De Indische courant, 21-03-1922: ‘Semarang, 21 Maret (Aneta) Tan Malaka. Tan Malaka sedang diantar oleh rekan-rekan partainya dan mahasiswa malam ini’. 


De Preanger-bode, 24-03-1922: ‘Selamat Jalan, Malaka! Di bawah tulisan di atas, kita menemukan artikel perpisahan di Sinar Hindia, yang menggambarkan, antara lain, bagaimana Saudara Malaka disambut pada hari ia diizinkan meninggalkan penjara sejenak untuk menyelesaikan urusannya. Ia diberi dua karangan bunga, dan banyak murid menunggunya di sana. Pidato-pidato disampaikan, dan jelas terlihat dalam segala hal, kata surat kabar itu, bahwa para penonton serta Tan Malaka sendiri sangat terkesan. Tan Malaka mungkin pergi, simpul Sinar Hindia, tetapi semangatnya dan semangat semua pemimpin yang diasingkan tetap ada di dalam diri kita dan di sekitar kita di seluruh Hindia. Pengasingan hanya menandakan peningkatan keinginan kita’. De expres, 27-03-1922: ‘Pesta Rakyat Dibatalkan. SI Mengajukan Klaim untuk Biaya yang Telah Dikeluarkan. Bandung, 25 Maret. Diketahui bahwa Jaksa Agung memerintahkan perayaan Bandung untuk melarang pesta rakyat yang akan diadakan di sana oleh SI untuk kepentingan sekolah, dengan alasan pertimbangan politik. Antara lain, pengaruh Tan Malaka, seorang guru di sekolah tersebut, dianggap berbahaya bagi kaum muda. Namun, karena persiapan telah berjalan sedemikian rupa sehingga banyak yang telah mengeluarkan biaya, SI memutuskan untuk menuntut, melalui jalur hukum, penggantian biaya yang telah dikeluarkan’. 

Dalam perkembangannya, surat kabar De Preanger-bode di Bandoeng memuat isi surat terakhir Tan Malaka sebagai perpisahan dirinya dengan rekan-rekannya. 


De Preanger-bode, 06-04-1922: ‘Berhasil mendapatkan artikel perpisahan Tan Malaka yang dimuat di Sinar Hindia. Di bawah judul ‘Hindia, Selamat Tinggal’, ia membahas alasan yang memaksanya meninggalkan negara asalnya. Tan Malaka mengatakan bahwa ia didakwa dengan tuduhan mengganggu kedamaian dan ketertiban dan sebagainya. Dia menunjukkan bahwa tidak ada gunanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang biasanya ditanyakan kepada penghuni saat pengusiran. Anda dapat berbicara sebanyak yang Anda inginkan, tetapi keputusan telah dibuat. Itu sebabnya Tan Malaka tidak menjawab apa pun. Dia juga harus memiliki akses ke dokumen rahasia yang tak terhitung jumlahnya yang membahas tentang pengusiran tersebut, dan itu bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan seseorang. Penulis kemudian menjelaskan bahwa ada banyak perpecahan dalam kehidupan bermasyarakat, yang ia coba hilangkan. Haruskah kita terlebih dahulu meminta izin kepada Moskow untuk mempromosikan persatuan kaum proletar? — tanya Tan Malaka — dan kemudian melanjutkan: —Saya yakin bahwa Moskow tidak akan berani memberi nasihat tentang jalan yang harus ditempuh seorang komunis di negara tertentu. Karena setiap negara memiliki kebutuhan dan persyaratannya sendiri. Tan Malaka kemudian mencatat bahwa ia memahami bahwa kekalahan Ikatan Pegadaian juga berarti kekalahan asosiasi lainnya. Lalu dia menulis beberapa kata pembelaan. “Saya ingin mendidik kelas yang mencintai pekerjaan, kuat, mandiri, dan memiliki prinsip kebebasan dalam diri mereka. Hanya kelas seperti itu yang dapat mengangkat India keluar dari kubangan perbudakan, konservatisme, dan kelemahan. Tetapi mungkin hal seperti itu tidak akan begitu buruk jika tidak dilakukan oleh seorang komunis. Tetapi bagaimana orang-orang atau sebagian dari mereka dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi selama pendidikan dikaitkan dengan kapitalisme? Ketika ilmu pengetahuan Barat diajarkan hanya untuk mendukung kebutuhan pabrik gula atau masyarakat kapitalis lainnya?". Hendaknya penduduk negeri ini bersatu padu, sehingga mereka dapat membuang segala kuk yang menindas mereka. Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa pikiran tidak dapat dibunuh. Bahwa yang lama harus digantikan dengan yang baru. Awaslah! kalian semua yang mengabaikan hukum dunia ini. Dengan ancaman ini artikel ditutup. P. Bergsma juga mengucapkan selamat tinggal kepada Hindia. Dia menulis beberapa baris di bawah artikel rekan senegaranya itu. Kita baca di dalamnya, antara lain, sebagai berikut: Aku tidak diberi banyak waktu untuk menjawab asosiasiku dan teman-teman pikiranku. Saudara di negeri ini! Saya berharap Anda baik-baik saja dan rakyat India segera meraih kemenangan, sebagai hasil kerja kita yang tidak pernah berakhir dan bertujuan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Kesedihan yang disampaikan di Markas Besar Revolusi di Semarang itu sangat menyayat hati dan menjadi bahan diskusi antara saya dan kawan Malaka dan kami begitu sedih hingga harus menangis. Dan kami memahami penderitaan yang dialami anak-anak sekarang karena guru yang mereka cintai telah dibuang. Wahai saudara-saudara! Kehidupan kaum proletar adalah kehidupan yang sulit, dan anak-anak yang tidak memahami hal ini sering kali melemahkan perasaan kita. Misalnya, pada hari penangkapan saya, sepertinya anak-anak itu tidak mengerti mengapa saya menangis. Saya telah bekerja untuk kebutuhan kaum proletar selama tidak kurang dari tiga tahun. Saya melihat bahwa tahun-tahun itu lebih baik digunakan daripada tahun-tahun yang dihabiskan untuk melayani modal. Saudara-saudara, saya terpaksa meninggalkan lingkaran saudara-saudara. Mereka memaksaku! Tetapi saya ingin dan akan kembali! Jadi—sampai jumpa nanti! "Salam dari temanmu yang diasingkan". Catatan: Surat yang diterbitkan di Sinar Hindia juga dilansir De expres, 10-04-1922.

Tan Malaka sudah berada di Belanda. Tan Malaka, yang baru saja tiba dari Indonesia hadir dan disambut dalam pertemuan 1 Mei dengan antusiasme besar oleh para revolusioner Amsterdam. Tan Malaka menyampaikan pidato satu jam yang membahas penganiayaan terhadap para revolusioner di Indonesia, gerakan pemuda dan alasan mengapa ia sendiri diasingkan. 


De tribune : soc. dem. Weekblad, 02-05-1922: ‘Perayaan 1 Mei di Amsterdam. Berikut adalah pertemuan siang hari yang dihadiri oleh sekitar 3.000 orang di halaman Parkschouwburg, tempat Lansink Jr. dan Kitsz menyampaikan pidato. Setelah itu, pawai dengan spanduk dan panji-panji berarak melalui kota menuju Beursplein, tempat pawai tersebut dibubarkan oleh Angenent. Pada malam harinya, sebuah pertemuan meriah berlangsung di aula besar Bursa Berlian yang penuh sesak. Malaka, yang baru saja tiba dari Hindia Belanda, hadir dan disambut dengan antusiasme besar oleh para revolusioner Amsterdam. Dalam pidato satu jam, ia membahas penganiayaan terhadap para revolusioner di Hindia Belanda, gerakan pemuda di sana, dan alasan mengapa ia sendiri diasingkan. Laporan rinci tentang pidato menarik ini menyusul. Bursa Berlian begitu penuh sehingga sejumlah orang tidak dapat lagi masuk. Sebuah pertemuan diadakan dengan orang-orang ini di "Lingkaran Persahabatan Pengrajin" dimana Dickhout berbicara pertama, diikuti oleh Jiminy Spanjer’. 

Bagi Tan Malaka, kota Amsterdam tidak asing. Sebagaimana disebut di atas, Tan Malaka setelah menyelesaiakan akta guru di Rijkskweekschool di Haarlem kembali ke tanah air pada tahun 1919. Jarak antara kota Haarlem ke Amsterdam hanya sekitar 30 Km. Pada tahun 1922 ini di Amsterdam cukup banyak mahasiswa Indonesia studi. Jadi sebenarnya, Tan Malaka berada kembali di lingkungannya sendiri di Belanda. Lalu bagaimana sikap pengurus Indische Vereeniging di Amsterdam? Saat ini pengurus Indische Vereeniging dipimpin oleh M Herman Kartowisastro (yang telah menggantikan Dr Soetomo) dan sebagai bendahara adalah Mohamad Hatta. Dr Soetomo sendiri, yang tiba di Belanda tahun 1919 sudah lulus studi kedokteran di Amsterdam (dan masih berada di Belanda—dan baru kembali tahun 1924). 


Voorwaarts: sociaal-democratisch dagblad, 12-05-1922: ‘Pemilihan Parlemen. Tanggalnya. Surat kabar "MSB" menyebutkan hari Rabu, 5 Januari, sebagai tanggal yang kemungkinan besar akan digunakan untuk pemilihan Tweede Kamer. Daftar Komunis. Surat kabar "Tribune" melaporkan bahwa dewan partai Communistische Partij (Partai Komunis Belanda) setelah berkonsultasi dengan anggota terkemuka Perserikatan Communista di Hindia (PCL), telah memutuskan untuk menambahkan seorang warga negara Indonesia—yaitu sesama anggota partai Malaka, yang saat ini tinggal di Amsterdam setelah pengusirannya—ke dalam daftar kandidat. Daftar tersebut sekarang berbunyi sebagai berikut: 1. DJ Wijnkoop, 2. Dr W. van Ravesteijn, 3. IT Malaka, 4. JW Kruyt, 5. L de Visser, 6. R Vos-Stel, 7. G Steringa, 8. JC Cetcn, 9. J Brommert Jr., 10. GA Vader’. 

Lalu bagaimana Tan Malaka bisa diterima menjadi kandidat untuk Tweede Kamer. Yang jelas  Tan Malaka belum dinaturalisasi sebagai warga Belanda, Tan Malaka secara hokum masih warga Hindia Belanda. Namun karena Hindia adalah bagian dari Belanda menjadi dengan sendirinya dapat diterima sebagai kandidat oleh panitian pemlihan pusat. Sementara di Hindia begitu banyak aturan bagi pribumi, bahkan untuk statute hokum organisasi Indische Partij (dan kini Nationaal Indische Partij) belum disahkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Dan seperti di Hindia orang Belanda juga banyak yang berjuang untuk rakyat pribumi, demikian juga di Belanda banyak orang Belanda yang mendukung perjuangan Tan Malaka dkk. 


De tribune: soc. dem. Weekblad, 13-05-1922: ‘Tan Malaka. Seorang pejuang untuk rakyatnya! Apakah kita, para pekerja Belanda, tahu apa arti sebenarnya dari hukuman yang dijatuhkan penguasa kita kepada Tan Malaka, pejuang untuk rakyatnya? Dapatkah kita memahaminya? Tidak, tetapi kita semua merasa bahwa itu adalah hukuman yang kejam, diusir jauh dari tanah kelahirannya dan dipisahkan dari akarnya. Karena Belanda bagi seorang putra Indonesia yang indah seperti Siberia bagi ribuan pejuang melawan Tsarisme di Rusia. Tan Malaka tidak menyesal. Dia tahu dia telah menjalankan tugasnya. Dia ingin menjadi pejuang bagi rakyatnya melawan para penindas serakah yang membawa penderitaan paling mengerikan bagi negaranya yang kaya dan indah. Tan Malaka sekarang bersama kita; para pekerja Amsterdam telah menyambutnya dan menyemangatinya dengan antusias. Mereka menunjukkan simpati mereka yang besar kepadanya dengan cara yang benar-benar jarang terlihat. Dan kita semua menawarkan persahabatan kita kepadanya dalam semangat perjuangan... Apa lagi yang dapat kita tawarkan kepadanya? Dia berbicara kepada kita tentang negaranya; ya, komunis ini berbicara dengan penuh cinta tentang Tanah Airnya! Tanah air itu masih harus ditaklukkan oleh para pekerja dan petani Indonesia, sama seperti tanah air kita, Belanda kita yang indah, masih harus ditaklukkan oleh para pekerja Belanda. Tan Malaka berbicara tentang keindahan negaranya, "keajaiban pegunungan-pulau yang mekar yang memancar dari 'laut biru', dengan deretan pegunungan yang berkilauan dan lembah-lembahnya, dengan pertumbuhan hijau yang subur, dengan hewan-hewan yang berlimpah. Ia menggambarkannya kepada kita, sebagai salah satu penulis terbesar kita, seperti yang ditunjukkan Augusta de Wit kepada kita. Dan kita mendengarkan. Ia berbicara kepada kita tentang bangsanya. "Indah dalam kelembutan adalah orang-orang Jawa, sekelompok petani yang tenang". "Indah dalam kebanggaan adalah orang-orang Sumatera, orang-orang Aceh yang pemberani, pejuang melawan orang asing, setelah seratus kekalahan, kemenangan tahun ini." “Indah sekali orang-orang Maluku yang riang gembira, yang siang dan malam membiarkan suara seruling yang merdu dan petikan senar bergema di jalan-jalan desa yang hijau, dan tarian dalam langkah anak-anak muda, para pemuda dan gadis yang ramping dan tegak; lembut dan penuh kemewahan, yang berbinar-binar karena tawa dan kedipan mata.” Bukankah itu bangsanya sendiri, orang-orang Maluku yang riang gembira? Kawan-kawan, pekerja revolusioner, dan perempuan pekerja. Para penindas Belanda terhadap jutaan orang di Indonesia, yang juga merupakan penindas kita, — mereka telah salah perhitungan. Dan “para menteri yang sedang beristirahat dan gubernur jenderal yang sedang bertugas” akan tersentak dari khayalan kekuasaan mereka yang bodoh oleh tindakan penduduk asli yang merepotkan itu, yang akan menyerang mereka di sini, tepat di jantung benteng mereka. Karena Tan Malaka tahu bagaimana mengekspresikan dirinya dalam bahasa para penguasa Indonesia dan dia akan beralih dengan kata-katanya kepada kaum pekerja Belanda. Dialah yang membuat lagu perang kibasan klewang, Internasional Tinggi, dinyanyikan dalam bahasa Melayu — bahasa Italia Timur — oleh ratusan anak yang ingin dia persiapkan untuk tugas besar masa depan mereka. Dia adalah seorang pemimpin di antara saudara-saudaranya, seorang pejuang untuk menaklukkan keselamatan dan pertolongan bagi dirinya sendiri, seseorang yang tidak akan ragu untuk memperoleh keselamatan dan pertolongan ini melalui jalan kekerasan yang sah jika tidak ada cara lain. Oh, semua orang borjuis yang berani dan terhormat itu yang Mereka yang membaca Multatuli dan menganggap pidato penutup Havelaar begitu indah! Mereka yang beberapa tahun lalu begitu menghormati penulis hebat itu! Eduard Douw'es Dekker, orang Belanda yang hebat! Mereka yang ingin mendirikan patung untuknya! Betapa mereka akan gemetar dan mundur mendengar kata-kata berapi-api dari pengasingan yang penuh kepahitan ini. Betapa mereka sekarang akan menunjukkan Droogstoppelaard mereka yang sebenarnya! Mereka akan merasa tenang. Tan Malaka tidak berpaling kepada mereka. Ia berpaling atas nama rakyat tertindas di Hindia, atas nama partai yang diwakilinya, atas nama Komunis Persia di India, atas nama Internasional Ketiga Moskow, yang merupakan bagian dari partai tersebut, kepada kaum pekerja Belanda. Karena rakyat itu akhirnya mulai benar-benar percaya apa yang diproklamirkan Multatuli beberapa dekade lalu: "Orang Jawa diperlakukan tidak adil!" Dan ia meminta kita, "Para Pemimpin Belanda," untuk "tempat dalam perwakilan," di parlemen borjuis Belanda. Bukan hanya untuk protes. Tetapi untuk membiarkan suara rakyat Indonesia yang dieksploitasi bergema di Dewan Perwakilan Rakyat. Perwakilan dari Belanda, di mana sensor hampir tidak dapat membungkamnya. Dari sana suaranya akan bergema, melintasi lautan luas, ke tanah airnya yang jauh, sebagai sinyal bahwa perjuangan untuk keadilan tidak dapat lagi dihentikan oleh apa pun, bahwa kebebasan sedang mendekat!’. 

Setelah cukup lama di Moscow, Semaoen dikabarkan kembali ke tanah air (lihat De standaard, 31-05-1922). Disebutkan Semarang, 26 Mei (Aneta.) Lokomotif melaporkan bahwa Samaoen telah kembali ke Jawa dan saat ini tinggal di rumah ayahnya di dekat kota Soerabaja. Besar dugaan bahwa Semaoen dari Moscow ke tanah air melalui jalur yang sama via Vladivostok dan menemui Henk Sneevliet kembali di Shanghai dan baru kemudian ke Soerabaja. Sementara itu, Tan Malaka ke Belanda dengan kapal ss Insulinde melalui Terusan Suez dan telah tiba di Belanda akhir April 1922. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Guru Soetan Goenoeng Moelia Raih Gelar Doktor; Ki Hadjar Dewantara Menteri Pendidikan Pertama, Soetan Goenoeng Moelia Menteri Pendidikan Kedua

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar