Kamis, 17 Mei 2018

Sejarah Kota Padang (50): Dahlan Abdullah, Sekretaris Sumatra Sepakat di Utrecht 1917; Seorang Guru yang Jadi Wali Kota Batavia


Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini

Dahlan Abdoellah adalah seorang pribumi yang terus maju. Dahlan Abdoellah memulai karir sebagai guru, seorang yang gigih yang dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh guru lainnya yang berjuang sejak era kebangkitan bangsa hingga tercapainya kemerdekaan Indonesia.

Dahlan Abdoellah
Dahlan Abdoellah seangkatan dengan Tan Malaka di Kweekschool Fort de Kock. Uniknya, kedua guru ini sama-sama melanjutkan studi ke negeri Belanda. Visi dua guru ini tak lepas dari visi Soetan Casajangan, seorang guru yang melanjutkan studi ke negeri Belanda tahun 1905. Dalam perjalanannya, antara Dahlan Abdoellah dan Tan Malaka memilih arah jalan yang berbeda tetapi menuju tujuan yang sama: kemerdekaan bangsa Indonesia. Dahlan Abdoellah di tanah air bergabung dengan Sumatranen Bond dan mengikuti langkah Parada Harahap di PPPKI. Dahlan Abdoellah kemudian terjun ikut berparlemen di dewan kota (gemeenteraad) seperti yang sudah dilakukan Radja Goenoeng di Medan, MH Thamrin di Batavia, Abdoel Hakim Nasution di Padang, RA Admadinata di Bandoeng dan Radjamin Nasution di Soerabaja. Diantara mereka yang pernah menjadi wakil wali kota (bergemeester) adalah MH Thamrin di Gemeente Batavia dan Abdoel Hakim Nasution di Gemeente Padang. Kelak, di era pendudukan Jepang, Dahlan Abdoellah menjadi wali kota di Batavia dan Radjamin Nasution menjadi Wali Kota di Soerabaja (karena hanya di dua kota ini yang diangkat wali kota).

Bagaimana perjalanan Dahlan Abdoellah tentu saja sangat menarik untuk diketahui. Sangat penting bagi generasi muda di zaman now ini untuk melihat kembali kiprah para pendahulu seperti Dahlan Abdoellah yang dapat dijadikan sebagai inspirasi. Mari kita telusuri dari awal karirnya.

Sabtu, 12 Mei 2018

Sejarah Kota Medan (71): Ida Nasution dan Chairil Anwar, Kritikus Sastrawan Terkenal; Ida Nasution Dibunuh Intel Belanda, 1948

*Semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disini
 

Banyak sastrawan yang berasal dari Sumatera Utara (Tapanoeli dan Sumatra Timur) yang berkiprah di ibukota (Batavia/Djakarta), tetapi hanya satu yang menekuni esai, yakni Ida Nasution. Sastrawan-sastrawan yang terkenal adalah Merari Siregar, Sanoesi Pane, Armijn Pane, Amir Hamzah, Soetan Takdir Alisjahbana dan Chairil Anwar. Dalam daftar ini masih dapat ditambahkan satu lagi: Mochtar Lubis.

Ida Nasution (1947)
Ida Nasution lahir di Sibolga, Chairil Anwar lahir di Medan. Mereka berdua  semakin matang di Batavia. Charil Anwar menjadi sastrawan dan seorang penyair, Ida Nasution menjadi esais dan seorang kritikus. Banyak syair Chairil Anwar yang cenderung bertema cinta yang diantaranya ingin memikat Ida (Nasution), tetapi Ida Nasution terlalu sibuk mengkritisi para sastrawan yang cengeng. Chairil Anwar tertinggal jauh di belakang ketika Ida Nasution terus berjuang merdeka yang setiap saat diincar para intel/polisi yang bermuka centeng.

Ida Nasution hanya satu diantara laki-laki pada zamannya. Ida Nasution masih hidup di tengah para senior. Ida Nasution seorang diri, penulis berbakat, esais cerdas dan kritikus pemberani. Ketika Ida Nasution sudah dikenal sebagai esais dan kritikus sastra, bahkan HB Jassin belum apa-apa.Ida Nasution berkiprah jauh sebelum muncul Ike Soepomo dan NH Dini. Ida Nasution, diantara laki-laki, hubungannya dengan Chairil Anwar pasang surut. Ida Nasution lupa mengurus ‘kecantikan berbahasa’, dan hanya mengedepankan ‘ketajaman berbahasa’. Karena itu, penulis sejarah sastra kurang memperhatikannya (kalau tidak dikatakan sengaja melupakannya). Untuk itu mari kita gali kiprahnya sebelum semuanya lupa

Sejarah Kota Medan (70): Ibukota Provinsi Sumatera Utara Bermula di Sibolga, 1926; Gubernur Pertama Abdul Hakim Harahap


*Semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disini

Pada masa ini Provinsi Sumatera Utara terdiri dari 33 kabupaten/kota dengan ibukota Medan. Provinsi Sumatera Utara berdiri tidak tiba-tiba dan begitu saja. Provinsi Sumatera Utara telah mengalami proses yang sangat panjang. Awal prosesnya bermula di Sibolga tahun 1845. Setelah itu setahap demi setahap berproses terbentuknya Residentie Oostkust Sumatra dan Residentie Atjeh. Secara politik, nama Sumatra Utara (Noord Sumatra) sudah muncul pada tahun 1926. Pusat pemerintahan berada di Sibolga (Residentie Tapanoeli).

Tapanoeli, Peta 1830
Secara administratif (di era Republik Indonesia) Sumatera Utara menjadi Provinsi, sejatinya baru terbentuk tahun 1951 yang terdiri dari tiga residentie: Tapanoeli, Atjeh dan Sumatera Timur. Pusat pemerintahan di Kota Medan. Residentie Tapanoeli terbentuk di Sumatra’s Westkust (wilayah Pantai Barat Sumatra), sedangkat Residentie Oostkust Sumatra terbentuk di Sumatra’s Oostkust (wilayah Pantai Timur Sumatra). Ibukota pertama wilayah Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust) bermula di Tapanoeli; sedangkan ibukota pertama wilayah Pantai Timur Sumatra (Sumatra’s Oostkust) bermula di Bengkalis. Residentie Atjeh terbentuk sejak berakhirnya Perang Atjeh.

Bagaimana proses pembentukan administrasi dan pemerintahan di Sumatra Utara berlangsung? Itu yang menjadi pertanyaan. Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara (hingga sekarang) adalah akhir dari proses, awal prosesnya dimulai dari Sibolga. Pemahaman ini abai dalam Sejarah Sumatera Utara. Untuk meningkatkan pengetahuan kita, mari kita telusuri ke masa lampau.

Selasa, 01 Mei 2018

Sejarah Menjadi Indonesia (6): Soekarno, George Washington van Indonesia ke Amerika Serikat 1956; Parada Harahap, The King of Java Press ke Jepang 1933


Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Hanya ada dua orang Indonesia yang pernah mendapat nama julukan terhormat dari luar negeri. Yang pertama adalah Parada Harahap tahun 1933 dijuluki oleh pers Jepang sebagai The King of Java Press (De Indische courant, 29-12-1933). Yang kedua adalah Soekarno dijuluki oleh pers Amerika Serikat tahun 1956 sebagai George Washington van Indonesia (De nieuwsgier, 16-05-1956). Julukan ini sangat beralasan. Parada Harahap menyatukan Boedi Oetomo (Jawa) dalam Indonesia melawan imperialis kolonial Belanda. Selanjutnya, Soekarno memimpin Indonesia untuk menyatukan dunia melawan paham imperialis. Parada Harahap memimpin orang Indonesia pertama ke Jepang, 1933 dan kemudian Soekarno memimpin pemerintah Indonesia pertama ke Amerika Serikat, 1956. Parada Harahap adalah mentor politik praktis Ir. Soekarno.

Tiga orang revolusioner pertama Indonesia
Parada Harahap dan Soekarno adalah dua tokoh revolusioner yang sangat dekat (bersahabat karib) satu sama lain. Soekarno pada tahun 1927 kerap datang dari Bandoeng bertandang ke Gang Kenari untuk menemui Parada Harahap. Mereka berdua adalah musuh berat intel dan polisi Pemerintah Hindia Belanda. Parada Harahap, jauh sebelum Indonesia merdeka memprovokasi Belanda dengan memimpin tujuh orang Indonesia ke Jepang tahun 1933. Setali tiga uang: dalam kasus pembebasan Irian Barat, Soekarno juga memprovokasi Belanda dengan berkunjung ke Amerika Serikat tahun 1956.

Bagaimana kisah persahabatan dua tokoh utama revolusioner Indonesia ini sejak muda hingga tua? Parada Harahap adalah mentor politik praktis Soekarno. Parada Harahap sejak 1927 telah menggadang-gadang Soekarno dan Hatta untuk menjadi pemimpin Indonesia. Dan, itu terbukti. Pada tahun 1954, ketika Indonesia belum memiliki Rencana Pembangunan (baca: Repelita), Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta mengangkat Parada Harahap untuk memimpin delegasi Indonesia untuk studi banding ke 14 negara di Eropa (minus Belanda). Hasil laporan studi banding ini menjadi buku Repelita pertama Indonesia. Pada tahun 1956 giliran Soekarno yang memimpin Indonesia ke Amerika Serikat.

Sejarah Menjadi Indonesia (5): Sejarah Hari Buruh Sejak Kolonial Belanda; Deli Poenale Sanctie 1889 dan May Day di Djakarta 1952


Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Hari ini adalah hari libur nasional, tanggal 1 Mei yang merupakan Hari Buruh (May Day). Penetapan hari libur baru ditetapkan kembali sejak tahun 2013 berdasarkan Peraturan Presiden. Hari Buruh sebagai hari libur pernah diberlakukan pada era pemerintahan Soekarno.

Staatsblad van Nederlandsch Indie No 23, 1929
Ini mengindikasikan bahwa di era Kemerdekaan (RI) cara pandang setiap rezim pada hari buruh berbeda. Pada era rezim Soeharto hari buruh tidak berlaku. Hal ini juga ternyata cara pandang yang berbeda terjadi pada era kolonial Belanda.

Sejarah Hari Buruh di Indonesia (baca: Hindia Belanda) sejatinya baru dimulai tahun 1929. Hal ini karena pemerintahan Hindia Belanda dianggap telat meratifikasi konvensi ‘May Day’. Namun May Day di Hindia Belanda hanya berlaku bagi orang Eropa saja. Bagaimana dengan buruh pribumi?. Sangat memilukan apa yang dikenal sejak penerapan Poenalie Sanctie di Deli tahun 1889. Bagaimana Parada Harahap berinisiatif membongkar Poenale Sanctie di Deli perlu diperhatikan. Mari kita telusuri.

Minggu, 29 April 2018

Sejarah Jakarta (26): Tempe, Makanan Kuno Asli Indonesia Dipopulerkan Prof Dr Jansen (1927); Kini, Tempe Semakin Mendunia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Tempe sebagai makanan dianggap tidak penting jelas keliru. Tempe sudah diketahui sejak lama sebagai makanan bergizi. Dalam sejarahnya, makanan tempe sesungguhnya telah banyak menyelamatkan penduduk dari bahaya kekurangan gizi yang menyebabkan kematian. Makanan tempe juga telah memberi kontribusi besar dalam menghemat anggaran (pemerintah). Tempe memiliki kekuatannya sendiri. Pentingnya makanan bukan ditentukan harganya melainkan nilai nutrisinya. Karena itu, tempe sudah sejak lama dijadikan solusi.

Prof. Dtr BCP Jansen (1927)
Pada masa kini, tempe sudah semakin mendunia. Produksi tempe tidak hanya di Indonesia, juga sudah ditemukan di Jepang dan Prancis. Meski banyak orang terkesan malu-malu, tempe telah menjadi salah satu diet yang cukup sehat di jaman penyakit generatif ini. Para vegetarian kini melihat tempat sebagai makanan mewah. Pada waktunya, tempe akan menjadi cara hidup dan gaya hidup. Dulu, tempe memiliki perbedaan relatif terhadap daging, tapi kini, tempe memiliki perbedaan relatif dengan gizi yang sehat. Inilah kekuataan tempe yang akan menjadi cara hidup dan gaya hidup cerdas di zaman now.

Bagaimana sejarah tempe sebagai makanan bergizi tidak pernah ditulis secara komprehensif. Padahal tempe adalah keseharian kita di Indonesia. Tempe sendiri dalam menu makanan sejak nenek moyang kita hingga ini hari tidak pernah putus. Lantas mengapa sejarah tempe terputus. Mari kita sambung lagi sejarah tempe.