Selasa, 21 Januari 2020

Sejarah Kota Sibolga (2): Nama-Nama Jalan Tempo Dulu di Kota Sibolga; Jalan Tertua Heerenstraat (Kini Jalan Brigjen Katamso)


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sibolga dalam blog ini Klik Disini

Pada masa kini, jaringan jalan di kota bagaikan jaring laba-laba. Begitu banyaknya ruas jalan di dalam kota sulit menentukan kota bermula dimana. Bagi pendatang identifikasi jalan sangat penting, juga tentu bagi warga kota. Kegunaan mengidentifikasi jalan adalah untuk menentukan posisi GPS kita sedang berada di dalam kota. Penanda navigasi terpenting dalam menentukan posisi GPS adalah mengetahui jalan tertua di dalam kota. Jalan tertua adalah petunjuk awal bagaimana kota bermula.

Kota Sibolga (Peta 1906) dan Kantor Residen (1867)
Jaringan jalan di Kota Jakarta bermula di jalan Kali Besar (Kota), suatu jalan yang terbentuk karena kanal Kali Besar. Di Bandoeng jaringan jalan bermula dari jalan Postweg (kini jalan Asia Afrika) dan Asisten Residenweg (kini jalan Braga). Di Medan jaringan jalan bermula di Cremerstraat (kini jalan Balai Kota/Putri Hijau) dan Deli Mij straat (kini jalan M Yamin). Di Depok jalan bermula di Kartiniweg (jalan Kartini) dan Kerkstraat (kini jalan Pemuda). Di Padang Sidempuan jaringan jalan bermula di Julianastrat (jalan Jend. Sudirman) dan Asisten Residenstraat (jalan Gatot Subroto).

Lantas jalan apa yang menjadi jalan tertua di Kota Sibolga? Dalam berbagai tulisan disebuit jalan Zainul Arifin dan jalan S Parman yang sekarang. Itu jelas keliru. Jalan tertua sebenarnya adalah Heerenstraat (kini jalan Brigjen Katamso). Dari namanya (Heeren) menunjukkan nama jalan utama di masa lampau. Ketika kota Sibolga mulai dibangun pada tahun 1842 jalan Katamso inilah yang pertama dibangun (lihat Peta 1867). Bagaimana selanjutnya? Jumlah jalan yang terus bertambah adalah gambaran dari perrkembangan kota darimana menuju kemana. Itulah arti penting memahami jaringan jalan dalam menyusun sejarah kota. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jalur (perdagangan) tradisional Angkola-Baroes (via Sibolga)
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Kantor Controleur Tapanoeli dan Heerenstraat

Kota Sibolga yang sekarang berawal di kampong Tapanoeli. Itu dimulai pada era Inggris dan kampong Tapanoeli paling tidak masih menjadi basis kekuatan militer Belanda ketika terjadi Perang Pertibi (perang melumpuhkan Tuanku Tambusai di Daloe-Daloe) yang berakhir pada bulan Oktober 1838. Dari kampong (pelabuhan) Tapanoelii rute yang digunakan militer mengikuti jalan kuno antara (pelabuhan/benteng) Baros dengan Angkola yang dapat ditempuh selama 11 hari. Dalam bahasa Tiongkok, jalan tersebut adalah jalur tradisional penduduk Angkola (jalur kuno penduduk Silndoeng/Toba ke Baros melalui Dolok Sanggul/Pakkat). Jalan kuno Angkola-Baros ini pada masa ini adalah jalan Sutoyo. Dari jalan kuno inilah Pemerintah Hindia Belanda mulai membangun Kota Sibolga ke arah pantai/laut.

Pasca Perang Pertibi (baca: Portibi) Pemerintah Hindia Belanda dalam menyelenggarakan pemerintahan sipil mulai membangun dua kota kembar: Sibolga dan Padang Sidempoean. Controleur Tapanoeli yang berkedudukan di kampong Tapanoeli akan dipindahkan ke kota baru (kampong) Sibolga dan Controleur Angkola yang berkedudukan di kampong Pidjor Koling akan dipindahkan ke kota baru (kampong) Sidempoean. Kampong Pidjor Koling dan kampong Tapanoeli adalah basis militer (garnisun militer). Kantor Controleur yang baru dengan sendirinya diproyeksikan menjadi ibu kota (hoofdplaat).

Dalam membangun kota, Pemerintah Hindia selalu memperhitungkan dengan cermat yang dilakukan oleh militer/zeni dalam konteks keamanan dengan mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak (termasuk ahli geologi dan etnografi). Poin militer dalam membangun kota adalah mengutamakan sistem pertahanan (memiliki jalur escape). Jika lalu lintas utama adalah sungai atau garis pantai, maka pertimbangannya mengikuti/menyesuaikan dengan karakteristik sungai/pantai. Dalam hal ini dua pertimbangan utama lokasi baru ibu kota bari di (kampong) Sibolga adalah jalur lalu lintas utama dan area escape.

Pelabuhan Sibolga dan jalan Heerenstraat
Ahli geologi dilibatkan untuk mendapatkan gambaran karakteristik lahan (menghindari lahan subur/potensial) dan lebih memilih area marginal yang dapat dikembangkan untuk pengembangan persil-persil baru untuk bangunan dan terhindar dari bahaya banjir. Ahli etnografi untuk mendapatkan lalu lintas sosial ekonomi budaya dan hak-hak pertanahan yang melekat pada penduduk. Inilah prinsip pertimbangan mengapa ibu kota dibangun dari jalur jalan kuno ke arah pantai. Kampong Tapanoeli adalah suatu area terjebak (trap area), sedangkan kampong Sibolga adalah escape area. Idem dito dalam pembangunan Kota Padang Sidempoean (secara spasial, kampong Sidempoean lebih aman dari kampong Pidjot Koling).

Jalan baru dari jalan lalintas utama menuju/mengarah ke pantai/laut ini dibangun jalan utama (semacam boulevard). Lalu bangunan-bangunan pemerintah (termasuk bangunan militer) dibangun di dua sisi jalan ini. Jalan baru inilah kemudian disebut jalan Heereenstraat (yang kini dikenal sebagai jalan Brigjen Katamso). Untuk pembanding: kota-kota sungai seperti Soerabaja, Padang dan Semarang, kantor Asisten/Residen dibangun di sisi langsung berdekatan sungai. Kantor Asisten/Residen Soerabaja ke arah selatan langsung dengan sungai dan jalan utama (boulevaard) dibangun di sisi timur. Jalan utama Soerabaja, jalan yang pertama di Soerabaja disebut jalan Heerenstraat (sama dengan penamaan jalan utama yang pertama di Kota Sibolga). Nama Heerenstrast merujuk pada para tuan yang disebut sebagai De Heer atau Heeren (pemilik portofolio tertinggi di era VOC).

Pembangunan Pelabuhan dan Relokasi Kantor Pemerintah

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar