Sabtu, 31 Januari 2026

Sejarah Jepang (9): Pers di Jepang dan di Indonesia; Surat Kabar di Jepang Berbahasa Asing (Inggris) dan Berbahasa Jepang


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini 

Tanggal 9 Februari dalam waktu dekat ini, Hari Pers Nasional (HPN) di Indonesia diperingati. Tanggal ini dulunya “dipilih” untuk memperingati hari berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1946 di Surakarta. Sementara, Hari Kebebasan Pers di Jepang umumnya diperingati setiap tanggal 3 Mei. Tanggal ini “tidak dipilih” tetapi bertepatan dengan Hari Peringatan Konstitusi (Kenpō kinen-bi) di Jepang, yang menandai berlakunya Konstitusi Jepang pada tahun 1947, yang menjamin kebebasan pers dan hak asasi manusia. Artikel ini tidak sedang membicarakan tanggal tersebut, tetapi bagaimana sejarah pers yang sebenarnya berawal di Jepang (dan Indonesia). 


Surat kabar di Jepang menggunakan kombinasi tiga sistem aksara utama dan terkadang alfabet Latin untuk menyampaikan informasi secara efisien: Kanji digunakan untuk menuliskan kata benda, batang kata kerja, dan kata sifat yang memiliki makna spesifik; Hiragana digunakan untuk elemen tata bahasa seperti partikel, kata bantu, serta akhiran kata; Katakana digunakan khusus untuk menuliskan kata serapan dari bahasa asing, nama tempat atau orang luar negeri, serta untuk penekanan tertentu; Alfabet Latin (Romaji) dan angka Arab sering digunakan untuk singkatan internasional, nama merek, atau data statistik. Secara visual, teks dalam surat kabar Jepang umumnya dicetak menggunakan gaya huruf Minchō (serif) yang memiliki garis vertikal tebal dan horizontal tipis agar lebih mudah dibaca dalam format cetak. Selain itu, banyak surat kabar masih mempertahankan gaya penulisan tradisional Tategaki, yakni ditulis secara vertikal dari atas ke bawah dan dibaca dari kanan ke kiri (AI Wikipedia).. 

Lantas bagaimana sejarah pers di Jepang dan pers di Indonesia? Seperti disebut di atas, artikel ini tidak sedang membicarakan sejarah tanggal hari pers tetapi bagaimana sejarah pers yang sebenarnya di Jepang dan di Indonesia. Di Indonesia sejak era Pemerintah Hindia Belanda, semua surat kabar ditulis dalam aksara Latin. Lalu bagaimana sejarah pers di Jepang dan pers di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Pers di Jepang dan Pers di Indonesia; Surat Kabar di Jepang Berbahasa Asing (Inggris) dan Berbahasa Jepang

Surat kabar berbahasa Melayu diduga kuat pertama kali terbit di kota Padang. Pada tahun 1856 terbit surat kabar berbahasa Melayu bernama Bintang Oetara (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant: staats, handels-, nieuws- en advertentieblad, 18-02-1856). Pada tahun yang sama surat kabar berbahasa Melayu bernama Soerat Kabar Bahasa Melaijoe di Soerabaja (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 15-03-1856). 


Di Hindia, sekolah sudah lama ada, sekolah yang dibangun pemerintah di berbagai tempat. Aksara yang digunakan adalah Latin dalam berbagai bahasa local terutama bahasa Melayu. Tampaknya di Batavia belum ada surat kabar berbahasa Melayu. Yang sudah ada sejak lama (bahkan sejak 1809) adalah surat kabar berbahasa Eropa utamanya bahasa Belanda. Namun di Batavia sudah ada perpustakaan untuk orang pribumi (Indisch Leeskabinet). Di dalam perpustakaan inilah masyarakat dapat membaca. Salah satu bacaan adalah majalah Bianglala (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 28-02-1853). Disebutkan ‘Penangkapan Harimau yang Unik” yang diambil dari ruang baca Hindia (Indisch Leeskabinet), yang disebut Biang-Lala, oleh Lange and Co., di Batavia….”Arsa baru saja mulai menyanyikan lagu Madura (seperti yang berlanjut di majalah tempat kami meminjam cerita ini) ketika Samba memanggilnya dengan sangat pelan sehingga dia hampir tidak bisa mendengarnya: "Diam!". "Kenapa aku tidak boleh bernyanyi?" tanya pria yang dituju, agak kesal’. Dalam hal ini, meski tidak teinformasikan akasara apa yang digunakan dalam bahasa apa, tetapi diduga kuat majalah itu menggunakan aksara Latin dalam bahasa Melayu. Perlu ditambahkan di sini, dalam Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, jrg 3, 1852: Biang-lala. Ruang Baca Hindia untuk percakapan yang menyenangkan dan ramah, disunting oleh WL Ritter dan LWA Tollens, Volume I. Batavia 1852, edisi ke-8, terbitan IV (oleh para editor). Jurnal untuk linguistik, geografi, dan etnologi Hindia, diterbitkan oleh Masyarakat Seni dan Sains Batavia, disunting oleh P Bleeker, LWC Keuchenius, J Munnisch, dan E Netscher. Volume I, terbitan I dan II (oleh masyarakat); Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 14, 1852 (2e deel), no 10: Dalam edisi pertama karya bulanan yang diterbitkan di Batavia dengan judul Biang-Lala, "Indisch leeskabinet voor vrolijke en gezellig" (Ruang baca Indonesia untuk percakapan yang menyenangkan dan ramah), yang diedit oleh WL Ritter dan LWA ​​​​Tollens, dan yang akan kita bahas kembali dalam kolom kita’. 

Bagaimana dengan di Jepang? Tidak terinformasikan. Surat kabar berbahasa Belanda yang diterbitkan di Semarang, Samarangsch advertentie-blad, 19-04-1861 memberitakan sebagai berikut: ‘Sebuah surat kabar akan diterbitkan di Nagasaki, berjudul: Nagasaki Schipping List and Advertiser (Daftar Pengiriman dan Pengiklan Nagasaki). Surat kabar ini akan terbit sekali seminggu’. 


Nagasaki Schipping List and Advertiser yang diterbitkan di Nagasaki diduga adalah surat kabar pertama di Jepang. Sebagaimana sudah disebut dalam artikel-artikel sebelum ini, sejak 1641 hanya orang Belanda yang diizinkan di Jepang dengan memindahkannya dari Firando ke Dejima (di teluk Nagasaki). Pulau (buatan) Dejima ini adalah pos perdagangan Belanda (sebagaimana halnya tempo doeloe “Kasteel Batavia”). Surat kabar Nagasaki Schipping List and Advertiser diduga kuat menggunakan aksara Latin dalam bahasa Belanda. Perlu ditambahkan disini, orang Jepang juga sudah banyak yang bisa berbahasa Belanda. 

Namun demikian, surat kabar ini tidak terinformasikan tanggal berapa mulai terbit, berapa halaman dan bagaimana frekensi terbitnya tidak terinformasikan. Dalam perkembangannya, tampaknya surat kabar Nagasaki Schipping List and Advertiser telah dimiliki oleh orang Inggris. Nama surat kabar hanya disebut Nagasaki Schipping List. 


De kolonist: dagblad toegewyd aan de belangen van Suriname, 03-12-1868: ‘Dalam "Japan Gazette" hari Jumat, 21 Agustus 1911, terdapat rincian berikut mengenai penganiayaan mengerikan yang dialami oleh umat Kristen di Jepang: "Dekrit Kekaisaran terhadap Kekristenan" No. 1. Diterjemahkan dari No. 6 Taiseikwan Nishi. "Karena agama Kristen yang dilarang keras, setiap orang diwajibkan untuk menunjuk orang-orang yang mereka anggap mencurigakan kepada pejabat pemerintah yang ditunjuk, dan jika mereka melakukannya, hadiah akan ditawarkan kepada mereka". Ditandatangani Taiseikwan tahun ke-4 Keiro bulan ke-3 ((24 Maret hingga 22 April 1868). No. 2 dari No. 8 Hibi Shimbun, dekrit tanggal 18 bulan ke-5 (8 Juni). Meskipun sekte Kristen telah dianiaya secara berat selama berabad-abad oleh pemerintah yang bangkrut, namun belum memungkinkan untuk memberantasnya sepenuhnya. Namun, karena jumlah pengikut doktrin tersebut baru-baru ini meningkat pesat di desa Urakami, dekat Nagasaki, yang para petaninya diam-diam menganutnya, telah diputuskan, setelah pertimbangan cermat oleh otoritas tertinggi, bahwa orang-orang Kristen akan ditempatkan dalam perlindungan dan diperlakukan sesuai dengan ketentuan dokumen resmi berikut: "Karena doktrin Kristen telah dilarang di negara ini sejak zaman dahulu, masalah ini tidak boleh dianggap enteng. Mereka yang dipercayakan kepada orang-orang Kristen akan memperlakukan mereka dengan lemah lembut dan ramah agar mereka menjadi orang baik. Namun, jika ada di antara mereka yang tidak bertobat dan mengakui kesalahan mereka, mereka akan dihukum dengan sangat berat dan tanpa ampun. Pihak yang bersangkutan akan memperhatikan hal ini dan melaporkan kepada pihak berwenang yang berwenang mereka yang terbukti tidak dapat diperbaiki. Orang-orang ini (Kristen): tidak akan diizinkan untuk berbicara dengan penduduk tempat mereka ditahan...Mereka akan digunakan untuk mengolah tanah, atau bekerja di tambang kapur, emas, dan batu bara, atau untuk pekerjaan apa pun yang dianggap cocok oleh para perwira mereka. Mereka akan tinggal di pegunungan dan hutan. Sebagian beras per kepala akan dibagikan kepada para daimo yang bersangkutan, yang dipercayakan kepada mereka, untuk jangka waktu tiga tahun, dimulai pada tanggal yang akan ditentukan kemudian. Mereka akan dibawa ke tempat-tempat yang disebutkan di bawah ini dalam detasemen kecil. Para daimo akan segera, setelah menerima pemberitahuan tentang jumlah orang yang dipercayakan kepada mereka, mengirim tentara untuk menerima orang-orang yang dihukum". "Proklamasi perintah kekaisaran ini untuk dipatuhi dengan ketat. "Berikut ini adalah daftar nama-nama berbagai daimio, berjumlah 34, dan jumlah orang Kristen yang dipercayakan kepada masing-masing dari mereka, total 4.100 orang". 


Di Jepang pada tahun 1868 secara resmi Restorasi Meiji dimulai. Dalam hal ini baru di Jepang akan terjadi pertumbuhan dan perkembangan diantara penduduk Jepang dan juga akan membuka hubungan yang lebih banyak dan intens dengan berbagai Negara.

 

De Tijd : godsdienstig-staatkundig dagblad, 18-06-1870: ‘Pemerintah telah menyerahkan kepada Parlemen sebuah Buku Biru mengenai Jepang. Buku tersebut berisi 43 surat dari tahun 1868 hingga 1870, sebagian besar dari Sir Henry Parkes kepada Lord Clarendon, serta berbagai lampiran, seperti potongan artikel dari majalah Jepang, terjemahan brosur Jepang, laporan, dan lain sebagainya’. 


Akan tetapi, di dalam negeri Jepang, masalah pertumbuhan Kristen di Jepang tetap menjadi perhatian pemerintah (kerajaan) Jepang. Mengapa? Satu yang jelas bahwa Nagasaki Schipping List masih eksis hingga tahun 1870. Tampaknya, majalah dan brosur berbahasa Jepang di Jepang sudah eksis (yang diduga kuat dikelola oleh para misionaris Kristen).

 

Provinciale Noordbrabantsche en 's Hertogenbossche courant, 08-04-1870; ‘Jepang. Penganiayaan terhadap orang Kristen di Jepang meluas dengan kecepatan yang mengerikan. Sebuah surat kabar protestan Inggris, Nagasaki Schipping List, melaporkan bahwa pada tanggal 2 Januari 1870, seratus lima puluh orang Kristen dari Ourakami dan pada tanggal 5 Januari, 750 orang, semuanya di bawah usia 19 tahun, dipanggil menghadap gubernur kota itu untuk meninggalkan iman mereka. Setelah penolakan mereka secara bulat, mereka dipenjara dan dinaikkan ke kapal uap pada malam hari, yang membawa mereka ke negeri yang tidak dikenal atau mungkin menenggelamkan mereka di laut. Dalam kurun waktu dua minggu, yaitu hingga 24 Januari, 4.200 orang Kristen telah diberangkatkan dan dideportasi dengan cara ini: baik yang sakit, lemah, maupun yang sekarat tidak luput. Di Jeddo, antara 4.000 hingga 5.000 rumah hancur terbakar’. 

Dalam sejarah pers di Jepang, berbagai artikel pada masa itu mencatat bahwa pada tahun 1872, surat kabar Jepang pertama muncul di Tokyo, diterbitkan oleh seorang Inggris bernama Black. Pionir ini disebut telah mempelajari bahasa dan tulisan Jepang secara menyeluruh. Publikasi kecil oleh penulis Jepang yang telah belajar sesuatu di Amerika telah dimulai secara sederhana beberapa tahun sebelumnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan. Surat kabar Black disebut Nisshin Shinjishi dan segera menjadi sangat populer. 


Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 29-04-1871: ‘Surat kabar yang baru-baru ini diterbitkan di Jepang itu bernama Mai-nichi-Shin-him. Mengingat ini adalah upaya pertama, surat kabar ini cukup memenuhi persyaratan sebagai surat kabar harian’. Algemeen dagblad van Nederland, 10-05-1871: ‘Jepang. Mai-nichi Shin-bun adalah judul sebuah surat kabar Jepang, yang pertama kali muncul di sana. Surat kabar ini berisi berbagai macam artikel, tetapi dengan tata letak yang acak’. 

Surat kabar Jepang di London terbit pada tahun 1873 (lihat Opregte Haarlemsche Courant, 07-03-1873). Disebutkan pada tanggal 15 Januari, edisi pertama majalah Jepang bernama Tai Sei Shimbun (Berita Penting dari Barat) muncul di London. Editor dan pemiliknya adalah orang Jepang, dan mereka dibantu oleh Summere, profesor Bahasa Jepang dan Cina di King's College. Majalah tersebut akan berisi ilustrasi dan kontribusi dari banyak mahasiswa Jepang di Inggris dan Amerika. Diperkirakan 700 orang Jepang tinggal di Inggris dan Amerika, sebagian besar adalah mahasiswa. Sebuah lembaran resmi pemerintah akan diterbitkan di Jepang sendiri. 


Nieuwsblad voor den boekhandel jrg 40, 1873, no 11, 07-02-1873: ‘Saat ini Jepang bergerak maju dengan pesat; mereka tidak hanya membangun jalur kereta api dan memperkenalkan telegraf dan ongkos kirim sen, namun sebuah majalah Jepang bahkan diterbitkan di London, demi kepentingan wisatawan Jepang yang ingin melihat dunia lama, serta teman-teman mereka di London. Majalah ini diterbitkan oleh orang Jepang terkemuka, bekerja sama dengan Prof Summers dari "King's College", dan akan diberi judul Tai sai Shimbun, atau Groot Westersch Nieuwsblad’. 


Hubungan pekerja pers Inggris dan pekerja pers Jepang tampaknya semakin dekat satu sama lain. Ini terlihat dengan adanya surat kabar Jepang di Inggris di London. Sebelumnya diketahui orang Inggris di Jepang, Black menerbitkan surat kabar Jepang (berbahasa Jepang).


Het nieuws van den dag : kleine courant, 21-08-1873: ‘Di Jepang, saat ini terdapat sebuah surat kabar Jepang yang diterbitkan, yaitu Mainichi Hirakana Shunbumhi, yang berarti: Berita Hari Hirakana. Surat kabar ini berfungsi untuk menyampaikan peristiwa terkini kepada masyarakat umum dan juga sebagai kesempatan untuk mendapatkan berita’. Arnhemsche courant, 23-12-1874:Belum lama ini, beredar cerita bahwa Raja Korea telah menginjak-injak surat yang dikirim kepadanya oleh Mikado, dan beberapa bulan yang lalu, rakyat menunjukkan kepuasan mereka terhadap sikap penguasa mereka dengan membakar sebuah desa pesisir yang dihuni orang Jepang. Sekarang dilaporkan bahwa sentimen telah berubah sepenuhnya, bahwa Korea menunjukkan persahabatan yang besar terhadap Jepang, dan bahwa para pemimpin partai anti-Jepang telah dipenjara. Sebuah surat, yang dicatat oleh Nisshin Shinjishi, menjelaskan alasan perubahan ini. Surat itu mengungkapkan bahwa Juni lalu seorang utusan Jepang bernama Moriyama Shigeru dikirim ke Korea. Setelah tiba di ibu kota, ia menemukan kekhawatiran besar atas persiapan yang dilakukan Jepang untuk ekspedisi ke Formosa. Ada kekhawatiran bahwa, jika Jepang kembali dengan kemenangan, senjata akan diarahkan terhadap Korea. Dalam keadaan ini, mudah bagi duta besar untuk mengakhiri permusuhan yang telah berlangsung bertahun-tahun; ia meyakinkan orang Korea bahwa Jepang tidak memiliki niat jahat terhadap mereka. Setelah persahabatan terjalin, ia membujuk penguasa untuk memenjarakan mereka yang telah memupuk kebencian terhadap Jepang sejak tahun 1868’. 

Surat kabar Nagasaki Schipping List tidak terinformasikan lagi. Lalu apakah sebagai penggantinya diterbitkan surat kabar Nisshin Shinjishi? Satu yang jelas, surat kabar di Indonesia bermula ditangan orang Eropa dan investasi orang Eropa. Bahkan surat kabar berbahasa Melayu juga adalah investasi Eropa/Belanda. 


Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 28-08-1874: ‘Japan Gazette tanggal 20 Juli melaporkan bahwa Mikado tidak terlihat di depan umum selama sebulan penuh. Surat kabar yang sama melaporkan bahwa Jepang telah meninggalkan pulau Saghalien dan kembali ke Jeddo. Orang yang diyakini sebagai pembunuh Iwacura telah dipenggal kepalanya’. 


Demikian juga halnya di Jepang. Surat kabar pada permulaan ini di Jepang ditangani orang Eropa dengan investasi orang Eropa. Dalam hal ini pemerintahan (kerajaan) Jepang berkuasa atas negerinya (Belanda dan orang asing lainnya), tetapi di Indonesia tak kuasa dengan (pemerintah Hindia) Belanda.


Ada perbedaan yang lebar situasi dan kondisi di Jepang dan di Indonesia. Belanda sejak 1641 hanya Belanda yang diizinkan di Jepang oleh Kerajaan. Sementara tahun 1641 VOC/Belanda menaklukkan Portugis di Malaka. Sejak ini VOC menjadi penguasa penuh di Indonesia (baca: Hindia Timur) mulai dari Sumatra hingga Papua (Spanyol sejak 1521 di Filipina). Kebijakan pembukaan isolasi mulai diberlakukan di Jepang setelah ekspedisi militer Amerika tahun 1854. Sejak 1859 monopoli Belanda di pulau Dejima berakhir dan juga terbuka bagi pedagang asing. Seemntara itu di Indonesia, surat kabar berbahasa Melayu berikutnya terbit tahun 1858 di Batavia bernama Soerat chabar Batawie. Surat kabar ini diterbitkan oleh Lange en Co. Surat kabar berbahasa Melayu berikutnya di Batavia terbit tahun 1860 bernama Selompret Malajoe, soerat kabar basa Malajoe rendah. Surat kabar ini diterbitkan oleh GCT van Dorp. Kehadiran surat kabar ini sudah diumumkan pada tahun 1859 di surat kabar Java Bode edisi 29 Desember. Surat kabar Selompret Malajoe ini diduga kemudian pindah ke Semarang. Surat kabar berbahasa Melayu masih bertahan di Soemarang pada tahun 1861 Selompret Malajoe. Dua surat kabar berbahasa Melayu sebelumnya di Soerabaja dan Batavia tidak terbit lagi. Ini mengindikasikan bahwa surat kabar berbahasa Melayu masih sulit tumbuh dan berkembang. Namun demikian, di Soerabaja kembali terbit surat kabar berbahasa Melayu pada tahun 1862 yang diberi nama Bientang Timoor, surat kabar yang diterbitkan oleh Gebr. Gimberg en Co. Selain di Padang, di luar Jawa (Batavia. Semarang dan Soerabaja), juga terbit surat kabar di Tanawangko. Nicolaas Graafland menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu di Tanawangko pada tahun 1869. Surat kabar ini diberi nama Tjahaja Siang (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 21-07-1869). Hingga tahun 1875 surat kabar berbahasa Melayu di Hindia Belanda paling tidak disebut (hanya) ada enam buah dan satu buah berbahasa Jawa (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 20-09-1876). Surat kabar berbahasa Melayu tersebut adalah tiga buah di Batavia yakni Bintang Barat, Bintang Djohar dan Hindia Nederland, surat kabar Bintang Timoer di Soerabaja dan surat kabar Selompret Melajoe di Semarang serta surat kabar Tjahaja Siang di Minahasa. 

Surat kabar yang ditangani dan investasi asing di Jepang, tampaknya mulaui tidak terkendalikan. Boleh jadi itu, pemerintah Kerajaan Jepang banyak terganggu. 


Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant, 23-02-1875: ‘Japan Herald melaporkan peraturan berikut, yang dikeluarkan oleh polisi Tokyo: Setiap orang yang mengenakan pakaian Eropa yang bertemu dengan Yang Mulia Kaisar wajib memberi hormat kepadanya dengan meletakkan topinya di bawah lengan kirinya dan meletakkan tangan kanannya di lututnya. Mereka yang tidak mengenakan topi diharuskan meletakkan kedua tangannya di lutut dan membungkuk kepada Kaisar’. 


Pada tahun 1875 undang-undang percetakan mulai diberlakukan (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 14-08-1875). Disebutkan serangkaian undang-undang percetakan baru telah diberlakukan. Denda untuk pelanggaran sangat berat. Yang terkena pertama dalam penerapan undang-undang tersebut adalah seorang Inggris berinisial Black.


Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 15-07-1875: ‘Jepang. Enam pemuda akan dikirim ke Departemen Angkatan Laut di Inggris untuk memperoleh pengetahuan tentang artileri angkatan laut dan taktik angkatan laut. Atas dekrit Mikado, perwakilan rakyat telah dipanggil. Sebuah dekrit menetapkan bahwa kapal dagang boleh membawa dua meriam. Insiden dengan Maria Luz pasti akan diingat; Rusia dipilih sebagai penengah untuk menyelesaikan masalah tersebut; putusannya sekarang sudah diketahui; putusan itu menguntungkan Jepang. Pemerintah prihatin dengan kelancaran pers domestik. Japan Mail memuat sebuah artikel yang sangat mengecam nada beberapa surat kabar Jepang saat ini. Seorang penulis di majalah Hochi Shimbun, antara lain, menghasut rakyat untuk memberontak; Ia ingin rakyat memiliki kendali atas panen dan uang, dan menyerukan kepada semua "pemuda Jepang" untuk memimpin mereka ke sana, tidak peduli bagaimana, di mana, atau kapan. Japan Mail dengan tepat mencatat bahwa jika penulis itu menggunakan bahasa seperti itu lima tahun yang lalu, kepalanya akan segera dipenggal dari tubuhnya’.  Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 08-10-1875: ‘Undang-undang percetakan baru masih menjadi subjek banyak diskusi; berbagai pelanggaran percetakan dilaporkan. Seperti yang telah kami baca di majalah kami, pers Jepang marah dan membahas undang-undang baru tersebut dengan cara yang paling sarkastik dan penuh kebencian. Surat kabar asing mengutuk undang-undang tersebut, dan orang hanya dapat berasumsi bahwa pers Jepang akan senang dengan bahasa tenang yang digunakan orang asing untuk mendukung mereka. Namun, asumsi itu terbukti salah. Surat kabar Jepang, setelah awalnya mengecam pemerintah, sekarang dengan marah berbalik melawan surat kabar asing dan meyakinkan mereka bahwa undang-undang percetakan baru sangat diperlukan. Demikian tulis staf redaksi Hochi Shimbun: "Kami membaca surat kabar asing Yokohama setiap hari, dan kemudian harus membuangnya dengan sangat sedih, karena kami melihat bagaimana mereka membahas undang-undang percetakan baru dengan bahasa yang vulgar dan menghina. Tampaknya semua penulis asing merasa benar untuk dengan lantang dan terbuka mengutuk undang-undang ini". Karena kami ingin mematuhi hukum baru, kami tidak dapat mengembalikan artikel-artikel mereka, dan betapapun marahnya kami, kami tetap berkewajiban untuk dengan sabar berpura-pura bahwa kami belum membaca artikel-artikel tersebut. Ada kemungkinan bahwa beberapa tekanan telah diberikan kepada surat kabar Jepang dalam hal ini, tetapi juga bukan tidak mungkin bahwa para jurnalis Jepang yang lebih jeli—meskipun mereka tidak menyetujui banyak penganiayaan terhadap pers—mulai menyadari bahwa meskipun segala macam perbaikan dan banyak lembaga Barat sedang diperkenalkan di Kekaisaran Jepang, negara ini belum siap untuk pers yang bebas. Namun, bisa juga sikap pers dalam hal ini berarti sama seperti "jangan ikut campur dengan posisi kami" yang diteriakkan kepada surat kabar asing’. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 29-12-1875: ‘Pemerintah terus-menerus menganiaya pers; misalnya, editor Hioron Shimbun telah ditempatkan di bawah pengawasan polisi. Undang-undang wajib militer baru telah diumumkan; undang-undang ini menetapkan bahwa semua lapisan masyarakat dapat dipanggil untuk dinas militer; undang-undang ini dengan demikian merampas hak eksklusif samurai untuk membawa senjata. Dalam edisi ini juga disebutkan Choya Shimbun (di Osaka) yakin akan mengirim pasukan ke Lien-Kien, dan barak akan dibangun untuk berfungsi sebagai barak. Kapal perang Inggris Curleie, dengan konsul Inggris di dalamnya, telah berangkat ke Kepulauan Bonin. Sebuah kapal uap Jepang, Meiji Maru, dengan seorang komisaris pemerintah di dalamnya, juga telah berlayar ke sana. Gugusan Kepulauan Bonin terletak sekitar 500 mil di selatan Teluk Yedo’. 

Kerajaan Jepang telah berhasil menyatukan semua wilayahnya di dalam satu kekuasaan penuh, terutama pulau-pulau besar.  Pada tahun 1876 terinformasikan jumlah populasi Jepang sekitar 33 Juta jiwa. Jumlah ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan populasi wilayah Hindia Belanda (baca: wilayah Indonesia masa kini) yang hanya ditaksir sekira 20 Juta jiawa. 


De standard, 16-02-1876: ‘Japan Mail melaporkan bahwa, menurut sensus terakhir, populasi Jepang berjumlah 33.300.675 jiwa. Ini hanya menunjukkan peningkatan 189.850 jiwa dalam tiga tahun’. Bataviaasch handelsblad, 23-03-1876: ‘Pemerintah Jepang memberlakukan undang-undang pers yang ketat. Seorang bernama Black, seorang warga Inggris, saat itu bertindak sebagai penerbit surat kabar berbahasa daerah di Tokyo, dan undang-undang tersebut tidak berdaya melawannya. Atas desakan pemerintah Jepang, duta besar Inggris untuk Tiongkok dan Jepang melarang semua warga negara Inggris untuk menerbitkan surat kabar berbahasa Jepang, dengan ancaman hukuman penjara tiga bulan, dengan atau tanpa denda $500’. Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 26-04-1876: ‘Pemerintah Jepang mengeluarkan peraturan yang sangat ketat mengenai mesin cetak. Seorang warga Inggris yang giat kemudian menerbitkan sebuah surat kabar di Tokyo di mana orang Jepang dapat mengungkapkan keluhan mereka, meskipun bertentangan dengan pemerintah. Pemerintah mengeluhkan hal ini kepada Menteri Inggris, dan Sir Irry Parkes sekarang dengan sangat tepat mengancam akan menghukum setiap orang Inggris yang menerbitkan surat kabar dalam bahasa Jepang’.

 

Lantas mengapa surat kabar yang ditangani orang asing (Inggris) di Jepang terkena larangan? Satu yang jelas bukan karena menggunakan aksara dan bahasa setempat (bahasa Jepang), tetapi lebih pada perannya telah memberi kesempatan orang Jepang mengungkapkan keluhan dan (adakalanya) bertentangan dengan (kebijakan) pemerintah (kerajaan) Jepang.


Nieuwsblad voor den boekhandel jrg 43, 1876, no 74, 15-09-1876: ‘Percetakan Jepang. Mengenai percetakan di Jepang, kami membagikan laporan berikut, tertanggal 8 Februari 1876, yang diambil dari laporan resmi Sekretaris Legasi Belgia. Terdapat sekitar lima puluh surat kabar di Jepang; lebih dari dua puluh diterbitkan di Tokyo saja. Di sana kita dapat menemukan segala sesuatu yang menjadi perhatian pers di Eropa: surat kabar serius atau yang lebih substansial, surat kabar yang menghibur, surat kabar bergambar, ulasan, dan beberapa yang ditulis khusus untuk wanita. Kemunculan atau kelahiran surat kabar ini dimulai sekitar empat atau lima tahun yang lalu; sebelum itu, mereka hanya menerbitkan brosur kecil beberapa halaman, yang muncul secara tidak teratur dan hanya berisi berbagai fakta yang tidak penting. Saat ini, keadaannya jauh berbeda: orang membaca surat kabar harian dan mingguan di sana. Surat kabar terpenting adalah Nichi Nichi Shimbun, Sochi Shimbun, dan Choya Shimbun (Osaka). Harga berlangganan bervariasi antara ƒ15 dan ƒ20 per tahun; Sirkulasi harian surat kabar tersebut adalah 9.500, 3.000, 5.500, dan 4.300 eksemplar. Jomeouri Shimbun, yang terutama dibaca oleh wanita, memiliki 12.000 pelanggan dan harganya tidak lebih dari ƒ5 per tahun. Surat kabar lainnya juga memiliki harga yang terjangkau dan distribusi yang luas. Surat kabar ini dicetak di atas kertas Eropa, sebagian besar kertas Belgia, dan menggunakan mesin cetak bergaya Eropa. Kertas Jepang dan huruf cetak kayu masih digunakan untuk beberapa edisi. Ukuran surat kabar bervariasi tergantung pada harga berlangganan, tetapi tidak satu pun, mengingat luas permukaan yang dibutuhkan oleh huruf cetak Jepang, memuat banyak konten. Halaman pertama—di sini kita merujuk pada jurnal-jurnal yang paling berpengaruh—berisi keputusan dan pengumuman pemerintah, diikuti oleh editorial tentang politik Jepang, beberapa artikel lain-lain, dan terjemahan dari publikasi asing. Halaman terakhir digunakan untuk mencantumkan harga barang, kedatangan kapal, dll., dan akhirnya, iklan; namun, jumlahnya sedikit. Jurnalis Jepang sering diingatkan bahwa di Eropa, iklan merupakan bagian besar dari pendapatan; tetapi mereka mengklaim bahwa hal itu tidak terjadi di sana, dan bahwa surat kabar yang terlalu banyak memuat iklan akan segera kehilangan pelanggannya. Pemerintah sama sekali tidak memiliki hak atas jurnalisme; hanya dua eksemplar setiap jurnal yang harus diserahkan kepada Kementerian Dalam Negeri dan kepada Gubernur Tokyo. Pers di sana dengan cepat berkembang pesat. Kami telah menyebutkan sirkulasi yang biasa; Namun dari laporan resmi administrasi pos, kita melihat bahwa jumlah surat kabar yang keluar dari berbagai kantor pada tahun 1874 sudah 440% lebih tinggi daripada tahun 1873. Sekretaris pertama kedutaan Inggris, berbicara tentang sirkulasi surat kabar yang paling dicari, menyebutkan jumlah pelanggan untuk beberapa surat kabar sebanyak 860, 850, dan 200. Jika kita ingat bahwa hanya seabad yang lalu, surat kabar harian di Jerman, Inggris, Belgia, dan Belanda hanya diwakili oleh beberapa surat kabar saja, dan bahwa, misalnya, London Gazelle hanya menempati setengah halaman, terbit tidak lebih dari dua kali seminggu, dan dalam setahun tidak memiliki konten lebih banyak daripada dua edisi Times saat ini, maka kita harus menyatakan bahwa Jepang telah mengembangkan jurnalismenya secara luar biasa dalam waktu yang sangat singkat dan bahwa jurnalisme Jepang ditakdirkan untuk memberikan pengaruh yang sangat besar pada nasib kekaisaran tersebut’. 

Masalah pers di Jepang jelas bukan soal delik pers, tetapi lebih pada membatasi kebebasan asing dalam berekspresi dan mengurangi keluh kesah penduduk Jepang terhadap berbagai hal dalam dinamika politik di Jepang. Bagaimana dengan di Indonesia? Pemerintah Hindia Belanda sudah pernah mengadili soal delik pers. 


Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 03-03-1877: ‘Insiden mengerikan berikut diceritakan dalam kolom Nichi Nichi Shimbun. Sekitar setengah perjalanan dari San Francisco, City of Peking menemukan bangkai kapal layar tanpa tiang. Saat kapal City of Peking berhenti, bendera Jepang dikibarkan di bangkai kapal. Perahu diturunkan dan segera kembali dengan empat orang Jepang yang terdampar, yang diterima dengan baik, setelah itu kapal uap melanjutkan perjalanannya. Di atas kapal City of Peking terdapat tujuh belas orang Jepang yang kembali dari Pameran Philadelphia, yang merupakan kabar gembira bagi para pelaut yang telah ditampung, karena mereka tidak mengerti bahasa Inggris, dan tidak ada satu pun awak kapal City yang mengerti bahasa Jepang. Kisah perjalanan mereka yang malang adalah sebagai berikut: Kapal layar itu meninggalkan Hakodate pada tanggal 1 Desember dengan muatan beras, kedelai, dan garam, menuju Hori-idzumi. Segera setelah terombang-ambing oleh cuaca buruk, mereka kehilangan tiang dan kemudi dan terombang-ambing tanpa daya sampai kapal City of Peking terlihat. Ketika keempat pelaut itu selesai bercerita, mereka mulai meratapi nasib kapten mereka dengan getir, dan ternyata kapten mereka, bersama dengan juru kemudi dan pengawas muatan, masih berada di atas kapal. Para pelaut pemberani ini tidak berani menghadap pemilik kapal mereka setelah kehilangan kapal dan muatan; Mereka lebih memilih untuk tetap berada di atas kapal dan menghadapi kematian yang pasti. Meskipun kami sangat menghormati sentimen ini, kami juga akan setuju jika mereka sedikit kurang keras kepala’. 


Berbeda dengan di Indonesia (baca: Hindia Belanda) hanya pers Belanda (berbahasa Belanda dan juga ada yang berbahasa Melayu) yang sangat berkembang. Orang Indonesia (baca: pribumi) hanya sekadar turut membantu. Namun di Jepang, kekuasaan pemerintah (kerajaan) Jepang yang sangat kuat terhadap orang asing (seperti Inggris dan Belanda), pertumbuhan pers Jepang (berbahasa Jepang) begitu cepat dalam waktu singkat. Ini dapat dibandingkan dengan di Eropa seabad yang lalu, surat kabar harian di Jerman, Inggris, Belgia, dan Belanda hanya diwakili oleh beberapa surat kabar saja, dan bahwa, misalnya, London Gazelle hanya menempati setengah halaman, terbit tidak lebih dari dua kali seminggu, dan kini di Jepang oleh orang Jepang sendiri telah mengembangkan jurnalismenya secara luar biasa dalam waktu yang sangat singkat dan bahwa jurnalisme Jepang ditakdirkan untuk memberikan pengaruh yang sangat besar pada nasib kekaisaran tersebut. 


Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 17-04-1879: ‘Jepang. Menurut sebuah surat kabar Jepang, Yomiuri Shimbun, masalah perjanjian yang banyak dibicarakan dengan Amerika Utara telah sangat disederhanakan. Semua negara yang terlibat—Belanda, Prancis, Jerman, Italia, dll.—telah memberikan persetujuan mereka, hanya Inggris yang belum memberikan tanggapan. Surat kabar lain, Mainichi Shimbun, memuat berita aneh bahwa semua Menteri Residen Jepang di luar negeri akan dipanggil kembali untuk berpartisipasi dalam musyawarah tentang "ekstrateritorialitas di Jepang" seperti yang diterjemahkan oleh China Mail. Ini kemungkinan merujuk pada hubungan luar negeri Jepang, atau status hukum orang asing di Jepang’. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Surat Kabar di Jepang Berbahasa Asing (Inggris) dan Berbahasa Jepang: Di Indonesia Umumnya Surat Kabar Ditulis denganAksara Latin dalam berbagai Bahasa 

Pada tahun 1885 terinformasikan bahwa ada suatu gerakan di Jepang untuk mendukung alfabet umum (aksara Latin) dalam bahasa Jepang. Disebutkan bahwa dengan 22 huruf alfabet Eropa (aksara Latin), seseorang dapat menulis semua kosa kata Jepang. Gerakan ini juga berusaha agar para editor surat kabar Jepang mengadopsi ejaan ini dan berharap pemerintah akan mendukung upaya mereka. 


Provinciale Noordbrabantsche en 's Hertogenbossche courant, 20-06-1885: ‘Sebuah gerakan telah dimulai di Jepang untuk mendukung alfabet umum; sebuah perkumpulan telah didirikan untuk tujuan ini; perkumpulan tersebut memiliki seribu anggota dan telah menunjuk sebuah komite, yang terdiri dari empat orang Jepang dan dua orang Eropa, untuk menyusun sistem ejaan. Tugas mereka tidak sulit; dengan 22 huruf alfabet Eropa, seseorang dapat menulis semua kata Jepang. Komite tersebut saat ini sedang mengerjakan daftar kata dan buku sekolah. Mereka juga berusaha agar para editor surat kabar Jepang mengadopsi ejaan ini dan berharap pemerintah akan mendukung upaya mereka’. 

Lalu apakah gagasan penggunaan alfabet umum (aksara Latin) dalam bahasa (aksara) Jepang dapat direalisasikan? Satu yang jelas surat kabar yang diterbitkan di New York mengomentasi begitu banyaknya kesulitan dalam urusan percetakan yang tidak dikenal di negara lain. Penata huruf Jepang harus memilih jenis hurufnya dari 4.000 huruf. 


Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant, 11-04-1892: ‘Sebuah surat kabar New York menggambarkan organisasi percetakan surat kabar Jepang. Menerbitkan surat kabar di Jepang melibatkan sejumlah kesulitan yang tidak dikenal di negara lain. Aksara Jepang sebagian berasal dari aksara Cina; aksara tersebut berbentuk persegi yang terdiri dari campuran silang dan silang, segitiga dan ikal yang luar biasa. Tetapi alfabet Jepang asli, yang disebut "Kana" juga digunakan. Saat ini ada 20.000 aksara Cina (Chineesche schrift-teekens), seorang sarjana memiliki sekitar 14.000. Untuk penggunaan sehari-hari, seseorang dapat menggunakan 4.000 aksara. Semua orang tahu 47 aksara bahasa "Kana". Oleh karena itu, penata huruf Jepang harus memilih jenis hurufnya dari 4.000 huruf. Pencetakan masih dilakukan dengan mesin cetak tangan kuno. Staf sebuah surat kabar besar Jepang, seperti Nichi Nichi Shimbum, terdiri dari satu direktur politik, satu pemimpin redaksi, lima asisten editor, empat korektor, satu stenografer, dua belas reporter, tiga atau empat mandor, masing-masing dengan beberapa juru ketik di bawahnya, dua belas pencetak, dan staf yang jauh lebih kecil, sekitar 150 orang secara total’. 

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar