Kamis, 02 Januari 2020

Sejarah Jakarta (73): Sejarah Tanjung Priok Bukan Dongeng Kali Tiram; Area Marjinal Tidak Bertuan Jadi Pelabuhan Internasional


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Sejarah Tanjung Priok pada dasarnya belum pernah ditulis. Tulisan-tulisan tentang sejarah Tanjung Priok yang ada selama ini hanyalah kumpulan karangan belaka, entah dari mana sumbernya. Sejarah Tanjung Priok bukanlah dongeng. Sesungguhnya tidak ada celah memasukkan unsur dongeng dalam sejarah Tanjung Priok. Sebagaimana tempat-tempat lainnya di Jakarta, Tanjung Priok berada di tempat yang terang benderang dalam origin sejarah.

Tanjung Priok: Old (Peta 1824) en NOW (Peta satelit)
Sejarah adalah narasi fakta, bukan fiksi. Menulis sejarah itu jelas tidak sulit, tetapi jangan digampangkan. Yang paling sulit dalam hal penulisan sejarah adalah soal bagaimana data (fakta dan keterangan) dikumpulkan. Tidak sampai di situ saja, bagaimana cara menguji (menilai) data yang ada dapat dikatakan akurat (valid). Satu lagi yang perlu diperhatikan adalah soal pertanggungjawaban sejauh mana data itu tidak dapat dibantah. Dalam bahasa matematis hari ini bukan sejarah tetapi hari kemarin adalah sejarah. Membandingkan hari kemarin dengan setahun lalu, maka nilai sejarah tahun lalu lebih timggi nilainya dibanding hari kemarin. Dengan demikian sejarah bersifat retrospektif. Semakin tua semakin bernilai sejarah, namun yang membedakan sejarah bernilai atau tidak, bukan ditentukan oleh jauh tidaknya origin ke belakang tetapi yang lebih menentukan adalah datanya (apakah bisa menghadirkan bukti). Jika tidak bisa menghadirkan bukti, itu berarti dongeng. Menulis sejarah, kita tidak sedang mendongeng.

Lantas serupa apa sejarah Tanjung Priok? Nah, itu yang menjadi keingintahuan kita. Oleh karena sejarah Tanjung Priok adalah narasi fakta, maka secara teknis sejauh ini sejarah Tanjung Priok belum pernah ditulis. Dalam kerangka itulah kita mulai menulis sejarah Tanjung Priok. Untuk itu marilah kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Pelabuhan Tandjoeng Priok (Peta 1945)
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. Foo udara 1943

Landhuis Tandjoeng Priok: Antjol-Tjilintjing via Sungai Tiram

Priok lahir belakangan. Saudaranya bernama Vinke. Dua bersaudara ini merupakan hasil hubungan antara Antjol dan Tjilintjing. Induk Antjol bernama Tiram; dan induk Tjilintjing adalah Toegoe. Tiram adalah anak dari Soenter dan Toegoe, sedangkan Toegoe yang benama lain Tjakoeng adalah anak dari Boearan dan Tjipinang. Silsislah Ini mirip cerita fiksi, tetapi sesungguhnya adalah narasi fakta. Fakta tentang anak beranak sungai di pesisir pantau utara sebelah timur Batavia.

Priok dan Vinke bukanlah nama sungai. Priok adalah sebuah tanjung yang terbentuk secara alamiah (daratan yang menjorok ke lautan). Vinke (dalam hal ini Vinkevaart) sendiri adalah sebuah kanal yang dibentuk secara buatan oleh seorang pedagang VOC/Belanda, yaitu kanal yang menghubungkan sungai Tiram dan sungai Tjilintjing. Nama-nama sungai yang lainnya adalah Soenter, Tjakoeng, Boearan dan Tjipinang.

Kanal Vinkevaart mempromosikan Tandjoeng Priok. Sebelum Tandjoeng Priok diperhatikan, Kanal Vinke sebelumnya telah berkembang pesat secara ekonomi karena sudah terhubung dengan Batavia (Kali Besar) melalui kanal Antjol. Dalam hal ini kanal Antjol dan kanal Vinke di sisi timur Batavia menang segalanya jika dibandingkan keutamaan kanal Angke dan kanal Moekervaart. Pada era inilah diketahui pemilik lahan (Land) di Tandjoeng Priok adalah Adriaan van Haste.

Pelabuhan Batavia yang awalnya di Soenda Kalapa bergeser ke Kali Besar. Satu simpul perdagangan di era VOC/Belanda adalah Angke yakni dengan membangun kanal Angke dari Kali Besar ke Angke. Dalam perkembanganya seorang pedagang VOC/Belanda di Tangerang bernama Cornelis van Mook merintis jalan dengan membangun kanal dari Tangerang ke Angke. Kanal ini selesai dibangun pada tahun 1687. Kanal ini kemudian disebut kanal Mookervaart (kanal yang dibuat oleh Mook). Setali tiga uang pada era yang berbeda di sisi timur Batavia seorang pedagang VOC/Belanda merintis jalan dari Tjilintjing dengan membangun kanal ke Antjol sekitar tahun 1730. Kanal ini kemudian disebut Vinkevaart (kanal yang dibuat Justinus Vinck/Vinke). Vicke tidak hanya membangun kanal dari lanhuisnya di Tjilintjing tetapi juga membangun jalan ke arah hulu melalui Soekapoera terus ke Tjakoeng dan (benteng) Meester Cornelis.

Landhuis Adriaan van Haste di Tandjoeng Priok, 1772
Pedagang VOC/Belanda yang paling brilian di sisi barat Batavia dapat dikatakan adalah Cornelis van Mook, orang yang merintis Kota Tangerang sejak 1679 (van Mook meninggal pada tahun 1689). Sementara di sisi timur muncul tokoh baru namanya Justinus Vinck. Bersama dengan Symon van Briel, pemilik land di tenggara Fort Nooerwijk, Justinus Vinck membuka lahan di dekat Fort Antjol. Dalam perkembangannya, Vinck membeli semua lahan Briel yang berada di Fort Noordwijk dan di Fort Antjol. Vinck lalu membangun pasar di lahannya di Fort Noorwijk tahun 1734. Pasar ini kemudian disebut Pasar Vinke (kini Pasar Senen) sementara lahannya kemudian disebut land Weltevreden (sekitar Lapangan Banteng sekarang). Namun tidak lama kemudian Vinke menjual lahannya di Antjol lalu membeli lahan baru di Tjilintjing. Dalam rangka menghubungkan Antjol dan Tjilintjing, Jusninus Vinck kemudian membangun kanal baru diantara dua tempat itu yang disebut kanal Vinck (Vinkevaart). Kapan kanal ini dibangun tidak diketahui secara jelas. Yang jelas bahwa lahan di Tandjoeng Priok) lahan yang mana dilalui Vinkevaart telah dimiliki oleh Adriaan van Haste.

Kanal Antjol dan Estate van Riemsdijk di Antjol, 1772
Johannes Rach pada tahun 1772 sempat bertandang ke lahan Adriaan van Haste di Tandjoeng Priok dan melukis situasi rumah/huis yang menghadap ke laut (Johannes Rach menulisnya dengan Tanjon Preeo; pada peta land tahun 1732 ditulis sebagai Tanjong Priok). Pada tahun 1872, land Antjol telah dimiliki oleh Jeremis van Riemsdijk dengan mansion yang megah. Riemsdijk awalnya membeli lahan Vinck di Antjol dan menyatukannya dengan lahan Briel setelah Riemsdijk menikah dengan putri Briel (dalam hal ini Briel, temannya Vick adalah mertua dari Riemsdijk. Kelak pada tahun 1775 Jeremias van Riemsdijk menjadi Gubernur Jenderal VOC/Belanda.

Adriaan van Haste telah membangun landhuis di Tandjoeng Priok tepat berada di bibir pantai menghadap ke laut. Tidak begitu jelas land Tandjoeng Priok apakah Haste membelinya dari Vinck atau sebaliknya apakah sebelum Vinck membeli land Tjilintjing, Haste sudah menguasai land Tandjoeng Priok (oleh karena itu Vinck membangun kanal di batas selatan lahan yang dikuasai Haste). Dengan adanya diduga telah meningkatkan produktivitas lahan di Tnadjoeng Priok (karena kanal sendiri selain untuk kebutuhan navigasi telah berfungsi sebagai drainase).

Peta 1828
Pada peta yang dibuat Tromp dan Bernhoff (1828) satu-satunya yang diidentifikasi di Tandjoeng Priok adalah sebuah landhuis, suatu landhuis yang diduga kuat yang dimiliki oleh Andriaan van Haste yang pernah dikunjungi oleh Johannes Rach pada tahun 1772. Landhuis ini berada tepat di ujung tanjung yang dapat memantau ke barat dan timur yang mengingatkan kita bagaimana pasca Perang Gowa, benteng (fort) Oedjoeng Pandang dibangun VOC/Belanda pada tahun 1669 (benteng tersebut kini lebih dikenal sebagai Benteng Makassar).

Bagaimana asal usul nama Tanjung Priok sulit diketahui. Secara teoritis, Priok adalah nama navigasi dalam hal ini tanjung. Orang pribumi tidak terbiasa dengan terminologi tanjung, teluk dan selat (hanya terbiasa dengan muara). Pelaut-pelaut Eropa sangat berkepentingan untuk memberi tanda navigasi setiap sudut lautan (seperti Goode hoop). Hal ini karena mereka memetakannya untuk kebutuhan navigasi. Orang-orang Eropa biasanya menyebut nama geografi seperti nama tempat, nama sungai, nama gunung, nama tanjung dan nama teluk sesuai nama yang sudah ada atau nama yang paling dekat dengannya. Nama Priok diduga bukan nama asli (lokal) karena tidak ada nama kampong atau nama sungai dan sebagainya yang mirip dengannya yang terindentifikasi di sekitar. Hanya ada nama tanjung. Nama Priok lebih mirip dengan nama asing (seperti free, pree, vrugt atau marga Belanda Vrugt dan sebagainya). Nama-nama lokal yang berdekatan antara lain adalah sungai Antjol, sungai Tiram, sungai Troesan, sungai Soenter, sungai Toegoe, sungai Petjah, sungai Bamboe dan sungai Tjilintjing. Lantas apakah nama tanjung tersebut mengacu pada nama seorang pelaut Belanda (lihat Oprechte Haerlemsche courant, 23-01-1744). Disebutkan naar Batavia en Weltevreden, Schipper Willem Vrugt.

Sejak 1780 (pasca Gubernur Jenderal Jeremias van Riemsdijk) para pedagang VOC/Belanda sangat aktif membangun pertanian di sekitar Batavia, Namun di sisi lain para pedagang VOC terutama pemerintahan menjadi lupa pertahanan, Situasi ini dimanfaatkan oleh Prancis untuk menyerang Batavia. Serangan ini terjadi pada tahun 1795. Situasi ini mengakibatkan pemerintah VOC/Belanda melemah dan pada akhirnya dinyatakan bangkrut pada tahun 1799. Lalu pemerintah Kerajaan Belanda mengakuisisi aset-aset VOC/Belanda. Seiring dengan perubahan politik, Kerajaan Belanda membentuk Pemerintah Hindia Belanda tahun 1800. Namun baru efektif pada saat Daendels menjabat sebagai Gubenur Jenderal yang baru tahun 1808.

Landhuis Tandjoeng Priok, 1779
Prancis menyerang Batavia tidak dari pelabuhan Batavia di Kali Besar. Celakanya, pasukan/militer Prancis masuk dari Tjilintjing (lihat peta yang dibuat pada 1895). Kapal-kapal Prancis merapat di pantai Tjilintjing. Pasukan Prancis dari Tjilintjing merangsek melalui jalan sejajar Vinkevaart terus ke Antjol hingga menuju kota (stad) Batavia. Pasukan tidak masuk kota, tetapi memutar ke selatan mengikuti jalan via Molenvliet terus ke Riswijk dan Noordwijk lalu menguasai Weltevreden (tempat dimana villa/mansion peninggal Gubernur Jenderal van der Parra). Pasukan Prancis lalu menduduki Struiswijk, Matraman dan terakhir Meester Cornelis. Akhirnya VOC/Belanda menyerah kepada pasukan Prancis. Dari keterangan ini menunjukkan bahwa sepanjang kanal Antjol dan kanal Vinckevaart via Tandjoeng Priok sudah terbentuk jalan raya dari kota (stad) Batavia hingga ke Tjilintjing. Lantas mengapa tidak melalui Soekapoera Meester Cornelis. Tentu saja karena pasukan ingin menguasai tempat-tempat strategis di stad Batavia, Riswijk, Weltevreden, Matraman dan Meester Cornelis.   

Tandjoeng Priok Gantikan Kali Besar

Pada era Pemerintah Hindia Belanda ketika Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811) area Tandjoeng Priok juga termasuk yang ditingkatkan. Pemerintah menawarkan kepada swasta untuk merehabilitasi jalan dan jembatan ke Tandjoeng Priok (lihat Bataviasche koloniale courant, 11-01-1811). Program pembangunn jalan dan jembatan ini diduga kuat kelanjutan program serupa yang dilakukan sebelumnya hingga Antjol.

Bataviasche koloniale courant, 11-01-1811
Bataviasche koloniale courant, 14-09-1810: ‘Pemerintah menawarkan untuk memperbaiki, meningkatkan dan memperluas jalan; dari bekas rumah kayu Wilgenburg atau Dwars di jalan menuju Antjol, dan pelebaran dan peningkatan jembatan di atas kanal yang ada di bekas fortje (benteng) Antjol. Bagi peminat silahkan mengajukan lamaran rencana, profil dan spesifikasi.

Namun lagi-lagi terjadi serangan dari luar. Kini, giliran pasukan militer Inggris yang menyerang dan berhasil melumpuhkan Batavia. Pemerintah Hindia Belanda yang dipimpin oleh Gubernue Jenderal Daendels tidak berdaya. Dengan perjanjian yang diadakan pada tanggal 18 September 1811 Pemerintah Hindia Belanda menyerahkan seluruh Hindia Belanda kepada Inggris yang dipimpin oleh Letnan Gubernur Jenderal Raffles.

Pintu masuk pasukan militer Inggris di Tjilintjing, 1811
Celakanya lagi, serangan pasukan militer Inggris ke Batavia mengikuti pola dan rute yang pernah diterapkan oleh pasukan Prancis. Bulannya juga sama pada bulan Agustus. Kapal-kapal Inggris yang membawa pasukan militer merapat di lepas pantai Tjilintjing pada tanggal 4 Agustus 1811 dan langsung menguasai Tjilintjing.  Saat menunggu semua pasukan merapat di Tjilinting pada tanggal 6 Agustus satu detasmen mengamankan (komunitas Kristen) di Toegoe. Pada tangga 8 Agustus pasukan Inggris berhasil menguasai kota (stad) Batavia dan menduduki Stadhuis. Pada tanggal 9 Agustus pasukan Inggris menguasai Noordwijk dan tanggal 10 Agustus menguasai Weltevreden. Terjadi pertempuran yang alot di Prapattan dan di Struiswijk, Pada tanggal 26 Agustus baru pasukan Inggris dapat menguasai Prapattan, Struiswijk, Matraman (Meester Cornelis) dan Kampong Malajoe. Satu perbedaan antara Prancis dengan Inggris adalah pasukan Inggris mengepung Matraman dari dua arah yakni dari Strusiwijk dan dengan jalan mengitari area Matraman di sebelah timur lalu mengepung bersama dari selatan. Pertempuran Matraman ini dapat dianggap sebagai pertempuran yang paling alot karena di Matraman terdapat benteng VOC/Belanda di dekat sungai Tjiliwong (daerah Berlan yang sekarang).

Pendudukan Inggris berakhir pada tahun 1816. Ketika Pemerintah Hindia Belanda berkuasa kembali, segala sesuatunya dalam hal program seakan dimulai dari nol lagi (diistall ulang). Orang-orang Belanda atau pengusah-pengusaha Belanda yang banyak pulang ke Belanda tidak gampang untuk menarik kembali untuk berbisnis dan berinvestasi. Rekrutmen pejabat dan pegawai pemerintah sedikit lebih mudah karena masih cukup banyak orang Belanda dan untuk mengiisi kekuarangannnya dan kebutuhan tenaga ahli tertentu dilakukan di Belanda. Namun yang jelas semuanya berjalan sangat lambat.

Pada masa-masa permulaan yang sulit ini, kegelisahan penduduk pribumi semakin memuncak. Di berbagai daerah terjadi pemberontakan dan terjadi perang. Lalu meletus perang di Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro (1825-1830). Perang berlanjut di Pantai Barat Sumatra (1831-1840). Lalu kemudian perang terjadi di Bali dan Sulawesi. Pemerintah tampaknya memenangkan setiap pertempuran. Sementara yang masih tetap menjadi ancaman ada di Atjeh. Pemerintah Hindia Belanda seakan berada di atas angin. Pada situasi dan kondisi inilah berbagai program dibuat di Belanda untuk mendukung jalannya pemerintahan dan pembangunan di Hindia Belanda. 

Pada tahun 1855 Menteri Kelautan di Belanda mengumumkan ke publik untuk membangun berbagai fasilitas navigasi dan pelayaran. Tahap pertama di Batavia dan sekitar. Pembangunan mercu suar dbangun di sejumlah titik termasuk di Tandjoeng Priok (lihat  Nederlandsche staatscourant, 06-04-1855). Ini suatu indikasi akan ada intensitas yang tinggi kedatangan dan keberangkatan kapal-kapal besar Belanda, tidak hanya siang hari juga malam hari. Kapal-kapal uap yang besar dan bertonase tinggi akan menyambangi Hindia Belanda. Kebutuhan pelabuhan yang sesuai dan memadai semakin diperlukan. Lantas dimana pelabuhan dibangun?

Peta 1887
Semakin besarnya lebar kapal dan semakin tingginya tonase kapal-kapal uap yang merapat di Teluk Batavia menyebabkan kapal-kapal harus menarik jarak yang lebih jauh ke tengah lautan. Sementara pelabuhan kanal Kali Besar semakin tidak memadai untuk mendukung kapal-kapal yang lebih besar. Pembangunan pelabuhan yang sesuai kebutuhan menjadi prioritas. Jarak pelabuhan tidak terlalu jauh dari Batavia. Data-data pemetaan kedalaman laut di sekitar pantai Batavia yang selama ini tersimpan di laci mulai dianalisis untuk menetapkan dimana posisi pelabuhan yang ideal untuk dibangun. Tentu saja pilihannya jatuh pada titik starategi di timur Batavia. Tentu saja tidak di Tjilintjing karena kedalamannya yang rendah tetapi di Tandjoeng Priok. Pelabuhan lama di Batavia (Kali Besar) menjadi masa lampau, sebab ibu kota sendiri sudah menjauh ke pedalaman di Weltevreden dan kini pelabuhan yang semakin menjauh ke arah timur di Tandjoeng Priok. Singkat kata: kota ibu kota Hindia Belanda berkembang dan dikembangkan sesuai alam. Area rawa-rawa dan tanah basah selalu menjadi faktor kendala.

Celakanya, kedalaman yang tinggi justru terdapat di sekitar Tandjoeng Priok. Suatu lokasi yang tidak lazim dalam pembangunan pelabuhan yang justru lebih memilih di sekitar teluk atau lokasi yang berada di bawah angin. Tandjoeng Priok adalah area yang berada di garis lintasan angin. Namun tidak ada pilihan. Untuk menyiasati pilihan titik lokasi yang buruk kemudian dimbangi dengan teknik pembuatan pelabuhan dengan metode kanal. Kanalisasi pembangunan pelabuhan terpaksa harus dijalankan. Kebetulan tenaga-tenaga ahli Belanda sangat menguasai urusan ini. Di satu sisi ada penghematan dalam teknik pembangunan dermaga sejajar pantai (memanjang) dengan biaya penggalian lahan yang mahal tetapi dapat ditutupi dengan efisiensi pembuatan dermaga saat penggalian. Itulah mengapa bentuk pelabuhan Tandjoeng Priok berbentuk kanal, terkesan mahal tetapi sesungguhnya secara keseluruhan relatif lebih murah.

Berdasarkan data-data yang dikumpulkan saat dilakukan pemetaan untuk pembangunan mercu suar pada tahun 1855, kenyataannya kedalaman laut di Tandjong Priok yang paling dalam yakni sedalam 3,5 meter laut (boleh jadi karena tanjung yang lebih menjorok ke laut menyebabkan proses sedimentasi sulit terjadi; sementara di teluk atau sekitar muara sungai proses sedimentasi lebih mudah terjadi karena penangkapan lumpur yang dibawa aliran sungai mudah mengendap). Rata-rata kedalaman dasar laut di sejumlah titik pengukuran adalah sebagai berikut: Moeara Kamal 0.5 M; Moeara Aloeran 0.25 M; Moeara Angke 1 M; Moeara Karang 1 M; Moeara Baroe 0,5 M; Moeara Heemraden 0.25 M; Moeara Antjol 0.25 M; pantai Koja 2 M; pantai Tjilintjing 2.5 M; dan Tandjong Priok sedalam 3,5 meter (informasi ini terdapat pada Peta 1905). Uniknya, Tandjoeng Priok di pesisir pantai teluk Batavia, hanya satu-satunya tanjung.

Sementara kapal-kapal uap Belanda semakin intens hilir mudik antara Belanda (Amsterdam dan Rotterdam) dan Batavia (Hindia Belanda). Ini semua karena situasi keamanan di Hindia Belanda semakin kondusif. Setelah munculnya rencana pemerintah (via Direktur PU) diskusi tentang pelabuhan baru tersebut muncul sejak tahun 1867 (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 22-01-1868), Pemerintah telah mengumumkan ke publik garis-garis besar rancana pembangunannya.


Pengerjaan pertama adalah membuat kolam besar (binnen haven) dengan cara pengerukan tanah menggunakan mesin selama empat jam sehari yang dilakukan selama tujuh bulan. Tanah hasil kerukan ini di bawa ke sisi barat batas kolam (calon dermaga) yang digunakan  untuk proses penimbunan (dan pemadatan). Penimbunan ini akan semakin meluas hingga mendekati muara dan menutup (sungai Petjah). Pemindahan materi ini ke arah barat beresiko karena lumpur dapat dibawa ke laut (melawan arus; berbeda dengan pengerukan di pelabuhan di Batavia yang materinya dipindahkan ke sisi timur).

Proses pengerjaan pelabuhan ini (Tandjoeng Priok) tentu saja membutuhkan waktu yang cukup lama. Tentu saja selama proses pembangunan pelabuhan intensitas hilir mudik kapal uap lintas benua semakin meningkat lebih-lebih sehubugan dengan akan dipeorasikannya Terusan Suez pada tahun 1869. Untuk mendukung itu semua, inisiatif, rencana dan pengerjaan pelabuhan Tandjoeng Priok adalah satu karya besar yang belum pernah ada selama ini di Hindia Belanda. Semua orang telah membicarakannya.

Peta 1904
Konsep pelabuhan Tandjoeng Priok ini adalah kapal bersandar langsung ke dermaga (sebelum membuang jangkar). Setiap bongkar muat barang dan turun naiknya penumpang langsung terintegrasi dengan moda transportasi darat. Selama ini dan sebelum pelabuhan Tandjoeng Priok dapat digunakan kapal-kapal uap hanya buang jangkar di tengah laut dan dengan kapal-kapal kecil membantu layanan barang dan penumpang ke darat di Kali Besar (dimana sudah terdapat angkutan kereta api dan jenis angkutan kereta kuda). Pelabuhan Tandjoeng Priok dirancang dengan dua desain yakni desain pelabuhan kapal uap  (binnen haven) dan desain kapal-kapal layar/perahu kecil (binnen gracht). Pembangunan pelabuhan kapal uap dengan cara membuat kanal daratan (inner basin) yakni dengan menggali tanah untuk menyiapkan kolam besar (binnen haven) untuk berlabuh langsung ke dermaga. Sedangkan pembangunan pelabuhan kapal layar/perahu (prauwen haven) dengan cara menggali tanah untuk membangun kanal terusan dari kanal yang sudah selama ini ada yakni kanal Vinkevaart. Kanal ini dengan sendiri akan terhubung ke laut, dimana kapal layar/perahu dari berbagai tempat berlabuh di Tandjoeng Priok (lihat Peta 1887).

Posisi Landhuis dan Reorientasi kanal (Peta 1914)
Oleh karena pembangunan kanal pelabuhan kapal uap sangat jauh ke darat, konsekuensinya kanal Vinkevaart harus digeser. Kanal Vinkevaart ini kemudian kerap disebut kanal/sungai Tjilintjing atau sungai/kali Lagoa (pergeseran kanal Vinkevaart ini berada di sekitar kampong Lagoa). Kanal Vinkevaart menghubungkan tempat di barat (kanal Antjol) dan tempat di timur (Tjilintjing) yang sudah berusia satu setengah abad dengan sendirinya mengalami reorientasi. Pembangunan pelabuhan Tandjoeng Priok memisahkan dua kanal tersebut. Kanal Antjol tidak lagi menuju timur (Tjilintjing) tetapi sudah dibelokkan ke arah utara menuju laut. Kanal Vinkevaart yang selama ini berorientsi ke Antjol menjadi hanya mentok di Pelabuhan kapal uap. Untuk tetap menyeimbangkan debit air antara dua kanal yang telah dipisahkan ini dihubungkan kembali dengan kanal kecil sesuai pergeseran yang terjadi akibat pembangunan kanal pelabuhan kapal uap.

Dalam pembangunan pelabuhan Tandjoeng Priok ini, satu yang pasti adalah landhuis Tandjoeng Priok yang sudah eksis sejak lebih dari satu abad (paling tidak sejak tahun 1772) tidak digusur. Landhuis ini dalam rencana tetap ditempatnya. Namun proses menemukan keputusan akhir lokasi perlabuhan baru di Tandjoeng Priok tidak mudah, sangat alot dan masih bersifat pro kontra.

Rencana pembangunan pelabuhan di Tandjoeng Priok (pelabuhan kapal uap) masih mengundang pro-kontra (lihat  Bataviaasch handelsblad, 23-10-1872). Misi pihak PU dengan misi pihak perdagangan (Kamar Dagang Batavia) tidak ketemu. Lokasi pelabuhan di Tandjong Priok dianggap terlalu jauh, ada beban biaya tambahan bagi dunia bisnis. Dalam hal debat disebutkan biasanya pelabuhan mengikuti pusat perdagangan dan sangat sulit memanggil perdagangan ke tempat dimana pelabuhan akan dibangun. Pemerintah terus mencari solusi agar tetap di Tandjoeng Priok yang akan diintegrasikan dengan jalur kereta api. Usulan yang ingin tetap mempertahankan di Batavia dengan membangunan kolam besar di arah timur menjadi hal yang masuk akal jika dibandingkan sebelumnya terhadap usulan di Pulau Onrust (tetapi ini ditolak para ahli).

Sehubungan dengan dioperasikannnya jalur kereta api Batavia-Buitenzorg, rencana pelabuhan baru menghangat kembali. Pemerintah telah membentuk suatu komite untuk mengkaji kemungkinan palabuhan baru di Tandjoeng Priok (lihat Bataviaasch handelsblad, 04-01-1873). Setelah bekerja, komite ini menemukan solusi atas rekomendasi Kamar Dagang berada di timur Batavia yang dengan demikian lokasi yang sebelumnya diusulkan di Onrust dan Tandjoeng Priok dibatalkan (lihat  Het nieuws van den dag : kleine courant, 04-12-1873). Namun dalam kenyataannya masih terus terjadi pro kontra antar berbagai pihak (lihat Bataviaasch handelsblad, 29-05-1875). Titik terang mulai muncul dimana dari tiga kandidat, lokasi yang dianggap paling layak adalah di Tandjoeng Priok yang mana perdebatan yang muncul adalah soal antara membangun dermaga kering (menggali tanah, dermaga darat) atau dermaga mengambang dengan membuat dermaga laut di atas air (lihat Bataviaasch handelsblad, 05-07-1875). Pilihan di Tandjoeng Priok juga bersesuaian dengan konsep pethananan dengan memperkuat pertahanan di pelabuhan. Angkatan laut di tengah lautan tidak akan cukup kuat, tetapi pelabuhan adalah surga bagi para angkatan laut maupun bagi pedagang. Disebutkan konsep seperti ini belum ada di Hindia belum ada sekalipun itu di Soerabaja dan di Tjilatjap (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-07-1875). Singkat data begitulah hasilnya sehingga pelabuhan baru ditetapkan di Tandjoeng Priok.  

Akhirnya keputusan lokasi dimana pelabuhan sudah bulat di Tandjoeng Priok. Dalam layout pelabuhan, landhuis Tandjoeng Priok berada di sisi barat pelabuhan kapal layar/perahu. Sementara di sisi timur pelabuhan kapal uap dibangun perumahan pekerja pelabuhan. Sedangkan antara dua pelabuhan itu adalah space untuk kegiatan bongkar muat barang dan turun naik penumpang. Posisi stasion/halte kereta api ditempatkan di pintu masuk pelabuhan (dari arah Batavia). Untuk kebutuhan kereta barang, dari halte dibuat jalur khusus ke arah dua sisi pelabuhan kapal uap (jalur bongkar/kedatangan danm jalur muat/keberangkatan). Itulah tahap pertama tentang situasi dan kondisi di pelabuhan yang baru di Tandjoeng Priok.

Pata 1925
Pelabuhan Tandjoeng Priok terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan perkembangan ekonomi (volume perdagangan dan arus penumpang). Pembangunan kanal pelabuhan uap yang kedua (Pelabuhan II) mengambil posisi ke arah timur pelanuhan yang pertama (Pelabuhan I). Pembangunan kanal baru pelabuhan ini mengkibatkan area perumahan pekerja pelabuhan digeser ke arah timur. Tidak hanya itu, Kanal Vinkevaart yang kerap disebut sebagai Kali Lagoa digeser lagi (lihat Peta 1904). Pengembangan pelabuhan terus berlanjut hingga memiliki tiga kolam besar (kanal pelabuhan uap). Jumlah kanal kapal uap ini sudah mencapai maksimum (lihat Peta 1925).

Sehubungan dengan perkembangan yang terjadi di area pelabuhan Tandjoeng Priok yang terus mengalami penyesuaian layout akhirnya landhuis Tandjjoeng Priok terpaksa tersingkir sendiri. Tamat sudah land Tandjoeng Priok. Era pelabuhan Tandjoeng Priok terus berlanjut dan brlanjut terus hingga ini hari.

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

4 komentar:

  1. pak apakah bapak memiliki Akun Intagram ?

    BalasHapus
  2. mau nanya ini sumber-sumbernya apa bisa di cantumkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja

      Hapus