*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini
Jepang dan Amerika Serikat (AS) saat ini merupakan sekutu dekat secara politik dan militer. Ini terjadi setelah Perang Dunia II, hubungan Jepang dan AS menjadi sangat erat, dibentuk oleh perjanjian damai dan kerja sama militer. Namun tetap menjadi masalah di kalangan masyarakat Jepang. Bukan karena masalah Greenland, tetapi keberadaan Pangkalan Militer AS di Okinawa. Namun rencana invasi Amerika ke Greenland pada masa ini, ada juga miripnya dengan isu invasi Amerika ke Jepang tahun 1854.
Amerika Serikat secara resmi menyatakan perang dan menjadi musuh Jepang pada 8 Desember 1941. Namun, ketegangan antara kedua negara telah berkembang jauh sebelum itu. Persaingan mulai muncul karena perebutan pengaruh ekonomi dan wilayah di Asia, khususnya di Tiongkok, serta perlakuan diskriminatif terhadap imigran Jepang di AS. Hubungan memburuk drastis setelah Jepang menginvasi Manchuria (1931) dan melancarkan perang skala penuh terhadap Tiongkok (1937). Insiden penenggelaman kapal perang AS, USS Panay, oleh pesawat Jepang pada akhir 1937 semakin memicu kemarahan publik Amerika. AS berusaha menghentikan agresi Jepang dengan menjatuhkan sanksi ekonomi, termasuk larangan ekspor bahan baku perang seperti besi, baja, dan minyak. Hal ini membuat Jepang memandang AS sebagai penghambat utama ambisi mereka di Asia. Jepang melancarkan serangan mendadak ke pangkalan Angkatan Laut AS di Hawaii untuk melumpuhkan armada Pasifik Amerika (7 Desember 1941). Satu hari setelah serangan tersebut, Kongres AS secara resmi menyatakan perang terhadap Jepang, yang menandai keterlibatan penuh AS dalam Perang Dunia II sebagai musuh utama Jepang. Permusuhan ini berakhir setelah Jepang menyerah tanpa syarat pada Agustus 1945, diikuti dengan periode pendudukan Sekutu yang mengubah hubungan kedua negara menjadi sekutu dekat hingga saat ini (AI Wikipedia)..
Lantas bagaimana sejarah Amerika versus Jepang? Seperti disebut di atas, perseteruan antara Jepang dan Amerika dimulai tahun 1937, tetapi jejak-jejaknya sudah muncul sejak kehadiran pasukan Amerika dipimpin Laksamana Peery di Jepang tahun 1854. Dua tahun sebelum itu Kapten Gibson di Djambi melakukan aneksasi tahun 1852. Lalu bagaimana sejarah Amerika versus Jepang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Amerika versus Jepang; Laksamana Peery di Jepang 1854 dan Kapten Gibson di Djambi, Indonesia 1852
Amerika Serikat terus memperluas wilayah baik dengan jalan membeli maupun dengan cara aneksisasi, Pada tahun 1845 Republik Texas dianekasi dimana pengaruh Spanyol masih ada. Pada tahun 1846 wilayah Oregon diakusisi dengan perundingan dengan Inggris. Akhirnya Amerika Serikat mengakusisi California pada tahun 1846 yang menjadi konsesi Mexico warisan dari Spanyol. Ini semua karena pertumbuhan dan perkembangan imigran Eropa yang datang ke Amerika.
Amerika mengusir Inggris dan memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1776. Sebagai penggantinya Inggris membuka koloni baru di Australia pada tahun 1779. Kapal-kapal Amerika (dari Boston, Philadelphia dan New York) sudah ada yang berlabuh di Batavia melalui Afrika Selatan. Hubungan Inggris dan Amerika tidak baik-baik saja. Frekuensi kapal Amerika yang berlambuh di Batavia semakin intens dari waktu ke waktu. Pada tahun 1811 Inggris menginvasi Jawa dan menahan militer Belanda. Kapal-kapal Amerika menjadi tumpuan orang Belanda untuk evakuasi ke Eropa/Belanda. Pada tahun 1816 Pemerintah Hindia Belanda dipulihkan. Sejak inilah konsulat Amerika dengan hak istimewa dibuka di Batavia. Bagaimana dengan pendukung pemerintah Inggris? Pada tahun 1818 Inggris membuka pos utama di Singapoera. Pada tahun 1824 diadakan perjanjian (traktak) yang mana wilayah Inggris di Bengkulu dilakukan tukar guling dengan wilayah Belanda di Malaka. Dengan demikian jalur perdagangan Inggris menjadi terhubung antara India dan pantai Timur Tioongkok. Amerika hanya berbasis sampai di Batavia.
Sejak masuknya California ke dalam Serikat maka pembangunan kereta api mulai dibangun yang dapat menghubungkan antara timur dengan barat. Lengkap sudah Amerika Serikat memiliki daratan yang menyatu dari pantai timur hingga pantai barat. Sementara itu, Amerika tidak terlalu mengenal Jerpang dan demikian sebaliknya. Hal itu karena selama ini, jarak wilayah antar kedua wilayahnya, dekat di mata tetapi jauh dalam pelayaran. Lagi pula Jepang terus mempertahankan politik isolasi selama dua abad terakhir (sejak 1641) dan hanya Belanda yang diizinkan di Jepang.
De Nederlander: nieuwe Utrechtsche courant: (staatkundig- nieuws-, handels- en advertentie-blad) / onder red. van J. van Hall, 15-10-1849: ‘Laporan terbaru dari Amerika mencakup kisah penangkapan dan perlakuan buruk terhadap awak kapal penangkap ikan paus Amerika di salah satu pulau Jepang. Para korban kapal karam ditahan di penjara dan kandang selama lebih dari setahun dan diperlakukan dengan sangat kejam sehingga salah satu dari mereka bunuh diri. Insiden serupa terjadi pada tahun 1846; dan karena industri perikanan membawa sejumlah kapal Amerika ke laut tersebut setiap musim panas, perdagangan AS mendesak sikap tegas terhadap Jepang. Tujuannya bukan untuk membangun hubungan perdagangan reguler, tetapi hanya untuk membuka pelabuhan utama Jepang bagi kapal-kapal Amerika yang mengalami kesulitan’.
Penangkapan dan perlakuan buruk terhadap awak kapal penangkap ikan paus Amerika di Jepang, telah membuka babak baru antara Amerika dengan Jepang. Asosiasi perdagangan Amerika Serikat telah mendesak pemerintahnya untuk mengambil sikap tegas terhadap Jepang. Pemerintah Amerika Serikat meresponnya (lihat Opregte Haarlemsche Courant, 30-03-1852). Disebutkan ekspedisi Amerika melawan Jepang tidak dikutuk di sini (di Jepang), karena, jika berhasil, diharapkan akan membawa manfaat bagi perdagangan kita (Belanda) juga. Lantas bagaimana dengan di Batavia?
Kebijakan sakoku-seisaku atau “kebijakan negara tertutup” oleh Shogun Tokugawa ketiga, Iemitsu, yang berpuncak pada pengusiran orang Portugis (1639) dan pemindahan orang Belanda dari Firando ke Dejima (1641). Sebelumnya, pada tahun 1624 pabrik Inggris ditutup. Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) menjadi penghubung antara Jepang dan dunia luar, karena sejak tahun 1634 dan seterusnya, semua kontak dengan negara lain diputus, kecuali dengan Tiongkok dan Belanda. Hanya segelintir orang Belanda yang diizinkan untuk tetap tinggal, dijaga dan diisolasi di pulau tersebut.
Adanya ancaman Amerika terhadap Jepang, dari Washington dilaporkan bahwa pemerintah Jepang telah meminta intervensi Belanda untuk membela diri terhadap invasi Amerika Serikat (lihat De Nederlander : nieuwe Utrechtsche courant: (staatkundig- nieuws-, handels- en advertentie-blad) / onder red. van J. van Hall, 02-04-1852). Sudah barang tentu permintaan Jepang itu logis, sebab selama ini orang asing yang ada hanya orang Belanda.
Opregte Haarlemsche Courant, 05-05-1852: ‘Pemerintah Amerika Serikat telah menyerahkan kepada Kongres dokumen-dokumen yang berkaitan dengan ekspedisi yang dilakukan terhadap Jepang. Di antara surat-surat tersebut terdapat surat dari Presiden Uni, yang akan disampaikan oleh Laksamana Muda Perry, komandan ekspedisi, kepada Kaisar Jepang, dan kutipan berikut dilaporkan oleh surat kabar Amerika Utara: "Bersama surat ini saya mengirimkan seorang misionaris pilihan saya sendiri, seorang perwira berpangkat tinggi di negara ini, dan yang bukan misionaris agama. Ia datang atas perintah saya untuk menyampaikan salam dan harapan terbaik saya serta untuk mempromosikan persahabatan dan perdagangan antara kedua negara. Anda mengetahui bahwa Amerika Serikat sekarang membentang dari satu samudra ke samudra lainnya, dan bahwa negara bagian besar Oregon dan California merupakan bagian dari Amerika Serikat; antara tanah-tanah ini, yang kaya akan emas, perak, dan batu mulia, dan tanah Anda yang bahagia, terdapat jarak yang dapat ditempuh kapal uap kami dalam waktu kurang dari dua puluh hari. Banyak kapal kami selanjutnya akan dapat berlayar setiap tahun. Dan mungkin beberapa, mungkin setiap minggu, berlayar bolak-balik antara California dan Tiongkok. Kapal-kapal ini harus berlayar di sepanjang pantai Kekaisaran Anda; badai dan angin dapat menghancurkan mereka di pantai Anda. Dan dari persahabatan dan kebesaran Anda, kami meminta dan mengharapkan kebaikan kepada kami..." Rakyat dan perlindungan untuk barang-barang kami. Kami berharap rakyat kami diizinkan untuk berdagang dengan rakyat Anda; tetapi kami tidak akan memberikan kebebasan kepada rakyat kami untuk melanggar hukum apa pun di Kekaisaran Anda. Tujuan kami adalah perdagangan yang ramah, dan tidak lebih dari itu. Anda mungkin memiliki produk yang dengan senang hati akan kami beli dari Anda, dan kami memiliki produk yang dapat bermanfaat bagi rakyat Anda. Kekaisaran Anda memiliki sejumlah besar batubara; ini adalah barang yang dibutuhkan kapal uap kami untuk perjalanan dari California ke Tiongkok. Mereka akan senang jika sebuah pelabuhan ditunjuk di Kekaisaran Anda tempat batubara dapat dibawa masuk dan tempat mereka selalu dapat membelinya. Dalam banyak hal lain, perdagangan antara Kerajaan Anda dan negara kami akan bermanfaat bagi kedua belah pihak. Mari kita pertimbangkan kepentingan baru apa yang mungkin muncul dari peristiwa-peristiwa yang baru-baru ini mendekatkan kedua negara kita; dan niat persahabatan dan hubungan timbal balik apa yang seharusnya ditimbulkan di hati mereka yang memerintah kedua negara’.
Apakah Belanda menanggapi permintaan Jepang? Yang jelas Belanda di Hindia Belanda memiliki masalah tersendiri dengan (orang) Amerika juga. Mengapa Jepang mengharapkan Jepang? Fakta bahwa perdagangan antara Belanda dengan Jepang menghasilkan laba sebesar 1.815.339 gulden selama periode 1939-1949. Pendapatan dari bea materai juga berjumlah sekitar 4 juta gulden dalam sepuluh tahun tersebut (lihat De Nederlander : nieuwe Utrechtsche courant : (staatkundig- nieuws-, handels- en advertentie-blad) / onder red. van J. van Hall, 14-05-1852). Belanda tampaknya dalam dilema. Sementara itu, Inggris yang sudah cukup kuat di pantai timur Tiongkok, juga ingin memasuki perdagangan Jepang dengan cara diplomasi.
Nieuwe Drentsche courant, 05-06-1852: ‘Laporan telah diterima di Singapura mengenai nasib kapal perang Brilliant Sphinx, yang bertugas menyampaikan surat dari Lord Palmerston kepada pihak berwenang Jepang. Kapten Chadwell sangat ingin menyampaikan surat itu di kota Schoƶe. Namun, setelah beberapa perlawanan, hal ini terjadi, sementara para perwira Brilliant didampingi oleh pasukan kehormatan marinir. Surat itu diterima dengan sangat hormat oleh Komando Jepang. Dari tanggal 6 hingga 17 Februari, kapal tersebut tetap berlabuh di pelabuhan, sementara para perwira bebas mengunjungi pulau itu. Mereka menemukan rumah-rumah, jembatan, jalan, dan pertanian dalam kondisi sangat baik, dan ada tanda-tanda kemakmuran di mana-mana’.
Di Hindia, pada tahun 1852 Kapten Amerika bernama Walter Gibson ditangkap di Palembang. Kapten Gibson dituduh melakukan makar, menghasut Sultan Jambi untuk melawan otoritas Pemerintahan Hindia Belanda di Jambi. Di salah satu stokingnya ditemukan surat yang ditulis dalam bahasa Melayu. ditandatangani oleh Monsieur Gibson dan ditujukan kepada Sultan Jambi, mengundang Pangeran untuk melepaskan otoritas Belanda selanjutnya, dia segera dijanjikan bantuan bersenjata, dan dukungan dari armada Amerika. Penangkapan terhadap Gibdon diperintahkan Residen Palembang dan telah dibawa ke Batavia di bawah kawalan kapal perang. Sementara juru mudi kapal telah meninggalkan Palembang ke Jambi melalui darat segera setelah dia meninggalkan kapal yang ditahan.
Javasche courant, 18-02-1852: ‘Kapal schoener "The Flirt," yang dikapteni oleh Walter Gibson, dibawa dari Palembang ke pelabuhan Batavia oleh kapal uap Zr Ms Ardjoeno. Menurut informasi yang diterima, orang ini bersalah atas pengkhianatan tingkat tinggi karena mencoba, meskipun gagal, untuk menghubungi Sultan Jambi dan menghasut pangeran tersebut untuk memberontak melawan penguasanya, Pemerintah Hindia Belanda. Gibson kemudian dipenjara di Batavia, untuk menunggu pengadilan (lihat De Curaçaosche courant, 26-06-1852)
Ekspedisi militer Amerika ke Jepang tampaknya sudah beredar luas di Batavia (lihat Javasche courant, 23-06-1852). Disebutkan ekspedisi Amerika, sebagaimana yang awalnya direncanakan, adalah adil dan perlu. Jepang sendiri yang menyebabkan hal ini dengan pengucilan ketat mereka terhadap orang asing dan dengan tindakan menghina mereka dalam menahan orang asing yang bernasib malang terdampar akibat kapal karam di pantai mereka. Dalam hal terakhir ini, Amerika, khususnya, memiliki alasan untuk keberatan, dan itu bukan hanya sepenuhnya adil di pihak mereka, tetapi mereka bahkan terpaksa melakukannya, untuk melindungi rakyat mereka sendiri, untuk mendesak Jepang agar menghapus kebijakan barbar dan tidak manusiawi ini. Lalu apakah ekspedisi militer Amerika ke Jepang ini berhasil?
Artikel lain dalam Javasche courant, 23-06-1852: ‘Mengenai ekspedisi melawan Jepang, dikirim ke London Times oleh koresponden surat kabar tersebut di New York, dan berbunyi sebagai berikut: Komodor Ferry akan memimpin pasukan angkatan laut terkuat yang pernah kami kirim ke Hindia Timur; pasukan yang jauh lebih besar daripada yang diperlukan untuk negosiasi damai, yaitu, seperti yang disarankan oleh informasi yang diberikan oleh pemerintah Tuan Fillmore, untuk survei hidrografi sederhana di pantai utara Tiongkok dan pulau-pulau kaya yang tak terhitung jumlahnya di Kepulauan Hindia. Ini mungkin tujuan utama ekspedisi ini, tetapi tentu saja bukan satu-satunya; dan tidak seorang pun akan mempercayai dalih terakhir ini jika tidak sepenuhnya asing dengan sejarah ekspansi dan penaklukan negara ini. Jelas bahwa semangat kewirausahaan kita, setelah melintasi Pasifik yang luas dan menguasai benua dengan berbagai tujuan praktis, akan mencari medan penaklukan baru. Wartawan boleh menulis apa pun yang mereka inginkan; fakta-fakta membuktikan sekarang sejelas mungkin seperti yang akan terjadi dalam satu dekade mendatang bahwa perang dan penaklukan kita di sepanjang pantai Asia berada pada periode awalnya. Amerika Serikat akan segera melancarkan drama pengeboman yang sama seperti Inggris pada tahun 1842 terhadap Tiongkok, tetapi kita akan melanjutkannya dengan lebih sedikit moderasi. Kepulauan Sandwich, yang sudah jatuh, seperti buah matang di tangan kita. Kelompok-kelompok lain di Pasifik akan dikumpulkan setelahnya; dan kemudian Jepang akan mendapat gilirannya, yang ibu kotanya yang kaya, megah, dan padat penduduknya sudah berkilauan di mata ambisi dan membangkitkan hati keserakahan. Menurut ungkapan yang umum, kita telah "menyelesaikan Amerika," dan karena Eropa tidak memberikan apa pun bagi kita, pandangan bangsa, yang selama beberapa tahun telah tertuju pada kekayaan California, kini tertuju pada pantai-pantai kuno Asia; dan di pantai-pantai itulah babak kedua drama politik kekaisaran republik kita akan dimulai. Dan bukankah pada akhirnya benar-benar tak terhindarkan bahwa bangsa-bangsa Timur yang kebingungan ini harus keluar dari isolasi barbar mereka dan tersapu oleh peradaban? Inggris telah lama aktif di India dan telah memulai di Tiongkok; mari kita rebut pulau-pulau Pasifik, satu kelompok demi satu, maju ke Jepang, dan bertemu di Shanghai. Bangsa Anglo-Saxon adalah penguasa dunia, melakukan invasi baru dan sekali lagi menyeret pantai Mediterania ke dalam kegelapan barbarisme abad pertengahan’. Sutar kabar Javasche courant mengutip surat kabar Examiner: ‘Republik Atlantik yang agung berada di ambang konflik dengan Kekaisaran Jepang, dan mengirimkan ekspedisi ke sana, baik untuk menuntut ganti rugi atas pelanggaran nyata terhadap hak-hak bangsa, dan dengan harapan pada akhirnya mencapai tujuan besar untuk memaksa Jepang memperbarui hubungan dengan umat manusia di dunia atas yang telah mereka embargo selama dua abad. "Menurut hukum Jepang, tidak ada penduduk asli yang boleh meninggalkan negara itu, atau orang asing yang boleh memasukinya, tanpa dijatuhi hukuman mati, atau setidaknya, penjara seumur hidup. Hukum ini disahkan sebagai tanggapan terhadap intrik para pendeta Portugis dan Spanyol, yang, menurut orang Jepang, dengan kedok konversi agama, merusak fondasi pemerintahan. Sebelum Dekrit Pemisahan dan Pengucilan ini berlaku, orang Jepang, seperti halnya orang Cina hingga saat ini, telah berdagang dengan pulau-pulau di Kepulauan Indonesia; dan bahkan pada awal abad keenam belas, kapal-kapal dagang mereka ditemui oleh orang Portugis, pada kedatangan pertama mereka di perairan ini, jauh di sebelah barat (di Malaka dan Bantam), dan sangat dihargai di sana di atas semua pedagang Asia lainnya karena kesetiaan dan kejujuran mereka. Bahkan pada awal abad berikutnya, kita menemukan mereka, seperti yang kita lihat sekarang, Sipahi, yang bertugas di pemerintahan Eropa di pulau-pulau tersebut, disebut pasukan elit, yang, karena keberanian dan kesetiaan mereka yang lebih besar, dipilih di atas banyak bangsa lain. Hukum pengucilan itu adalah kemudian, hukum tersebut ditegakkan dengan sangat ketat oleh pemerintah Jepang sehingga hampir tidak konsisten; dan memang tidak mungkin sebaliknya jika hukum tersebut ditegakkan sepenuhnya. Kapal-kapal asing yang mengalami kesulitan, bukannya menerima bantuan, malah diusir dengan penghinaan dan kekerasan ketika mendekati pantai Jepang; orang-orang yang selamat dari kapal karam dipenjara, dikurung, dan dibiarkan begitu saja, atau dibakar hidup-hidup, dan muatan mereka disita. Dalam hal ini, tidak ada keraguan sama sekali mengenai pelanggaran nyata terhadap hak-hak rakyat, terhadap hak-hak seluruh alam; karena tanpa menyebutkan kejahatan yang sebenarnya dilakukan dengan cara ini, yang pada kenyataannya mendekati aktivitas bajak laut, Jepang tidak memiliki hak untuk mencegah akses ke pantai mereka daripada hak mereka untuk menutup hamparan lautan yang begitu luas, karena keduanya sama-sama merupakan warisan bersama seluruh umat manusia. Dalam beberapa waktu terakhir, terutama warga negara Republik Amerika yang menjadi korban hukum yang biadab dan tidak dapat ditoleransi ini, karena wilayah navigasi mereka terletak di dekat kepulauan Jepang, yang pelabuhannya merupakan tempat perlindungan alami bagi ratusan kapal mereka yang setiap tahunnya melewati selat yang memisahkan pulau besar Niphon (kini pulau Honshu) dari pulau Yesso (kini pulau Hokkaido) yang lebih utara. Amerika, yang berbasis di sepanjang pantai Pasifik, mengirimkan pasukan untuk menuntut ganti rugi atas pelanggaran berulang terhadap hukum alam dan internasional; untuk memaksa Jepang memperbarui perdagangan mereka dengan seluruh dunia dan untuk menghilangkan ketidakramahan yang tidak manusiawi. Untuk diingat, demi kesejahteraan umum umat manusia, dan demi peradaban dan keadilan, kami berharap mereka mendapatkan hasil terbaik, tetapi kami ragu apakah cara yang mereka gunakan memadai untuk usaha ini. Mari kita lihat. Kekaisaran Jepang meliputi 256.600 mil persegi (Inggris), menjadikannya lebih besar dari gabungan Inggris dan Prancis. Populasi diperkirakan mencapai 30.000.000; kurang beradab, tetapi lebih suka berperang dan gagah berani daripada orang Cina. Jepang, seperti Cina, tidak memiliki sungai besar yang dapat dilayari yang memungkinkan penyerang menembus pedalaman; terlebih lagi, di Jepang, satu provinsi tidak bergantung pada provinsi lain untuk makanan, sehingga ibu kota tidak dapat, seperti yang terjadi di Cina, dipaksa untuk menyerah. kelaparan; dan akhirnya, orang Jepang bukanlah dua bangsa yang berbeda, penakluk dan yang ditaklukkan, dengan yang terakhir selalu siap memberontak melawan penguasa mereka yang jauh lebih kecil; tetapi orang Jepang, penguasa dan yang diperintah, semuanya berasal dari satu keturunan yang sama. Jepang hanya dapat diserang di pesisir mereka, dan itupun hanya jika kota besar cukup dekat dengan laut untuk dapat dijangkau oleh meriam kapal-kapal Amerika. Ekspedisi ini terdiri dari tiga fregat uap besar, satu fregat layar, sebuah korvet, dan sebuah kapal pengangkut; pelaut dan marinir—secara keseluruhan, tidak lebih dari 20.000 orang dapat diangkut, dan sangat tidak setuju dengan sebuah surat kabar Amerika yang mengklaim bahwa jumlah ini cukup untuk memaksa populasi yang berani dan gemar berperang sebanyak 30 juta jiwa untuk menghapus hukum yang telah mereka junjung tinggi selama dua abad. Surat kabar Amerika itu berbicara tentang meriam lapangan, tetapi gangguan yang tidak berguna seperti itu, yang mengharuskan pendaratan, sama sekali tidak mungkin. Orang Amerika harus tetap berada di atas kapal mereka. Satu-satunya prospek keberhasilan ekspedisi terletak pada pengeboman Jeddo, ibu kota Kaisar sekuler, yang terletak di ujung teluk yang dalam dan mudah diakses di sisi timur pulau besar itu’.
Dalam hal ini Belanda di Hindia, belum selesai urusan Kapten Amerika Walter Gibson yang tengah menunggu pengadilan di Batavia, situasi dan kondisi di Jepang dengan masalah tersendiri. Adanya ketegangan antara Amerika dengan Jepang, kasus Kapten Gibson di Hindia Belanda telah membuat ketegangan antara Belanda dan Amerika Serikat. Lalu apakah Amerika akan menginvasi Jepang? Perlu dicatat disini, bahwa Inggris tengah melakukan tindakan invasi ke Burma dan Siam. Bagaimana dengan Belanda sendiri? Wilayah Hindia sendiri sudah sangat luas. Dalam hal ini Belanda tidak ingin memperluas koloni di Asia, tetapi lebih pada upaya mempertahankan yang sudah di tangan.
Tampaknya ekspedisi militer Amerika ke Jepang ditunda atau dibatalkan (lihat Nieuwe Drentsche courant, 17-07-1852). Disebutkan ekspedisi yang diusulkan ke Jepang oleh Amerika Serikat telah dibatalkan sepenuhnya. Pemilihan Presiden Amerika Serikat masih menjadi topik hangat. Peluang terbaik tampaknya ada di pihak Demokrat.
Alih-alih alasan pemilihan presiden, apakah Amerika takut kepada Jepang? Surat kabar orang Belanda (berbahasa Belanda dan Inggris) di Amerika Serikat De Sheboygan Nieuwsbode, 17-08-1852: ‘The New York Herald tanggal 8 ini mengatakan, "ekspedisi Jepang telah diserahkan kepada Belanda, seluruh tubuh dan celananya". Raja Belanda telah memenuhi permintaan pemerintah ini, untuk menawarkan jasanya sebagai mediator, untuk mendapatkan pembukaan pelabuhan Jepang bagi perdagangan Amerika’. Apakah itu hanya sekadar rumor? Nieuwe Drentsche courant, 11-12-1852: ‘Amerika ditakdirkan untuk Jepang. Ekspedisi telah siap dan akan melaut dalam beberapa hari’.
Opregte Haarlemsche Courant, 02-08-1853: ‘Skuadron Amerika yang berangkat ke Jepang, yang baru-baru ini berkumpul di pelabuhan Shanghai, di bawah komando Laksamana Perry, meninggalkan Kepulauan Loochow pada hari-hari terakhir bulan Mei. Dalam surat khusus diyakinkan bahwa Fregat angkatan laut Amerika Susquehanna telah berusaha menyeberangi Sungai Nangkin. untuk naik, untuk melindungi kota itu dari para pemberontak; tapi ini gagal melalui bagian dangkal sungai’. Algemeen Handelsblad, 19-12-1853: ‘Ekspedisi ke Jepang. (Dari Agustus, semua sumber). Tentang kedatangan Laksamana Perry di Uraga, dan negosiasinya dengan Jepang, serta semua keadaan utama, yang menjadi ciri kunjungan skuadron Amerika Utara. Pada hari Senin pagi, ekspedisi yang sama dikirim ke teluk, kali ini ditemani oleh Mississippi untuk perlindungannya. Pada pukul empat sore, ketika Mississippi muncul pada jarak sepuluh mil, kami tidak melihat apa pun lagi. Ketika mereka memasuki teluk, mereka terus-menerus dihambat oleh kapal-kapal pemerintah, yang petugasnya memberi isyarat kepada mereka bahwa mereka akan kembali. Meski begitu, mereka tetap melanjutkan perjalanan hingga Letnan Bent ingin berlayar hingga ke ujung sebuah teluk yang dalam di pantai barat teluk. Di sini ia bertemu dengan 45 perahu Jepang, yang menghalangi jalannya untuk mencegahnya berlayar lebih jauh. Dia memerintahkan rakyatnya untuk meletakkan dayung dan memasang bayonet di senjata mereka, tetapi hal ini tidak menimbulkan kesan apa pun. Karena Mississippi berada lebih dari dua mil ke arah timur, dia mengirim salah satu perahunya ke kapal uap dan menyesuaikan jalurnya agar tidak bertabrakan dengan Jepang. Kedatangan kapal uap menyebabkan mereka segera kembali ke pantai. Titik terjauh yang mereka capai adalah sepuluh atau dua belas liga dari pelabuhan kami. Pesisirnya umumnya curam dan tajam, dengan latar belakang pegunungan, dan teluk, yang diberi nama Perry's Bay oleh Letnan Bent, memberikan tempat berlabuh yang aman dan nyaman. Sekembalinya, Mississippi berlayar mengelilingi teluk dan menemukan banyak air di mana-mana’.
Ekspedisi Amerika di Jepang telah menjadi
kenyataan. Bagaimana hasilnya? Tampaknya masih sebatas menakut-nakuti atau
melakukan kegiatan untuk kebutuhan pemetaan wilayah. Bagaimana reaksi Jepang?
Jepang tidak memiliki kapal perang untuk mengimbanginya. Hanya kapal-kapal
kecil yang dikerahkan oleh Jepang untuk sekadar menghalang-halangi. Lantas apakah
ekspedisi Amerika ini berhasil?
Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 26-04-1854: ‘Jepang. Dari Hong Kong, tertanggal 3 April, tertulis: Kapal fregat uap Amerika Susquehanna, yang dikomandoi oleh (Kapten) Buchanan, tiba di sini dari Jedo, pelabuhan yang ditinggalkannya pada tanggal 23 Maret. Kapal tersebut membawa kabar bahwa syarat-syarat perjanjian antara Amerika dan Jepang telah diterima dan akan diratifikasi pada tanggal 27 Maret. Isi pasti perjanjian tersebut belum diketahui oleh armada, tetapi tidak diragukan lagi bahwa perdagangan bebas telah dibuka antara kedua negara, dan bahwa dua pelabuhan, serta depot batubara dan pasokan batubara, telah diizinkan untuk Amerika. Kami juga yakin bahwa perjanjian tersebut menjamin perlakuan yang layak dan pasokan air dan perbekalan yang melimpah kepada Amerika, di mana pun mereka mendarat di pantai Jepang. Pelabuhan yang dibuka adalah Simode di Niphon, dekat Tanjung Tzue, dan Akatane di kepulauan dan di Selat Matsmae; Namun, disepakati bahwa, jika laporan dari para ahli minyak laut yang dikirim untuk menyelidiki pelabuhan-pelabuhan tersebut terbukti tidak menguntungkan, pelabuhan lain di pulau yang sama akan ditunjuk sebagai penggantinya. Komodor Perry telah mengumumkan niatnya untuk mengadakan pertemuan dengan keempat komisaris kekaisaran setelah perjanjian ditandatangani pada tanggal 27. Jalur kereta api dan telegraf listrik, yang dibawa ke Jepang oleh skuadron, dalam kondisi baik ketika Susquehanna berangkat. Jepang dengan tegas membantah telah membuat perjanjian apa pun dengan, atau memberikan konsesi apa pun kepada, pemerintah Rusia. Segera setelah perjanjian diratifikasi, Kapten Adams berangkat ke Amerika melalui San Francisco dengan membawa surat-surat dan navigator di atas kapal Saratoga. Para perwira memuji sambutan hangat yang mereka terima, sementara semua penyelesaian diselesaikan secara damai’.
Bagaimana
dengan Kapten Amerika Gibson di Batavia? Pengadilan tinggi di Batavia akhirnya memutuskan
bahwa Kapten Gibson dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 12 tahun. Ekspedisi
Amerika ke Jepang yang rumornya sudah menemui titik terang, sudah barang tentu Amerika
melalui konsulatnya di Batavia akan mencoba mencari keluar agar warganya yang meringkuk
di penjara dan dibebaskan.
De Curaçaosche courant, 09-09-1854: ‘Kapten Gibson telah membuat pernjajian dengan Sultan Jambi. Kapten Gibson telah diadili di Batavia. Pengadilan Tinggi di Hindia telah menjatuhkan putusan sampai 12 tahun hukuman penjara, tetapi kemudian berhasil melarikan diri, sekarang di kediaman Amerika dan didukung oleh pemerintah Amerika, telah datang untuk menegaskan klaimnya untuk kompensasi dari pemerintah Belanda’.
Kapten Walter Gibson telah terinformasikan telah berhasil melarikan diri. Lantas apakah konsulat Amerika di Batavia terlibat dengan cara memfasilitasi kaburnya Gibson dari penjara?
Laksamana Peery di Jepang 1854 dan Kapten Gibson di Djambi, Indonesia 1852: Hubungan Antara Orang Jepang dan Orang Indonesia Sejak Kapan?
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






Tidak ada komentar:
Posting Komentar