Selasa, 20 Januari 2026

Sejarah Bahasa Indonesia (12):Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia dalam Bahasa Asing, Sejak Kapan?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa Indonesia di blog ini Klik Disini

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nama-nama negara ditulis menggunakan ejaan bahasa Indonesia yang baku. Sebagai contoh: Belanda (bukan Netherlands), Inggris (bukan United Kingdom/England), Jerman (bukan Germany), Prancis (bukan France atau Perancis), Tiongkok (istilah baku untuk China). Baru-baru ini daftar nama negara yang mengalami penyesuaian ejaan terbaru Indonesia: Afghanistan menjadi Afganistan; Bangladesh (Banglades); Bhutan (Butan) Brunei Darussalam (Brunei Darusalam); Cabo Verde (Tanjung Hijau); Chile (Cili); Djibouti (Jibuti); Guinea (Ginea); Kazakhstan (Kazakstan); Lebanon (Libanon); Liechtenstein (Liktenstin); North Macedonia (Masedonia Utara); Paraguay (Paraguai); Thailand (Tailan); Switzerland (Swis); Uruguay (Uruguai). 


Thailand Jadi Tailan, Akankah Resmi Masuk KBBI? Ini Kata Badan Bahasa Kompas.com, 20 Januari 2026. Kompas.com. Pemerintah melalui Badan Informasi Geospasial (BIG) resmi menetapkan perubahan penulisan dan pengucapan nama negara Thailand menjadi Tailan dalam bahasa Indonesia. Perubahan ini tercantum dalam dokumen eksonim, yaitu daftar nama resmi negara-negara dunia versi bahasa Indonesia. Pembaruan tersebut dimuat dalam dokumen resmi bernomor GEGN.2/2025/122/CRP.122 yang disampaikan Indonesia pada sidang United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) di New York, Amerika Serikat, pada 28 April–2 Mei 2025. Standardisasi ini merupakan bagian dari inisiatif jangka panjang yang telah diajukan delegasi Indonesia sejak 2019. Dalam dokumen UNGEGN bertajuk “Updated World Country Names: Short and Formal Names, Submitted by Indonesia” tertanggal 10 Maret 2025, disebutkan bahwa Indonesia mulai mengumpulkan daftar lengkap nama negara dan ibu kota dunia sejak sesi perdana UNGEGN pada 2019. Upaya tersebut kemudian diperkuat pada 2024 melalui pembaruan ejaan yang lebih akurat secara ortografis (tata tulis) dan fonologis (pelafalan). Tujuan utama pembaruan ini adalah menyesuaikan penulisan nama negara asing agar selaras dengan pelafalan dan tata tulis bahasa Indonesia, tanpa menyimpang dari daftar resmi negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), seperti Thailand menjadi Tailan serta Paraguay menjadi Paraguai

Lantas bagaimana sejarah nama negara lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI)? Seperti disebut di atas, baru-baru ini ada sejumlah negara lain yang mengalami penyesuaian dalam Bahasa Indonesia. Sebaliknya, nama Indonesia di berbagai negara lain sudah ada sejak lama. Lalu bagaimana sejarah nama negara lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI)? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia dalam Bahasa Asing, Sejak Kapan?

Pada masa ini nama Indonesia memiliki variasi penulisan dan pelafalan di berbagai bahasa dunia, yang diberikan oleh komunitas internasional: Inggris: Indonesia; Arab (Indunisiya); Tionghoa (Mandarin) (Yìndùníxīyà) atau sering disingkat (Yìnní); Belanda: Indonesië; Prancis: Indonésie; Jerman: Indonesien; Jepang: Indoneshia; Korea: (Indonesia); Rusia: (Indoneziya); Turki: Endonezya; Spanyol & Italia: Indonesia; Ceko: Indonésie; Polandia: Indonézia. 


Setelah VOC dibubarkan pada tahun 1799, Kerajaan Belanda (di bawah kekuasaan Napoleon, Prancis) membentuk Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1800. Setelah pendudukan Inggris (1811-1816) Pemerintah Hindia Belanda dipulihkan. Sebelumnya, wilayah Portugis di pulau Timor sudah ditetapkan. Pada tahun 1824 dilakukan perjanjian antara Inggris dan Belanda (Traktat London 1824) yang mana wilayah Inggris di Bengkuli dilakukan tukar guling dengan wilayah Belanda di Semenanjung Malaya. Sejak inilah batas wilayah Hindia Belanda secara administratif terdefinisikan hingga berakhirnya Pemerintah Hindia Belanda tahun 1942. Selama pendudukan militer Jepang (1942-1945) digunakan nama Indonesia. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, nama Indonesia tetap dipertahankan hingga ini hari. 

Bagaimana semua itu bermula? Nama Indonesia kembali ditemukan di dalam makalah James Richardson Logan berjudul Ethnology of Indo-Pasific Islands yang dimuat pada The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia Volume VI No 4 tahun 1851 (halaman 211-243 dan 549-585). 


Yang jelas setelah nama Indonesia disebutkan dalam terbitan The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, nama Indonesia semakin kerap ditemukan pada majalah, buku dan surat kabar. Nama Indonesia semakin mantap ketika telah dimuat dalam Cyclopædia of India and of Eastern and Southern Asia, Commercial, Industrial and Scientific Vol III (1873). Dalam Cyclopædia berbahasa Inggris ini nama Indonesia berdekatan dengan entry nama Indo-Malaya. Bagaimana dengan nama Indonesia di Ensiklopedia berbahasa Belanda? Tidak terdapat nama entri Indonesia. Mengapa? Nama Indonesia masih dianggap asing bagi orang-orang Belanda. Yang sudah ada adalah Indie atau Indisch yang dalam hal ini Nederlandsch Indie (Hindia Belanda). Disebutkan dalam ensiklopedia berbahasa Inggris tersebut nama Indonesia diusulkan oleh James Richardson Logan. Juga nama Indo-Malaya diusulkan oleh Logan. Penjelasan entri Indonesia ini lebih dari dua halaman (sementara Indo-Malaya hanya satu kalimat). Sumber yang digunakan dalam ensilopedia ini untuk entry Indonesia adalah The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, Vol IV No. V dan VI (May and June 1850). 

Hal itulah mengapa (Negara) Inggris sejak awal tetap menamai (negara) Indonesia dengan mengeja nama Indonesia (bandingkan dengan penamaan Belanda: Indonesië). Seperti disebut di atas, negara lain yang menyebut dengan mengeja nama Indonesia adalah Korea, Spanyol dan Italia. Lalu mengapa (negara-negara) Arab menyebut nama Indonesia dengan mengeja Indunisiya? 


Seorang Mesir di Cairo, Yunus Qahr ad-Din tahun 1947 menulis disertasi berjudul dalam bahasa Arab yang disalin ke dalam aksara Latin sebagai “Hadihi hiya Indünïsiya: Atar al-mawadd al-awwaliyya fl mustaqbal Indünïsiya as-siyasï”. Disertasi 304 halaman ini jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut: “Bahasa mentah Indonesia: Pengaruh terhadap masa depan politik Indonesia”. Bagaimana dengan sebutan orang Indonesia untuk Mesir? Seperti kita lihat nanti, dalam kamus karya Hillebrandus Cornelius Klinkert berjudul “Nieuw Nederlandsch-Maleisch woordenboek” edisi tahun 1885: Egypte=Měşir, něgari Měşir (catatan: bahasa Arab: Miṣr atau Maṣr). Bagaimana dengan nama Cairo? Utrechtsche provinciale en stads-courant: algemeen advertentieblad, 11-08-1858: ‘Saya ingin memberikan deskripsi singkat tentang perjalanan saya di Kairo (pakai K), tidak ada salahnya jika saya menambahkan beberapa kenangan sejarah. El Moëz Leddin-Allah, yang diyakini sebagai keturunan Alo dan Fatima, nabi besar, menguasai Egypte pada tahun 969 Masehi. Menurut beberapa pendapat, ia adalah pendiri el Kaherah (yang mulia), yang oleh orang Yunani diubah menjadi Kairo; menurut pendapat lain, el Kaherah mungkin telah ditaklukkan lebih awal oleh orang Arab, dan diperluas oleh El Moèz menjadi ibukota Egypte’. Nama Mesir dan Kairo inilah yang kemudian menjadi nama dalam Bahasa Indonesia.

Sejak James Richardson dan orang Inggris menyebut dengan mengeja nama Indonesia, seorang Jerman Adolf Sebastian termasuk yang intens menggunakan nama Indonesia di dalam tulisannya seperti buku. Adolf Sebastian banyak berinteraksi dengan para penulis Belanda. Lalu kapan penyebutan dengan mengeja Indonesie bermula diantara orang Belanda? 


Seorang Belanda, PA Tiele menulis monograf panjang berjudul “De Europeërs in den Maleischen Archipel. Tweede gedeelte 1529-1540” yang dimuat dalam Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1879 (3) [volgno 2]. Dalam bagian kedua ini PA Tiele menyebut dengan mengeja nama Indonesie. Bagian pertama (Eerste gedeelte) artikel tersebut dengan judul “De Europeërs in den Maleischen Archipel. T Eerste gedeelte 1509-1529” dimuat dalam Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1877 (1). Pieter Anton Tiele lahir di Leiden 18 January 1834 seorang pustakawan di Universiteit te Utrecht. Bukunya yang terkenal berjudul “De Opkomst van het nederlandsch Gezag in Oost-Indie yang diterbitkan tahun 1886. Bukunya sebelum itu berjudul “De Vestiging der Portugeezen, in Indie” yang diterbitkan pada tahun 1873. 

PA Teile diduga adalah orang Belanda terawal menyebut dengan mengeja nama Indonesie. Lalu klemudian muncul S Coolsma yang mengeja dengan nama Indonesia dalam bukunya kamus “De Soendaneesche bijbelvertaling” yang ditulis tahun 1880. H Kern, ahli bahasa yang namanya terkenal di Hindia Belanda menulis buku berjudul “De Fidjitaal vergeleken met hare verwanten in Indonesïë en Polynesië” yang diterbitkan tahun 1886. Kern tidak hanya menyebut nama Indonesie di dalam bukunya, juga nama Indonesie menjadi nama judul. Dalam hal ini, Logan menulis dengan nama Indonesia, demikian juga Adolf Sebastian, lantas mengapa penulis Belanda mengeja nama Indonesia dengan nama Indonesie? 


Fakta bahwa banyak orang Jerman yang bekerja dengan Kerajaan Belanda maupun Pemerintah Hindia Belanda. Satu nama yang terkenal sejak awal adalah Dr FW Jung Huhn. Sarjana-sarjana Jerman yang bekerja dengan Pemerintah Hindia Belada umumnya dokter dan insinyur. Nama orang Jerman lainnya yang juga terkenal Dr Hoffner, Dr Muller, Dr Bleker. 

Orang Jerman pertama yang menulis nama Indonesia dalam bahasa Jerman diduga kuat adalah Adolf Bastian sendiri. Adolf Bastian menulis artikel dalam bahasa Jerman berjudul “Indonesien oder die Insein des Malayischen Archipels, Erste Lief. Die Molukken diterbitkan di Berlin tahun 1884. Adolf Bastian cukup lama di Hindia dalam riset lapangan dan selama dua bulan di Batavia dimana berada Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. 


De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 30-06-1884: ‘Indonesien oder die Insein des Malayischen Archipel’, Berlin, Penerbit Dummler, 18S4. Profesor Bastian bermaksud untuk menyusun petualangan perjalanan dan studinya menjadi sebuah buku enam bagian, yang dijanjikan penerbit akan diterbitkan secara keseluruhan dalam waktu dua hingga tiga tahun. Bagian pertama membahas Maluku; Bagian selanjutnya akan didedikasikan untuk Sulawesi dan Borneo, Timor, Letti, Kiser, Sumbawa hingga Bali serta Sumatra beserta wilayah-wilayah yang bergantung padanya. Karya ini memiliki ciri khas Profesor Bastian yang terkenal, yaitu: unggul dalam ketelitian, tetapi tidak dalam gaya yang jelas….Tidak kalah menakjubkannya adalah studi sumber yang telah dilakukan oleh Profesor Bastian, dan mengejutkan pula hasil yang ia peroleh dengan membandingkan spiritualitas penduduk asli Maluku dengan spiritualitas orang lain di Asia dan juga di Eropa. Bagi beberapa orang di Hindia, buku ini masih memiliki daya tarik karena kemurahan hati mereka dikenang dengan penuh rasa terima kasih oleh penulis. Keramahtamahan "van Munnik" Presiden Ternate, dan sambutan hangat di lingkungan keluarga Steinbrugge di Batavia, Konsul Don Erdmann di Semaiang, Konsul von Bült-ensöwen di Surabaya, dan Stefan di Padang diakui dengan penuh rasa terima kasih. Atas pengakuan terhormat atas dimasukkannya ke dalam "Bataviaasch Genootschap" yang secara tradisional berjasa dan sambutan baik dari para anggota, dari presiden der Kinderen, dari sekretaris saat itu van der Chijs, dari pustakawan Albrecht dan dari para pria terhormat Groeneveld dan Holle, yang keduanya pada saat itu sibuk dengan pekerjaan ilmiah mereka, yang pertama tentang hubungan awal orang Cina dengan kepulauanr, yang kedua tentang alfabet di Hindia Timur—untuk semua itu, kata penulis, saya berkesempatan untuk belajar selama dua bulan yang saya habiskan di Batavia’. 


Nama Indonesia jelas masih terbilang baru. Orang Inggris memperkenalkannya pada tahun 1850. Penyebutan dengan mengeja Indonesia oleh orang Inggris, juga diikuti oleh orang Spanyol dan orang Italia. Lantas mengapa Belada mengejanya dengan nama Indonesie dan Jerman dengan nama Indonesien? Sebagaimana orang Belanda, orang Prancis juga menyebut dengan mengeja nama Indonesia. Lalu mengapa nama yang sama disebut dengan mengeja yang berbeda diantara bahasa-bahasa? 


Diantara orang Belanda sendiri juga ada yang menyebut nama Indonesia dengan mengeja Indonezie. Misalnya seoarang Jerman I Groneman yang sudah lama berada di Hindia Belanda. I Groneman memulai karir sebagai dokter pemerintah di Preanger (semasa FW Jung Huhn). I Groneman kemudian menjadi dokter pribadi Sultan Djogja. Hingga awal abad ke-20 J Groneman masih berada di Djogjakarta sebagai peminat benda-benda kepurbakalan. J Groneman menulis buku berjudul “Boeddhistische tempelbouwvallen in de Prågå-Vallei: De Tjandi's Båråboedoer, Mendoet en Pawon” diterbitkan tahun 1907 oleh penerbit van Dorp (di Batavia). Dalam buku ini J Groneman menyebut dengan mengeja nama Indonezie. 

Nama Indonesia yang diperkenalkan Logan (sejak 1850) telah menjadi sangat umum di dunia akademik, nama yang merujuk pada nama Indischen Archipel (Kepulauan Hindia). Tijdschrift van het Aardrijkskundig Genootschap, 1911 menyusun pembagian sebagai berikut: Oost-Indische Archipel (Java, Sumatra, Borneo. Celebes, Molukken, Kleine Soenda-eilanden, Nieuw-Gruinea); Indonesië, buiten het Nederlandsch gebied (Britsch-en Duilsch Nieuw-Guinea, Maleische Schiereiland). Pembagian ini mengindikasikan (wilayah) Indonesia pada masa ini (tidak termasuk Papua Nugini dan Semenanjung Malaya). 


Satu yang penting dalam perjalanan nama Indonesia tersebut adalah seorang guru besar di Leiden Prof Cornelis van Vollenhoven yang telah banyak melakukan studi hukum adat di Hindia Belanda juga telah manamai wilayah Hindia Belanda sebagai nama Indonesia. Buku Prof Cornelis van Vollenhoven yang berisi hasil penyelidikan hukum adat di Indonesia sejak 1906 berjudul “Het adatrecht van Nederlandsch-Indie” yang diterbitkan oleh Drukker/Uitgever Brill. Buku sejenis juga pernah ditulis oleh Ph Kleintjes dengan judul “Het staatsrecht van Nederlandsch-Indie” diterbitkan tahun 1912 oleh Drukker/Uitgever JH de Bussy. Hendrik Martin Kits van Heijningen menulis disertasi dalam bidang hukum di Universiteit te Leiden dengan judul “Het straf- en wraakrecht in den Indischen Archipel” (Hukum Pidana dan Balas Dendam di Kepulauan Hindia) yang lulus meraih gelar doktor pada tanggal 3 Juli 1916. Di dalam disertasi ini tidak terdapat nama Indonesia, tetapi hanya disebut Indologen (kajian akademik mengenai sejarah, budaya, bahasa, sastera, hokum dan lainnya yang berada di Hindia). Dalam bidang hokum, tampaknya Prof Cornelis van Vollenhoven yang pertama menyebut nama Indonesia dengan mengeja Indonesie. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Nama Indonesia dalam Bahasa Asing, Sejak Kapan? Hindia Belanda (Nederlandsch-Indië) bukan Suatu Negara, tetapi Suatu Provinsi Dipimpin Gubernur (Jenderal).  

Nama Indonesia sejak 1850 sudah semakin mantap dari waktu ke waktu (terutama di dunia akademik). Guru besar hukum di Leiden Prof Cornelis van Vollenhoven telah mengadopsi nama Indonesia (dengan mengejanya sebagai Indonesie) dalam berbagai studinya tentang adatrecht (hukum adat). Lantas bagaimana orang Belanda menyebut nama (kerajaan) Belanda? 


Dalam sejarah (kerajaan) Belanda, nama (kerajaan) telah beberapa kali muncul dengan nama yang berbeda: Nederland, Neerland, Holland. Dalam konteks ini pernah muncul Nama (repubklik) Batavia dan nama Netherland. Pada masa Portugis wilayah (kerajaan) Belanda yang masih terpisah-pisah terdapat tiga nama utama: Hollandt, Zeelandt dan Vrieslant (lihat “Die cronycke van Hollandt, Zeelandt ende Vrieslant, met die cronike der biscoppen van Uutrecht (Divisiekroniek)” door Cornelius Aurelius, 1517. Perhatikan cara mengejanya masih meinggunakan huruf terakhir t. “Morghen-wecker der vrye Nederlantsche Provintien” door Willem Baudartius, 1610. Nama Nederlant sudah muncul (perhatikan huruf terakhir t). “Beschrijvinghe van alle de Neder-landen” door Lodovico Guicciardini, 1612. Perhatikan perubahan huruf t menjadi huruf d. 

Tidak pernah terinformasikan orang Belanda sejak era VOC yang mempertanyakan mengapa di Hinda Timur mereka disebut dengan nama Belanda. Orang Belanda hanya menerima nama Belanda begitu saja. Apakah hal itu karena tidak penting bagi orang Belanda? Tampaknya tidak. Mengapa? Sebab sampai sejauh ini tidak ada yang mengetahui mengapa (orang) Hollander atau (orang) Nederlander disebut orang Belanda. 


Selama ini kita hanya membicarakan (menyelidiski) mengapa dan bagaimana orang Eropa memberi nama tentang berbagai nama tempat di Indonesia seperti Oost Indiisch (Hindia Timur), Batavia (Jakarta), Butenzorg (Bogor), Fort de Kock (Bukit Tinggi) dan lain sebagainya. Sebaliknya banyak nama tempat di Eropa yang tidak dikenal di Eropa tetapi memiliki nama sendiri di Indonesia seperti Belanda. Bagaimana dengan nama Inggris, Spanyol dan Prancis? 

Di Indonesia sejak era VOC nama Holland/Nederland disebut dengan beberapa versi: Holanda, Belanda, Wlanda, Wolanda, Bolanda. Nama Wolanda muncul di Maluku, nama Wlanda atau Landa (adakalnya dieja: Londo) muncul di Jawa dan nama Bolanda muncul di Tanah Batak. Penyebutan dengan lafal Wlanda, Wolanda dan Bolanda diduga kuat merujuk pada penyebutan nama Belanda. Nama lainnya yang muncul di Indonesia sejak era VOC adalah Holanda. Akan tetapi nama Holanda ini sendiri merujuk pada nama Holland. Bagaimana dengan nama Belanda sendiri? Nama Belanda sejatinya bukan merujuk pada nama Holanda atau Holland. Lantas bagaimana duduk soal yang sebenarnya? 


Nama Holanda terdapat dalam literatur orang/bahasa Portugis. Oleh karena mereka sesama Eropa, namun dengan bahasa dan aksen yang berbeda dengan Holland, orang Portugis (dan orang Spanyol) menyebut dengan lafal Holanda. Bagaimana orang Holland menyebut nama Jerman? Yang jelas orang Inggris menyebut Jerman dengan nama German, orang Italia dengan nama Tedesco dan orang Belanda dengan nama Duits (ejaan lama: Duyts). Orang Portugis menyebut Jerman dengan nama Alemao (Prancis: Allemand; Spanyol: Aleman). Jika orang Portugis menyebut Holland dengan nama Holanda, Spanyol menyebut dengan nama berbeda yakni Países Bajos. 

William Shakespeare (1582–1616) tampanya keliru meremehkan arti sebuah nama. Faktanya nama menjadi penting dalam sejarah. Lebih-lebih pada masa ini untuk menavigasi nama-nama tempat di masa lalu. Jika orang Indonesia menyebut Holland/Nederland dengan nama Belanda, lantas bagaimana orang Indonesia menyebut dengan nama Prancis. 


Orang Inggris menyebut dengan nama French, orang Jerman dengan nama Französisch. Sementara orang Prancis sendiri menyebut dengan nama Français dan orang Belanda dengan Frans. Sedangkan orang Portugis dan orang Spanyol dengan nama Frances. Lalu, orang Inggris menyebut Spain, orang Belanda menyebutnya dengan Spanje dan orang Jerman dengan Spanien, orang Portugis dengan nama Espanha. Selanjutnya, orang Portugis menyebut Portuguese, tetapi orang Jerman dengan nama Portugiesisch dan orang Prancis dengan nama Portugais serta orang Holland dengan nama Portugees. 

Lantas bagaimana muncul nama Belanda di Indonesia? Seperti disebut di atas, nama Holland disebut orang Portugis dengan nama Holanda. Lalu apakah nama Belanda di Indonesia merujuk pada sebutan orang Portugis? Yang jelas secara morfologis Belanda dan Holanda berbeda. Sebutan orang Portugis dengan nama Holanda lebih tepat menurunkan nama Wolanda (Maluku) dan Bolanda (Batak) dan Wlanda (Jawa). Penyebutan Holland dengan nama Belanda sangat khas. 


Orang Eropa pertama di Hindia Timur adalah pelaut Portugis dan pelaut Spanyol. Namun orang Spanyol lebih terkonsentrasi di pulau-pulau di Filipina. Orang Portugis sejak kehadirannya di Malaka tahun 1511 yang kemudian tahun itu juga pelaut-pelaut mencapai Maluku. Pada masa ini nama Portugis (merujuk pada penduduk) dan nama Portugal (merujuk pada tanah). Figafetta dalam pelayaranya ke Maluku di dalam bukunya yang ditulis dalam bahasa Prancis menyebut nama Portugais dan juga menyebut nama Portugal. Sultan Ternate dalam suratnya pada tahun 1521 menyebut nama Portugal, surat yang ditujukan kepada Radja Portugal. Dalam hal ini, seperti disebut di atas, orang Portugis menyebut Portuguese, tetapi orang Prancis dengan nama Portugais. Lalu mengapa sejak era VOC muncul nama Portugis di Indonesia? Boleh jadi karena orang Belanda menyebutnya dengan nama Portugees (pelafalannya kurang lebih sama dengan Inggris dan Portugis sendiri). Dalam surat kabar berbahasa Belanda Tijdinghe uyt verscheyde quartieren, 26-10-1624 ditulis dengan Portugees. 

Nama Belanda terinformasikan di Belanda bukan sebagai suatu nama negeri atau bangsa. Pada tahun 1785 terinformasikan nama Belanda, akan tetapi sebagai nama orang (lihat Zuid-Hollandsche courant, 29-07-1785), Disebutkan (dalam berita kapal) J Antonio de Belanda berangkat ke Bilbao. Nama JA de Belanda masih terinformasikan pada tahun 1802 (lihat Bataafsche Leeuwarder courant. 25-09-1802). 


Nama Belanda paling tidak terinformasi pada tahun 1676 (lihat Wouter Schoutens Oost-Indische voyagie, 1676), Nama Belanda yang disebutkan dalam buku tersebut berkaitan dengan navigasi pelayaran. Dengan demikian, nama Belanda sejauh ini dihubungkan dengan nama orang dan nama yang terkait dengan navigasi pelayaran. Nama Belanda ditemukan dalam kamus bahasa Italia (lihat Dizionario italiano-tedesco e tedesco-italiano, 1803). Pada lema ‘Belanda’ ditulis ‘f.f. fleines flaches Fahrzeug der Niederlander. Dalam Vocabolario universale italiano compilato a cura della società Tipografica Tramater e Ci, 1829, Vol 1, Napoli, 1829) ditulis BELANDA. (Marín.) Be-làn- da, Belandra. Sf. Specie di bastimento che serve molto nel commercio agl' Inglesi ed agli Olandesi. Dalla part. maepar. be che preaso gl ' Inglesi e talvolta superflua, e da lund approdare; val dunque Cheapproda) (S) (0). Dalam hal ini ‘Belanda’ diartikan sebagai suatu jenis kapal yang banyak berguna bagi Inggris dan Belanda dalam perdagangan. 

Nama Belanda dalam hal ini, memang ada nama orang, tetapi nama Belanda lebih dikaitkan suatu jenis kapal yang biasanya digunakan orang Inggris dam orang Holland/Nederland. Dengan mengacu pada kamus-kamus Italia tersebut, bersesuaian dengan nama Belanda yang dicatat dalam buku berjudul Wouter Schoutens Oost-Indische voyagie yang diterbitkan pada tahun 1676. 


Dalam sejarah Hindia Timur, seperti disebut di atas, pelaut-pelaut Portugis yang pertama mencapai Hindia Timur (1511) dan kemudian disusul pelaut Spanyol (1521). Pelaut Belanda pertama kali ke Hindia Timur dalam ekspedisi dipimpin oleh Cornelis de Houtman (1595-1597). Sejak itu semakin intens ekspedisi-ekspedisi Belanda ke Hindia Timur. Pada tahun 1605 satu skuadron Belanda dipimpin Admiral van Hagen menyerang benteng Portugis di Amboina dan lalu mendudukinya. Pada tahun 1613 pelaut Belanda menyerang Portugis di Solor dan Koepan sehingga orang-orang Portugis bergeser ke bagian timur pulau Timor. Sejak ini kekuatan Portugis di Maluku dan Nusatenggara semakin memudar. Setelah memindahkan pos perdagangan utama dari Amboina ke Batavia, pelaut Belanda (VOC) pada tahun 1641 menyerang Portugis di Melakan dan mendudukinya. Habis sudah benteng-benteng Portugis di Hindia Timur (kecuali tersisa di Timor bagian timur dan Macao) dan kekuatan Portugis sangat minim.  Meski demikian, pelaut/pedagang Portugis masih lalu lalang di Hindia Timur untuk berdagang di sejumlah pelabuhan dagang tertentu termasuk pelabuhan Bantam dan pelabuhan Gowa. 

Lalu bagaimana nama Belanda muncul di Indonesia sejak era VOC? Besar dugaan, nama Belanda diperkenalkan orang-orang Portugis di Hindia Timur pada saat mana kehadiran pelaut-pelaut Holland/Nederland. Bagaimana cara orang Portugis memperkenalkan nama Belanda? Besar dugaan orang Portugis yang sudah cukup lama di Hindia Timur mengidentifikasi orang Belanda sebagai pelaut asing (non Portugis) yang menggunakan sejenis kapal yang disebut Belanda. Oleh karena pedagang Portugis terdapat di seluruh Hindia Timur maka jenis kapal yang disebut Belanda ini cepat meluas sebagai orang Belanda. 


Java-post; weekblad van Nederlandsch-Indie, jrg 3, 1905, no. 48, 02-12-1905: ‘Bahasa. Portugis mengajari koloninya bahasa Portugis. Bayangkan Brasil, antara lain. Bahkan di sini, di mana orang Portugis hanya tinggal sebentar, bahasa mereka bertahan lama. Pada abad ke-17 bahasa ini bahkan diucapkan dengan baik di istana Goa di "kerajaan Makassar", di mana sekarang, bahasa Melayu bahkan tidak diperbolehkan untuk diajarkan kepada para pangeran muda, hanya - konon - untuk menjaga jarak lebih jauh dari Belanda. Apa yang dilakukan orang Portugis, orang Spanyol juga melakukannya di Meksiko, dll., Orang Inggris di Amerika Utara, orang Prancis di Kanada, penduduk asli lebih suka disembunyikan sebanyak mungkin, itu pasti karena tidak ada kata-kata Spanyol yang bisa diperoleh darinya. Sekarang segala sesuatunya dalam bahaya menjadi sesuatu yang berbeda "empat" bersinar, sehingga kata "berlebihan" tidak terdengar terlalu kuat untuk menunjukkan upaya mereka dalam hal ini’. Tampaknya begitu, atau tidak. Belanda dan bagi negara serta bagi daerah jajahannya, segala hal baik dapat diharapkan’. 

Sehubungan dengan kehadiran pelaut-pelaut Holland/Nederland di Hindia Timur, nama Belanda muncul merujuk pada jenis kapal yang mereka gunakan. Sejak inilah diduga kuat orang Indonesia menyebut (orang) Hollander/Nederlander sebagai orang Belanda. Lalu bagaimana orang Holland/Nederland mengetahui mereka disebut orang Indonesia dengan nama Belanda? Tentu saja orang Holland/Nederland lambat laut mengetahuinya dari berbagai penduduk Indonesia di Hindia Timur. Orang Portugis sendiri menyebut (orang) Holland sebagai (orang) Holanda. 


Nama Belanda muncul dalam literatur ber bahasa Belanda terdapat dalam buku kamus berjudul “Noodzakelijk handboek der Laag Maleische taal voor Nederlanders, die naar Ooost Indië wenschen te gaan” oleh Philippus Pieter Roorda van Eijsinga yang diterbitkan pada tahun 1840. Dalam kamus ini kosa kata “Holland” diartikan penduduk pribumi (bahasa Melayu) sebagai “negri belanda”; “hollandsch=tjara belanda”; “Hollander=orang belanda”; “kalkoen=hajam belanda”. Pieter Roorda van Eijsinga adalah guru besar bahasa dan sastra di Delft. Kamus tersebut dapat dikatakan kamus pertama bahasa Melayu yang menyebut nama Belanda. 

Jadi dalam hal ini sebutan nama Belanda (untuk kerajaan Belanda) adalah asli kosa kata penduduk asli Indonesia (yang diturunkan dari sebutan nama jenis kapal semasa Portugis). Lalu bagaimana dengan sebutan nama Inggris? 


Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 22-08-1868: ‘Soerat maäloemat darie pada yang mengaloearkan Sumatra-Courant inie. Bahoea ada la raarilu itoe ijang moeram, oleh kerna banjak soerat bapernjataan (advertensien) ijang patost die njatakan die dalam , Sumatra-Courant dalam babasa malaijoe, tiada die njatakan sadaraikian, maleinkan die dalam babasa Walanda sahadja, djadie orang orang Tjina, atawa Malaijoe, dan Kling, tiada tahoe banjak hal, ijang patoet die ; tahoekan olehnja. Oleh kerna itoe la maka kamie membrie taboe kapada sakalian toean toean, babasa boelie die masok-kan sakahandak hatie die dalam Sumatra-Courant inie, sakalian soerat bapernjataan, (ya/a advertentie namarija) die dalam bahasa Malaijoe, atawa Walaiida, atawa Inggris, dan Fransman adanja. Dan djikaloe die kirim kapada kamie die dalam bahasa malaijoe, atawa lain lain babasa, dan maoe die soeroe salin poela dan die masok-kan poela die dalam lain lain bahasa, boelie Ia kamie saÜa akan dia ijang barkahandak sadamikian adanja. LNHA Chatelin’. 

Dalam kamus Prof Philippus Pieter Roorda van Eijsinga (1840) tidak terdapat sebutana nama Inggris. Nama Inggris paling tidak sudah terinformasikan pada tahun 1868 (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 22-08-1868). Nama Inggris oleh penduduk diduga merujuk pada kosa kata bahasa Inggris sebagai English (dari England). 


Sebutan nama Inggris masuk dalam kamus Hillebrandus Cornelius Klinkert berjudul “Nieuw Nederlandsch-Maleisch woordenboek” yang diterbitkan oleh Uitgever EJ Brill pada tahun 1881. Dalam kamus berbahasa Belanda ini disebutkan Engelsch (uit Engeland) sebagai “Inggris”; “kapal Inggris”; “bir Inggris”, “andjing Inggris”; “bahasa Inggris” (Engelsche taal); “parampoewan Inggris” (Engelsche); “orang Inggris” (Engelschman); “garam Inggris”; dan lainnya. 

Bagaimana dengan nama Prancis dan Jerman? Satu yang jelas, kamus bahasa Melayu umumnya dalam bahasa Belanda. Tidak terdapat nama Prancis dan Djerman dalam dunia kamus Prof Philippus Pieter Roorda van Eijsinga dan kamus  Hillebrandus Cornelius Klinkert. Lalu kapan muncul nama Prancis dan Jerman? 


Nama “djerman” muncul pertama dalam karya Hillebrandus Cornelius Klinkert yang berjudul “Conversatie-boek voor het Maleisch, bevattende vijf duizend alfabetisch geordende zinnen en een paar gesprekken” yang diterbitkan tahun 1881 oleh Uitgever HM Van Dorp. Dalam buku ini tidak terdapat nama Prancis. Nama “djerman” sudah dimasukkan dalam kamus Hillebrandus Cornelius Klinkert berjudul “Nieuw Nederlandsch-Maleisch woordenboek” edisi tahun 1885. Dalam kamus ini “Duitsch=djěrman, verb.; Duitscher, orang djěrman; Duitschland=nëgeri djerman. Dalam kamus ini terdapat nama-nama: Egypte=Měşir, něgari Měşir (catatan: bahasa Arab: Miṣr atau Maṣr); Italiaan=orang Itali, Italiaansch=Itali, Italië=nëgari Itali; Japan=něgari djěpoen. Portugal=negari Portoegal, Portugees= orang Portoegis; Spaansch= Ispanjol. 

Nama Prancis baru muncul dalam kamus berjudul “Van Goor's miniatuur Maleisch woordenboek: Maleisch-Nederlandsch en Nederlandsch-Maleisch” oleh AA Fokker tahun 1900 diterbitkan Drukker/Uitgever Van Goor. Dalam kamus ini “Djerman=n. b. dan n. kn Duitsch, Duitscher (örang—); negri—, Duitschland. Dalam kamus ini disebut nama Prancis: “Prantjis, tl. kn Port. Fransch; n.b. negrï —, Frankrijk; örang—, Franschman”. Sebutan Prancis berasal dari bahasa Portugis. 


AA Fokker adalah seorang Indo. AA Fokker lahir di Kramat, Batavia. Setelah menyelesaiakan HBS di Batavia, AA Fokker berangkat ke Belanda. Setelah mendapat sarjana kembali Hindia. Setelah beberapa tahun sebagai pegawai pemerintah, AA Fokker berangkan lagi Belanda untuk studi. AA Fokker meraih gelar doktor dalam bidang bahasa di Leiden tahun 1896. 

Kamus Hillebrandus Cornelius Klinkert berjudul “Nieuw Maleisch-Nederlandsch woordenboek: Met Arabisch karakter Naar de laatste bronnen bewerkt” edisi 1902 (Brill): përantjis, fransch; nëgari përantjis, Frankrijk; orang përantjis, franschman; djerman, Eng. german, duitsch ; orang djerman, duitscher; nëgari djerman, Duitschland. CA van Ophuijsen berjudul “Kitab logat melajoe: Woordenlijst voor de spelling der Maleische taal met Latijnsch karakter” tahun 1903 juga sudah disebut nama Djerman dan Perantjis. Nama Perantjis ada huruf e bakti. 


CA van Ophuijsen adalah seorang Indo, lahir di Sumatra. Setelah menyelesaikan sekolah dasar (ELS) berangkat studi ke Belanda. Setelah menyelesaikan sekolah menengah (HBS) kembali ke Hindia dan menjadi pegawai pemerintah ditempatkan di Panjaboengan pada tahun 1875. Namun tidak lama kemudian, di Panjaboengan, CA van Ophuijsen lebih memilih menjadi guru. Pada tahun 1879 CA van Ophuijsen mengikuti ujian guru dan ditempatkan di sekolah guru (kweekschool) di Probolinggo. Pada tahun 1881 CA van Ophuijsen dipindahkan ke sekolah guru di Padang Sidempoean. Pada tahun 1884 CA van Ophuijsen menjadi direktur sekolah hingga 1889. Selama di Padang Sidempoean CA van Ophuijsen banyak menghasilkan karya dalam bahasa Batak dan bahasa Melayu. Sejak tahun 1890 CA van Ophuijsen diangkat sebagai Inspektur Pendidikan Pribumi di Pantai Barat Sumatra di Padang. Seperti disebut di atas, karyanya terbit pada tahun 1902 (dan kemudian dijadikan pemerintah sebagai pedoman di seluruh sekolah pemerintah). Pada tahun 1904 CA van Ophuijsen diangkat sebagai guru besar bahasa Melayu di Leiden. Satu keutamaan CA van Ophuijsen adalah membuat standardisasi ejaan yang kemudian dikenal sebagai ejaan van Ophuijsen. 


Nama-nama Belanda, Inggris, Djerman dan Prancis semakin dikenal diantara penduduk Indonesia. Demikian juga dengan nama Indonesia. Dalam konteks inilah kemudian mulai muncul diantara mahasiswa Indonesia yang tengah studi di Belanda melihat nama Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda) sebagai nama wilayah Indonesia (bagian dari Belanda), sebagai nama yang tidak sesuai dengan orang Indonesia. Sementara nama Indonesia sudah semakin cocok dijadikan sebagai nama wilayah nenek moyang sendiri.


Jumlah mahasiswa Indonesia di Belanda dari waktu ke waktu semakin banyak. Pada tahun 1908, Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan mendirikan organisasi mahasiswa Indonesia dengan nama Indische Vereeniging (Perhimpoenan Hindia). Soetan Casajangan menjadi presiden pertama. Pada tahun 1917 di Belanda diadakan Kongres Hindia (yang pertama) yang meliputi semua mahasiswa asal Hindia (pribumi, Cina dan Indo/Belanda). Dalam rapat pengurus Indische Vereeniging yang dipimpin oleh Notodiningrat sepakat menunjukkan Dahlan Abdoellah sebagai pemakalah dari pihak Indische Vereeniging. Satu yang penting dalam rapat ini bahwa nama Indonesia diusulkan sebagai nama untuk menggantikan nama Hindia Belanda (Nederlandsc Indie). Dalam kongres yang dipimpin oleh HJ van Mook forum menerima usul Indische Vereeniging untuk diadopsi nama Indonesia. Pada kongres tahun berikutnya pada tahun 1918, nama kongres sudah disebut Kongres Indonesia. Sejak inilah nama Indonesia diangkat sebagai nama wilayah Hindia Belanda. 

Nama Indonesia dengan cepat viral. Selama ini nama Indonesia hanya terbatas di dalam dunia akademik. Namun setelah Kongres Hindia pada tahun 1917, dengan cepat nama Indonesia menyebar diantara orang pribumi baik di Belanda maupun di Hindia. Demikian juga diantara orang Belanda maupun orang Cina. Orang-orang pribumi menggunakan nama Indonesia untuk nama perkumpulan, nama perusahaan dan nama penerbitam. Nama Indonesia ini kemudian memasuki ruang parlemen di Belanda dan di Hindia. 


Utrechtsch provinciaal en stedelijk dagblad, 01-11-1921: ‘Staten Generaal. Tweede Kamer. Pertemuan Selasa, 1 November. Dibuka pukul 01.10. Ketua: DAPN Koolen. Agenda rapat. Hasil rapat: Revisi Konstitusi. Rancangan undang-undang untuk mempertimbangkan usulan amandemen Bab 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, dan 11, serta Pasal Tambahan Konstitusi ada dalam agenda. Dalam Bab I, Bapak Marchant (v. d.) menganjurkan amandemen untuk membaca Pasal 2 Konstitusi sebagai berikut: "Kerajaan Belanda terdiri dari Kerajaan di Eropa, Hindia Belanda, Suriname, dan Curaçao." Ketua Parlemen menunjukkan bahwa rancangan undang-undang pemerintah memberikan deskripsi geografis (wilayah Belanda) dan deskripsi politik (Hindia Belanda, Suriname, dan Curaçao). Hal ini harus disatukan dengan memilih istilah politik untuk semua bagian kerajaan. Kata "Koloni" harus dihapus dari Konstitusi. Hal itu tidak tepat mengingat perkembangan politik masa depan bagian-bagian kerajaan di luar Eropa. Marchant juga menunjuk pada beberapa pernyataan mantan Menteri Koloni, Idenburg, yang menyatakan pendapat bahwa setiap revisi konstitusional tentu harus mempertimbangkan perkembangan Hindia Belanda. Marchant mencatat bahwa partainya mengajukan amandemen yang menyatakan dua tuntutan positif, yaitu: 1. pemerintah harus mendengarkan badan perwakilan Volksraad (parlemen di Hindia), dan 2. wewenang Volksraad untuk mengirim perwakilan ke Tweede Kamer (parlemen di Belanda). Marchant selanjutnya menyatakan bahwa Komite Revisi, yang terdiri dari para ahli kelas satu tentang negara tersebut, ingin memasukkan wilayah seberang laut ke dalam bab baru Konstitusi. Komite Revisi ini juga percaya bahwa kata "koloni" harus dihapus dari Konstitusi, karena rakyat Hindia menganggap kata ini sebagai penghinaan, suatu penghinaan. Hindia bukanlah koloni dan menuntut pengakuan atas haknya. Marchant merasa aneh bahwa seorang Menteri Koloni yang pandangannya tentang pemerintahan Hindia telah berubah dalam lima tahun sekarang menggunakan hukum Inggris dari tahun 1889. Marchant menganggap permohonan ini lebih aneh lagi karena hukum tersebut secara khusus mengecualikan India Britania, yang menunjukkan bahwa Inggris telah menyadari 32 tahun yang lalu bahwa kata "koloni" tidak berlaku untuk India. Akhirnya, Ketua menyatakan bahwa kata "Nederlandsche Indië" (Hindia Belanda) dipertahankan dalam amandemennya. Menghapus kata "Nederlandsch" (Belanda) dapat menimbulkan kesan bahwa Belanda atau Hindia Belanda seharusnya malu dengan nama ini. Van Ravesteijn (C.P.) membela, mengusulkan amandemen, yang bertujuan untuk membaca Pasal 1 sebagai berikut: " Koninkrijk Nederlands meliputi wilayah Eropa dan wilayah Indonesia (disebut nama Indonesia!), Suriname, dan Curaçao". Pertama, ia mencatat bahwa ia akan menganggapnya sudah pasti jika Menteri Koloni hadir hari ini. Amandemen yang diajukan oleh Ketua memiliki empat tujuan. Yang pertama adalah bahwa segala sesuatu yang menghambat perkembangan bebas Hindia Belanda harus dihapus dari Konstitusi. Tujuan kedua adalah bahwa istilah "Koninkrijk Nederlands" tidak boleh lagi digunakan, tetapi "Rijks Nederlands" karena kita tidak tahu seberapa cepat Hindia Belanda dapat berkembang, sehingga ada kemungkinan bahwa Hindia Belanda akan segera menjadi sebuah kerajaan. Konstitusi harus memberikan kesempatan untuk perkembangan ini. Lebih lanjut, istilah "subordinasi" seharusnya tidak digunakan, melainkan "pengaturan wilayah kolonial." Istilah "koloni" harus dihapus dari Konstitusi untuk menghilangkan segala gagasan subordinasi. Keempat, Ketua menyatakan bahwa pasal tersebut harus mencakup definisi teritorial. Opini publik penduduk asli Hindia adalah bahwa terminologi nama tersebut harus menunjukkan wilayah yang merdeka. Oleh karena itu, Ketua berpendapat bahwa nama "Indonesie" jauh lebih disukai. Namun, amandemen tersebut merujuk pada "Indonèsie" karena ini adalah kata dalam bahasa Belanda. Jika Ketua dituduh tidak konsisten, ia tetap akan cenderung mengganti "Indonesie" dengan "Indonesia". Dst’. 

Pada tahun 1922 di Dewan Pusat di Batavia (Volksraad) muncul usulan (mosi) untuk penggunaan nama Indonesia untuk Hindia Berlanda. Namun sempat deadlock karena nama itu akan bertentangan dengan Undang-Undang. Lalu diadakan voting. Hasilnya sangat tidak terduga. Hanya tiga suara yang menyatakan mendukung dan selebihnya menolak. Namun yang tidak terduga lagi tiga orang yang mendukung tersebut adalah anggota dewan yang berasal orang Eropa/Belanda. Bagaimana dengan anggota dewan pribumi? Yang jelas Hasil Kongres Hindia tahun 1917 di Belanda tidak berlanjut sukses di sidang umum Volksraad di Batavia.


Setelah nama Indonesia diadopsi oleh orang Indonesia pada tahun 1917, organisasi mahasiswa pribumi di Belanda tahun 1921 yang diketuai oleh Dr Soetomo mengubah nama Indische Vereeniging dengan nama Indonesia Vereeniging, lalu pada tahun 1924 nama di Belanda tahun 1921 yang diketuai oleh Dr Soetomo mengubah nama Indische diubah lagi dengan nama Perhimpoenan Indonesia. Pada tahun 1924, Dr Soetomo mendirikan klub studi dengan Indonesia Clubstudie. Pada tahun 1926 di Batavia para pemuda Indonesia melakukan kongres yang mana sebagai persatuan dikukuhkan bahasa Melayu. Pasca kongres mulai muncul gagasan perubahan nama bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan Indonesia dengan nama Bahasa Indonesia. Dalam Kongres Pemuda tahun 1928, nama Bahasa Indonesia diikrarkan bersama dengan pengakuan satu tanah air dan satu bangsa: Indonesia. 

Nama Indonesia tidak hanya telah membumi diantara orang Indonesia, juga nama Indonesia sudah digunakan secara sadar untuk berbagai entitas. Nama Indonesia dengan sendirinya telah berubah menjadi nama perjuangan. Sementara diantara orang Belanda sudah banyak yang menerima nama Indonesia, tetapi di dalam konstitusi belum diadopsi. Oleh karena itu, nama Hindia Belanda bersaing dengan nama Indonesia. Dalam fase ini kemudian pada tahun 1938 diadakan Kongres Bahasa Indonesia di Solo. Salah satu rekomendasi kongres ini adalah diperlukannya satu komite (badan) Bahasa Indonesia untuk bertugas mengembangkan Bahasa Indonesia, yang sudah barang tentu di dalamnya termasuk pendaftar nama-nama tempat (Negara dan kota utama) yang sesuai dengan fonologi Bahasa Indonesia. 


Seperti dikutip di atas, bahwa baru-baru ini, nama (negara) Thailand telah disesuaikan dengan fonologi Bahasa Indonesia dengan mengeja Tailan. Nama Thailand sendiri menggantikan nama Siam terjadi pada tahun 1939 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-07-1939). Disebutkan Siam: Thailand. Secara resmi, Buitenzorg (ibu kota pemerintah Hindia Belanda) melaporkan: Pemerintah telah menerima pesan dari pelaksana tugas konsul Siam bahwa nama "Siam" telah secara resmi diubah menjadi "Thailand" dan bahwa mulai sekarang kata "Thai" akan digunakan untuk "Siameseeh". 

Bagaimana dengan nama Djepang? Seperti disebut di atas, dalam kamus Hillebrandus Cornelius Klinkert berjudul “Nieuw Nederlandsch-Maleisch woordenboek” edisi tahun 1885 dinyatakan: Japan=něgari djěpoen. Dalam kamus AA Fokker (1900) juga dinyatakan: Japan=něgari djěpoen. Nama Djepang terdapat dalam buku karya C Spat berjudul “Maleische taal” yang diterbitkan Koninklijke Militaire Academie tahun 1901 sebagai: negri Djepang dan bangsa Djepang. 


Nama Jepang sejatinya sudah lama dikenal di Hindia (lihat Leydse courant, 02-01-1824). Disebutkan Asisten Residen di Djepang. Juga ada komedi Djepang (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-07-1873). Ada juga nama Djepang sebagai nama land di afdeeling Meester Cornelis (lihat Bataviaasch handelsblad, 25-01-1879). Ada nama Perkoempoelan Orang Djepang yang bermain komedi (lihat De nieuwe vorstenlanden, 25-09-1901). Obat Djepang (lihat De Preanger-bode, 27-12-1912). Doewit Djepang (lihat De Indische courant, 29-08-1923). Juga sebutan menunjukkan orang atau negeri yang disetarakan dengan Eropa (lihat Sumatra-bode, Datum, 12-05-1930). Disebutkan (yang ditulis dalam bahasa Melayu): ‘Sekalian bangsa jang ada di Hindia ini dibagi atas empat golongan. Pertama golongan bangsa Boemipoetera, ditoeliskau didalam daftar poetih. Kedoea golongan bangsa Eropa ditoeliskan dalam dattar merah. Ketiga, golongan bangsa Tionghoa, di toeliskan didalam daftar hidjau. Dan keempat golongan bangsa Arab, Moor, Hindia Moeka dan sebagainja ditoeliskau di dalam dattar koening. Jang dimasoekkan didalam dattar poetih, jaitoe: I Sekalian orang Boemipoetera, tidak dibedakan apa djoeapoen agamanja, ataupoen sama sekali tidak agamanja. Ketjoeali, a Boemipoetera jang disamakan haknja dengan orang Eropa. b Perempoean Boemipoetera jang kawin dengan orang Eropa, dengan orang Tionghoa atau dengan orang Arab dsb. c Sekalian perempoean jang boekan masoek golongan bangsa Boemipoetera, jang kawin dengan orang Boemipoetera. Jang dimasoekkan didalam daftar merah, jaitoe. 1 Sekalian orang Belanda, Perantjis, Djerman, Inggeris, Belgia, Zwits, Deen, Amerika, Australia. d Sekalian orang Djepang’. 

Pada bulan Maret 1942 Pemerintah Hindia Belanda menyatakan takluk kepada militer Jepang. Tamat sudah Pemerintah Hindia Belanda. Tamat pula nama Hindia Belanda (Nederlandsch Indie) yang kemudian nama Indonesia menggantikannya. Pemerintah pendudukan militer Jepang, mengadopsi nama Indonesia dan Bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa resmi di seluruh Indonesia (eks Hindia Belanda). 


Namun untuk berbagai entitas, digunakan nomenklatur (bahasa) Jepang dalam pemerintahan seperti nama wilayah, terminologi dalam bidang kemiliteran. Dalam hal ini nama-nama Belanda dikembalikan ke bahasa lokal seperti kota Batavia menjadi Djakarta, kota Buitenzorg menjadi Bogor dan kota Fort de Kock menjadi Bukittinggi. 

Orang Jepang di Hindia Belanda sejatinya sudah lama keberadaannya. Konsul Jepang di Batavia dimulai tahun 1905. Kemudian didirikan konsulat di Soerabaja dan Medan. Banyak produk asal Jepang yang beredar. Para pengusaha Jepang banyak yang berbisnis dan bahkan ada juga surat kabar (orang) Jepang berbahasa Melayu/Bahasa Indonesia di Semarang sejak 1935.


Orang Jepang di Hindia Belanda sudah lama keberadaannya. Konsul Jepang di Batavia dimulai pada tahun 1905. Kemudian didirikan konsulat di Soerabaja dan Medan. Banyak produk asal Jepang yang beredar. Para pengusaha Jepang banyak yang berbisnis dan bahkan ada juga surat kabar (orang) Jepang berbahasa Melayu/Bahasa Indonesia di Semarang sejak 1935. Orang-orang Indonesia juga sudah banyak yang pernah dan bermukim di Jepang, bahkan Drs Mohamad Hatta pernah ke Jepang pada tahun 1933. Organisasi orang Indonesia juga sudah ada di Jepang pada tahun 1935. Pengajaran Bahasa Indonesia juga sudah ada Jepang yang kemudian dipimpin oleh WJS Poerwadarminta. Jadi dalam hal ini sudah ada pertukaran antara orang Jepang dan orang Indonesia sejak lama. Kehadiran (pendudukan militer) Jepang di Indonesia pada tahun 1942 bukanlah tiba-tiba. Dengan kata lain antara orang Jepang dan orang Indonesia sudah saling memahami: dengan “musuh” yang sama, yakni orang (pemerintahan) Belanda di Hindia. Sejak pendudukan Jepang, orang Indonesia dilibatkan dalam pemerintahan. Walikota Soerabaja diangkat Radjamin Nasoetion dan walikota Djakarta diangkat Dahlan Abdoellah (mahasiswa yang dulu tahun 1917 mewakili orang Indonesia di Belanda untuk mengusulkan nama Indonesia). Sementara pemimpin Indonesia dipimpin oleh Ir Soekarno sebagai ketua Poetera (Pusat Tenaga Kerja). 

Segera setelah pendudukan Jepang kamus Bahasa Indonesia diterbitkan tahun 1942. Kamus berjudul “Kamus Indonesia” disusun oleh Emil St Harahap. Orang Indonesia juga mulai belajar bahasa Jepang. Parada Harahap menerbitkan buku pelajaran dengan judul “Beladjar Bahasa Djepang tahun 1942 yang diterbitkan oleh Olt & Co. Oleh karena orang Indonesia banyak yang bisa berbahasa Belanda oleh Lantas Hutabarat diterjemahkan buku pelajaran bahasa Jepang yang disusun oleh T Uji dan WJS Poerwadarminta berjudul “Basis-Nipponsch”. Parada Harahap pernah sebagai ketua asosiasi perdagangan pribumi di Batavia berangkat ke Jepang pada tahun 1933. Dalam hal ini WJS Poerwadarminta juga pernah di Jepang sebagai pengajar bahasa Melayu yang kemudian digantikan oleh Soedjono. 


De locomotief, 26-06-1939: ‘Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia di Jepang. Di bawah judul ini, Bapak R. Soedjono (mantan sekretaris Asosiasi Perdagangan Pribumi di Batavia, sekarang berafiliasi dengan Nippon Bunka Renmei (Asosiasi Kebudayaan Jepang) dan dosen bahasa "Indonesia" di Sekolah Bahasa Asing Tokyo. Ed.) menawarkan beberapa kiat dan informasi di Soeara Oernoem (Surabaya). Di Jepang, terutama akhir-akhir ini, perhatian khusus telah diberikan pada bahasa kita. Ribuan orang Jepang berbicara dan menulis bahasa Melayu. Banyak dari mereka telah kembali dari negara-negara Pasifik Selatan dan telah menguasai bahasa tersebut melalui praktik. Saat berjalan di Marounuchi, pusat industri Tokyo, Kobe, atau Osaka, seseorang sering kali disapa oleh orang Jepang dalam bahasa Melayu yang fasih. Selain aplikasi praktis, Jepang memiliki banyak sekolah dan individu swasta yang mengajarkan bahasa Melayu, terutama untuk penggunaan sehari-hari dalam perdagangan. Di Tokyo saja, ada tiga sekolah yang diakui oleh pemerintah Jepang yang mengajarkan bahasa kita. Mereka yang ingin mendalami bahasa dan mempelajari sastra, budaya, dan sejarah Melayu dapat melakukannya di "Gaikoku gogakku" (Sekolah Bahasa Asing) di Tokyo dan Osaka. Kesempatan untuk belajar bahasa Melayu di Jepang telah ada sejak tahun 1908. Dari tahun 1911 hingga 1932, bahasa Melayu, seperti yang digunakan di Semenanjung Malaya, diajarkan hampir secara eksklusif. Para guru juga berasal dari daerah tersebut. Tren ini baru berubah pada tahun 1932. Pada tahun itu, orang Indonesia pertama, WJS Poerwadarminta, diangkat sebagai dosen di Sekolah Bahasa Asing tersebut, sebuah posisi yang telah saya pegang sejak tahun 1938. Bapak Soedjono kemudian menganjurkan pemurnian bahasa "Indonesia" dari pengaruh asing, terutama mengingat fakta bahwa di Jepang, pers lokal sangat diperhatikan. Pers lokal, khususnya, terlalu jenuh dengan kata-kata dan konsep Belanda. Oleh karena itu, harapannya tetap tertuju pada implementasi keputusan yang diambil pada Kongres Bahasa di Sclo untuk mengangkat bahasa "Indonesia". 

Bahasa Indonesia menjadi sangat berkembang pada masa penduduk militer Jepang baik dalam bidang sastra maupun dalam bidang kebudayaan. Sementara itu, lambat laun sejumlah surat kabar diberi nama (bahasa) Jepang tetapi teks didalamnya sepenuhnya dalam Bahasa Indonesia. 


Dalam konteks inilah kemudian mulai dipersiapkan kemerdekaan Indonesia dengan membentuk BPUPKI yang dipimpin oleh Ir Soekarno. Namun kehadiran Jepang di Indonesia tidak lama. Pada tanggal 14 Agustus 1945 tersiar di radio bahwa Kaisar Hirohito mewakili Jepang menyatakan takluk kepada Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat. Tiga hari kemudian, pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan yang dibacakan oleh Ir Soekarno di Djakarta. Keesokan harinya konstitusi Negara Indonesia disiapak sebagai UUD. Dalam konstitusi ini dinyatakan Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi. Dalam hal ini nama Indonesia telah berdiri sebagai suatu negara dan Bahasa Indonesia sebagai suatu bahasa negara. Akan tetapi orang Belanda kembali dan terjadilah perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

Kamus berjudul Kamus Indonesia disusun oleh Emil St Harahap yang diterbitkan pertama pada tahun 1942 terus dicetak dan diperjualbelikan (lihat Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 05-03-1947). 


Kamus Emil St Harahap berjudul Kamus Indonesia yang diterbitkan pada tahun 1942 menjadi penting dalam fase awal kamus Bahasa Indonesia. Emil St Harahap bukanlah awam dalam hal perkamusan. Emil St Harahap memulai karir sebagai guru di Depok. Pada tahun 1915 Emil St Harahap dan juga guru di Depok menyusun kamus bahasa Melayu dengan judul Arti Kitab Logat Malajoe (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 26-01-1915). 

Selanjutnya kamus dwibahasa dengan menggunakan nama Bahasa Indonesia diterbitkan pada tahun 1948 dengan nama Kamoes Indonésia. Indonesisch-Nederlands en Nederlands-Indonesisch disusun oleh ALN Kramer setebal 428 halaman yang diterbitkan NV GB van Goor Zonen's Uitg. Mij. 'sGravenhage-Batavia. Kamus Emil St Harahap dan kamus dwibahasa ALN Kramer mengisi toko-toko buku. 


Setelah Komite Bahasa Indonesia direkomendasikan dalam Kongres Bahasa Indonesia pada tahun 1938 di Solo, lalu pada era Republik Indonesia, pemerintah mendirikan Balai Bahasa pada tahun 1948 di Djogjakarta (lihat Het Binnenhof, 18-03-1948). Disebutkan Menteri Pendidikan Republik Indonesia telah mendirikan "Balai Bahasa" yaitu Yayasan Bahasa Indonesia’. 

Pada tahun 1948 ini GWJ Drewes sebagai kepala kantor dan profesor bahasa dan sastra Melayu di Rijksuniversieteit te Leiden pada tanggal 16 April 1948 menulis monograf berjudul “Van Maleis naar Bahasa Indonesia” yang kemudian diterbitkan EJ Brill di Leiden (1948). ALN Kramer Sr juga tahun 1948 menulis makalah 100 halaman berjudul “Bahasa Indonesia: Beknopt overzicht der spraakkunst” (Bahasa Indonesia: Tinjauan singkat tata bahasa) yang diterbitkan GB van Goor Zonen's Uitgeversmij, ’s-Gravenhage-Batavia. 


De nieuwsgier, 19-11-1948: ‘Bahasa Indonesia. Prof. Soetan Takdir Alisjahbana telah mengundang beberapa pakar Batavia di bidang Bahasa Indonesia untuk bertemu pada Minggu sore mendatang guna membahas berbagai isu terkait Bahasa Indonesia modern. Yang akan hadir dalam pertemuan ini adalah Bapak St Arbi, Dr AA Fokker, Prof Dr C Hooykaas, K St. Pamoentjak (Balai Poestaka), WJS Poerwadarminta, MH Rambitan (Departemen Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan), St Sanif (Departemen Urusan Ekonomi), R Satjadibrata, A Ed. Schmidgall Tellings (RVD), R Soedjadi, R Soehardo Sastrosoewignjo, Soeparmo, Soetedjo, Soetopo, Dr A Teeuw, Zainoeddin dan perwakilan dari lembaga Taman Siswa, asosiasi budaya "Gelanggang" dan Asosiasi Jurnalis Indonesia’. 

Sementara Kamus Bahasa Indponesia yang disusun Emil St Harahap masih beredar luas, orang Indonesia berikutnya yang menulis kamus Bahasa Indonesia adalah WJS Poerwadarminta yang diterbitkan pada tahun 1953. Sebelumnya pemerintah telah mendirikan Lembaga Bahasa dan Boedaja. 


Indische courant voor Nederland, 30-09-1950: ‘Kamus berikut telah diterbitkan oleh JB Wolters, Groningen-Jakarta: “Woordenboek bahasa Indonesia-Nederlands” (Kamus Bahasa Indonesia-Belanda), disusun oleh WJS Poerwadarminta dan Dr A Teeuw, sebuah kamus yang akan bermanfaat untuk membaca Bahasa Melayu klasik dan Bahasa Indonesia’. Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 13-10-1951: ‘Mengenai pengembangan sastra, keputusan berikut telah dibuat, antara lain: meminta Pemerintah untuk mengakui Balai Pustaka (penerbit milik negara) sebagai badan otonom, langsung di bawah kepemimpinan Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Budaya, dan untuk bekerja sama dengan Lembaga Kebudajaan Indonesia. Pemerintah diminta untuk memastikan bahwa Balai Bahasa—lembaga yang didirikan oleh Pemerintah pada saat itu—secara bertahap mulai menerbitkan karyanya’. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 16-01-1953: ‘Atas perintah Menteri Pendidikan, "Lembaga Bahasa dan Budaja" Fakultas Sastra dan Filsafat akan menerbitkan jurnal dua bulanan berjudul "Bahasa dan Budaja" agar masyarakat juga dapat memperoleh manfaat dari penelitian institut tersebut di bidang bahasa dan budaya. Berikut ini adalah anggota dewan pengurus: Prof Dr R Prijana, Prof Dr RM Ng Purbatjaraka, Prof Dr PA Husein Djajadiningrat, Prof Dr Tjan Tjioe Siem, dan Bapak Sjair’. De vrije pers: ochtendbulletin, 28-03-1953: WJS Poerwadarminta: “Kamus Umum Bahasa Indonesia” diterbitkan van Dorp en Co’. De nieuwsgier, 28-09-1954: ‘Metode yang berfaedah untuk peladjaran dan perkembangan Bahasa Indonesia berjuduk “Metode Bahasaku” disusun oleh BM Nur dan WJS Poerwadarminta (metode pengadjaran Bahasa. Indonesia modern untuk Sekolah RaJcjat kelas 2 sampai 6). 

Pada tahun 1954 diadakan Kongres Bahasa Indonesia di Medan. Kongres ini dapat dikatakan kongres Bahasa Indonesia kedua (setelah yang pertama tahun 1938 di Solo). Kongres ini dibuka oleh Presiden Soekarno (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 29-10-1954). Dalam kongres ini juga turut dihadiri Prof Dr AA Fokker dan juga pejabat Malaka serta Prof Dr A Teeuw. Lembaga Bahasa menjadi memiliki kwedudukan penting dalam pengembanga Bahasa Indonesia. 


Dalam konteks nama-nama negara yang telah diadopsi menjadi Bahasa Indonesia telah lama terjadi sejak era Hindia Belanda sebagaimana yang disebut di atas seperti nama Belanda, nama Djepang, nama Inggris, Djerman dan sebagainya. Pada tahun 1950 hingga 1954 terdapat 102 negara berdaulat yang diakui secara luas di dunia. Dalam hal ini tidak termasuk Malaysia dan Singapoera (karena kemerdekaan Federasi Malaya sendiri baru diberikan Inggris pada tahun 1957). Nama Indonesia sudah paten. Bagaimana dengan nama negara lainnya dalam ejaan Bahasa Indonesia? Nama Kambodja sudah terinformasikan pada tahun 1810 (lihat Bataviasche koloniale courant, 21-12-1810); Lebanon dan Palestina tahun 1835 (lihat Rotterdamsche courant, 16-05-1835); Filipina tahun 1855 (lihat Javasche courant, 01-12-1855) dan Swedia (lihat Rotterdamsche courant, 29-12-1855); Nama Toerki sudah terinformasikan pada tahun 1874 (lihat Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 29-09-1874); Maroko tahun 1880 (lihat Rotterdamsch nieuwsblad, 10-12-1880); Joenani sudah terinformasikan pada tahun 1898 (lihat Nederlandsche staatscourant, 10-01-1898); Jordania tahun 1912 (lihat De avondpost, 20-09-1912); Selandia (Baru) tahun 1920 (lihat De Preanger-bode, 08-12-1920); Soeriah tahun 1929 (lihat De koerier, 24-06-1929); Polandia tahun 1952 (lihat De Maasbode, 10-10-1952); Aldjazair (lihat De nieuwsgier, 20-08-1956). 

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar