Selasa, 14 Mei 2019

Sejarah Jakarta (41): Sejarah Awal Stasion Gambir (1871); Tempo Dulu Disebut Station Koningsplein dan Station Weltevreden


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Stasion Gambir di Monas masa kini, tempo doeloe adalah stasion Koningsplein di Weltevreden. Stasion Koningsplein sering dipertukarkan dengan nama stasion Weltevreden. Stasion Koningsplein ini dioperasikan kali pertama tahun 1871 sebagai bagian dari jalur kereta api ruas antara stasion Beos (stasion Kota) dan stasion Meester Cornelis (stasion Boekit Doeri).

Koningsplein (Peta 1866)
Jalur kereta api pertama di Hindia Belanda (baca: Indonesia) dibangun tahun 1867 yang menghubungkan Semarang dengan luar kota (26 Km). Jalur ruas Semarang ini dibuka untuk umum pada tahun 1867. Lalu pada tahun 1970 dibuka jalur Semarang-Soeracarta. Pada tahun 1871 jalur kereta api di Batavia mulai dioperasikan.

Sebelum adanya stasion kereta api di Koningsplein (Lapangan Raja), situs terpenting di area itu adalah gereja Willem (kini gereja Imanuel). Saat dioperasikannya jalur kereta api ruas Beos-Meester Cornelis, stasion Koningsplein belum dibangun. Stasion yang ada adalah stasion Noordwiijk dan stasion Meester Cornelis.

Minggu, 12 Mei 2019

Sejarah Jakarta (40): Hari Jadi Kota Jakarta Versi Adolf Heuken; Kapan Sebenarnya Hari Lahir Kota Jakarta? Perlu Verifikasi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Seperti kota-kota lain, hari jadi Kota Jakarta juga terus menjadi perdebatan. Dalam versi pemerintah kota, Hari Jadi Kota Jakarta ditetapkan pada tanggal 22 Juni 1527. Akan tetapi, Adolf Heuken, seorang sejarawan Jakarta tidak sepakat. Adolf Heuken berpendapat bahwa nama Jakarta sendiri baru kali pertama disebut pada tahun 1760. Adolf Heuken menyebut pada fase awal Belanda nama yang disebut adalah Sunda Kelapa.

Nama Jacatra (Peta 1740)
Adolf Heuken adalah seorang sejarawan Jakarta. Nama Adolf Heuken menjadi terkenal ketika menulis buku berjudul ‘Sumber-Sumber Asli Sejarah Jakarta’. Adolf Heuken adalah seorang Jerman yang terlah menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Perhatian Adolf Heuken terhadap sejarah Jakarta, harus diapresiasi. Adolf Heuken adalah seorang sejarawan Jakarta yang langka.

Kapan sebenarnya hari Kota Jakarta? Tentu saja penetapan hari Kota Jakarta masih relevan didiskusikan. Hal ini karena hari jadi Kota Jakarta yang selama ini diakui tanggal 22 Juni 1527 tidak dapat diverifikasi. Padahal hari jadi kota akan digunakan dan diperingati selamanya. Namun menjadi soal adalah apakah harus memperingati hari jadi yang sumber penetapannya tidak jelas. Lantas bagaimana selanjutnya? Para sejarawan harus terus bekerja keras untuk memastikan kapan sebenarnya.

Sabtu, 11 Mei 2019

Sejarah Jakarta (39): Berlan, Kini Nama Kampung, Dulu Nama Beeren Laan; Sejarah Benteng-Benteng Tempo Doeloe di Jakarta


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Ada nama kampung bernama Berlan di Jakarta. Kampung Berlan terkenal karena berada diantara Jalan Matraman dan sungai Ciliwung. Dari namanya, Berlan bukan berasal dari nama kampung asli (lama), tetapi nama baru yang muncul kemudian. Nama kampung Berlan merujuk pada nama jalan tempo doeloe yakni Beeren Laan. Dalam perkembangan jaman, nama jalan Beeren Laan mereduksi menjadi Berlan.

Jalan Beeren Laan (Peta 1930)
Kampung Berlan kini termasuk Kelurahan Kebon Manggis, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur, Di kampung Berlan pernah menjadi perumahan TNI, Akan tetapi pada masa ini perumahan tersebut telah berganti penghuni, sebagian anak cucu anggota TNI Zeni dan sebagian yang lain warga biasa. Nama kampung Berlan masih dikenal pada masa ini.

Bagaimana nama Beeren Laan muncul? Di ujung jalan Beeren Laan ini dulu terdapat sebuah benteng kuno. Benteng ini berada di sisi sungai Tjiliwong. Lantas apa hubungan benteng dengan Beeren Laand? Mungkin sepintas terkesan tidak penting, tetapi sesungguhnya ceritanya menjadi penting di masa lampau. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, 10 Mei 2019

Sejarah Kota Ambon (10): Mr. Willem van Outhoorn, Gubernur Jenderal VOC Lahir di Ambon; Siapa Sebenarnya HJ van Mook?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Ambon dalam blog ini Klik Disini 

Ada satu orang Gubernur Jenderal VOC yang lahir di Hindia yaitu Willem van Outhoorn. Lahir di Larike, Leihitu, Amboina, Maluku pada tanggal Mei 1635. Willem van Outhoorn sendiri menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC dari tahun 1690 hingga 1704. Ini tentu saja sangat unik. Sebab semuanya Gubernur Jenderal VOC adalah kelahiran Eropa/Belanda, kecuali Willem van Outhoorn.

Ambon dan Willem van Outhoorn
Jumlah Gubernur Jenderal selama VOC sebanyak 30 orang. Yang pertama adalah Pieter Both (1610-1614). Saat itu pusat perdagangan VOC berada di Banten. Pieter Both memiliki andil dalam penguasaan wilayah Maluku sehingga pusat pos perdagangan dipindahkan ke Maluku. Setelah dari Maluku, pusat pos perdagangan kembali ke Banten. Pada era gubernur jenderal yang keempat, Jan Pieterszoon Coen, pusat pos perdagangan direlokasi ke Soenda Kalapa yang kemudian membangun benteng (casteel) Batavia. Sejak itu Batavia dijadikan sebagai ibukota. Pada tahun 1799 akhirnya VOC dibubarkan dan digantikan dengan Pemerintah Hindia Belanda.

Lantas bagaimana Willem van Outhoorn bisa menjadi Gubernur Jenderal? Apa peran ayahnya? Ini tentu sangat menarik untuk diketahui. Sementara itu dalam deretan nama Gubernur Jenderal pada era Pemerintah Hindia Belanda juga terdapat satu orang kelahiran Hindia yaitu Hubertus Johannes van Mook. Sebagaimana diketahui, HJ van Mook adalah yang memimpin NICA ketika Belanda kembali ke Indonesia. Ternyata kisah Willem van Outhoorn dan HJ van Mook memiliki kemiripan. Bagaimana itu bisa mirip? Mari kita telusuri seumber-sumber tempo doeloe.  

Kamis, 09 Mei 2019

Sejarah Jakarta (38): Dr Marzoeki, Kepala Djawatan Kesehatan Kota Djakarta; Disiksa Jepang (1945), Diusir Belanda (1947)


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Era penjajahan adalah era yang paling menyakitkan bagi bangsa Indonesia. Penjajah dalam hal ini apakah Belanda atau Jepang sama kejamnya. Penjajahan adalah praktek dominasi terhadap penduduk pemilik hak berdaulat. Diantara penduduk muncul para pemimpin yang berusaha berjuang demi rakyat, tetapi para pemimpin selalu dapat dikalahkan. Itulah gambaran umum tentang penjajahan. Kalah dalam berjuang adalah biasa, tetapi melakukan tindakan perjuangan adalah patriot.

Penjajajahan Belanda berakhir tahun 1942 setelah Jepang melakukan pendudukan di Indonesia. Awalnya Jepang datang membebaskan Indonesia dengan iming-iming sesama bangsa Indonesia. Namun kenyataannya Jepang tidak kalah kejamnya dibanding Belanda. Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang takluk kepada sekutu. Pasukan sekutu/Inggris datang untuk melucuti militer Jepang dan membebaskan para interniran Eropa/Belanda. Akan tetapi di belakangnya, Belanda kembali mengambil alih Indonesia. Belanda kembali menjajah.  

Pengalaman Dr Marzoeki, Kepala Djawatan Kesehatan Kota Djakarta adalah salah satu contoh pengalaman dari para pejuang bangsa Indonesia dalam menghadapi tindakan penjajah apakah Jepang atau Belanda. Dr Marzoeki pernah disiksa Jepang, Dr Marzoeki juga pernah diusir Belanda. Pengalaman Dr Marzoeki adalah gambaran umum bagaimana pemimpin Indonesia berjuang melawan penjajah. Mari kita telusuri bagaimana Dr Marzoeki berjuang.  

Sejarah Jakarta (37): Antara Jakarta dan Palangka Raya; Soekarno dan Batu Pondasi Bangun Ibukota Kalimantan Tengah, 1957


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Ibukota Jakarta adalah ibukota yang tumbuh dan berkembang mengikuti jaman. Bekermbang dari Casteel Batavia hingga ke Lenteng Agung pada masa ini. Itu dimulai sejak tahun 1619. Pada era kemerdekaan Indonesia ibukota Jakarta mulai dirasakan sangat sesak lebih-lebih pada masa ini. Sering dikaitkan pemindahan ibukota dengan dibangunnya ibukota Kalimantan Tengah di Palangkara Raya pada tahun 1957.

Peta Schophuys-Plan, 1952
Kota-kota lama yang sudah berkembang selalu dijadikan sebagai ibukota baru, apakah ibukota negara atau ibukota provinsi dan ibukota kabupaten. Tapi tidak demikian dengan penetapan ibukota Provinsi Kalimantan Tengah. Pembangunan ibukota Provinsi Kalimantan Tengah mendapat perhatian pemerintah pusat. Hal yang mirip dengan ibukota Kalimantan Tengah adalah pembangunan ibukota Provinsi Riau.    

Nama Palangka Raya, ibukota Provinsi Kalimantan Tengah kembali menjadi pembicaraan umum. Ini sehubungan dengan adanya rencana pemerintah pusat untuk memindahkan ibukota negara. Salah satu kandidatnya adalah Kota Palangka Raya. Lepas dari soal terpilihnya atau tidak Kota Palangka Raya, bagaimana proses awal pembangunan ibukota Provinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.